Archive for September, 2009

Puasa dan Kesalehan Digital

| September 11th, 2009

Banyak sarjana sosial melihat puasa sebagai ibadah yang disertai penderitaan. Tapi, Andre Moller, dalam buku Ramadan in Java (2005), menulis sebaliknya. Moller Mengatakan, selain dinantikan, Ramadhan juga dinikmati orang Jawa.

Selain dalam aneka tradisi lama, dewasa ini Ramadhan juga dinikmati dalam banyak tradisi baru. Penetrasi internet dan telepon seluler yang makin luas telah mendorong tumbuhnya apa yang disebut sebagai generasi digital. Selain punya kehidupan nyata, generasi ini juga sangat aktif sebagai warga dunia maya.

Di satu sisi, teknologi ikut menguatkan eksistensi agama dan memudahkan pemeluknya memahami serta menjalankan pesan-pesan agama. Saat puasa, silaturahim yang dianjurkan agama lebih gampang dilakukan lewat situs jejaring sosial seperti Facebook. Sisi gelapnya, internet juga melahirkan banyak kemunkaran baru, seperti akses ilegal, penipuan identitas, pelanggaran hak cipta, hingga cyberterrorism.

Di masa depan, internet diyakini akan semakin meningkatkan transparansi  dalam organisasi dan masyarakat (Pew Internet, 2008). Namun, dari survei terhadap ahli internet, aktivis, dan para analis tersebut, juga muncul keraguan kalau era digital akan lebih banyak menghasilkan toleransi sosial dan sikap saling memaafkan.

Pada titik ini, momentum puasa tentu saja tidak sekedar untuk dinikmati, namun ia selalu diharapkan dapat menuntaskan berbagai masalah kemanusiaan kita, baik yang lama maupun baru.

“Online Religion”
Perkembangan internet mengalami percepatan sejak pertengahan 1990-an. Vatikan meluncurkan website resmi pada 1995 (www.vatican.va), dan ketika itu Paus Paulus II menyebut potensi internet sebagai “new evangelization”. Di Indonesia, Muhammadiyah lebih awal memiliki website (1997), lalu diikuti Nahdhatul Ulama (1999).

Dari sekian banyak website keagamaan di internet, Christopher Helland (2000) membaginya ke dalam dua kelompok, yaitu sebatas penyedia informasi (religion online) dan menawarkan informasi plus interaktivitas (online religion).

Saat ini, model yang pertama sudah ketinggalan zaman. Internet kini dibanjiri oleh situs-situs dengan platform user-generated content. Di sini, seorang pengguna internet berperan sebagai konsumen sekaligus produsen informasi.

Berbagai perkembangan tersebut menggiring pada sejumlah implikasi. Pertama, generasi internet memiliki caranya sendiri dalam mencari, memahami, dan mengekspresikan paham keagamaan.

Kedua, makin horizontal dan interaktif situs web, akan semakin kuat membetot perhatian publik internet. Karena itu, organisasi keagamaan yang memersepsi internet sebatas media informasi vertikal, akan cepat kehilangan pengaruh pada generasi baru ini.

Ketiga, internet banyak berfungsi sebagai “pasar bebas” tempat bertemunya spiritual entrepreneur dan religious seekers. Pada level tertentu, seperti diamati Anthony Bergin (2009), internet juga menjadi platform radikalisasi paham keagamaan.

Kesalehan Digital
Banyak pihak mengkhawatirkan generasi digital asli – lahir setelah 1980– hanya akan menjadi generasi yang kecanduan internet, malas membaca, bodoh, asosial, plagiat, dan hobi berbagi konten ilegal.

Di balik kecemasan dan terkadang stigmatis itu, generasi digital justru menampilkan kesalehan dalam bentuk yang baru.

Pertama, semangat gotong royong masih eksis, tapi bentuknya berganti menjadi kolaborasi dalam skala besar melibatkan puluhan ribu hingga jutaan orang. Dalam dunia bisnis, Don Tapscott (2006) menyebutnya sebagai era wikinomics.

Kedua, merebaknya situs jejaring sosial sepintas hanya populer sebagai ajang narsis. Namun, keinginan bersatu melawan teror –seperti dalam gerakan IndonesiaUnite!—justru bergulir kencang dari sana.

Ketiga, orang terdorong berlomba-lomba menanam kebaikan di internet seperti dengan menulis artikel yang bisa dimanfaatkan (sharing) dengan pengguna internet yang lain. Hal ini dimungkinkan berkat kedigdayaan mesin pencari (search engine) yang mampu mencatat serta mempertemukan semua “amal kebaikan” pengguna internet.

Meski demikian, kesalehan digital bukan berarti tanpa tantangan. Akrab dengan internet berarti sangat menyita waktu (time consuming), bisa mengendurkan produktivitas, dan dalam derajat tertentu berpotensi menyisihkan waktu untuk menjalankan ritual agama.

Namun, hal demikian akar persolaannya seringkali bukan pada teknologi, tetapi lebih pada persoalan manajerial (managerial problem), yaitu rendahnya kemampuan membagi waktu dan membuat skala prioritas.

Di sinilah relevansi puasa. Dengan puasa (shiyam), seorang Muslim diajak menahan diri (imsak) dari perkara legal seperti makan dan minum. Harapannya, ia akan lebih memiliki kekuatan dan mampu menjauhkan diri dari hal-hal berlebihan.

Op-ed ini dimuat Harian Kontan, 3 September 2009, hal.23