Nov 17

Mari support Wikipedia!

campus, editorials, teaching Comments Off on Mari support Wikipedia!

Support Wikipedia

Siapa belum pernah pakai Wikipedia? Baik mahasiswa maupun dosen di UI pasti dalam pencarian informasi tentang suatu topik pernah menggunakan wikipedia. Rasanya kalau ada yang bilang belum, orang itu pasti jarang melakukan pencarian informasi. Ternyata, tidak seperti si “mbah” Google, sumberdaya pendukung wikipedia masih dapat dikatakan terbatas. Jadi pendiri Wikipedia secara aktif menampilkan permohonan sumbangan bagi pengguna karena Wikipedia memiliki prinsip tidak beriklan. Jumlah yang diminta tidak besar, bisa hanya sekitar 5 USD. Menurut saya, jumlah segitu “kecil” untuk hal yang telah diberikan oleh Wikipedia.

Jadi? Yuk kita berbagi untuk Wikipedia 🙂

May 05

Ternyata, kasus bakteri Enterobacter sakazakii dalam susu formula terus berlanjut sampai ke tingkat Mahkamah Agung. Sebagai anggota komunitas akademik, saya menyayangkan kenapa kasus ini tidak ditangani dengan baik saat gugatan terhadap IPB, BPOM, dan Depkes  diajukan, sehingga harus sampai ke tingkat kasasi yang kemudian diterima oleh Mahkamah Agung.

Akibatnya, sekarang, IPB berada dalam posisi melawan hukum. Saya tidak yakin apa yang akan terjadi secara hukum, akan tetapi secara sosial, saya melihat masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap dunia akademik yang dianggap berkonspirasi untuk menutupi informasi penting tentang kondisi dunia industri

Saya coba serta kutipan sebuah email dari rekan saya di IPB tentang kasus Enterobacter sakazakii:

Pengambilan sampel untuk penelitian ini dilakukan tahun 2004 dan risetnya sendiri dilakukan tahun 2004 dan 2005 sebagai kerjasama Jerman-Indonesia yang dipublikasikan di Journal Of Food Protection V0l 69 N0 12, 2006, Pages 3013-3017 di bawah judul Enterobacteriaceae in Dehydrated Powdered Infant Formula Manufactured in Indonesia and Malaysia. Jadi data yang positif dan negatif yang disajikan pada tabel di di jurnal ini menurut saya bukanlah “lontaran informasi”, tetapi penyajian data ilmiah.

Isolat dari hasil penelitian di ataslah yang dites lebih lanjut dengan menggunakan mencit dan diseminarkan pada seminar terbuka hibah bersaing di tahun 2008. Jadi yang diujikan pada penelitian ini adalah isolat yang diisolasi dari saampel yang dibeli pada tahun 2004-2005. Perlu diketahui, pada tahun ini tema ini masih emerging dan belum ada satu negara pun yang memiliki aturan tentang ini. WHO sendiri baru mengeluarkan guideline pada tahun 2008.

Berdasarkan hasil penelitian ini peneliti diundang oleh Badan POM pada tahun 2006-2007 dan BPOM telah menindak lanjutinya dalam bentuk pengendalian yang lebih ketat terhadap cemaran dan regulasi khusus pada tahun 2009. Dengan kata lain tanggung jawab peneliti yang melakukan hazard identification telah ditransfer ke ranah policy atau risk management jika kita tinjau dalam kerangka berpikir risk analysis in food safety. Jadi justru sebelum konsumen ribut, peneliti sudah menjalankan perannya dalam mengawal kesehatan massyarakat. Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa praktek di rumah tangga yang baik (suhu air di atas 70 derajat) cukup untuk membunuh mikroba ini.

Alhasil tidak ditemukan lagi cemaran ini pada tahun 2009 dan 2010 sebagaimana yang telah dirilis oleh BPOM. Ini adalah contoh konkrit bagaimana penelitian berkontribusi positif untuk pengaturan.

Saya pikir informasi ini harus sampai ke masyarakat, sehingga pada saat diumumkan sesuai dengan amar putusan MA mereka sudah lebih pandai. Sekarang kita tinggal melakukan hitung-hitungan antara ancaman terhadap kesehatan karena sakazakii (yang notabene setelah tahun 2009 sudah tidak ada lagi berdasarkan surveillance BPOM) dengan kehebohan yang mungkin terjadi dari penyebutan merek tersebut. Semoga bermanfaat.

Jadi bagaimana kita harus bersikap? Begini, saat ini, standar-standar yang ditetapkan oleh BPOM maupun Depkes, sudah sangat ketat dan BPOM sebagai agen berwenang juga sudah mengadakan surveillance.  Tentu saja bahaya kontaminasi selalu ada, tapi tidak selalu dari bahan baku susu. Bisa saja dari air yang digunakan, atau wadah botol yang tidak bersih. Oleh karena itu, selalu perhatikan kebersihan dalam pengolahan makanan, terutama apabila menyangkut makanan bayi, yang sistem kekebalan tubuhnya belum sekuat orang dewasa.

Nov 10

Makna kunjungan Barack Obama bagi Pendidikan Tinggi dan Riset di Indonesia

campus, editorials, teaching Comments Off on Makna kunjungan Barack Obama bagi Pendidikan Tinggi dan Riset di Indonesia

Posting ini ditujukan untuk membantu menjawab pertanyaan “Untuk apa Barack Obama datang ke Indonesia? Cuma bikin macet saja!”

OK, mungkin cuplikan ini pun tidak akan ditanggapi positif. Sekali nyinyir, tetap nyinyir ya? Hehe.  Alhamdulillah, Indonesia adalah negara demokrasi. Yang nyinyir silakan. Saya sih memilih untuk tidak.

Anywaaay.

Presiden Barack Obama datang untuk antara lain membahas kerjasama bilateral Indonesia Amerika Serikat. Di website resmi Gedung Putih terdapat fact sheet tentang program Comprehensive Partnership Indonesia-Amerika Serikat. Saya kutipkan beberapa poin yang relevan dengan dunia pendidikan tinggi:

Bidang Pendidikan:

  • Funding: President Obama highlighted the U.S. government’s commitment to invest $165 million in higher education collaboration over five years.
  • Exchange Initiatives: Expanded educational exchanges, including the new Fulbright Indonesia Research, Science, and Technology (FIRST) Program, the Community College Initiative, English language teaching, and student advising.  Commerce will lead the largest U.S. government-led education trade mission ever to Indonesia in 2011.
  • University Partnerships: Improve the quality of higher education in Indonesia by supporting collaboration between the United States and Indonesian higher education institutions.

Bidang Sains Teknologi:

  • Science and Technology Cooperation Agreement: Signed on March 29 and awaiting entry into force.
  • Science Envoy: Following President Obama’s announcement in Cairo last year of the global Science Envoy program, former president of the U.S. National Academies of Science Dr. Bruce Alberts visited Indonesia and launched the Frontiers of Science program.
  • Frontiers of Science: This scientist exchange program brings together scientists from the United States and Indonesia to share experiences and information with the hope that those linkages will lead to joint research and information-sharing.
  • NOAA Okeanos Explorer: The joint research voyage of NOAA’s Okeanos Explorer and Indonesia’s Baruna Jaya yielded the discovery of unseen formations on the ocean floor, new species of coral and ocean fauna.  This joint voyage marked the beginning of our ocean science partnership. Plans are underway for a second expedition

Environment and Climate Change

  • SOLUSI (Science, Oceans, Land Use, Society and Innovation -“solution” in Indonesian): A multi-agency suite of environment and climate activities, with significant USAID funding, that will work with Indonesian government counterparts and civil society to facilitate and accelerate Indonesia’s sustainable development through a balanced approach to environmental protection and socio-economic improvement.  U.S. commitment of $136 million over three years.
  • Technical Assistance: New focus on forests and peat lands, related measurement and reporting of GHG emissions from all sources, as well as monitoring of the impacts of climate change.
  • Climate Change Center: This past June, President Obama announced that the United States, alongside Norway, will support the establishment of an Indonesia Climate Change Center.  Planning discussions between the U.S. climate agencies and Indonesian counterparts began in July and are ongoing

Tentu saja… untuk implementasi program-program di atas, peneliti dan institusi perlu “merebut” pendanaan program-program ini melalui proposal-proposal.

Oh ya satu hal lagi. Tentang pengamanan dan dampaknya terhadap rakyat “biasa”. Ah, gimana ya. Orang Amerika memang (lebih) paranoid dari negara lain, dan tuntutannya selalu macam-macam. Lebay to the max. Tapi dipikir-pikir masuk akal apalagi setelah 9-11, dan perang-perang yang timbul sebagai dampaknya. Ancaman yang diterima Presiden Amerika lebih heboh daripada Presiden negara lain.

So what gitu loh? So what? Kalau ada kejadian tidak enak, mau terima imbas? Mau terima citra yang salah tentang Indonesia sebagai tempat yang kurang aman, sehingga banyak travel warning? Saya sih tidak mau.

Ketidaknyamanan yang ditimbulkan, terutama bagi warga UI pada hari ini 10 November, haruslah dianggap “minimal”. We’re humans, we’ll adapt.

Jadi? Dengerin ya pidatonya dengan pikiran terbuka. Buang dulu sikap apriorinya.

Jun 21

Jadi pengelola lingkungan kampus UI berat sekali ya?

Ya, mau ikut  bicara soal “pintu barel” yang, thanks to web 2.0, bisa bikin mengangkat isu ini menjadi isu (agak) global. Ada pengguna twitter yang avatarnya “kembali barel” lho. Wah, boleh juga semangatnya.

Tapi kalau memang ada undang-undang yang sebetulnya melarang orang menyebrang rel kereta api, pengelola kampus tidak sepenuhnya salah kan? Apalagi, di era mobile ini, banyak sekali pejalan kaki yang berjalan sambil menatap layar handphonenya. Atau sambil mendengar musik. Akibatnya, ada mahasiswa meninggal  karena tidak memperhatikan bahwa ada KA yang lewat. Tapi rupanya, para pemrotes yang mayoritas mahasiswa/alumni FHUI (ironis juga, tidak ingin pengelola kampus mentaati aturan hukum?) membawa ini ke aspek sosial ekonomi, budaya dan bahkan pengabdian UI untuk masyarakat sekitar UI. A bit melodramatic don’t you think?

Saya jadi ingat, tahun lalu juga sudah mulai gerakan menutup pintu-pintu akses, tidak hanya pintu “barel” dan menuai protes keras.  Masyarakat kehilangan akses potong jalan dari daerah Kukusan ke Margonda. Tiba-tiba muncul “Forum Peduli Masyarakat daerah X untuk UI”. Alasannya banyak tukang ojek kehilangan mata pencaharian kalau sampai semua pintu ditutup.

Orang yang kenal saya pasti akan nembak “Ya kalau anda enak, naik mobil.” Ehehe, rezeki saya bukan point pembahasan. Artinya, pada saat tahun 1987 UI pindah ke kampus Depok, kita mahasiswa yang ikut rombongan pertama pindah juga mengalami saat berat BELUM ada Bis Kuning berpuluh-puluh atau tukang ojek. Jadi memang, pintu-pintu kecil itulah (malah gang senggol dekat FKM itu belum ada seingat saya) yang membantu.

Tapi itu kan sudah 25 tahun yang lalu :-)?   Masa tidak ingin ada perbaikan dalam pengelolaan?

Kalau saya baca macam-macam komentar isinya seperti ini:

“tidak ada urgensi tutup pintu barel” (kenapa harus ada urgensi?)

“salah satu akses UI ke jalan raya Margonda. Kalau harus mutar lewat stasiun, jauh, panas, rambut saya lepek.” (aduh maaf ya mbak mengganggu kecantikan mbak)

“Kalau mau fotokopi ngga ada yang dekat dan cepat di kampus dodol fotokopiannya” (ketergantungan  pada fotokopian sangat tinggi ya.)

“Banyak warga kehilangan matapencaharian.”

“Peraturan tanpa empati.”

Dan masih banyak lagi. Begitu membawa urusan “hajat hidup orang banyak” UI memang terlihat jadi sebuah makhluk besar, the ultimate ivory tower. Disconnected dengan masyarakat sekitar.

Masa sih demikian? Masa sih, begitu pintu Barel ditutup, kegiatan ekonomi daerah itu harus berhenti total? Kalau memang sudah ada ikatan emosional dengan Santi dkk, ya datangi saja terus. Restoran yang enak biar jauh juga didatangi kan?

Saya tahu, tidak semudah itu. Banyak nawarin alternatif solusi, antara lain, jembatan penyebrangan. Setuju saja, asal memang benar dimanfaatkan. Saya sudah sering lihat orang menyebrang DI BAWAH jembatan Margo City-Detos karena katanya “jembatan sempit, penuh, desain tidak optimal” jadi “jembatan senggol”.

Ya kita lihat saja nanti. Memang saya berbeda pendapat, tidak populer. Cuma sudah lihat beberapa bukti saja, bahwa banyak orang masih susah diatur, apalagi kalau menyangkut kepentingannya sendiri.

Jun 03

TED talks: Why we need the explorers

editorials Comments Off on TED talks: Why we need the explorers

Physicist Brian Cox on why we need to fund basic science:

http://www.ted.com/talks/brian_cox_why_we_need_the_explorers.html?awesm=on.ted.com_8N0b

Apr 20

Dunia akademik Indonesia kembali diguncang. Kemarin, portal berita online seperti detik mengabarkan tentang adanya pelanggaran penulisan ilmiah yang dilakukan oleh seorang mahasiswa doktoral ITB yang saat itu sebetulnya merupakan calon dosen ITB.

Si pelaku telah membuat pernyataan dan mengundurkan diri dari statusnya sebagai calon dosen dan juga menyatakan mengundurkan diri dari dunia akademik.

Terus terang, perasaan saya campur aduk saat membaca makalah yang dituduh plagiat dan surat pernyataan tersebut. Sedih, marah, kesal. Mengapa demikian? Apabila kita membandingkan kedua makalah side-by-side maka kita akan sampai pada kesimpulan yang sama yaitu bahwa si penulis secara terbuka menggunakan makalah orang lain. Penulis mengakui bahwa dia teledor mencampur isi penelitan dan makalah referensi dan hal tersebut dilakukan sendiri tanpa memberitahukan kepada pembimbing.

Mohon maaf, tapi pernyataan si penulis tidak membuat saya lebih tenang. Rasanya si penulis lebih malu “karena ketangkap”  dan bukan karena menyadari bahwa plagiarisme adalah (menurut saya) capital crime bagi seorang akademik. Apalagi ketika muncul sebuah artikel lagi atas nama penulis, sekali ini dalam bahasa Indonesia yang dicurigai juga hanya diterjemahkan tanpa diberi proper attributes untuk sitasi.

Akan tetapi, kalau mau jujur, kejadian seperti ini sudah pernah terjadi di universitas lain termasuk di UI. Bisa dua arah: dosen pembimbing mengambil karya mahasiswa, bisa mahasiswa take credit untuk seluruh penelitiannya tanpa memperhatikan pembimbing sebagai co-author.

Banyak usaha sudah dilakukan tapi menurut saya faktor paling besar adalah faktor pribadi. Bagi saya it’s about honor. Kehormatan. Sama seperti mahasiswa yang suka nyontek, copy paste laporan praktikum temannya. Where is your sense of honor? Itu yang sering saya tanyakan tanpa dapat jawaban yang memuaskan dari para pelaku. Banyak alasan. Semakin menyedihkan karena terkadang si mahasiswa/mahasiswi/dosen tidak memenuhi profil “tukang nyontek”. Religius. Shalat rajin. Ke Gereja rajin. Tapi kok ngga takut nyontek? Mungkin dari sini korupsi muncul?

Mudah-mudahan setelah dapat ekspose seperti ini, pelaku plagiat menyadari dampak tindakannya. (Jangan sampai jadi lebih lihay!)

Apr 12

atau dalam bahasa Indonesia: Halusinasi oke aja loh!

An article in the  latest New York Times  discussed the latest developments of psychedelic science and how tightly regulated use of hallucinogens may help in treatments of mental disorders.

What is psychedelic science?

Psychedelic science studies active ingredients that cause hallucinations. Why is microbiology involved? Well this particular article talked about a substance, psilocybin, that is produced by a basidiomycete fungi (Mushroom). Quoting the paper:

Researchers from around the world are gathering this week in San Jose, Calif., for the largest conference on psychedelic science held in the United States in four decades. They plan to discuss studies of psilocybin and other psychedelics for treating depression in cancer patients, obsessive-compulsive disorder, end-of-life anxiety, post-traumatic stress disorder and addiction to drugs or alcohol.

The results so far are encouraging but also preliminary, and researchers caution against reading too much into these small-scale studies. They do not want to repeat the mistakes of the 1960s, when some scientists-turned-evangelists exaggerated their understanding of the drugs’ risks and benefits.

For my Indonesian readers, the 1960s marked an era where a lot of (American) people used mushrooms as a psychotrophic drug to get “high”. People experience hallucinations ( illusory perception; a common symptom of severe mental disorder).

Now there are studies that show how psychedelics like psilocybin can have positive effects on the user. Griffiths et al. (2008) reported that patients treated with psilocybin under supportive conditions described their experience as “personally meaningful” and “spiritually significant” in their lives.Other studies have followed.

I think what is interesting is the fact that perceptions caused by hallucination doesn’t have a negative effect afterwards. However this study didn’t mention any addiction issues that could be caused by use of this hallucinogen. The full article by Griffiths et al can be found here.

Apr 09

An article published in the latest edition of Nature, widely quoted by various news media,   has given me a new reason to love microbiology even more. The main findings suggest that the bacteria in the food we eat (in this case, sushi) may play an important role  in providing the gut microorganisms with enhanced capabilities for food digestion. This accomplished through horizontal gene transfer, a mechanism especially well documented in prokaryotes. You are what you eat, indeed.

What does this mean for us? Well, this is a message to continuously maintain a high level of biodiversity in the environment because it is more than likely providing us with many benefits including for our health.

For a link to the abstract of the article please click here. For the full article you need to pay for access. If you don’t feel like reading the scientific article, here are some articles:

  1. BBC news: Sushi may ‘transfer genes’ to gut
  2. The Guardian: Sushi munching bacteria found in the guts of Japanese people
  3. The Scientist.com: Gut bacteria are what we eat

So let’s hit those sushi bars this weekend!

Jan 27

Great Microbiologists

editorials, microbiology, teaching Comments Off on Great Microbiologists

Great Microbiologists by http://www.brickfilms.com

[youtube 3ArusOqt8EM]

Nov 25

Presiden Amerika Serikat Barack Obama dalam pidato peluncuran program “Educate to Innovate” :

The leadership of tomorrow depends on how we educate our students, especially in those fields who hold promise of future innovations and innovators. That’s why education in math and science is so important.”

Time and again, we have let partisan and petty bickering, stand in the way of progress. Time and again,  we have let our children down.”

Jadi dapatkah kita sejenak menaruh drama politik di belakang (seberapa pun pentingnya pemberantasan korupsi) untuk juga memberi energi yang sama untuk perbaikan pendidikan? Apalagi bila pendidikan yang baik juga dapat menghasilkan orang-orang yang tidak korupsi?