Nov 17

Mari support Wikipedia!

campus, editorials, teaching Comments Off on Mari support Wikipedia!

Support Wikipedia

Siapa belum pernah pakai Wikipedia? Baik mahasiswa maupun dosen di UI pasti dalam pencarian informasi tentang suatu topik pernah menggunakan wikipedia. Rasanya kalau ada yang bilang belum, orang itu pasti jarang melakukan pencarian informasi. Ternyata, tidak seperti si “mbah” Google, sumberdaya pendukung wikipedia masih dapat dikatakan terbatas. Jadi pendiri Wikipedia secara aktif menampilkan permohonan sumbangan bagi pengguna karena Wikipedia memiliki prinsip tidak beriklan. Jumlah yang diminta tidak besar, bisa hanya sekitar 5 USD. Menurut saya, jumlah segitu “kecil” untuk hal yang telah diberikan oleh Wikipedia.

Jadi? Yuk kita berbagi untuk Wikipedia 🙂

Nov 10

Makna kunjungan Barack Obama bagi Pendidikan Tinggi dan Riset di Indonesia

campus, editorials, teaching Comments Off on Makna kunjungan Barack Obama bagi Pendidikan Tinggi dan Riset di Indonesia

Posting ini ditujukan untuk membantu menjawab pertanyaan “Untuk apa Barack Obama datang ke Indonesia? Cuma bikin macet saja!”

OK, mungkin cuplikan ini pun tidak akan ditanggapi positif. Sekali nyinyir, tetap nyinyir ya? Hehe.  Alhamdulillah, Indonesia adalah negara demokrasi. Yang nyinyir silakan. Saya sih memilih untuk tidak.

Anywaaay.

Presiden Barack Obama datang untuk antara lain membahas kerjasama bilateral Indonesia Amerika Serikat. Di website resmi Gedung Putih terdapat fact sheet tentang program Comprehensive Partnership Indonesia-Amerika Serikat. Saya kutipkan beberapa poin yang relevan dengan dunia pendidikan tinggi:

Bidang Pendidikan:

  • Funding: President Obama highlighted the U.S. government’s commitment to invest $165 million in higher education collaboration over five years.
  • Exchange Initiatives: Expanded educational exchanges, including the new Fulbright Indonesia Research, Science, and Technology (FIRST) Program, the Community College Initiative, English language teaching, and student advising.  Commerce will lead the largest U.S. government-led education trade mission ever to Indonesia in 2011.
  • University Partnerships: Improve the quality of higher education in Indonesia by supporting collaboration between the United States and Indonesian higher education institutions.

Bidang Sains Teknologi:

  • Science and Technology Cooperation Agreement: Signed on March 29 and awaiting entry into force.
  • Science Envoy: Following President Obama’s announcement in Cairo last year of the global Science Envoy program, former president of the U.S. National Academies of Science Dr. Bruce Alberts visited Indonesia and launched the Frontiers of Science program.
  • Frontiers of Science: This scientist exchange program brings together scientists from the United States and Indonesia to share experiences and information with the hope that those linkages will lead to joint research and information-sharing.
  • NOAA Okeanos Explorer: The joint research voyage of NOAA’s Okeanos Explorer and Indonesia’s Baruna Jaya yielded the discovery of unseen formations on the ocean floor, new species of coral and ocean fauna.  This joint voyage marked the beginning of our ocean science partnership. Plans are underway for a second expedition

Environment and Climate Change

  • SOLUSI (Science, Oceans, Land Use, Society and Innovation -“solution” in Indonesian): A multi-agency suite of environment and climate activities, with significant USAID funding, that will work with Indonesian government counterparts and civil society to facilitate and accelerate Indonesia’s sustainable development through a balanced approach to environmental protection and socio-economic improvement.  U.S. commitment of $136 million over three years.
  • Technical Assistance: New focus on forests and peat lands, related measurement and reporting of GHG emissions from all sources, as well as monitoring of the impacts of climate change.
  • Climate Change Center: This past June, President Obama announced that the United States, alongside Norway, will support the establishment of an Indonesia Climate Change Center.  Planning discussions between the U.S. climate agencies and Indonesian counterparts began in July and are ongoing

Tentu saja… untuk implementasi program-program di atas, peneliti dan institusi perlu “merebut” pendanaan program-program ini melalui proposal-proposal.

Oh ya satu hal lagi. Tentang pengamanan dan dampaknya terhadap rakyat “biasa”. Ah, gimana ya. Orang Amerika memang (lebih) paranoid dari negara lain, dan tuntutannya selalu macam-macam. Lebay to the max. Tapi dipikir-pikir masuk akal apalagi setelah 9-11, dan perang-perang yang timbul sebagai dampaknya. Ancaman yang diterima Presiden Amerika lebih heboh daripada Presiden negara lain.

So what gitu loh? So what? Kalau ada kejadian tidak enak, mau terima imbas? Mau terima citra yang salah tentang Indonesia sebagai tempat yang kurang aman, sehingga banyak travel warning? Saya sih tidak mau.

Ketidaknyamanan yang ditimbulkan, terutama bagi warga UI pada hari ini 10 November, haruslah dianggap “minimal”. We’re humans, we’ll adapt.

Jadi? Dengerin ya pidatonya dengan pikiran terbuka. Buang dulu sikap apriorinya.

Jul 23

17 things you should know about DNA

biology, campus, teaching Comments Off on 17 things you should know about DNA

Online Nursing Programs
Via: Online Nursing Programs

Jun 21

Jadi pengelola lingkungan kampus UI berat sekali ya?

Ya, mau ikut  bicara soal “pintu barel” yang, thanks to web 2.0, bisa bikin mengangkat isu ini menjadi isu (agak) global. Ada pengguna twitter yang avatarnya “kembali barel” lho. Wah, boleh juga semangatnya.

Tapi kalau memang ada undang-undang yang sebetulnya melarang orang menyebrang rel kereta api, pengelola kampus tidak sepenuhnya salah kan? Apalagi, di era mobile ini, banyak sekali pejalan kaki yang berjalan sambil menatap layar handphonenya. Atau sambil mendengar musik. Akibatnya, ada mahasiswa meninggal  karena tidak memperhatikan bahwa ada KA yang lewat. Tapi rupanya, para pemrotes yang mayoritas mahasiswa/alumni FHUI (ironis juga, tidak ingin pengelola kampus mentaati aturan hukum?) membawa ini ke aspek sosial ekonomi, budaya dan bahkan pengabdian UI untuk masyarakat sekitar UI. A bit melodramatic don’t you think?

Saya jadi ingat, tahun lalu juga sudah mulai gerakan menutup pintu-pintu akses, tidak hanya pintu “barel” dan menuai protes keras.  Masyarakat kehilangan akses potong jalan dari daerah Kukusan ke Margonda. Tiba-tiba muncul “Forum Peduli Masyarakat daerah X untuk UI”. Alasannya banyak tukang ojek kehilangan mata pencaharian kalau sampai semua pintu ditutup.

Orang yang kenal saya pasti akan nembak “Ya kalau anda enak, naik mobil.” Ehehe, rezeki saya bukan point pembahasan. Artinya, pada saat tahun 1987 UI pindah ke kampus Depok, kita mahasiswa yang ikut rombongan pertama pindah juga mengalami saat berat BELUM ada Bis Kuning berpuluh-puluh atau tukang ojek. Jadi memang, pintu-pintu kecil itulah (malah gang senggol dekat FKM itu belum ada seingat saya) yang membantu.

Tapi itu kan sudah 25 tahun yang lalu :-)?   Masa tidak ingin ada perbaikan dalam pengelolaan?

Kalau saya baca macam-macam komentar isinya seperti ini:

“tidak ada urgensi tutup pintu barel” (kenapa harus ada urgensi?)

“salah satu akses UI ke jalan raya Margonda. Kalau harus mutar lewat stasiun, jauh, panas, rambut saya lepek.” (aduh maaf ya mbak mengganggu kecantikan mbak)

“Kalau mau fotokopi ngga ada yang dekat dan cepat di kampus dodol fotokopiannya” (ketergantungan  pada fotokopian sangat tinggi ya.)

“Banyak warga kehilangan matapencaharian.”

“Peraturan tanpa empati.”

Dan masih banyak lagi. Begitu membawa urusan “hajat hidup orang banyak” UI memang terlihat jadi sebuah makhluk besar, the ultimate ivory tower. Disconnected dengan masyarakat sekitar.

Masa sih demikian? Masa sih, begitu pintu Barel ditutup, kegiatan ekonomi daerah itu harus berhenti total? Kalau memang sudah ada ikatan emosional dengan Santi dkk, ya datangi saja terus. Restoran yang enak biar jauh juga didatangi kan?

Saya tahu, tidak semudah itu. Banyak nawarin alternatif solusi, antara lain, jembatan penyebrangan. Setuju saja, asal memang benar dimanfaatkan. Saya sudah sering lihat orang menyebrang DI BAWAH jembatan Margo City-Detos karena katanya “jembatan sempit, penuh, desain tidak optimal” jadi “jembatan senggol”.

Ya kita lihat saja nanti. Memang saya berbeda pendapat, tidak populer. Cuma sudah lihat beberapa bukti saja, bahwa banyak orang masih susah diatur, apalagi kalau menyangkut kepentingannya sendiri.