Ada yang tahu rempah-rempah? bangsa Eropa berduyun-duyun ke Nusantara masa lampau CARI “REMPAH” untuk apa?

1. Ada yang tahu rempah-rempah? 2. Bangsa Eropa berduyun-duyun ke Nusantara masa lampau (abad 15 sd 18 M) mencari “REMPAH” untuk apa? “Ternyata, melalui penelitian ini mulai terkuak yang selama ini […]

1. Ada yang tahu rempah-rempah?

2. Bangsa Eropa berduyun-duyun ke Nusantara masa lampau (abad 15 sd 18 M) mencari “REMPAH” untuk apa?

“Ternyata, melalui penelitian ini mulai terkuak yang selama ini dikaburkan oleh tulisan sejarah, “REMPAH” untuk apa?

Rempah-rempah adalah berbagai jenis hasil tanaman yang beraroma, seperti pala, cengkih, lada untuk memberikan bau dan rasa khusus pada makanan; — aromatik campuran pepermin, lavender, bunga cengkih, dan thymus— ratus bermacam-macam rempah (obat). (KBBI).

Pertanyaan pertama, saya yakin Ibu-ibu di seluruh Indonesia yang rajin di dapur sangat fasih menjawabnya. Rempah-rempah menurut yang dikenali umum di Indonesia lebih dari 45 nama dengan berbagai fungsi. Meskipun awam mengetahui bahwa rempah sering dikaitkan dengan bumbu masakan/kuliner, ternyata tidak hanya itu fungsinya. Berdasarkan pengelompokan yang dilakukan dalam penelitian ini ditemukan fungsi rempah di antaranya yaitu: 1. aromatik, atsiri, 2. obat, 3. bumbu kuliner, 4. pengawet, 5. pembersih, 6. penyedap masakan, 7. Penyerap bau, 8. Pelembab kulit, 9 Penyubur rambut dll (masih banyak lagi jika di telaah lebih teliti).

Pertanyaan kedua, sebagaian orang menjawab dengan tegasnya, bahwa bangsa Eropa mencari rempah biasanya untuk kebutuhan kuliner mereka. Sebagian orang menjawab mereka suka wangi-wangaian atau aromatik atau atsiri atau diodoran, sebagian lagi sering kita dengar mereka memperdagangkan rempah di Eropa dan sekitarnya atau barter di sepanjang pelayarannya. Jawaban-jawaban sebagian orang itu di amini oleh banyak orang awam selama ini, hingga tidak ingin mencari jawaban yang lebih dalam lagi.

Menurut penelitian ini (meskipun penelitian awal) tetapi karena ketidakpuasan atas jawaban sebagian orang-orang di atas, maka penelitian ini mencoba mengetahui jawaban yang lebih dalam itu. Keingintahuan atas jawaban logis mengapa bangsa Eropa (Portugis, Belanda, Enggris, Spanyol, German, Perancis dll), mereka menyebar ke pelosok pelosok dunia yang ada rempah, bahkan hingga sejauh ribuan kilometer dari negaranya (Eropa – Nusantara kurang lebih 11.000 km). Banyangkan pada abad 15 hingga abad 18 transportasi yang dapat menempuh sejauh itu  menggunakan kapal-kapal layar. Dengan waktu tempuh pulang pergi memakan waktu tahunan baru kembali ke negaranya, bertemu raja, keluarga dan anaknya yang pada waktu berangkat belum lahir dan ketika pulang anaknya sudah bisa bermain.

Pelayaran ini menjadi lebih dramatis dan menarik atas dasar utusan raja-raja mereka, dengan upacara pelepasan yang sangat haru (pulang sebagai Hero, tidak pulang namanya dikenang di dokumen kerajaan).  Dengan demikian sangat dramatis, heroik, persiapan yang matang, perahu layar yang teruji, bahkan menghalalkan menjadi bangsa penjajah, apakah pantas hanya untuk mendapatkan bumbu masak?  sangat tidak logis. Lebih-lebih lagi mereka mambawa slogan “Gold-Glory-Gospel” makin tidak logis. Ada sesuatu tujuan yang selama ini tidak kita sadari mengapa sehebat itu dengan rempah?

Ternyata, melalui penelitian awal ini mulai terkuak yang selama ini dikaburkan oleh tulisan sejarah.   Jawabannya dengan menggunakan pendekatan lokasi (pemahaman geografis), terutama terkait dengan wilayah iklim tempat mereka hidup. Bangsa Eropa tinggal dan menempati belahan dunia yang beriklim dingin ( > 35° N ). Inilah kunci jawaban yang paling logis. Bagaimana beradaptasi dengan alam yang dingin? Di musim dingin di Eropa, bulan Desember sd Februari suhu ngedrop ke kisaran ( – 5° sampai 10°  Derajat Celsius) dan terasa menusuk tulang, tenggorokan kering, kulit keriput, badan menggigil dengan tiupan angin yang menerpa. Dan pada 3 musim lainnya suhu rata-rata terpanas pada musi panas misal London dengan suhu tertinggi 36,7 derajat Celcius dan negara lain hingga mencapai 40° C (pada bulan Agustus). setidaknya 9 bulan hidup pada suhu yang dingin. Amplitudo suhu antara musim dingin dan musim panas sangat tinggi antara (-5 ° C — 40° C) perbedaan 45° C dengan kelembaban udara sangat rendah (udara kering), memerlukan daya tahan tubuh yang sangat prima. Berbeda dengan Indonesia dengan amplitudo dengan kisaran rata-rata antara (15 ° C — 33° C) dengan perbedaan tidak lebih dari 18 °C, dan dengan kelembaban tinggi.

Mungkin masih banyak orang belum mampu mengkaitkan hubungan mereka tinggal di iklim dingin dengan pelayaran mendatangkan rempah-rempah ribuan kilometer ke Nusantara berabad-bad dan atas titah raja dengan label “Gold –Glory-Gospel”. Tentunya bangsa Eropa sudah tahu jawabannya dari mulai Raja-raja mereka mengutus pelayar-pelayar tangguh abad 15 sd 18 M yang lalu (Amerigo VespucciVasco da GamaBartolomeu DiasChristopher ColumbusMarco PoloHenrique sang NavigatorAfonso de AlbuquerqueFernando de MagelhaensJames CookWalter RaleighCheng HoI ChingHernán CortésGonzalo Jiménez de QuesadaIbnu Batutah). Dalam sekali pelayarannya tidak cukup 1,2 kapal saja, tetapi ada yang hingga armadanya sampai 20 kapal, bahkan lebih). Memang dalam pelayarannya tidak serta merta hanya memburu rempah-rempah, tetapi rempah-rempah tidak pernah ketinggalan sebagai barang bawaan (utama).

Perlu diketahui bahwa ada prasasti abad 9 M di Jawa Tengah yang sudah menyebutkan konsumsi tuak, bahkan penyair raghuvamsa di India, abad 2 sudah menyebutkan adanya swarnadwipa (pulau emas yang merujuk pulau Sumatera sekarang) dan pada kenyataannya Sumatera memang kaya akan emas logam dan rempah-rempah. Namu ketika masa kolonial abad 15 M (awal kedatangan bangsa-bangsa eropa), seakan pulau Sumatera sebagai swarnadwipa tinggal emas logam saja, emas hitam, hijau, kuning dari rempah-rempah terkaburkan dan dilupakan.

Kita bangsa Indonesia pemilik rempah dunia berabad-abad hingga kini tidak menyadari begitu strategisnya rempah. Bangsa Eropa sangat pandai menyembunyikan Informasi ini atau begitu polosnya bangsa Nusantara hingga masa Indonesia kini bahwa dari dahulu disilaukan dengan “Gold yang berarti Emas”. Padahal tidak jarang membaca ada istilah emas hijau, emas hitam, emas putih, emas coklat, tetapi yang ada di benak pemikiran kita selama ini adalah jenis logam yang memang mahal. Dalam buku Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 jilid 2: Jaringan Perdagangan Global, pada tahun 1670 dihasilkan 8000 ton lada/sahang/mrica, belum rempah lainnya, dengan harga lada yang relatif lebih rendah dibandingkan lada India dan China. Dalam buku ini diceritakan hampir seluruh pelayar minum-minuman beralkohol berfoya-foya di pelabuhan-pelabuhan mereka singgah tidak kecuali pelayar-pelayar yang bukan Nasrani. Dalam ajaran umat muslim minuman beralkohol dilarang. Hal ini menjadi pertanyaan besar mengapa tradisi ini berlaku untuk pelaut hingga kini. Ada sesuatu yang dapat dijelaskan tentunya. Kalau paragraf awal menjelaskan karena letak di wilayah beriklim dingin, tetapi mengapa dengan pelayar-pelayar meski di wilayah beriklim tidak dingin mentradisikan hal tersebut. Dalam penelitian ini ditemukan beberapa penjelasan logis mengapa menjadi tradisi. Kebutuhan menghangatkan tubuh dengan minum beralkohol ternyata tidak hanya untuk melawan dingin dari tubuh manusia saja, tetapi dalam perjalanan panjang di laut terpaan angin, badai juga membutuhkan daya tahan tubuh yang prima. Jadi minuman beralkohol menjadi tradisi pemekim wilayah dingin, pelaut yang berhadapan dengan perubahan angin serta badai dan di daerah pegunungan tinggi meski di wilayah dekat khatulistiwa. Selain itu dapat dijelaskan juga bahwa dalam perjalanan panjang di tengah lautan lepas manusia butuh cairan dan tentu meski berlayar di atas air yang banyak (lautan) air laut tidak dapat dikonsumsi karena salinitas (asin). Apakah harus membawa air tawar yang banyak dari daratan, hal ini juga menjadi problem. Ternyata berdasarkan pengalaman pelaut-pelaut itu air tawar bersih yang di bawa berlama-lama di kapal pada akhirnya menghasilkan suburnya bakteri (sumber penyakit). Bakteri yang terminum harus dicarikan lawannya. Pilihan pelaut tidak mungkin dengan air asin, tetapi pilihan berdasarkan pengalaman yang efektif sebagai lawan bakteri adalah minuman beralkohol untuk terhindar dari penyakit di perjalanan. Tradisi ini kala itu tidak bisa dipungkiri, bahwa minuman beralkohol membebaskan dari bakteri penyakit dan memberikan panas untuk daya tahan dari terpaan dingin dan angin/hujan/badai.

Kaitan Lokasi Tinggal – Iklim – Rempah – Ragi

Belajar dari penelitian ini, untuk menjadi bangsa yang dihormati oleh bangsa lain adalah menjadi bangsa yang menguasai logam mulia tersebut (sebagai Kolateral). Tetapi mereka bangsa Eropa untuk mendapatkan itu melalui rempah Nusantara pada masa itu.  Dengan pernyataan kalimat terakhir pembaca mungkin makin bingung, apa kaitannya dengan rempah, apa benang merahnya yang menjadi novelty penelitian awal ini? Rempah-rempah yang berton-ton di bawa armada pelayaran menjadi komoditas penting di Eropa kala itu. Dan karena datangnya rempah menyesuaikan datangnya armada dari nun jauh dalam waktu yang lama, bangsa-bangsa eropa memiliki tradisi menabung/menyimpan minuman beralkohol yang dibuatnya hingga puluhan tahun persedian untuk keberlangsungan hidupnya di wilayah yang selalu dingin, apalagi di Siberia (-20°C) kualitas kandungan alkoholnya sangat terkenal seluruh dunia (sangat mudah terbakar) atau dapat mengeringkan tenggorokan dan meluluhlantakkan bakteri yang ada dalam tubuh serta menghangatkan. Jadi tidak menjadi heran jika di beberapa etnis di Nusantara juga memiliki tradisi mengkonsumsi minuman beralkohol (tuak). Dan karena dominasi wilayahnya beriklim tropis yang memang sudah panas maka variasi tuak di Nusantara tidak sekaya variasi minuman beralkohol oleh bangsa-bangsa Eropa. Padahal jika di tilik dari bahan baku betapa melimpahnya vegetasi yang menghasilkan glukosa untuk dijadikan minuman beralkohol dari mulai akar-akaran/umbi, tepung batang pohon, rumput-rumputan (beras ketan), sorgum dll, buah-buahan apalagi. Dan yang menggiurkan berbagai jenis rempah ada di wilayah Nusantara. Jika hal ini dijadikan produksi komoditas, mungkin bangsa Eropa dan wilayah beriklim dingin di dunia ini menjadi konsumen Indonesia. Karena kemungkinan variasinya akan tidak tertandingi oleh bangsa lain, yang jenis rempahnya sedikit dan jenis bahan baku penghasil glukosanya sedikit. Mengapa tidak terjadi karena bangsa tropis tidak memerlukan adaptasi semacam bangsa Eropa, kalau itu dianggap sebagai peluang pada saat itu belum terpikirkan.

Ada penguasaan emas (Gold) yang banyak membuat kejayaan (Glory) dan mampu menyampaikan ajaran Nasrani (Gospel). Rempahlah yang dimaksud emas kala itu (berdasar nilainya yang memicu produksi minuman beralkohol yang dapat mendukung keberlanjutan hidup bangsa-bangsa Eropa kala itu (setelah masa pencerahan, revolusi industri hingga ditemukannnya energi nuklir), rempah tidak lagi menjadi komoditas favorit lagi (setiap ruamah sudah teraliri air hangat yang sehat dan tanggung jawab pemerintah). Pencapaian kejayaan yang diawali dengan pereode ber-rempah ria kemudian bertahan hidup hingga sampai masa pencerahan Ilmu pengetahuan, hingga kini dijadikan rujukan kejayaan (glory) ilmu pengetahuan dunia. Dan selanjutnya misi gospel semakin pesat masuk ke suluruh pelosok dunia. Apakah saat ini masih relevan, banyak yang meragukan karena lebih semarak revolusi sepak bolanya yang masuk ke seluruh pelosok dunia, lebih menggelinding dan masuk gawang-gawang perkotaan maupun suku-suku pedalaman Afrika , Asia dll. Lebih mengenal sejarah bola dari pada ajaran pengusung gospelnya.

Rempah adalah “Benang Merah yang disamarkan”

Bagaimana kaitan dengan “Ragi”, pada sisi inilah yang disamarkan oleh mereka, padahal sangat sederhana sekalai pemahamannya. Untuk membuat minuman beralkohol membutuhkan bahan baku berbagai jenis komoditas yang mengandung glukosa. Sedangkan glukosa adalah bahan dasar yang dapat dirubah untuk menghasilkan minuman/makanan beralkohol. Apa yang dapat merubah glukosa menghasilkan alkohol tidak lain tidak bukan melalui proses fermentasi atau dan destilasi. Proses fermentasi membutuhkan pemicu supaya glukosa lebih cepat menghasilkan alkohol, dan bahan pemicunya itu disebut “RAGI” (yeast-fermentleaven). GLUKOSA + Ragi (biang jamur/fungi) —-> Alkohol. Dan bahan baku ragi adalah rempah penghasil panas (cengkeh, kayumanis, pala, tepunng) yang dikeringkan. Tidak hanya untuk memicu produksi minuman beralkohol saja. Kita tahu dan kadang bangga mengatakan “Saya biasa makan roti seperti orang Eropa”, hal ini terungkap karena kita tahu makanan orang Eropa adalah roti, coba kita telisik pabrik roti, ternyata untuk mengembangkan adonan bahan roti di penyimpanan untuk siap di oven, jika tanpa “Ragi” maka yang terjadi adalah gulungan tepung yang dikeringkan. Dengan ragi “roti-roti” di Eropa sangat bervariasi dan membudaya hingga kini. Jadi Selain untuk prosuksi minuman beralkohol juga untuk memproduksi roti. Semua itu adalah karana ingin mudah disimpan berlama-lama, ketika musim mematikan tanaman pangan mereka (dahulu hanya musim panas tanaman menghasilkan tepung, buah-buahan, ketika musim dingin tanaman tersebut istirahat total. Tetapi saat ini beberapa negara maju di Eropa dengan rumah kacanya dengan dibantu uap hangat hasil fusi nuklier untuk pertanian bisa panen beberapa kali dalam setahunnya). Apakah mereka masih butuh rempah-rempah? seyogjanya sekali-kali di “test” hentikan eksport rempah. Apakah mereka teriak apa tidak? hehehehehe Indonesiaku masih punya sejata rempah-rempah (kolateral yang tersamarkan oleh mata ibu pertiwi).

Begitu strategisnya rempah ketika itu, ketidaksadaran memiliki emas dan memilki kejayaan yang diidamkan bangsa Eropa diglontorkan begitu saja bahkan malah terjajah. Naif.

Kala itu boikot rempah ke Eropa selevel politis boikot onderdil F16 USA terhadap Indonesia. Bangsa Eropa tidak bisa menyimpan roti terjadi kelaparan, dan tidak minimbun alkohol akan mati kedinginan (kasihan?).

Tetapi itu semua sudah terlambat, mereka sudah punya Nuklir, tetapi sekali lagi bangsa kita dengan polosnya mau saja tidak boleh membangun nuklir.

Mereka saat ini dengan santainya mandi air panas untuk seluruh warganya yang disalurkan dari tungku-tungku raksasa bertenaga nuklir di setiap kotanya.

Nusantara masih bernostalgia dengan rempah. xixixixixixi spice road????  Nuclear road????

Benar kata petani di seputaran Danau Ranau Ogan Komiring Ulu Selatan, Sumatera Selatan “Tanamlah sahang sekarang, maka kamu akan menemui surga”

Apa mereka tahu, makanan yang dibungkus daun pisang, dengan makanan yang di bungkus daun jati menunjukkan taste yang berbeda. Apakah mereka tahu kalau masak ikan bakar dengan bambu juga memiliki taste yang lain, apakah mereka tahu asinan/manisan buah segar cianjur? apakah mereka tahu rujak bebek? berapa jenis kuliner yang mereka tidak dapatkan dan bisa kita tawarkan, bukan malah bangga dengan Mc, K, P, H dll yang pastinya lebih mahal, padahal yang ada di nusantara yang lebih enak dari itu lebih banyak tinggal mengemasnya untuk ditawarkan.

Wassalam. MERDEKA.(tq/April 2017)

About taqy