‘Shifting souvenirs into craft’

‘Shifting souvenirs into craft’ Realitas: Ketika ada seorang laki-laki paruh baya memasuki sebuah mall ternama di Jakarta, sontak puluhan pasang mata dari mulai melirik sampai memandang berulang-ulang kepada orang tersebut. […]

‘Shifting souvenirs into craft’

Realitas:

Ketika ada seorang laki-laki paruh baya memasuki sebuah mall ternama di Jakarta, sontak puluhan pasang mata dari mulai melirik sampai memandang berulang-ulang kepada orang tersebut. Orang tersebut kalau dikatakan orang metropolitan ya tidak salah memang beliau tinggal di pusat keramaian Jakarta. Sangat jauh kalau dikatakan bahwa beliau berasal dari luar kota yang jauh dari kota alias dusun. Kalau di perhatikan beliau datang bukan naik bajaj atau kopaja alias nyetir mobil sendiri.

Mengapa puluhan pasang mata melihat beliau yang sangat santai dan cuek terhadap orang-orang yang memperhatikannya, meskipun beliau sadar menjadi pusat perhatian mengalahkan daya tarik etalase barang-barang mewah yang dijajakan toko di sekitarnya di mall itu.

Di hari yang lain beliau mencoba lagi datang dengan kondisi yang sama, kali ini perhatian yang menuju kepadanya lebih banyak tak luput para penjaga tokopun ikut memperhatikan dengan malu-malu. Mungkin dalam hatinya “nih orang PD a biiiis”

Mengulang di kunjungan ketiga kalinya tidak berubah, masih seperti yang pertama dan yang kedua perhatian yang beliau dapatkan.

Ternyata beliau hanya ingin menunjukkan dan membuktikan bahwa craft dan souvenirs itu hal yang berbeda. Sementara di Indonesia hal tersebut dibiaskan (tidak dicoba dipahami dengan benar).

Cerita punya cerita beliau mengatakan saya sangat hormat dengan orang-orang Jepang yang masih mengenakan dan memiliki Kimono (pada acara-acara khusus), begitu juga wanita India yang mengenakan kain pembalut tubuh yang dikenakan sehari-hari (ke kantor, ke pasar, ke pura dan aktifitas sehari-hari). Seperti  halnya kalau kita perhatikan di kota Kudus, Jepara, Demak, dan sebagian kota-kota di Jawa Timur serta Madura dan sebagian kota lainnya di Indonesia sangatlah lumrah laki-laki beraktifitas mengenakan sarung dalam kesehariannya. Dikota-kota di selatan Jawa Tengah dan Jogja juga masih banyak ditemukan wanita (golongan Ibu-ibu STW) beraktifitas mengenakan kebaya dan kain (jarik). Disitulah letak penghargaannya, mereka mengenakan pakaian dan mempertahankan fungsinya dalam aktifitas sehari-hari secara tidak sadar menggerakkan roda produksi (usaha-usaha kecil) sarung, kain/jarik, blankon, tenun, slendang gendong, beraneka corak batik. Mereka tidak sadar ikut menggerakkan ekonomi secara mandiri dalam komunitasnya termasuk budidaya kapas, budidaya ulat sutra, pengrajin batik, tenun dll.

Dalam konteks budaya; sarung, jarik, blankon, slendang dll seperti di atas masih hidup di masyarakat (culture to living) dengan demikian pantaslah masih kita sebut souvenir. Lain halnya alat musik angklung yang dijajakan di Malioboro, gelang bahar yang dijajakan di kaki lima-kaki lima di Jakarta. Sangatlah tidak ada akar budaya yang menghidupkannya? inilah yang disebut craft.

Pertanyaannya, ketika orang Jepang, orang Eropa sebagai turis yang berkunjung di Indonesia notabene referensi yang mereka baca tentang Indonesia memiliki souvenir (khusus) yaitu sarung, ternyata mereka kecewa yang ditemui tidak lain hanyalah craft (sudah tidak ditemui budaya mengenakan sarung dalam aktifitasnya sehari-hari). Akhirnya bertanya-tanya apa yang masih menjadi souvenir di Indonesia?, berangkatlah ke Bandung membeli angklung karena pelaku budayanya masih kental dan inilah kenang-kenangan mereka sebagai tanda pernah ke Indonesia.

Pergeseran-pergeseran produk budaya seperti ini sangatlah banyak di Indonesia yang masyarakatnya lebih membanggakan memakai dasi, jas, celana panjang, fashion import dll (yang sangat melemahkan usaha dalam negeri yang awalnya sebagai bentuk budaya orisinil (meskipun orisinilitas produk bukan lagi faktor pengukur cultural heritage oleh Unesco).

Perlu menggugah masyarakat maupun pemerintah terutama yang mengumandangkan pariwisata, pemerintah daerah untuk menggerakkan kembali akar budaya yang pernah ada dan dibuat lebih maju (mengikuti perkembangan sebagai bentuk culture is dinamics).

Singkat kata cerita di awal paragraf  tulisan ini yakni beliau mengenakan sarung untuk berkunjung ke mall ternama di Jakarta. Sudah menjadi aneh di mata masyarakat Indonesia sendiri (khususnya masyarakat  Jakarta). (tq/5/11)

Siapa anak geografi yang mau skripsi atau tesis dengan tema ini?

About taqy