PUNAHNYA TOPONIMI INDIKASI EROSI BAHASA DAN PUNAHNYA BANGSA

PUNAHNYA TOPONIMI INDIKASI EROSI BAHASA DAN PUNAHNYA BANGSA

Taqyuddin

taqygeo@gmail.com

Disampaikan pada : Seminar Nasional ToponimiToponimi dalam Perspektif Ilmu Budaya, FIB-UI 3 November 2016. Kerjasama: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya (PPKB) dengan Komunitas Toponimi  Indonesia (Kotisia)
whatsapp-image-2016-11-03-at-10-24-23 whatsapp-image-2016-11-03-at-11-13-50
Abstrak
“Geographical names”, , “nama unsur geografi”, “nama geografis” atau “nama rupabumi”, “unsur topografis” “place names” atau “nama tempat”  “toponym”, “toponimi”, adalah pengetahuan yang mengkaji riwayat atau asal-usul nama tempat, berbeda dengan antroponimi yaitu pengetahuan yang mengkaji riwayat atau asal-usul nama orang atau yang diorangkan. Toponimi merupakan gejala pemberian tanda atau identitas oleh manusia untuk bagian permukaan bumi atau “identitas tempat” atau place identity”. Toponimi merupakan bentuk hasil budaya manusia,  toponimi melekat dengan budaya pendukungnya. Toponimi menunjukkan pengetahuan dan pengalaman budaya pendukungnya dalam memberi nama bagian permukaan bumi sebagai tempat “place” tidak sekedar ruang fisik “space”, toponimi merupakan cerminan realitas internal manusia dalam pemberian nama tempat. Manusia dalam memberi identitas bagian permukaan bumi yang dikenali menurut pengalaman dan pengetahuannya, yang dikenali yaitu; 1.natural landscape features, 2. populated places and localities, 3. populated places and localities, 4. administrative area, 5.transportation route, 6. constructed features.Pola penamaan tempat oleh manusia sesuai dengan bahasa dan bangsanya yang memiliki karakter tersendiri yang dapat dikenali dan ditemukan perbedakannya dengan pola penamaan bagian permukaan bumi lainnya. Setiap bagian permukaan bumi ditangkap oleh manusia yang menemuinya diberi identitasnya susuai bahasa dan budayanya. Seiring berjalannya waktu (sejarah), tempat “place’ ada yang belum ditemukan/didefinisikan, belum ditetapkan, sudah ditetapkan dan dikenali hingga kini, ditetapkan dan diubah, ditetapkan dan ditambahkan, sudah ditetapkan dan di mekarkan dengan tambahan nama baru, baru dibuat dan ditetapkan serta didaftar dalam bentuk gezetter, bahkan diregistrasikan untuk mendapat pengakuan oleh bangsa-bangsa di dunia melalui PBB, dan ada yang dilupakan, dihilangkan bahkan ada yang indikasinya punah. Punahnya toponimi merupakan indikasi “erosi” bahasa dan pada akhirnya punahnya bahasa, erosi bahasa yang ‘akut” menunjukkan punahnya bangsa. Kemampuan dunia dalam merekam bahasa lisan dalam bentuk tertulis masih sangat terbatas meskipun sudah ribuan kamus tercetak. Di sisi lain lebih sangat terbatas dalam merekam bahasa yang menunjukkan toponimi, dan lebih sangat-sangat terbatas rekaman itu dalam bentuk peta (lokasional). Teknologi pemetaan sejak abad 21 berkembang begitu pesatnya memberikan kemudahan untuk merekam nama-nama tempat yang mendekati region pendukung bahasa atau pendukung budayanya yang ber- georeference. Tetapi terkendala dengan jarangnya cartographer yang juga ahli bahasa/budaya dan sebaliknya. Untuk itu sinergi multidisiplin dan lintas disiplin linguistik, semiologi/semiotik, antropologi, arkeologi, filologi, geografi, sejarah, teknologi pemetaan dll., merupakan kebutuhan bersama demi menghindarkan punahnya toponimi. Toponimi merupakan penanda warisan budaya.
Kata Kunci: Toponimi, tanda, identitas tempat, Punahnya Bahasa, Punahnya Bangsa

PUNAHNYA TOPONIMI INDIKASI EROSI BAHASA DAN PUNAHNYA BANGSA

Pengantar
Pentingnya suatu ruang muka bumi pada masa Mataram Kuno dalam prosesi penganugerahan kepada masyarakat yang berjasa atau pejabat yang berjasa kepada kerajaan, Oleh Raja penguasa, ruang muka bumi tersebut dirubah status tanahnya menjadi tanah perdikan (Dalam ritual pengukuhan Sima). Seperti pada prasasti Sangguran 850 Saka, Prasasi tersebut berhasil diterjemahkan oleh Hasan Ja’far yang isinya diantaranya dihadiri oleh Raja, lebih dari 80 pejabat dan masyarakat sekitar bahkan masyarakat kampung yang berbatasan untuk melaksanakan ritual, pesta dan hiburan serta pemasangan batu prasasti di lokasi tersebut sebagai tanda. Dalam ritual yang dipimpin oleh Makudur (pemimpin ritual) menyatakan bahwa, jika ada yang melanggar aturan yang sudah ditetapkan mendapatkan karma dari seluruh dewa-dewa yang ada. Isi dari karma tersebut yaitu:
“dibunuh, tidak bisa melihat ke samping, dibenturkan dari depan, sisi kiri, pangkas mulutnya, belah kepalanya, sobek perutnya, renggut ususnya, keluarkan jeroannya, keduk hatinya, makan dagingnya, minum darahnya, habiskanlah jiwanya, Jika berjalan di hutan dimakan harimau, dipatuk ular, diputar-putarkan,jika berjalan di tegalan disambar petir, disobek-sobek oleh raksasa, Lemparkan ke angkasa, cabik-cabik sampai hancur, jatuhkan di samudera luas, tenggelamkan di bendungan, tangkap oleh sang Kalamrtyu, cabik-cabik oleh tangiran, di sambar buaya, Pulangkan ke neraka, jatuhkan ke negaraka maha arorawa, di godog oleh pasukan Yama, dipukuli oleh sang Kingkara, di rusak sang Sajiwakala, menderita, jika dilahirkan kembali hilang pikirannya”. Demikian karma tersebut untuk tidak dilanggar.
Begitu sakralnya suatu tempat yang namanya Sanguran mendapat anugerah raja sebagai wilayah perdikan. Tetapi anehnya prasasti tersebut sekarang berada di Leiden Nederland. Dan kita sebagai pewaris bahkan tidak tahu desa sanguran itu tepatnya di mana? Selain nama tempat Sanguran yang mendapat anugerah itu, juga disebutkan desa-desa sekitar yaitu: watak Waharu, Mananjung, Pungutan, Sepet, Kisik, Tamblang, Wiger, Waharu, Pakaranan, samgat Gunungan, sirikan Hujunggaluh, wka Wiridih, Kanuruhan, Wawang, Madander, Tiruan, Hujung, Wasah, Kuci , Tugaran, Kajatan, Pacangkuan, Bungkalingan, Wunga-wunga,  Papanahan, Tampur, Bhumi Mataram. nama-nama tersebut juga saat ini sangat susah di lacak keberadaannya di Jawa Tengah.
Kejadian seperti ini jika 900 prasasti yang telah ditemukan sejak abad 19 hingga kini, ditelisik nama-nama tempat yang disebutkan maka berapa ratus nama suatu tempat yang sudah tidak dikenali lagi lokasionalnya. Hal ini berarti nama-nama yang sekarang ada di Jawa Tengah dan Jawa Timur merupakan nama-nama yang mungkin dapat berakar dari nama-nama tersebut di atas.
“Toponimi” dipahami oleh kalangan masyarakat dunia yang tergabung dalam Perserikatan-bangsa-bangsa sebagai warisan dunia. Toponimi adalah suatu yang  penting oleh masyarakat dunia melalui dibuatnya naskah-naskah resolusi PBB, terkait dengan Toponimi. Penamaan tempat yang tidak memiliki akar sejarah yang kuat akan merugikan budaya pendukungnya/bangsa. “Toponym” sebagai jembatan untuk menelusuri kembali masa lampau, menggali apa yang menjadi pengalaman dan pengetahuan suatu bangsa, memahami perkembangan yang telah membentuk suatu bangsa hingga kini. Pengetahuan dan pengalaman suatu bangsa dalam memberikan “Geographical names” tidak lepas dari karakter bahasa yang dimilikinya. Melalui bahasa nama-nama itu tercipta, sebagai teks yang merupakan representasi dari pendukung bahasa itu. “Nama unsur geografi”, “nama geografis” atau “nama rupabumi” bukan sekedar nama, namun dapat sebagai pengetahuan, riwayat asal usul nama tempat tersebut. (Ayatrohaedi, 1993, p. 10).
Toponimi merupakan gejala pemberian tanda atau identitas oleh manusia untuk bagian permukaan bumi atau “identitas tempat” atau “place identity”. Toponimi merupakan bentuk hasil budaya manusia, toponimi melekat dengan budaya pendukungnya, merupakan konstruksi sosial masyarakat ketika itu, lebih bersifat identitas esensial (identitas yang mengacu pada tradisi dan masa lampau). Toponimi menunjukkan pengetahuan dan pengalaman budaya pendukungnya dalam memberi nama bagian permukaan bumi sebagai tempat “place” tidak sekedar ruang fisik “space”, toponimi merupakan cerminan realitas internal manusia dalam pemberian nama tempat. Pengabaian pentingnya toponimi dikhawatirkan lambat laun akan hilang bersama-sama rasa memiliki dari host community (masyarakat lokal stempat) budaya pendukungnya tersebut. Dan jika tidak ada dokumentasi nilai-nilai budaya sebagai pengalaman dan pengetahuan, maka masyarakat baru yang menempati bagian muka bumi itu menjadi a-historis tentang toponiminya (punah).
Punahnya Toponimi
Perubahan sosial masyarakat menjadi sekarang, berkonsokuensi terjadi perubahan konstruksi masyarakatnya juga, maka nilai-nilai yang tertanam dalam penamaan tempat tidak mampu bertahan dalam masyarakat modern. Tempat dengan nama-nama yang memiliki nilai lebih kuat (dikenal oleh orang banyak dengan sejarah yang menyertainya) atau memiliki nilai jual akan lestari (tidak punah). Bagaimana tempat-tempat yang dianggap tidak memiliki nilai-nilai luhur yang menyertainya dan masyarakat pendukungnya tidak berdaya lagi maka terjadi “aliensi” terdesak oleh masyarakat baru yang lebih kuat.
Pada kasus studi toponimi maka tempat-tempat seperti ini mengalami perubahan nama sesuai dengan keinginan konstruksi masyarakat baru dengan motivasi lebih trendy, lebih menjual, lebih mencitrakan masyarakat modern, pertimbangan ekonomis praktis atau kondisi konsumsi tingkat tinggi masyarakat modern (Ritzer, Enchantment A Dischanted World), sebagai contoh; kampung kemiri muka di depok sudah samar-samar terdengar di masyarakat kota Depok, dan masyarakat kota Depok tidak tahu menahu bahwa nama Pesona Khayangan asal muasalnya masuk dalam bagian permukaan bumi yang direpresentasikan oleh masyarakat Depok Masa lalu sebagai kawasan Kemiri Muka. Hal seperti ini hampir setiap hari terjadi sangat dinamis di seluruh NKRI. Selain beberapa motivasi di atas, juga terjadi motivasi baik atas dasar pertimbangan obyektif, politik, hukum, birokrasi, arsitektural, bahasa  maupun subyektif norma, religi, nilai, tradisi/budaya dan bahkan mistis/metafisis. Hal-hal tersebut dapat dijadikan tema-tema reset dalam ranah toponimi. Masyarakat Jakarta mengenal Pondok Indah, Mengenal Kelapa Gading, Karawaci, Blok M, ….. indah, ….resident, … estate, …., Puri …., …. jaya, … baru, …. makmur, ….dua, ….empat, ….banyak, ….. utara/selatan/timur/barat, huta……   dll. Fenomena ini tidak terbendung dan tidak bisa dipungkiri. Apakah hal ini merupakan gejala pembentukan identitas interaksional (akibat interaksi sosial yang dinamis).
Ada empat pendekatan interaksional tentang identitas (de Fina et al. 2006: 2-5). Menyatakan bahwa identitas bukan sebagai produk, tetapi sebagai proses sosial.
  1. “konstruksionisme sosial” (identitas terbentuk saat terjadi interaksi).
  2. identitas merupakan sbg proses penetapan suatu kaum sebagai anggota golongan tertentu (“in-group” vs. “out-group”). Misal, pribumi- pendatang/migran.
  3. Identitas dilihat sebagai sesuatu yang “plural” (identitas ditentukan oleh konteks social)
  4. Pandangan “indeksikal” (ungkapan tempat, waktu, dll sebagai label identitas)

    mikromakro

Menurut Hood, 2014, bahasa tidak hidup sendirian tetapi hidup dengan bahasa lain, inilah yang dimaksud dengan ekologi bahasa. Lebih lanjut menuturkan bahwa bahasa membentuk ruang bagi penuturnya sebagai ruang demografis/geografis dan kognitif, bahasa dan ruang membentuk identitas penuturnya dan bahasa merupakan wahana bagi kebudayaan yang melatarinya dan mendukung identitas penuturnya. Bahasa tidak lagi memiliki fungsi komunikasi saat penuturnya habis (vernacular) mengalami “punah” (Crystal 2000). Bahasa masih bertahan dalam fungsi : referensi kultural dan religius [mitis]. Kebertahanan fungsi referensi kultural dan religius (mitis) dapat mempertahankan vitalitas kebudayaannya. Kebertahanan itu juga masih dapat mempertahankan identitasnya. Namun, fungsi vernakular memang merupakan faktor penting dalam memperkuat identitas, seperti kasus “kreol”. Kebertahanan bahasa dan kebudayaan tergantung pada: kebanggaan dan kesetiaan bahasa. Kebanggaan dan kesetiaan bahasa dipengaruhi oleh faktor luar bahasa (bahasa saingan, ekonomi, politik, emansipasi sosial….)
Berdasarkan temuan penelitian khususnya untuk kasus toponimi kelurahan di Kota Depok dapat diidentifikasi mulai: penggunaan jumlah kata (jungga/jamak), huruf Latin awal yang digunakan selain huruf (E,F,I,N,O,Q,U,V,W,X,Y,Z) asal bahasa lokal/demonym (Sunda, Jawa, dialek betawi, dialek Banten atau asing (arab, Belanda, Sanskerta/jawa kuno, Melayu dan ada yang tidak diketahui  (tunggal, gabungan), menggunakan nama generik saja, generik – spesifik, spesifik-spesifik, spesifik mengandung generik,  generik- generik-spesifik. Berdasarkan refleksi pengalaman dan pengetahuan masyarakat yang berorientasi natural dan cultural, untuk masyarakat depok tempo dulu lebih berorientasi pengetahuan natural yang digunakan dalam pemberian nama tempatnya, dan kecenderungannya generik hydronym selain orientasi natural flora. Hal ini menunjukkan melalui kajian toponimi satuan nama kelurahan yang ada di Kota Depok, dihasilkan bahwa masyarakat Kota Depok masa lalu sudah terjadi pluralitas bahasa atau terjadi identitas interaksional, berorientasi natural yang beradaptasi dengan perairan dan juga memiliki kemampuan deskripsi spesifik untuk 63 nama keluarahan yang ada. Pola keruangan dari nama-nama tempat tersebut dapat diinterpretasi bahwa awal permukiman di kota depok di bagian tengah kota dari timur ke barat kota yang nama spesifiknya lebih kental, adapun di bagian selatan dan utara kota kecenderungannya mengindikasikan penggunaan nama berorientasi  natural. (2015, Taqyuddin). Di kota Depok jika dilakukan penelitian untuk satuan yang lebih rinci dan detail, sudah banyak terjadi penambahan nama baru perubahan nama-nama tempat yang indikasinya dilakukan oleh para pengembang komplek-komplek perumahan. Hal ini lambat laun meng”erosi” nama-nama lama karena lebih menekankan orientasi trend pencitraan untuk memenuhi tuntutan pasar tanpa memperhatikan akar budaya yang ada. Hal ini menjadi permasalahan tersendiri di berbagai kota-kota di Indonesia, bagaimana regulasi dalam memberikan nama baru untuk suatu tempat yang dahulunya sudah ada namanya, seperti kasus-kasus urbanisasi wilayah atau pemekaran daerah, angka migrasi yang tinggi di kota-kota besar mengindikasikan keterdesakan pendukung bahasa lokal sehingga terjadi vernakular (habis penuturnya), kebanggaan dan kesetiaan terhadap bahasa lokal tidak mampu bertahan dan pada akhirnya vitalitas budayapun menjadi melebur hingga lambat laun punah. Praktek-praktek seperti ini jika tidak segera ada tata aturannya maka mempercepat punahnya toponimi asli (punahnya identitas essensial). Permasalahan gezetter untuk nama-nama yang ada saja merupakan pekerjaan yang besar, sehingga tata kelola penamaan tempat baru menjadi bukan prioritas.   
Punahnya Toponimi tidak hanya dikarenakan fenomena kultural atau konstruksi sosial yang dinamis; bahasa saingan, ekonomi, politik, , emansipasi social dan William F. Mackey 1973, 5-16, mengugkapkan indikator language power yaitu faktor: demografis (penutur), sebaran (di mana saja penutur), mobilitas (pergerakan penutur), idiologi (nasionalisme, kepentingan religi) dan  kultural (referensi kultural) yang sedang bekerja dan menunjukkan “tinggi dan rendah” nya identitas.
Di sisi lain punahnya toponimi juga dapat terjadi karena fenomena natural, misal; terjadinya aktifitas vulkanik banyak unsur-unsur geografi hanya tinggal nama (secara lokasional sulit diidentifikasi kembali),  terjadinya Tsunami, terjadinya naiknya permukaan air laut, gempa bumi, banjir bandang, longsor dll. Bahkan tidak hanya toponimi yang hilang terkubur, berpindah, bergabung dengan yang lain, tetapi budaya pendukungnyapun ikut punah dll. Dalam konteks ini toponimi masuk dalam ranah potensi sistem arkeologis yang menjadi penting untuk direkonstruksi.
Solusi bersama yang seperti apa untuk menghadapi fenomena ini. Sebenarnya sudah ada salah satu jawabannya yaitu Resolusi 715 A (XXVII) PBB 23 April 1959, berdiri Badan International The United Nations Group of Expert on Geographical Names (UNGEGN).  Badan ini fokus mengamanatkan: Pembakuan nama-nama geografis; penyelenggaraan konferensi internasional dan mensponsori kelompok kerja international berdasar sistem bahasa serta melayani konsultansi kelompok kerja. Untuk menuju implementasi resolusi pembakuan nama-nama geografis ini, Indonesia melalui kursus yang diselenggarakan Bakosurtanal (saat ini BIG), bersama pakar dunia Prof. Jacub Rais dan Prof I Made Sandy memberikan dasar tentang Toponimi, mengenali permasalahan dan mengatasinya, pengumpulan data di lapangan, eksonim, generik dan gezetter.
Kelompok kerja international berdasar sistem bahasa; 22 Divisi Linguistik/Geografis, yaitu: 1. Afrika Tengah; 2. Afrika Timur; 3. Afrika Selatan; 4.Afrika Barat; 5. Arab; 6. Asia Timur (selain Cina);7. Asia Tenggara dan Pasifik Barat Daya; 8. AsiaBarat Daya (selain Arab); 9. Baltik; 10. Celtik; 11. Cina; 12. Negara berbahasa Negara berbahasa Belanda dan Jerman (Dutch and German-Speaking); 13. Eropa Timur Tengah dan Tenggara; 14. Eropa Timur; 15. Selatan dan Asia Tengah; 16. Mediteran Timur (selain Arab); 17. Negara berbahasa Perancis (French Speaking); 17. India; 18. Amerika Latin; 19. Norden; 20. RomanoHellenic; 21. Kerajaan Inggris; 22. Amerika dan Kanada.
Sedangkan pengwilayahan Indptbhsonesia menurut bahasa (lihat Peta di bawah ini), (1989, Yusron Halim). Bahasa merupakan suatu alat yang dipakai untuk melakukan komunikasi. Terdapat 32 bahasa utama di dunia ini (Dicken dan Pitts, 1970). Menurut dicken dan Pitts, Indonesia termasuk ke dalam rumpun Bahasa Malayan Polynesian bersama dengan Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan sebagian Filipina.
Bahasa yang beranekaragam  ini dapat terjadi karena faktor geografis dari suatu daerah (Patriarca dan Heinsalu, 2008). Faktor-faktor ini tidak terkait dengan dinamika transmisi budaya, melainkan dengan distribusi populasi awal serta batas-batas geografis dan inhomogenitasnya, yang memodulasi proses difusi. Patriarca dan Heinsalu mengatakan bahwa faktor geografis yang menyebabkan terjadinya keanekaragaman bahasa, yaitu: hambatan fisik batas air dan pegunungan atau fitur geofisik seperti jenis tanah dan distribusi spasial sumberdaya alam. Sedangkan menurut Randy J. LaPolla, dalam jurnalnya yang berjudul Language Contact and Language Change in the History of the Sinitic Languages yang dikatakan bahwa ada tiga faktor utama yang terlibat dalam pembentukan rumpun bahasa, antara lain: asal genetik, pergerakan populasi, dan kontak antar bahasa lain (LaPolla, 2007).

isogloss

 

Geografi dialek merupakan bagian dari dialektologi. Dialektologi terbagi menjadi dua, yaitu geografi dialek dan sosiolinguistik (Lauder, 2007). Geografi dialek membahas variasi bahasa berdasarkan tempat atau letak spasial, sedangkan sosiolinguistik ini membahas variasi bahasa menurut strata sosial. Sementara menurut Jakob Rais (2005), dalam pemberian  nama suatu tempat terdapat ciri yang dapat dipedomani untuk pemberian nama-nama tempat baru. Berdasar penamaan geografi yang ada dapat dikenali bahwa susunan nama ditemukan ada dengan satu kata, dua kata, tiga kata, empat kata bahkan lebih. Dari susunan tersebut terdapat pola susunan kata yang bersifat generik (indikasi geografis Fisik) dan dilanjutkan dengan nama spesifiknya atau (proper name) sebagai penjelas; sifat, arah (mata angin) , angka,  dll., dari suatu tempat.
Peran-peran dalam pembakuan nama-nama Geografis
Tenaga Ahli dalam rumpun Ilmu bahasa sangat ditunggu perannya dalam pembakuan endonym (teks lokal) dan exonym (teks bahasa Inggris), melakukan penelitian, pedoman transliterasi maupun transkripsi nama geografi di Indonesia, membuat gezetter. Selain itu kelengkapan data yang penting juga diantaranya; penulisan, ejaan, ucapan, rekaman bunyi (fonetik) menurut pendukung bahasa masing-masing saat ini serta arti yang dikandung nama tempat tersebut.
Tenaga Ahli Sejarah berperan mengidentifikasi, meninventarisasi, mendokumentasikan dan pengelolaan sejarah/riwayat endonym dan exonym (sumber naskah, dokumen kuno, peta kuno, dan perkembangannya hingga kini serta sumber sejarah lainnya).
Tenaga Ahli dalam rumpun Ilmu pengetahuan alam; Geografi fisik/human, berperan fokus dalam akurasi lokasional baik lokasi absolut (koordinat astronomis) maupun lokasi relatif (kedekatan nama-nama tempat di sekitarnya yang diasumsikan lebih dikenali). Selain fokus menghasilkan kajian-kajian regional formal maupun fungsional/nodal region dari berbagai tema toponimi (dengan pendekatan keruangan/spatial), serta memperhatikan masukan dari berbagai bidang Ilmu Kebumian; Klimatologi, hidrologi, geomorfologi, pedologi, biogeografi, geologi dll.
Jenis-jenis unsur geografis yang akan dibuat gezetternya:
  1. Natural/alami daratan (generik): gunung, bukit, karst, plateau, dataran, lembah, punggungan/igir, gua, pantai, pulau, beting, gosong, tombolo, tanjung, muara, wilayah iklim, wilayah, rawan bencana, wilayah kepadatan penduduk dll.
  2. alami vegetasi: jenis/tipe hutan, kawasan konservasi, hutan lindung cagar alam,
  3. alami perairan (hydronym): danau, sungai, sungai bawah tanah, air terjun, rawa, selat, laut, atol, teluk dll.
  4. geografis semi cultural ; perkebunan, penggunaan tanah, Bendungan/dam, permukiman dll.
  5. Cultural politis administratif (civil/political subdivisions of a country): dukuh, kampung, desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten, karisidenan, provinsi.
  6. Cultural buatan lain: jalan (transportation route), kanal/sodetan/setu, Bandara, monumen, mercusuar dll.
  7. Cultural ; wilayah bahasa, wilayah sub bahasa, wilayah etnis, wilayah sub etnis, situs, kawasan cagar budaya dll.
Tenaga Ahli Teknologi Kartografi, berperan dalam seleksi penulisan baku berdasarkan skala peta (semakin besar skala semakin lengkap toponiminya), penempatan tulisan pada peta sebagai informasi identitas tempat (tidak teganggu dengan informasi isi peta yang lain; baik yang disymbolkan melalui titik, garis maupun area), memenuhi prinsip berbahasa dengan peta secara effektif, Hirarkhi ukuran/size huruf dalam peta, (dalam kondisi tertentu boleh melakukan exagerasi atau mengabaikan skala demi memunculkan kepentingan informasi nama temapat tersebut). Memenuhi kaidah dan hakekat kartografi yang diakui secara nasional/Internasional. Mengembangkan dokumen SNI terkait toponimi.
Tenaga Ahli Teknologi Informasi, mengembangkan sistem inventarisasi berbasis community, mengembangkan sistem inventarisasi resmi mendukung lembaga yang berwenang, mengembangkan sistem otomasi pendataan/perekaman nama geografis untuk menghasilkan sampai level geseter/gezetter (berkolaborasi dengan berbagai ahli toponimi dari berbagai disiplin), mengembangkan aplikasi yang mendukung pembakuan toponimi pada hardware yang terkoneksi dengan jaringan internet base (misal aplikasi Hand phone), dengan didasari standarisasi gezetter yang diamanatkan oleh kebutuhan pembakuan nasional/internasional. Membangun Gazetter berbasis web yang dapat menjadi rujukan baku dari berbagai pelaku pembangunan, akdemisi, pengusaha dan pelaku media sosial di web (seperti KBBI on line).
Sinergi (gotong royong proporsional)
Mengingat besar dan banyak dan luasnya Indonesia maka diperlukan sinergi partisipatif dari seluruh lapisan masyarakat maupun komunitas dan tentunya dengan strategis prioritas (sesuai kepentingan). Sinergi pelaksanaanya secara gotong royong meliputi dukungan masyarakat (fungsi kontrol; informan, narasumber lokal) – rekomendasi akademisi (fungsi tridarma PT; pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat) – dukungan pengusaha (fungsi: produksi, distribusi, komersialisasi) – pemerintah (fungsi: regulasi birokrasi, budgeting)  – landasan hukum daerah/ nasional/ internasional  (perda – pergub – permen – perpres – inpres – UU – Tap MPR – UUD – Resolusi PBB).
DAFTAR PUSTAKA
Alwi, Hasan. 1995. Senarai Kata Serapan dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Depdikbud.
Dicken, Samuel. Pitts, Forrest. 1970. Introduction to Cultural Geography.  United States of America: Ginn and Company.
Halim, Yusron, 1989.,(hal: 18) Memantau Toponimi dan Permasallahannya di Indonesia, Majalah Geografi Indonesia, Th. 2, no. 3.
LaPolla, Randy J. 2007. Language Contact and Language Change in the History of the Sinitic Languages. Beijing: La Trobe University
Lauder, Multamia. 1990. Pemetaan dan Distribusi Bahasa-Bahasa di Tangerang. Depok: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.
Kadmon, N. 2000. Toponymy: The Lore, Laws and Language of Geographical Names. Vantage Press. New York.
Kasim, Yuslina. Dkk. 1987. Pemetaan Bahasa Daerah di Sumatra Barat dan Bengkulu. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Kebudayaan.
Peraturan Daerah Kota Depok, Nomor 08 Tahun 2007 tentang Urusan Pemerintahan Wajib dan Pilihan yang Menjadi Kewenangan Pemerintah Kota Depok.
Rais, Jakob,2005., Pedoman Penulisan Nama Unsur Geografi di Indonesia. Makalah Semiloka ITB. Bandung
Rais, Jacub. 2006. Arti Penting Penamaan Unsur Geografi Definisi, Kriteria dan Peranan PBB dalam Toponimi (Kasus Nama-Nama Pulau di Indonesia). ITB. Bandung.
Rais, Jacub, et al. (2008). Toponimi: Sejarah Budaya yang Panjang dari Pemukiman Manusia dan Tertib Administrasi. Jakarta: Pradnya Paramita.
Sugandi, Yulia., 2000., (hal: 45 – 49), Prolegomena sosiologis, Identifikasi Kultural Dalam Situs, PIAMI VII, Yogjakarta.
Taqyuddin, 2015., Sudut Pandang Keruangan Panamaan Kelurahan di Kota Depok (Kajian Toponimi/KTN), Departemen Arkeologi FIB, Universitas Indonesia
Tichelaar, T.R. (Ed.).1990. Proceedings of the Workshop on Toponymy, held in Cipanas, Indonesia. Bakosurtanal UNGEGN Workshop
Timadar, Rian.2008.  Persebaran Data Arkeologi di Depok Abad 17—19 M. Sebagai Kajian Awal Rekontruksi Sejarah Permukiman Depok. Sekripsi Arkeologi: FIB-UI.
Trohaedi, Aya. 2003. Pedoman Penelitian Dialektologi. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.
Sumber internet:
Taqyuddin, 2008., Onomastika (Toponymi Indonesia)., Departemen Geografi Fmipa UI.

Depok News, 2011., Sejarah Kota Depok, Diakses dari http://depoknews.com/sejarah-kota-depok/ .30/Okt 2016.

 

 

About taqy