ASPEK STRATEGIS
UPAYA MEWUJUDKAN KOTA JAKARTA
TEDUH HIJAU ROYO ROYO DAN BERKICAU

*Naskah ini disampaikan kepada Gubernur DKI Jakarta (Sutijoso)
sebagai sumbangsih pemikiran.

Derah khusus Ibukota Jakarta seperti halnya kota-kota berkembang di negara-negara lain, dalam pertumbuhannya menghadapi berbagai macam fenomena permasalahan. Disam-ping menurunnya lingkungan fisik kritis perkotaan, masalah sosial juga merupakan fenomena permasalahan seperti urbanisasi, lunturnya budaya asli, dan permukiman kumuh.
Penduduk DKI Jakarta pada akhir pertengahan tahun 1997, tercatat 11,3 juta jiwa pada siang hari, dan 8,2 juta jiwa pada malam hari. Tumbuh berkembangnya wilayah perkotaan, yang cenderung semakin meningkat seiring dan sejalan dengan tumbuh berkembangnya wilayah perkotaan. Kondisi ini nampaknya memacu terhadap luasan kawasan kumuh yang kini tercatat seluas 11.340 ha, atau (17,3% dari luas daratan DKI Jakarta).
Menurunnya daya dukung lingkungan hidup kota Jakarta, sebagai akibat meningkatnya jumlah kendaraan bermotor  3,7 juta buah kendaraan dengan menggunakan bahan bakar minyak dan gas bumi, semakin luasnya bangunan beton dan aspal yang menutup tapak hingga seluas 18.798,5 ha, atau  28,7% luas daratan DKI Jakarta. Meningkatnya bangunan berdinding kaca hingga mencapai 4.061 ha atau  6,2% dari luas daratan DKI Jakarta, tingginya tingkat laju erosi (wilayah pengkikisan), dan hasil sedimentasi pada wilayah pengendapan, cenderung sebagai faktor penyebab semakin meluasnya wilayah genangan musiman dan kawasan kumuh hingga 19.540 ha atau 29,8% dari luas daratan DKI Jakarta. Demikian halnya dengan semakin terdesaknya luasan kawasan hijau akibat lajunya pembangunan fisik wilayah, baik untuk kepentingan permukiman maupun pusat-pusat kegiatan kota, dan semakin meningkatnya laju pemanfaatan air tanah dangkal, serta maraknya bangunan pancang, hingga merusak sirkulasi dan sistem tata air tanah (hidrologis), serta masuknya intrusi air laut yang kini telah mencapai luas 7.210 ha atau 11% dari luas daratan DKI Jakarta. Disisi lain meningkatnya pencemaran udara selama kurun waktu 5 tahun (1992-1997) seperti Karbon dioksida (Co2) dari 187,4 menjadi 300,0 mg/m2; kadar debu rata-rata dari 186,2 menjadi 433,0 mg/m2; suhu udara rata-rata dari 26,2 menjadi 27,1 oC; kadar debu rata-rata dari186,2 mg/m2 dan kini meningkat menjadi 433,0 mg/m2; Kadar timbal (Pb) dari rata-rata 241,3 meningkat menjadi 400 mg/m2; demikian halnya dengan kebisingan rata-rata 32,9 Db dan kini meningkat menjadi 43,0 Db.
Kesadaran Pemerintah DKI Jakarta dalam upaya mengen dalikan lingkungan fisik kritis perkotaan yang cenderung semakin meningkat, telah diupayakan sejak tahun 1981, dengan diterbit kannya Perda No. 8 tahun 1981, tentang pembentukan susunan organisasi dan tata kerja Dinas Kehutanan. Dalam Perda tersebut, diantaranya dijelaskan salah satu tugas pokoknya adalah melaksa nakan pemangkuan hutan yang ada, dan membangun serta menge lola hutan buatan dalam wujud hutan kota. Kesadaran tersebut muncul atas dasar pertimbangan peran fungsi dan jasa biologis hutan kota (pepohonan) yang kini dianggap mampu untuk melerai dan mengendalikan berbagai bentuk cemeran dan beberapa fenomena permasalahan perkotaan seperti uraian di atas. Hal ini mengingat bahwa; hutan kota dapat berfungsi sebagai paru-paru kota, dan kenyamanan lingkungan hidup; sumber produksi oksigen, dan pelerai segala bentuk pencemaran udara, air dan tanah; pereda iklim mikro, baik sebagai pengatur kelembaban dan suhu udara, penghalau angin, dan pelerai silau cahaya, pengatur tata air tanah dan pengendali laju erosi; sebagai habitat sangtuari satwa liar dan sumber pakan serta wahana berkembang biak; sumber pelestarian plasma nutfah, dan pelestarian vegetasi asli, serta dunia ilmu pengetahuan alam, disamping itu juga berperan sebagai pemandu keindahan kota; pusat kesegaran jasmani dan rekreasi alam fungsi serbaguna dan produksi terbatas.
Meperhatikan meningkatnya laju pertambahan jumlah penduduk, dan semakin mening-katnya sumber-sumber penyebab lingkungan fisik kritis perkotaan, serta peran fungsi dan jasa biologis hutan kota (pepohonan), untuk itu niat kesungguhan untuk memangun kawasan hijau, merupakan langkah dan program yang dinilai cukup strategis. Hal ini mengingat bahwa sasaran yang hendak dicapai ingin mewujudkan Jakarta hijau dalam waktu yang relatif singkat, terkendalinya lingkungan fisik kritis perkotaan, dengan sasaran utamanya adalah terciptanya kota Jakarta yang teduh, hijau royo royo dan berkicau, sebagai ilustrasi kota yang telah menyandang gelar Ibu Kota Negara, Kota Metropolitan, Kota Tropis Dunia, dan Kota jasa (service city).

TINJAUAN PEMBANGUNAN KAWASAN HIJAU
Pemaduserasian lingkungan kawasan hijau, seperti yang tersirat dalam konsep dan kriteria dasar pembangunan kawasan hijau DKI Jakarta perlu dilakukan. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya penyeimbangan laju tumbuh berkembanganya bangunan fasilitas perkotaan, sebagai upaya pengendalian terhadap semakin meningkatnya lingkungan fisik kritis, hingga memberikan kesan pandang “Kota Jakarta yang sesuai Motto-nya “TEGUH BERIMAN” (Terus Gerakan Usaha Hidup Bersih, Indah, Menarik, Manusiawi dan Aman), yang bertujuan (a) Meningkatkan kualitas daya dukung lingkungan hidup; (b) Menciptakan Kota Jakarta yang berwawasan lingkungan asri, serasi, dan lestari; (c) Mewujudkan kawasan hijau (taman dan hutan kota) sebagai Paru-paru Kota.
Suatu kecenderungan semakin meningkatnya lingkungan fisik kritis perkotaan, DKI Jakarta, terbagi dalam 3 wilayah region (Zonase), yaitu Wilayah intrusi air laut yang terbentang mulai dari wilayah pusat (Monas) kearah Timur dan Barat; Wilayah pengendapan (mulai batas wilayah intrusi kearah Selatan hingga daerah Cililitan, tersebar kearah Timur dan Barat. Sedangkan di bagian Selatan wilayah pengendapan, merupakan wilayah pengkikisan, karena terganggunya kawasan ber-KDB (Koefisien Dasar Bangunan) rendah. Dari tiga zona kawasan tersebut, menunjukan habitat kesesuai an tumbuh beberapa jenis vegetasi yang berbeda antara zona yang satu dengan lainnya. Namun demikian apabila kita tinjau lebih jauh pemilihan jenis pada masing-masing zona masih dinilai sesuai untuk dikembangngkan dengan jenis-jenis pepohonan yang diaplikasikan sebagai nama suatu tempat.
Upaya untuk tetap mempertahankan keberadaan keanekara gaman jenis flora dan fauna asli Betawi yang cukup beraneka ragam, seperti salah satu diantaranya dimanfaatkan sebagai maskot kota Jakarta (Elang Bondol/salak Condet). Secara spesifik beberapa jenis flora di DKI Jakarta dipergunakan sebagai nama suatu tempat (dukuh/kampung/kelurahan), karena merupakan habitat (tempat tumbuh) aslinya. Dari hasil inventari sasi diperoleh 73 jenis tetum buhan yang dimanfaatkan sebagai nama tempat (dukuh/kam pung/kelurahan), yang tersebar di seluruh DKI Jakarta. Dengan memperhatikan jenis tetumbuhan asli yang ada di DKI Jakarta, nampaknya pemilihan jenis yang perlu dibudidayakan sebagai upaya pembangunan kawasan hijau tidaklah menjadi suatu kesulitan yang berarti.
Berbagai upaya Pemerintah DKI Jakarta dalam mewujudkan pembangunan kawasan hijau, telah dimulai sejak dekade tahun 1970-an, yang dikenal dengan nama Gerakan Penghijauan Kota, kegiatan ini memprioritaskan Jakarta Hijau, melalui kiprahnya dengan membudida yakan jenis cepat tumbuh seperti angsana (Pterocarpus sp) dan pilang (Acacia auriculiformis). Pada periode berikutnya, munculah Program Hijau Pertamanan Kota, dimana ke-giatan ini tumbuh dan berkembang pada periode tahun 1980-an, dengan mencetuskan istilah GMK3LH (Gerakan Memasyarakatkan Keindahan, Kebersihan, dan Keteduhan Lingkungan Hidup). Dalam kiprahnya, diwujudkan melalui bentuk-bentuk perlombaan pertamanan kota, pameran hortikulturan dan anjuran menggalakan budidaya tanaman bunga bagi masyarakat. Pada periode tahun 1985, upaya pembangunan tata hijau muncul dengan istilah pembangunan Kota Jakarta yang berwawasan lingkungan. Salah satu programnya yang cukup menonjol adalah pembangunan tata hijau dalam bentuk hutan kota, mulai dicetuskan dan tertuang di dalam RUTR (Rencana Umum Tata Ruang) DKI Jakarta Tahun 2005. Kegiatan hutan kota mulai digalakan, khususnya pada kawasan-kawasan resapan air tanah. Ber beda halnya pada periode tahun 1988, dimana Program Penghijauan Prokasih muncul untuk digalakan, yang secara spesifik menghijaukan kawasan-kawasan dengan tujuan mengembalikan fungsi jalur hijau di sekitar bantaran sungai. Langkah lebih jauh pada periode tahun 1992, muncul dengan istilah Program Penghijauan Sejuta Pohon dan Penghijauan Sadpraja. Kegiatan ini memberda-yakan masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam membangun lingkungan dan kawasan hijau di seluruh pelosok DKI Jakarta. Memperhatikan bahwa munculnya banjir kiriman yang berasal dari wilayah di atasnya, program kegiatan ini dikembangkan tanpa batas wilayah administrasi pemerintahan, melalui program penghijauan Sadpraja, khususnya pada bataran-bantaran sungai (Bekasi, Depok, Tanggerang).
Dengan memperhatikan beberapa upaya program strategis yang telah dilakukan oleh Pemerintah DKI Jakarta, untuk itu dinilai sangat tepat hadirnya gagasan memulas Kota Jakarta Teduh, Hijau Royo-royo dan Berkicau, sebagai salah satu program stategis tahun 2000, yang diprakarsai oleh Pemerintah DKI Jakarta periode 1997-2002.

Aspek Kesinambungan Program
Memperhatikan konsep dan kriteria dasar perlunya pem bangunan lingkungan kawasan hijau di DKI Jakarta, karena berbagai macam alasan perlunya penataan dan peningkatan kualitas penyangga lingkungan hidup. Dalam pada itu upaya pemberdayaan program kawasan hijau merupakan program stategis tahun 2000, sebagai tindak lanjut kesinambungan program pembangunan yang berwawasan lingkungan, mengembalikan fungsi dan peran jasa biologis pepohonan sebagai salah satu bentuk penopang daya dukung lingkungan perkotaan.
Niat kesungguhan mengiplementasikan Program Strategis Tahun 2000 dengan mengupayakan secara menyeluruh hingga Kota Jakarta yang memberikan kesan padang yang serasi dan berimbang, serta terciptanya mintakat kenyaman bagi setiap insan masyarakat DKI Jakarta, pada kakekatnya merupakan upaya pengendalian terhadap lingkungan fisik kritis perkotaan.
Gagasan munculnya obsesi/slogan/motto Jakarta Teduh, hijau royo-royo dan berkicau, pada hakekatnya telah dinantikan oleh masya rakat secara luas, akan terciptanya kenyamanan lingkungan. Penantian keinginan masyarakat ini sering diartikan sebagai persepsi masyarakat atas kesadarnya perlu dan pentingnya peran fungsi jasa pepohonan sebagai penyangga lingkungan hidup yang secara alamiah menopang kenyamanan lingkungan hidup, yang secara langsung memberikan kesan rasa nyaman kepada masyarakat. Dengan memperhatikan DKI Jakarta yang risau dengan padatnya permukiman penduduk, lalu-lalangnya jumlah kendaraan bermotor dengan segala jenis emisi polutan, yang sering menyebabkan masyarakat merasa penat (bosan dan rindu) terhadap lingkungan alam terbuka. Perwijudan keinginan masyarakat atas kepenatannya, sering ditunjukan oleh banyaknya masyarakat perkotaan yang sering keluar kota hanya untuk mencari dan menikmati keindahan alam terbuka. Demikian halnya dengan banyaknya kelompok-kelompok pencinta alam, baik dikalangan mahasiswa, pelajar dan atau pemuda lainnya yang sering mendambakan kondisi lingkungan alam terbuka dan hijau, melalui kegiatan kamping di luar kota.
Keinginan masyarakat terhadap kawasan hijau, pertama karena alasan kepenatan lingkungan, dan kedua pentingnya kawasan hijau untuk kesegaran jasmani dan rekreasi alam. Alasan kedua ini, memberikan pengertian perlunya kenyamanan lingkungan sebagai pendukung kesehatan. Udara yang segar, dengan ketersediaan oksigen bebas dan cukup, menjadikan setiap individu masyarakat perkotaan ingin mendam bakannya.
Melalui uraian keinginan masyarakat terhadap kawasan hijau untuk menopang kenya-manan lingkungan, pada hakekatnya merupakan modal dasar dalam kaitannya keperdulian masyarakat terhadap luasan kawasan hijau dan kenyamanan lingkungan penyangga kehidupannya. Dalam pada iyu, persepsi dan sambutan masyarakat terhadap Obsesi “Jakarata Te-duh Hijau Royo-royo dan Berkicau”, yang merupakan slogan Program Strategis Tahun 2000, dalam kaitannya dengan aspek kenyamanan dan ramah terhadap lingkungan, nampaknya telah dinantikan dan disambut baik oleh masyarakat dan semua pihak. Hal ini mengingat semakin menu runnya daya dukung lingkungan yang ditandai dengan semakin me-ningkatnya kondisi lingkungan fisik kritis perkotaan, yang telah melebihi abang batasnya.
Makna “JAKARTA TEDUH, HIJAU ROYO-ROYO DAN BERKI CAU” memberikan kesan yang cukup berarti; Jakarta yang teduh, memberikan makna kenyamanan karena jasa biologis pepohonan yang mampu berfungsi sebagai pengendali lingkungan kenyamanan seperti iklim mikro (Ameliorasi iklim); Kesan Hiiau, memberikan corak keseimbangan nilai estetika arsiteturial antara bentuk ba-ngunan yang beranekaragam dengan warna yang bervariasi, dimana warna hijau asli pepohonan sebagai pelerai keredupan terhadap nilai estetika hijau binaan dan alami. Royo-royo , mem-berikan pengertian atas makna dominansi, yang berarti di seluruh pelosok DKI Jakarta sering ditemukan bentuk-bentuk kumpulan pepohonan. Sedangkan Berkicau memberikan makna dimana pepo honan merupakan habitat dan sangtuari satwa liar seperti burung dan jenis satwa lainnya. Paparan makna berkicau, mengandung arti kembali kepada makna keaslian daerah (betawi), karena berbagai macam jenis burung yang diharapkan dapat hadir kembali dengan terciptanya lingkungan hijau sebagai sangtuari dan habitat (tempat/ruang hidup, makanan, air dan suasana aman). Untuk itu habitat yang telah mengalami perubahan dan rusak, dapat direhabilitasi kembali, dengan membudi dayakan jenis pepohonan asli daerah (Betawi), berdasarkan nama tempat yang menyandang gelar pepohonan.

Beberapa Aspek Strategis Program Kawasan Hijau
Ketersediaan lahan, merupakan salah satu aspek strategis dalam mewujudkan program kawasan hiojau. Ruang Tebuka Hijau DKI Jakarta secara keselurhan seluas 9.447 ha, yang terdiri dari wahana sarana olah raga 753 ha (lapangan golf dan sarana olah raga), situ-situ 478 ha, kawasan hijau binaan seluas 4.676,7 ha, kawasan hutan seluas 103,3 ha, dan sisanya se-luas 3.436 ha merupakan lahan kosong dan kawasan tergenang air. Kawasan hijau binaan seluas 4.676,7 ha terdiri dari kawa san pertamanan 768 ha, kawasan hutan kota 458,7 ha, dan kawasan bervegetasi alami (sepandan sungai dan sekitar situ-situ) seluas 2.044,2 ha dan sisanya 1.407,8 ha merupakan kawasan hijau lainnya.
Mengingat terbatasnya lahan untuk kawasan hijau di DKI Jakarta, serta mahalnya harga tanah. Kebutuhan lingkungan kawasan hijau di DKI dalam bentuk hutan kota secara matematis diperlukan seluas 5.900 ha, dan kini baru terealisasi 1.226,7 ha (hutan kota dan Taman Kota). Untuk dapat memenuhi kebutuhan lahan hingga terciptanya keseimbangan lingkungan berdasarkan perhitungan matematis, ketersediaan lahan yang cukup potensial dan strategis guna memenuhi keperluan luasan kawasan hijau, adalah kawasan sepandan sungai seluas 1.976 ha dan kawasan sekitar situ-situ seluas 68,2 ha, atau secara keseluruhan seluas 2.044,2 ha. Dari kedua kawasan tersebut, merupakan salah satu alternatif lahan yang sangat potensial untuk dikembangkan, sebagai wahana kawasan hijau binaan di DKI Jakarta.
Bentuk pembangunan tata hijau yang sangat memungkinkan untuk dikembangkan atas dasar pertimbangan ketersediaan lahan yang terbatas dan harga yang relatif mahal, untuk itu metode penanaman rapat dengan jarak tanam 3 X 3 meter (1.100 pohon/ha), merupakan cara yang efektif.
Mengungkap pembangunan kawasan hijau di DKI Jakarta apabila direali sasikan secara keseluruhan akan terbangun kawasan seluas 3.270,9 ha, atau 55,4% dari luas kebutuhan kawasan hijau DKI Jakarta (5.900 ha). Untuk itu bentuk hutan kota merupakan salah satu aplikasi wujud pembangunan kawasan hijau yang sangat efektif dan produktif. Hal ini mengingat keterbatasan lahan, yang diimbangi dengan jumlah pohon yang dibudidayakan. Walaupun secara estetika relatif kurang sebanding dengan bentuk taman akan tetapi, fungsi dan peranan jasa biologisnya relatif lebih besar, khususnya dalam kaitannya dengan mengundang kehadiran keanekaragaman jenis satwa liar yang kini semakin terdesak bahkan teracam keberadaannya.
Pemilihan jenis asli (Betawi) yang secara spesifik digunakan sebagainama tempat, nampaknya merupakan arahan alamiah yang sesuai dan cocok untuk dikembangkan. Dari 73 lokasi yang diterjemahkan sebagai nama pepohonan di DKI Jakarta, 27 jenis pohon diantaranya merupakan jenis potensial terpilih untuk hutan kota. Hal ini didasarkan atas hasil kajian peran jasa biologisnya sebagai pengendali lingkungan fisik kritis perkotaan dan penyangga wilayah resapan air tanah, serta merupakan habitat dan sumber pakan beberapa jenis satwa liar.
Pengelolaan kawasan hijau secara terpadu, merupakan salah satu aspek lain yang cukup penting, dalam kaitannya dengan membangun kawasan hijau baik di sepandan sungai maupun di sekitar situ-situ. Hal ini mengingat banyaknya institusi terkait, walaupun di lingkungan Pemerintah DKI Jakarta.. Dinas Kehutanan merupakan pengelola langsung kawasan sepandan sungai dan situ-situ, seperti yang tersirat pada pengelolaan kawasan lindung, karena kedua kawasan ini masuk dalam kelompok kawasan lindung. Dinas Pekerjaan Umum DKI juga terlibat langsung karena selain program pembangunan kawasan hijau, juga terkait lang-sung dengan program Kali bersih (Prokasih), Sedangkan Dinas Teknis lainnya yang terlibat dalam kegiatan ini meliputi Dinas Pertanaman, yang akan membangun kawasan-kawasan strategis yang diwujudkan dalam bentuk pertamanan kota; Dinas Tata Kota, yang dalam hal ini sebagai pengendali Rencana Tata Ruang Bagian Wilayah (RWBK), pada tingkat Kecamatan; Dinas Pemakaman, dimana lokasi pemakaman cenderung dominan di sekitar bantaran sungai. Demikian halnya dengan Badan Pengelola Kebun Binatang, yang erat kaitannya dengan pembinaan dan pengelolaan satwa liar, juga akan berperan aktif.
Urgensi Program Pembangunan Kawasan Hijau DKI Jakarta dengan memprioritaskan pada kawasan sepandan sungai dan kawasan sekitar situ-situ, dinilai penting dan perlu segera ditangani. Hal ini mengingat bahwa fenomena permasalah yang muncul, bahwa sungai cenderung memberikan andil yang cukup besar, baik di bagian hulu (Selatan) dan atau di bagian muaranya (Utara). Demikian halnya dengan keindahan Kota Metropolitan, dengan berbagai macam bentuk bangunan dan alokasi penataan ruang yang teratur, tidak akan berarti apabila kisi-kisi aliran air (sungai) menjadi tidak teratur, bahkan sebagai habitat sumber penyakit karena kurangnya perhatian dan pengelolaan terhadap badan aliran sungai dan penyangganya. Jumlah aliran sungai yang melintas Kota Jakarta sepanjang  386,5 km, dengan luas kawasan sepandan sungai 1.976 ha. Demikian halnya dengan situ-situ yang luasnya 478 ha, dengan luas kawasan potensial sekitarnya 68,2 ha atau secara keseluruhan 2.044,2 ha. Untuk menyelesaikan kegiatan dalam jangka waktu 5 tahun, atau 408,84 ha/tahun, perlu pemaduserasian antar instansi terkait, hal ini mengingat bahwa program perbaikan lingkungan pada hakekatnya merupakan tugas dan tanggung jawab semua pihak. Apakah pihak Pemerintah, Masyarakat dan atau Swasta, yang secara keseluruhan merupakan Stakeholder, yang harus memikul dan menanggung bersama terciptanya lingkungan sehat;
Masyarakat sadar dan mendukung melalui presepsi dan ramah terhadap lingkungan hidup, yang berarti merupakan modal dasar atas dukungan dari masyarakat akan terwujudnya kawasan hijau di DKI Jakarta. Demikian halnya dengan Pemerintah baik tingkat pusat maupun daerah (Pemda) merupakan lembaga/institusi yang bertanggung jawab secara langsung terhadap pelaksanaan program. Namun tidak kalah pentingnya bahwa pihak swasta terutama bagi perusahaan yang mengolah jasa seperti industri (sumber limbah cair, sumber polutan), gedung-gedung tinggi berdiding kaca sebagai sumber naiknya suhu udara, secara keseluruhan ikut menanggung atas beban menurunnya daya dukung lingkungan hidup, yang patut juga harus ikut menanggung beban dana yang duikeluarkan paling tidak 50% dari tatal biaya yang harus dikeluarkan.
Agar tercapainya tujuan dan sasaran dalam waktu yang relatif singkat dapat terwujud, untuk itu pembekalan program melalui pendataan awal, perencanaan yang mantap baik terhadap alokasi penjawalan, maupun terhadap dukungan lainnya seperti organisasi pengelolaan, anggaran dan kesanggupan stakeholder itu sendidi dalam kaitannnya dengan dana yang harus dipikulnya.
Untuk mewujudkan keinginan luhur perbaikan lingkungan hidup melalui pembangunan kawasan hijau, hingga terciptanya JAKARTA TEDUH HIJAU ROYO ROYO DAN BERKICAU, nampaknya perlu dukungan semua pihak. Pemikiran ini didasarkan atas sejarah upaya pember dayaan pembangunan lingkungan hijau di DKI Jakarta sejak dekade tahun 1970-an, secara berkesinambungan dan pentingnya pembangunan tata hijau berdasarkan skala prioritasnya. Program pembangunan kawasan hijau DKI Jakarta, merupakan tahap awal era perbaikan lingkungan yang bertaraf internasional, mengingat kota Jakarta yang menyandang berbagai macam gelar.

Jakarta, 12 Januari 1998

Leave a Reply