Imlek (Tahun Baru Lunasolar)-Cap Go Meh, Representasi Memori Kolektif Budaya Agraris

Imlek (Tahun Baru Lunasolar)-Cap Go Meh,  Representasi Memori Kolektif Budaya Agraris (Zhong Hua) Zhong Hua / negara tengah (exonymy oleh Indonesia Tiongkok). Model Mandala Mandala dengan Bintang Kutub (Bintang Kaisar), wilayah yang […]

Imlek (Tahun Baru Lunasolar)-Cap Go Meh,  Representasi Memori Kolektif Budaya Agraris (Zhong Hua)

Zhong Hua / negara tengah (exonymy oleh Indonesia Tiongkok).

Model Mandala

Mandala dengan Bintang Kutub (Bintang Kaisar), wilayah yang dikelilingi para pengawal yang kuat, bersifat agraris atau pengelola daratan atau mengolah tanah. Mandala memiliki pusat (altar langit) sebagai kedudukan kaisar penghubung rakyat dengan langit (Raja Imam/Priest King).

Masyarakat yang menganut system mandala tersebut berperilaku perilaku keagrarisan yang berarti menghindari laut (maritime). Masyarakat dii Zhong Hua merepresentasikan menghindari laut dengan bukti takut dengan Nian = makhluk dasar laut bagai monster yang siap memangsa binatang maupun manusia).

Pola budaya seperti system yang ditemukan di Tiongkok (Zhong Hua) juga ditemukan di India serta di Nusantara bagian barat. Puncak daratan sebagai singgasana Raja sebagai Mahameru (Bukan Tempat “Nian”). Dalam Konsep Hindu dan Buddha tempat Nian sebagai tempat yang Nista/bhurloka (konsep Triloka: bhurloka, bhuarloka, Swarloka).

Peringatan imlek di seluruh dunia dirayakan sebagai perayaan datangnya tahun baru, meski sebenarnya merupakan perayaan menghadapi musim Semi karena dimulai dari permulaan datangnya musim semi (Beginning of Spring). Musim semi sebagai awal harapan baru setelah melewati akhir musim dingin yang mengerikan, yang disimbolkan sebagai musim yang sangat ganas “Nian” yang menerkam tanaman pertanian, binatang ternak bahkan manusia, karena dinginnya angin musim salju.

Ucapan-ucapan keselamatan atau terlewatinya musim dingin dan awal musim semi (Imlek), di antaranya:

年年有餘 nián nián you yú, artinya tiap tahun diberkati kelimpahan panen.

Legenda Zhong Hua (Tiongkok), penduduk yang selamat dari mangsaan binatang “NIAN”makhluk buas(monster) mendapat ucapan Gong Xi (Selamat) “Guo Nian” selamat terhindar dari Nian.Pada kenyataannya merayakan terlewatinya/berlalunya cuaca musim dingin (masa-masa sulit)  yang luar biasa kerasnya. Orang dewasa sangat kewalahan pada kerasnya musim dingin, apalagi anak-anak, sering menjadi korban kelaparan bahkan kematian. Tradisi yang terjadi anak yang selamat dari musim dingin tersebut diberi ang pau, menerima kado, ketika berkunjung ke biara-biara.

恭喜發財 Gong Xi Fa Chai / Kiong Hi Fat Chai  Selamat Sejahtera/makmur.

身体健康 Shen Ti Jian Kang Memiliki Kesehatan yang Baik.

岁岁平安 suì suì píng an, yang artinya kestabilan dan kedamaian tahun ke tahun.

Pada kelanjutannya, ucapan berkembang seperti di bawah ini:

新年进步 Xin Nian Jin Pu Memiliki Kemajuan yang Lebih Baik pada Tahun Baru ini

万事如意 Wan Shi Ru Yi Semoga Sukses

新年快樂 Xin Nian Kuai Le Selamat Tahun Baru

Dan selanjutnya perkembangan peradaban sudah menjawab tantangan musim dingin dengan perlindungan yang relative maju, maka perkembangan ucapan yang popular yang terkeit dengan tahun baru dan pemeberian ang pau, dengan mengucapkan kepada sanak keluarga dengan ucapan “gong xi fa cái, hóng bao ná lái” yang artinya “Selamat sejahtera, ang pau kesini dong !”  hehehehehe.

Dinasty Qin 221-206 SM rakyat China sudah mengenal tradisi / adat sembahyang Dewi Bulan. Sembahyang ini dilakukan ketika bulan sempurna atau bulan purnama (pertengan bulan- tanggal 15). Pada tanggal ini merupakan salah satu puncak peringatannya, setelah lepas dari awal memasuki musim semi (tanggal 15 hari). Pada bulan purnama tersebut diperingati sebagai peringatan Cap go meh. Cap Go Meh (dialek Hokkien: 十五 暝) melambangkan hari ke-15 dan hari terakhir dari masa ulang tahun Baru secara harafiah berarti hari dari bulan pertama (Cap = Sepuluh, Go = Lima, Meh = Malam). Kalau di Tiongkok, Cap Go Meh disebut Festival Yuanxiao atau Festival Shangyuan. Perayaan Cap Go Meh dilakukan untuk memberi penghormatan terhadap Dewa Thai Yi, dewa tertinggi di langit pada zaman Dinasti Han (206 SM- 221 M). Simbol-simbol yang muncul pada perayaan Cap Go Meh/ Yuanxiao dengan memberikan kue ranjang, pia, adanya Barong-say (Barong – Singa), Liong (Singa), Lampion berwarna merah dan tidak lupa petasan dan kembang api serta suara-suara simbal dan  tambur yang gaduh.

Benang Merah Budaya Agraris

Imlek hingga Cap Go Meh representasi budaya agraris. Simbol-simbol yang ada, di antaranya yaitu:

  1. Selalu jatuh pada awal musim semi, hal ini terhubung dengan posisi bulan bagi masyarakat untuk mempersiapkan lahan untuk bercocok tanam (agraris), setelah berakhirnya musim dingin yang sangat mengerikan ketika itu.
  2. “Nian” merupakan gambaran kekejaman musim dingin yang mengancam dan merupakan bencana yang datang tiap tahun. Berakhirnya musim dingin merupakan harapan baru kehidupan selanjutnya dengan datangnya energy panas matahari yang mampu memberikan kehidupan pada tanaman pertanian (dengan fotosintesanya, setelah musim dingin energy matahari terhalang dan mematikan).
  3. Ucapan Gong xi (ucapan selamat) yang tidak lain dan tidak bukan ucapan keberkahan yang diberikan kepada orang-orang, anak-anak yang selamat melewati musim dingin tersebut.
  4. Pemberian Ang pau dan hadiah kepada anak-anak, karena tidak jarang anak-anaklah yang sangat rentan menhadapi musim dingin tersebut, dengan angpau memberikan semangat baru, harapan baru kepada mereka.
  5. Ketua kelompok orang miskin yang menghadapi Nian dengan menyarankan masyarakat pergi mencari perlindungan, dan dia memasang lampion-lampion berwarna merah dan kuning, serta menyulut petasan untuk mengusir “Nian”, lampion selain berfungsi memberi penerangan juga menghangatkan ruang-ruang pada musim dingin (mengusir dingin /”Nian”).
  6. Perayaan Cap Go Meh, sebagai puncak terlepasnya dari Nian, 15 hari pertama setelah musim dingin merupakan waktu persiapan yang dipersiapkan oleh alam yang ditandai pada bulan Purnama (lingkaran sempurna), setelah panas matahari (Solar) selama 15 hari menghangatkan permukaan bumi dan  bulan Purnama (energy penarik/grafitasi bulan sempurna) berarti bumi siap ditanami dan benih dipercepat tumbuhnya dengan grafitasi bulan, sempurnalah awal musim tanam tanaman pertanian yang memberi harapan baru, sehingga ucapan yang tepat adalah semoga mendapat panen yang berlimpah.
  7. Barong- Say, Liong (singa = Raja hutan) dalam perayaan Cap Go Meh sebagai penggambaran “Nian” yang datang dari dasar laut meliuk-liuk dan pada akhir peringatan dilakukan pembakaran. Hal ini berarti masayarakat memiliki kemampuan menjinakkannya meski mengalami pemaknaan baru dengan di bakar untuk kembali ke kayangan/langit.
  8. Kue Ranjang berbentuk bundar, kue Pia berbentuk bundar tidak lain tidak bukan sebagai pelambang bulan Purnama yang bundar sempurna (gravitasi bulan purnama memberikan grafitasi maksimal pada bumi yang tegak lurus dengannya). Bahkan air lautpun mengalami pasang naik ketika bulan purnama, laut menjadi terang dan ikan berada lebih dalam sehingga sulit ditangkap oleh nelayan ketika bulan purnama. Satu-satu harapan yaitu menggarap tanah/lahan pertanian yang optimal. Selain itu Kue ranjang dibagikan kepada warga untuk konsumsi sementara setelah masa musim dingin dan bahan dari sumber karbohidrat dan gula merah adalah paduan kuliner untuk penghasil kalori untuk siap bekerja menggarap lahan/tanah (agraris) yang sangat membutuhkan tenaga manusia.

Ada yang memberi makna bulan purnama dapat memberikan kesuburan dalam ekosistem tanah, secara detail dapat dijelaskan ketika mulai matahari menghangatkan akhir musim dingin dan bulan mencapai purnamanya, maka yang terjadi pada pemukaan bumi : salju mencair, lahan-lahan terbuka dari tutupan salju, benih-benih rerumputan dan tanaman liar yang bertahan dari dingin lebih awal berfotosintesa dan bersemi. Petani mulai mengoah tanah, tenak-ternak mendapat rumputnya, benih dipersemaian mulai tumbuh. Dan ketika sempurnanya gravitasi bulan (Cap Go Meh), kondisi tanah porositasnya lebih merenggang, aliran air mencairnya salju memasuki pori-pori tanah, ini semaian yang di tanam di lahan pertanian akarnya dengan mudah menyusup di pori-pori tanah yang merenggang, batang dan daun mendapat tarikan gravitasi bulan maksimal ke atas, lebih cepat memanjang dan keluar daun dan menguat seiring redupnya bulan.

Detail pelaksanaannya tentunya jika diselami akan lebih menarik, misal mengapa cara menanam padi dengan istilah “Tandur” (tani/tanam secara Mundur), tentu selain tidak menginjak benih yang ditanam juga sekaligus membuat lubang dengan injakan kaki penanamnya. Pertanyaannya apakah sekedar mundur? Menurut hemat pelajaran di atas ada kebutuhan tidak terhalangnya fotosintesa oleh energy  matahari yang pagi dari arah timur (mundur ke barat), siang hari (istirahat tidak melakukan penanaman) dan sore hari posisi matahari condong ke barat, jika harus menanam lebih baik mundur ke timur (berbalik arah penanaman pagi hari), itulah “Tandur’ yang optimal, memberi kesempatan tanaman untuk mendapatkan lebih awal fotosintesanya. Belum lagi penggalian system sosial pertanian yang memeberikan keberlanjutan sosisal yang tidak rentan terhadap ancaman / bencana jika didalami akan lebih menarik lagi (tunggu catatan selanjutnya).

Ringkasan

Mngambil pelajaran di atas pada awal  kerajaan pertama di Tiongkok dengan sebutan Dinasty Ming (1368-1644 M), diperjuangkan melalui pesan-pesan yang ada di dalam kue bulan pada malam purnama (Tiong Chiu) oleh kepala pengemis Zhu Yan Chang merebut kemerdekaan dari jajahan Monggoria. Dapat disimpulakan dalam mencapai kemerdekaan juga dapat memanfaatkan waktu seiring cap go meh.

 

Demikian Imlek dan Cap Go Meh tidak sekedar perayaan yang mempertontontan hedonism yang sangat syarat dengan keborosan, tetapi diarahkan pada kesadaran lepas dari atau mempertahan kan hidup dari ancaman dan bencana dan mempersiapkan dalam waktu singkat (15 hari kerja) untuk berjuang mencapai kemakmuran dan ini berualang pada setiap bulannya, tidak hanya setahun sekali khususnya di Indonesia yang tidak mengalami musim dingin yang tergambarkan menghadapi “Nian”.

Refeleksi bagi pelaku agraris, pelajaran ini sudah sejak awal abad masehi sudah di tradisikan di Zhong Hua (Tiangkok), tetapi mengapa mengadaptasikan diri dengan perilaku yang sudah berabad-abad terlupakan dari sejarah, dengan pemaknaan-pemaknaan yang lari jauh dari akar awal tradisinya. Khususnya di Jawa yang juga penganut system Mandala (klasik era atau indiaisme) dengan mahamerunya dengan memori kolektifnya atau ingatan kolektif pendukung budayanya yaitu triloka, tentutanya tidak berbeda implementasinya yaitu prilaku agraris yang sudah mendarah daging. Dua peradaban besar Zhong Hua (awal masehi) dan India (abad 4 hingga 15 M) membentuk ingatan kolektif yang sama yaitu agraris, kapan awal memori kolektif kelautan Nusantara?, jika demikian adanya. (Think Globally-Act Globally-Root locally).

 

  1. https://sites.google.com/a/gongxifatchoi.com/gong-xi-fat-choi—imlek-resources/kisah-imlek/legenda-imlek-versi-chinaa2z-com
  2. https://iccsg.wordpress.com/2006/10/10/sejarah-dan-makna-tiong-chiu/

*) Nian hidup di dasar laut, bermulut besar, sangat menakutkan, mampu menerkan manusia atau binatang lain hingga beberapa sekaligus, dihindari oleh penduduk menjelang imlek. Takut petasan dan takut warna merah.

**) Mohon maaf jika ada yang salah, dan mohon koreksi, terima kasih.

About taqy