Mengenal Ilmu Geologi

Geologi adalah ilmu multi-disiplin yang mempelajari bumi dan sejarahnya. Kita hidup di planet bumi yang dinamis dan terus berubah. Kemampuan kita untuk bertahan hidup sebagai peradaban dan sebagai spesies sangat terkait erat dengan proses geologi yang membentuk bumi, yang membentuk sumber daya alamnya dan proses geologi yang memungkinkannya untuk pulih dari kerusakan akibat perilaku manusia.

Geologi penting karena hampir semua sumber daya alam yang dibutuhkan manusia seperti minyak, gas, logam, bahan bangunan, dan sebagainya ditemukan oleh mereka yang mengerti geologi. Ahli geologi mampu mengevaluasi daya tahan jalan, kestabilan bangunan dan bendungan dari perspektif dinamika bumi sekaligus menmperkirakan potensi bahayanya. Perlindungan dan pemulihan serta pelestarian lingkungan adalah masalah geologi yang penting, yang selalu dihadapi oleh masyarakat modern.

Ahli Geologi adalah profesi yang menarik, yang biasanya menuntut kemampuan menggabungkan kerja indoor dan outdoor. Mahasiswa geologi menemukan sains dalam arti luas karena geologi menggabungkan pilar-pilar sains astronomi, biologi, kimia, matematika dan fisika untuk memahami bumi dan interaksinya dengan atmosfer, biosfer, dan hidrosfer.

Sejarah bumi yang dipelajari di geologi merupakan satu-satunya jendela untuk memperkirakan kemungkinan dampak iklim global di masa depan. Sebagai sebuah ilmu, Geologi unik dalam fokusnya pada waktu, mulai dari awal lahirnya bumi yaitu lebih dari 4 miliar tahun yang lalu hingga saat ini. Dengan menggabungkan pengetahuan tentang fosil dan indikator lingkungan, ahli geologi mampu merekonstruksi iklim kuno, sistem ekologi, dan geografi yang mengungkapkan lautan tropis atau kutub yang hilang dan pegunungan yang terkikis yang pernah membentang di seluruh benua.

Ahli geologi memainkan peran utama dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya alam, mengevaluasi bagaimana proses alami mempengaruhi semua kehidupan di bumi, dan bagaimana manusia berinteraksi dengan Bumi. Ahli geologi mencari benua dan dasar samudra untuk memperoleh mineral dan bahan bakar penting bagi masyarakat modern, serta mencari air segar yang digunakan setiap hari oleh masyarakat dunia. Mereka bekerja dengan para pegiat lingkungan menemukan pencemaran tanah dan air tanah, dalam mengembangkan rencana untuk pengendalian polusi atau remediasi, dalam penentuan lokasi dan mengembangkan tempat pembuangan limbah, pembangunan jalan dan bendungan, dan dalam evaluasi risiko dan perencanaan guna meminimalkan kehilangan korban jiwa dari bencana banjir, letusan gunung berapi, atau gempa bumi. Ahli geologi lainnya menyibukkan diri dengan sejarah planet ini, menguraikan gerakan benua, distribusi batuan yang dikendalikan iklim, melibatkan evolusi spesies dan perubahan ekosistem.

Geologi membutuhkan pemecahan masalah, visualisasi 3D yang baik dan kemampuan untuk mengumpulkan dan memproses data secara akurat dengan memanfaatkan kemajuan teknologi. Ahli geologi seperti detektif. Data yang memungkinkan ahli geologi untuk memecahkan masalah jarang tiba secara linear. Ahli geologi harus dapat mengumpulkan fragmen informasi dan mengembangkan interpretasi berdasarkan data tersebut. Mereka harus dapat memisahkan data penting dan sepele dan dapat menyesuaikan interpretasi mereka saat data baru diterimanya. Mengembangkan model bumi, baik di pikiran maupun di komputer mereka, sangat penting. Setelah ahli geologi menyelesaikan pekerjaan mereka, mereka harus dapat mengkomunikasikan hasil kerja mereka dengan efektif kepada orang lain. Keterampilan komunikasi verbal dan tertulis yang kuat sangat penting dalam geologi. Sebagian besar ahli geologi bekerja pada masalah praktis yang melibatkan orang. Orang-orang itu, apakah pemilik tanah perorangan, pejabat di semua level pemerintahan, atau CEO perusahaan juga LSM, menginginkan jawaban yang dikomunikasikan dengan cara yang dapat mereka pahami.

Ahli geologi bekerja di setiap benua dari daerah tropis hingga kutub dan bahkan di bawah permukaan lautan. Mereka bekerja dengan berjalan kaki atau merambat pada tali di pegunungan tinggi, di kapal dan di kapal selam, di laboratorium bergerak di truk atau pesawat udara, dan di kantor dan laboratorium di universitas, lembaga penelitian, kantor-kantor pemerintah, dan gedung perkantoran bertingkat tinggi.

Dalam melakukan pekerjaannya, seorang ahli geologi lapangan cukup menggunakan palu, kompas / saku transit, notebook, pensil, dan peta atau unit GPS. Di sisi lain, ahli geologi adalah pengguna terbesar komputer berkinerja tinggi dan teknologi satelit di dunia di luar jaringan intelijen nasional pemerintah. Ahli geofisika menggunakan alat-alat berteknologi kompleks seperti seismograf yang dihubungkan dengan komputer, digunakan untuk merekam gempa bumi, dan gravimeter yang dapat mengukur atraksi gravitasi yang sangat kecil. Geokimiawan menggunakan instrumen elektronik canggih seperti mikroskop elektron untuk menganalisa bagian dari butiran mineral yang berukuran mikroskopis, difraktometer sinar-X untuk mempelajari struktur kristal, dan spektrometer massa untuk menentukan material bumi. Mineralogi dan ahli kristalografi, yang mempelajari sifat mineral, juga menggunakan instrumen ini. Ahli paleontologi, yang mempelajari fosil, dan ahli petrologi, yang mempelajari batu, memerlukan mikroskop, termasuk mikroskop elektron, serta alat-alat geokimia untuk menganalisis obyek yang menarik perhatian mereka. Ahli geologi teknik menggunakan instrumen seperti bor, inclinometer (untuk mengukur gerakan kemiringan) dan perangkat geser lubang bor (untuk mengukur kekuatan material).

Sebagaimana dibahas sebelumnya, geologi adalah ilmu multi-disiplin yang luas. Sebagai mahasiswa sarjana geologi, perhatian utama Anda adalah menguasai disiplin geologi yang luas itu. Jika Anda melanjutkan studi pascasarjana, Anda mungkin akan mengkhususkan diri dalam salah satu disiplin ilmu geologi yang tercantum di bawah ini:

Kristalografi: studi kimia dan susunan atom-atom dalam mineral

Sains Kebumian: studi tentang interaksi lautan, atmosfer, dan bumi padat untuk tujuan memahami kondisi lingkungan masa lalu, sekarang, dan masa depan

Geologi Ekonomi: asal-usul, lokasi, dan aspek lain dari sumberdaya alam yang bernilai ekonomi; termasuk logam, non-logam (batuan dan mineral industri), dan pasokan air tanah (lokasi dan kejadian air bawah permukaan)

Geologi Lingkungan: studi geologi lingkungan alam kita; terutama berkaitan dengan pelestarian kualitas lingkungan, masalah polusi, dan bencana alam kebumian

Geologi Lapangan: pengumpulan, interpretasi, dan sintesis data geologi di lapangan yang dituangkan dalam peta geologi

Geoarkeologi: interpretasi geologi dari situs arkeologi

Geokimia: mempelajari proses kimia di dalam, di permukaan dan di atas bumi

Geokronologi: studi tentang waktu kejadian geologi; biasanya melibatkan penentuan usia absolut

Geoinformatika: pemanfaatan komputer dan peralatan penyimpanan data untuk simulasi, analisis dan sintesis data geologi

Geomorfologi: asal dan deskripsi bentuk-bentuk permukaan bumi

Geomorfometri: pengukuran berbagai tingkat proses pembentuk lanskap

Geofisika: “studi fisika bumi” – termasuk Seismologi (studi gempa bumi) dan studi lain tentang sifat fisik

Hidrogeologi: studi tentang air bawah permukaan (air tanah) dan aspek geologi terkait dari air permukaan

Hidrologi: studi tentang pergerakan air di permukaan bumi; Bahaya banjir merupakan perhatian utama

Geologi Kelautan: studi berbagai aspek geologi lautan dan daerah pesisir

Mineralogi: studi struktur kristal dan kimia, identifikasi, klasifikasi dan genesa atau pembentukan mineral

Mineralogi Optik: studi tentang sifat-sifat mineral melalui cahaya yang ditransmisikan melalui mineral; menggunakan mikroskop petrografi

Paleontologi: studi tentang kehidupan kuno (fosil) – termasuk, paleobotani (tumbuhan); paleontologi vertebrata (hewan dengan tulang punggung); paleontologi invertebrata (hewan tanpa tulang belakang); mikropaleontologi (fosil berukuran mikroskopis); dan palynology (spora dan serbuk sari)

Petrografi: deskripsi mineralogi, tekstur, dan struktur batuan

Petrologi: mempelajari batuan, termasuk informasi tentang kimia; klasifikasi; mineralogi, kejadian, bentuk dan struktur massa batuan (petrografi), dan asal batu (petrogenesa)

Planetologi: studi tentang planet, termasuk asal batu mereka dan pengembangan struktur planet

Penginderaan Jauh: pemanfaatan foto udara (dan teknik penginderaan tidak langsung atau jauh lainnya) untuk menentukan berbagai aspek geologi. Istilah sekarang sebagian besar digantikan oleh remote sensing

Sedimentologi: studi tentang faktor lingkungan mengendalikan asal sedimen dan batuan sedimen; pengembangan model pengendapan

Stratigrafi: studi tentang batuan berlapis (sedimen), dengan penekanan pada hubungan mereka satu sama lain berkaitan dengan waktu dan asal

Geologi Struktur: asal-usul fitur geologi yang dihasilkan oleh tekanan di dalam kerak bumi (seperti lipatan dan patahan)

Tektonik: aspek geologi struktur berskala besar atau di seluruh dunia; umumnya melibatkan asal pegunungan, cekungan laut, benua, dll.

Posted in Geosains | Leave a comment

Kolaborasi Riset Bersama Mahasiswa

Saya membuka kesempatan kepada mahasiswa yang ingin berkolaborasi dalam rangka riset/penelitian, baik untuk Tugas Akhir (skripsi, tesis dan disertasi) maupun untuk publikasi di prosiding dan jurnal. Tema penelitian yang saya sukai adalah segala hal yang berhubungan dengan geosains khususnya eksplorasi sumber daya alam, penanganan masalah lingkungan dan mitigasi bencana kebumian.

Jika dalam kolaborasi tersebut menghasilkan suatu karya ilmiah, misalnya makalah ilmiah, maka saya minta agar nama saya diposisikan diurutan terakhir pada daftar nama-nama author. Kemudian tuliskan afiliasi saya yaitu Program Studi Geofisika FMIPA Universitas Indonesia, Kampus UI Depok, 16424.

Jika Anda berminat berkolaborasi dengan saya, silakan hubungi saya melalui alamat email: supriyanto@sci.ui.ac.id. Perkenalkan diri Anda, asal kampus Anda, jelaskan tema penelitian yang akan Anda kerjakan.

Pada tahun 2017, beberapa artikel hasil kolaborasi antara saya dan mahasiswa telah muncul di Scopus. Lihat Gambar di bawah ini

 

Leave a comment

Kemana arah geofisika UI?

Geofisika sebagai ilmu dasar bertujuan menemukan hal-hal baru di bumi Indonesia yang sangat berarti bagi dunia ilmu pengetahuan baik di dalam negeri maupun di manca negara. Penemuan yang demikian merupakan dasar penelitian-penelitian yang lebih rinci.

Geofisika sebagai ilmu terapan yaitu menerapkan dasar-dasar ilmu fisika untuk mencari sumber daya alam yang dikandung bumi dengan tujuan ekonomi, yaitu mensejahterakan rakyat. Sebagai ilmu terapan, geofisika memegang peranan penting dalam kegiatan eksplorasi dalam pencarian sumber daya alam seperti minyak dan gas bumi, mineral, batubara, air tanah dan sumber panasbumi. Kaidah fisika yaitu kegempaan, kemagnetan, gravitasi, kelistrikan dan keradioaktifan adalah landasan perancangan cara-cara eksplorasi sumber daya alam. Di samping eksplorasi untuk sumber daya alam, geofisika juga digunakan untuk keperluan pembangunan infrastruktur, seperti pembuatan waduk, jalan raya, jalan tol dan bangunan seperti jembatan, gedung, bertingkat, dsb.

Perkembangan geofisika untuk eksplorasi sangat cepat yang meliputi akuisisi data, pengolahan data dan interpretasi data. Perangkat keras dan lunak banyak tercipta untuk mendapatkan data yang baik dan terpercaya. Pengolahan data memegang peranan sangat penting dalam pekerjaan eksplorasi. Bagian ini memerlukan pengetahuan matematika dan ilmu komputer, sedangkan akuisisi data memerlukan pengetahuan perangkat elektronika maupun peralatan mekanik. Sementara, bagian interpretasi memerlukan pengetahuan geologi yang cukup.

Ke arah mana pengajaran geofisika di Universitas Indonesia? Ke ilmu dasar atau ilmu terapan? Atau kedua-duanya? Akankah seseorang yang belajar geofisika sebagai ilmu dasar dapat bekerja sebagai ahli geofisika terapan? Tentunya dapat, karena dasar-dasarnya juga di dapat di ilmu dasar. Di Universitas Indonesia kedua ilmu tersebut diajarkan secara berurutan dengan porsi seimbang.

Namun ada hal yang lebih mendasar untuk menjawab pertanyaan di atas, yaitu kehendak pemerintah saat meminta UI membuka Program Studi S1 Geofisika. Rektor UI, Prof. Dr. Ir. Muhammad Anis, M.Met, menerima surat mandat pendirian program studi baru dari Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang pada masa itu dijabat oleh Prof. Dr. Ir. Djoko Santoso, M.Sc. Surat bernomor 358/E.E2/DT/2014 tertanggal 16 April 2014 berisikan mandat kepada UI untuk menyelenggarakan 2 (dua) program studi (prodi) S1 yang terkait langsung dengan ilmu kebumian yaitu Program Studi S1 Geofisika dan Program Studi S1 Geologi. Mandat diberikan dalam rangka menyikapi fenomena bencana alam berupa aktifitas gunung api dan gempa bumi yang memperlihatkan peningkatan frekuensi dan intensitas, serta menjawab tantangan pengelolaan sumber daya alam, mineral serta energi bumi di Indonesia. Dirjen Dikti juga menggarisbawahi bahwa pengembangan kedua program studi tersebut dimaksudkan untuk a) mendukung keberlanjutan pemanfaatan sumber daya alam dalam bingkai masyarakat yang berketahanan, b) penyelamatan bumi serta sumber daya alam Indonesia dan c) meningkatkan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana.

Pada tingkat pertama, mahasiswa diwajibkan mengambil matematika, fisika, kimia, biologi dan geologi dasar. Pada tingkat dua, diajarkan geologi lanjut seperti geologi struktur, geodinamika, kristalografi dan mineralogi, dasar elektronika dan komputasi numerik. Pada tingkat tiga, mahasiswa akan diajarkan metode-metode geofisika, pengolahan dan analisis data geofisika, geostatistika, geokimia, penginderaan jauh serta geologi untuk eksplorasi sumber daya alam (minyak dan gas bumi, panasbumi, mineral logam dan non logam, air tanah, mitigasi bencana). Dan pada tingkat empat mahasiswa akan diajarkan cara-cara eksplorasi sumberdaya alam dengan menerapkan dan mempraktekan cara akusisi, pengolahan serta interpretasi dalam lingkup kerja praktek di industri dan penelitian tugas akhir (skripsi). Selengkapnya dapat dilihat pada distribusi mata kuliah per semester di bawah ini

Leave a comment

Geologi & Geofisika Seperti Dua Sisi Koin Mata Uang

Geofisika merupakan salah satu ilmu kebumian yang mempelajari alam dan isinya memanfaatkan kaidah-kaidah ilmu fisika. Selama manusia hidup, mereka akan tetap membutuhkan bahan galian yang ditambang dari dalam bumi, mereka akan membutuhkan energi yang sebagian besar juga masih diperoleh dari bagian dalam bumi, yang tidak dapat dilihat dengan kasat mata. Kitapun akan membutuhkan tempat bermukim yang aman dari gangguan bencana alam, yang merupakan gejala alam yang masih harus dipahami oleh para pakar kebumian, untuk mengurangi dampak kerugiannya. Unsur-unsur tersebut akan semakin langka, semakin sulit diperoleh dan diidentifikasi, sehingga memerlukan cara-cara dan pendekatan baru yang lebih maju untuk mendapatkannya.

Metoda pengamatan geofisika sudah dikenal sebagai suatu cara yang tidak memerlukan sentuhan langsung terhadap obyek yang diselidiki. Kaidah-kaidah ilmu fisika dengan perantaraan medan gravitasinya, medan listriknya, medan magnetnya, gelombang seismiknya, gelombang soniknya, sifat-sifat radioaktifitasnya dan lain-lain memberikan cara bagaimana dapat menyelidiki obyek-obyek tadi.

Dilain pihak, geologi sebagai salah satu ilmu kebumian justru memerlukan sentuhan-sentuhan dan penglihatan nyata dalam melakukan pengamatan terhadap bentuk dan jenis dari suatu obyek. Namun pada akhirnya sebagai kesimpulan, pengamat geologi harus mampu untuk melakukan prediksi, terhadap bentuk daripada obyek yang tidak dapat mereka sentuh dan lihat, karena memang berada diluar jangkauan tangan dan mata mereka, karena berada jauh di bawah permukaan bumi. Meskipun statusnya masih prediksi, asumsi ataupun perkiraan, tentunya diharapkan hasilnya tidak terlalu menyimpang dari kenyataan.

Dari uraian di atas, akan dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa kedua ilmu kebumian tadi mempunyai segi-segi kelemahan sendiri-sendiri untuk melakukan analisis, yang mampu menghasilkan luaran yang sempurna, mendekati kenyataan dengan penyimpangan sekecil mungkin. Untuk itu diperlukan kerjasama dari kedua ilmu kebumian tadi agar lebih tajam dalam mengungkap bagaimana dan apa sebenarnya yang tersimpan di dalam permukaan bumi. Geologi dan Geofisika tidak bisa dipisah-pisah, keduanya harus menyatu bagaikan dua sisi koin mata uang.

Posted in Geosains | Leave a comment

Masalah Ruang Lingkup Kurikulum Geofisika

Jika dilihat dari akar keilmuannya, geofisika ada di antara ilmu geologi dan ilmu fisika. Geologi adalah ilmu yang mempelajari berbagai ilmu yang ada di kerak bumi, sedangkan fisika adalah ilmu yang mempelajari semua proses dan gaya yang bekerja pada materi. Jadi geofisika adalah ilmu yang menerapkan prinsip-prinsip fisika untuk mengetahui dan memecahkan masalah yang berhubungan dengan bumi atau dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari bumi dengan prinsip-prinsip fisika.

Perkembangan kegeofisikaan terjadi karena para ahli mengembangkan keilmuan tanpa melihat tumpang tindih akar keilmuan. Misalnya Sir Isaac Newton (ahli fisika) yang menjelaskan tentang pembentukan pegunungan melalui teori kontraksi. Pada saat sekarang ini ilmu geofisika mengalami pengayaan serupa dari berbagai cabang ilmu maupun teknologi contohnya elektronika instrumentasi, komputasi, basis data dan informatika, penginderaan jauh, ekonomi, manajemen, teknologi infrastruktur, teknologi pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam, teknologi dan mitigasi bencana kebumian, teknologi dan pengelolaan lingkungan, dan lain-lain. Akibatnya kegeofisikaan mempunyai cakupan yang luas. Ia menjadi ilmu dan kemudian berkembang menjadi teknologi. Konsekuensinya geofisika mempunyai cakupan yang lebar, mulai dari ilmu murni hingga rekayasa.

Sehingga, masalah dalam penyusunan kurikulum Program Studi Geofisika adalah hingga seberapa jauh akan dicakup? Jika kita melihat kepada Gambar setidaknya dapat dikelompokkan kepada 4 kelompok, yaitu yang berpijak pada akar keilmuannya, menjadi kelompok fisika yang memiliki ketercakupan hingga geofisika, kelompok geologi yang memiliki ketercakupan hingga geofisika, kelompok geofisika dengan ketercakupan hingga terapannya dan kelompok teknik geofisika yang memiliki ketercakupan mulai dari terapannya.

Referensi:

  1. Djoko Santoso dan Satryo Sumantri Brodjonegoro, Pendidikan Geofisika dan Perundangan Pendidikan Baru di Indonesia, HAGI-Prosiding Lokakarya Nasional Pendidikan Geofisika Indonesia, 9-10 Oktober 2003, Yogyakarta
Posted in Kampus | Leave a comment

Lab. Pemodelan Geofisika

Geofisika merupakan bidang ilmu yang mengkombinasikan metodologi ilmu fisika dan konsep ilmu geologi untuk memetakan struktur bawah permukaan bumi. Salah satu manfaat ilmu geofisika adalah untuk mengetahui keberadaan sumber daya alam yang tersimpan di dalam bumi, seperti minyak bumi, gas alam, batubara, mineral bahan tambang, panasbumi dan air tanah. Lebih jauh lagi, ilmu geofisika juga bisa dimanfaatkan untuk kepentingan lingkungan, diantaranya pemetaan sebaran pencemaran limbah di bawah tanah. Data geofisika harus diambil terlebih dahulu sebelum dianalisa hingga diperoleh gambaran bawah permukaan bumi.

Pengambilan data geofisika umumnya dilakukan di atas permukaan tanah menggunakan metode seismik, gravitasi, elektromagnetik maupun penginderaan jauh. Data geofisika tersebut kemudian diolah dengan berbagai pilihan metode matematika agar didapat sifat fisis tertentu atau karakteristik fisis yang memungkinkan antar batuan dapat dibedakan secara jelas. Distribusi karakteristik atau sifat fisis tersebut selanjutnya ditampilkan secara 1 dimensi, 2 dimensi, 3 dimensi, bahkan 4 dimensi. Hasil ini disebut model bawah permukaan bumi. Model yang ideal adalah model yang benar-benar menyerupai kondisi bawah permukaan bumi. Namun hal ini relatif sulit dicapai mengingat kompleksitas bawah permukaan bumi, dimana hanya Tuhan yang tahu situasi yang sesungguhnya di bawah sana.

Laboratory of Geophysical Modeling atau di-Indonesia-kan menjadi Lab. Pemodelan Geofisika merupakan laboratorium yang berkonsentrasi pada pengolahan dan pemodelan data geofisika. Laboratorium, yang bernaung di bawah Program Studi Geofisika, FMIPA Universitas Indonesia, didirikan pada Juli 2012. Laboratorium ini, semenjak awal didirikan tidak mengkhususkan pada satu metode geofisika tertentu. Data seismik, data gravitasi, data elektromagnetik, dan data satelit, semuanya menjadi tantangan yang menarik untuk dimodelkan di Lab. Pemodelan Geofisika. Sejumlah perangkat lunak terus dikembangkan atau dilengkapi agar menunjang tujuan dari dibuatnya lab ini.

Bagaimana cara mengukur tingkat aktifitas dan produktifitas suatu lab? Kami memilih jawaban pertanyaan ini dengan menghitung jumlah publikasi selama setahun. Kami beranggapan bahwa publikasi adalah produk akhir dari dinamika riset yang terjadi di dalam Lab. Pemodelan Geofisika. Maka dari itu, slogan yang digelorakan di dalam Lab. Pemodelan Geofisika adalah “Our job is making paper“. Di dalam lab ini, suatu publikasi bisa jadi berasal dari kerja keras mahasiswa dalam menuntaskan tugas akhir (skripsi atau tesis) dan kerja praktek, bisa juga berasal dari hasil kegiatan Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM), atau berasal dari hibah riset penelitian yang didanai oleh UI maupun luar UI, atau juga dari proyek-proyek riset yang menggandeng institusi pemerintah maupun swasta dalam wadah kolaborasi riset.

Interaksi antar mahasiswa ataupun dosen di dalam Lab. Pemodelan Geofisika dibangun atas dasar semangat egaliter dan kerjasama untuk saling mengisi kekosongan wawasan pengetahuan. Dosen ataupun pembimbing tidak menempatkan dirinya sebagai satu-satu orang yang paling tahu. Dosen juga berhak mendapatkan pengetahuan dari mahasiswa yang dibimbingnya manakala mahasiswa tersebut sudah lebih dulu membaca paper terbaru ataupun sudah lebih dulu mempelajari software terbaru. Etika interaksi ini sesungguhnya mengikuti apa yang disebut sebagai The Herman’s Law. Interaksi antara dosen dan mahasiswa harus bersifat simbiosis mutualisme; dan bukan layaknya interaksi antara atasan dan bawahan.

Akhir kata, Lab. Pemodelan Geofisika memanggil dan mengundang para mahasiswa S1 dan S2 yang menyukai tantangan sebagaimana termaksud di atas. Tidak perlu menunggu IPK menjadi di atas 3 agar bisa bergabung bersama lab ini. Cukup dengan kuatkan tekad dan semangat pantang menyerah serta membawa modal ketekunan, maka anda akan diterima menjadi bagian dari lab ini. Ketekunan adalah jalan yang terpercaya untuk menghantarkan kita semua menuju kesuksesan.

Posted in Geosains | Leave a comment

Perubahan Peran Dosen di Era Digital

Di era digital sekarang ini, hubungan antara dosen dan mahasiswa dituntut untuk berubah. Sebelum era digital, akses terhadap sumber ilmu pengetahuan sangat terbatas karena ilmu pengetahuan hanya tersimpan di dua tempat, yaitu di textbook dan di kepala sang dosen. Sehingga, pada masa itu, peran utama dosen adalah menurunkan ilmunya kepada mahasiswa. Namun sekarang, sumber ilmu pengetahuan tersebar luas di dunia maya. Dunia maya menyediakan textbook mulai dari yang tergolong basic hingga yang advanced. Dunia maya juga menyediakan informasi perkembangan ilmu pengetahuan terkini dalam bentuk hasil-hasil penelitian yang terdokumentasi dalam jurnal-jurnal ilmiah. Tidak hanya itu, ilmu pengetahuan dalam bentuk visualisasi seperti foto-foto dan video eksperimen ataupun kuliah online juga melimpah ruah di dunia maya. Semua sumber ilmu pengetahuan tersebut dapat diakses dengan mudah dimanapun, kapanpun dan darimanapun. Mahasiswa dapat mengakses secara mudah dari tempat tidurnya pada pukul 02.30 dini hari; atau dari warung nasi saat dia sarapan pagi; atau di terminal dan stasiun kereta sambil menunggu angkutan umum. Mahasiswa di era digital adalah manusia yang menerima paparan informasi dalam jumlah yang sangat melimpah.

Jadi seorang mahasiswa (jika ada kemauan) bisa saja mendapatkan gambaran isi suatu mata kuliah, sebelum sang dosen tuntas menurunkan ilmunya dalam perkuliahan tatap muka. Pada titik inilah dapat dipahami keniscayaan perubahan hubungan antara dosen dan mahasiswa. Prinsip penting tentang tugas dosen tidak lagi hanya menurunkan ilmunya kepada mahasiswa, melainkan harus membangkitkan kemauan, ketertarikan dan kemampuan mahasiswa secara maksimum untuk mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi. Ketertarikan tersebut akan menjadi motivasi alami bagi mahasiswa guna mengakses sumber ilmu pengetahuan yang telah disebutkan di atas. Bahkan (sekali lagi jika ada kemauan) mahasiswa dapat melihat suatu persoalan dalam berbagai sudut pandang (multidisiplin). Sehingga mahasiswa tidak lagi menjadi obyek pendidikan tapi telah menjadi subyek pendidikan. Ia menjadi pemeran utama, sedangkan dosen bertindak sebagai fasilitator (pengarah) atau boleh juga disebut sutradara.

Dalam konteks ini, maka universitas bertugas untuk menyediakan fasilitas, sarana dan prasarana agar para dosen dan mahasiswa mendapatkan akses ke berbagai sumber pengetahuan. Universitas juga bertugas untuk menyediakan kurikulum yang fleksibel yang memungkinkan potensi mahasiswa untuk tumbuh, bergerak dan berkembang di dalam cakupan ilmu pengetahuan yang digelutinya.

Paradigma pendidikan baru yang dirumuskan dari perubahan situasi dan perubahan zaman sebagaimana uraian di atas adalah sebagai berikut:

  1. Pendidikan dan pembelajaran akan berlangsung sepanjang hayat. Artinya, pendidikan ataupun pembelajaran bukan hanya aktivitas milik siswa sekolah saja; orang dewasa pun masih harus terus belajar.
  2. Mahasiswa bertindak sebagai subyek atau pemeran utama dalam proses pendidikan.
  3. Perubahan yang cepat menjadikan masalah yang kompleks memerlukan pendekatan multidisiplin.
  4. Masalah yang rumit lebih dapat diselesaikan secara berkelompok (team work).
  5. Teknologi informasi terbukti dapat menembus batas ruang dan waktu untuk penyelesaian berbagai masalah.

 

Posted in Kampus | Leave a comment

Berbagai Visi Universitas

Universitas merupakan institusi yang mempunyai empat misi utama yaitu (1) mengajar mahasiswa menjadi orang yang berbudaya, (2) mendorong aktivitas penelitian (research), (3) mencetak pemimpin masa depan dan (4) mendidik mahasiswa agar menjadi kompeten  dalam keprofesiannya (Gasset, 1966). Ke-empat misi tersebut akan membentuk visi suatu universitas. Perbedaan porsi penguatan di ke-empat misi tersebut menentukan warna visi suatu universitas.

Sekarang ini terdapat dua aliran visi universitas. Pertama ialah universitas riset, yaitu universitas yang mengutamakan kegiatan riset dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan. Universitas semacam ini relatif sedikit melakukan kegiatan pendidikan dalam jenjang sarjana, pelatihan-pelatihan untuk karyawan industri, maupun pengabdian kepada masyarakat. Kedua adalah universitas komprehensif, yaitu universitas yang cenderung mendidik mahasiswa dengan berbagai bidang disiplin dan khususnya untuk tingkat sarjana. Universitas semacam ini juga menyiapkan mahasiswanya untuk dapat berkarir pada berbagai bidang dan profesi. Konsekuensinya, universitas ini tidak memiliki porsi aktifitas riset yang besar.

Berdasarkan Statuta Universitas Indonesia (PP No 68/2013), visi Universitas Indonesia telah ditetapkan yaitu untuk menjadi pusat ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebudayaan yang unggul dan berdaya saing, melalui upaya mencerdaskan kehidupan bangsa untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sehingga berkontribusi bagi pembangunan masyarakat Indonesia dan dunia.

Posted in Kampus | Leave a comment

Registrasi Akademik dan Jumlah sks Maksimum

Registrasi akademik dilakukan dengan melakukan pengisian IRS (Isian Rencana Studi)  melalui sistem informasi akademik (SIAK NG). Mahasiswa mengisi IRS secara 0n-line sesuai dengan kurikulum yang berlaku untuk mahasiswa tersebut. Jumlah sks yang diperbolehkan diambil disesuaikan dengan IPS (Indeks Prestasi Semester) pada semester terakhir mahasiswa tersebut berstatus Aktif, tidak termasuk semester pendek. Jumlah sks maksimum yang dapat diambil oleh mahasiswa pada setiap semester adalah

Dalam kasus tertentu Wakil Dekan atas usul Ketua Program Studi dapat mempertimbangkan untuk mengizinkan mahasiswa mengambil sks lebih dari jumlah maksimum sebagaimana diatur dalam tabel di atas. Jumlah sks yang diperbolehkan untuk diambil khusus untuk semester pendek mengikuti ketentuan yang berlaku tentang semester pendek.

Posted in Kampus | Leave a comment

Beberapa Kemungkinan Status Akademik Mahasiswa

Pada setiap semester, mahasiswa memiliki kemungkinan-kemungkinan berstatus akademik tertentu. Pada lingkungan Universitas Indonesia, beberapa kemungkinan status mahasiswa terdiri atas :

  1. Aktif, yaitu melakukan registrasi administrasi dan registrasi akademik serta aktif melakukan kegiatan akdemik;
  2. Tidak Aktif (kosong), yaitu tidak melakukan registrasi administrasi dan/atau registrasi akdemik;
  3. Cuti Akademik, tidak melakukan kegiatan akademik selama satu atau dua semester dengan persetujuan Dekan karena keinginan mahasiswa;
  4. Cuti Akademik Dengan Alasan Khusus, yaitu tidak melakukan kegiatan akademik selama satu atau dua semester dengan persetujuan Dekan karena halangan yang tidak dapat dihindari;
  5. Kuliah di luar Universitas yaitu melakukan kegiatan akdemik di perguruan tinggi mitra, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, karena mengikuti program pertukaran mahasiswa atau program lain yang diakui universitas;
  6. Overseas, yaitu melakukan kegiatan akademik diperguruan tinggi mitra di luar negri karena mengikuti program double degree atau joint degree;
  7. Sanksi, yaitu tidak diizinkan mengikuti kegiatan akdemik selama satu atau beberapa semester karena pelanggaran tata tertib universitas berdasarkan rekomendasi dari Panitia Penyelesaian Pelanggaran Tata Tertib dan ditetapkan dengan surat keputusan Rektor;
  8. Lulus, yaitu telah memenuhi semua pesyaratan akademik dan administratif untuk ditetapkan sebagai sarjana;
  9. Dikeluarkan, yaitu tidak memenuhi persyaratan akademik minimal untuk melanjutkan studi sehingga ditetapkan sebagai putus studi karena alasan akademik dan/atau non-akademik;
  10. Mengundurkan Diri, yaitu menyatakan berhenti kuliah di universitas atas permintaan sendiri;
  11. Meninggal, yaitu tidak melanjutkan studi karena meninggal dunia, berdasarkan surat keterangan dari Dekan;

Referensi:

Pasal 25 SK Rektor UI Nomor 2198/SK/R/UI/2013 Tentang Penyelenggaraan Program Sarjana di Universitas Indonesia

Posted in Kampus | Leave a comment