Pengakuan nyata seorang amnesia, tak sadar membuka praktek kolonialisme pendidikan

Pengakuan nyata seorang amnesia, tak sadar membuka praktek kolonialisme melalui bidang pendidikan Ada yang senang dan tidak senang tanah air ini menjadi tujuan eksodus intelektual kelas dunia keturunan Indonesia dari berbagai belahan dunia […]

Pengakuan nyata seorang amnesia, tak sadar membuka praktek kolonialisme melalui bidang pendidikan

Ada yang senang dan tidak senang tanah air ini menjadi tujuan eksodus intelektual kelas dunia keturunan Indonesia dari berbagai belahan dunia (khususnya USA dan menyusul dari berbagai negara di Eropa. Mereka rindu kampung meskipun sudah menjadi warga negara sono. Memang ada pepatah sejauh-jauh gembala merumput kembali ke kandang jua. Bukan tidak boleh atau tidak benar kita menerima mereka pulang kampung.

Mereka juga anak emak, anak mamak, anak indung, anak inang yang sudah bosan makan keju, makan daging berminyak ham. Mungkin mereka mau bertiwul ria, mungkin mereka mau berendang ria, mungkin mereka ingat sambal trasi campur pete, mungkin mereka ingat semur jengkol, mungkin mereka ingat bergudek ria, mungkin mereka ingat berpepes ria dengan lalapan, juga ingin rasa tempoyak. Silahkan nak nikmati agar darahmu kembali menjadi darah Indonesia.

Tidak hanya itu, mereka juga ingat berdesak-desakan di metromini, dusel-mendusel di kereta listrik Jabotabek. Silahkan nak kembali berdesak agar keringatmu bercampur dengan keringat saudaramu sebangsa, bukan seperti minyak dan air. Dan ada yang merindukan dapat merokok dan ngopi dimanapun yang mereka inginkan di negeri yang sangat toleran. dengan kopi kering hasil jemuran dari negeri yang kaya akan sinar mentari.

Bagaimana menyikapi hal ini?

Hal ini bisa jadi memakan perhatian, mereka pulang kampung dengan motivasi beragam. mereka pulang ingin ketemu canda teman sekampung, ingin tengok mamak yang menua, ingin benahin negeri yang hilang arah, ingin kembalikan kejayaan ibu pertiwi, ingin menerapkan gaya dimana mereka dididik ke negerinya, ada yang karena diminta pulang untuk membantu dapat utang luar negeri, ada yang bosan mendengar negerinya dilecehkan, ada yang mencari kaya dinegerinya yang awam, ada yang pulang karena anaknya yang lahir di luar kenal negeri kandang bapaknya, ada yang dipaksa pulang, ada yang ingin pulang tapi tidak bisa pulang berkiprah di luar atas nama bangsa, ada yang sekedar tamasya, ada yang hanya menuruti kehendak yang berkuasa di negeri asalnya, ada yang diam-diam pulang dan menangis meratapi bangsanya dan betapa hedonnya mereka di sana, ada yang benar-benar membantu negeri ini tanpa pamrih, ada yang benar-benar kembali utuh dengan darah dan keringat Indonesia meski sudah lama di sana dan banyak lagi motivasi mereka.

Agar tahu saja negerimu ini penduduknya 250 juta jiwa, terdiri dari berbagai bangsa-bangsa kecil yang mampu bertahan hidup bersama selama ini meski kadang terseok, negerimu negeri yang panas tidak bersalju, negerimu membentang bertebaran ribuan pulau yang tersambung oleh air laut, segala bentuk bahan pangan ada, segala bentuk bahan logam ada, segala bentuk permata ada, negeri ini berbahasa lebih dari 700 bahasa lokal, dan merupakan lab yang sangat besar untuk Ilmu pengetahuan, atau lab yang sangat representatif untuk menguji sekian banyak teori politik yang ada, teori sosial yang seperti  pernah ada sudahkah di uji di lab besar ini? , negeri ini tidak didiami manusia berambut hitam keriting saja, tapi ada coklat lurus, ikal melilit kecilpun ada, bahkan berambut gimbalpun ada, bisa sebagai lab terbesar uji produk samphoo, obat kutu dll. Nak negeri ini didiami manusia berkulit terang hingga paling keling di dunia, yang berlotion keringat hingga tidak pecah dan tidak bintik-bintik. Negeri ini teruji dengan berbagai teori dagang yang ada dan yang bertahan itulah yang tepat (berhikmah).

Sudahkah teori-teori dari guru-gurumu sudah teruji di negeri ini? sudahkah metode dan teori yang kamu dapat dari gurumu di sana teruji oleh jutaan mahasiswa dan rausan perguruan tinggi yang ada di sini?? Ratusan perguruan tinggi berbagai bidang ilmu juga ada di sini dan tidak kurang yang bergelar profesor hasil didikan lab besar ini.

Ada yang ngedumel “kemarin-kemarin ke mana aja?” ada yang ngedumel lagi “emangnya profesor yang ada di dalam negeri kurang kompeten?” pelecehan untuk PT yang ada di dalam negeri dengan segudang profesor yang sangat fasih manis, asin, asam, paitnya darah dan keringat Indonesia dan mampu menerapkan teori-teori yang berakar dari permasalahan Indonesia.

Nak tak perlu di suruh pulang, nak tak perlu dipaksa pulang, nak negerimu sudah berabat mengalami pasang surut, nak orang sepertimu bukan tidak ada, tapi sudahkan kamu menguji diri di lab besar ini?.

Atau ada tikus di dalam lumbung? biar ng ketahuan belangnya kalau pakai profesor “Asing” karena mereka tidak melakukan penelitian secara seksama dengan latar Indonesia, data Indonesia, sample Indonesia, teori Indonesia sebagai lab besar ini (sudut pandang Indonesia). Intinya permasalahan Indonesia apa kurang komplek dengan populasi 250 juta jiwa? dibandingkan permasalahan negara-negara yang populasinya tidak lebih 100 juta jiwa?

Nak tak perlu di suruh pulang, nak tak perlu dipaksa pulang, nak negerimu sudah berabad mengalami pasang surut, nak orang sepertimu bukan tidak ada, tapi sudahkan kamu menguji diri di lab besar ini? Jika berhasil untuk negerimu dan bawalah ke dunia luar, bawalah keluar biar mereka belajar dari hasil pemikiran darah dan keringat Indonesia.

ANEH ng ujug-ujug pulang menjadi pejabat publik? kalau proporsional mungkin dapat dipertimbangkan, misal Ahli spesifik yang di Indonesia sedikit ditemukan. Itupun perlu dipertemukan dengan komunitas profesor berdarah dan berkeringat Indonesia, semoga cepet menyesuaikan.

Ada yang sangat mengkhawatirkan bagi negeri ini dengan kejadian ini “bagaimana Indonesia memiliki wibawa di depan mereka jika ahli-ahlinya hasil didikan mereka” “neraca keilmuannya sudah di tera mereka” .

Dan masih banyak lagi yang perlu dipertimbangkan misalnya, bagaimana memilih komedian handal, kalau yang milih ternyata tukang kayu? terus komedian dengan latar motivasi beragam peranakan pulang seenaknya membuat tawa? sejarah sudah memberi pelajaran kepada kita semua “Aceh tumbang karena Belanda pakai teori penumbangan dan metode aceh, bukan teori dan metode Belanda” analoginya Indonesia mau maju lebih baik teruji dengan teori dan metode Indonesia, gampangnya jadi negara PeDe gitulah (bener-bener merdeka). Ini yang namanya implementasi revolusi mental yang bener, implementasi teori kolonialisme selamanya menguntungkan kolonial, ya ng?

Jadi enaknya bagaimana nih urusan pulkam orang-orang pinter di sono yang belum faham Indonesia? Forum rektor bangun dong………KALAU SASKIA GOTIK BARU TAHU PANCASILA dipertontonkan, coba prof-prof yang mau pulkam itu faham makna Indonesia raya, pancasila ng? hehehhehe kasihan mereka bisa mengalami “gegen die wand” dan akhirnya balik ke gurunya malu, dikampung ng tahu karena kompleks permasalahan lab besar ini.

Apakah orang yang mengaku berdarah Indonesia, berkeringat Indonesia mengalami amnesia kolonialisme? kolonialisme indeks sudah,  kolonialisme dagang sudah, kolonialisme hukum sudah, kolonialisme gaya sudah, kolonialisme kuliner sudah, kolonialisme prilaku sudah, Apalagi kolonialisme bidang pendidikan? AMNESIA AKUT.

Tolong diobatin lewat forum rektor. Amiin

About taqy