Perubahan Peran Dosen di Era Digital

Di era digital sekarang ini, hubungan antara dosen dan mahasiswa dituntut untuk berubah. Sebelum era digital, akses terhadap sumber ilmu pengetahuan sangat terbatas karena ilmu pengetahuan hanya tersimpan di dua tempat, yaitu di textbook dan di kepala sang dosen. Sehingga, pada masa itu, peran utama dosen adalah menurunkan ilmunya kepada mahasiswa. Namun sekarang, sumber ilmu pengetahuan tersebar luas di dunia maya. Dunia maya menyediakan textbook mulai dari yang tergolong basic hingga yang advanced. Dunia maya juga menyediakan informasi perkembangan ilmu pengetahuan terkini dalam bentuk hasil-hasil penelitian yang terdokumentasi dalam jurnal-jurnal ilmiah. Tidak hanya itu, ilmu pengetahuan dalam bentuk visualisasi seperti foto-foto dan video eksperimen ataupun kuliah online juga melimpah ruah di dunia maya. Semua sumber ilmu pengetahuan tersebut dapat diakses dengan mudah dimanapun, kapanpun dan darimanapun. Mahasiswa dapat mengakses secara mudah dari tempat tidurnya pada pukul 02.30 dini hari; atau dari warung nasi saat dia sarapan pagi; atau di terminal dan stasiun kereta sambil menunggu angkutan umum. Mahasiswa di era digital adalah manusia yang menerima paparan informasi dalam jumlah yang sangat melimpah.

Jadi seorang mahasiswa (jika ada kemauan) bisa saja mendapatkan gambaran isi suatu mata kuliah, sebelum sang dosen tuntas menurunkan ilmunya dalam perkuliahan tatap muka. Pada titik inilah dapat dipahami keniscayaan perubahan hubungan antara dosen dan mahasiswa. Prinsip penting tentang tugas dosen tidak lagi hanya menurunkan ilmunya kepada mahasiswa, melainkan harus membangkitkan kemauan, ketertarikan dan kemampuan mahasiswa secara maksimum untuk mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi. Ketertarikan tersebut akan menjadi motivasi alami bagi mahasiswa guna mengakses sumber ilmu pengetahuan yang telah disebutkan di atas. Bahkan (sekali lagi jika ada kemauan) mahasiswa dapat melihat suatu persoalan dalam berbagai sudut pandang (multidisiplin). Sehingga mahasiswa tidak lagi menjadi obyek pendidikan tapi telah menjadi subyek pendidikan. Ia menjadi pemeran utama, sedangkan dosen bertindak sebagai fasilitator (pengarah) atau boleh juga disebut sutradara.

Dalam konteks ini, maka universitas bertugas untuk menyediakan fasilitas, sarana dan prasarana agar para dosen dan mahasiswa mendapatkan akses ke berbagai sumber pengetahuan. Universitas juga bertugas untuk menyediakan kurikulum yang fleksibel yang memungkinkan potensi mahasiswa untuk tumbuh, bergerak dan berkembang di dalam cakupan ilmu pengetahuan yang digelutinya.

Paradigma pendidikan baru yang dirumuskan dari perubahan situasi dan perubahan zaman sebagaimana uraian di atasĀ adalah sebagai berikut:

  1. Pendidikan dan pembelajaran akan berlangsung sepanjang hayat. Artinya, pendidikan ataupun pembelajaran bukan hanya aktivitas milik siswa sekolah saja; orang dewasa pun masih harus terus belajar.
  2. Mahasiswa bertindak sebagai subyek atau pemeran utama dalam proses pendidikan.
  3. Perubahan yang cepat menjadikan masalah yang kompleks memerlukan pendekatan multidisiplin.
  4. Masalah yang rumit lebih dapat diselesaikan secara berkelompok (team work).
  5. Teknologi informasi terbukti dapat menembus batas ruang dan waktu untuk penyelesaian berbagai masalah.

 

This entry was posted in Kampus. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *