Situs Batu Naga terdapat di puncak Gunung ‘Tilu’, tapi mengapa hanya 2 menhir yang berdiri di situs Batu Naga?

1. Puncak Gunung ‘Tilu’ dengan ‘Tilu’ Menhir, terungkap.   Gb.1 Istirahat di sekitar 2 menhir situs Batu Naga (dok. MARI) Dua Menhir yang sampai saat ini berdiri semacam pintu gerbang […]

1. Puncak Gunung ‘Tilu’ dengan ‘Tilu’ Menhir, terungkap.

gb.1

 

Gb.1 Istirahat di sekitar 2 menhir situs Batu Naga (dok. MARI)

Dua Menhir yang sampai saat ini berdiri semacam pintu gerbang setinggi 1,6 meter di atas permukaan tanah di sekitarnya. Beberapa kali kunjungan situs yang dilakukan peneiliti belum menyadari bahwa ada menhir lain di sekitar 2 menhir bergambar naga yang berdiri. Perhatian saat itu terfokus pada 2 menhir yang berdiri dan batu-batu lain yang berserakan di sekitar lebih dari 2 ha permukaan puncak Gunung Tilu. Pada akhir kunjungan pada bulan Januari 2015, peneliti setelah lahan di sekitar situs batu Naga dibersihkan, baru disadari bahwa ada batu-batu yang rebah di jarak kurang 2 meter dari 2 menhir yang berdiri tersebut. Setelah diamat-amati dan diperhatikan pada batu-batu yang rubuh tersebut, ada 2 batu besar yang tergeletak di utara 2 menhir yang berdiri jika disambungkan tingginya menjadi kurang lebih 1,6 m juga.  Pada Gambar 1.  Terlihat batu yang di belakang peneliti yang berbaju merah dan batu yang tergeletak di sisi barat (di belakang orang yang berkaos putih berdiri), yang ditunjuk panah kuning.

gb.2

 

Gb.2 Batu yang tergeletak di sisi Utara dari 2 menhir yang masih berdiri (dok. Taqy)

Kedua batu pada gambar 2. di atas diduga awalnya menyatu dan diduga juga merupakan salah satu menhir (yaitu menhir ke tiga). Dan menhir tersebut berdiri di bagian utara / barat laut (membentuk segitiga dengan 2 menhir yang sekarang berdiri).

 

gb.3

 

Gb. 3 Proses memeriksa dan membersihkan menhir ke tiga bersama masyarakat (dok. Taqy)

Rasa keingintahuan dan ingin membuktikan, maka dua batu tersebut didirikan satu persatu dan dibersihkan tanpa merusak (hanya dengan membasuh dan membersihkan tanah yang menempel pada batu tersebut).

gb.4

 

Gb.4 Dua batu menhir ke tiga (dalam bahasa sunda ‘tilu’) didirikan (dok.Taqy)

Dua Menhir yang sampai sekarang berdiri berjajar Timur – Barat (nomor 1 dan 2) dan Menhir ke tiga (no 3) berdiri di sudut ketiga di utaranya (terlihat pada gambar 4. Yang diberi tanda panah merah sebagai bagian bawah, yang diberi tanda biru disambungkan ke atas batu yang bertanda merah).

gb.5

 

Gb. 5 Batu bagian atas setelah dibersihkan dan didokumentasikan (dok.MARI)

Batu menhir ketiga setelah bagian-bagiannya dibersihkan dan didirikan dilakukan pendokumentasian dengan kamera dijital. Dan dilakukan pengamatan secara mendetail. Sayangnya belum ditemukan gambar yang jelas, hanya nampak terlihat goresan seperti anak panah yang memanjang dari arah atas dengan mata panah ke bawah dengan samar-samar. Harapan bahwa batu tersebut ada relief naga tidak ditemukan.

gb.6

 

Gb.6 Gambar simulasi 3 batu menhir di situs Gunung Tilu (dok.Taqy)

Dugaan atau pra rekonstruksi yang dicoba menggambarkan bahwa batu rebah tersebut adalah salah satu menhir yang melengkapi 2 menhir yang saat ini masih kokoh berdiri. Jadi dugaan tersebut merupakan 3 menhir yang berdiri, membentuk segitiga sama sisi (tanda T (Timur) – B (Barat) – U (Utara)). Mesteri Gunung Tilu terungkap, mengapa bukan gunung opat, lima, genep, mengapa ‘tilu’?

Ada apa dengan ‘tilu’? kata ‘tilu’ adalah bahasa Sunda yang berarti ‘tiga’ (3). Hal ini yang mendasari toponimi yang ditemukan di peta RBI (BIG/Bakosurtanal, 1995), gunung tersebut ditulis dengan toponimi gunung Pojok ‘Tiga’. Tetapi ada apa dengan ‘tilu’ atau tiga tersebut? Pada kondisi saat ini yang terkait dengan mesteri tiga, diantaranya: bahwa puncak ini ada triangulasi yang merupakan titik temu dari tiga batas administrasi yaitu antara : Kabupaten Kuningan-Kabupaten Brebes dan Kabupaten Cilacap. Tetapi penjelasan tentang tiga administrasi tentunya tidak relevan dengan mas prasejarah akhir yang jauh lebih kuno.

gb.7

 

Gb.8 Triangulasi batas administrasi dan bacaan altimeter di lokasi (dok.MARI)

 

2. Situs Megalitik Menhir Batu Naga Merupakan “Tanda”

Ada penjelasan satu lagi yang agak kuno bahwa gunung ini sebagai titik temu batas-batas pendukung budaya yang selanjutnya menjadi kerajaan Kuningan/Cirebon (di barat) – batas pendukung budaya yang pada akhirnya di sebut Galuh (selatan) dan wilayah pendukung budaya masa lalu yang pada akhirnya menjadi kekuasaan Mataram (timur). (hal ini perlu dlakukan lagi penelitian mendalam).

Apalagi yang dapat untuk menjelaskan tentang misteri ‘tilu’ ini? Pengamatan di laboratorium kartografi geografi UI untuk membuka wawasan yang lebih luas di sekitar puncak gunung tilu, dilakukan pengamatan melalui wikimapia.org dan google map dan peta RBI serta peta topografi. Pendek kata ditemukan bahwa menhir di timur merupakan petunjuk arah ke Gunung Selamet yang ada di Jawa Tengah sekarang, menhir yang di Barat merupakan petunjuk arah yang mengarah ke Gunung-gunung di barat, diantaranya; Papandayan, Cikuray,  Wayang, Galunggung, Syawal dll, di Baratlaut Garut Jawa barat sekarang). Sedangkan menhir yang di utara menunjukkan apa, tidak lain tidak bukan adalah arah yang menuju pandangan ke puncak gunung Ceremai di kabupaten Kuningan Jawa Barat sekarang. Penjelasan ini berdasarkan fenomena permukaan bumi ‘topography’ saja. Memang jika kalau kita berdiri di tengah-tengah segitiga menhir situs batu Naga, maka jika kita menghadap ke timur akan nampak puncak gunung Selamet jika kondisi langit cerah, begitu juga menghadap ke Utara akan nampak puncak gunung Ceremai dan jika menghadap ke Barat-Baratdaya lurus yang menghalangi pandangan hanyalah Gunung Wayang dll, dalam kondisi langit cerah. Hubungan apa dengan gunung-gunung tersebut?

gb.8

 

Gb.9 Lokasi Gunung Tilu dan Gunung-gunung di sekitarnya

gb.9 10

Selanjutnya masih banyak pertanyaan, mengapa gunung 1. Selamet, 2. Ceremai dan 3. Wayang dan gunung-gunung lain di sekitarnya? Siapa yang membangun 3 menhir tersebut? Dan apa fungsi 3 menhir tersebut?.

Dengan memperhatikan gunung-gunung yang ada di sekitar Gunung Tilu, yang nampak jelas tanpa penghalang yaitu 1. Gunung Selamet (tanda menhir di Timur yang tidak bergambar), 2. Gunung Ceremai (tanda menhir di Utara yang rubuh dan patah) dan 3. Gunung-gunung di Barat yaitu; Tampomas, Lingga, Malabar, Wayang, Guntur, Malabar, Syawal, Galunggung, Papandayan dan Cikurai, (tanda menhir yang penuh gambar; gunung, hutan, manusia, binatang, burung, wayang, bokor, gobang dll).

gb.11 sd 15

Selanjutnya masih banyak pertanyaan, mengapa gunung 1. Selamet, 2. Ceremai dan 3. Wayang dan gunung-gunung lain di sekitarnya? Siapa yang membangun 3 menhir tersebut? Dan apa fungsi 3 menhir tersebut?.

Dengan memperhatikan gunung-gunung yang ada di sekitar Gunung Tilu, yang nampak jelas tanpa penghalang yaitu 1. Gunung Selamet (tanda menhir di Timur yang tidak bergambar), 2. Gunung Ceremai (tanda menhir di Utara yang rubuh dan patah) dan 3. Gunung-gunung di Barat yaitu; Tampomas, Lingga, Malabar, Wayang, Guntur, Malabar, Syawal, Galunggung, Papandayan dan Cikurai, (tanda menhir yang penuh gambar; gunung, hutan, manusia, binatang, burung, wayang, bokor, gobang dll).

gb.16 sd 20

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

gb.21

 

 

Gb.21 Gambar yang nampak pada sisi-sisi batu menhir di Barat (dok. MARI, 2014)

Kalau mengambil analogi dari keberadaan bringin kurung wetan dan bringin kurung kulon di alun-alum keraton Ngayogjokarto (pohon beringin ‘Ficus benjamina’ Timur (berdaun hijau) dan beringin Barat (berdaun parigata/hijau ada putihnya) di alun-alun keraton Yogyakarta. Keberadaannya bisa di lacak hingga tahun 1775 M (awal keraton di bangun)

gb.22

 

Gb.22 Beringin kurung Timur dan beringin kurung Barat di alun-alun Selatan Yogjakarta 1920

Beringin ini bukan hanya sekedar beringin yang di tanam di tengah alun-alun yang berada di Utara Keraton. Tetapi beringin yang dijadikan tanda ‘sign’. Pilihan jenis pohon Beringin yang dalam bahasa Jawanya Bring – in yang jika diartikan dalam bahasa Indonesia berarti Awas dan Waspada. Dan mengapa ditanam berjajar di Timur dan Barat. Pertanyaannya awas dan waspada kepada siapa yang datang dari barat dan Timur? Dan Mengapa di alun-alun yang luas, hampir semua orang yang lewat dan sesuai dengan fungsi alun-alun sebagai tempat perkumpul rakyat. Pesan apa yang ingin disampaikan oleh Raja Mataram kepada rakyatnya melalui tanda tersebut?. Memperhatikan letak dan posisi geografis kerajaan Mataram berada di Jawa Tengah, dan kerajaaan-kerajaan besar yang ada di Timur yaitu Majaagung (Majapahit) dan yang ada di Barat adalah kerajaan Pajajaran dan Sriwijaya atau kerajaan China (tanda berdaun hijau ada putihnya). Silahkan pembaca menggunakan sudut pandang politik teritorial, untuk membaca tanda beringin tersebut. Mengapa tidak ada beringin (awas dan waspada) dari utara dan selatan?

Dengan menggunakan analogi beringin tersebut, kembali kepada situs Batu Naga di Puncak Gunung Tilu dengan Tiga Menhir (1 menhir berdiri tidak bergambar, 1 bergambar Naga dan 1 Menhir tidak bergambar yang rubuh dan patah menjadi dua), maka dapat diambil maksud yang sama bahwa ada perhatian dari Timur (tidak bergambar) dan ada perhatian dari Barat (bergambar Naga dll) dan yang dari utara tidak bergambar? sudah dirubuhkan dan dipatahkan. Tetapi siapa yang dimaksud dari Timur? Siapa yang dimaksud Naga dari Barat? Dan siapa yang dirubuhkan dan dipatahkan?, jika pesan ini menggunakan analogi beringin Mataram, maka dari Timur tidak lain tidak bukan ya kerajaan Mataram sedangkan dari Barat kerjaan Pajajaran/Sriwijaya bahkan china (ada gambar naga), dan yang dari Utara kerajaan mungkin Cirebon?  Apa yang menjadi pertanyaan, siapa yang membangun tanda 3 menhir tersebut? Bisa diduga karena di bagian selatan tidak ada menhir (kerajaan wilayah selatannyalah yang membangunnya yaitu kalau tidak meleset kerajaan Galuh). (untuk mendapat kebenarannya merupakan peluang  penelitian multidisiplin). Dapat diringkas masyarakat Mataram menggunakan simbol bringin (berdaun hijau dan parigata) dan masyarakat Galuh menggunakan menhir (tidak bergambar dan bergambar Naga).

Tetapi saat ini, kondisi seperti itu sudah tidak perlu lagi, keadaaan sudah menjadi kesatuan republik Indonesia, maka perlu dilakukan reinventing, reframing, rethinking untuk memberi pemaknaan baru keberadaan situs Batu Naga tersebut.

3. Peta Purba Wilayah Gunung Tilu dan Sekitarnya

Kalau mencoba dengan penjelasan netral, bahwa keberadaan menhir-menhir yang ada di puncak gunung Tilu dapat dikatakan sebagai gambaran miniatur dari wilayah yang dapat dilihat dari puncak gunung tilu tersebut. Rekonstruksi melalui gambar yang ada pada bidang menhir dapat diterangkan sebagai berikut, bahwa wilayah yang dapat diamati dari gunung Tilu sejauh mata memandang divisualisasikan melalui 3 menhir tersebut. Layaknya bahwa menhir 1 di timur tidak/belum tergambarkan sebagai bidang visual fenomena alam yang ada di timur sampai gunung Selamet sebagai wakil fenomena yang dapat di lihat di Timur. Adapun menhir ke 2 di Barat, dijadikan bidang visual kondisi yang ada di barat sejauh mata memandang dan sudah tergambarkan. Untuk menhir ke 3 yang rubuh dan patah di Utara, juga belum/tidak dijadikan bidang visual kondisi yang dapat dilihat di Utara sampai gunung Ceremai sebagai wakil dari fenomena di utara.

gb.23

 

Gb.23 Wilayah mental map pendukung budaya megalitik Situs Batu Naga

Jika hal ini benar, maka pemahaman akan ruang permukaan bumi sekitarnya, pendukung budaya megalitik situs batu naga jangkauannya seluas itu. (lihat gambar.8 di atas). Atau dapat dikatakan visualisasi lingkungan melalui peta purba pada sisi batu menhir (yaitu gambaran permukaan bumi sekitar puncak gunung Tilu yang divisualisasikan pada bidang datar yaitu bidang-bidang sisi batu menhir dengan simbol-simbol alami, dan simbol-simbol benda buatan  serta juga ditemukan simbol geometris). Keterangan yang dapat digunakan sebagai penjelas simbol-simbol peta purba tersebut diantaranya: manusia disimbolkan seperti manusia dengan ciri pakaian dan senjata serta bentuk hidung yang lancip, Ular besar disimbolkan seperti ular yang berdiri dengan mulutnya menyemburkan (bunga?),  begitu juga burung, tanaman, gunung disimbolkan mendekati wujud aslinya, sedangkan alat-alat seperti bokor, golok, kayu pikul, rumah digambarkan mendekati bentuk aslinya. Temuan simbol geometris seperti bintang, garis-garis, kotak-kotak, untai bunga belum diketahui apa yang disimbolkannya. Dengan demikian bahwa pemahaman tentang mental map pendukung budaya megalit menhir batu Naga di puncak gunung Tilu sudah dipetakan pada bidang sisi-sisi menhir di Barat. Menhir di Barat merupakan peta Purba yang mewakili gambaran lingkungan di barat situs.

4. Temuan Punden

Peninggalan di sekitar situs menhir batu Naga sekarang masih tertutup semak dan pepohonan, meskipun di beberapa tempat tersingkap jika dibersihkan akan nampak struktur bangunan yang dapat dengan jelas kenali.

gb.24

 

Gb. 24 Struktur tangga. (dok. Taqy)

Struktur tangga masuk dengan dinding batu bersusun keliling persegi (+ 6 m x 10 m) dan bagian atasnya datar (lantai), Tangga masuk dengan 2 batu tegak (batu yang satu rubuh/dilingkari garis merah). Garis Kuning menunjukkan jika batu rubuh tersebut ditegakkan maka seperti tangga pintu masuk ke lantai yang di atasnya. Di bagian tengah lantai ada formasi persegi yang lebih tinggi (kurang dari 10 cm).

gb.25

 

Gb.25 Struktur susunan batu berbentuk persegi dengan tinggi 1 meter dan ada pintu (dok.taqy)

 

gb.26

 

GB. 26 Bagian dalam berlantai dari batu (dok.taqy)

Gambar-gambar di atas menunjukkan bangunan semacam punden, tetapi belum tersingkap seluruhnya dan belum dilakukan penelitian yang lebih mendalam, apakah benar-benar punden atau bangunan lain. Belum terjelaskan bentuk keseluruhan bangunan tersebut dan berapa banyak struktur yang ada, serta belum diketahui fungsinya. Temuan awal ini merupakan peluang lain untuk melakukan penelitian di situs batu Naga.

Demikian informasi dan hasil penelaahan sampai saat ini tentang situs batu Naga di puncak gunung Tilu, di selatan dusun Banjaran, desa Jabranti, kecamatan Karangkencana kabupaten Kuningan. Hal di atas belum sepenuhnya teruji, mohon koreksi dan pemutahiran informasi bagi peneliti-peneliti yang kan datang. Demi perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya arkeologis, sejarah maupun kartografis-geografis atau ilmu-ilmu pengetahuan lain.(tq,2015)

———–

MARI = Masyarakat Arkeologi Indonesia

About taqy