Archive for the Opini Category

Ancaman terhadap media cetak sudah muncul sejak awal abad ke-20. Namun dibandingkan radio dan televisi, internet tampil sebagai penantang yang kuat dan menakutkan.

Di Amerika Serikat, tempat di mana inovasi berbasis web tumbuh subur, satu per satu media cetak yang sudah hidup puluhan tahun bahkan ratusan tahun, berguguran. Kecemasan pun melanda, termasuk di Indonesia.

Menurut Amir Effendi Siregar (Kompas, 5/9), kejatuhan penerbitan di AS lebih disebabkan krisis keuangan global dan kapitalisme yang bobrok di negara itu. Sebaliknya, di Eropa Barat media cetak bisa bertahan dan toko buku tetap ramai meski penetrasi internet di sana tinggi.

Memang ada koinsidensi antara tren surat kabar yang kehilangan pembaca dengan terjadinya krisis ekonomi di AS. Tapi masih perlu dilihat lagi, apakah pemulihan ekonomi yang mulai terlihat sinyalnya saat ini akan mampu mengerem ambruknya industri surat kabar?

Bagi kita di Indonesia, pertanyaan yang tak kalah penting, apakah anak muda sekarang masih membeli media cetak (setelah beranjak dewasa) dalam beberapa tahun mendatang?

Pergeseran Demografi
Di AS, menurut sebagian pendapat, suramnya masa depan media cetak berpangkal pada pergeseran demografi. Generasi baru yang tumbuh seiring perkembangan pesat internet, memiliki kecenderungan tidak melakukan apa yang dilakukan orang tua mereka. Generasi ini punya gaya hidup baru, termasuk  di antaranya tidak membaca koran.

Saat ini, rata-rata pembaca koran di AS berumur 55 tahun ke atas. Pada generasi tua, koran adalah teman minum kopi di pagi hari. Tapi bagi generasi yang tumbuh di era digital, membaca media online lebih enak dilakukan sambil “bertemu” teman di situs jejaring sosial, seperti facebook.

Bagi generasi lebih tua membaca media cetak mungkin sudah menjadi kebudayaan tak tergantikan. Namun bagi generasi digital, seperti disimpulkan Prof. Sherry Turkle dari MIT, they recognize that the computer screen is merely a play of surface simulations to be explored, so they come to see reality the same way.  Barangkali, ini seperti pengalaman kita menemukan fakta komputer, akhirnya lebih banyak mengetik daripada menulis tangan.

Apakah ini juga terjadi di Indonesia? Berbagai survei menunjukkan, pengguna internet di AS, Eropa, Jepang, dan juga Indonesia, didominasi pengguna usia muda. Yang membedakan, di negara kita penetrasi internet baru sekitar 10 persen, dengan akses paling banyak berasal dari warnet dan sekolah.

Tetapi, dari data tahun 2005 diketahui, ada sekitar 83 juta penduduk negeri ini yang berusia di bawah 20 tahun. Jika terjadi perbaikan kemakmuran dan akses internet makin tersedia luas, maka generasi inilah yang akan menentukan nasib industri surat kabar. Apakah mereka masih membaca koran seperti orang tuanya pada dekade mendatang?

Tekanan Inovasi
Uraian di atas sekaligus menegaskan bahwa krisis keuangan yang dialami AS hanya ikut mempercepat kebangkrutan sejumlah media terkenal. Sedangkan merosotnya jumlah pembaca surat kabar di AS dan negara-negara Eropa sudah terasa  sejak 1980-an. Bagaimana dengan majalah? Meski di Indonesia konon masih bisa menaikkan harga, namun majalah sekelas Reder’s Digest juga tak luput dari kebangkrutan.

Gejolak di Eropa barangkali tidak begitu tampak ke permukaan. Tapi di Perancis, awal tahun ini Presiden Nicholas Sarkozy bertemu para pemimpin media massa untuk membicarakan langkah penyelamatan. Sejumlah surat kabar yang terancam bangkrut diberi tambahan subsidi. Bentuknya, yakni dengan cara menambah iklan kepresidenan di media massa dan pembebasan pajak. Sarkozy juga bergerak lebih jauh, tiap remaja berusia 18 tahun diberikan langganan koran selama satu tahun dengan harapan mereka akan lebih apresiatif terhadap keberadaan koran.

Kejatuhan lebih cepat juga disebabkan oleh inovasi perusahaan berbasis web yang berlangsung pesat. Di AS, pendapatan iklan berbasis web kini sudah melampaui iklan radio. Pada 2006, Google membukukan pendapatan sebesar 10,6 miliar dollar AS dan naik menjadi 21,7 miliar dollar AS pada 2008. Nyaris seluruh pendapatan itu, yakni sebesar 97 persen diperoleh dari periklanan.

Implikasi
Ambruknya koran-koran di AS pada dasarnya bukan karena buruknya kualitas jurnalisme, melainkan semakin berkurangnya pembeli koran karena sebab-sebab di atas, yang pada gilirannya menciutkan tiras dan pemasukan iklan.

Karena itu, berkembang sejumlah opsi. Pertama, menjadikan produk jurnalisme cetak sebagai produk berbayar di internet dan tidak dibebaskan seperti saat ini. Kedua, koran akan dikelola layaknya universitas yakni dengan model endowment. Ketiga, sekaligus mengembangkan versi online, dan hasil periklanan digunakan untuk mendukung edisi cetak sebagai fourth estate yang harus tetap tegak.

Tentu saja industri surat kabar Indonesia masih punya ruang berinovasi. Di negeri ini, industri berbasis web belum berkembang bahkan jika dibandingkan booming  satu dekade lalu.

Namun, perkembangan akhir-akhir ini menunjukkan cenderung turunnya biaya akses internet, termasuk biaya akses melalui telepon seluler akibat perang tarif antaroperator. Dengan kecenderungan ini, pengelola media cetak dituntut menjalankan strategi baru untuk mencuri perhatian generasi digital agar tidak semakin menjauhi koran.

Versi edited artikel ini dimuat Harian Kontan, Senin 5 Oktober 2009.

Puasa dan Kesalehan Digital

| September 11th, 2009

Banyak sarjana sosial melihat puasa sebagai ibadah yang disertai penderitaan. Tapi, Andre Moller, dalam buku Ramadan in Java (2005), menulis sebaliknya. Moller Mengatakan, selain dinantikan, Ramadhan juga dinikmati orang Jawa.

Selain dalam aneka tradisi lama, dewasa ini Ramadhan juga dinikmati dalam banyak tradisi baru. Penetrasi internet dan telepon seluler yang makin luas telah mendorong tumbuhnya apa yang disebut sebagai generasi digital. Selain punya kehidupan nyata, generasi ini juga sangat aktif sebagai warga dunia maya.

Di satu sisi, teknologi ikut menguatkan eksistensi agama dan memudahkan pemeluknya memahami serta menjalankan pesan-pesan agama. Saat puasa, silaturahim yang dianjurkan agama lebih gampang dilakukan lewat situs jejaring sosial seperti Facebook. Sisi gelapnya, internet juga melahirkan banyak kemunkaran baru, seperti akses ilegal, penipuan identitas, pelanggaran hak cipta, hingga cyberterrorism.

Di masa depan, internet diyakini akan semakin meningkatkan transparansi  dalam organisasi dan masyarakat (Pew Internet, 2008). Namun, dari survei terhadap ahli internet, aktivis, dan para analis tersebut, juga muncul keraguan kalau era digital akan lebih banyak menghasilkan toleransi sosial dan sikap saling memaafkan.

Pada titik ini, momentum puasa tentu saja tidak sekedar untuk dinikmati, namun ia selalu diharapkan dapat menuntaskan berbagai masalah kemanusiaan kita, baik yang lama maupun baru.

“Online Religion”
Perkembangan internet mengalami percepatan sejak pertengahan 1990-an. Vatikan meluncurkan website resmi pada 1995 (www.vatican.va), dan ketika itu Paus Paulus II menyebut potensi internet sebagai “new evangelization”. Di Indonesia, Muhammadiyah lebih awal memiliki website (1997), lalu diikuti Nahdhatul Ulama (1999).

Dari sekian banyak website keagamaan di internet, Christopher Helland (2000) membaginya ke dalam dua kelompok, yaitu sebatas penyedia informasi (religion online) dan menawarkan informasi plus interaktivitas (online religion).

Saat ini, model yang pertama sudah ketinggalan zaman. Internet kini dibanjiri oleh situs-situs dengan platform user-generated content. Di sini, seorang pengguna internet berperan sebagai konsumen sekaligus produsen informasi.

Berbagai perkembangan tersebut menggiring pada sejumlah implikasi. Pertama, generasi internet memiliki caranya sendiri dalam mencari, memahami, dan mengekspresikan paham keagamaan.

Kedua, makin horizontal dan interaktif situs web, akan semakin kuat membetot perhatian publik internet. Karena itu, organisasi keagamaan yang memersepsi internet sebatas media informasi vertikal, akan cepat kehilangan pengaruh pada generasi baru ini.

Ketiga, internet banyak berfungsi sebagai “pasar bebas” tempat bertemunya spiritual entrepreneur dan religious seekers. Pada level tertentu, seperti diamati Anthony Bergin (2009), internet juga menjadi platform radikalisasi paham keagamaan.

Kesalehan Digital
Banyak pihak mengkhawatirkan generasi digital asli – lahir setelah 1980– hanya akan menjadi generasi yang kecanduan internet, malas membaca, bodoh, asosial, plagiat, dan hobi berbagi konten ilegal.

Di balik kecemasan dan terkadang stigmatis itu, generasi digital justru menampilkan kesalehan dalam bentuk yang baru.

Pertama, semangat gotong royong masih eksis, tapi bentuknya berganti menjadi kolaborasi dalam skala besar melibatkan puluhan ribu hingga jutaan orang. Dalam dunia bisnis, Don Tapscott (2006) menyebutnya sebagai era wikinomics.

Kedua, merebaknya situs jejaring sosial sepintas hanya populer sebagai ajang narsis. Namun, keinginan bersatu melawan teror –seperti dalam gerakan IndonesiaUnite!—justru bergulir kencang dari sana.

Ketiga, orang terdorong berlomba-lomba menanam kebaikan di internet seperti dengan menulis artikel yang bisa dimanfaatkan (sharing) dengan pengguna internet yang lain. Hal ini dimungkinkan berkat kedigdayaan mesin pencari (search engine) yang mampu mencatat serta mempertemukan semua “amal kebaikan” pengguna internet.

Meski demikian, kesalehan digital bukan berarti tanpa tantangan. Akrab dengan internet berarti sangat menyita waktu (time consuming), bisa mengendurkan produktivitas, dan dalam derajat tertentu berpotensi menyisihkan waktu untuk menjalankan ritual agama.

Namun, hal demikian akar persolaannya seringkali bukan pada teknologi, tetapi lebih pada persoalan manajerial (managerial problem), yaitu rendahnya kemampuan membagi waktu dan membuat skala prioritas.

Di sinilah relevansi puasa. Dengan puasa (shiyam), seorang Muslim diajak menahan diri (imsak) dari perkara legal seperti makan dan minum. Harapannya, ia akan lebih memiliki kekuatan dan mampu menjauhkan diri dari hal-hal berlebihan.

Op-ed ini dimuat Harian Kontan, 3 September 2009, hal.23