Feb 09

Beberapa tahun yang lalu, dunia ini terasa sepi. Padahal di sekeliling begitu ramai. Ada yang hilang. Ya, saya kehilangan “teman”.

Sebenarnya, sang teman selalu ada. Jika dibutuhkan, ia pasti menyediakan waktu untuk mendengarkan. Walau memang, cara ia mendengarkan jauh berbeda dengan yang dulu.

Dampak dari perasaan kehilangan begitu dalam. Bibir yang biasanya tertutup rapat dan hanya mengungkapkan beberapa hal penting saja, menjadi sering mengeluarkan ocehan. Layaknya sebuah pistol yang menembakkan pelurunya secara brutal ke segala penjuru. Siapa pun dia, dimana pun dia, akan menjadi sasaran. Maka, sungguh kasihan orang-orang yang ada di sekitar saya.

Kini, mulut ini, menjadi lebih terkontrol. Ia lebih manis dan mengalihkan tugasnya pada sepuluh jari tangan ini. Berbagai cerita dituangkan dalam¬† blog ini. Bahkan, melalui blog itu, saya juga jadi bisa lebih sering berkomunikasi dengan teman saya yang sempat “hilang” itu

so, silahkah mampir…. ūüôā

Feb 04

Beberapa waktu yang lalu, ada seorang ibu yang tergolek lemah di rumah sakit. Setelah di cek secara keseluruhan, sebenarnya ibu yang sedang sakit itu tidak menderita penyakit apapun. Semua anggota tubuhnya bebas dari penyakit. Sang dokter mungkin merasa bingung bagaimana mengkomunikasikan permasalahan ini kepada sang ibu yang menjadi pasiennya. Ketika dokter tersebut mengemukakan bahwa sebenarnya seluruh bagian tubuh sang ibu sehat-sehat saja, sang ibu malah marah sekali. Sang ibu merasa bahwa ia merasa kesakitan, sehingga ia sangat kesal dinyatakan sehat oleh dokter yang memeriksanya. Pada akhirnya, sang dokter tidak pantang menyerah dan mencoba mengungkapkan kepada sang ibu bahwa sang ibu memang sakit dan mengalami infeksi, yaitu infeksi pikiran.

Penyakit infeksi pikiran yang dimaksudkan oleh dokter tersebut adalah psikosomatis. Hanya saja dokter tersebut mencoba mengkomunikasikan penyakit psikosomatis yang di derita sang ibu dengan bahasa yang bisa diterima oleh sang ibu yang menjadi pasiennya tersebut. Infeksi pikiran, menurut saya pun, memang terdengar lebih ‚Äúmedis‚ÄĚ sehingga lebih ‚Äúkeren‚ÄĚ jika disampaikan kepada sang ibu yang merasa yakin bahwa ada sesuatu di tubuhnya, dibandingkan istilah psikosomatis yang mungkin masih jarang diketahui oleh orang umum, salah satunya oleh sang ibu tersebut.

Setelah mendengar pernyataan dokter mengenai penyakit yang dialaminya, sang ibu merasa setuju. Ia memang merasa bahwa terlalu banyak hal yang dipikirkan olehnya. Ia juga merasa banyak sesuatu hal yang ada di masa lalunya yang masih teringat sampai saat ini dan begitu membekas. Pengalaman masa lalu yang dimaksudkan bukan masa lalu yang manis. Masa lalu yang diingat oleh sang ibu adalah pengalaman-pengalaman pahit yang membuatnya sering bersyukur karena keadaannya kini jauh lebih baik, tetapi juga merasa sedih karena harus mengalaminya. Jika dokter tersebut mengistilahkan psikosomatis tersebut dengan istilah infeksi pikiran, maka sang ibu punya istilah lain. Sang ibu bilang kepada saya jika pikiran-pikiran mengenai masa lalunya sudah ‚Äúnuju‚ÄĚ. Apa arti daru ‚Äúnuju‚ÄĚ itu? Saya tidak tahu.

Saya, pada saat itu, yang mengikuti secara langsung cerita tersebut menyelipkan rasa bangga di hati. Pasalnya, sayalah yang meyakinkan kepada salah satu pihak keluarga sang ibu bahwa penyakit yang dialami sang ibu adalah psikosomatis. Sehingga, saya sangat khawatir jika sang ibu selalu dicekoki berbagai obat yang tidak diperlukan oleh tubuhnya. Apalagi, pada saat itu, saya mendengar bahwa setiap kali sang ibu mengkonsumsi obat yang diberikan oleh dokter, ia akan merasa sangat kesakitan.

Salah seorang anggota keluarga yang saya dekati pun mau mendengarkan pendapat saya. Ia langsung menelpon beberapa anggota keluarganya yang menjadi pengambil keputusan mengenai penyakit psikosomatis yang mungkin di derita oleh ibunya. Mereka pun bermusyawarah di antara sesama anggota keluarga, kemudian mereka pun bermusyawarah dengan dokter yang bertanggung jawab terhadap proses perawatan sang ibu. Hasilnya, sang ibu bisa pulang dari rumah sakit-setelah dirawat selama seminggu- dengan kondisi yang lebih baik karena ia telah mengetahui ‚Äújenis penyakit‚ÄĚ yang selama ini telah menggerogotinya dan ia juga tidak lagi dicekoki oleh obat-obatan yang tidak diperlukan oleh tubuhnya.

Kebanggaan saya terhadap salah satu upaya kecil yang pernah saya lakukan untuk sang ibu dan keluarganya tersebut kini sirna. Bagaimana tidak? Saya menasihati orang lain mengenai penyakit psikosomatis dan bahaya yang bisa diakibatkannya. Ternyata, saya mengetahui di kemudian hari bahwa saya sendiri terkena penyakit yang sama.

Terus terang, saya merasa sangat bodoh. Apalagi psikosomatis yang saya alami tersebut telah berdiam di dalam diri saya sejak lama, bahkan sebelum cerita sang ibu dan dokternya tersebut berlangsung di panggung dunia ini. Saya juga semakin merasa bodoh karena saya sendiri merasa sangat sulit mengobati penyakit psikosomatis yang selama ini telah saya derita. Apalagi psikosomatis yang saya derita tersebut terasa telah menjadi sangat akut. Masya Allah… betapa diri saya menjadi begitu lemah karenanya. Saking lemahnya, berbagai penyakit pun merasuk ke dalam tubuh saya. Baik masuk angin (flu), biduren (gatal-gatal di kulit tubuh yang disebabkan oleh alergi terhadap sesuatu), asma, sampai dengan membengkaknya konka di hidung yang membuat telinga saya menjadi kurang berfungsi. *saya memang bodoh!*

Dec 17

di tepi danau, saya masih terpesona dengan keindahan yang muncul kembali di SCIENCE PARK. sampai akhirnya burung merpati putih dengan kutunya itu datang lagi menghampiriku. ia hendak memelukku dengan mesra. Aku yang sedang menikmati duniaku sendiri hanya tersenyum pasrah. sampai akhirnya ada suara yang berteriak, “heeeeeeeeeeeeh!”. burung merpati putih langsung terdiam. ia tidak bergerak sesaat. ia sepertinya menahan marah. Aku bisa lihat amarah dimatanya. burung merpati yang kucintai itu pun langsung terbang tinggi ke langit biru. aku hanya menatapnya pergi dan bersedih.

Saya mencari-cari suara yang pernah dikenal itu. saya bercermin. di dahi, saya tidak ada apa-apa. saya juga tidak menemukan apa-apa di rambut. saya melihat ke sisi kanan tubuh saya, terus sampai jemari kaki saya. ooooh, ternyata ada kutu di situ. berarti selama ini, kutu yang membuat orang lain alergi terhadap saya, tidak pernah pergi. Kutu yang pernah hinggap di burup merpati putih itu bukan kutu-saya. dia adalah salah satu anaknya kutu-saya.

yah, biarlah burung merpati putih itu terbang sendirian. biarlah kutu-saya itu berada disisi saya. Tidak apa-apa jika dia masih senang di tempatnya sekarang. TOh, kutu-saya itu tidak pernah menghisap darah saya. Dia tidak mengganggu saya, suami saya, dan anak-anak saya. Jika kutu-saya itu membuat orang lain tidak mau berteman dengan saya, saya tidak peduli. aku ingat pesannya “guru spiritual”-nya sahabat saya. Dia bilang, kita tidak perlu membuat semua orang mencintai kita. Memang siapa saya?

saya lihat ke langit. di sana ada keindahan yang pernah saya kagumi. saya pun terbang menuju keindahan di langit itu, langit biru-jingga, biru-jingga

Dec 16

salah seorang teman di komunitas peduli kesejahteraan sosial (KPKS)–salah satu yayasan yang saya dirikan,¬†pernah menyesali keputusan saya untuk bekerja di UI. Dia berpendapat bahwa keputusan saya, berarti akan membuat saya menanggalkan komitmen¬† yang saya miliki untuk membangun KPKS. pada saat itu, tepatnya 6 tahun yang lalu, saya bersikeras kepada teman saya tersebut bahwa saya masih meluangkan waktu untuk membangun¬†KPKS bersama teman2. tetapi, saya ternyata salah. Pekerjaan di kampus begitu menyita perhatian sehingga saya memang pada akhirnya meninggalkan KPKS. Tanpa saya, KPKS¬†sempat berjalan sampai tahun 2006. Namun katanya, ia hidup segan, matipun tak mau. kini, KPKS pun dinyatakan menghilang.

kemudian pada tahun 2007 yang lalu, saya ditawari lagi untuk berkomitmen di sebuah yayasan. Yayasan tersebut bernama komunitas konsumen pendidikan indonesia (K2PI). hampir serupa dengan pengalaman saya di KPKS, saya kurang bisa membagi waktu antara perkerjaan di kampus dengan pekerjaan saya di K2PI. Saya berharap semoga permasalahan ini bersifat sementara.

Kini saya merasa optimis bahwa permasalahan itu memang bersifat sementara. Dalam kesibukan saya yang membuat saya mengidamkan memiliki tangan gurita, saya masih bisa merangkul  K2PI pada kegiatan2 yang saya selenggarakan. Tidak hanya K2PI,  saya juga bisa merangkul mimpi-mimpi yang pernah terukir di KPKS.Ternyata, saya memang tidak boleh berhenti bermimpi.

Kini, dalam beberapa kegiatan yang saya selenggarakan, saya bisa bertemu kembali dengan komunitas yang pernah terlibat dalam pembuatan skripsi saya, yaitu komunitas yang menjadi target sasaran dari pelayanan sosial yang pernah diberikan oleh KPKS. Mereka adalah komunitas kampung sawah.

Saya sangat bersyukur. walaupun KPKS sudah tiada, saya masih bisa banyak berbuat untuk mereka yang dikategorikan sangat miskin. walaupun KPKS telah hilang ditelan bumi, tetapi saya masih bisa merangkul kembali semangat visi dan misi KPKS yang sempat memudar dan nyaris menghilang. Ternyata, sekali lagi, kita memang tidak boleh berhenti bermimpi.

mIMpi…

adalah kunci…

lalalala…

lalalalalala…

*maaf saya tidak hapal*

:p

Dec 15

monster jelek:
berikan saya uang
saya akan sangat ringan untuk tersenyum padamu
berikan saya popularitas
akan kudekati dirimu
saya itu orang penting, kamu tahu itu?

saya:
ya
saya tahu itu
oleh karenanya saya bangga terhadap diri saya

saat bicara padamu saya sampai gemetar
bukan karena saya kagum dan terpesona dengan kesombongan kamu
saya gemetar karena menahan kebencian terhadap rupamu yang menyeramkan
kamu benar-benar seperti monster
dan saya tidak akan pernah menyembah dirimu

gak akan!!!
cuih!!!

Dec 11

seharusnya judul postingan kali ini ditambahin dengan “dan perempuan atau manusia”. Soalnya saya paham jika tidak semua laki-laki itu jahat. Saya juga paham jika perempuan juga banyak yang tidak baik dan melakukan kekerasan terhadap laki-laki. Tetapi, mohon maaf, mungkin karena saya perempuan, dan saya lebih banyak menerima kasus kekerasan terhadap perempuan, maka di sini saya lebih ingin mengeluh tentang ketidakmengertian saya terhadap laki-laki yang ‘cunihin’, kata ceu nazla.

Keluhan2 saya sebenarnya adalah keluhan yang sudah usang. Salah satu keluhan saya adalah perihal poligami. Keluhan ini sebenarnya sudah membosankan bagi saya yang suka mengeluhkan hal ini :p *apaan sih bu sari?*

Apapun yang ada di benak laki2, saya paling senang jika ada laki2 yang menjawab pertanyaan saya tentang poligami dengan lebih memihak kepada perasaaan perempuan. Salah seorang lelaki yang pernah saya tanya mengatakan jika dia punya uang banyak, dia lebih memilih untuk berbisnis dari pada menikah lagi. Beliau bilang, “punya satu isteri saja, susah mendidiknya. apalagi lebih dari satu?”. sewaktu itu, saya yang belum menikah merasa amat sangat lega. ternyata, di dunia¬†ini masih ada laki2 yang berperasaan.

dan ternyata, laki-laki yang baik hati dan tidak sombong itu memang ada. Sampai saat ini, alhamdulillah, saya masih merasa nyaman dengan lelaki yang baik dan tidak sombong itu. saya bahkan mencintainya. Semoga, cinta ini dapat kekal sampai akhirat nanti. Semoga pula, laki-laki saya yang sangat saya cintai itu tidak membuat saya kecewa, patah hati, hancur berkeping2 karena dia berpaling kepada wanita yang lain.

saya akui saya adalah wanita egois. Tetapi,¬† saya juga tidak mau berpura2 untuk menjadi wanita soleh dan ikhlas. Lebih baik, saya berterus terang saja. Saya tidak rela jika ia mencinta wanita lain dan menikahinya–baik secara legal maupun tidak. Jika ia melakukannya, saya rasa, saya lebih baik pergi meninggalkannya dari pada anak-anak saya menderita karena melihat ibunya depresi.

kadang saya juga berpikir, jika suami saya, misalnya, melakukan poligami, kenapa saya harus bersedih. mari saya relakan saja lelaki baik itu. kata orang sunda mah, ‘ntong di kekeweuk sorangan’ (jangan dicengkeram sendirian). Yang penting, dana bulanan mengalir, anak2 sejahtera, dan saya bisa hidup lebih ‘bebas’ karena salah satu pekerjaan rutin sebagai seorang isteri bisa dialihkan kepada perempuan lain. Tapi, jika dipikir ulang kembali, jika pemikiran itu dibiarkan berakar dalam diri saya, saya merasa dunia menjadi begitu datar. Dunia menjadi begitu ‘hitam-putih’, tidak ada warna, tidak ada ‘taste’. Saya tidak mau dunia saya menjadi seperti itu. Jika suami saya mau membantu wanita lain yang terlantar di dunia ini, berikan saja uangnya pada saya. Biar saya yang mengelolanya mereka. Suami saya tidak perlu menikah lagi. Tetapi jika suami saya mau menikah lagi, ya, saya cari saja lelaki lain yang lebih baik hatinya. it’s not simple. tetapi saya harus membuat permasalahan itu menjadi sederhana dengan meninggalkannya. saya mohon maaf kepada semuanya.

tetapi, sekali lagi, alhamdulillah, segala puji baginya, suami saya adalah suami yang baik hati dan tidak sombong. Sampai saat ini, saya sering menanyakan keinginan dia untuk berpoligami. Alhamdulillah, sampai saat ini, dia merasa cukup dengan kehadiran isterinya yang tidak sempurna. Allahu’alam. Dia masih menghargai isterinya yang sangat jauh dari ideal.

f4.jpg

Suami saya bukan supel.

dia juga bukan setal.

kalo digabunging, dia bukan supelstaaaaal…

dia hanyalah¬†orang yang¬†aku cintaIIIII…¬†

Alhamdulillah, suami saya yang baik hati dan tidak sombong itu tidak seperti laki-laki lain yang tidak saya mengerti, yaitu laki-laki yang masih suka tebar pesona padahal isterinya cantik sekali, banting tulang demi mendapatkan sesuap nasi untuk anak2nya. lelaki itu pernah berpelukan dengan perempuan lain disaat anaknya tidak bisa berkonsentrasi dengan pelajaran sekolah karena sedih melihat ibunya sering menangis diam2. Bahkan, ia juga menikahi perempuan lain, di saat isterinya yang cantik, seksi, pintar, jago masak, jago jualan kue, sedang menanti dirinya di rumah. Saya tidak mengerti dan saya merasa tersakiti.

Nov 28

saya baru saja membaca dua buah sinopsis teman2 yang mengalami disabilitas. Mereka tidak punya mata yang berfungsi dengan baik. Setelah membacanya, saya merasa belum banyak bersyukur.

Cerita mengenai keuletan teman-teman yang mengalami keterbatasan pada bagian tubuhnya pasti sangat menyentuh. Tetapi kali ini saya sangat tertarik dengan cerita tentang orang tua dari mereka yang memiliki disabilitas.

Semua¬†orang tua pasti berharap anaknya sehat secara jasmani dan rohani. Tidak ada orang tua yang berharap bahwa anaknya menjadi “tidak ¬†seperti anak-anak yang lain”. Ketika ada orang tua yang mengalami hal yang demikian, dan mereka berhasil mendidik anak-anaknya, maka dapat dipastikan bahwa ia adalah orang tua yang sangat hebat.

Bagi saya, orang tua yang berhasil mendidik anak-anaknya bukan orang tua yang hanya bisa sekedar memberikan materi duniawi. Orang tua yang berhasil mendidik anak-anaknya adalah orang tua yang bisa menjadikan anaknya menjadi lebih bertanggung jawab terhadap diri, bahkan keluarga, dan lingkungannya.

banyak orang tua yang telah luput dalam memberikan keberanian kepada anak-anaknya untuk hidup mandiri. Seharusnya, kemandirian ini telah dipupuk sejak dini. Minimal, anak-anak dapat memakaian pakaian, sepatu, dan peralatan pribadinya yang lain tanpa bantuan orang lain. Sehingga, anak-anak yang dibiasakan untuk diladeni bak seorang puteri raja menjadi anak yang manja.

Di lain sisi, orang tua pun memanjakan anak karena seringkali disebabkan oleh keinginan dan ketidak tahuan mereka dalam mencurahkan kasih sayangnya. Padahal kemandirian sangat penting bagi anak-anak. Anak siapapun dan dengan kondisi apapun.

Kembali lagi pada orang tua dari teman-teman saya yang mengalami disabilitas. Mereka¬†adalah orang tua yang hebat. Mereka dapat mencurahkan seluruh jiwa raganya demi proses pertumbuhan dan perkembangan dengan anak mereka. Tetapi, kasih sayang mereka tidak membuat anak-anak mereka menjadi manja. Anak-anak mereka yang memiliki keterbatasan dalam melihat tumbuh menjadi anak yang mandiri. Lebih dari itu, mereka menjadi seseorang yang berprestasi dan mampu membuktikan bahwa “ORANG DENGAN DISABILITAS TIDAK PERLU DIKASIHANI APALAGI DI DISKRIMINASI”.

MEREKA MAMPU! PERCAYALAH!

Nov 27

ada dosen yang mengeluh bahwa tulisan mahasiswa banyak yang tidak bisa dimengerti. seringkali mahasiswa membuat kalimat-kalimat yang sulit dicerna. SPOK (subjek, predikat, objek, keterangan) dari kalimat yang dibuat oleh mahasiswa tidak jelas. Itu memang benar. Saya bahkwan sering menemui penulisan istilah-istilah gaul di beberapa tugas kuliah yang dibuat mahasiswa seperti: gw yang artinya gue atau berarti saya. Saya bilang kepada dosen yang mengeluh tersebut, mungkin mahasiswa perlu mengikut kuliah penulisan populer di FIB (masih ada ngga ya?).

Mahasiswa juga mungkin perlu baca buku-buku penulisan populer atau buku-bukunya Bapak Hernowo. Ada salah satu buku Bapak Hernowo yang saya suka. Judul bukunya adalah “bermain-main dengan teks”. Saya suka sekali dengan buku itu. setelah membaca buku itu, saya jadi lebih berani berekspresi melalui tulisan. Melalui buku itu, saya jadi semakin tahu bahwa tulisan yang baik adalah tulisan yang bisa mengkomunikasikan pesan yang ada di kepala kita kepada yang membaca tulisan kita. Jika ada yang salah menafsirkan tulisan kita (baik itu artikel, skripsi, tesis, dll), maka kita perlu mengevaluasi ulang tulisan kita. Jangan menyalahkan orang yang membaca tulisan kita. Apalagi menyebut bahwa orang yang membaca adalah orang yang awam atau bodoh. Ternyata itu adalah kesalahan besar.

Usul saya itu ternyata¬†tidak disetujui. dosen yang mengeluhkan tulisan mahasiswanya itu, dan dosen ¬†lain yang ada di sekitar kami pada saat berdiskusi mengatakan bahwa tulisan populer dan tulisan ilmiah adalah berbeda. Saya setuju jika dikatakan dua macam tulisan itu berbeda. Tetapi saya pikir skill untuk membuat kedua macam tulisan tersebut sama: mahasiswa memiliki ketrampilan–lebih tepatnya:keberanian–¬†dalam menyampaikan pesan melalui tulisannya, atau menulis dilihat mahasiswa sebagai sebuah permainan seperti yang dikatakan oleh Bapak Hernowo. Menulis¬†tidak lagi¬†menjadi suatu hal yang menakutkan. Apalagi jika¬†harus menulis skripsi.

Ada mahasiswa yang mengeluh karena dia merasa bingung ketika berada di depan komputer. Dia bingung menuliskan apa. Apa yang harus dia kemukakan dan bagaimana cara mengungkapkannya. Tetapi apabila mahasiswa yang bersangkutan diminta berbicara mengenai apa yang dia ingin tuliskan, maka ia akan bercerita panjang lebar, dengan cara yang sangat lancar.

Saya juga pernah merasakan hal tersebut. Saya pernah merasa mampet, peT.  Saya juga pernah bertanya kepada teman saya yang jago menulis dan pernah jadi muridnya Bapak Hernowo juga: ibu Nazla Luthfiah. Dia mengatakan jika saya ingin menulis, atau bahkan menulis sebuah buku, ya, menulis saja. dia hanya mengatakan: menulis saja. Tetapi saya tetap tidak bisa melakukannya.

Setelah saya membaca tulisannya Bapak Hernowo, ternyata permasalahan saya dalam menulis adalah takut dengan penilaian orang lain. Saya takut dicela dan saya takut orang lain mengetahui pemikiran saya yang kadang cenderung “aneh”.

Sewaktu saya membuat skripsi, saya juga pernah merasa takut jika harus bimbingan skripsi. Saya seringkali sengaja untuk menunda pertemuan dengan bapak Dosen. Saya takut dinilai, dimarahi, dan ketahuan bahwa saya tidak smart. Sungguh, saya takut. Terutama pada bimbingan skripsi¬†untuk pertama kalinya. sewaktu itu, dosen saya memberikan bimbingannya kepada saya di ruang Departemen, dimana ruangan itu ada banyak dosen lain¬†yang berseliweran. Pemikiran buruk saya pada saat itu adalah dia akan berterik setelah membaca tulisan saya: “KAMU SIAP GAK SIH MENULIS SKRIPSI? KAMU BELAJAR BAHASA INDONESIA, TIDAK? KAMU INI….”. Sungguh, pada saat itu saya sangat takut. Tangan saya dingin. It’s true.

Ternyata dosen saya–yang pada saat itu baru saja merangkumkan disertasinya, tidak berteriak dan¬†memaki-maki saya. Dia hanya menuliskan beberapa beberapa hal yang tidak perlu dicantumkan dalam tulisan saya. Satu lagi pesan beliau yang saya ingat adalah: jangan terlalu berbunga-bunga. Hal yang paling penting, dia tidak memberikan masukannya sampai orang lain bisa mendengar ūüôā Tidak bisa dibayangkan jika reaksi pembimbing saya seperti yang saya takutkan.

Pada saat ini, detik ini, saya harus menjadi dosen yang tidak seperti ‘dosen yang saya takutkan’. saya juga berkeinginan untuk menyampaikan kembali pesan dari bukunya Bapak Hernowo, kepada mahasiswa saya sehingga mereka bisa lebih bersahabat dengan teks.

Sebagai seorang pendidik, tentu saya harus memberikan contoh yang baik kepada yang dididik. jika saya meminta mereka lebih lincah dalam menulis, maka saya juga harus seperti itu. Malu jika seorang pendidik menyuruh anak didiknya pintar menulis tapi yang menyuruh masih ‘yaaa begitu deh’. Oleh karenanya, saya harus berani memulai menulis. Saya ingin menulis tulisan ilmiah, tetapi tulisan ilmiah yang saya ingin tulis adalah tulisan ilmiah yang populer, yang enak di baca dan perlu. Tulisan ilmiah yang mudah dimengerti oleh orang yang membacanya.

Nov 26

Menjadi orang tua memang tidak mudah. Menjadi orang tua tidak hanya butuh nilai, ilmu dan ketrampilan. Menjadi orang tua juga butuh “art” menjadi orang tua yang bijak. Jadi, orang tua menjadi¬†tidak kaku dan lihai dalam memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Apalagi anak-anak yang ada dihadapannya itu adalah manusia yang unik, yang tidak bisa disamakan dengan anak tetangga, anak kakak, anak orang, anak pejabat, atau anaknya sang super star.

Menjadi orang tua juga tidak selamanya sulit. Menjadi orang tua akan menjadi mudah jika ia bisa menjalin komunikasi yang baik dengan anaknya. Tentu saja hal ini harus dimulai dari sejak dini. Tepatnya, orang tua harus belajar komunikasi dengan anaknya dari sejak ia masih di dalam kandungan. Ketika komunikasi antara anak dan orang tua terjalin dengan baik, maka permasalahan yang bisa saja timbul pada saat orang tua memberikan pendidikan anak di keluarga dapat diminimalisir sesegera mungkin.

Komunikasi itu sendiri akan berjalan dengan lancar keluarga dimana anak dibesarkan penuh dengan kasih sayang. Orang tua menyayangi anak dan anak menyayangi orang tua dengan cara yang santun dan sesuai dengan takarannya. “Takaran yang sesuai” berarti orang tua tidak memberikan kasih sayang secara berlebihan sehingga ia memberikan sesuatu hal diluar kebutuhan anak. Sehingga anak yang mendapatkan¬†“kasih sayang” yang berlebihan tersebut menjadi¬†tidak mandiri dan tidak bisa belajar untuk bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.

Dalam kesulitan atau kemudahannya, setiap orang tua tentu akan berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbaik kepada anaknya. Terutama pada saat anaknya sedang menginjak usia “masa emas”. Semua orang tua pun tentu berharap anaknya memiliki kesiapan dalam menghadapi lingkungan setelah anaknya melalui proses pendidikan di¬†“masa emas” tersebut.

Namun pada saat anak-anak telah memiliki keahlian untuk berbaur dengan lingkungannya, sering kali orang tua menjadi was-was. Bagaimana tidak? lingkungan anak sering kali memberikan pengaruh yang tidak sedikit pada proses pertumbuhan dan perkembangan anak-anak. Kemudian siapa yang bisa mengetahui kejadian-kejadian tidak terduga di luar sana? Tidak ada kecuali Yang Maha Mengetahui. Jadi, memang ada satu hal yang paling penting yang harus dilakukan oleh orang tua dalam mendidik anaknya: berdoa dan memohon yang terbaik untuk anak-anaknya kepada kepada Allah Yang Maha Kuasa. 

Nov 26

pertama,

november ini, aku punya banyak postingan juga ya? kerjaan banyak yang ketunda. termasuk bikin tulisan jurnal yang ngegantuuuung aja. hihi… males banget. ngelirik aja males. apalagi mo ngerjain. ternyata aku tinggal bikin abstraknya doangan! :p

sori ya bos.

i’ll do it

kedua,

aku harus dah ancang2 sekolah lagi. AYOOOO SEKOLAAAAH.

ketiga, 

aku harus mulai nulis buku. lulu¬†ama mbak endang dah bikin. si abud juga. hiks. minimal, mulai dari buku ajar SUKS kali ya…

keempat,

my k2pi sekarang selalu menyanyikan lagu “aku seorang kapiten”.

aku seorang kapiten

mempunyai pedang panjang

kalo berjalan, prok prok prok (jalan di tempat)

aku seorang KAPITEN

suamiku dukung aku dan akhirnya mas adi mau kembali ke “kandang” dan mbak endang mo bantuin . hiks. i love you guys…¬†

bismillah…