Apr 23

Biologi Umum: Rancangan Tugas MIPA Terintegrasi 26 April-3 Mei 2010

teaching Comments Off on Biologi Umum: Rancangan Tugas MIPA Terintegrasi 26 April-3 Mei 2010

1.      Topik:  Gelombang elektromagnetik: Aplikasi dan Efek

2.      Efek gelombang elektromagnetik terhadap hewan dan tumbuhan

3.      Subtopic:

–          efek durasi cahaya terhadap tumbuhan

–          efek kualitas cahaya terhadap tumbuhan

–          efek kuantitas cahaya terhadap tumbuhan

–          migrasi burung dan medan magnet bumi

–          migrasi kupu-kupu monarch dan navigasi matahari (sun compass navigation)

Apr 21

Interruption: Tugas MIPA Integratif untuk Biologi Umum

teaching Comments Off on Interruption: Tugas MIPA Integratif untuk Biologi Umum

OK peserta Bio Umum Kimia Non Reguler, kalau tidak sempat buka email dari ketua angkatan,  dalam posting ini “bercerita” tentang revisi tugas MIPA Integratif II yang harus dipresentasikan pada tanggal 3 Mei 2010.

In case ada yang lupa:

1. Kelompok masih sama seperti tugas MIPA I

2. Sebelum tanggal 26 April:

a. membagi tugas (ketua, sekretaris)

b. unduh dan isi borang 1, 2,dan 3 serta berita acara

c. siap peta konsep individu.

sehingga nanti hari Senin tanggal 26 April sudah bisa diskusi dengan “enak”.

Terima kasih, selamat menyiapkan diskusi. File judul/topik untuk poster MIPA integratif bisa diminta ke ketua angkatan anda!

Apr 20

Dunia akademik Indonesia kembali diguncang. Kemarin, portal berita online seperti detik mengabarkan tentang adanya pelanggaran penulisan ilmiah yang dilakukan oleh seorang mahasiswa doktoral ITB yang saat itu sebetulnya merupakan calon dosen ITB.

Si pelaku telah membuat pernyataan dan mengundurkan diri dari statusnya sebagai calon dosen dan juga menyatakan mengundurkan diri dari dunia akademik.

Terus terang, perasaan saya campur aduk saat membaca makalah yang dituduh plagiat dan surat pernyataan tersebut. Sedih, marah, kesal. Mengapa demikian? Apabila kita membandingkan kedua makalah side-by-side maka kita akan sampai pada kesimpulan yang sama yaitu bahwa si penulis secara terbuka menggunakan makalah orang lain. Penulis mengakui bahwa dia teledor mencampur isi penelitan dan makalah referensi dan hal tersebut dilakukan sendiri tanpa memberitahukan kepada pembimbing.

Mohon maaf, tapi pernyataan si penulis tidak membuat saya lebih tenang. Rasanya si penulis lebih malu “karena ketangkap”  dan bukan karena menyadari bahwa plagiarisme adalah (menurut saya) capital crime bagi seorang akademik. Apalagi ketika muncul sebuah artikel lagi atas nama penulis, sekali ini dalam bahasa Indonesia yang dicurigai juga hanya diterjemahkan tanpa diberi proper attributes untuk sitasi.

Akan tetapi, kalau mau jujur, kejadian seperti ini sudah pernah terjadi di universitas lain termasuk di UI. Bisa dua arah: dosen pembimbing mengambil karya mahasiswa, bisa mahasiswa take credit untuk seluruh penelitiannya tanpa memperhatikan pembimbing sebagai co-author.

Banyak usaha sudah dilakukan tapi menurut saya faktor paling besar adalah faktor pribadi. Bagi saya it’s about honor. Kehormatan. Sama seperti mahasiswa yang suka nyontek, copy paste laporan praktikum temannya. Where is your sense of honor? Itu yang sering saya tanyakan tanpa dapat jawaban yang memuaskan dari para pelaku. Banyak alasan. Semakin menyedihkan karena terkadang si mahasiswa/mahasiswi/dosen tidak memenuhi profil “tukang nyontek”. Religius. Shalat rajin. Ke Gereja rajin. Tapi kok ngga takut nyontek? Mungkin dari sini korupsi muncul?

Mudah-mudahan setelah dapat ekspose seperti ini, pelaku plagiat menyadari dampak tindakannya. (Jangan sampai jadi lebih lihay!)

Apr 12

atau dalam bahasa Indonesia: Halusinasi oke aja loh!

An article in the  latest New York Times  discussed the latest developments of psychedelic science and how tightly regulated use of hallucinogens may help in treatments of mental disorders.

What is psychedelic science?

Psychedelic science studies active ingredients that cause hallucinations. Why is microbiology involved? Well this particular article talked about a substance, psilocybin, that is produced by a basidiomycete fungi (Mushroom). Quoting the paper:

Researchers from around the world are gathering this week in San Jose, Calif., for the largest conference on psychedelic science held in the United States in four decades. They plan to discuss studies of psilocybin and other psychedelics for treating depression in cancer patients, obsessive-compulsive disorder, end-of-life anxiety, post-traumatic stress disorder and addiction to drugs or alcohol.

The results so far are encouraging but also preliminary, and researchers caution against reading too much into these small-scale studies. They do not want to repeat the mistakes of the 1960s, when some scientists-turned-evangelists exaggerated their understanding of the drugs’ risks and benefits.

For my Indonesian readers, the 1960s marked an era where a lot of (American) people used mushrooms as a psychotrophic drug to get “high”. People experience hallucinations ( illusory perception; a common symptom of severe mental disorder).

Now there are studies that show how psychedelics like psilocybin can have positive effects on the user. Griffiths et al. (2008) reported that patients treated with psilocybin under supportive conditions described their experience as “personally meaningful” and “spiritually significant” in their lives.Other studies have followed.

I think what is interesting is the fact that perceptions caused by hallucination doesn’t have a negative effect afterwards. However this study didn’t mention any addiction issues that could be caused by use of this hallucinogen. The full article by Griffiths et al can be found here.

Apr 09

An article published in the latest edition of Nature, widely quoted by various news media,   has given me a new reason to love microbiology even more. The main findings suggest that the bacteria in the food we eat (in this case, sushi) may play an important role  in providing the gut microorganisms with enhanced capabilities for food digestion. This accomplished through horizontal gene transfer, a mechanism especially well documented in prokaryotes. You are what you eat, indeed.

What does this mean for us? Well, this is a message to continuously maintain a high level of biodiversity in the environment because it is more than likely providing us with many benefits including for our health.

For a link to the abstract of the article please click here. For the full article you need to pay for access. If you don’t feel like reading the scientific article, here are some articles:

  1. BBC news: Sushi may ‘transfer genes’ to gut
  2. The Guardian: Sushi munching bacteria found in the guts of Japanese people
  3. The Scientist.com: Gut bacteria are what we eat

So let’s hit those sushi bars this weekend!