Jun
27

Dirgahayu NKRI

by syahidin.badru, in: Uncategorized

Dirgahayu NKRI

Benar Salah
Dirgahayu Republik Indonesia Dirgahayu HUT RI ke-66
Selamat Ulang Tahun Ke-66 

Republik Indonesia

Selamat Hari Ulang Tahun 

Republik Indonesia Ke-66

Selamat Ulang Tahun Ke-66 

Negara Kesatuan Republik Indonesia

Selamat Hari Ulang Tahun 

Negara KesatuanRepublik Indonesia Ke-66

Selamat Ulang Tahun Ke-66 NKRI Selamat HUT NKRI Ke 65
Dirgahayu Kemerdekaan Kita Dirgahayu HUT RI Ke 66
Dirgahayu RI Ber-HUT Ke-66 “Dirgahayu Republik Indonesia Ke-66”

Tinggal beberapa saat lagi rakyat Indonesia akan menyambut HUT ke-66 kemerdekaan RI. Seperti biasa, menjelang hari kemerdekaan itu, di gang-gang, lorong-lorong jalan, sudah ramai dibuat gapura bercat merah putih dengan tulisan, antara lain, Dirgahayu HUT RI ke-66. Tulisan itu dibuat besar-besar dengan bentuk dan motif huruf yang bervariasi diembel-embeli dengan umbul-umbul. Tampak menarik memang. Namun, rupa-rupanya pemakai bahasa itu tidak menyadari bahwa tulisan seperti Dirgahayu HUT RI ke-66 itu tidak logis karena pilihan katanya telah menimbulkan ketidaktepatan makna.

Kasus seperti di atas, setiap tahun menjelang HUT RI, selalu terjadi. Padahal, sudah sejak tahun 1975, lembaga pemerintah, yakni Pusat Pembinaan Bahasa (yang sejak reformasi bergulir, berubah nama menjadi Pusat Bahasa dan sejak tahun 2010 berubah lagi menjadi Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa), baik melalui media massa cetak maupun elektronik seperti siaran televisi, terus-menerus mengoreksi pemakaian kata dirgahayu di setiap awal penulisan Dirgahayu HUT RI. Pusat Bahasa menganjurkan untuk mengubah ungkapan itu, antara lain, dengan Dirgahayu Republik Indonesia atau Selamat Ulang Tahun Ke-… Republik Indonesia. Para tokoh bahasa seperti Anton M. Moeliono dan Yus Badudu pun pernah mengoreksi hal yang sama dan mengusulkan penggunaan Dirgahayu RI Ber-HUT Ke-… atau Dirgahayu Kemerdekaan Kita.

Apa yang salah dengan ucapan Dirgahayu HUT RI? Jika kita buka Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, akan ditemukan kata dirgahayu bermakna ‘(semoga) panjang umur’. Jadi, kalau kita katakan Dirgahayu HUT RI berarti HUT RI-lah yang kita harapkan berumur panjang, bukan RI atau Kemerdekaan RI. Oleh karena itu, wajar jika orang bertanya-tanya dengan berseloroh berbau menyindir, “Jangan-jangan akibat salah penulisan itu, kita belum merasakan kemerdekaan karena yang mengalami kemerdekaan itu adalah ‘hari ulang tahun’ bukan kita warga Republik Indonesia.”

Selain ketidatepatan penulisan ungkapan hari ulang tahun seperti di atas, ditemukan juga variasi lain, misalnya, Selamat Hari Ulang Tahun Republik Indonesia Ke-66, Selamat HUTRI Ke 66 (tanpa tanda hubung), Dirgahayu HUT RI Ke 66, dan “Dirgahayu Republik Indonesia Ke-66 Beberapa hal yang perlu dicermati dari tulisan itu, antara lain, pengertian dirgahayu, ketepatan pilihan kata, dan penulisan ke-66.

Seperti dikemukakan, kata dirgahayu bermakna ‘berumur panjang’. Berdasarkan makna itu, kata dirgahayu menyatakan makna panjang umur. Jadi, frasa Dirgahayu Republik Indonesia Ke-66, berdasarkan makna dirgahayu, jelas tidak logis. Ketidaklogisan itu terungkap dari penambahan ke-66 (dalam hal ini tanda hubung harus digunakan atau dapat diganti dengan angka Romawi tanpa menggunakan ke-) yang pengertiannya belum jelas.

Dengan penambahan ke-66, ada dua pengertian yang terkandung, yakni ke-66 menerangkan dirgahayu atau Republik Indonesia. Baik menerangkan dirgahayu maupun menerangkan Republik Indonesia sama-sama tidak logis. Ketidaklogisan yang pertama terjadi karena panjang umur dinyatakan dengan ke-66. Selain itu, ada ketidakjelasan ke66 itu., apakah maksudnya ke-66 tahun atau ke-65 hari.

Ketidaklogisan yang kedua terjadi karena berdasarkan ungkapan itu ada 66 buah Republik Indonesia. Hal itu berarti pula masih ada 66 RI lagi. Tentu saja yang demikian tidak logis karena Republik Indonesia hanya satu, yakni yang kita rayakan itu. Dengan demikian, ungkapan tersebut di samping tidak logis juga termasuk taksa (ambigu).

Hal lain yang perlu dicermati adalah penambahan hari ulang tahun (HUT) setelah kata dirgahayu. Misalnya, Dirgahayu HUT RI Ke-66. Penambahan itu juga tidak logis. HUT tidak mungkin berumur panjang karena masanya hanya satu hari. Yang dapat kita ucapkan berumur panjang adalah Republik Indo­nesia atau kemerdekaannya. Jadi, ungkapan yang tepat adalah Dirgahayu Republik Indonesia atau Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia.

Sementara itu, apabila ke-66 akan digunakan, penempatannya harus tepat. Ada dua pilihannya, yakni Hari Ulang Tahun Ke-66 Republik Indonesia (HUT Ke-65 RI) atau Ulang Tahun Ke-66 Republik Indonesia. Baik contoh pertama maupun contoh kedua menjelaskan unsur HUT atau ulang tahunnya.

Masih ada satu cara lagi yang dapat digunakan untuk menambahkan ke-66. Hal itu dilakukan apabila unsur HUT ditempatkan setelah Republik Indonesia seperti contoh di atas. Cara itu dilakukan dengan menambahkan tanda hubung di antara Hari Ulang Tahun dan Republik Indo­nesia, yakni Hari Ulang Tahun-Republik Indonesia Ke-66 (HUT-RI Ke-66). Hal ini dilakukan agar dua unsur HUT dan Rl menjadi padu.

Sehubungan dengan kasus di atas, sebagai bahan perbandingkan, ada kasus lain, misalnya, frasa istri gubernur yang ramah. Orang yang berpikir kritis akan bertanya, “Yang ramah itu siapa, gubernur atau istrinya?”

Tanda hubung dapat digunakan di antara istri dan gubernur (istri- gubernur yang ramah) jika yang ramah adalah istri. Jika yang ramah adalah gubernur, tanda hubung dibubuhkan antara gubernur, yang, dan ramah (istri gubernur-yang-ramah).

Selain ungkapan di atas, ada pilihan yang dapat digunakan, yakni Selamat Ulang Tahun Ke-66 Republik Indonesia dan Peringatan Ulang Tahun Ke66 Republik Indonesia.

Dec
23

Kalimat Pembuka dalam Surat Dinas

by syahidin.badru, in: Uncategorized

Salah satu hal yang penting di dalam surat dinas adalah kalimat pembuka surat. Kalimat itu berfungsi sebagai pengantar isi surat yang mengajak pembaca untuk memperhatikan pokok surat. Untuk menyampaikan hal itu, kita dituntut menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dari hasil penelitian yang dilakukan di Pusat Bahasa Kemdiknas ditemukan  pemakaian kalimat pembuka surat  di berbagai intansi yang tidak apik, antara lain, sebagai berikut.

(1) Sehubungan dengan surat Saudara tanggal 22 November 2010, No. 122/ BS. XI/2010 tentang permintaan tenagapelaksana bakti sosial un­tuk korban Merapi. Kami ingin menanggapi sebagai berikut.

(2) Menjawab surat Saudara tanggal 17Meil 2010, No. 22/BS/VI/2010 tentang  pencalonan peserta Seminar Pendidikan Anak Usia Dini, kami beri tahukan bahwa semua peserta yang diusulkan dapat diterima.

(3) Bersama ini kami beri tahukan bahwa rapat para kepala sekolah Yayasan Bani Saleh dibatalkan karena ruang rapat masih digunakan untuk kegiatan tes prestasi.

Penggunaan kalimat pembuka surat seperti (1), (2), dan (3) itu perlu dicermatkan. Kalimat yang digunakan dalam surat dinas hendaknya se-suai dengan kaidah bahasa. Kalimat untuk itu sekurang-kurangnya me-miliki subjek dan predikat. Selain itu, kalimat yang digunakan tidak per­lu berbelit-belit.

Jika kita perhatikan, kalimat (1) tidak benar karena unsur yang ada hanya berupa keterangan yang ditandai oleh kelompok kata sehubungan dengan dan diakhiri tanda titik (.) sebelum kalimat itu selesai. Kesalahan kalimat (2) disebabkan oleh tidak adanya kata penghubung sebagai penanda keterangan yang berbentuk anak kalimat. Kalimat (1) dan (2) di atas dapat diperbaiki menjadi sebagai berikut.

(la) Sehubungan dengan surat Saudara tanggal 22 November 2010, No. 122/ BS. XI/2010 tentang  permintaan tenaga pelaksana bakti sosial un­tuk korban Merapi, kami ingin menanggapi beberapa hal sebagai berikut.

(2a)  Berkenaan dengan surat Saudara tanggal 17Meil 2010, No. 22/BS/VI/2010 tentang  pencalonan peserta Seminar Pendidikan Anak Usia Dini, kami beri tahukan bahwa semua peserta yang diusulkan dapat diterima.

Kesalahan kalimat (3) terletak pada isinya. Surat itu hanya memberitahukan sesuatu, tidak menyertakan lampiran, dan bukan merupakan surat pemberitahuan tentang pengiriman barang sehingga tidak tepat menggunakan ungkapan bersama ini. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa (2008: 1212) kata bersama bermakna ‘seiring dengan’.  Jadi, kelompok kata bersama ini bermakna ‘seiring dengan ini’. Oleh karena itu, kelompok kata itu digunakan dalam kalimat pembuka surat  jika ada lampiran yang disertakan atau surat itu memberitahukan bahwa ada sesuatu yang dikirimkan bersama-sama pengiriman surat itu. Dengan de-mikian, kalimat (3) sebaiknya diperbaiki menjadi sebagai berikut.

(3a) Kami beri tahukan bahwa rapat para kepala sekolah Yayasan Bani Saleh dibatalkan karena ruang rapat masih digunakan untuk kegiatan tes prestasi.

Berikut ini contoh. kalimat pembuka surat yang disertai lampiran atau pemberitahuan pengiriman barang (4) dan kalimat pembuka surat yang berisi pemberitahuan (5), (6), dan kalimat pembuka surat untuk surat balasan (7).

(4)    Bersama ini kami kirimkan contoh makalah  yang Saudara minta.

(5)    Kami mengundang Saudara untuk menghadiri rapat yang akan dise-lenggarakan pada hasi Selasa, tanggal 6 Agustus 2010.

(6) Sesuai dengan surat Saudara tanggal 14 Desember 2010, No. 986/ I/XII/2010, tentang penerimaan pegawai baru, kami ingin memberi-tahukan beberapa hal berikut.

(7)    Surat Saudara tanggal 25 November 2010 No. 453/L/XI/2010 sudah kami terima. Sehubungan dengan itu, berikut kami sampaikan jawaban kami atas pertanyaan Saudara.

(Sumber: Buku Praktis Bahasa Indonesia, Pusat Bahasa, 2008)

Nov
3

Dokter dan Doktor

by syahidin.badru, in: Uncategorized

Masih hangat dalam ingatan kita ketika acara pelantikan tanggal 20 Oktober 2009 lalu, Ketua MPR RI dengan terbata-bata dan salah menyebutkan gelar Presiden SBY dan Wakil Presiden Budiono. Beberapa kali beliau menyebut SBY dan juga Boediono dengan dokter bukan doktor.

Yang menjadi masalah adalah bukan karena tidak mengetahui beda antara dokter dan doktor, melainkan karena penulisan singkatan gelar Dr. (ditulis huruf d besar dan huruf r kecil diakhiri dengan tanda titik) yang membuat sang ketua ragu-ragu menyebutkannya: doktor atau dokter.

Hal di atas terjadi, antara lain, akibat umumnya pemakai bahasa tidak disiplin dalam berbahasa, baik lisan maupun tulis. Pemakai bahasa sering tidak konsisten dalan penulisan singkatan, baik untuk gelar doktor maupun dokter: dr. Dr. DR.

Misalnya:

(1)    Dr. Subki Abdulkadir

(2)    dr. Subki Abdulkadir

(3)    DR. Subki Abdulkadir

Apakah Bapak Subki Abdulkadir itu seorang yang bergelar doktor atau dokter? Pertanyaan itu muncul karena adanya penulisan seperti (1), (2), dan (3) di atas.

Mengenai perbedaan arti dokter dan doktor, pada umumnya orang mengetahuinya. Sesuai dengan yang ada dalam buku KBBI, sebagai acuan berbahasa dengan benar, orang memahami bahwa  doktor adalah gelar kesarjanaan tertinggi yg diberikan oleh perguruan tinggi kepada seorang sarjana yang telah menulis dan mempertahankan disertasinya, sedangkan dokter adalah lulusan pendidikan kedokteran yang ahli dalam hal penyakit dan pengobatannya.

Jadi, masalah perbedaan arti kedua kata itu sudah sangat jelas, tetapi cara penulisan singkatannya itu ternyata masih banyak yang ragu-ragu. Sering orang menulis singkatan gelar doktor dengan d besar dan r besar seperti ini DR, padahal yang benar cukup dengan d besar dan r kecil seperti ini Dr. Sementara ini masih banyak terjadi di mana-mana, penulisan singkatan dokter dengan d besar dan r kecil seperti ini Dr. Padahal, yang benar cukup dengan d kecil dan r kecil seperti ini dr.Jadi, menurut kaidah bahasa baku bahasa Indonesia, jika Bapak Subki Abdulkadir bergelar dokter, penulisan singkatan yang benar adalah

dr. Subki Abdulkadir (Benar)

bukan

Dr. Subki Abdulkadir (Salah).

Jika Bapak Subki Abdulkadir bergelar doktor, penulisan singkatan yang benar adalah

Dr. Subki Abdulkadir (Benar)

bukan

DR. Subki Abdulkadir (Salah).

Jika Bapak Subki Abdulkadir gelarnya berderet, misalnya doktor, dokter, insinyur, haji, sarjana hukum, dan sarjana ekonomi, penulisan singkatan yang benar adalah

Dr. dr. Ir. H. Subki Abdulkadir, S.H., S.E.

Jangan lupa pula, Anda harus memperhatikan dengan cermat penggunaan tanda baca titik, koma, serta kerenggangan antarunsurnya.  Bandingkan contoh penulisan di bawah ini.

Dr. dr. Ir. H. Subki Abdulkadir, S.H., S.E. (Benar)

Dr.dr.Ir.H. Subki Abdulkadir, S.H., S.E. (Salah)

Dr. dr. Ir. H. Subki Abdulkadir, SH, SE (Salah)

DR. Dr. Ir. H. Subki Abdulkadir SH., SE. (Salah)

Dr dr Ir H Subki Abdulkadir, S.H., S.E. (Salah)

Dr. dr. Ir. H. Subki Abdulkadir, S.H, S.E (Salah)

Dr. dr. Ir. H Subki Abdulkadir, S.H. S.E. (Salah)

DR. Dr. IR. H. Subki Abdulkadir S.H., S.E. (Salah)

Dr. dr. Ir. H. Subki Abdulkadir, S.H. S.E. (Salah)

Dr. dr. Ir. H. Subki Abdulkadir, S.H, S.E (Salah)

Semoga hal-hal di atas memicu kita untuk lebih cermat dalam berbahasa, terutama  ketika kita berkomunikasi dalam forum resmi, seperti dalam pelantikan; dalam karya tulis keilmuan dan/atau kedinasan.

Oct
23

BAHASA YANG BAIK TETAPI TIDAK BENAR

by syahidin.badru, in: Uncategorized

Dalam situasi santai kita tidak ”diharamkan” berbahasa Indonesia yang baik tetapi tidak benar. Berikut ini contohnya.

(l)     Berapa nih, Bu, bayemnya?

(2)    Ke Pasar Tanah Abang, Bang. Berapa?

Mengapa kalimat (1) dan (2) di atas tergolong bahasa yang baik tetapi tidak benar? Jika demikian, apakah ada bahasa Indonesia yang tidak baik tetapi benar? Apakah ada bahasa Indonesia yang tidak baik dan tidak benar?  Pertanyaan itu kerap disampaikan oleh siswa kepada guru bahasa Indonesia. Guru menjawab, “Ya, bentuk-bentuk yang Anda tanyakan tersebut ada dalam bahasa Indonesia.” Pertanyaan itu muncul karena para siswa pada umumnya lebih akrab dengan slogan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Jika bahasa sudah baku atau standar, baik yang ditetapkan secara resmi lewat surat putusan pejabat pemerintah atau maklumat, maupun yang diterima berdasarkan kesepakatan umum dan yang wujudnya dapat kita saksikan pada praktik pengajaran bahasa kepada khalayak, dapat dengan lebih mudah dibuat pembedaan antara bahasa yang benar dengan yang tidak.  Pemakaian bahasa yang  mengikuti kaidah yang  dibakukan atau yang dianggap baku  itulah yang merupakan bahasa yang benar. 

Jika orang masih membedakan pendapat tentang benar   tidaknya suatu bentuk bahasa, perbedaan paham itu menandakan tidak atau belum adanya bentuk baku yang mantap. Jika dipandang dari sudut itu, kita mungkin berhadapan dengan bahasa yang semua tatarannya sudah dibakukan; atau yang sebagiannya sudah baku,  sedangkan bagian yang lain masih dalam proses pembakuan; ataupun yang semua bagiaanya belum atau tidak akan dibakukan. Bahasa Indonesia, agaknya, termasuk golongan yang kedua. Kaidah ejaan dan pembentukan istilah kita sudah distandarkan; kaidah pembentukan kata yang sudah tepat dapat dianggap baku, tetapi pelaksanaan patokan itu dalam kehidupan.sehari-hari belum mantap.

Orang yang mahir menggunakan bahasanya sehingga maksud hatinya mencapai sasarannya, apa pun jenisnya itu, dianggap telah dapat berbahasa dengan efektif. Bahasanya membuahkan efek atau hasil karena serasi dengan peristiwa atau keadaan yang dihadapinya. Di atas sudah diuraikan bahwa orang yang berhadapan dengan sejumlah lingkungan hidup harus memilih salah satu ragam yang cocok dengan situasi itu. Pemanfaatan ragam yang tepat dan serasi menurut golongan penutur dan jenis pemakaian bahasa itulah yang disebut bahasa yang baik atau tepat. Bahasa yang harus mengenai sasarannya tidak selalu perlu beragam baku. Dalam tawar-menawar di pasar, misalnya, pe­makaian ragam baku akan menimbulkan kegelian, keheranan, atau kecurigaan. Akan sangat ganjillah bila dalam tawar-menawar dengan tukang sayur atau tukang becak kita memakai bahasa baku seperti

(3)   Berapakah ibu mau menjual bayam ini?

(4)  Apakah Bang Becak bersedia mengantar saya ke Pasar Tanah  Abang dan berapa ongkosnya?           

Contoh di atas adalah contoh bahasa Indonesia yang benar, tetapi tidak baik karena tidak cocok dengan situasi pemakaian kalimat-kalimat itu. Untuk situasi seperti di atas, kalimat (5) dan (6) berikut akan lebih tepat.

(5) Berapa nih, Bu, bayemnya?

(6) Ke Pasar Tanah Abang, Bang. Berapa?

Sebaliknya, kita mungkin berbahasa yang baik, tetapi tidak benar. Frasa seperti ini hari merupakan bahasa yang baik di kalangan para makelar karcis bioskop, tetapi bentuk ini bukan merupakan bahasa yang benar karena letak kedua kata dalam frasa ini terbalik.Karena itu, anjuran agar kita “berbahasa Indonesia dengan baik dan benar” dapat diartikan pemakaian ragam bahasa yang serasi dengan sasarannya dan yang di samping itu mengikuti kaidah bahasa yang betul. Ungkapan “bahasa Indonesia yang baik dan benar” mengacu ke ragam bahasa yang sekaligus memenuhi persyaratan kebaikan dan kebenaran. (Sumber: Alwi, Hasan et al. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa, Depdiknas & Balai Pusataka.)