Budaya Pangan dan Pengolahan Tanah masa Jawa Kuno

Budaya Pangan dan Pengolahan Tanah masa Jawa Kuno* Taqyuddin, Ninie Susanti Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia taqygeo@gmail.com *) Seminar Aprish, Depok 7 -9 November 2016   Abstrak Arkeologi […]
Budaya Pangan dan Pengolahan Tanah masa Jawa Kuno*
Taqyuddin, Ninie Susanti
Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia
taqygeo@gmail.com
*) Seminar Aprish, Depok 7 -9 November 2016  aprish2 tq-aprish-2016-a
Abstrak
Arkeologi pangan dan arkeologi pengolahan tanah. Berbagai macam benda budaya terkait dengan budaya pangan dan pengolahan tanah telah ditemukan. Penelitian budaya pangan dan budaya pengolahan tanah oleh peneliti terdahulu dengan berbagai sudut pandang dan penerapan teori sudah menghasilkan pendekatan baru yang dapat digunakan dalam pengembangan Ilmu arkeologi pada khususnya dan bidang ilmu lain pada umumnya. Benda budaya berupa prasasti, toponimi yang disebutkan dalam prasasti dan lokasional  candi-candi yang ada di Jawa bagian Tengah dan Timur, pada bagian-bagiannya menunjukkan suatu data yang terkait dengan budaya pangan dan budaya pengolahan tanah. Lokasional yang tertulis pada prasasti dan keberadaan candi di Jawa masa lalu merupakan petunjuk lokasi yang dapat di lacak keberadaannya pada saat ini. Melalui analisis prasasti, analisis toponimi, analisis geografi  atau keruangan arkeologis prasasti dan candi dapat dijadikan bukti bahwa berbagai jenis pangan, tradisi pangan, tradisi pengolahan tanah, tradisi pengolahan bahan pangan, teknologinya dapat terungkap. Kondisi alam yang mendukung kehidupan masa lalu dan masih dapat dikenali lokasionalnya hingga kini di berbagai ruang muka bumi masing-masing dapat ditemukan perbedaannya secara keruangan. Hal ini dapat dijadikan refleksi terkait dengan budaya penyediaan pangan dan ketersediaan lahan pangan masa kini dan yang akan datang. Melalui penelitian ini budaya pengolahan tanah, budaya pangan apakah menunjukkan keberlanjutannya dan ditemukan sesuai dengan kondisi geografisnya di pulau Jawa.

Kata kunci: Arkeologi pangan, toponimi prasasti, arkeologi pengolahan tanah

 

Abstract

Food culture and Agriculture in Ancient Jawa

Discovery o ancient material cultures remains can be associated with food culture as well as land use traditions or agricultural system. Using different perspectives and applying many theories, previous findings from academic researches on ancient food and land use culture generated new approaches that can be used to enrich and develop archeology and other fields of sciences or technology. Old inscription  that were found outer or within the village where temples are located from the  Center to the Eastern part of Java islands partly described key information that has a link to food culture or land use in the past.  The information also suggested names of origin or toponymy. In addition, the existence of temples that were built in one identified location where its spatial archeology were analyzed , the people that live in this location can be assumed to have or applied a system of agriculture. This assumption however needs further research. Through epigraphy, toponymy, geographical analysis and archeological spatial analysis of locations that were described in the inscription, with further observation and study on material culture remains, it is plausible to consider that in the ancient periods, there have been existence of  people’s traditions and culture in consuming food as well as processing it by means of technologies. While material cultures remains and inscription were used primarily to support this findings, the last variable that can also be used and can be considered as one of influenced factors is by studying the nature conditions of the areas where people lived including climates conditions, geographical landscapes or the quality of land and soil. This will support the analysis of level of wealth of the people in the ancient periods. Today, we have learnt how to supply, stockpile, process and consume food. Our today’s traditions and culture might have been evidences of tradition and culture that were once remained in the ancient times and pass over through our ancestors. This research will identify whether or not food and land use culture remains subsistence today and whether each is being identified according to their geographical condition in Java Island.

Key Word: food culture, landused, toponymy, spatial archaeology, ancient Java.

Pendahuluan / Latar Belakang

Beberapa penelitian arkeologis yang meneliti pada masa Mataram Kuno tentang system politik, sistem ekonomi, artefaktualnya; candi, pemukiman, benda-benda tinggalan lainnya; prasasti, naskah dll. Sebanyak penelitian yang sudah dilakukan oleh peneliti terdahulu belum ditemukan penelitian yang memfokuskan dalam budaya pangan dan budaya pengolahan tanah berbasis keruangan di wilayah-wilayah agraris di Pulau Jawa pada masa kuno.

Disebutkan bahwa masa Mataram Kuno bidang yang mendominasi keberlangsungan ekonominya adalah bidang pertanian dan sangat erat dengan aktifitas pengolahan tanah untuk dimanfaatkan dalam mendukung pertaniannya. Secara umum budaya pendukung masa itu dapat dikatakan memiliki dasar pengetahuan pengolahan tanah lebih luas dibandingkan pengetahuan bidang-bidang lain yang mendukung keberlangsungan kerajaan Mataram Kuno. Dengan demikian pola permukiman masa itu mencerminkan pola permukiman pengolahan tanah atau identitas ruang pengolahan tanah, bukan identitas ruang aestetis arsitektural, bukan identitas ruang astronomis, bukan identitas ruang perdagangan besar dll. Penelitian ini diharapkan memberikan pemahaman tentang budaya  pangan dan budaya pengolahan tanah, sehingga membuka peluang dalam pendalaman arkeologi pengolahan tanah dan arkeologi pangan di Indonesia.

Berdasarkan penelitian-penelitian terdahulu bahwa kerajaan Mataram Kuno sangat tergantung  pada bidang pertanian (dalam arti luas). Mulai dari perintah Raja dalam membuka hutan (Sima atau Perdikan), mengolah tanah, memilih tanaman sebagai sumber pangan, memilih hewan ternak yang digunakan mendukung pengolahan tanah, pengaturan waktu tanam, panen, jual (diperdagangkan), terkait dengan pajak pertanian dan perkebunan, terkait dengan tanah larangan untuk diusahakan unntuk pertanian, terkait dengan keorganisasian yang berjenjang dari pusat kerajaan hingga dusun-dusun (wanua). Dan juga artefak artefak yang ditemukan yang berindikasi sebagai bukti aktifitas pengolahan tanah dalam bentuk bangunan cagar budaya, benda cagar budaya, teknologi pengolahan tanah dan keorganisasian maupun tata aturan pengolahan tanah.

Permasalahan yang menjadi menarik dan penting untuk diteliti secara arkeologis yaitu: pertama melalui telaah naskah prasasti yang ada apakah ditemukan indikasi bukti tertulis tentang aktifitas budaya yang menujukkan budaya pangan dan budaya pengolahan tanah pada masa Mataram Kuno. Selanjutnya melalui bukti-bukti tertulis tersebut bagaimanakah bentuk budaya yang terkait dengan budaya pangan dan budaya pengolahan tanah yang ditemukan. Dan apakah bukti-bukti arkeologis pendukung budaya tersebut. Pada akhirnya yang perlu dan penting diungkapkan dalam penelitian tersebut yaitu bukti lapang budaya pangan dan budaya pengolahan tanah masih dapat ditemukan sebagai refleksi keberlanjutan budaya tersebut.

Penelitian ini selayaknya dapat dilakukan atas dasar telaah seluruh prasasti  yang pernah ditemukan menurut daftar prasasti yang disusun oleh L. Ch. Damais yang diterbitkan tahun 1952. Dari 290 buah prasasti yang berasal dari Sumatera, Jawa, Madura, dan Bali hanya 81 buah prasasti yang telah di terbitkan tranksripsi dan terjemahannya secara lengkap beserta analisisnya. Khususnya prasasti pada masa Mataram Kuno dan dilakukan pembuktian secara keruangan di seluruh wilayah kekuasaan Mataram Kuno yang mencakup wilayah pulau Jawa bagian tengah hingga pulau Jawa bagian timur sesuai dengan era atau kronologis Raja-raja yang berkuasa. Adapun untuk membuktikan secara utuh budaya pangan dan budaya pengolahan tanah era Mataram Kuno, pada penelitian ini akan dilakukan pengujian pada Prasasti era Kerajaan Airlangga yaitu abad 11 Masehi yang cakupan wilayahnya di sekitar Sidoarjo, Jombang, Kediri hingga Malang provinsi Jawa Timur sekarang. Dari informasi yang didapatkan dari sumber naskah prasasti tersebut akan ditelisik indikasi toponimi yang disebutkan dalam prasasti dan dilakukan konfirmasi lapang kondisi saat ini (melakukan Plotting toponimi), selanjutnya menelisik indikasi budaya pangan dan budaya pengolahan tanah. Dan dibuktikan keberlanjutannya saat ini yang terjadi di lapang. Dengan mengambil lokus penelitian tersebut diharapkan dapat menjadi model pembuktian budaya pangan dan budaya pengolahan tanah yang terjadi di kawasan Mataram Kuno serta perubahannya secara keruangan pada setiap era raja masa Mataram Kuno yang berkuasa, sebagai penelitian lebih lanjut.

Tinjauan Teoritis
Teori merupakan suatu pendapat yang didasarkan pada penelitian dan penemuan, didukung oleh data dan argumentasi. Berdasarkan defini, teori merupakan rumusan yang berisikan prinsip umum, terorganisir secara sistematis dapat digunakan sebagai analisis, membuat asumsi, meramalkan serta menjelaskan suatu gejala atau masalah yang untuk sebagian atau seluruhnya telah pernah dibuktikan kebenarannya. Adapun teori-teori arkeologis yang digunakan untuk menguji budaya masa lalu terkait dengan pemenuhan pangan dan cara menghasilkan pangan dengan mengolah tanah di wilayahnya, diantaranya:

Teori Epigrafi dimulai dari pendataan naskah kuno, penyalinan, dan penterjemahan. Penelitian ini menelaah naskah kuno berupa prasasti-prasasti masa Airlangga yang sudah dilakukan penterjemahan oleh ahli terdahulu. Teori Prasasti adalah Pertama, Prasasti-prasasti itu  banyak  yang  dalam  keadaan  rusak,  terutama yang  tertulis  di  atas  batu,  sehingga  sulit  membacanya.  Prasasti  yang  tertulis  dalam bahasa  Sansekerta  ada  kelebihannya  karena  ditulis  dalam  bentuk  mantra  yang memungkinkan  ahli  epigrafi  untuk  sering  rmemakai  aturan­-aturan  guru  lagu  sebagai bantuan  dalam  menyusun  pembacaan  yang  tepat  dari  bagian­-bagian  yang  menimbulkan masalah.

Selanjutnya  yaitu  terjemahan  naskah,  pengetahuan  tentang  bahasa-­bahasa  yang dipakai  di  dalam  parasasti  belum  memadai  untuk  mengungkap  arti  teks  sepenuhnya. Pada  umumnya  prasasti  dikeluarkan  untuk  memperingati  penobatan  suatu daerah sebagai  sima,  yaitu  daerah  bebas  pajak,  sebagai  anugerah  raja  kepada  pejabat  tertentu yang  telah  berjasa  kepada  Negara, atau sebagai anugerah raja untuk pemeliharaan bangunan  suci  tertentu. Bagian  yang  memuat  sumpah  atau  kutukan  terhadap  mereka  yang berani  melanggar  ketentuan-­ketentuan  dalam  prasasti  itu  mengambil  tempat  yang penting di dalam prasasti itu sendiri.

Tahun dan bulan yang biasanya dimuat dengan lengkap dan tepat yang  diikuti  nama   sang   raja   dan   pegawai   tinggi   kerajaan,  dapat  memberikan  kerangka kronologis  untuk  penulisan   sejarah.Berdasarkan  keterangan  boleh  jadi  dapat  diperoleh  pengetahuan  tentang  berapa  lama  masa  pemerintahan  seorang  raja,  sementara  tempat  prasasti  itu ditemukan  dapat  memberikan bayangan tentang luas  daerah  kekuasaan  raja  itu.

Teori lokasi yaitu menelaah letak dan posisi sesuatu di atas permukaan bumi. Dalama hal ini hasil penterjemahan prasasti masa Airlangga yang sudsah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dicari kata-kata yang mengindikasikan suatu nama tempat (toponimi) kemudian dilakukan plotting di peta dasar saat ini sehingga dapat ditentukan letak relatif lokasi nama tempat satu dengan nama tempat yang lain yang disebutkan dalam prasasti. Terkait peta dasar dijital administrasi yang ada di Indonesia peneliti memaksimalkan plotting untuk menemukan lokasi sampai pada tingkat terkecil yaitu desa atau hanya identifikasi kecamatan.

Teori keruangan yaitu langkah-langkah untuk mendapatkan perbedaan-perbedaan sesuatu yang terjadi di atas permukaan bumi terkait dengan hubungannya dengan sesuatu yang lain yang melingkupinya, baik kondisi fisik geografis maupun kondisi human geografisnya serta dapat menghasilkan pola-pola prilaku keruangan oleh budaya pendukungnya. Dalam hal ini yang terkait dengan prilaku budaya penamaan tempat, budaya pangan dan budaya pengolahan tanah.

Teori Birokrasi

Teori Birokrasi yang dikemukakan Max Weber memberikan dasar-dasar pemahaman birokrasi pada umumnya. Sementara ahli yang mencermati ciri-ciri birokrasi yang dikemukakan oleh Weber, telah mereduksinya menjadi enam ciri yang lazim dipandang sebagai ciri-ciri birokrasi bertipe ideal. Peter M. Blau dan Marshall W. Meyer menyatakan bahwa ciri-ciri pokok birokrasi itu adalah (1) pembagian tugas dilakukan secara resmi, (2) struktur otoritas tersusun secara hierarkis, (3) pelaksanaan tugas dan pengambilan keputusan berdasarkan sistem peraturan yang konsisten, (4) para pejabat melaksanakan tugasnya secara formal dan tidak bersifat pribadi, (5) pekerjaan dalam organisasi birokratis mencakup suatu jenjang karier, dan (6) ada staf administrasi yang berperan sangat besar. Sikap menyangsikan keberadaan birokrasi dalam suatu kerajaan semata-mata karena kerajaan itu merupakan kerajaan kuno dan tradisional, tidak memiliki Dasar yang kuat. Hasil penelitian telah dibuktikan bahwa kerajaan-kerajaan kuno dan tradisional telah menerapkan sistem birokrasi, walaupun sistem itu tergolong masih sederhana jika dilihat berdasarkan pendapat Max Weber (1971 : 18 – 23; cf. Blau, 1970: 141-143). Teori birokrasi digunakan oleh penulis untuk mengetahui bagaimana struktur pemerintahan pada masa Airlangga terkait dengan pengelolaan tanah dan pengelolaan sumberdaya air.

Konsep pemanfaatan merupakan Budaya menunjukkan bahwa masyarakat masa lalu hingga saat ini  dalam memenuhi kebutuhan kehidupannya menggunakan dan membuat serta memanfaatkan alat dan bahan. Adapun hasil alat dan bahan itu oleh pendukung budayanya melalui proses dibuat, dipakai atau dimanfaatkan, dan pada akhirnya di buang. Ketika sesuatu hasil budaya pada tahap tidak difungsikan atau “dibuang” dalam arti luas dapat ditinggalkan, dibuang sebagai sampah, dilupakan karena disimpan tidak ada yang tahu, bahkan bisa jadi terkubur oleh tanah karena aktifitas alam seperti banjir, gunung api meletus, longsor dll. Jika hal ini terjadi oleh masyarakat pendukungnya maka sesuatu itu sudah memasuki tahap awal sistem arkeologis hingga pada waktunyanya ditemukan lagi baik melalui penggalian atau pengungkapan oleh masyarakat sekarang.

Dari bukti-bukti yang ditemukan baik melalui sumber tertulis dari prasasti atau naskah dan artefak dapat diidentifikasi dan dikelompokkan atas Dasar cara memakainya dan cara membuatnya atau dikelompokkan menurut sistem teknologinya. Suatu benda yang tersirat dalam tulisan prasasti dan benda berupa artefak bangunan  yan ditemukan dapat menunjukkan budaya masa lalu bahwa bahwa masyarakat masa lalu dalam kehidupannya menggunakan atau memanfaatkan yang sudah tersedia oleh alam, memproduksi sesuatu dari bahan alam seutuhnya, sesuatu yang dibuat dengan mengubah sebagian dari bahan Dasar alam, sesuatu dibuat dari berbagai campuran bahan Dasar alam dan dibentuk menjadi sesuatu yang baru.  Dan dengan kaitannya dengan alat yang ditemukan juga dapat mengantar untuk menjadi bukti aktifitas pendukung budayanya. Dalam hal ini peralatan yang digunakan untuk pengolahan tanah, berbeda dengan peralatan untuk aktifitas di laut.

Metode Penelitian

Metode pengumpulan data
Penelitian ini menggunakan materi pokok yaitu telaah prasasti masa Airlangga yang sudah diterjemahkan oleh ahli terdahulu yang ditemukan di sekitar Sidoarjo, Mojokerto, Kediri hingga Malang provinsi Jawa Timur sebagai sumber data. Adapun data-data yang akan di ambil dan dianalisis yaitu: toponimi, indikasi budaya pangan, indikasi pengolahan tanah, indkasi budaya adaptif terhadap sumberdaya alam sekitar.

Telaah Toponimi dan Plotting
Identifikasi indikasi nama tempat pada prasasti. toponimi yang ditemukan dalam prasasti dibuat daftarnya dan dilakukan plotting di peta Dasar Jawa Timur saat ini secara kartografis untuk mengetahui lokasi dan letak relatifnya. Sehingga dapat diketahui toponimi yang masih digunakan hingga saat ini dan toponimi yang sudah tidak dikenali saat.

Telaah Budaya Pangan dan Budaya Pengolahan Tanah Jawa Kuno. Identifikasi kata-kata yang ada isi prasasti yang mengindikasikan budaya pangan, baik bahan pangan, bentuk pangan, cara memasak dan cara menghidangkan dan lain-lain. Hal ini secara keruangan menjadi atribute dari lokasi prasasti yang mengandung informasi tersebut. Dan dibuat peta persebaran tematiknya.

Telaah Pengolahan Tanah Masa Jawa Kuno
Identifikasi indikasi kata-kata yang mengandung arti pengolahan tanah, baik lahan pertaniannya, penggunaan lahannya, alat yang digunakan dalam mengolah tanah serta ritual pengukuhannya sebagai lahan pertanian, pejabat yang mengelola serta sistem birokrasinya, ukuran dan kewajiban pajak serta aktifitas yang terkait dengan hasil pengolahan tanah. Hal ini juga melekat sebagai atribute dari lokasi prasasti dan diasumsikan mewakili wilayah sekitar lokasi prasasti. Dan dibuat peta persebaran tematiknya secara keruangan.

Telaah konsep pemanfaatan
Kondisi fisik geografis di wilayah persebaran prasasti, baik jaringan sungai, daerah aliran sungai, kondisi ketinggian permukaan bumi atau topografis, bentuk medan atau aspek geomorfologisnya. Kondisi fisik geografis diperlukan dengan menggunakan data saat ini dengan asumsi kondisi fisik geografis yang relatif kecil perubahannya sejak abad 11 Masehi. Data tersebut digambarkan dalam peta tematik.

Analisis distribusi dan analisis Overlay
Analisis distribusi keruangan, yang digunakan yaitu analisis distribusi keruangan dari keletakan ditemukannya prasasti dan keletakan artefak yang berasosiasi dengan prasasti tersebut, meliputi dimensi lokasi, morfometri (jarak, arah, volume, luas, panjang, lebar). Berdasarkan peta persebaran dari berbagai tema yang menjadi atribute lokasi prasasti direpresentasikan sebagai wilayah sekitarnya. selain itu sebagai penjelas adalah sistem birokrasi yang mendukungnya.

Dari peta distribusi dari berbagai tema keruangan tersebut akan dilakukan analisis overlay (tumpang tindih) dengan informasi keruangan fisik geografis yang diantaranya; peta daerah aliran sungai, peta jaringan sungai, peta ketinggian dan peta morfologi. Hasil overlay tersebut untuk ditemukan pola keruangannya dan pola keruangan hasil overlay tersebut sebagai bahan untuk merumuskan kesimpulan budaya pangan, budaya pengolahan tanah pada masa Airlangga (masa Jawa Kuno).

Informasikan secara ringkas mengenai materi dan metode yang digunakan dalam penelitian, meliputi subyek/bahan yang diteliti, alat yang digunakan, rancangan percobaan atau desain yang digunakan, teknik pengambilan sampel, variabel yang akan diukur, teknik pengambilan data, analisis dan model statistik yang digunakan.

Hasil Penelitian
Penelitian ini menggunakan sumber data dari prasasti-prasasti pada masa Mataram Kuno pada umumnya dan Prasasti pada masa pemerintahan Airlangga pada khususnya yang dimulai pada tahun 941 Saka (1019 Masehi) hingga 959 Saka (1037 Masehi). Adapun prasasti masa Airlangga tersebut antara lain:

  1. Prasasti Pucangan, 941 Saka (1019 Masehi), menerangkan bahwa Airlangga resmi menjadi Raja menggantikan raja Dharmawangsa Tguh yang wafat ketika perang dengan raja Wurawari.
  2. Prasasti  Cane, Tahun 943 Saka (1921 Masehi) berisi penganugerahan kepada rakyat Desa cane sebagai Sima, karena sebagai benteng d bagian barat kerajaan dan penyebutan Airlangga sebagai mahapurusa atau setara dengan dewa Visnu.
  3. Prasasti Kagurukan, 944 Saka (1921 Masehi), berisi penganugerahan sima kepda sanak keluarga Dyah Kaki Ngadu, karena telah menunjukkan kebaktiannya yang sangat tinggi kepada raja.
  4. Prasasti Baru, 952 Saka (1030 Masehi), Pemeberian anugerah sima desa Baru, karena desa baru memberikan penginapan untuk pasukan kerjaaan.
  5. Prasasti Pucangan (sanskerta),Tahun 954 Saka (1032 Masehi), penegasan penyebutan Airlangga sebagai Siwa dengan menyebut nama lain siwa yaitu Sthanu (pada Baris 3)
  6. Prasasti Terep pada tahun 954 saka (1032 M) yang berisikan informasi raja Airlangga meninggalkan keratonnya Wwatan Mas menuju Patakan”
  7. Prasasti Kamalagyan A (Kelagen), yang berisi peringatan pembuatan bendung di Waringin Sapta dan pengukuhan sima bagi desa yang mengelola bendung tersebut.
  8. Prasati Turun Hyang” ,Tahun 958 Saka ( 1036 M), menyebutkan penetapan sima untuk desa Han Hyang.
  9. Prasasti Gandakuti Tahun 964 (1042 M), yang menyatakan bahwa Airlangga sebagai Payung dunia dengan penyebutan cakravarttin yang sudah disebutkan pada prasasti Pucangan, Turun Hyang dan Kamalagyan. Prasasti ini menerangkan Raja Airlangga menjadi pendeta, atau turun tahta.
  10. Prasasti Pamotan Tahun 964 Saka (1042 M), menyatakan pusat kerajaan Airlangga di desa Dahana. Prasasti ditemukan di desa Pamotan, kecamatan  Sambeng, Kabupaten Mojokerto Jawa Timur sekarang.
  11. Prasasti Pandan Tahun 964 Saka (1042 M), penganugerahan sima desa Pandan sebagai hadiah kepada para pejabat desa.
  12. Prasasti Pasar Legi Tahun 965 Saka (1943 Masehi), kembalinya Airlangga menjadi Raja lagi, akibat kekacauan kerjaaan.
  13. Prasasti Turun Hyang B 966? (1944 Masehi), menerangkan peperangan antara Raja Garasakan berperang melawan Raja Panjalu. Terbaginya Airlangga menjadi dua kerajaan.
    Toponimi dalam Prasasti Airlangga
No
Prasasti
Tahun

(Saka)

Toponimi

pada prasasti

Toponimi

sekarang

1
Prasasti Pucangan
941
Pugawat
Pucangan
2
Prasasti  Cane
943
Cane
Baru/Cane
3
Prasasti Kakurugan
944
4
Prasasti Baru
952
5
Prasasti Pucangan

(sanskerta)

954
6
Prasasti Garumukha
954
7
Prasasti Terep
954
Wwatan Mas,

Patakan

Terep
8
Prasati Turun Hyang
958
Truneng
9
Prasasti Pucangan

(Jawa Kuno)

963
Pucangan
10
Prasasti Kamalagyan

(Kelagen)

964
Kamalagyan,

Waringin Sapta

Kelagen

/Klagen

11
Prasasti Gandakuti
964
Kembang Sri
12
/Pamwatan/Pamotan
964
Pamwatan
Pamotan
13
Prasasti Pandan
964
Pandan
14
Prasasti Pasar Legi
965
Pasar Legi
15
Prasasti Turun
Hyang B
966?
Garaman,
Watak Air Thani, Garun
Toponimi pada masa Airlangga yang lokasinya bertempat di dataran rendah dan mendekati pantai, mulai dari desa Waringin Sapta , Pamwatan dan Kamalgyan.

Data informasi dari  prasasti yang terkait dengan bahan pangan yaitu, seperti yang ada di tabel 2 di bawah ini:

  • Identifikasi data terkait bahan pangan dari prasasti Mataram Kuno
No
Penyebutan dalam Prasasti
Nama yang dikenali saat ini
Kategori makanan dan Minuman
1
Atak pīhan
sejenis kacang-kacangan
Biji-bijian
2
Wuku
sejenis biji-bijian
Biji-bijian
3
Skul/sgu
Nasi dari beras
Biji-bijian
4
Hnus
cumi
Fauna laut
5
Huraṅ
udang
Fauna laut
6
Gtam
kepiting
Fauna laut
7
Taṅiri
ikan tenggiri
Fauna laut
8
Kura/capacapa
kura kura
Fauna rawa dan sungai
9
Dlag
ikan gabus
Fauna rawa dan sungai
10
Kawan
ikan gurame
Fauna rawa dan sungai
11
Hangsa
angsa
Fauna Unggas
12
Hayam
ayam
Fauna Unggas
13
Tetis
makanan yang diremas
Makanan
14
Dūh ni nyūn
air kelapa
Minuman alami dari buah kelapa
15
Jnu, pandan (puḍak), bunga/skar campaga  dan bunga/skar karamān.
Bahan baku pembuat tuak selain berasal dari aren/kelapa
Minuman dari bahan baku daun, bunga
16
Kila/kilaṅ
hasil fermentasi gula tebu
Minuman dari batang tebu
17
Ciñca/kiñca
air asam jawa
Minuman dari buah asam
18
Jātirasa, madya, mastawa, pāṇa, siddhu dan tuak/twak
Minuman biasanya berupa minuman keras
Minuman keras
19
Biluŋluŋ/ bijañjan, halahala, duri, kaḍawas, kaḍiwas, kaṇḍari, layarlayar, prah, rumahan, slar, wagalan
jenis ikan
Nama jenis ikan
20
Haryyas/hinaryyasan/āryya
sayur dari batang pisang
Sayuran
21
Atah atah/ḍuḍutan
lalap mentah
Sayuran
22
Kuluban/kulub
lalap matang
Sayuran
23
Rumwarumwah/rumbarumbah
lalapan
Sayuran
24
Tahulan
tulang atau duri ikan
Sisa makanan
25
Celeṅ/wök
babi
Sumber daging fauna besar
26
Hadahan/kbo
kerbau
Sumber daging fauna besar
27
Kidaŋ/knas
kijang
Sumber daging fauna sedang
28
Wḍus
kambing
Sumber daging fauna sedang
29
Hantiga/hantrīni/hantlu
telur
Telur
30
Suṇḍa
akar-akaran/umbi-umbian
Umbi-umbian
Jenis-jenis bahan pangan yang ditemukan dapat dikategorikan menurut makanan dan minuman. Adapun makanan mulai dari biji-bijian, telur, daging fauna sedang, besar, unggas, sayuran, umbi-umbian, ikan laut dan air tawar. Dan minuman seperti minuman keras, buah asam, air tebu, air kelapa dan minuman dari bahan baku daun dan bunga.
Data nama alat yang ditemukan pada prasasti (informasi arti Zoetmulder , Mardiwarsito)
no
Nama Alat
Penamaan masa kini
no
Nama Alat
Penamaan masa kini
1
aṅkup
penyepit artinya tang
19
paŋhatap
belum ditemukan arti
2
dāŋ
periuk tembaga tempat kukusan dimasukkan untuk menanak nasi . atau sebagai dandang
20
papañjutan
lentera/obor/tempat lampu/suluh ditaruh
3
dom
jarum
21
patuk  /patuk patuk
beliung
4
dyun
periuk belanga
22
rimbas
kapak penebang kayu
5
gulumi
trisula
23
saragi ˚inuman
Peralatan minum
6
gurumbhagi /karumbhagi /kurumbhāgi
pisau
24
saragi pagaṅan inuman
Peralatan makan dan minum
7
hampit
senjata
25
saragi pagaṅanan
saragi ketel, periuk tembaga atau saragi pagaṅanan artinya peralatan makan
8
kampil
tas/kantong
26
saragi pewakan
periuk untuk tempat ikan
9
kris
keris
27
siku siku
siku-siku alat tukang kayu
10
kukusan
kukusan
28
tahas
pasu atau talam logam
11
laṇduk
pacul, cangkul
29
tampilan
alat logam
12
liṅgis  /liŋgis
linggis
30
taraḥ
alat perkakas logam, beliung ?
13
lukai
parang/golok/pisau cincang
31
tarai
piring/mangkuk tembaga
14
nakaccheda
pemotong kuku
32
tarataraḥ
alat perkakas logam, beliung ?
15
padamaran
tempat lampu
33
tataḥ
pahat
16
paliwtan   /paŋliwetan
tempat untuk menanak nasi
34
tēwēk punukan
senjata penikam yg runcing
17
pamajha
belum ditemukan arti
35
waduŋ
kampak
18
paṅinaṅan
Peralatan makan
36
wakyul
cangkul
Peralatan yang dikenali dan ditemukan diantaranya: senjata penikam, penjepit, jarum untuk jahit tangan, pemotong, pahat, alat masak, makan dan minum, alat penerangan, alat tukang kayu, alat mengolah tanah dan wadah, pemotong kuku.

Data penggunaan lahan yang ditemukan dalam prasasti

no
Tahun Masehi
Kutipan
Penamaan Sekarang
1
824
ika tanī C.A.3
Desa/sawah
2
840
lmaḥ  C.IIa.1
Tanah (Zoetmulder, 2011:583)
3
840
riŋ piṅgir siriŋ. mwaŋ thani kaniṣṭha. C.VIIb
Desa, sawah
4
873
manususk sīma lmaḥ waharu
Tanah  (Zoetmulder, 2011:583)
5
873
maṅaran bukit  C.Ia.1
Bukit
6
878
lmaḥ niŋ kbu˚an karamân ˚i mamali C.Ia.2
Tanah di kebun
7
878
lmaḥ su(kat) C.Ia.1
Padang rumput (Boechari, 2012:294)
8
879
ikanaŋ tgal C.Ia.2
Lapangan terbuka; ladang yang tidak diairi (Zoetmulder, 2011:1229)
9
879
sinusuk gawayan sawah maparah śīmā ikanaŋ prāsāda C.Ia.3
Sawah (Zoetmulder, 2011:1084)
10
879
manusuk lmaḥ ma nīma  C.Ia.1
Tanah (Zoetmulder, 2011:583)
11
879
i kwak watak wka tga(l) C.Ia.1
Lapangan terbuka; ladang yang tidak diairi (Zoetmulder, 2011:1229)
12
881
manusuk tgal C.Ia.1
Lapangan terbuka; ladang yang tidak diairi (Zoetmulder, 2011:1229)
13
881
dadya sawaḥ tampaḥ 2 śīmā niŋ parhyaṅan C.Ia.1
Sawah (Zoetmulder, 2011:1084)
14
882
panusukna lmaḥ C.Ia.3
Tanah (Zoetmulder, 2011:583)
15
882
(a)las dadyakna sawaḥ sīmā nya. ikanaŋ lmaḥ i ramwi watak halu C.Ia.4
Hutan dijadikan sawah
16
901
manusuk lmaḥ kbuan C.Ia.2
Tanah kebun
17
901
muaŋ sīmānya sawaḥ lamwit 1 sampuŋ suddha C.VIIa.3
Sawah (Zoetmulder, 2011:1084)
18
902;903
sawaḥ kanayakān tampaḥ 7 C.Ia.3
Sawah (Zoetmulder, 2011:1084)
19
902;904
lmaḥ rāmanta i paṅgumulan C.IIIb.10
Tanah (Zoetmulder, 2011:583)
20
902;905
muaŋ sawaḥ iŋ panilman C.III.10
Sawah (Zoetmulder, 2011:1084)
21
907
wanu˚a ˚i mantyāsiḥ winiḥ ni sawahnya satū. C.A.2
Sawah (Zoetmulder, 2011:1084)
22
907
(a)lasnya ˚i muṇḍuan C.A.3
Hutan (Zoetmulder, 2011:23)
23
907
pasawahannya ri wunut kwaiḥ ni winiḥnya satū hamat C.A.3
Persawahan/ Sawah (Zoetmulder, 2011:1084)
24
907
sawaḥ kanayakān.  C.A.3
Sawah (Zoetmulder, 2011:1084)
25
907
mu˚aŋ ˚alasnya ˚i susuṇḍara ˚i wukir sumwiŋ. C.A.3
Hutan (Zoetmulder, 2011:23)
26
908
sawaḥ haji lān C.Ib.2
Sawah (Zoetmulder, 2011:1084)
27
908
lu˚a/ luah/lwah
Sungai
28
909
(u)misi anan lĕbak gunuŋ tumut upan C.Xa.1
Lebak, lembah, tanah rendah (Zoetmulder, 2011,581)
29
909
Marawairawai C.Xa.1
Rawa-rawa (Zoetmulder, 2011:931)
30
919
sumusuk ikanaṅ alas C.Ia.2
Hutan (Zoetmulder, 2011:23)
31
929
inanugrahan lmaḥ C.A.4
Tanah (Zoetmulder, 2011:583)
32
929
sira sawaḥ i turyyan mamuat paṅguhan C.A.5
Sawah (Zoetmulder, 2011:1084)
33
929
sawaḥ pakaruŋan C.A.9
Sawah (Zoetmulder, 2011:1084)
34
931
nikaŋ lēmaḥ i warahu C.Va.2
Tanah (Zoetmulder, 2011:583)
35
939
ikaṅ lmah waruk ryy ālasantan C.Ia.3
Tanah (Zoetmulder, 2011:583)
36
940
rin pomahan kĕbuan kĕbuan pamli iriya kā 12 C.Ia.4
Kebun (Zoetmulder, 2011:480)
37
941
dumual ikaṅ lmaḥ rāma ryy ālasantan sapasuk banua C.Ia.4
Tanah (Zoetmulder, 2011:583)
38
944
ikanaŋ lmaḥ C.A.7
Tanah (Zoetmulder, 2011:583)
39
945
irikaŋ luaḥ (lwah) C.A.8
Sungai
40
1053
inugrahan sumima thāninya. mantĕn matahila drabya haji riŋ paknakna C.IIb.2
Desa, sawah
41
1317
sesiniŋ (saisi niŋ) gaga C.XIIb.3
Sawah tanpa irigasi, padi tumbuh di tegalan (Zoetmulder, 2011:263)
42
1318
sesiniŋ sagara C.XIIb.3
Laut
43
1395
halalang i gunung lejar. C.A.5
Rumput yang tinggi (Zoetmulder, 2011:328)
44
1396
alas kakayu C.B.1
Hutan kayu
45
1395
hatuku latĕk. Luputa C.Ia.3
Tanah rawa, tanah berlumpur (Zoetmulder, 2011:576)
46
1386
tiraḥ C.Ia.1
Pnggir pantai (Zoemulder, 2011:1260)
47
1387
karaŋe patiḥ tamba C.Ia.2
Tambak (Zoetmulder, 2011:1190)
48
1388
paŋananewetan sadawata anutug sāgara C.Ia.2
Tanah datar (Wurjantoro, 2006:14)
49
1389
peŋanane kulon babatane C.Ia.3
Ladang (Wurjantoro, 2006:14)
50
1379
Tāmbak C.Ia.2
Tambak (Zoetmulder, 2011:1190)
51
1379
sawaḥ C.Ia.2
Sawah (Zoetmulder, 2011:1084)
52
1379
Tgal C.Ia.2
Lapangan terbuka; ladang yang tidak diairi (Zoetmulder, 2011:1229)
53
1379
Lĕmbah C.IIa.1
Lembah/ tanah datar (Zoetmulder, 2011:584)
54
1379
ing tāmbak C.IIa.3
Tambak (Zoetmulder, 2011:1190)

Informasi penggunaan tanah yang ditemukan lebih banyak dikenali penggunaan tanah di daratan dan perairan air tawar yaitu; penggunaan tanah alami, penggunaan tanah persawahan/ ladang / kebun/ tegalan, pemukiman, sedangkan di akhir-akhir sudah dikenali sawah dengan pengaturan air/irigasi dan penggunaan tanah yang ada di pesisir atau pantai.

Data penyebutan Pejabat yang ditemukan dalam prasasti

No
 śaka
Masehi
Nama Jabatan
Sumber di Pras
Fungsi
1
693
771
pakalangka(ng)
D1.A.9
Pejabat yang mengurusi lumbung padi
2
762
840
lĕblĕb
D2.IIIb.3
Petugas yang mengatur pengairan sawah
3
762
840
pakalaṅkaŋ pakaliṅkiŋ
D2.IIIb.3
Pejabat yang mengurusi lumbung padi
4
762
840
puluŋ paḍi
D2.IVa.1
Pejabat tugasnya berkaitan dengan padi
5
795
873
puluŋ paḍi
D3.Ib.2
Pejabat tugasnya berkaitan dengan padi
6
795
873
hulu wras
D5.IIIa.2
Pejabat yang mengurusi hasil panen
7
823
901
huru wras
D7.Ib.4
Pejabat yang mengurusi hasil panen
8
824
902
saŋ huluwras
D8.IIIb.12
Pejabat yang mengurusi hasil panen
9
827
905
lĕb ĕlĕb
D9.IVb.2
Petugas yang mengatur pengairan sawah
10
827
905
makalaŋkaŋ
D9.IVb.2
Pejabat yang mengurusi lumbung padi
11
829
907
makalaṅkaŋ
D10.SiMuk.8
Pejabat yang mengurusi lumbung padi
12
837
915
pakalangkang
D11.SiMuk.11
Pejabat yang mengurusi lumbung padi
13
851
929
ḷbḷb
D13.SiMuk.17
Petugas yang mengatur pengairan sawah
14
851
929
kalangkang
D13.SiMuk.20
Pejabat yang mengurusi lumbung padi
15
851
929
pulung padi.
D13.SiMuk.20
Pejabat tugasnya berkaitan dengan padi
16
851
929
ḷbḷb
D14.SiMuk.17
Petugas yang mengatur pengairan sawah
17
851
929
kalangkang
D14.SiMuk.17
Pejabat yang mengurusi lumbung padi
18
851
929
pasukalas
D14.SiMuk.20
Pengawas hutan
19
851
929
ḷbblab
D15.SiMuk.10
Petugas yang mengatur pengairan sawah
20
851
929
kalang(kang)
D15.SiMuk.10
Pejabat yang mengurusi lumbung padi
21
851
929
pakaluṅkuŋ
D12.Ia.13
tidak tahu
22
851
929
puluŋpadi
D12.Ia.14
Pejabat tugasnya berkaitan dengan padi
23
852
930
kalaṅkang
D16.SiMuk.7
Pejabat yang mengurusi lumbung padi
24
853
931
pakalaṅkaŋ. pakaliṅkiŋ
D17.IVa.7
Pejabat yang mengurusi lumbung padi
25
861
939
lĕblab
D18.Ia.10
Petugas yang mengatur pengairan sawah
26
861
939
kalangkaṅ
D18.Ia.10
Pejabat yang mengurusi lumbung padi
27
975
1053
pakalaṅkaŋ
D19.IIIa.5
Pejabat yang mengurusi lumbung padi
28
1022
1100
lēbalēb
D20.IIa.11
Petugas yang mengatur pengairan sawah
29
1022
1100
pakalaŋkaŋ
D20.IIa.12
Pejabat yang mengurusi lumbung padi
30
1245
1323
pakalaŋkaŋ-pakaliŋkiŋ
D21.VIb.2
Pejabat yang mengurusi lumbung padi
31
1245
1323
puluŋ paḍi
D21.VIb.3
Pejabat tugasnya berkaitan dengan padi
32
1309
1387
mantriŋ tiraḥ
D21.A.1
pejabat (mantri) di pesisir (tiraḥ)

Adapun birokrasi dalam pengelolaan lahan ditemukan penyebutan pejabat-pejabat yang ditugaskan untuk mengatur lumbung padi, mengatur air sawah, mengatur panen, pengawas hutan dengan demikian bahwa pengadaan pangan dan pengaturannya menjadi posisi yang sangat penting dalam pengelolaan lahan daratan dn air tawar. Di awal tahun 1387 Masehi baru ditemukan pejabat (mantri) di pesisir, hal ini menunjukkan sudah mulai pemanfaatan lahan yang mendekati laut.

Data penyebutan profesi yang ditemukan pada prasasti

No
Nama Profesi
Arti
1
˚ahikana
Penjual makanan
2
abakul wwawwahan.
Penjual buah-buahan
3
adagang wuṅkuḍu
Pedagang mengkudu
4
amisaṇḍun / mamisaṇḍu(ŋ) manuk
Pembuat perangkap burung
5
anēpis.
tidak tahu
6
aṅgula/magula/manggula
Pembuat gula
7
ańjariŋ. /mańjariŋ
Menangkap dengan jaring/pembuat jaring untuk menangkap binatang
8
aṅulan/paṅulaŋ aṅḍaḥ. aṅulaŋ kbo. sapi. Celaŋ,wḍus
Penjual itik, penjual kerbau, sapi, babi hutan, wedus
9
anwaŋ
tidak tahu
10
bawaŋ
Penjual bawang
11
haṅapu
Tukang pembuat kapur
12
majari
Menangkap dengan jaring
13
makala kalā /manuk
Pembuat jerat binatang/burung
14
maluruŋ /maṅluruṅ / manglurung
Pembuat minyak jarak
15
mamēlut /mamulanŋ wlut
Penjual belut
16
mamukat
Menjala
17
manahab manuk
Menangkap burung
18
manaŋkêb.
Pembuat perangkap (biasanya untuk burung)
19
manawang
Pembuat jaring
20
manawaŋ
tidak tahu
21
manghapū
Pembuat kapur sirih
22
manghapū.
Pengolah kapur untuk menyirih
23
manūla w)uṅkuḍu/anulaŋ wuṅkuḍu
Pengolah mengkudu
24
maṅulaŋ haḍaṅan sapi wḍus aṇḍaḥ
Penjual hidangan sapi, kerbau, itik
25
maŋhapū
Pembuat kapur untuk menyirih
26
maŋharĕŋ
Penjual arang
27
pabṛsi/pambṛṣi/pamṛṣi /mamṛsi
Pembuat sejenis minuman
28
pucaŋ sērēḥ.
Penjual sirih/sereh
29
wli hapū
Pembeli kapur untuk menyirih
Masyarakat pada mas itu dapat melakukan profesinya untuk mendukung perekonomian dengan berdagang, membuat alat penangkap (burung, ikan), penjual sayuran, buah-buahan dan makanan, pembuat gula, pembuat minuman, penjual binatang ternak, penjual arang, pembuat dan penjual sirih dan kapurnya. Dari sekian profesi tersebut masih mencirikan aktifitas yang terkait kehidupan di daratan belum ditemui profesi yang menunjukkan aktifitas laut.
Peta Pengolahan Tanah
10 Besar DAS di Pulau Jawa menurut luas (HA)
No
Daerah Aliran Sungai
 Luas (HA)
Wilayah Hulu
Wilayah Hilir
1
BENGAWAN SOLO
   1.638.948,24
Jawa Tengah
Jawa Timur
2
BRANTAS
   1.159.760,33
Jawa Timur
Jawa Timur
3
CITARUM
       706.778,73
Jawa Barat
Jawa Barat
4
CIMANUK
       391.369,44
Jawa Barat
Jawa Barat
5
SERAYU
       374.614,53
Jawa Tengah
Jawa Tengah
6
SERANG-LUSI
       373.149,82
Jawa Tengah
Jawa Tengah
7
CITANDUY
       363.450,84
Jawa Barat
Jawa Tengah
8
PROGO
       267.875,37
Jawa Tengah
DIY
9
CIUJUNG
       236.546,37
Banten
Banten
10
CIMANDIRI
       196.947,51
Jawa Barat
Jawa Barat
DAS Bengawan Solo adalah gabungan dari Sub DAS Bengawan Solo Hulu dan Kali Madiun,  mengalirkan air dari lereng  Gunung Merapi (± 2.914 m), Gunung Merbabu (± 3.142 m) dan Gunung Lawu (± 3.265 m) hingga Surabaya melalui alur sepanjang ± 600 km. Secara administratif DAS Bengawan Solo mencakup 17 (tujuh belas) kabupaten dan 3 (tiga) kota, yaitu: Kabupaten: Boyolali, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Karanganyar, Sragen, Blora, Rembang, Ponorogo, Madiun, Magetan, Ngawi, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Gresik dan Pacitan. Kota: Surakarta, Madiun dan Surabaya.

DAS Bengawan Solo sebagai sungai terpanjang topografinya relatif datar, dataran rendahnya lebih luas terutama sub DAS Bengawan Solo Hilir. Kemiringan Dasarnya bervariasi mulai landai sampai curam, aliran airnya banyak membawa material sedimen dari hasil erosi pada lereng-lereng gunung hulunya, sehingga mengakibatkan sedimentasi yang tinggi di Sungai membentuk alur sungai yang lebar dengan kemiringan landai, melalui dataran aluvial dan menjadi daerah yang sering digenangi banjir. Di dekat muara, wilayahnya berawa dan luas yang disebut Rawa Jabung dan Bengawan Jero.

Kemiringan dasar DAS Bengawan Solo sekitar 1/2.000 di bagian hulu, 1/3.000 pada bagian tengah dan sekitar 1/20.000 dibagian hilir sungai mulai dari Babat. Kemiringan Dasar Kali Madiun berkisar antara 1/2.200 sampai 1/1.250. Kapasitas alur sungai rata-rata bervariasi sebagai berikut: DAS Bengawan Solo Hulu : 800 – 1,800 m3/s, Kali Madiun : 300 – 1,500 m3/s dan  DAS Bengawan Solo Hilir : 1,450 – 1,800 m3/s.

DAS Brantas merupakan Wilayah Sungai terbesar kedua di Pulau Jawa, terletak di Propinsi Jawa Timur. Sungai Brantas mempunyai panjang ± 320 km yang mencakup ± 25% luas Propinsi Jawa Timur atau ± 9% luas Pulau Jawa. DAS Brantas terdiri dari 4 (empat) Daerah Aliran Sungai (DAS) yaitu DAS Brantas, DAS Tengah dan DAS Ringin Bandulan serta DAS Kondang Merak. DAS Brantas berada di dalam wilayah administrasi 9 Kabupaten dan 6 Kota, yaitu: Kab. Nganjuk, Kab. Tulungagung, Kab. Malang, Kab. Blitar, Kab. Sidoarjo, Kab. Mojokerto, Kab. Jombang, Kab. Probolinggo, Kab. Lumajang, Kota Surabaya, Kota Sidoarjo, Kota Malang, Kota Blitar, Kota Kediri, dan Kota Pasuruan.

10-das-besar-di-jawa
10 DAS terluas di pulau Jawa
Melalui gambar 3 diketahui bahwa seluruh pulau terbagi habis oleh daerah aliran sungai. Terlihat 10 besar DAS berdasar luasannya di pulau Jawa yang terluas adalah DAS Bengawan Solo yang di susul DAS Brantas.

 

3-das-besar-di-jawa
Jaringan Sungai di DAS Progo, Bengawan Solo dan Brantas
Dari gambar 3 terlihat DAS bengawan Solo terluas kemudian DAS Brantas. Tiga DAS utama tersebut merupakan wilayah peradaban Mataram Kuno, yang bermula beradaptasi di DAS Progo menuju DAS Brantas melewati DAS Bengawan Solo.
kontur-di-jawa
Wilayah Ketinggian (Topografi)
Dari gambar 4 di atas DAS Progo memiliki topografi pegunungan tinggi dan dataran rendah yang dekat dan sempit, DAS Bengawan Solo paling luas dataran rendahnya dan dari pada DAS Brantas.
geo-di-jawa
Peta Geologi DAS
Dari Gambar 5 dapat diketahui dari ketiga DAS tersebut dataran alluvial yang terluas adalah DAS Brantas, kemudian DAS Bengawan Solo dan menyusul DAS Progo tersempit. Diketahui Dataran Alluvial adalah lahan yang memiliki deposit hasil erosi yang menumpuk di lembah-lembahnya hingga mengalami pendataran yang luas, sehingga ditandai dengan adanya sabuk-sabuk meander (kelokan sungai), karena aliran sungai dalam mencari keseimbangan gravitasi yang di alami air sungai di wilayah datar dengan karakter tanahnya yang teksturnya halus.

Asosiasi antara lokasi temuan Prasasti, lokasi Candi di DAS Bengawan Solo, Progo Dan Brantas.

Melalui gambar 6 di atas, tergambarkan dinamika peradaban yang ada di ketiga DAS tersebut, melalui bukti sebaran prasasti yang ditemukan, sebaran candi dari masa Jawa kuno (aba 7 hingga abad 14), dan toponimi yang bersumber dari prasasti yang masih dapat dikenali hingga kini. Nampak diawali dari DAS Progo dan sekitarnya dan menuju ke DAS Brantas, melewati DAS Bengawan Solo atau pergerakannya menuju ke timur. Terlihat pengelompokan yang rapat di DAS Progo dan sekitarnya dan lebih rapat di DAS Brantas dibandingkan di DAS Bengawan Solo.Kecenderungan di DAS Progo pendukung budaya Mataram Kuno menempati pegunungan atau bagian tengah pulau Jawa dan pengalaman ini berlanjut ke arah timur dengan tetap menempati wilayah tengah pulau, hanya setelah memasuki DAS menempati dataran rendah bahkan mendekati pantai. Tetapi pola sebaran dari bukti-bukti yang ditemukan sebagian besar berpola linier terhadap jaringan sungai, kecuali ketika di wilayah DAS Bengawan Solo masih di pegunungan.

Pembahasan

Penelitian ini menggunakan sumberdata dari prasasti masa Mataram Kuno pda umumnya dan yang ditemukan pada Masa Airlangga. Prasasti yang terbuat dari batu dan terbuat dari logam, Adapun budaya pangan yang ditemukan yaitu: Jenis-jenis bahan pangan yang ditemukan dapat dikategorikan menurut makanan dan minuman. Adapun makanan mulai dari biji-bijian, telur, daging fauna sedang, besar, unggas, sayuran, umbi-umbian, ikan laut dan air tawar. Dan minuman seperti minuman keras, buah asam, air tebu, air kelapa dan minuman dari bahan baku daun dan bunga. Dengan demikian masih berorientasi sumberdaya pangan dari hasil daratan untuk memenuhi kebutuhan pangannya.

Hal ini di dukung dengan peralatan yang berorientasi mendukung kehidupan di daratan yang dikenali dan ditemukan diantaranya: senjata penikam, penjepit, jarum untuk jahit tangan, pemotong, pahat, alat masak, makan dan minum, alat penerangan, alat tukang kayu, alat mengolah tanah dan wadah, pemotong kuku.

Informasi penggunaan tanah yang ditemukan lebih banyak dikenali penggunaan tanah di daratan dan perairan air tawar yaitu; penggunaan tanah alami, penggunaan tanah persawahan/ ladang / kebun/ tegalan, pemukiman, sedangkan di akhir-akhir sudah dikenali sawah dengan pengaturan air dengan irigasi dan penggunaan tanah yang ada di pesisir atau pantai, hal ini dapat ditemukan dari prasasti kamalagyan yang menunjukan adanya pembangunan bendung (di dataran rendah) untuk irigasi dan masyarakat disekitar bendung dianugerahi sebagi sima.

Adapun birokrasi dalam pengelolaan lahan ditemukan penyebutan pejabat-pejabat yang ditugaskan untuk mengatur lumbung padi, mengatur air sawah, mengatur panen, pengawas hutan dengan demikian bahwa pengadaan pangan dan pengaturannya menjadi posisi yang sangat penting dalam pengelolaan lahan daratan dan air tawar. Di awal tahun 1387 Masehi baru ditemukan pejabat (mantri) di pesisir, hal ini menunjukkan sudah mulai pemanfaatan lahan yang mendekati laut.

BerDasar overlay dari data-data keruangan tersebut menghasilkan pola kerungan bahan pangan dan pengolahan tanah masa Mataram Kuno pada umumnya dan pada masa Airlangga yaitu  berpola mengikuti lokasi temuan prasasti yang dianggap mewakili keruangan di sekitarnya. Atas Dasar sebaran toponimi desa ditemukannya prasasti dan menggunakan satuan ruang daerah aliran sungai (DAS), ditemukan bahwa era Mataram Kuno pada awalnya di wilayah yang termasuk DAS Progo dan sekitarnya, kemudian DAS Bengawan Solo dan menunjukkan dinamisasinya di DAS Brantas dengan bukti peninggalan prasasti maupun candi lebih rapat. Melalui satuan ruang DAS diDasari bahwa kehidupan masa lalu menunjukkan pola adaptasi dengan kebutuhan air. Memanfaatkan sumberdaya alam yang ada, yaitu sebagai sumber air utama yaitu air yang berasal dari sungai Progo, Bengawan Solo dan Brantas yang memiliki luas daerah aliran sungai termasuk 10 DAS terluas di Pulau Jawa. Berdasarkan kronologis menunjukkan peradapan Mataram Kuno bergerak ke timur untuk mencari DAS yang dapat mendukung kehidupan lebih berkelanjutan. DAS terbesar di pulau Jawa adalah Bengawan Solo dan di susul DAS Brantas, hal ini menjadi salah satu pertimbangan perkembangan keruangan Mataram Kuno tidak memilih ke Barat, selain pertimbangan fisik geografis yang lain atau pertimbangan politik di bagian barat jawa (Tarumanegara) yang sudah menguasai lebih dahulu DAS terbesar di bagian Barat Jawa. Dan di bagian timur jawa hanya ada kerajaan-kerajan kecil.

Adaptasi yang dilakukan yaitu memanfaatkan kesuburan lahan dataran rendah di lembah sungai Brantas yang kaya akan endapan hara vulkanik dari gunung-gunung api yang ada di hulunya. Ketinggian pengelolaan tanah berkisar pada ketinggian topografis 0 (pantai) hingga + 3000 mdpl.

Pola adaptasi yang dilakukan yaitu memanfaatkan kondisi perairan Berantas sebagai sumber air pertanian, dengan membuat bendung untuk mengalirkan air ke lahan pertanian, selain itu dengan adanya bendung dapat mengendalikan banjir di dataran banjir sungai Brantas. Budaya lain yang dijelaskan yaitu memanfaatkan aliran sungai Brantas yang lebar dan dalam untuk transportasi sungai, dengan ditemukan dermaga-dermaga kuno di beberapa lokasi sungai. Dan dengan adanya sistem transportasi sungai, adanya petugas pengelola bendung serta juga didapatkan informasi sudah adanya hubungan dagang dengan bangsa asing.

Dari beberapa penelitian terdahulu yang membahas budaya dari sisi ekonomi di era Raja Airlangga 941 Saka hingga 965 Saka, dengan data Dasar yang berasal dari sumber prasasti menyatakan adanya aktifitas ekonomi untuk memenuhi kebutuhan pangan sandang dan papan. Dalam beberapa penelitian pada umumnya mengkaji indikasi subyek dan obyek ekonomi yang disebutkan dalam prasasti, diantaranya yaitu para pelaku ekonomi, aktifitas ekonomi dan sarana ekonomi. Dan beberapa hasil penelitian mendetailkan kekhususan pada pelaku ekonomi baik lokal maupun pelaku antar kerajaan (asing; Keling/India, China, Arab), beberapa penelitian mengkhususkan pendetailan dari produk yang dihasilkan atau aktifitas ekonomi baik yang dikonsumsi rakyat, dikonsumsi oleh pejabat dan Raja dan sebagai barang dagangan, serta ada penelitian yang mendetailkan pada sarana ekonomi mulai dari jaringan transportasi, moda, bendungan dll. Pada penelitian ini akan memberikan hasil yang berbeda dalam memanfaatkan data yang bersumber dari prasasti pada masa Airlangga yang membedakan dengan penelitian terdahulu.

Perbedaannya terletak pada pengidentifikasin lokasional toponimi yang disebutkan pada prasasti untuk diplotting pada peta saat ini yang relatif ketepatannya terukur, sehingga memberikan informasi baru terkait dengan persebaran lokasional dari nama-nama desa yang masih dapat terdeteksi hingga kini dengan tetap mengedepankan hakekat data arkeologis yang buktinya sangat minim (rekonstruksi persebaran toponimi), hal ini penting untuk mendapatkan pola kewilayahan tempat yang diokupasi pada budaya masa Airlangga selama lebih kurang seperempat abad. Dengan mengetahui wilayah atau catcment areas masa Airlangga tersebut penelitian ini meningkatkan kajiannya atas Dasar interpretasi data-data yang terkait dengan aktifitas ekonominya (pelaku ekonomi, aktifitas ekonomi dan sarana ekonomi) dengan mempertanyakan, mengapa kerajaan Mataram Kuno bergerak ke arah timur hingga masa Airlangga dan setrusnya, kemudian ingin membuktikan daya dukung sumberdaya alam yang ada di wilayah Airlangga tersebut jika dibandingkan dengan wilayah-wilayah era Mataram Kuno sebelumnya yang berasal dari sekitar Jawa Tengah sekarang.

Informasi penaklukan-penaklukan kerajaan-kerajaan kecil di wilayah Jawa Timur tersebut mengapa dilakukan? Apa yang menjadi Dasar penaklukan dari sisi daya dukung sumberdaya alam untuk mendukung aktifitas ekonomi kala itu. Informasi lain dari prasasti-prasasti yaitu pusat kerajaan awal Airlangga di Wwatan Mas, pembangunan bendung di Waringin Sapta menjadi isu penting untuk diinterpretasi sebagai landmark masa Airlangga terkait dengan bidang ekonomi, sistem birokrasi yang lebih sederhana dari indikasi penyebutan pejabat-pejabat yang terlibat dalam pengukuhan sima di era sebelumnya, dengan bukti nama-nama pada Hirarkhi sosial utama dan satu hirarkhi sosial di bawahnya. Hal ini menunjukkan adanya kewibawaan pusat dengan tanpa menyepelekan wilayah-wilayah pendukungnya dengan banyaknya pengukuhan wilayah sima bagi yang berjasa dalam mengabdi atau berjasa kepada kerajaan Airlangga yang rajanya mendapat pengakuan setara dengan dewa Visnu.

Jika di telaah secara seksama dari perjalanan peradaban Mataram Kuno di Jawa Tengah hingga masa Airlangga dan seterusnya, maka melalui sudut pandang keruangan khususnya sumberdaya alam yang ada di wilayah-wilayahnya mulai dari topografisnya, jaringan sungainya, Daerah Aliran sungainya, aspek geomorfologinya menjadi sangat menarik dan dapat dijadikan bukti bahwa dari masa ke masa raja raja Mataram Kuno sangat adaptif terhadap sumberdaya lama itu. Dengan demikian diketahui konsep bahwa untuk menjadi kerajaan besar dan berwibawa upaya yang dilakukan adalah memberikan kemakmuran dan kesejahteraan kepada rakyatnya. Untuk itu secara adaptif daya dukung wilayah untuk mewujudkan itu sangat diperlukan; yaitu Daerah aliran sungai yang luas berarti memiliki wilayah dataran yang luas dan lembah-lembah yang subur karena cukup air. Dalam hal ini Airlangga memilih di wilayah daerah aliran sungai Brantas yang dilakukan penaklukan-penaklukan pada awalnya.

Daerah aliran sungai Brantas adalah termasuk terluas setelah Bengawan Solo di pulau Jawa dibandingkan dengan daerah aliran sungai yang ada di pulau Jawa. Untuk itu Mataram Kuno dalam perjalanannya menuju ke Timur bukan ke barat jawa, mulai DAS yang awal yaitu DAS Progo, berlanjut ke DAS Bengan Solo dan pada masa Airlangga masuk ke DAS Brantas. DAS yang luas sangat memberi keuntungan daya dukung ekonomi masyarakat maupun kerajaan. Karena tentunya memiliki aliran sungai utama yang besar. Dari sisi topografis wilayah DAS yang luas memiliki bagian-bagian permukaan bumi sebagai region pegunungan tinggi, region perbukitan dengan lembah luas, memiliki lahan datar yang luas untuk pertanian dataran rendah maupun pertanian dataran tinggi, region pertanian tadah hujan serta memiliki region pertanian dengan upaya irigasi dengan bendung (Waringin Sapta) yang di bangun. DAS Brantas yang luas menunjukkan keterkaitan supply hara dari tanah-tanah vulkanik Bromo, Kelut, dll terbawa oleh anak-anak sungai dan berakhir menghalus mengendap di dataran banjir sungai utama, hal ini memberi kesuburan untuk pertanian. Jika dibahas terkait wilayah pada era Mataram Kuno awal di Jawa Tengah kerajaan menempati DAS kecil dan dengan topografi berbukit hingga bergunung, akses transportasi hanya mengandalkan jalan darat, selain itu sangat dekat dengan pusat-pusat letusan gunung api di Jawa Tengah yaitu Sundoro, Sumbing, Merbabu, Merapi. Hal ini sangat tidak menguntungkan untuk kelanjutan kehidupan karena gangguan alamnya sangat merusak dan tidak mampu dikendalikan. Lain halnya di DAS Bengawan Solo yang bentuk DASnya memanjang, dari fenomena hidrologi fluktuasi air pasang-surutnya sangat drastis amplitudonya atau sering terjadi banjir bandang, hal ini juga pilihan wilayah yang kurang menguntungkan untuk keberlanjutan. Dan terbukti peradaban Mataram Kuno berkembang secara dinamis di DAS Brantas hingga masa Majapahit yang berpusat di Brantas hilir.

Kesimpulan

Pada masa Jawa Kuno hingga Airlangga sebelum mencapai puncak kejayaan adalah tindakan untuk menguasai wilayah-wilayah subur di DAS Brantas dengan penaklukan-penaklukan di kerajaan-kerajaan kecil di lembah Brantas dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan. Setelah itu raja Airlangga merasa menguasai wilayah tersebut menjaga kestabilan sosial dengan memberikan penganugerahan berupa wilayah-wilayah sima yang dianggap berjasa kepada raja, baik kepada para pejabat, sanak keluarga atau kepada suatu penduduk desa. Setelah itu menjalankan pemerintahan dengan birokrasi yang terpusat di kerajaan dilanjutkan untuk pembangunan ekonomi dengan memanfaatkan sumberdaya alam yang ada, diantaranya membangun bendung untuk melindungi rakyat dari banjir sungai Brantas dan mengukuhkan sima kepada desa yang menjaga bendung tersebut, dengan tugas mengatur pengairan dengan ditunjuk huluair. Dengan demikian pertanian dapat berproduksi untuk memenuhi kebutuhan pangan rakyat. Kalau melihat luasnya dataran rendah dan dengan sistem pengaturan air sungai melalui bendung maka produktifitas pertanian rakyat maupun kerajaan menjadi tercukupi. Hal ini menunjukkan berlakunya aktifitas perdagangan dari hasil pertanian dan produktifitas pendukung lain sambil menunggu masa panen.Pusat kerajaan di dekat muara sungai Brantas menjadi sangat strategis untuk mengontrol perdagangan yang berjalan dengan menggunakan akses sungai melalui moda-moda perahu dagang, dengan diidentifikasinya dermaga-dermaga kuno di bagian-bagian tepi sungai Brantas.

Budaya pengolahan tanah di DAS Brantas menjadi sangat leluasa karena dengan dataran rendah yang luas, lembah sungai yang luas, bentuk DAS yang pola alirannya dendritik (seperti jaring-jaring tulang daun), menunjukkan keberadaan hutan yang mampu menyerap air yang jatuh dipermukaannya dan menahan untuk tidak langsung meluncur terakumulasi secara bersamaan ke sungai utama, sehingga amplitudo pasang surut air sungai tidak drastis. Lain dengan sungai yang bentuknya memanjang dengan jarak yang dekat antara igir-igir (punggungan bukit memanjang) tertinggi dan sungai utama yang menampungnya, seperti Bengawan Solo (kecenderungan berpola paralel), sungai Progo apalagi memiliki gradien yang besar (sudut antara garis datar dan garis titik tertinggi) yang mengakibatkan air sungainya deras. Petani secara adaptif sangat diuntungkan untuk mengolah tanah yang datar, di dataran rendah dengan lapisan tanah yang tebal, dengan teksture tanah yang halus mengandung unsur hara vulkanik dan kelimpahan air. Budaya mengolah tanah menjadi tidak berat dan membutuhkan tenaga yang besar meskipun dengan alat sederhana, berbeda seperti jika di perbukitan, air yang deras meluncur, lapisan tanah yang tipis dan bertekstur kasar sampai berbatu, hanya tanaman tertentu yang mampu hidup di bebatuan.

Pola keruangan yang ditemukan menunjukkan masyarakat pada masa Airlangga memanfaatkan wilayah yang dengan linier sejajar aliran sungai Brantas di sisi tepinya. Hal ini ditunjukkan persebaran nama-nama yang ditunjukkan pada prasasti mendekati sungai Brantas.

Pustaka

Sandy, I Made, 1995:48, 50, 87,  Republik Indonesia Geografi Regional, Jurusan Geografi, FMIPA-UI.

Susanti, Ninie, 2003:102-146, Masa Pemerintahan Erlanga, Disertasi Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia

Taqyuddin, 2004., Pengelolaan Bangunan Air di DAS Ciliwung Masa Kolonial., Thesis Departemen Geografi FMIPA,UI Depok.

Weber 2015:76-77 in Weber’s Rationalism and Modern Society, Edited and Translated by Tony Waters and Dagmar Waters, New York: Palgrave Macmillan.

 

About taqy