Expedisi MND Ir. Soekarno (1937-1938 )

Expedisi Mustika Naga Derajad,  Ir. Soekarno (1937-1938)

(Sebuah Kajian Toponimi)

Mencoba membaca alam pikir Bung Karno sang Proklamator RI, melalui nama-nama kota-kota dan nama-nama tempat pilihan yang dijadikan “simbol persembunyian alam pikir” dalam mencapai cita-cita sebagai orang yang besar. Dan karena tersembunyi dalam simbol-simbol yang beliau pakai (termasuk nama tempat pilihan), banyak masyarakat dan dunia terkecoh dan menganggap bahwa beliau sangat “geo-klenik” . Bagi komunitas lain yang mendengar dan membaca yang tersebar di web banyak yang terkecoh, termasuk pemuka-pemuka masyarakat yang mensyakralkan tanpa memberi penjelasan tentang kesakralan perjalanan atau expedisi yang Ir. Soekarno lakukan. Dan ternyata beliau adalah seorang yang didasari ajaran religius. (sebuah interpretasi bebas alam pikir Bung Karno melalui Toponiminya).
Sebagai pelaku dan pengamat toponimi (sejarah nama-nama tempat serta penjelasannya), sub kajian dalam geografi, saya mencoba menggunakan sudut pandang lain dari pada yang lain yang selama ini beredar di dunia maya tentang ekspedisi Ir. Soekarno itu. Semoga tidak ada yang tersinggung, dan tulisan lepas ini memberikan review dari tulisan yang disakralkan banyak orang itu. Kalau sebutan review tidak tepat, tulisan ini boleh disebut sebagai interpretasi lepas/bebas.
Pertama-tama: pembaca lebih baik membaca tulisan asli yg beredar di berbagai sumber di Internet (beredar sejak 2011 awal) agar tahu perbedaan pemaknaannya, tulisan tersebut yaitu:
Menguak-kisah-Mistis-Bung Karno. (di akhir tulisan ini)
Setelah saya membaca cerita itu ada sesuatu yang lain yang tersembunyi dalam rangkaian kalimat itu. Merasa tidak tepat dalam memandang seorang yang bernama Ir. Soekarno sang proklamator itu. Apalagi dengan bertaburan nuansa klenik yang terpelihara dan dilindungi oleh pemuka-pemuka masyarakat dengan tidak ada penjelasan yang lebih relevan bagi orang sekelas Bung Karno yang mendunia kala itu. Menurut hemat saya justru mengurangi kewibawaan Bung Karno sebagai salah satu pendiri Republik ini.
Entah ada unsur kesengajaan atau ada unsur pengalihan secara sistematis, agar masyarakat lepas dari realitas Soekarno sebagai bapak Bangsa yang memang Cendekia.
Atau disesuaikan dengan waktu/jaman itu (1937), bangsa ini sedang bergolaknya untuk mengusir penjajah Belanda, dengan kemasan cerita seperti itu sangat masuk akal agar tidak dipahami oleh Belanda tentang ajaran, isme, ide, upaya Bung Karno untuk mencapai cita-cita bangsa ini. Tetapi sekarang sudah merdeka dan di abad Teknologi dan Informasi (tidak sebagai uraian sastra gerakan bawah tanah lagi). Sehingga tulisan cerita itu diberi pemaknaan ulang agar dapat ditauladi oleh anak-anak bangsa ini, bukan malah menjadi anti Soekarno, karena tuntutan pemahaman anak muda Indonesia terkait kesakralan (keklenikan yang terselubung) yang tidak terjelaskan, akan menjauhkan diri dari makna yang tersembunyi di balik cerita itu.
Secara ringkas hasil resume dari cerita itu saya tabelkan agar mudah dipahami keterkaitannya: mulai dari 7 toponimi penting yang digunakan: Mulai perjalanan beliau berangkat dari KLATEN —> ALAS ROBAN — BREBES dan CIREBON—->TOMO—->SUKABUMI —->PELABUHANRATU.
Gambar. Alam Pikir Rute Perjalanan Expedisi MND Ir. Soekarno (1937-1938)
Tabel. Interpretasi Bebas, Membaca Perjalanan Soekarno Menemukan Mustika Naga Derajat (Membaca Alam Pikir Soekarno)
No
Lokasi
Guru
Artefak
Idiofak
Norma
Alam Pikir Soekarno
0
Tidak Jelas:Hutan wingit, Belantara,Bukit Terjal, Gua kumuh
Belum Ketemu,
Tidak jelas
Tidak Jelas
Mencari kepada siapa saja
Awal menuju kebaikan
belum/tidak tahu arah
1
Bukit Gorong
Klaten
Kali Penyu
Sunan Kalijogo
Nyi Blorong
Paku Bumi Jelmaan
Naga sakti, Sanca Manik
Merah delima (merah yang tembus batu kristal bening)
Melati tanpa kembang kenanga
Ajaran sunan Kalijaga
Syahadatain (Klaten)
Ajaran Pertama berdasarkan cahaya ilahiah
Rukuniman/ Islam (Kali penyu)
Simbol Sunan Kalijaga di Masjid Demak adalah penyu
Diundang ke bukit tinggi pelabuhan ratu
Melalui Lorong yang lurus,    dengan Blorong (pancaran cahaya) Menuju dua Derajad yang agung (Derajad di depan manusia dan di depan Mahkluk lain: alam semesta, binatang, tanaman, mahluk halus: dll)
Ketenangan, keluhuran, wibawa, rizki, pengasihan (Ajaran rukun Iman/ Islam)
Laki-laki selayaknya dengan sandangnya
Dituntun untuk menuju derajad tertinggi dan menjadi penguasa (ratu/raja)
Menemukan jalan
2
Alas Roban
Pekalongan
Madura
Setopati
Batu hitam legam
Cundrik
Ajaran Dunia hitam/gelap, kekerasan, kekjaman, untuk dijauhi (menghilang dari dunia ini)
Setopati memiliki norma meninggal dalam keadaan putih bersih jauh dari dosa. Hakekat menjadi baik di jalan Robbi (alas/hutan/belantara—–keluasan ilahiah). Pekalongan artinya sering bertafakur dan berdikir malam.
Belajar yang dilarang dan diperbolehkan
3
Brebes dan Cirebon
Seleman
Kyai Paksa Jagat (sangiang)
Nyai Sempuro (selat Malaka)
Kyai Aji (Seleman)
Ki Jaga Rana
Keris berluk 5
Tusuk Konde (paku raksa bumi)
Taring Macan
Mustika Koplak berwarna merah cabe
Dasar-dasar luhur berfikir
Diplomat yang benar
Kekuatan mengayomi
Fleksible dan tegas (sehat)
Beribadah (sahadat, sholat, puasa, zakat, haji)
Meluruskan yang salah mendukung yg benar
Melindungi semua mahluk di bumi (sulaiman—sleman)
Membahagiakan, mengindahkan, memakmurkan dan sejahtera
Belajar keislaman
Kekuasaan alam manusia dan
lingkungan untuk melindungi negara
4
Tomo
Nenek Renta
Mustika Yaman Ampal
Utama (Tomo)
Welas asih kepada masyarakat yang tidak  mampu.
Akan dibela rakyat dan didoakan rakyat karena berlaku utama
Ampal (memperhatikan pendukung/rakyat banyak)
Belajar untuk mengasihi rakyat sebagai pendukung dan sekaligus pelindung
5
Sukabumi
Gerombolan babi hutan
Cungkup kecil berisi merah delima kecil
Ajaran menghadapi gerombolan exploiter sumberdaya alam
Jangan silau dengan sogokan (pundi-pundi)
Sebesar-besarnya sogokan (pundi-pundi yang diberikan perampok sumberdaya alam) selalu lebih besar yang d bawa irampok.
Harus menjaga bumi dari perampok (asing maupun pengusaha) jangan mudah di sogok.
Membebaskan diri dari Penjajah dan perampok tanah air dan mencintai tanah air.
6
Pelabuhanratu
Laut Pantai selatan
Sunan Kalijaga
Nyimas Nawang Wulan Sari Pajajaran
Sejodoh mustika dari dasar laut Nirsarimayu
Lulus ujian ketuhanan
Lulus ujian menghadapi dunia
Menjadi Pimpinan Negara yang memiliki derajat tinggi dimata Tuhan dan Rakyatnya dan memberi kemakmuran
mencapai Derajad yang tinggi
(mendapat Naga Derajat)
         Jika diterangkan satu persatu dari toponimi yang tersebutkan di setiap persinggahan perjalanannya Ir. Soekarno bersama temannya asal pekalongan dapat dijadikan petunjuk yang sangat jelas bahwa itulah langkah-langkah beliau untuk memimpin bangsa ini. 1. KLATEN (bersih diri dan jiwa/Syahadatain). 2. ALAS ROBAN (menelusuri jalan ke-Robbi-an) di sini dekat/ditemani sampai tujuan dengan/oleh PEKALONGAN (ngalong, bangun tengah malam untuk dzikir dan berdoa) 3. BREBES (mencari sumber Ilmu yang selalu mengalirkan) disni dekat CIREBON (Ci – air yang mengalir /sungai ilmu, Rebon alias Ngaji-REBONAN atau setiap hari Rabu rutin diskusi/menggali berbagai macam Ilmu). 4. TOMO (laku utama atau berahlak Mulia, mengasihi fakir miskin, tua renta, dan rakyat jelata). 5. SUKABUMI (menggali kecintaan tanah air dan segala macam isinya /sumberdaya alamnya, meskipun dihadang oleh berbagai macam cobaan  di dunia sumberdaya alam ini dan sering para pemimpin mau menerima yang kecil (sogokan) dan membiarkan perampok, penjajah, penggayang sumberdaya alam milik tanah air ini lebih banyak dibawa kabur).
Jika lulus yang 1,2,3,4,5 atau 6 (rukun Iman/Islam Ajaran dari KALI PENYU (Sunan Kalijaga) seperti gambar yang menempel di mihrab masjid Demak yaitu simbol Penyu (Badan yang ditopang 4 kali dan 1 ekor + 1 kepala yang selalu keluar -masuk badan (jadi 5 atau 6 ajaran) mengandung 5 atau 6 ajaran utama). Dengan cahaya 5 atau 6 ajaran ini disimbolkan Nyi Blorong (blorong merupakan nur/cahaya, sinar yang terang), maka Ir. Soekarno mencapai cita-citanya yaitu sampai di PELABUHANRATU (menerima penghargaan dari sebagai Presiden pimpinan tertinggi disimbolkan Mustika Naga Derajad (MND). Lengkaplah 2 mustika dipegang oleh Ir. Soekarno yang awalnya dalam ketidakjelasan arah dan belajar sendiri/tanpa guru, yang kemudian  dari BUKIT GUA GORONG (pintu/jalan menuju cahaya/Blorong). Mustika Pertama diberikan secara gratis yaitu berbersih diri/jiwa/Syahadatain (KLATEN), Mustika yang kedua didapat setelah menyelesaikan pelajaran dan ujian, sampailah kepada Mustika kedua Naga Derajad, dilantik, dipercaya, untuk mengayomi rakyat, mengelola alam (SUKABUMI), tidak silau dengan berbagai godaan sogokan para penjajah dan perampok tanah air ini. Dan yang sangat penting pada setiapa tahapan selalu menjalankan atau beserta pekalongan yang artinya selalu rajin bertafakur di tengah malam (NGALONG).
Demikianlah interpretasi lepas dari Expedisi MUSTIKA NAGA DERAJAD (MND) Ir. Soekarno yang pantas untuk diteladani oleh semua yang berkeinginan menjadi pimpinan Bangsa Indonesia.
Adapun sebutan Guru dan Artefak yang ditemui dan menyertai perjalanan beliau yang diberikan oleh yang beliau temui juga bermakna siqnifikan, yaitu:
Ketika di awal perjalanan mencari tanpa guru di belantara tanpa arah dan tidak ada nur/cahaya yang membimbing tidak mendapat mustika apa-apa.
1. Di Klaten, setelah mendapat nur/cahaya (Blorong) dan ditunjukkan jalan menuju cahaya mendapat Mustika Naga sakti Sanca Manik dari kali Penyu (Ajaran Sunan Kalijaga)
2. Di Alas Roban, oleh Setopati mendapat pelajaran Cundrik dan Batu Hitam ( merupakan ajaran apa saja yang dilarang oleh Robbi; kekajaman, kekerasan, main hakim sendiri, dunia hitam) dan guru bernama Setopati merupakan persembunyian Bung Karno yang diarahkan agar Seto berarti bersih/suci dan pati berarti meninggal dunia, Setopati berarti membawa ajaran jalan menuju kematian dengan bersih dan suci.
3. Di Brebes dan Cirebon, dari keempat gurunya mendapat: 1. Keris berluk 5 (syariat islam/ 5 rukun Islam).2. Tusuk Konde (Kyai Paku Raksa Bumi) yaitu pelajaran keluhuran. 3. Taring Macan sebagai simbol berkuasa untuk melindungi, baik binatang maupun tumbuhan disini di sebut Toponimi siluman SELEMAN tidak lain dan tidak bukan adalah ajaran nabi Sulaiman yang sangat tahu mengelola flora dan fauna/lingkungan tanah air. 4. Mustika Koplak dan batu delima berwarna merah cabe sebagai simbol melakukan pertimbangan yang tegas/ikhlas berlandaskan petunjuk Keesaan Allah (Dal (huruf Dal  dalam hijaiyah), Lima (berakhiran huruf dal sebanyak lima ayat yaitu surat Al-Ikhlas).
4. di Tomo bertemu dengan ‘Nenek Renta” yang memberikan Mustika Yaman Ampal ini memberi makna melakukan perlindungan kepada rakyat yang lemah/jelata (Ampal = Kawula Alit) sebagai ujian utama  untuk dielukan dan dilindungi. Meninggalkan rakyat jelata maka mendapat bencana, dalam cerita di atas diceritakan mobilnya mogok, karena meninggalkan rakyat.
5. makna toponimi Sukabumi, dalam bergelut untuk mengelola sumberdaya alam seringkali/banyak bertemu dengan perampok, penjarah, penjajah (bertemu banyak babi, dan ada yang mencoba nyogok dengan mustika cungkup kecil dengan merah delima kecil), yang artinya lebih banyak yang dibawa kabur oleh babi-babi lain, meskipun ada yang baik dengan pamrih itu, yang disogokkan kepada pejabat selamanya lebih kecil dari pada yang dibawa mereka, bagaimana dengan bagian rakyat. Hal ini yang dapat dijadikan peringatan kepada pemimpin yang hanya mencari untung sendiri.
Sampailah kepada Mustika yang diberikan oleh Sunan Kalijaga dengan Nyi Blorong yaitu Mustika kedua (jodoh dari mustika pertama yang diberikan di Klaten) sehingga menjadi sejodoh Mustika dari Laut Nirsarimayu. Lengkaplah Ir. Soekarno menjadi pemimpin bangsa ini.
Mohon maaf sebelumnya jika ada kesalahan penterjemahan atau interpretasi yang menyinggung, terutama kepada Yth: KH. Rifai, Ahlul Khosois, Habib Umar Bin Yahya, Pekalongan, Habib Nawawi Cirebon, Habib Nur, Indramayu dan Mbah Moh, dari Pertanahan Kebumen Jawa Tengah.
Semoga menjadi jelas adanya. Amiin.
INI Tulisan Aslinya: Wacana yg ada di WEB http://gandasetiawan.blogspot.com/2011/02/menguak-kisah-mistis-bung-karno-dan.html

Menguak Kisah Mistis Bung Karno dan Spiritualisme Mustika Naga Derajat

Ditengah derasnya hujan angin, sosok bung Karno yang kala itu masih menjadi bocah angon yang berlari kecil menelusuri jalan setapak menuju bukit gorong, yang terletak di sebelah kanan sungai Penyu Cilacap, Jawa Tengah. Beliau membawa satu amanat dari salah satu gurunya KH. Rifai Bin Soleh Al Yamani (Hadrotul maut), Banyuwangi, Jawa Timur.

Sebagai seorang pemikir handal yang mempercayai suatu kehidupan alam lain, beliau kerap mengasingkan diri dalam fenomena yang tak layak pada umumnya, yaitu selalu bertirakat dari satu gua kumuh, bebukitan terjal, hutan belantara hingga tempat wingit lainnya.

Kisah ini terjadi pada Jum’at legi, bulan Maulud 1937 H. Berawal dari sebuah mimpi yang dialaminya. Di suatu malam, beliau didatangi seekor naga besar yang ingin ikut serta mendampingi hidupnya. Naga itu mengenalkan dirinya bernama, Sanca Manik Kali Penyu, yang tinggal didalam bukit Gorong, kepunyaan dari Ibu Ratu Nyi Blorong, yang melegendaris. Dengan kejelasan mimpinya, Bung Karno, langsung menemui KH. Rifai, yang kala itu sangat masyhur namanya. Lalu sang kyai memberinya berupa amalan atau sejenis doa Basmalah, yang konon bisa mewujudkan benda gaib menjadi nyata.

Lewat suatu komtemplasi dan prosesi ritual panjang, akhirnya Bung Karno, ditemui sosok wanita cantik yang tak lain adalah Nyi Blorong sendiri. “Andika..!!! Derajatmu wes tibo neng arep, siap nampi mahkota loro, lan iki mung ibu iso ngai bibit kejembaran soko nagara derajat, kang manfaati soko derajatmu ugo wibowo lan rejekimu serto asih penanggihan” terang Nyi Blorong. Yang arti dari ucapan tadi kurang lebihnya : “Anakku !! Sebentar lagi kamu akan menjadi manusia yang mempunyai dua derajat sekaligus (Pemimpin umat manusia dan Bangsa gaib yang disebut sebagai istilah / Rijalul gaib).

Saya hanya bisa memberikan sebuah mustika yang manfaatnya sebagai, ketenangan hatimu, keluhuran derajat, wibawa, kerejekian serta pengasihan yang akan membawamu dipermudah dalam segala tujuan” Mustika yang dimaksud tak lain berupa paku bumi, jelmaan dari seekor naga sakti, Sanca Manik, yang di dalam mulutnya terdapat satu buah batu merah delima bulat berwarna merah putih crystal, symbol dari bendera merah putih / negara Indonesia.

Sebagai sosok mumpuni sekaligus hobi dalam dunia supranatural, 7 bulan dari kedapatan mustika Sanca Manik, beliau pun bermimpi kembali. Yang mana di dalam mimpinya sosok Kanjeng Sunan KaliJaga beserta ibu Ratu Kidul Pajajaran menyuruh Bung Karno, datang ke bukit Tinggi Pelabuhan Ratu, Sukabumi – Jawa Barat.

“Datanglah Nak ketempatku..!!! Kusiapkan jodoh dari pemberian Putranda (Nyi Blorong) yang kini telah kau terima, tak pantas melati tanpa kembang kenanga, lelaki tanpa adanya wanita” Tentunya sebagai seorang yang berpengalaman dalam pengolahan bathiniyah, Bung Karno, adalah salah satu bocah yang sangat paham akan makna sebuah mimpi. Dalam hal ini beliau menyakini bahwa yang barusan dialaminya adalah bagian dari keneran.(petanda)

Dengan meminta bantuan kepada, Kartolo Harjo, asal dari kota Pekalongan, yang kala itu dianggap orang paling kaya, merekapun hari itu juga langsung menuju lokasi yang dimaksud, dengan membawa sedan cw keluaran tahun 1889. Kisah perjalanan menuju Pelabuhan Ratu, ini cukup memakan waktu panjang, pasalnya disetiap daerah yang dilaluinya Bung Karno, selalu diberhentikan oleh seseorang yang tidak dikenal.

Mereka berebut memberikan sesuatu pada sosok kharismatik berupa pusaka maupun bentuk mustika. Hal semacam ini sudah sewajarnya dalam dunia keparanormalan sejak zaman dahulu kala, dimana ada sosok yang bakal menjadi cikal seorang pemimpin. maka seluruh bangsa gaibiah akan dengan antusiasnya berebut memamerkan dirinya untuk bisa sedekat mungkin dengannya.

 

Untuk mengungkapkan lebih lanjut perjalanan Bung Karno menuju Pelabuhan Ratu, yang dimulai pada hari Kamis pon, Ba’da Subuh, Syawal 1938H, pertama kalinya perjalanan ini dimulai dari kota Klaten Jawa Tengah. Di tengah hutan Roban, Semarang, beliau diminta turun oleh sosok hitam berambut jambul, yang mengaku bernama, Setopati asal dari bangsa jin, dan memberikan pusaka berupa cundrik kecil, berpamor Madura dengan besi warna hitam legam. Manfaatnya, sebagai wasilah bisa menghilang. Juga saat melintas kota Brebes dan Cirebon, beliau disuruh turun oleh (empat) orang yang tidak di kenal

  1. Benama Kyai Paksa Jagat, dari bangsa Sanghiyang, memberikan sebuah keris beluk-5, manfaatnya sebagai wasilah, tidak bisa dikalahkan dalam beragumen.
  2. Bernama Nyai Semporo, asal dari Selat Malaka, yang ngahyang sewaktu kejadian Majapahit dikalahkan oleh Demak Bintoro, beliau memberikan sebuah tusuk konde yang dinamai, Paku Raksa Bumi, manfaatnya, mempengaruhi pikiran manusia.
  3. Bernama Kyai Aji, asal dari siluman Seleman, beliau memberikan sebuah pusaka berupa taring macan, manfaatnya, sebagai kharisma dan kedudukan derajat.
  4. Bernama Ki Jaga Rana, memberikan sebuah batu mustika koplak, berwarna merah cabe, manfaatnya sebagai daya tahan tubuh dari segala cuaca.

 

Lalu saat melintas hutan Tomo Sumedang, beliaupun dihadang oleh seorang nenek renta yang mengharuskannya turun dari mobil, mulanya Bung Karno, enggan turun, namun saat melaluinya untuk terus melajukan mobil yang dikendarainya, ternyata mobil tersebut tidak bisa jalan sama sekali, disitu beliau diberikan satu buah mustika Yaman Ampal, sebagai wasilah kebal segala senjata tajam.

Juga saat melintas digerbang perbatasan Sukabumi, beliau dihadang oleh segerombolan babi hutan, yang ternyata secara terpisah, salah satu dari binatang tadi meninggalkan satu buah mustika yang memancarkan sinar kemerahan berupa cungkup kecil yang didalamnya terdapat satu buah batu merah delima mungil.

Sesampainya ditempat yang dituju, Bung Karno dan temannya mulai mempersiapkan rambe rompe berupa sesajen sepati, sebagai satu penghormatan kepada seluruh bangsa gaib yang ada di tempat itu, tepatnya malam rabo kliwon, Bung Karno, mulai mengadakan ritual khususiah secara terpisah dengan temannya, semua ini beliau lakukan agar jangan sampai mengganggu satu sama lainnya dalam aktifitas menuju penghormatan kepada bangsa gaib yang mengundangnya.

Dua malam beliau melakukan ritual tapa brata, dengan cara sikep kejawen yang biasa dilakukannya saat menghadapi penghormatan kepada bangsa gaib, lepas pukul 24.00, Seorang bersorban dan wanita cantik yang tiada tara datang menghampirinya, mereka berdua tak lain adalah Sunan KaliJaga dan Nyimas Nawang Wulan Sari Pajajaran, yang sengaja mengundangnya.

“Anakku..!! Dalam menghadapi peranmu yang sebentar lagi dimulai, ibu hanya bisa memberikan sementara sejodoh mustika yang diambil dari dasar laut Nirsarimayu (dasar laut pantai selatan sebelah timur kaputrennya) ini mustika jodohnya dari yang sudah kamu pegang saat ini, gunakanlah mustika ini sebagai wasilah kerejekian guna membantu orang yang tidak mampu, sebab inti dari kekuatan yang terkandung didalamnya, bisa memudahkan segala urusan duniawiah sesulit apapun” Lalu setelah berucap demikian, kedua sang tokoh pun langsung menghilang dari pandangannya. Kini tinggal Bung Karno, sendirian yang langsung menelaah segala ucapan dari Ibu Ratu, barusan.

Didalam tatacara ilmu supranatural, cara yang dilakukan oleh Bung Karno, diam menafakuri setelah kedapatan hadiah dari bangsa gaib tanpa harus meninggalkan tempat komtemplasi terlebih dahulu, adalah suatu tatakrama yang sangat dihormati oleh seluruh bangsa gaib dan itu dinamakan, Sikep undur / tatakrama perpisahan.

Dari kejadian itu Bung Karno, langsung mengambil sikap diam dalam perjalanan pulang sambil berpuasa hingga sampai rumah / tempat kembali semula, cara seperti ini disebut sebagai, Ngaula hamba / mentaati peraturan gaib supaya apa yang sudah dimilikinya bisa bermanfaat lahir dan bathin. Dalam kisah ini bisa diambil kesimpulan bahwa, segala sesuatunya bisa bermanfaat, apabila disertai kerja keras dan tetap memegang penghormatan dalam menggunakan apapun yang bersifat gaibiyah, bukan malah sebaliknya, berandai-andai yang mengakibatkan kita jadi malas.

Kisah ini sudah mendapatkan ijin dari Ahlul Khosois, Habib Umar Bin Yahya, Pekalongan, Habib Nawawi Cirebon, Habib Nur, Indramayu dan Mbah Moh, dari Pertanahan Kebumen Jawa Tengah. Semoga yang kami uraikan tadi bisa diambil hikmah dan manfaatnya. Amin

About taqy