Refleksi akar kemaritiman Indonesia VS Refleksi cita-cita bangsa Amerika menginjak bulan pertama kali

Indonesia punya cita-cita melaut kembali tidak ada salahnya, apa bedanya Amerika punya cita-cita menginjak bulan pertama kali, syah-syah saja. Indonesia negara kepulauan tropis (khatulistiwa) yang wilayah lautnya lebih kurang 70 […]

Indonesia punya cita-cita melaut kembali tidak ada salahnya, apa bedanya Amerika punya cita-cita menginjak bulan pertama kali, syah-syah saja. Indonesia negara kepulauan tropis (khatulistiwa) yang wilayah lautnya lebih kurang 70 % dan jumlah pulaunya lebih 13.000. Indonesia kenal angin Barat dan angin Timur. Indonesia punya “coral triangle”, Indonesia pandai menyeberang selat antar pulau. Indonesia kenal jenis rumput laut, kenal biodiversitas pesisir dan laut, bahkan laut dalam, dari fauna planton hingga paus.Indonesia hidup dipengaruhi fenomena angin laut, uap air laut yang menjadi awan dan mendung akhirnya turun hujan di daratan yang memberi asupan pada hutan dan tanaman di daratan pulau-pulau. Indonesia sangat tahu air laut ada yang payau, asin dan tawar (kok air laut ada yang tawar? coba tanyakan mbah google —> sumur artesis di dasar laut dan mata air di dinding pulau). Indonesia tahu itu kelapa bersabut yang terapung di laut, selain itu keben, mangrove dll.

Indonesia punya penyelam alam di laut, Indonesia punya Ahli penjinak paus (hanya dengan perahu nelayan), bukan seperti pembunuh paus jepang dengan teknologi canggih yang membuat pecinta paus dunia geram).

 

Sementara Amerika 1969 hanya berbekal punya dongeng tentang bulan, dalam potongan ceritanya seperti berikut;  …… Bulan, si anak bungsu berkata, “Ibu, ambillah piring, Aku membawakan makanan untukmu.” (Matahari, bintang, bulan, angin; Dongeng Cerpen Pendek Dari Amerika Serikat). Bagi Amerika bulan adalah tempat yang dingin dan terang dan sangat baik. Bulan sebagai Dewi, simbol kesuburan (siklus menstruasi dan bulan sama panjang). Ke bulanlah setelah di bumi alternatif hidup bangsa Amerika sebagai Lunarians. Meskipun di negeri pamannya Bulan dikaitkan dengan kegilaan; bulan purnama munculnya perubahan manusia srigala, keringanan hukuman bagi pelaku jika kejahatan terjadi ketika bulan purnama karena dianggap gila pengaruh dewi bulan. Dan untuk pencegahan penderita psikiatri memuncak kegilaannya, dilakukan pembelengguan dan pencambukan pada fase lunar tertentu (abad 18). Sementara di negeri nenek moyangnya Dewi Luna naik kereta peraknya ke langit setiap malam gelap (mitologi Romawi).

Indonesia ke “laut” Amerika ke “Bulan” mana kearifan untuk mencapainya?

  1. Akar sejarah prilaku-tradisi-budaya-peradaban laut? (maritim?)

a. Sebelum abad 14 di Mancini Sombala

Indonesia dahulu tidak sama dengan Indonesia kini: siapa tidak mengenal mitos Nyi Roro Kidul, Nyi Blorong, Nyi Roro Lor, siapa tidak mengenal We Nyili Timo (putri penguasa pertiwi yang bertahta di dasar smudera, mitologi Goa). Siapa tidak kenal Amanna Gappa (Sombaopu). Siapa tidak kenal Sawerigading dan We Cudai (mitologi Luwuk).

b. Runtuhnya Malaka 1511 M

Runtuhnya Malaka membuka peluang kerajaan-kerajaan Nusantara untuk pengelolaan laut (Ternate-Tidore, Goa, Demak, Banten, Jayakarta, Cirebon). Dan bertahan hingga kolonialisme melalui VOC berbenturan dengan Raja Goa ke-14 melalui perjanjian Bongaya, lambat laun lumpuh hingga kembali ke buaya agraris lagi. Kehilangan spirit kemaritiman menjadikan kehidupan pesisir tanpa harapan, kemerosotan ekonomi pesisir di bekas pelabuhan besar Sombaopu, Bulukumba.

c. Perjanjian Bongaya 1667 M (lumpuh dan mati di lautan)

Siapa yang tidak kenal Pangeran Sabrang Lor (Demak), Sultan Iskandar Muda, Malahayati (Atjeh), Sultan Hasanuddin, Laksamana Karaeng Galesung (Goa), Pangeran Jayakarta (Jayakarta), Raja Santiago (Sangihe Talaut), Kapitan Laut Nuku (Tidore), Hang Tuah, Hang Jebat, Hang Kesturi, Hang Lekiu dan Hang Lekir (Malaka), Jayanasa (Sriwijaya), Panglima Nala, Adityawarman (Majapahit), Laksamana Anakbrang (Singasari-Kertanegara).

Dan bertahan hingga kolonialisme melalui VOC berbenturan dengan Raja Goa ke-14 melalui perjanjian Bongaya, lambat laun lumpuh hingga kembali ke buaya agraris lagi. Kehilangan spirit kemaritiman menjadikan kehidupan pesisir tanpa harapan, kemerosotan ekonomi pesisir di bekas pelabuhan besar Sombaopu, Bulukumba. Kemampuan berniaga melalui pelayaran Nusantara terputus putus dan akhirnya lenyap. Mewariskan dan memberikan sumbangan strategi penguasaan selat dan laut, dan taktik perang laut kepulauan yang khas Nusantara.

Bergerak lagi melalui Sultan Agung Honyokrokusumo, Pangeran Wiroguna dan Pangeran Mertoloyo (Mataram) memperebutkan batavia. Hingga Indonesia merdeka darah kelautan diteruskan oleh  Ksatrya Bahari (para “Senapati Sarwajala”). Pangeran Cakraningrat (Madura), Pattimura (Maluku), termasuk Laksamana Josaphat Sudarso (Indonesia).

2. Akar  darat -laut – darat – kapok di laut (darat) – Cita-cita ke “Laut Lagi”

Perjalanan sejarah bangsa-bangsa di Nusantara memiliki pengatahuan dan pengalaman pengelolaan daratan masa (Hindu-Buddha) dengan idiologi (Arupadhatu, rupadhatu, kamadatu atau Swarloka, Buarloka, burloka), atau mitologi Bugis menyampaikan Boting Langi (Patotoe / tahta sang pemberi nasib), Ale Limo (dunia tengah tempat manusia tinggal) dan To’dang Toja (dunia bawah/tahta Guru Ri Selleg).

Perjalanan selanjutnya menuju ke “laut” mulai dibukanya kerajaan pesisir Goa (Somba Opu) setelah tumbangnya portugis di Malaka 1511 hingga perjanjian Bongaya 1667 M (antara VOC dan Raja Goa ke 14).

Dilanjutkan kembali ke daratan budaya agraris lagi, karena kolonialisme tidak memberikan harapan kemakmuran bangsa-bangsa di Nusantara. Perlawanan demi perlawanan expedisi pamalayu (majapahit), pengiriman armada ke Malaka (Demak), pengiriman armada ke Batavia (Mataram) tidak sesuai harapan keberhasilan. Trauma laut, trauma kolonialisme membentuk memori kolektif yang menaun hingga meninggalkan budaya pengelolaan laut kepulauan (pelayaran dan perniagaan). Sehingga kehilangan spirit kemaritiman atau antiklimak budaya kemaritiman.

Gambar (sumber: Florentinus Mahardhika.2017)

Pada masa kemerdekaan sisa-sisa warisan pranata-pranata ke lautan mulai dimunculkan lagi untuk mengusir kolonialisme, oleh Pangeran Cakraningrat, Pattimura, Yos Sudarso (di laut Aru) dan mengalami trauma kembali.

Setelah 1945, Deklarasi Juanda 1957 (laut sebagai penghubung wilayah Indonesia), pengakuan negara NKRI sebagai negara kepulauan oleh PBB, dan 1982 Konvensi Hukum Laut Internasional, dilanjutkan berdirinya kementerian Perikanan dan Kelautan 1999. Hal itu semua menurut Funkenstein dalam bukunya Krisis Budaya? (1989:9-12) menjadi Anchorage (tonggak-tonggak Budaya) kelautan dikumandangkan kembali dan membutuhkan kerja keras dan benar.

3. Apa capaian pengaruh dunia, apa yang diberikan kepada dunia???????????

Kota-kota pelabuhan mulai semarak kembali dengan aktifitas perdagangan dan pelayarannya. Dukungan Kemitraan aktor-aktor pembangunan kelautan melakukan reframing memori kolektif bangsa-bangsa laut Nusantara menuju bangsa kepulauan tropis yang merdeka dan berdaulat di dataran dan di lautan. Anchorage dalam astronomi pelayaran, biologi pohon sumber bahan kayu kapal, arsitektural perahu, teknologi peralatan bengkel perahu, kuliner pelayaran panjang, ritual pelepasan pelayaran, persenjataan pelayaran panjang, penyimpanan air dan bahan pangan pelayaran panjang, pranata sosial, seni, adat, mistis? bagi yang berangkat dan yang ditinggalkan dalam pelayaran, pengetahuan cuaca, angin dan air laut, navigasi, pranata hukum, Tasi ‘akka-jang, perdagangan antar pelabuahn, berniaga komoditas, keshatan dalam pelayaran, kemanan dalam pelayaran dan masih banyak lagi sebagai unsur-unsur budaya maritim.

Amerika

a. Project Mercury – Apollo ?

Program Apollo pada masa akhir pemerintahan Presiden Dwight D. Eisenhower sebagai program lanjutan dari Program Mercury dalam melakukan misi manusia mengorbit Bumi dan Program Gemini. Program Apollo dilanjutkan menjadi sebuah cita-cita manusia melakukan pelayaran ruang angkasa ke Bulan oleh Presiden Kennedy yang didukung sidang Kongres AS pada 25 Mei 1961: Manusia Amerikan berkeinginan mendarat di bulan pertama kali dan tidak mau didahuli oleh bangsa lain (pada saat itu negara sovyet dan negara-negara Eropa). Berangkat dari keinginan atau kebijakan negara melalui presiden yang didukung konggres yang implementasinya dari sisi dana …..” tak ada satu pun yang akan begitu sulit atau mahal untuk menyelesaikan.”  Mulai dari Presiden-konggres-Ilmuan (Nasa)-Masyarakat dan seluruh sektor bergerak maju mendukung cita-cita membawa manusia mendarat ke bulan dan kembali dengan selamat. Dan ini merupakan program eksplorasi ruang angkasa jangka panjang. Diumumkan juli 1969 dengan Apollo 11 mampu mendaratkan manusia (meski kontroversial). Teknologi pada waktu itu masih banyak diragukan keberhasilannya.

b. Ulang Alik?

Mulai Enterprice kemudian Culumbia, nama Columbia diambil dari nama sebuah kapal berlayar kecil yang beroperasi di luar Boston pada tahun 1792 dan menjelajahi mulut Sungai Columbia. Salah satu kapal pertama Angkatan Laut AS yang mengelilingi dunia juga bernama Columbia. Modul perintah untuk misi lunar Apollo 11 juga dinamai Columbia. Columbia hancur ketika proses memasuki atmosfer bumi pada tahun 2003.

dilanjutkan Challenger, Discovery dan Atlantis. Challenger (1986) hancur dalam peluncurannya, dan akhirnya dibuat Endeavour sebagai penggantinya hingga 1 Juni 2011. Pengorbanan yang sangat mahal, tetapi dampak perkembangan teknologi pendukung hingga kini masyarakat dunia dapat ikut merasakannya; mulai komunikasi informasi melalui satelit, komputerisasi, remote sensing, informasi pengetahuan ruang angkasa dan fenomena pengaruhnya terhadap bumi dan atmosfirmnya dapat dijadikan dasar antisipasi kehidupan di bumi. Setidaknya saat ini dari berbagai pelosok dunia dapat berkomunikasi lebih cepat (internet), menggunakan komputer yang di awal program tersebut tidak mungkin untuk dimasukkan tas dan dijinjing kemana-mana seperti sekarang hampir anak sekolah, mahasiswa, karyawan, pegawai, hampir seluruh lapisan masyarakat mampu mengakses.

c. Pengaruh Dunia

Dan pada akhir kenyataannya astronot dan pelaku misi itu merupakan gabungan dari bangsa-bangsa dunia dengan tujuan kepentingan umat manusia yang hidup di bumi dan kehidupan ke depan kemungkinan di ruang angkas / planet potensial yang dapat mendukung keberlanjutan kehidupan umat manusia.

Merefleksi dari keinginan bangsa menuju maritim dan bangsa menuju ruang angkasa dengan segala kapasitasnya memang sangat jauh untuk dibandingkan tetapi bisa menjadi cerminan atau benchmark peradaban yang memang dibutuhkan untuk keberlanjutan umat manusia di bumi, bukan untuk kepentingan yang lebih rendah.

Bagaimana dengan refleksi kemaritiman kita?

Apakah bentuk Thing Global?

Apakah bentuk Act Global?

Apakah perlu Root local?

Apakah Indonesia Dream? kesempatan untuk setara berperan dalam keadilan yang berkedaulatan dalam menjalankan hak dan kewajiban dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan umat manusia di bumi atau hanya untuk Indonesia?

Tags:

About taqy