Archive for October, 2009

Ancaman terhadap media cetak sudah muncul sejak awal abad ke-20. Namun dibandingkan radio dan televisi, internet tampil sebagai penantang yang kuat dan menakutkan.

Di Amerika Serikat, tempat di mana inovasi berbasis web tumbuh subur, satu per satu media cetak yang sudah hidup puluhan tahun bahkan ratusan tahun, berguguran. Kecemasan pun melanda, termasuk di Indonesia.

Menurut Amir Effendi Siregar (Kompas, 5/9), kejatuhan penerbitan di AS lebih disebabkan krisis keuangan global dan kapitalisme yang bobrok di negara itu. Sebaliknya, di Eropa Barat media cetak bisa bertahan dan toko buku tetap ramai meski penetrasi internet di sana tinggi.

Memang ada koinsidensi antara tren surat kabar yang kehilangan pembaca dengan terjadinya krisis ekonomi di AS. Tapi masih perlu dilihat lagi, apakah pemulihan ekonomi yang mulai terlihat sinyalnya saat ini akan mampu mengerem ambruknya industri surat kabar?

Bagi kita di Indonesia, pertanyaan yang tak kalah penting, apakah anak muda sekarang masih membeli media cetak (setelah beranjak dewasa) dalam beberapa tahun mendatang?

Pergeseran Demografi
Di AS, menurut sebagian pendapat, suramnya masa depan media cetak berpangkal pada pergeseran demografi. Generasi baru yang tumbuh seiring perkembangan pesat internet, memiliki kecenderungan tidak melakukan apa yang dilakukan orang tua mereka. Generasi ini punya gaya hidup baru, termasuk  di antaranya tidak membaca koran.

Saat ini, rata-rata pembaca koran di AS berumur 55 tahun ke atas. Pada generasi tua, koran adalah teman minum kopi di pagi hari. Tapi bagi generasi yang tumbuh di era digital, membaca media online lebih enak dilakukan sambil “bertemu” teman di situs jejaring sosial, seperti facebook.

Bagi generasi lebih tua membaca media cetak mungkin sudah menjadi kebudayaan tak tergantikan. Namun bagi generasi digital, seperti disimpulkan Prof. Sherry Turkle dari MIT, they recognize that the computer screen is merely a play of surface simulations to be explored, so they come to see reality the same way.  Barangkali, ini seperti pengalaman kita menemukan fakta komputer, akhirnya lebih banyak mengetik daripada menulis tangan.

Apakah ini juga terjadi di Indonesia? Berbagai survei menunjukkan, pengguna internet di AS, Eropa, Jepang, dan juga Indonesia, didominasi pengguna usia muda. Yang membedakan, di negara kita penetrasi internet baru sekitar 10 persen, dengan akses paling banyak berasal dari warnet dan sekolah.

Tetapi, dari data tahun 2005 diketahui, ada sekitar 83 juta penduduk negeri ini yang berusia di bawah 20 tahun. Jika terjadi perbaikan kemakmuran dan akses internet makin tersedia luas, maka generasi inilah yang akan menentukan nasib industri surat kabar. Apakah mereka masih membaca koran seperti orang tuanya pada dekade mendatang?

Tekanan Inovasi
Uraian di atas sekaligus menegaskan bahwa krisis keuangan yang dialami AS hanya ikut mempercepat kebangkrutan sejumlah media terkenal. Sedangkan merosotnya jumlah pembaca surat kabar di AS dan negara-negara Eropa sudah terasa  sejak 1980-an. Bagaimana dengan majalah? Meski di Indonesia konon masih bisa menaikkan harga, namun majalah sekelas Reder’s Digest juga tak luput dari kebangkrutan.

Gejolak di Eropa barangkali tidak begitu tampak ke permukaan. Tapi di Perancis, awal tahun ini Presiden Nicholas Sarkozy bertemu para pemimpin media massa untuk membicarakan langkah penyelamatan. Sejumlah surat kabar yang terancam bangkrut diberi tambahan subsidi. Bentuknya, yakni dengan cara menambah iklan kepresidenan di media massa dan pembebasan pajak. Sarkozy juga bergerak lebih jauh, tiap remaja berusia 18 tahun diberikan langganan koran selama satu tahun dengan harapan mereka akan lebih apresiatif terhadap keberadaan koran.

Kejatuhan lebih cepat juga disebabkan oleh inovasi perusahaan berbasis web yang berlangsung pesat. Di AS, pendapatan iklan berbasis web kini sudah melampaui iklan radio. Pada 2006, Google membukukan pendapatan sebesar 10,6 miliar dollar AS dan naik menjadi 21,7 miliar dollar AS pada 2008. Nyaris seluruh pendapatan itu, yakni sebesar 97 persen diperoleh dari periklanan.

Implikasi
Ambruknya koran-koran di AS pada dasarnya bukan karena buruknya kualitas jurnalisme, melainkan semakin berkurangnya pembeli koran karena sebab-sebab di atas, yang pada gilirannya menciutkan tiras dan pemasukan iklan.

Karena itu, berkembang sejumlah opsi. Pertama, menjadikan produk jurnalisme cetak sebagai produk berbayar di internet dan tidak dibebaskan seperti saat ini. Kedua, koran akan dikelola layaknya universitas yakni dengan model endowment. Ketiga, sekaligus mengembangkan versi online, dan hasil periklanan digunakan untuk mendukung edisi cetak sebagai fourth estate yang harus tetap tegak.

Tentu saja industri surat kabar Indonesia masih punya ruang berinovasi. Di negeri ini, industri berbasis web belum berkembang bahkan jika dibandingkan booming  satu dekade lalu.

Namun, perkembangan akhir-akhir ini menunjukkan cenderung turunnya biaya akses internet, termasuk biaya akses melalui telepon seluler akibat perang tarif antaroperator. Dengan kecenderungan ini, pengelola media cetak dituntut menjalankan strategi baru untuk mencuri perhatian generasi digital agar tidak semakin menjauhi koran.

Versi edited artikel ini dimuat Harian Kontan, Senin 5 Oktober 2009.