Pengalaman Belajar dalam Konteks Geosains

Pengalaman belajar untuk mencapai kompetensi kawasan kognitif meliputi menghafal, memahami, mengaplikasikan, menganalisis, mensitesakan dan menilai pengalaman belajar.

Pengalaman belajar untuk kegiatan hafalan dapat berupa menyebutkan lapisan-lapisan bumi, macam-macam batuan, tipe-tipe gunung api, siklus air, jenis-jenis muatan listrik, jenis-jenis gelombang. Jenis materi pembelajaran yang perlu dihafal dapat berupa fakta dan prosedur.

Pengalaman belajar untuk tingkat pemahaman dilakukan dengan mengidentifikasikan dan membandingkan karakteristik suatu obyek atau fenomena atau keadaan yang ada di alam. Jenis materi pembelajaran yang perlu dipahami juga meliputi konsep dan prinsip.

Pengalaman belajar tingkatan aplikasi dilakukan dengan jalan menerapkan konsep/prinsip ilmiah untuk membuat model suatu fenomena atau keadaan yang terjadi di alam

Pengalaman belajar tingkatan analisis dilakukan dengan jalan menerapkan sejumlah konsep/prinsip yang saling berkaitan dan tepat secara ilmiah untuk menyimpulkan suatu fenomena atau keadaan yang terjadi di alam

Pengalaman belajar tingkatan sintesis dilakukan dengan memadukan berbagai unsur atau komponen untuk membentuk metode baru yang bisa memecahkan suatu permasalahan.

Pengalaman belajar untuk mencapai kemampuan dasar tingkatan penilaian dilakukan dengan memberikan penilaian terhadap objek studi menggunakan kriteria tertentu.

Pengalaman belajar yang perlu dilakukan agar mahasiswa mencapai tingkatan kompetensi afektif yaitu dengan mengamati dan menirukan contoh/model, mendatangi objek studi yang dapat memupuk pertumbuhan nilai, kejujuran dalam pengambilan data dan analisis data, perasaan malu jika berbuat salah, berbuat atau berpartisipasi aktif sesuai dengan tuntutan nilai yang dipelajari dan sebagainya.

Untuk kawasan psikomotor, pengalaman belajar yang dapat dilakukan untuk mencapai kompetensi ini adalah berlatih dengan frekuensi tinggi dan intensif, latihan menirukan, menstimulasikan, mendemonstrasikan, gerakan yang ingin dikuasai, misalnya cara-cara benar sesuai tahapan untuk membuat sayatan tipis, cara akuisisi data georadar, cara menggunakan kompas, cara menggunakan mikroskop polarisasi, dan sebagainya.

Posted in Kampus | Leave a comment

Proses Pembelajaran Praktik Kerja itu Sebetulnya Berapa SKS?

Pasal 19 ayat 4 Permendikbud No.3 Thn 2020 Tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi berbunyi:

Bentuk Pembelajaran 1 (satu) Satuan Kredit Semester pada proses pembelajaran berupa praktikum, praktik studio, praktik bengkel, praktik lapangan, praktik kerja, penelitian, perancangan, atau pengembangan, pelatihan militer, pertukaran pelajar, magang, wirausaha, dan/atau Pengabdian kepada Masyarakat, 170 (seratus tujuh puluh) menit per minggu per semester.

Contoh nyata:


Mahasiswa Geosains mendapat kesempatan melakukan praktik kerja di Pertamina, Jakarta. Pihak Pertamina mewajibkan mahasiswa untuk datang ke kantor Pertamina di depan Stasiun Gambir setiap hari kerja dari Senin sampai Jum’at, dari jam 08:00 sampai 16:00 WIB.


Pada hari Senin, mahasiswa melaksanakan praktik kerja dari jam 08:00 sampai 16:00 atau 8 jam atau 480 menit. Demikian pula di hari Selasa, Rabu, Kamis, dan Jum’at. Sehingga dalam sepekan dia menghabiskan waktu untuk praktik kerja selama 480 menit x 5 hari = 2.400 menit. Agar bisa disetarakan dengan SKS, maka 2.400 menit itu mesti dibagi dengan 170 menit, didapat 14,12 SKS. Jumlah pekan dalam 1 semester biasanya ada 16 pekan; atau anggaplah sama dengan 4 bulan.

Dalam konteks Pembelajaran Praktik Kerja, 1 semester itu tidak dibatasi hanya 16 pekan. Menurut Pasal 16 ayat 2 Permendikbud No 3 Tahun 2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi disebutkan bahwa Semester merupakan satuan waktu proses pembelajaran efektif selama paling sedikit 16 (enam belas) minggu, termasuk ujian tengah semester dan ujian akhir semester.

Maka kalau dikembalikan kedalam pengertian umum bahwa 1 semester terdiri atas 6 bulan, jumlah yang tepat adalah 14,12 SKS (untuk 4 bulan) ditambah 7,6 SKS (untuk 2 bulan) yaitu 21,62 SKS.

Berdasarkan hitungan SKS tersebut, dapat dipahami bahwa SKS pembelajaran praktik kerja yang pantas dihargai sebanyak 20 SKS itu adalah jika mahasiswa melaksanakan praktik kerja selama full 6 bulan.

Mahasiswa yang melaksanakan praktik kerja di suatu perusahaan yang mewajibkan dia masuk dari jam 08:00 dan pulang pada jam 16:00 selama 4 bulan, maka mahasiswa itu berhak mendapatkan 14,12 SKS.

Bagaimana kalau pihak perusahaan memberikan waktu hanya sebulan? Ya, tinggal dibagi 4 saja, 14,12 SKS : 4 = 3,53 SKS.

Mahasiswa yang melaksanakan praktik kerja selama 2 Semester atau 12 bulan, maka berhak dihargai 40 SKS, dan itu sesuai dengan Pasal 18 ayat 3cPermendikbud No 3 Tahun 2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi.

Posted in Kampus | Leave a comment

Penelitian & Pengabdian Masyarakat buat Mahasiswa Geosains

Kuliah di kelas maupun praktikum di lapangan membekali mahasiswa dengan ilmu dan pengalaman. Bekal tersebut dimanfaatkan saat mengerjakan penelitian. Penelitian bertujuan untuk memecahkan sesuatu yang dianggap masalah. Metode pemecahan masalah yang sudah teruji valid, pada gilirannya, ditularkan atau disosialisasikan kepada masyarakat dalam suatu bentuk kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

Universitas Indonesia menyediakan dana penelitian dan pengabdian masyarakat dalam bentuk hibah yang terpisah, yaitu hibah penelitian dan hibah pengabdian masyarakat. Meskipun yang mengajukan harus seorang dosen, kesempatan mahasiswa untuk terlibat dalam penelitian dan pengabdian masyarakat sangat terbuka lebar. Adanya keterlibatan mahasiswa menjadi syarat untuk mendapatkan hibah-hibah tersebut.

Target kegiatan penelitian adalah menulis artikel ilmiah untuk dipublikasikan dalam seminar nasional/internasional. Mahasiswa, dengan dana dari hibah penelitian, yang ingin berpartisipasi akan dibiayai seluruhnya meliputi biaya registrasi, transportasi, dan  akomodasi. Tidak dibatasi di dalam negeri, seminar di luar negeri pun sangat memungkinkan. Sementara target kegiatan pengabdian masyarakat adalah (1) pemberitaan di media cetak atau online berskala nasional, (2) foto dan video kegiatan yang terakses di dunia maya atau media sosial. Semuanya itu memberikan pengalaman yang sangat berharga buat mahasiswa.

Leave a comment

EWAS (Earthquake Warning Alert System)

Para Peneliti dari Departemen Geosains, FMIPA – Universitas Indonesia yang berlatarbelakang ilmu kebumian dan instrumentasi telah berhasil merancang alat untuk mendeteksi kehadiran gempa bumi. Alat itu dinamakan EWAS (Earthquake Warning Alert System), suatu alat yang dirancang khusus sebagai pengganti panca indera manusia, agar menihilkan faktor subyektifitas, yang mampu mendeteksi kehadiran gempa bumi. Untuk mendeteksi adanya getaran dalam kawasan yang luas, alat EWAS memanfaatkan sensor getaran, sirine/alarm dan modul komunikasi gelombang radio, seperti yang biasa digunakan pada alat komunikasi handy talkie. Cara instalasi alat EWAS tergolong mudah, sehingga masyarakat dipastikan bisa memasang sendiri, tentunya dengan petunjuk pemasangan yang disediakan. Biaya perancangan relatif murah dan terjangkau dengan  harga yang tidak melebihi harga sebuah handphone. Namun demikian, belum ada satupun alat serupa yang beredar di pasaran.

Alat EWAS telah dipasang sekaligus diujicoba dengan sukses di Desa Sembalun Bumbung, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Terdapat 6 alat EWAS terpasang disana pada 12 Oktober 2018, dimana beberapa alat dipasang sendiri oleh beberapa pemuda warga Desa Sembalun Bumbung. Alat tersebut masih bekerja hingga hari ini. Berdasarkan informasi warga setempat, alat EWAS berbunyi pada 5 November 2018 menandai kehadiran gempa dengan magnitudo 4,6 SR. Kemudian tgl 26 Desember 2018 alat EWAS berbunyi sesaat setelah gempa 4,9 SR hadir di Desa Sembalun Bumbung. Pada 17 Maret 2019 gempa berkekuatan 5,8 SR juga terdeteksi oleh alarm EWAS. Setiap kali ada kejadian gempa, suara alarm yang terdengar hingga sudut-sudut desa berhasil menyadarkan warga desa untuk secepatnya bereaksi menyelamatkan diri dengan keluar dari bangunan tempat tinggalnya.

Jpeg

Leave a comment

Mengenal Ilmu Geologi

Geologi adalah ilmu multi-disiplin yang mempelajari bumi dan sejarahnya. Kita hidup di planet bumi yang dinamis dan terus berubah. Kemampuan kita untuk bertahan hidup sebagai peradaban dan sebagai spesies sangat terkait erat dengan proses geologi yang membentuk bumi, yang membentuk sumber daya alamnya dan proses geologi yang memungkinkannya untuk pulih dari kerusakan akibat perilaku manusia.

Geologi penting karena hampir semua sumber daya alam yang dibutuhkan manusia seperti minyak, gas, logam, bahan bangunan, dan sebagainya ditemukan oleh mereka yang mengerti geologi. Ahli geologi mampu mengevaluasi daya tahan jalan, kestabilan bangunan dan bendungan dari perspektif dinamika bumi sekaligus menmperkirakan potensi bahayanya. Perlindungan dan pemulihan serta pelestarian lingkungan adalah masalah geologi yang penting, yang selalu dihadapi oleh masyarakat modern.

Ahli Geologi adalah profesi yang menarik, yang biasanya menuntut kemampuan menggabungkan kerja indoor dan outdoor. Mahasiswa geologi menemukan sains dalam arti luas karena geologi menggabungkan pilar-pilar sains astronomi, biologi, kimia, matematika dan fisika untuk memahami bumi dan interaksinya dengan atmosfer, biosfer, dan hidrosfer.

Sejarah bumi yang dipelajari di geologi merupakan satu-satunya jendela untuk memperkirakan kemungkinan dampak iklim global di masa depan. Sebagai sebuah ilmu, Geologi unik dalam fokusnya pada waktu, mulai dari awal lahirnya bumi yaitu lebih dari 4 miliar tahun yang lalu hingga saat ini. Dengan menggabungkan pengetahuan tentang fosil dan indikator lingkungan, ahli geologi mampu merekonstruksi iklim kuno, sistem ekologi, dan geografi yang mengungkapkan lautan tropis atau kutub yang hilang dan pegunungan yang terkikis yang pernah membentang di seluruh benua.

Ahli geologi memainkan peran utama dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya alam, mengevaluasi bagaimana proses alami mempengaruhi semua kehidupan di bumi, dan bagaimana manusia berinteraksi dengan Bumi. Ahli geologi mencari benua dan dasar samudra untuk memperoleh mineral dan bahan bakar penting bagi masyarakat modern, serta mencari air segar yang digunakan setiap hari oleh masyarakat dunia. Mereka bekerja dengan para pegiat lingkungan menemukan pencemaran tanah dan air tanah, dalam mengembangkan rencana untuk pengendalian polusi atau remediasi, dalam penentuan lokasi dan mengembangkan tempat pembuangan limbah, pembangunan jalan dan bendungan, dan dalam evaluasi risiko dan perencanaan guna meminimalkan kehilangan korban jiwa dari bencana banjir, letusan gunung berapi, atau gempa bumi. Ahli geologi lainnya menyibukkan diri dengan sejarah planet ini, menguraikan gerakan benua, distribusi batuan yang dikendalikan iklim, melibatkan evolusi spesies dan perubahan ekosistem.

Geologi membutuhkan pemecahan masalah, visualisasi 3D yang baik dan kemampuan untuk mengumpulkan dan memproses data secara akurat dengan memanfaatkan kemajuan teknologi. Ahli geologi seperti detektif. Data yang memungkinkan ahli geologi untuk memecahkan masalah jarang tiba secara linear. Ahli geologi harus dapat mengumpulkan fragmen informasi dan mengembangkan interpretasi berdasarkan data tersebut. Mereka harus dapat memisahkan data penting dan sepele dan dapat menyesuaikan interpretasi mereka saat data baru diterimanya. Mengembangkan model bumi, baik di pikiran maupun di komputer mereka, sangat penting. Setelah ahli geologi menyelesaikan pekerjaan mereka, mereka harus dapat mengkomunikasikan hasil kerja mereka dengan efektif kepada orang lain. Keterampilan komunikasi verbal dan tertulis yang kuat sangat penting dalam geologi. Sebagian besar ahli geologi bekerja pada masalah praktis yang melibatkan orang. Orang-orang itu, apakah pemilik tanah perorangan, pejabat di semua level pemerintahan, atau CEO perusahaan juga LSM, menginginkan jawaban yang dikomunikasikan dengan cara yang dapat mereka pahami.

Ahli geologi bekerja di setiap benua dari daerah tropis hingga kutub dan bahkan di bawah permukaan lautan. Mereka bekerja dengan berjalan kaki atau merambat pada tali di pegunungan tinggi, di kapal dan di kapal selam, di laboratorium bergerak di truk atau pesawat udara, dan di kantor dan laboratorium di universitas, lembaga penelitian, kantor-kantor pemerintah, dan gedung perkantoran bertingkat tinggi.

Dalam melakukan pekerjaannya, seorang ahli geologi lapangan cukup menggunakan palu, kompas / saku transit, notebook, pensil, dan peta atau unit GPS. Di sisi lain, ahli geologi adalah pengguna terbesar komputer berkinerja tinggi dan teknologi satelit di dunia di luar jaringan intelijen nasional pemerintah. Ahli geofisika menggunakan alat-alat berteknologi kompleks seperti seismograf yang dihubungkan dengan komputer, digunakan untuk merekam gempa bumi, dan gravimeter yang dapat mengukur atraksi gravitasi yang sangat kecil. Geokimiawan menggunakan instrumen elektronik canggih seperti mikroskop elektron untuk menganalisa bagian dari butiran mineral yang berukuran mikroskopis, difraktometer sinar-X untuk mempelajari struktur kristal, dan spektrometer massa untuk menentukan material bumi. Mineralogi dan ahli kristalografi, yang mempelajari sifat mineral, juga menggunakan instrumen ini. Ahli paleontologi, yang mempelajari fosil, dan ahli petrologi, yang mempelajari batu, memerlukan mikroskop, termasuk mikroskop elektron, serta alat-alat geokimia untuk menganalisis obyek yang menarik perhatian mereka. Ahli geologi teknik menggunakan instrumen seperti bor, inclinometer (untuk mengukur gerakan kemiringan) dan perangkat geser lubang bor (untuk mengukur kekuatan material).

Sebagaimana dibahas sebelumnya, geologi adalah ilmu multi-disiplin yang luas. Sebagai mahasiswa sarjana geologi, perhatian utama Anda adalah menguasai disiplin geologi yang luas itu. Jika Anda melanjutkan studi pascasarjana, Anda mungkin akan mengkhususkan diri dalam salah satu disiplin ilmu geologi yang tercantum di bawah ini:

Kristalografi: studi kimia dan susunan atom-atom dalam mineral

Sains Kebumian: studi tentang interaksi lautan, atmosfer, dan bumi padat untuk tujuan memahami kondisi lingkungan masa lalu, sekarang, dan masa depan

Geologi Ekonomi: asal-usul, lokasi, dan aspek lain dari sumberdaya alam yang bernilai ekonomi; termasuk logam, non-logam (batuan dan mineral industri), dan pasokan air tanah (lokasi dan kejadian air bawah permukaan)

Geologi Lingkungan: studi geologi lingkungan alam kita; terutama berkaitan dengan pelestarian kualitas lingkungan, masalah polusi, dan bencana alam kebumian

Geologi Lapangan: pengumpulan, interpretasi, dan sintesis data geologi di lapangan yang dituangkan dalam peta geologi

Geoarkeologi: interpretasi geologi dari situs arkeologi

Geokimia: mempelajari proses kimia di dalam, di permukaan dan di atas bumi

Geokronologi: studi tentang waktu kejadian geologi; biasanya melibatkan penentuan usia absolut

Geoinformatika: pemanfaatan komputer dan peralatan penyimpanan data untuk simulasi, analisis dan sintesis data geologi

Geomorfologi: asal dan deskripsi bentuk-bentuk permukaan bumi

Geomorfometri: pengukuran berbagai tingkat proses pembentuk lanskap

Geofisika: “studi fisika bumi” – termasuk Seismologi (studi gempa bumi) dan studi lain tentang sifat fisik

Hidrogeologi: studi tentang air bawah permukaan (air tanah) dan aspek geologi terkait dari air permukaan

Hidrologi: studi tentang pergerakan air di permukaan bumi; Bahaya banjir merupakan perhatian utama

Geologi Kelautan: studi berbagai aspek geologi lautan dan daerah pesisir

Mineralogi: studi struktur kristal dan kimia, identifikasi, klasifikasi dan genesa atau pembentukan mineral

Mineralogi Optik: studi tentang sifat-sifat mineral melalui cahaya yang ditransmisikan melalui mineral; menggunakan mikroskop petrografi

Paleontologi: studi tentang kehidupan kuno (fosil) – termasuk, paleobotani (tumbuhan); paleontologi vertebrata (hewan dengan tulang punggung); paleontologi invertebrata (hewan tanpa tulang belakang); mikropaleontologi (fosil berukuran mikroskopis); dan palynology (spora dan serbuk sari)

Petrografi: deskripsi mineralogi, tekstur, dan struktur batuan

Petrologi: mempelajari batuan, termasuk informasi tentang kimia; klasifikasi; mineralogi, kejadian, bentuk dan struktur massa batuan (petrografi), dan asal batu (petrogenesa)

Planetologi: studi tentang planet, termasuk asal batu mereka dan pengembangan struktur planet

Penginderaan Jauh: pemanfaatan foto udara (dan teknik penginderaan tidak langsung atau jauh lainnya) untuk menentukan berbagai aspek geologi. Istilah sekarang sebagian besar digantikan oleh remote sensing

Sedimentologi: studi tentang faktor lingkungan mengendalikan asal sedimen dan batuan sedimen; pengembangan model pengendapan

Stratigrafi: studi tentang batuan berlapis (sedimen), dengan penekanan pada hubungan mereka satu sama lain berkaitan dengan waktu dan asal

Geologi Struktur: asal-usul fitur geologi yang dihasilkan oleh tekanan di dalam kerak bumi (seperti lipatan dan patahan)

Tektonik: aspek geologi struktur berskala besar atau di seluruh dunia; umumnya melibatkan asal pegunungan, cekungan laut, benua, dll.

Posted in Geosains | Leave a comment

Kolaborasi Riset Bersama Mahasiswa

Saya membuka kesempatan kepada mahasiswa yang ingin berkolaborasi dalam rangka riset/penelitian, baik untuk Tugas Akhir (skripsi, tesis dan disertasi) maupun untuk publikasi di prosiding dan jurnal. Tema penelitian yang saya sukai adalah segala hal yang berhubungan dengan geosains khususnya eksplorasi sumber daya alam, penanganan masalah lingkungan dan mitigasi bencana kebumian.

Jika dalam kolaborasi tersebut menghasilkan suatu karya ilmiah, misalnya makalah ilmiah, maka saya minta agar nama saya diposisikan diurutan terakhir pada daftar nama-nama author. Kemudian tuliskan afiliasi saya yaitu Program Studi Geofisika FMIPA Universitas Indonesia, Kampus UI Depok, 16424.

Jika Anda berminat berkolaborasi dengan saya, silakan hubungi saya melalui alamat email: supriyanto@sci.ui.ac.id. Perkenalkan diri Anda, asal kampus Anda, jelaskan tema penelitian yang akan Anda kerjakan.

Pada tahun 2017, beberapa artikel hasil kolaborasi antara saya dan mahasiswa telah muncul di Scopus. Lihat Gambar di bawah ini

 

1 Comment

Kemana arah geofisika UI?

Geofisika sebagai ilmu dasar bertujuan menemukan hal-hal baru di bumi Indonesia yang sangat berarti bagi dunia ilmu pengetahuan baik di dalam negeri maupun di manca negara. Penemuan yang demikian merupakan dasar penelitian-penelitian yang lebih rinci.

Geofisika sebagai ilmu terapan yaitu menerapkan dasar-dasar ilmu fisika untuk mencari sumber daya alam yang dikandung bumi dengan tujuan ekonomi, yaitu mensejahterakan rakyat. Sebagai ilmu terapan, geofisika memegang peranan penting dalam kegiatan eksplorasi dalam pencarian sumber daya alam seperti minyak dan gas bumi, mineral, batubara, air tanah dan sumber panasbumi. Kaidah fisika yaitu kegempaan, kemagnetan, gravitasi, kelistrikan dan keradioaktifan adalah landasan perancangan cara-cara eksplorasi sumber daya alam. Di samping eksplorasi untuk sumber daya alam, geofisika juga digunakan untuk keperluan pembangunan infrastruktur, seperti pembuatan waduk, jalan raya, jalan tol dan bangunan seperti jembatan, gedung, bertingkat, dsb.

Perkembangan geofisika untuk eksplorasi sangat cepat yang meliputi akuisisi data, pengolahan data dan interpretasi data. Perangkat keras dan lunak banyak tercipta untuk mendapatkan data yang baik dan terpercaya. Pengolahan data memegang peranan sangat penting dalam pekerjaan eksplorasi. Bagian ini memerlukan pengetahuan matematika dan ilmu komputer, sedangkan akuisisi data memerlukan pengetahuan perangkat elektronika maupun peralatan mekanik. Sementara, bagian interpretasi memerlukan pengetahuan geologi yang cukup.

Ke arah mana pengajaran geofisika di Universitas Indonesia? Ke ilmu dasar atau ilmu terapan? Atau kedua-duanya? Akankah seseorang yang belajar geofisika sebagai ilmu dasar dapat bekerja sebagai ahli geofisika terapan? Tentunya dapat, karena dasar-dasarnya juga di dapat di ilmu dasar. Di Universitas Indonesia kedua ilmu tersebut diajarkan secara berurutan dengan porsi seimbang.

Namun ada hal yang lebih mendasar untuk menjawab pertanyaan di atas, yaitu kehendak pemerintah saat meminta UI membuka Program Studi S1 Geofisika. Rektor UI, Prof. Dr. Ir. Muhammad Anis, M.Met, menerima surat mandat pendirian program studi baru dari Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang pada masa itu dijabat oleh Prof. Dr. Ir. Djoko Santoso, M.Sc. Surat bernomor 358/E.E2/DT/2014 tertanggal 16 April 2014 berisikan mandat kepada UI untuk menyelenggarakan 2 (dua) program studi (prodi) S1 yang terkait langsung dengan ilmu kebumian yaitu Program Studi S1 Geofisika dan Program Studi S1 Geologi. Mandat diberikan dalam rangka menyikapi fenomena bencana alam berupa aktifitas gunung api dan gempa bumi yang memperlihatkan peningkatan frekuensi dan intensitas, serta menjawab tantangan pengelolaan sumber daya alam, mineral serta energi bumi di Indonesia. Dirjen Dikti juga menggarisbawahi bahwa pengembangan kedua program studi tersebut dimaksudkan untuk a) mendukung keberlanjutan pemanfaatan sumber daya alam dalam bingkai masyarakat yang berketahanan, b) penyelamatan bumi serta sumber daya alam Indonesia dan c) meningkatkan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana.

Pada tingkat pertama, mahasiswa diwajibkan mengambil matematika, fisika, kimia, biologi dan geologi dasar. Pada tingkat dua, diajarkan geologi lanjut seperti geologi struktur, geodinamika, kristalografi dan mineralogi, dasar elektronika dan komputasi numerik. Pada tingkat tiga, mahasiswa akan diajarkan metode-metode geofisika, pengolahan dan analisis data geofisika, geostatistika, geokimia, penginderaan jauh serta geologi untuk eksplorasi sumber daya alam (minyak dan gas bumi, panasbumi, mineral logam dan non logam, air tanah, mitigasi bencana). Dan pada tingkat empat mahasiswa akan diajarkan cara-cara eksplorasi sumberdaya alam dengan menerapkan dan mempraktekan cara akusisi, pengolahan serta interpretasi dalam lingkup kerja praktek di industri dan penelitian tugas akhir (skripsi). Selengkapnya dapat dilihat pada distribusi mata kuliah per semester di bawah ini

Leave a comment

Geologi & Geofisika Seperti Dua Sisi Koin Mata Uang

Geofisika merupakan salah satu ilmu kebumian yang mempelajari alam dan isinya memanfaatkan kaidah-kaidah ilmu fisika. Selama manusia hidup, mereka akan tetap membutuhkan bahan galian yang ditambang dari dalam bumi, mereka akan membutuhkan energi yang sebagian besar juga masih diperoleh dari bagian dalam bumi, yang tidak dapat dilihat dengan kasat mata. Kitapun akan membutuhkan tempat bermukim yang aman dari gangguan bencana alam, yang merupakan gejala alam yang masih harus dipahami oleh para pakar kebumian, untuk mengurangi dampak kerugiannya. Unsur-unsur tersebut akan semakin langka, semakin sulit diperoleh dan diidentifikasi, sehingga memerlukan cara-cara dan pendekatan baru yang lebih maju untuk mendapatkannya.

Metoda pengamatan geofisika sudah dikenal sebagai suatu cara yang tidak memerlukan sentuhan langsung terhadap obyek yang diselidiki. Kaidah-kaidah ilmu fisika dengan perantaraan medan gravitasinya, medan listriknya, medan magnetnya, gelombang seismiknya, gelombang soniknya, sifat-sifat radioaktifitasnya dan lain-lain memberikan cara bagaimana dapat menyelidiki obyek-obyek tadi.

Dilain pihak, geologi sebagai salah satu ilmu kebumian justru memerlukan sentuhan-sentuhan dan penglihatan nyata dalam melakukan pengamatan terhadap bentuk dan jenis dari suatu obyek. Namun pada akhirnya sebagai kesimpulan, pengamat geologi harus mampu untuk melakukan prediksi, terhadap bentuk daripada obyek yang tidak dapat mereka sentuh dan lihat, karena memang berada diluar jangkauan tangan dan mata mereka, karena berada jauh di bawah permukaan bumi. Meskipun statusnya masih prediksi, asumsi ataupun perkiraan, tentunya diharapkan hasilnya tidak terlalu menyimpang dari kenyataan.

Dari uraian di atas, akan dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa kedua ilmu kebumian tadi mempunyai segi-segi kelemahan sendiri-sendiri untuk melakukan analisis, yang mampu menghasilkan luaran yang sempurna, mendekati kenyataan dengan penyimpangan sekecil mungkin. Untuk itu diperlukan kerjasama dari kedua ilmu kebumian tadi agar lebih tajam dalam mengungkap bagaimana dan apa sebenarnya yang tersimpan di dalam permukaan bumi. Geologi dan Geofisika tidak bisa dipisah-pisah, keduanya harus menyatu bagaikan dua sisi koin mata uang.

Posted in Geosains | Leave a comment

Masalah Ruang Lingkup Kurikulum Geofisika

Jika dilihat dari akar keilmuannya, geofisika ada di antara ilmu geologi dan ilmu fisika. Geologi adalah ilmu yang mempelajari berbagai ilmu yang ada di kerak bumi, sedangkan fisika adalah ilmu yang mempelajari semua proses dan gaya yang bekerja pada materi. Jadi geofisika adalah ilmu yang menerapkan prinsip-prinsip fisika untuk mengetahui dan memecahkan masalah yang berhubungan dengan bumi atau dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari bumi dengan prinsip-prinsip fisika.

Perkembangan kegeofisikaan terjadi karena para ahli mengembangkan keilmuan tanpa melihat tumpang tindih akar keilmuan. Misalnya Sir Isaac Newton (ahli fisika) yang menjelaskan tentang pembentukan pegunungan melalui teori kontraksi. Pada saat sekarang ini ilmu geofisika mengalami pengayaan serupa dari berbagai cabang ilmu maupun teknologi contohnya elektronika instrumentasi, komputasi, basis data dan informatika, penginderaan jauh, ekonomi, manajemen, teknologi infrastruktur, teknologi pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam, teknologi dan mitigasi bencana kebumian, teknologi dan pengelolaan lingkungan, dan lain-lain. Akibatnya kegeofisikaan mempunyai cakupan yang luas. Ia menjadi ilmu dan kemudian berkembang menjadi teknologi. Konsekuensinya geofisika mempunyai cakupan yang lebar, mulai dari ilmu murni hingga rekayasa.

Sehingga, masalah dalam penyusunan kurikulum Program Studi Geofisika adalah hingga seberapa jauh akan dicakup? Jika kita melihat kepada Gambar setidaknya dapat dikelompokkan kepada 4 kelompok, yaitu yang berpijak pada akar keilmuannya, menjadi kelompok fisika yang memiliki ketercakupan hingga geofisika, kelompok geologi yang memiliki ketercakupan hingga geofisika, kelompok geofisika dengan ketercakupan hingga terapannya dan kelompok teknik geofisika yang memiliki ketercakupan mulai dari terapannya.

Referensi:

  1. Djoko Santoso dan Satryo Sumantri Brodjonegoro, Pendidikan Geofisika dan Perundangan Pendidikan Baru di Indonesia, HAGI-Prosiding Lokakarya Nasional Pendidikan Geofisika Indonesia, 9-10 Oktober 2003, Yogyakarta
Posted in Kampus | Leave a comment

Lab. Pemodelan Geofisika

Geofisika merupakan bidang ilmu yang mengkombinasikan metodologi ilmu fisika dan konsep ilmu geologi untuk memetakan struktur bawah permukaan bumi. Salah satu manfaat ilmu geofisika adalah untuk mengetahui keberadaan sumber daya alam yang tersimpan di dalam bumi, seperti minyak bumi, gas alam, batubara, mineral bahan tambang, panasbumi dan air tanah. Lebih jauh lagi, ilmu geofisika juga bisa dimanfaatkan untuk kepentingan lingkungan, diantaranya pemetaan sebaran pencemaran limbah di bawah tanah. Data geofisika harus diambil terlebih dahulu sebelum dianalisa hingga diperoleh gambaran bawah permukaan bumi.

Pengambilan data geofisika umumnya dilakukan di atas permukaan tanah menggunakan metode seismik, gravitasi, elektromagnetik maupun penginderaan jauh. Data geofisika tersebut kemudian diolah dengan berbagai pilihan metode matematika agar didapat sifat fisis tertentu atau karakteristik fisis yang memungkinkan antar batuan dapat dibedakan secara jelas. Distribusi karakteristik atau sifat fisis tersebut selanjutnya ditampilkan secara 1 dimensi, 2 dimensi, 3 dimensi, bahkan 4 dimensi. Hasil ini disebut model bawah permukaan bumi. Model yang ideal adalah model yang benar-benar menyerupai kondisi bawah permukaan bumi. Namun hal ini relatif sulit dicapai mengingat kompleksitas bawah permukaan bumi, dimana hanya Tuhan yang tahu situasi yang sesungguhnya di bawah sana.

Laboratory of Geophysical Modeling atau di-Indonesia-kan menjadi Lab. Pemodelan Geofisika merupakan laboratorium yang berkonsentrasi pada pengolahan dan pemodelan data geofisika. Laboratorium, yang bernaung di bawah Program Studi Geofisika, FMIPA Universitas Indonesia, didirikan pada Juli 2012. Laboratorium ini, semenjak awal didirikan tidak mengkhususkan pada satu metode geofisika tertentu. Data seismik, data gravitasi, data elektromagnetik, dan data satelit, semuanya menjadi tantangan yang menarik untuk dimodelkan di Lab. Pemodelan Geofisika. Sejumlah perangkat lunak terus dikembangkan atau dilengkapi agar menunjang tujuan dari dibuatnya lab ini.

Bagaimana cara mengukur tingkat aktifitas dan produktifitas suatu lab? Kami memilih jawaban pertanyaan ini dengan menghitung jumlah publikasi selama setahun. Kami beranggapan bahwa publikasi adalah produk akhir dari dinamika riset yang terjadi di dalam Lab. Pemodelan Geofisika. Maka dari itu, slogan yang digelorakan di dalam Lab. Pemodelan Geofisika adalah “Our job is making paper“. Di dalam lab ini, suatu publikasi bisa jadi berasal dari kerja keras mahasiswa dalam menuntaskan tugas akhir (skripsi atau tesis) dan kerja praktek, bisa juga berasal dari hasil kegiatan Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM), atau berasal dari hibah riset penelitian yang didanai oleh UI maupun luar UI, atau juga dari proyek-proyek riset yang menggandeng institusi pemerintah maupun swasta dalam wadah kolaborasi riset.

Interaksi antar mahasiswa ataupun dosen di dalam Lab. Pemodelan Geofisika dibangun atas dasar semangat egaliter dan kerjasama untuk saling mengisi kekosongan wawasan pengetahuan. Dosen ataupun pembimbing tidak menempatkan dirinya sebagai satu-satu orang yang paling tahu. Dosen juga berhak mendapatkan pengetahuan dari mahasiswa yang dibimbingnya manakala mahasiswa tersebut sudah lebih dulu membaca paper terbaru ataupun sudah lebih dulu mempelajari software terbaru. Etika interaksi ini sesungguhnya mengikuti apa yang disebut sebagai The Herman’s Law. Interaksi antara dosen dan mahasiswa harus bersifat simbiosis mutualisme; dan bukan layaknya interaksi antara atasan dan bawahan.

Akhir kata, Lab. Pemodelan Geofisika memanggil dan mengundang para mahasiswa S1 dan S2 yang menyukai tantangan sebagaimana termaksud di atas. Tidak perlu menunggu IPK menjadi di atas 3 agar bisa bergabung bersama lab ini. Cukup dengan kuatkan tekad dan semangat pantang menyerah serta membawa modal ketekunan, maka anda akan diterima menjadi bagian dari lab ini. Ketekunan adalah jalan yang terpercaya untuk menghantarkan kita semua menuju kesuksesan.

Posted in Geosains | Leave a comment