Apr 20

Dunia akademik Indonesia kembali diguncang. Kemarin, portal berita online seperti detik mengabarkan tentang adanya pelanggaran penulisan ilmiah yang dilakukan oleh seorang mahasiswa doktoral ITB yang saat itu sebetulnya merupakan calon dosen ITB.

Si pelaku telah membuat pernyataan dan mengundurkan diri dari statusnya sebagai calon dosen dan juga menyatakan mengundurkan diri dari dunia akademik.

Terus terang, perasaan saya campur aduk saat membaca makalah yang dituduh plagiat dan surat pernyataan tersebut. Sedih, marah, kesal. Mengapa demikian? Apabila kita membandingkan kedua makalah side-by-side maka kita akan sampai pada kesimpulan yang sama yaitu bahwa si penulis secara terbuka menggunakan makalah orang lain. Penulis mengakui bahwa dia teledor mencampur isi penelitan dan makalah referensi dan hal tersebut dilakukan sendiri tanpa memberitahukan kepada pembimbing.

Mohon maaf, tapi pernyataan si penulis tidak membuat saya lebih tenang. Rasanya si penulis lebih malu “karena ketangkap”  dan bukan karena menyadari bahwa plagiarisme adalah (menurut saya) capital crime bagi seorang akademik. Apalagi ketika muncul sebuah artikel lagi atas nama penulis, sekali ini dalam bahasa Indonesia yang dicurigai juga hanya diterjemahkan tanpa diberi proper attributes untuk sitasi.

Akan tetapi, kalau mau jujur, kejadian seperti ini sudah pernah terjadi di universitas lain termasuk di UI. Bisa dua arah: dosen pembimbing mengambil karya mahasiswa, bisa mahasiswa take credit untuk seluruh penelitiannya tanpa memperhatikan pembimbing sebagai co-author.

Banyak usaha sudah dilakukan tapi menurut saya faktor paling besar adalah faktor pribadi. Bagi saya it’s about honor. Kehormatan. Sama seperti mahasiswa yang suka nyontek, copy paste laporan praktikum temannya. Where is your sense of honor? Itu yang sering saya tanyakan tanpa dapat jawaban yang memuaskan dari para pelaku. Banyak alasan. Semakin menyedihkan karena terkadang si mahasiswa/mahasiswi/dosen tidak memenuhi profil “tukang nyontek”. Religius. Shalat rajin. Ke Gereja rajin. Tapi kok ngga takut nyontek? Mungkin dari sini korupsi muncul?

Mudah-mudahan setelah dapat ekspose seperti ini, pelaku plagiat menyadari dampak tindakannya. (Jangan sampai jadi lebih lihay!)

2 Responses to “Plagiat: Mimpi buruk dunia akademik yang terus berulang”

  1. Jan Peter Says:

    Setuju saya. Saya juga merasa malu sampai tidak berani menulis dalam blog. Kejadian sebesar ini bukan hanya menjadikan institusi sebagai korban, bahkan Indonesia bisa kena. Bayangkan, seandainya karya-karya tulis dari Indonesia mendapat perlakuan “spesial” akibat kasus ini.

  2. Tahitoe Says:

    I am not too informed about the recent cases of plagiarism that came out from UI because I was – and still am – out of the country.

    However, this should not come as a surprise. I think the issue is deeper than most people would like to admit because it really paint a bleak picture of us a society.

    First of all there is no awareness: how many Indonesian students/faculty really understand the universal regulations regarding plagiarism? Not too many. We don’t talk about it in school.

    Second of all, there is no repercussion. How many times people cheat and get away with it in our country? Even after they got caught? I stumbled into this topic as I was looking at videos after videos (in YouTube) of DMasiv songs. That was a solid case of plagiarism and from what I understand, it was a high-profile ‘case’ in Indonesia. Did they confess that they cheated? No. Did their record label fined them as a punishment? No. Did the Indonesian law have something that prohibit these type of behavior? Yes, it’s part of an international agreement regarding intellectual property. Did the government charge them with a crime? No. People cheat in Indonesia and they don’t get punished for it.

    Finally, there is no accountability. We always pride ourselves of our “budaya malu”. However, as you pointed out, the shame is evident only after they were caught. There is no honor in feeling ashamed after getting caught. I don’t think shame, malu, is a good motivator at all but we always say it works in our society. I don’t think it’s working anymore. I think we just have to do it ourselves. Ask the people around us to hold us accountable: academically and ethically. Allow people to correct us before it’s too late. Transparency is a good way to prevent ourselves from going down the cheating route.

    Plagiarism is a serious crime because it kills creativity and along with it creative people. Indonesians do not need more intelligent people, we need to unleash the creative people and reward them accordingly. We cannot reward the true creative people properly if we do not do something about our endemic tendency to cheat and plagiarize.