Jun 21

Jadi pengelola lingkungan kampus UI berat sekali ya?

Ya, mau ikut  bicara soal “pintu barel” yang, thanks to web 2.0, bisa bikin mengangkat isu ini menjadi isu (agak) global. Ada pengguna twitter yang avatarnya “kembali barel” lho. Wah, boleh juga semangatnya.

Tapi kalau memang ada undang-undang yang sebetulnya melarang orang menyebrang rel kereta api, pengelola kampus tidak sepenuhnya salah kan? Apalagi, di era mobile ini, banyak sekali pejalan kaki yang berjalan sambil menatap layar handphonenya. Atau sambil mendengar musik. Akibatnya, ada mahasiswa meninggal  karena tidak memperhatikan bahwa ada KA yang lewat. Tapi rupanya, para pemrotes yang mayoritas mahasiswa/alumni FHUI (ironis juga, tidak ingin pengelola kampus mentaati aturan hukum?) membawa ini ke aspek sosial ekonomi, budaya dan bahkan pengabdian UI untuk masyarakat sekitar UI. A bit melodramatic don’t you think?

Saya jadi ingat, tahun lalu juga sudah mulai gerakan menutup pintu-pintu akses, tidak hanya pintu “barel” dan menuai protes keras.  Masyarakat kehilangan akses potong jalan dari daerah Kukusan ke Margonda. Tiba-tiba muncul “Forum Peduli Masyarakat daerah X untuk UI”. Alasannya banyak tukang ojek kehilangan mata pencaharian kalau sampai semua pintu ditutup.

Orang yang kenal saya pasti akan nembak “Ya kalau anda enak, naik mobil.” Ehehe, rezeki saya bukan point pembahasan. Artinya, pada saat tahun 1987 UI pindah ke kampus Depok, kita mahasiswa yang ikut rombongan pertama pindah juga mengalami saat berat BELUM ada Bis Kuning berpuluh-puluh atau tukang ojek. Jadi memang, pintu-pintu kecil itulah (malah gang senggol dekat FKM itu belum ada seingat saya) yang membantu.

Tapi itu kan sudah 25 tahun yang lalu :-)?   Masa tidak ingin ada perbaikan dalam pengelolaan?

Kalau saya baca macam-macam komentar isinya seperti ini:

“tidak ada urgensi tutup pintu barel” (kenapa harus ada urgensi?)

“salah satu akses UI ke jalan raya Margonda. Kalau harus mutar lewat stasiun, jauh, panas, rambut saya lepek.” (aduh maaf ya mbak mengganggu kecantikan mbak)

“Kalau mau fotokopi ngga ada yang dekat dan cepat di kampus dodol fotokopiannya” (ketergantungan  pada fotokopian sangat tinggi ya.)

“Banyak warga kehilangan matapencaharian.”

“Peraturan tanpa empati.”

Dan masih banyak lagi. Begitu membawa urusan “hajat hidup orang banyak” UI memang terlihat jadi sebuah makhluk besar, the ultimate ivory tower. Disconnected dengan masyarakat sekitar.

Masa sih demikian? Masa sih, begitu pintu Barel ditutup, kegiatan ekonomi daerah itu harus berhenti total? Kalau memang sudah ada ikatan emosional dengan Santi dkk, ya datangi saja terus. Restoran yang enak biar jauh juga didatangi kan?

Saya tahu, tidak semudah itu. Banyak nawarin alternatif solusi, antara lain, jembatan penyebrangan. Setuju saja, asal memang benar dimanfaatkan. Saya sudah sering lihat orang menyebrang DI BAWAH jembatan Margo City-Detos karena katanya “jembatan sempit, penuh, desain tidak optimal” jadi “jembatan senggol”.

Ya kita lihat saja nanti. Memang saya berbeda pendapat, tidak populer. Cuma sudah lihat beberapa bukti saja, bahwa banyak orang masih susah diatur, apalagi kalau menyangkut kepentingannya sendiri.

Jun 03

TED talks: Why we need the explorers

editorials Comments Off on TED talks: Why we need the explorers

Physicist Brian Cox on why we need to fund basic science:

http://www.ted.com/talks/brian_cox_why_we_need_the_explorers.html?awesm=on.ted.com_8N0b