Budaya

Kebudayaan Proses manusia hidup melalui pembelajaran baik dari Ibunya (keluarganya) lingkungan alamnya, lingkungan sosialnya, pengalaman dari berbagai media dan hasil dari pemikirannya (manusia aktif dan kreatif sebagai subyek berbudaya meskipun […]

Kebudayaan

Proses manusia hidup melalui pembelajaran baik dari Ibunya (keluarganya) lingkungan alamnya, lingkungan sosialnya, pengalaman dari berbagai media dan hasil dari pemikirannya (manusia aktif dan kreatif sebagai subyek berbudaya meskipun ada batasnya). Manusia berbudaya tidak statis tetapi selalu berubah dan sering terjadai perbedaan dalam perjalanannya. Berbudaya belum tentu linier tergantung situasi dan kondisi atau konteks ruang dan waktu. keaktifan budaya dalam menempatkan dan ditempatkan oleh conteks pergaulan sosial, baik sadar atau tidak sadar. Kesadaran atai ketidaksadaran dalam berbudaya tetapi mengangkat harkat dan martabat kemanusiaan itulah pilihan yang mendapat pengakuan bersama. Dan kesadaran atau ketidaksadaran dalam berbudaya yang merusaka harkat dan martabat manusia akan tertolak oleh manusia dominan/pemegang kuasa/norma itu sendiri sebagai sobjek dalam bersosial. Tatanan sosial atau norma terbentuk karena manusia pada dasarnya membutuhkan rasa aman atau rasa percaya, untuk itu sosial selalu mereproduksi tatanan sosial yang baik tersebut dalam rangka membebaskan diri dari kecemasan atau sanksi-sanksi sosial.

Berbudaya tidak dapat dilakukan secara individu tetapi dalam konteks sosial ( berbudaya memerlukan pengakuan, pengakuan dibutuhkan norma, norma bisa berjalan kalau ada sanksi. Untuk menjalankan sanksi didukung adanya kuasa. kekuasaan dapat tersampaikan perlu melakukan komunikasi (Berbudaya sering melalui medium bahasa (lisan, gestur, tulisan dll)). Komunikasi dapat sampai dan dipahami melalui penafsiran/interpretasi dan menciptakan simbol2. Bentuk dari interpretasi berupa simbol-simbol. Kuasa dijalankan melalui fasilitasi untuk mendukung dominasi. Dominasi dapat berjalan melalui simbol-simbol dalam mencapai legitimasi. Tetapi hal ini bukan satu-satunya frame dalam berbudaya karena ketidak-linier-an pada kenyataannya.

Manusia sebagai mahluk sosial berperan sebagai agen dan sebagai agensi. Hasrat atau kebutuhan  agen maupun agensi dalam mereproduksi pola-pola budaya bermotif tidak sadar. Kalau secara sadar dalam pemenuhan kebutuhan rutin karena tindakan refleksi berulang dari budaya yang sedang bekerja inilah yang mampu membentuk transformasi budaya (yang sangat sulit tidak seperti membalik telapak tangan). Jika agen-agen budaya semakin banyak melakukan refleksi dari budaya yang bekerja maka dapat terjadi transformasi yang lebih besar atau dapat dikatakan lepas dari rutinitas.

Bangsa Indonesia perlu diajarkan refleksi dari budaya yang bekerja terus menerus dengan kebutuhan akan dinamisasi budaya menuju yang dicita-citakan bersama (kepercayaan dan hasrat rasa aman dari kecemasan). Hanya yang terjadi lebih banyak yang hanya mengandalkan ketidaksadaran, sehingga ada agen yang melakukan de-rutinasi sering ditanggapi secara tergopoh-gopoh oleh agen karena tidak tahu arah mau dibawa kemana bangsa Indonesia ini atau bahkan pasrah bahkan menyerah (alias korban agensi dengan tidak sadar).

Pilihan-pilihan berbudaya refleksi a.l:

1. Adaptasi mengikuti dan beraksi terhadap lingkungan sekitarnya

2. Adopsi meniru apa yang telah dilakukan yang lain

3. Modifikasi melakukan perubahan kecil dari yang sudah ada

4. Inovasi melakukan berubahan besar dari yang sudah ada

5. Invensi membuat hal baru yang sebelumnya belum ada, tahu, kenal, dipakai.

Dari kelima tindakan refleksi di atas yang memberikan hikmah (hasrat pemenuhan kebutuhan dan hilangnya rasa kecemasan baik sadar maupun tidak sadar) itulah yang akan bertahan dan mendapat legitimasi dan budaya bangsa Indonesia tidak kehilangan dinamisasinya dalam kancah nasional maupun internasional.

 

About the Author