Archive for the 'Paper Opini' Category

Perpustakaan UI: Gedung Batu Megah itu..

February 8th, 2010 -- Posted in Paper Opini | 2 Comments »

Awan berarak menggantung diatas langit Depok. Burung-burung Camar beterbangan diatas Danau UI. Ranting dan daun dari pohon-pohon cantik di sekitar danau itu bergoyang. Di Ujung danau itu saya menyaksikan sebuah superstruktur tumbuh sejak bulan Juni 2009. Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia tahap 2 ini akan segera menjadi pusat Integrasi kehidupan kampus di Kampus Hutan Raya Universitas Indonesia yang asri.

Hari itu, di jam-jam terakhir dipenghujung tahun 2009, rasa sepi itu saya rasakan lagi. Hari itu telah berpulang keharibaan Allah, Presiden Indonesia ke-4, Gus Dur. Berita kepulangan ke negeri keabadian dan setiap ada pengumuman bendera kuning didepan pintu UI selalu mengingatkan saya pada akhir suatu sejarah hidup seorang manusia.

Tidak ada yang abadi. Yang relatif lebih abadi dan lebih panjang hanyalah kenangan akan seseorang yang terpatri dihati orang-orang yang pernah mengenalnya atau hasil karya dan pemikirannya yang tersimpan dalam di tablet tanah liat, papyrus, lembar-lembar kertas, atau prasasti batu yang semuanya rentan oleh waktu. Ilmu Pengetahuan hanya akan relatif abadi karena dia hidup di pemikiran satu generasi ke generasi. Bukti fisiknya terkumpul disuatu tempat yang bernama ‚ÄėPerpustakaan‚Äô.

Setiap hari, saat memandang lewat jendela di ruang kerja saya di lantai 7 Rektorat UI, saya menjadi saksi bagaimana bangunan pusat ilmu itu menjadi makin mirip dengan gambar yang divisikan arsitek pengarangnya. Akankan bangunan itu benar-benar menjadi ‚Äėthe largest library structure in the world?‚ÄĚ.¬† Pertanyaan itu juga pernah dikonfirmasikan seorang teman Spanyol saya yang rajin membuat ranking Universitas, Lembaga Penelitian, Sekolah Bisnis dan Rumah Sakit di Dunia. Dengan cita-citanya untuk membuat artikel ilmiah ia dapat membuat efek sampingan yang tidak dianggapnya penting, yaitu membuat semua Rektor di dunia terjaga setiap enam bulanan karena peringkat yang dibuatnya. Saat ditanya saya hanya berusaha menjelaskan bahwa, kalau membandingkan diri dengan Library of Congress Amerika yang berdiri diatas 3 bangunan dengan 21 Juta buku yang tersimpan di lemari sepanjang 785 Kilometer dengan 118 juta item, mungkin saja tidak tepat. Namun keinginan untuk menjadi yang terbesar dalam satu parameter indikator adalah salah satu target yang ingin dicapai. Bangunan perpustakaan luasnya 30000 meter persegi dan lebih besar dibanding perpustakaan nasional Singapura yang luasnya 11300 meter persegi.

Bangunan berwarna batu yang indah dan bertumbuh dan kian menjulang itu akankan jadi simbol dan menjadi jiwa berkembangnya ilmu pengetahuan di kepulauan Nusantara ini. Dapatkan ia bertahan dan berbekas seperti bangunan-bangunan bukti peradaban yang saya temukan di Luxor, Cordoba, Granada atau di Istambul?.  Akankan superstruktur itu menjadi tempat yang menjadi tujuan dan membuat jiwa-jiwa yang lapar akan ilmu pengetahuan betah untuk menghabiskan jam demi jamnya demi menjadi setetes pemikiran yang bermuara ke laut hasil pemikiran umat manusia?.

Perpustakaan adalah tempat kecintaan saya. Perpustakaan menjadi tempat yang selalu mengobarkan semangat berpikir di kota manapun saya berada. Saya terbayang pada perjalanan saya dimasa mahasiswa dulu, ketika Internet belum ada. Saya berkesempatan berburu artikel-artikel ilmiah dan mewujudkan impian saya merasakan suasana perpustakaan di Universitas Ivy League Amerika ‚Äď Stanford, ¬†Berkeley, Columbia, USC California, Yale, Princeton, MIT, di perpustakaan Markas Besar PBB atau di Inggris ‚Äď Cambridge dan Oxford dan di universitas tempat saya melanjutkan S2 dan S3 – Sheffield dan Leeds. Saya pernah dengan bangga mengoleksi kartu berbayar untuk menggunakan mesin fotocopy dari perpustakaan-perpustakaan pusat pemikiran dunia abad ini.

Saya sering teringat pada wajah-wajah pustakawan yang penuh senyum di tempat di mana kita akan selalu diterima, walau kita tidak punya status, kedudukan dan hak untuk menggunakan ruang. Ditempat itulah saya dapat menyerap kekuatan dari teman-teman lain yang sedang bergulat berusaha memahami ilmu pengetahuan, dan mempersiapkan diri menghadapi ujian. Kekuatan dari keinginan untuk setara dalam berusaha dengan melihat contoh usaha teman lain menyerap ilmu terbukti ampuh dan memberikan ketenangan. Diranah ilmu pengetahuan semua orang setara dan aman.

Ribuan tablet dari tanah liat di Nineveh di tepi sungat Tigris di Mesopotamia sekitar 1000 tahun sebelum masehi menjadi bukti terkumpulnya ilmu pengetahuan. Perpustakaan dimasa keemasan Persia, Yunani, dan Roma, China hingga Perpustakaan dimasa kejayaan Islam dan Kristen menjadi tempat dimana secara turun temurun nilai-nilai dan pemikiran dapat di teruskan. Sejarah mencatat kebengisan Alexander yang Agung, yang membakar ribuan buku-buku dibidang astronomi, filosofi, kedokteran, kimia di perpustakan raksasa di Persepolis (yang kini terletak Iran).  Kalau saja bukti-bukti tulisan dialog Plato tidak tersimpan diperpustakaan, maka saya tidak akan pernah tahu bahwa ada sebuah negeri yang entah nyata atau fiksional yang disebutnya Atlantis (yang konon mungkin ada di posisi Nusantara sekarang). Stimulasi pemikiran rasional  dan menyalakan ide-ide kemanusian, moral dan peradaban telah ada di abad Sebelum Masehi sejak jaman Socrates di Athena.

Sebuah cerita menarik tentang berharganya perpustakaan adalah ketika Mark Anthony memberikan seluruh koleksi Perpustakaan Pergamon (di Anatolia, Turki sekarang) sebagai mahar perkawinan untuk kekasihnya Cleopatra di Alexandria, Mesir pada awal abad Masehi. Seluruh lemari perpustakaan Pergamon dikosongkan dan dipindahkan ke Perpustakaan Alexandria yang saat itu menjadi salah satu pusat peradaban dunia. Sebuah cerita historis dari sebuah hidup yang berakhir sangat singkat namun meninggalkan banyak cerita heroik. Seperti juga cerita bagaimana  Thomas Jefferson menjual 6478 buku di perpustakaan pribadinya tahun 1815 ke Library of Congress di Capitol Hill Amerika setelah koleksi asli perpustakaan itu terbakar tahun 1812. Ternyata diperlukan masa hampir 200 tahun untuk mencapai koleksi 21 Juta buku.

Masa-masa kejayaan abad pertengahan masih terlihat hingga saat ini seperti di Perpustakaan Pusat Astan Quds Razavi tempat makam Imam Reza di Iran, yang masih ada sejak berdirinya di tahun 1471. Sejarah mencatat bahwa banyak perpustakaan Islam yang pernah menjadi sumber ilmu pengetahuan yang diterjemahkan oleh para pendeta dan muncul sebagai ilmu yang dibukukan di perpustakaan-perpustakaan Eropa moderen.

Saya pernah membayangkan bahwa masa-masa kejayaan Istambul dan Granada akan muncul lagi dalam bentuk lain di pusat dunia baru seperti di Dubai. Pusat kebudayaan dunia senantiasa berpindah. Manusia-manusia yang mengisinya terus berganti dan melakukan sesuatu dalam jangka waktu hidupnya  yang terbatas.

Buku dan koleksi berbentuk kertas memiliki masa keusangan fisikal dari material. Catatan dalam bentuk buku dapat menjadi rusak jika dipegang terus menerus dan akibat keausan yang disebabkan oleh asam pada serat pada kertas. Dokumen dapat berubah warna atau rusak karena waktu.   

Ketika abad elektronik datang, manusia berpikir bahwa semua dapat diabadikan dalam bentuk elektronik. Namun hingga saat ini tidak ada satu media digitalpun yang dapat menyimpan informasi elektronik dengan format yang dapat terbaca lebih dari 30 tahun. Umat manusia diabad komputer ini masih terus berusaha menemukan cara menyimpan informasi digital yang lebih kokoh dan harus terus memigrasikan bentuk informasi elektronik yang dimiliki  ke format standar baru karena  perubahan perangkat keras dan perangkat lunak.

Saat ini pencapaian kebudayaan dan ilmu pengetahuan umat manusia terlihat dari peninggalan tertulis, dan peninggalan berupa benda-benda yang dapat selamat (survive) dari masa lalu, contohnya Candi atau Waruga berupa batu di Sulawesi Utara yang berusia lebih dari 1200 thaun. Sumber-sumber penting tentang peradaban kita harus dapat terselamatkan apabila terjadi bencana besar atau hal-hal alami yang dapat menghilangkan bentuk pengabadian pencapaian tangible and intangible heritage yang sudah dicapai sebelumnya.

Selain perlu dijaga kelestarian bentuk aslinya, sistem berbasis digital juga perlu disiapkan. Seluruh bukti  perkembangan peradaban harus dapat diindeks dengan baik dan tersimpan dalam bentuk digital yang memiliki mirror.  Kelak diperlukan sebuah usaha dimana bentuk digital itu disimpan ditempat yang terlindungi, terselubung, agar dapat terselamatkan ke masa depan. Tempat penyimpanan digital itu perlu disimpan bersama dengan alat pembacanya agar dapat diakses kembali dimasa depan.

Perpustakan dalam bentuk tradisionalnya menyimpan buku. Diabad 21 ini perpustakaan luas digital kini sudah exist dan informasinya terdistribusi di World Wide Web. Untuk mengabadikannya Snapshot (foto) sesaat perkembangan web dunia perlu kita buat. Selama ini ¬†bentuk floppy disk 5 ¬ľ¬† Inch, disk drive, Zip Drive, CD, DVD, USB telah menjadi bukti revolusi yang berjalan cepat dimasa kehidupan kita. Saat ini informasi digital yang ada di perpustakaan dunia sudah hampir mencapai satuan Zettabytes (1021 bytes ), yang artinya lebih kurang 18 Juta kali informasi yang ada disemua buku yang pernah ditulis manusia.

Untuk itu diperlukan berbagai usaha bersama agar revolusi digital dapat membantu preservasi informasi tentang Peradaban manusia. Generasi masa depan akan melihatnya seperti perkembangan tablet tanah liat, papirus, kertas, dan lain-lain dari masa lalu, menuju kebentuk yang lebih moderen.

World Digital Library (www.america.gov) adalah contoh produk yang menawarkan harta karun digital seperti hasil karya kaligrafi dari Arab, Persia, China dan Jepang dari berbagai pelosok dunia, dan berbagai abad. Inisiatif ini adalah salah satu contoh hasil kerjasama 20 perpustakaan digital terbesar didunia. World Digital Library ini dimulai sejak 21 April 2009 di Kantor Pusat Unesco di Paris setelah diinisiasi 4 tahun sebelumnya oleh kepala US Library of Congress. Tujuan proyek itu untuk menciptakannya satu kesatuan web akan menampilkan seluruh sejarah yang menarik dan penting dari kebudayaan dunia yang berbeda-beda akan menjadi warisan sejarah penting bagi generasi masa depan.

Pusat peradaban yang bernama perpustakaan tradisional dan juga perpustakaan digital dunia dapat diharapkan menjadi tempat hiburan masyarakat masa depan. Untuk itu berbagai usaha untuk mensosialisasikan perpustakaan, misalnya dengan mengadakan perpustakaan di mall-mall adalah salah satu upaya yang perlu digalang bersama.

Hidup kita adalah warisan dari masa lalu, dan pinjaman dari masa depan.  Semoga Bangsa Indonesia ditahun baru 2010 ini akan semakin disibukkan dengan pencapaian-pencapaian yang dapat dituliskan dan menjadi literatur dalam khazanah perpustakaan bangsa. Semoga semakin bersemi niat anak bangsa memajukan perpustakaan-perpustakaan tempat terstimulasinya generasi masa depan untuk untuk belajar dan berkarya menjadi yang terdepan dalam menegakkan peradaban dunia baru yang lebih teratur, aman dan adil.

Depok, 31 January 2010

SIMAK UI: Bukti Kemahiran Siswa Nusantara BerInternet

March 6th, 2009 -- Posted in Paper Opini | 1 Comment »

(Artikel Ini dimuat di Koran Jakarta, 26 Februari 2009 dengan judul Generasi Internet Telah Lahir).

Si Fika membuka http://penerimaan.ui.ac.id dari sebuah Warnet di Jalan
Pejanggik, Mataram, Lombok. Ia punya cita-cita masuk UI dan kini waktunya
untuk mendaftar. Cara baru, semua proses dilakukan lewat Internet.
Baru Desember lalu Universitas Indonesia memutuskan untuk melakukan
Pendaftaran Ujian Masuk terpadu S1 Reguler, Non Reguler, Vokasi, S2, S3
secara online. Akhirnya diluncurkanlah program Seleksi Masuk UI (SIMAK)
sejak 19 Januari-19 Februari 2009. Tidak ada satu lembar kertaspun yang
melayang diantara para calon mahasiswa dengan Universitas, termasuk data
diri, pilihan program studi, pemilihan tempat di 36 Kota di tanah air,
foto, dan pembayaran. Semua dilakukan melalui jaringan Internet.
Pendaftaran melalui SIMAK ini merupakan komponen terbesar dari jalur masuk
UI yang melalui SIMAK, UMB, SNMPTN, jalur atlit, seni dan olimpiade, PMDK,
Kerjasama daerah dan Industri, dan lainnya.
Seleksi mahasiswa baru Indonesia telah mengalami metamorfosa yang krusial
dalam 2 tahun terakhir ini. Berbagai upaya untuk menjadikan satu sistem
menjadi efisien senantiasa mengikuti perubahan yang terjadi dimasyarakat
dan pemerintah. Dalam kerangka ini UI berusaha mendekati siswa hingga ke
daerah-dearah, dan memberi kesempatan untuk seleksi masuk hingga ke 8
program studi dalam sekali ujian.
Ini adalah hal yang luar biasa dan baru pertama kali terjadi di Indonesia,
dan mungkin didunia dalam skala yang besar. Sistem yang dibangun adalah
sistem yang dibuat sendiri oleh putra bangsa yang mampu menampung
pendaftaran hampir 80000 (delapan puluh ribu) calon mahasiswa dan
menampung pembayaran host-to-host online. Mahasiswa mendaftar sendiri
online, mendapat nomor, datang ke ATM 7 bank yang sudah bekerjasama dengan
UI, dan langsung mentransfer pembayaran, dan pada saat itu juga di server
di UI diketahui bahwa siswa dan SMA ini telah membayar, sudah mencetak
sendiri kartu ujiannya secara online, dan siap datang ke ruang ujian ke
kota terdekat. Berbagai macam statistik dan analisa dapat dilakukan secara
online.
Betapa kita menjadi terkaget-kaget dengan transfer uang online yang
terjadi dua jam lebih dahulu dari Papua. Betapa kita dapat berbangga bahwa
para siswa ternyata mampu mendaftar dari ruang kelasnya lewat koneksi
telpon genggam dengan koneksi GPRS. Dari pelosok desa di Tapanuli Tengah
hingga ke Mataram, semua tanggap mengisi data dalam 1 bulan pendaftaran
online ini. Diantara gempita Pemilu yang segera menjelang ternyata
siswa-siswa kita adalah generasi yang sudah mumpuni dan tidak resah dengan
perubahan dan menjadi bagian dari efisiensi yang dibantu dengan adanya
Internet.
Ini adalah bukti bahwa Teknologi telah diterima dan membuat sistem menjadi
sangat efisien. UI tidak perlu membuat tim dengan banyak orang untuk
mendistribusikan penempatan ruang ujian, menempel  foto di kartu ujian,
dan mendistribusikan kartu itu ke penjuru nusantara. Internet, sistem
terbuka yang diinisiasi Tim Berners Lee di Laboratorium Partikel Fisika
Eropa di Jenewa tahun 1989, kini telah menjadi pemungkin pemilihan
putra-putri terbaik bangsa untuk menjadi ‚Äėcream the la cream‚Äô calon
mahasiswa yang masuk UI. Masih satu minggu lagi pendaftaran, tapi
pendaftar calon mahasiswa Fakultas Kedokteran UI saja sudah 10000 orang,
yang berarti mahasiswa yang masuk adalah 0.1% dari jumlah pendaftar. Ini
adalah mega seleksi yang luar biasa.
Baru dua tahun lalu perubahan mendasar dan Integrasi layanan akademik dari
pendaftaran hingga pendaftaran wisuda terbukti bisa dilaksanakan secara
terintegrasi dari Server di Data Center UI. Saat itu masih banyak yang
mempertanyakan apakah semua dosen dapat memasukkan sendiri nilai dari
tangannya ke Sistem Informasi Akademik UI, mahasiswa dapat melakukan
perwalian online dengan perbincangan virtual dengan pembimbing
akademiknya, atau batasan waktu pemasukan nilai yang dilakukan sendiri
oleh komputer. Ternyata semuanya sekarang menjadi hal yang biasa. Mesin
virtual itu membuat kehidupan kampus menjadi lebih dinamis, terpadu, dan
rapi. Tidak ada data yang berbeda-beda dari satu komputer ke komputer
lainnya. Semua patuh mengikuti jadual, karena komputer tidak pandang bulu.
Sekarang sudah waktunya kita juga sadar, bahwa sistem online seperti ini
sudah dapat dijalankan oleh para siswa diseluruh Indonesia. Generasi muda
kita adalah generasi yang tak gagap dengan teknologi baru. Satu jari
tangan bisa menghubungkannya dengan seluruh dunia, jaringan sosial (social
network)nya terhubung dalam Buku Muka (Facebook) yang dimilikinya. Kita
akan terheran-heran dengan begitu cepatnya istilah baru chatting di
facebook dan kebiasaan yang jadi berubah 180 derajat. Dari buku harian
yang terkunci dalam tiga tahapan hingga menjadi ‚Äėhai dunia ketahuilah apa
yang kualami dan kupikirkan hari ini‚Äô. Generasi¬† ‚Äėempire of the mind‚Äô yang
bekerja dan berkolaborasi di dunia maya.
Jika 10 tahun lalu saya terheran-heran melihat para insinyur pembuat
protokol Internet berbaris dengan laptopnya ingin bertanya pada pembicara
di sesi Internet Engineering Task Force (IETF) di London, dan satu ruangan
bergumam ‚Äėhmm‚Äô untuk menyatakan kesepakatan pada satu ide, hal itu sudah
menjadi hal yang biasa ditiap lorong-lorong kampus besar di Indonesia.
Para mahasiswa berebut ‚Äėtiang‚Äô tempat mendapatkan sumber energi listrik
bagi komputer, pengganti pena pada masa lalu. Hal ini telah menjadi hal
umum yang terjadi di universitas-universitas besar di Indonesia, sama
dengan situasi yang terjadi di Universitas lainnya dinegara-negara maju.
Di UI saja saat ini telah terdaftar 26000 laptop, dengan 1000 koneksi
bersamaan pada satu waktu. Harus dimunculkan aturan-aturan baru seperti
pada tahapan mana mahasiswa tidak boleh memperhatikan laptop dimejanya
saat kuliah dikelas, dan benar-benar memperhatikan arahan informasi apa
yang harus dicari dan dikuasainya dalam tahapan waktu tertentu.
Melihat kegigihan para siswa yang berada diwaktu penyaringannya untuk
lulus ke tahapan kemajuan selanjutnya kita patut berbangga. Dengan usaha
dan doa mereka akan menjadi global workforce yang akan menjadi kontributor
dalam kerjasama mensejahterakan dunia bersama teman lainnya dari berbagai
belahan bumi. Saya menjadi teringat pada sebuah artikel yang saya baca
tahun lalu, bagaimana ujian akhir untuk masuk ke Universitas di Seoul
menjadi waktu yang sangat penting bagi seluruh siswa dan masyarakat Korea.
Lalulintas dan penerbangan dijadualkan agar tidak mengganggu ujian.
Seluruh pemangku kepentingan ikut prihatin dan tahu apa artinya suatu
ujian. Strategi untuk mengikuti setiap pertandingan harus diikuti dengan
kerja keras dan determinasi untuk mewujudkan masa depan. Optimisme untuk
tetap survive di era global economy dalam skala bangsa kita dapatkan dari
siswa-siswa SMA penerus harapan bangsa kelak. Generasi muda kita memiliki
kemampuan yang handal untuk tetap beradaptasi menggunakan teknologi
sebagai tools untuk masuk kemasa depan. Mereka semua siap menjadi harapan
masa depan.
Ingatan akan persiapan yang harus dilakukan pada ribuan ujian yang saya
hadapi dimasa lalu, keprihatinan, usaha dan doa agar dapat berpikir
cemerlang membuat saya ingin memberikan dukungan kepada seluruh siswa
Sekolah Menengah Indonesia agar dapat mempersiapkan diri dengan baik dan
menjadi yakin dengan kemampuannya. Semoga persiapan mereka akan berbuah
hasil yang manis dengan munculnya pemikir-pemikir cemerlang yang dapat
menghasilkan karya-karya kreatif yang menjadi permata hasil karya anak
bangsa kelak. Selamat berjuang para pahlawan masa depan… Keprihatinan
dan kerja keras akan menjadi bekal yang berbuah manis kelak..

Tantangan dan Kehormatan menjadi CIO Universitas Indonesia

January 14th, 2009 -- Posted in Paper Opini | 1 Comment »

 Tantangan dan Kehormatan menjadi CIO Universitas Indonesia:
Ketika Kebangkitan Teknologi Informasi dan Komunikasi menjadi Realita di Masyarakat Akademik Miniatur Indonesia 

Riri Fitri Sari  Kepala Pengembangan dan Pelayanan Sistem InformasiUniversitas IndonesiaLt 7 Gedung Pusat Administrasi Universitas IndonesiaKampus Barui UI, Depok 164242, IndonesiaEmail: riri@ui.edu

Sejak tahun 2004 dengan terbentuknya Direktorat Pengembangan dan Pelayanan sistem Informasi di Universitas Indonesia yang telah berbentuk badan hukum milik negara (BHMN), kehandalan Teknologi Informasi mendapat tempat yang penting di Universitas dengan ditempatkannya eksekutif yang setara dengan Direktur dan bertanggung jawab langsung ke Rektor UI. Sejak Maret 2006 tantangan sebagai  CIO (Chief Information Officer) di UI ini saya emban, dan merupakan kehormatan untuk dapat menerapkan ilmu pengetahuan yang telah saya pelajari dalam transformasi yang sedang dijalankan UI, menuju universitas berkelas dunia. Istilah CIO adalah jabatan tertinggi dibidang Teknologi Informasi dan Komunikasi  yang berawal di Amerika Serikat dan banyak digunakan di perusahaan-perusahaan yang mulai sadar akan pentingnya kedudukan sistem informasi, dan lambat laun menggantikan istilah Direktur IT yang menjadi nama jabatan de facto di Eropa dan Asia.  Dalam konferensi CIO Association of Pacific Rim Universities (APRU) yang diadakan di Jakarta di bulan April 2008, dimana UI menjadi tuan rumah, diantara universitas-universitas riset kelas dunia baru beberapa universitas yang mengadopsi nama CIO untuk jabatan Kepala Teknologi Informasinya, diantaranya adalah California Institute of Technology (Caltech), University of Southern California, University of Oregon, Osaka University, Seoul National University,  sedangkan sebagian lainnya masih mengunakan istilah Director IT Services (University of Auckland),  Director of Computer Centre (NUS dan Peking University), dll.  Dengan segala kompleksitas dalam penyelenggaraan Infrastruktur dan aplikasinya,  Teknologi Informasi dan Komunikasi mendapat tempat untuk dapat menjadi transformer dan energizer. Berbagai hal diantaranya adalah untuk mencapai integrasi universitas, pemaknaan dan diseminasi corporate culture universitas, integrasi liberal arts kedalam sistem akademik kampus, penjaminan koalitas, dan enterprising. Tanpa menggunakan Teknologi untuk allignment sistem yang ada, akan sulit untuk memanfaatkan fungsi strategis yang dapat dilakukan dengan  menggunakan teknologi informasi.  Dari pertemuan para CIO APRU misalnya didapatkan bahwa masalah utama yang relatif umum dialami bersama adalah kepemimpinan dalam perubahan, mengatur budget, penyesuaian bisnis, pembaruan infrastruktur, keamanan (security), kepatuhan (compliance), manajemen sumber daya, manajemen perubahan dan politik di kepemimpinan universitas.

Dalam organisasi, CIO dilihat sebagai kontributor utama dalam membuat formulasi tujuan strategis. Seorang CIO mengusulkan teknologi yang akan dipakai organisasi untuk mencapai tujuannya dan bekerja dalam budget untuk mengimplementasikan rencana tersebut. Identifikasi dan pengembangan kemampuan untuk menggunakan tool baru, mengarahkan pemanfaatan dan pengembangan infrastruktur fisik dan akses jaringan berbasis kabel dan nirkabel, dan dengan mengidentifikasi dan mengeksploitasi sumber daya pengetahuan. Saat ini integrasi Internet dan World Wide Web dalam strategi jangka panjang dan rencana jangka pendek universitas menjadi sasaran utama banyak CIO universitas.

Selama dua tahun di UI telah terjadi perubahan mendasar. Dengan dukungan dan perhatian pimpinan universitas, dalam dua tahun ini bandwidth berbayar yang dilanggan Universitas meningkat dari 10 Mbps menjadi 80 Mbps, berasal dari dua provider yang saling bersaing PT. Telkom dan PT Indosat, selain itu terdapat koneksi 100 Mbps ke IIX, 100 Mbps Salemba-Depok, dan 2 * 30 Mbps ke Inherent, dan bandwidth GDLN. Penggunaan fasilitas teleconference berbasis GDLN (Global Development Learning Network ‚Äď World Bank) dan Inherent (Jaringan Pendidikan dan Riset Perguruan Tinggi) telah umum digunakan untuk pembelajaran berbasis computer, komunikasi berbasis Internet Protocol (VoIP) dan vided conference berbagai belahan bumi. Negosiasi yang baik dengan Internet Service Provider¬† dengan dukungan pimpinan universitas, yang dilakukan setiap tahun memungkinkan UI saat ini dapat memiliki bandwidth terbesar bagi ukuran universitas di Indonesia.

Pemanfaatan TIK untuk sebanyak mungkin transformasi universitas telah banyak dilakukan. Bahkan dalam pemilihan rektor UI 2007 komponen TIK sangat kental disuarakan panitia dengan pendaftaran dan submission online, cyber debate lewat email dan teleconference (dari tempat terpisah), video streaming rangkaian acara, dan berbagai penggunaan TIK lainnya untuk mempromosikan penggunaan teknologi baru dalam wacana universitas. Saat ini laptop yang terdaftar di Universitas Indonesia yang dimiliki oleh mahasiswa dan dosen sudah lebih dari 17000 dan semuanya dapat memanfaatkan fasilitas hotspot yang sudah mencakup sebagian besar kampus UI di Salemba dan Depok yang berluas 320 Hektar ini. Pengelolaan account dan layanan terpadu bagi seluruh sivitas akademika adalah sesuatu yang menantang. Kualitas layanan selalu perlu ditingkatkan bagi seluruh sivitas akademika yang kian ‚Äėbandwidth hungry‚Äô dan kian tergantung pada TIK, karena akses wireless yang telah ada dimana-mana dan dimanfaatkan untuk lap top dan PDA, bahkan untuk VoIP dengan PDA yang lebih efisien dibanding koneksi berbayar dengan telepon.

Penyatuan infrastruktur dan aplikasi di UI dimulai dengan pembagian  Single Sign On untuk semua anggota sivitas akademika UI. Satu account ini dapat digunakan untuk seluruh aplikasi yang ada di UI, dengan role pengguna yang berbeda-beda untuk tiap sistem. Setiap mahasiswa baru mendapatkan account pada amplop khusus dengan tempat password rahasia pada saat pendaftaran ulang masuk kuliah, lalu mendapatkan kartu smart card dengan 128 Kb yang diproduksi sendiri oleh Universitas Indonesia untuk berbagai kepentingan diantaranya akses perpustakaan, daftar nilai, absensi, kartu kesehatan, micro payment, dan sebagainya seperti peminjaman sepeda dalam mendukung eco-campus.

Sistem penerimaan mahasiswa baru telah terintegrasi dari pendaftaran online, mendapatkan nomor peserta ujian online, pembayaran online lewat ATM 7 bank untuk mentransfer biaya pendidikan dengan memasukkan nomor mahasiswa yang langsung berhubungan host to host dengan mesin sistem biaya pendidikan di Universitas dan mengupdate kondisi di Sistem Informasi Akademis (SIAK NG), perwalian online, pemasukan data online oleh dosen, seluruhnya terdapat pada satu sistem terpusat di Universitas, yang terpusat dan memiliki back up data dan Disaster Recovery Center yang baik. Keseluruhan sistem ini dan sistem-sistem ini dikembangkan sendiri inhouse oleh programmer dan pegawai pengembangan dan pelayanan sistem informasi UI. Terbukti bahwa sistem open source dapat dimanfaatkan untuk membuat value added services yang sesuai dengan kebutuhan universitas dan kebutuhan akan perubahan yang sedang berjalan.

Usaha untuk mengintegrasi  universitas melalui SIAK NG tidaklah mudah. Semua dapat terlaksana dengan kemampuan untuk menerjemahkan kekukuhan Direktur Pendidikan UI untuk membuat Standard Operating Procedure (SOP) dalam sistem yang digunakan oleh seluruh fakultas. Keinginan kuat dan kerjasama tim untuk dapat menyiapkan sistem terpadu berbasis web yang berbasis teknologi terkini, kerjasama yang baik dan keyakinan dalam migrasi data kesistem yang baru, bermuara pada dapat berjalannya sistem tepat waktu untuk diisi datanya dari hasil migrasi dan dari  jari tangan pemangku kepentingan yang mengisi data seperti nilai dan isian rencana studi.  

Seluruh kebutuhan pengembangan dan perbaikan sistem senantiasa diakomodasi sehingga keterpaduan aturan pelaksanaan pendidikan dan evaluasinya (melalui Evaluasi Dosen oleh Mahasiswa online (EDOM)) dapat dilakukan untuk memastikan kualitas proses belajar mengajar yang terjadi. Berbagai perubahan seperti pencetakan transkrip terpusat secara online telah dapat dilakukan, sebagai ujung dari semua penggunaan teknologi oleh semua pemangku kepentingan pendidikan. Kematangan sistem informasi dengan dokumentasi siklus hidup perangkat lunak, user manual yang lengkap, serta standar prosedur operasi akan memungkinkan kita menuju ke penyelenggaraan pendidikan berstandar Internasional. Kebetulan UI sempat mencapai ranking 250 Times Higher Education Supplement ditahun 2006, meskipun menjadi 395 ditahun 2007.

¬†Pengelolaan sumber daya manusia spesialis teknologi informasi yang baik adalah suatu tantangan diantara transformasi yang terjadi di UI dan kebutuhan signifikan terhadap tenaga Teknologi Informasi. Motivasi untuk berkarya terbaik dalam kampus yang merupakan miniatur mini Indonesia senantiasa harus diberikan kepada para pegawai agar kebanggaan yang ada dapat membuat sistem menjadi lebih baik dan terus mengikuti standar terkini dunia. Universitas adalah sebuah sudut dunia yang kini juga tersedia bagi para spesialis-spesialis Teknologi Informasi untuk mengimplementasikan pengetahuannya yang terus menerus terakumulasi. Selain diperlukan remunerasi yang dapat dibandingkan dengan kondisi diluar, ditambah dengan kebanggaan menjadi warga universitas yang terdepan dibidang pengembangan pengetahuan akan ¬†menjadi daya tarik bagi para spesialis TIK untuk bertahan di universitas.¬†Sebagai pengajar, peneliti, dan sekaligus CIO saya mengusahakan agar ilmu yang dimiliki dapat diimplementasikan dalam ‚Äėchange mananagement‚Äô berbasis Teknologi Informasi yang kebetulan sedang marak dan dibutuhkan di Universitas Indonesia. Seiringan dengan kebutuhan pemanfaatan sistem informasi untuk mendukung bidang akademik dan non akademik di UI, fasilitas komputer yang semakin baik yang dimiliki oleh universitas, dosen dan mahasiswa, dalam dua tahun terakhir dengan bersama-sama¬† dengan komponen lainnya di Universitas Indonesia indikator kinerja untuk mewujudkan peraturan Majelis Wali Amanah (MWA) lingkungan akademik dan non-akademik yang berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi di Universitas Indonesia telah relatif tercapai.¬†Sistem yang telah dibuat untuk kepegawaian (SIPEG), asset dan fasilitas (SIMAF), evaluasi dosen oleh mahasiswa (EDOM),¬† digunakan oleh seluruh pengguna di lingkungan Universitas Indonesia dengan berbagai peranan yang dimilikinya dalam pilar-pilar fungsi yang dapat mewujudkan good governance yang menuju ke great governance. Gabungan antara knowledge dibidang teknologi informasi dan change management serta sosialisasi sistem yang terus menerus membuat sistem yang telah dibuat dalam siklus perangkat lunak yang baik dengan manual yang lengkap dapat digunakan. Dapat dikatakan bahwa usaha untuk mewujudkan UI Cyber Campus telah cukup berhasil, dengan perangkat lunak dan infrastruktur yang kian mendukung kebutuhan sivitas akademika, dan usaha untuk menjadi ‚Äėinforming dan uploading society‚Äô yang exist di dunia virtual. Untuk itu dengan dukungan Rektor, Sekretaris Universitas, Direktur Pendidikan, Humas, dan bidang terkait lainnya berbagai sosialasisi sistem informasi dan hasil karya sivitas akademika dari tahun ketahun perlu disosialisasikan dengan Road Show langsung ke setiap fakultas dan program pasca sarjana yang ada di lingkungan UI, untuk mendapat masukan rencana pengembangan kedepan dan kondisi terkini dalam sosialiasi TIK menjadi tools sehari-hari dilapangan. Kesadaran perlunya presensi didunia virtual, keinginan untuk menjadi uploading society dan menjadi acuan (reference) perlu disampaikan kepada para pimpinan dan seluruh dosen agar¬† menjadi yang pertama berbagi.¬†Disamping itu CIO di UI juga bertanggung jawab dalam keterlibatan Universitas Indonesia dalam hal-hal yang berhubungan dengan TIK dengan pemerintah (Depkominfo dan industri). Pada tahun 2006 UI telah mendapat Hibah peralatan Code Division Multiple Access (CDMA) dan Next Generation Network (NGN) dari PT Huawei melalui Depkominfo. Gabungan antara pengetahuan mengenai IP based network dan manajemen sistem informasi dan sistem pelatihan teknologi informasi, sangat diperlukan untuk membentuk sistem pemanfaatan laboratorium, perekrutan dan pembinaan pengajar, dan sistem pelatihan dan hubungan dengan industri.¬† ¬†

Disamping itu saya juga melakukan evaluasi hubungan universitas dengan Industri, misalnya dengan hasil kunjungan ke Opensource platform laboratory di Microsoft Campus di Redmond, Washington dan ke Wipro dan NetApp di Bangalore India, serta Huawei Technology di Shenzen, Samsung di Korea. Kunjungan-kunjungan ini saya usahakan untuk dilakukan dengan networking yang selama ini dimiliki diantara kunjungan resmi untuk mempresentasikan paper di konferensi ilmiah internasional.  Dapat dikatakan bahwa kemandirian untuk mengejar teknologi yang dapat dipelajari dari sumber daya yang begitu luas yang ada di Internet dapat mengalahkan ketergantungan pada produk-produk yang dikeluarkan oleh vendor. Para programmer yang rata-rata adalah lulusan UI dapat meyakinkan bahwa open source dapat dimanfaatkan untuk membentuk sistem yang stabil, reliable, dengan Disaster Recovery System yang terpadu. Saat ini Repository open source UI yang bernama Kambing telah menjadi sumber acuan tempat open source software banyak diunduh pengguna Internet Indonesia. Dalam situasi tranformasi UI ini, Peranan CIO dalam transformasi Universitas yang merupakan Indonesia dalam bentuk miniature ini membutuhkan   kemampuan untuk menerjemahkan pengetahuan tentang TIK, manajemen perubahan, bergerak untuk memfasilitas, dan tanggap terharap perubahan, dengan tetap mengingat keterikatan pada budget yang terbatas namun perlu senantiasi diperjuangkan.

 Dalam kunjungan peer group para direktur TI dari negara-negara maju dari Amerika, Korea, Jepang, China, Selandia Baru, Rusia, Singapura dan lainnya ini, ke kampus UI, di Depok, kita masih dapat berbangga bahwa masih ada miniatur Indonesia yang tiap anggotanya telah didukung oleh teknologi terkini, hidup dalam keteraturan dan kampus kebun hutan raya yang hijau diselatan Jakarta. Teknologi dan sumber daya manusia kita yang menguasai teknologi untuk mendukung pendidikan,  keramahtamahannya dan keindahan alam Indonesia masih punya peluang untuk dibanggakan. Sehingga banyak ucapan selamat dan terimakasih atas kunjungan menarik kesebuah penggalan khayangan yang bernama Indonesia. Ternyata semua universitas memiliki tantangan dan kondisi keterbatasan yang sama diseluruh dunia. Kita bukan yang terbelakang, tapi punya harapan menjadi yang terdepan.

Dengan bermunculannya pendesak perubahan yang menyebabkan dunia menjadi semakin datar, seperti yang dikemukakan Thomas Friedman, dalam bukunya The World is Flat  (2005) dengan sepuluh penyebab utama, seperti munculnya windows, lahirnya Netscape browser, sistem aliran kerja yang makin solid, uploading, insourcing, outsourcing, off-shoring, supply-chaining, informing, steroids (akselerator dengan alat mobile), adalah universitas harus bergerak untuk terus berada didepan perubahan. Penggunaan teknologi terkini dan kesadaran untuk memberikan fasilitas yang baik bagi generasi yang hidup di didunia tanpa batas (borderless world) adalah  hal yang senantiasa diusahakan.

Tantangan untuk memberikan kesempatan yang sama bagi semua orang anggota sivitas akademik,  sehingga jarak yang ditimbulkan oleh digital divide dapat dikurangi adalah hal yang tidak mudah. Berbagai sarana baru seperti penambahan outlet listrik diselasar-selasar fakultas adalah hal yang diperlukan saat ini untuk mengakomodir pengguna peralatan TIK  yang membutuhkan listrik dan sudah memanfaatkan hotspot yang memungkinkan mereka bergabung dalam social network tempat mereka menjadi bagian, dan mengunduh informasi yang sangat  luas sehingga perlu pemfilteran agar berharga.

Sementara itu kita semakin sadar bahwa kerapihan kita dalam mengelola data senantiasa terus menerus ditingkatkan untuk memberikan menuju pada sistem pendukung keputusan yang real time dan pendukung eksekutif yang dapat membuat kebijakan-kebijakan strategis dengan data terkini. Didunia yang semakin terbuka, penuh dengan evaluasi dan pembuatan ranking, penyelenggara infrastruktur dan aplikasi TIK harus semakin tegar dan memperhatikan kerapihan informasi. Dosen yang perlu disertifikasi harus punya dokumentasi yang rapi dan lengkap. Semua pihak sekarang senantiasa dinilai dan catatan rekam jejaknya dapat dicari di Internet. Dosen dilihat dari rekam jejaknya dalam mengajar, meneliti dan pengabdian masyarakat. Mahasiswa senantiasa terpantau dan tercatat kemajuannya dari hari ke hari. Universitas perlu senantiasa memperbaiki proses bisnis dan workflownya agar menjadi lebih efisien.Sementara itu setiap aktivitas kita didunia maya pun tercatat. Sebagai miniatur Indonesia yang sudah dilingkupi bandwidth dan fasilitas yang relatif cukup,  situs UI juga senantiasa dievaluasi dari jumlah pengunjungnya, kapan dikunjungi, dari negara atau kota mana saja pengungjung tersebut, apa saja informasi yang diambil, berapa lama dia mengunjungi suatu situs, dan banyak sekali statistik yang suatu saat kelak akan dapat dimanfaatkan untuk evaluasi diri dan mencari celah untuk mendapat nilai ekonomis darinya. Semangat untuk bangkit dengan menggunakan TIK yang memberikan kesempatan yang sama bagi semua orang perlu digabungkan dengan semangat membentuk kerapihan-kerapihan yang lebih baik lagi, sehingga mozaik data-data yang dimiliki dapat mengantarkan kita pada kesejahteraan rakyat Indonesia yang lebih baik.  Kebangkitan TIK Indonesia yang lebih luas lagi, dan penyempitan digital divide dari penduduk yang memiliki akses informasi yang luas dan yang masih buta huruf perlu semakin digalakkan. Perubahan itu secara alami dapat terjadi dengan sendirinya, namun dapat diakselerasi. Kebangkitan semua pihak untuk menggunakan TIK sebagai media  untuk menujud democracy 2.0 ditengah dunia yang sudah berbasis web 2.0  sudah mulai terlihat  dimana-mana. Akses ke penjuru Indonesia sudah semakin merata dengan cakupan berbagai jeringan selular ke pelosok kecamatan Indonesia. Ini terlihat dari ketergantungan berbagai lapisan masyarakat pada  SMS, dan sistem online lainnya.Semuanya bergerak, walau dalam kecepatan yang berbeda-beda. Semangat saling membantu mengajak berlari dan menilai diri untuk membuat rencana strategis, telah terlihat dalam berbagai mailing list yang ada di Indonesia. Pelaksanaannya dalam menuju implementasi pendidikan yang lebih luas dan fokus, akan memberikan kesempatan kita untuk terus maju dan tidak takut untuk menjadi yang didepan. Di Indonesia pendidikan tinggi di Indonesia telah dimulai di Sekolah Dokter Jawa yang berdiri 2 Januari 1851, yang menjadi cikal bakal Stovia dan Universitas Indonesia. Perluasannya TIK juga akan terjadi paralel dengan sejarah masa lalu ketika pencerahan dan kebangkitan nasional dimulai di Batavia.

Dalam menyambut Hari Kebangkitan Nasional Indonesia yang ke-100 tahun sejak lahirnya Budi Utomo yang didirikan oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo dan kawan-kawan yang menandai munculnya Indonesia modern, kita perlu berbangga dengan pilar kebangsaan dan pusaka bangsa kita. Dengan kepercayaan diri akan intelektualitas, banyaknya sumber daya manusia yang mumpuni, dengan berbasiskan TIK kita bersama dapat mulai bangkit untuk berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dan berbudaya kuat penuh percaya diri. Pembentukan karakter bangsa dapat dibantu dengan TIK yang memungkinkan demokratisasi dan kesempatan yang sama untuk semua. Bergeraknya berbagai pihak untuk memanfatkan e-education, e-learning, e-library dan pendekatan berbasis elektronik lainnya sudah cukup menggembirakan.

 Berbagai tantangan dalam kebangkitan bangsa dibidang TIK perlu diarahkan oleh CIO institusi diantaranya adalah mengerti tentang bisnis yang berjalan di organisasi, membuat sistem yang dapat diterima secara luas, mengimplementasikan arsitektur sistem informasi, meningkatkan tingkat kematangan organisasi, mengarahkan visi masa depan yang dapat diraih organisasi dengan mulai saat ini.  Harapan bahwa visi untuk mewujudkan suatu universitas modern berbasis teknologi informasi dan komunikasi dapat dicapai, demikian juga dengan perluasan dampaknya bagi kemajuan seluruh rakyat Indonesia dengan terwujudnya SDM yang penuh percaya diri, kompetitif dan dapat berkontribusi bagi dunia yang semakin datar, hasil riset terkini yang dilakukan, dan kolaborasi nasional dan internasional lainnya.   Kebangkitan TIK nasional telah dimulai dari kampus yang cukup beruntung untuk menjadi pembaharu, namun ini adalah awal bagi tercapainya kebangkitan yang lebih luas untuk mengejar posisi kita menuju negara Industri seperti yang telah dialami negara dengan jumlah populasi terbesar, China dan India. Keteguhan semangat, kerja keras, dan kemampuan berkomunikasi untuk survive menjadi warga dunia bermula dari kebangkitan dan kesadaran bersama untuk menggunakan momentum dan peluang adanya demoraktisasi berbasis peralatan komunikasi berbasis Internet Protokol yang lebih murah dan menjangkau lebih banyak tempat. Dengan peringatan 100 tahun hari kebangkitan nasional, kita munculkan semangat kebangkitan baru untuk menjadi negara yang kuat, mandiri dan berdaulat serta makin sejahtera. Semoga visi bersama untuk mewujudkan negara kesejahteraan yang diimpikan bersama dapat tercapai dalam dunia yang semakin menjadi ’global village’ dengan tantangan bersama  yaitu keterbatasan energi, pangan dan air di planet biru yang kita cintai bersama ini.  *rfs090508*