Archive for February, 2010

Berita dikutip dari Republika. Jumlah perempuan Indonesia yang sudah melek huruf masih rendah. Hal itu terbukti dari masih tingginya jumlah perempuan yang buta aksara di berbagai kalangan, yakni mencapai 64 persen.

Persoalan ini dikarenakan banyaknya perempuan yang tidak punya akses pendidikan dan drop out (DO) atau putus sekolah dari bangku sekolah lantaran tidak ada biaya atau kemiskinan.

Direktur Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal (PNFI) Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas), Hamid Muhammad mengatakan, jumlah perempuan buta aksara sekitar 6,5 juta orang, sisanya laki-laki atau 3,5 juta orang. Mayoritas perempuan buta aksara berada pada usia 40 tahun ke atas.

Dari data yang dihimpun Kemendiknas angka buta aksara per Desember 2009, sebesar 8,2 juta orang. ”Memang sekitar 64 persen perempuan, berarti dua kali lipat laki-laki, atau 6,5 juta perempuan buta aksara,” tutur Hamid, usai acara Lokakarya Pengalaman Terpetik Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan, di Kantor Kemendiknas, Rabu malam (24/2).

Hamid mengungkapkan, penyebab buta aksara adalah budaya, tidak ada akses, dan angka putus sekolah. Ia mengamati, buta aksara umumnya tidak pernah masuk sekolah, dan pernah sekolah tapi DO. ”Yang kami harapkan tidak terjadi lagi karena biasanya sekarang dibantu sehingga ke depan proporsi perempuan yang buta aksara dapat ditekan,” jelasnya.

Upaya yang akan dilakukan untuk mengurangi buta aksara perempuan, lanjut Hamid, adalah mengurangi sumber buta aksara, yakni yang tidak sekolah, dan DO. ”Tugas di sekolah menekan itu, yang DO harus ditekan seminimal mungkin, karena sekarang saja di SD ada 480 ribu perempuan yang DO, kalau mereka tidak baca nulis sekian lama biar kelas 4 atau 5 nantinya akan buta aksara kembali,” ungkapnya.

Yang kedua, kata Hamid, memberi akses pendidikan bagi anak di daerah terpencil, anak jalanan, dan yang tidak mampu secara finansial. Sementara, lanjut dia, untuk menarik minat warga kelompok umur di atas 40 tahun kembali belajar membaca, menulis, dan menghitung, pihaknya memperkenalkan pula program kewirausahaan.

Berita dikutip dari Republika. Wakil Presiden Boediono mengingatkan bahwa bangsa yang maju dan berkesinambungan adalah bangsa yang mengandalkan sumber daya manusia dan pendidikan adalah kunci utama yang harus disiapkan.

Wakil Presiden yang didampingi oleh jajaran menteri Kabinet Indonesia Bersatu II, dalam kunjungannya di SMA Negeri 3 Kota Semarang, Sabtu, mengatakan bahwa ke depan persaingan yang tidak dapat dihindari adalah persaingan antarmanusia dalam segala bidang.
“Manusia bersaing dengan manusia lain ke depan akan semakin nyata dan terbuka dalam kancah persaingan global. Kita harus siap bersaing karena hal tersebut tidak dapat dihindari,” katanya.

Standar dalam segala hal, kata Wakil Presiden, juga tidak dapat dipungkiri akan meningkat tidak lagi ditentukan oleh sekolah, oleh negara.Namun, oleh dunia internasional. Oleh karena itu, ada dua hal yang harus disiapkan, pertama penguasaan pengetahuan dan keterampilan.

“Yang kedua adalah, untuk menjadi pemimpin harus ada tambahannya yakni selain pengetahuan dan keterampilan, pemimpin juga harus punya karakter. Ini yang menentukan apakah pemimpin unggul dengan yang lain, bisa jadi pemimpin atau pengikut, atau justru yang terburuk, hanya jadi penonton,” katanya.

Karakter melekat pada hati, sikap, dan pandangan mendasar, sehingga tidak bisa dengan menghapal atau menghitung. Namun, bisa dengan mencontoh. Oleh karena itu, tugas pendidik atau pengajar untuk mendidik dan memberi contoh.

“Selain karakter adalah integritas, yakni satu kesatuan antara kata-kata dan perbuatan. Apa yang dikatakan dilakukan dan sebaliknya. Jadi bukan isapan jempol,” katanya.

Untuk membangun karakter, lanjut Boediono, harus diawali dari diri anak yakni adanya niat dan tekad membangun karakter diri, dari orang tua karena banyak bersinggungan di rumah, pendidik karena interaksi terbanyak di sekolah, serta dari pemerintah yang bertugas untuk mengarahkan pendidikan secara nasional.

Boediono juga mengaku bangga dengan jumlah sekolah di Jawa Tengah yang berstandar internasional. Di Jateng jumlah yang berstandar internasional terus mengalami peningkatan.
Tahun 2007 jumlah SD yang berstandar internasional baru dua dan sekarang sudah ada 15 SD. SMP yang sebelumnya 40 sekolah dan sekarang sudah 66 SMP.

Masih perbandingan dengan tahun 2007, SMA yang berstandar internasional baru 35 sekarang sudah 55 dan tingkat SMK sekarang sudah ada 59 sekolah.

Dalam kunjungan ke SMA Negeri 3 Semarang tersebut, Wakil Presiden bersama menteri yang lain sempat masuk ke salah satu ruang kelas yang saat itu sedang berlangsung proses belajar mengajar dengan mengunakan bahasa Inggris.

Ikut dalam kunjungan tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Agama Suryadharma Ali, Menteri Pendidikan Mohammad Nuh, dan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto.Menteri Agama dalam kesempatan tersebut menjadi salah satu pemberi bantuan untuk sejumlah sekolah di Jateng selain dari pihak perbankan.