Archive for the 'In Memorian' Category

Nenek Tercinta “Saadah Siddik”: Selamat beristirahat dengan tenang

January 14th, 2009 -- Posted in In Memorian | 1 Comment »

Damai… Itu yang selalu kuingat ketika mengenang Nenek Umi Saadah Siddik. Nenekku yang terbaring sakit¬†5 tahun terakhir ¬†karena usianya yang sudah 90 tahun, dan akhirnya dipagi 25 Desember 2009 itu¬† beliau kembali dengan tenang ke haribaan Allah. Kukenang Minggu malam 21 Desember ketika kami keluarga besar, 15 orang malam itu diruang Umi, sepanjang malam memandu mengucapkan La Illah ha Illallah dan membaca surat Yasin, mengantarkan Umi kembali kepada Allah disaat-saat terakhirnya. Hanya doa tulus atas apa yang terbaik yang digariskan Allah. Aku belajar tentang maut.. Tidak ada yang tahu bila akan datang, bahkan ketika kita berada ditempat tidur dalam usia renta.. Tuhan.. kami hanyalah makhlukmu yang lemah..

Dua perjalanan ke kampung halaman Bukit Tinggi di November dan Desember 2009, kembali membawku mengerti bahwa hidup hanyalah mewarnai, memberikan cerita pada hidup orang-orang disekitar kita, dan dari nappy kita kembali ke nappy, dari tak berdaya seperti bayi menjadi tak berdaya lagi.

Nenek Umi adalah sosok wanita yang tegar, senantiasa mencontohkan sifat-sifat yang baik,  menasihati dan memberi dasar-dasar akhlak Islami untuk setapak demi setapak melangkah memasuki fase-fase kehidupan. Berlembar-lembar surat nasihat beliau telah kuterima, hingga kali terakhir ketika kesehatannya berlangsung surut. Aku ingat pada tulisan rapi dari masa  Belanda itu, penuh nasihat disurat terakhir padaku dan Mas Kusno yang sedang berjuang mencari PhD kami di Yorkshire, Britania Raya. Aku selalu minta didoakan agar kami dapat pulang dengan 4 PhD, dari Mas Kusno, aku dan dua bayi yang lahir di Sheffield. Permintaan tulus dan doa itu terkabulkan. Karunia besar dari Allah yang tidak terbayangkan, namun menjadi realita.

Umi dan Mama selalu menjadi tempat cerita suka dan duka keseharian. Entah dimanapun berada sejak masih kanak-kanak hingga berpendidikan tinggi, aku selalu berbagi cerita itu. Menjadi lega dengan kata-kata penghibur, dan menjadi bertambah bersyukur pada Allah ketika bercerita tentang hari-hari baik dan pencapaian.  Umi selalu berkata bahwa hidup hanyalah pasangan dari suka dan duka yang membuat kita menjadi semakin tegar menghadapi masa-masa kedepan. Optimisme setiap hari akan  muncul dari percakapan tentang hidup itu. Aku mencontoh dan melihat bahwa hidup hanyalah pengulangan. Foto cantik umi dengan selendang di lilit (jilbab) ditahun 1930an, berulang lagi modenya ditahun 1990an. Hidup kami tak berbeda. Jika dulu aku selalu surprise dengan banyaknya kerupuk yang dibawa Umi dari kampung di kopernya, untuk dibagikan ke tiap keluarga dan anak cucu, kini aku juga mengalaminya. Betapa terlihat setiap orang diairport minangkabau akan membawa satu kotak besar yang isinya adalah makanan khas dan kerupuk sanjai yang asam manis.

Kini Umi yang memberi pelajaran tentang cinta dan tentang bagaimana untuk survive dalam kehidupan itu sudah tidak lagi dikamarnya yang selalu kukunjungi dari tahun ketahun sejak kembali dari Britania Raya dengan cucu-cucu beliau yang kubanggakan Almira, Naufalia dan Laura. Namun beliau hidup dalam sanubari kami. Beliau menjadi pijar yang tak kunjung padam untuk meneruskan nilai-nilai kehidupan kepada generasi mendatang.

Aku berharap bahwa pijar cinta pada Allah, pada sesama dan pada segala sesuatu yang hidup itu bisa diteruskan pada Almira, Naufa dan Laura, juga untuk semua yang dapat kuberi inspirasi dalam hidupnya. Hujan awal Januari yang jatuh diatas danau dibawah sana seperti sepakat pada kenangan kembali padaku.

Selamat jalan Umi tercinta…. Terimakasih untuk semua hari-hari indah yang telah kita lalui bersama, dari belaian lembut sebelum tidur itu, kata-kata yang menghalau kesedihan dan memberi comfort, dan dekapan hangat setiap kami pulang, dan jutaan peristiwa yang tak dapat digambarkan… hanya akan diulang kembali dan diteruskan.

Kami akan kembali membuka lembar baru, semangat baru, setting pencapaian baru, untuk lebih berbagi dan memperkuat semua.. seperti yang telah dicontohkan selama ini.. Terimakasih..

Cinta Kami…

Cucunda

Riri

Sang Ibu dari Timur – Benazir Bhutto

March 10th, 2008 -- Posted in Catatan Pribadi, In Memorian | No Comments »

Hari ibu baru baru sebulan berlalu. Sebuah berita amat besar di lembar pertama surat kabar mendebarkan hati sore itu. Berita hitam kelam kepergian Benazir Bhutto, seorang ibu dari timur yang dimasa keemasannya terlihat cemerlang kemilau karena kecantikan dan kecerdasannya, telah menjelang maut dalam merah darah. Politik dan kekuasaan sangat sulit untuk dimengerti, hingga seorang ibu luar biasa itu juga diakhiri dengan cara mengerikan. Lambang moderenitas timur, gabungan beauty, brain, dan kemampuan berkomunikasi itu telah melalui 54 tahun hidupnya yang singkat dalam rollercoaster kehidupan. Karena dia telah memilih diantara pilihan yang sulit dengan resiko tak terperi. Lulusan Harvard dan Oxford itu adalah ibu, istri, putri, dan panutan pengikutnya.
Baru 10 tahun lalu Lady day mengejutkan dunia dengan kepergiannya dalam sepi di Paris. Dua legenda barat dan timur ini telah mencatatkan ratusan ribu, jika tidak jutaan tulisan tentang hidup para wanita luar biasa dan mewarnai kehidupan didunia. Mereka hidup dalam time line sejak televisi hingga YouTube (media video gratis Internet) digunakan Ratu Inggris untuk mengucap selamat tahun baru. Teknologi telah menyatukan dunia, namun naluri manusia untuk berkelahi dan menikmati menonton perkelahian masih bercokol dihati.
Februari 9 tahun lalu, taksi Karachi itu meluncur perlahan didepan sebuah rumah yang tidak terlalu luar biasa, dibanding rumah mewah yang dibangun para pedagang Tanah Abang di Bukit Tinggi. Saya beruntung ditunjuki sopir taki itu, memuaskan mimpi melengkapi cerita tentang Perdana Mentri wanita Pakistan itu. ‚ÄėAre you her friend?‚Äô tanya sopir taxi itu. Dalam senyum saya bercerita bahwa saya hanyalah mahasiswa biasa yang sama-sama punya latar belakang pernah menimba ilmu belajar di Britania Raya, mencoba pulang ketanah air dengan tiket murah Pakistan Air, yang tanpa suguhan softdrink, hanya semata air putih biasa. Hari ini saya ingin mengulang lagi menjawab pertanyaan itu dengan afirmasi. Kekaguman yang tumbuh dari cerita sepotong-sepotong dari kejauhan mungkin lebih baik dari mengenal semuanya. Kami berkawan dalam mimpi tentang kehidupan damai didunia, berkawan dalam memiliki satu bumi yang kini berubah iklimnya, berkawan dalam keyakinan bahwa menjadi seorang ibu dan istri sepenuhnya tidak mengeleminasi mimpi berkontribusi dalam hidup bermasyarakat. Saya adalah salah seorang pengamat hidupnya yang kehilangan, karena akhir cerita yang terlalu menyedihkan, ulah naluri kejam manusia.
Sebuah kata mutiara yang saya kutip dari SMS Prof Mutamia Lauder dari Fakultas Ilmu Budaya UI dihari ibu lalu yang saya terima menggambarkan bahwa ibu melihat dengan hati, merasa dengan mata, tempat segala keluh keluarga, penyebar kehangatan dan perekat keluarga dari generasi ke generasi. Seorang ibu diberi kekuatan untuk menjadi tempat penenang dan tambatan hati keluarga. Benazir, ibu itu, tentu bercita jadi penyatu bukan pemicu kekerasan di negaranya, atau di Asia. Sebagai seorang ibu dia telah berhasil membesarkan putranya Bilawal yang berdiri tegar menggantikannya menjadi ketua Partai Rakyat Pakistan (PPP). Kasih sayang seorang ibu akan selalui dikenang oleh anak-anaknya dan orang-orang yang berada disekelilingnya. Benazir Bhutto yang dilahirkan di Karachi sebagai anak seorang politikus harus mengulang kembali berbagai cerita dinasti politik. Walaupun pernah belajar di dunia modern seperti Oxford di Inggris dan Amerika, Bhutto yang tetap punya harapan untuk menjadi pemimpin dan akhirnya menjadi martir demokrasi dinegerinya sendiri.
Di musim semi 2007, setelah bertahun-tahun tinggal di London dan Dubai, sambil tetap berusaha merestorasi demokrasi di negaranya, Benazir memutuskan untuk kembali ketanah airnya. Walaupun di terima dengan hangat oleh masyarakat Pakistan pada saat kedatangannya, berbagai ancaman dan kejadian bom bunuh diri, tidak menjadikannya surut. Namun ternyata inilah akhir dari kehidupan seorang Ibu perkasa yang punya kepemimpinan yang kuat walau berakar dari nama besar keluarga. Selamat jalan Benazir Bhutto.

Prof. Fuad Hassan dalam Kenangan: Antara Wordstar dan GDLN

March 10th, 2008 -- Posted in In Memorian, Publikasi | 1 Comment »

Lebih dari 20 tahun lalu, disebuah SMA di kota Mataram, Lombok, seorang Mentri Pendidikan mengunjungi laboratorium Komputer. Saat itu komputer pribadi masih baru, Bill Gates pun belum lama mendirikan Microsoft dan baru mulai meluncurkan produknya yang pertama. Saya adalah salah seorang siswi yang sedang membuat puisi dengan menggunakan program wordstar di komputer di tengah ruangan. Prof. Fuad Hassan yang datang tiba-tiba duduk disebelah saya dan meneruskan puisi itu. Walau saya tak ingat bagian yang saya tulis, tapi saya ingat paragraf yang dilanjutkan beliau. ‚ÄĚ….Manakala sang mentari tenggelam, sang peminta merenungi nasibnya, berita apa yang akan tiba, bersama mentari esok pagi…‚ÄĚ.

Sosok dan wibawa beliau yang dibaca dikoran-koran oleh anak-anak sekolah di negeri ini, termasuk saya, membawa semangat untuk menekuni ilmu pengetahuan dan teknologi. Dimasa itu cita-cita para remaja adalah menjadi pintar seperti Pak Habibie, dan tokoh-tokoh nasional pembangunan seperti Pak Fuad. Begitu berbeda dengan generasi sekarang yang terkagum pada para selebritis.
Waktu terus berlalu. Saya terus membaca berita tentang beliau dari waktu kewaktu. Beberapa bulan setelah kunjugan dan pertemuan beliau dengan Wordstar disebuah SMA di Lombok, beliau dikabarkan banyak menggunakan komputer dalam pekerjaannya. Saat itu komputer mulai banyak digunakan di Indonesia sebagai pengganti mesin ketik, hingga akhirrnya web mulai menyatukan seluruh informasi di di dunia di tahun 1992an ketika Netscape mulai muncul berbasis antarmuka yang menarik. Saya ikut menyaksikan hiruk pikuk perubahan dari teks menjadi sistem berbasis browser itu dari sebuah meja di laboratorium di UI, tempat bermulanya Internet di Indonesia.
Ketika kuliah di UI, saya kagum pada torehan kata-kata beliau di prasasti peresmian Kampus UI Depok. ‚ÄĚPanji-panji ilmu dan seni berkibar tinggi di almamater ini‚ÄĚ. Begitu dalam, bermakna, dan membanggakan kata-kata itu, yang membuat saya akhirnya bertekad untuk ikut mengabdi di UI untuk turut menegakkan panji-panji itu. Dari jauh beberapa kali saya melihat beliau diantara prosesi guru besar memasuki ruang wisuda di Balairung. Pujian ‚Äôvivat profesores‚Äô dalam lagu pujian ‚ÄĚGaudeamus Igitur‚Äô itu terasa makin tepat karena kehadiran beliau di acara prosesi yang berwibawa itu.

Bulan Juli 2006 lalu, saya berkesempatan untuk menemui beliau diruang kerja professor di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, diantarkan ibu Dr. Meithy Djiwatampu (almarhum) Wakil Dekan fakultas itu. Kali ini dalam posisi saya sebagai Direktur Pengembangan dan Pelayanan Sistem Informasi di Universitas Indonesia, untuk mengundang beliau menjadi pembicara kuliah umum pertama yang dipancarkan lewat Telekonferensi di fasilitas Global Development Learning Network (GDLN) UI ke Unud, Unhas, dan Unri. Kuliah jarak jauh dengan teknologi e-learning terkini itu dengan semangat diikuti oleh sivitas akademika 4 perguruan tinggi tersebut. Dengan bersemangat beliau berbicara tentang konsep Teknokrasi. Beliau juga mengulas filsafat acara prosesi akademik seperti wisuda, yang katanya diharapkan betul-betul hikmat sampai selesainya rombongan guru besar kembali ke Rektorat. Saat itu beliau sangat ingin berbicara bebas berpindah-pindah tempat menguasai ruangan kelas kedap suara dan berkomputer 40 itu, sedang kamera tidak terlalu fleksibel untuk mengantisipasi hal tersebut. Berbagai referensi dan buku terkait dibawa dan diperlihatkan beliau pada para hadirin. Saya yakin dari kuliah yang menarik hari itu dan pertemuan dengan beliu, banyak yang terinspirasi untuk menekuni ilmu pengetahuan dan sudut ‚Äďsudutnya yang menantang.

Beberapa bulan lalu saya mendengar kesehatan beliau sudah semakin menurun dengan penyakit yang diderita. Kegemaran beliau untuk membaca sedikit terhalangi dengan berkurangnya kemampuan mata. Diantara kesibukan mengurus fasilitas teknologi informasi di UI yang perkembangannya diharuskan sangat cepat, saya sudah berjanji dengan Dr. Meutia, yang sekarang menjabat sebagai Wakil Dekan di Fakultas Psikologi untuk bersama menjenguk beliau yang sakit dan ’pay a tribute’. Namun sayang niat itu tidak kesampaian. Jumat sore kemarin dalam rapat evaluasi web UI yang baru, kabar itu tiba. Sang Guru Besar telah dipanggil oleh khalik-Nya. Tokoh pendidik yang kata-katanya penuh makna dan penuh wisdom itu akhirnya mendahului kita. Ribuan murid-muridnya pasti punya kenangan tentang beliau. Semangatnya tentang konsep-konsep ilmu pengetahuan terpatri dibenak pembaca tulisan beliau. Kecintaannya pada konsep berbagi dibidang pendidikan, terbukti dengan banyak yang sering melihat beliu duduk berdiskusi panjang dengan mahasiswa dibawah pohon-pohon rindang ditengah Kampus UI Salemba.
Bagi saya Prof. Fuad tetap terpatri sebagai sosok Mentri pendidikan yang datang kesekolah-sekolah diseluruh nusantara dan memberi semangat bagi generasi penerus untuk terus belajar dan mampu berkompetisi di dunia yang ternyata menjadi semakin datar dengan teknologi informasi. Berwibawa dan sangat memperhatikan perkembangan kualitas pendidikan. Walau tak sengaja, persimpangan hidup saya dan Prof Fuad terjadi lewat momentum-momentum penggunaan teknologi baru yang tepat untuk pendidikan. Sebagai Guru besar berlatar belakang filsafat, beliau begitu memperhatikan perkembangan teknologi baru, dan senantiasa memancarkan motivasi bagi mahasiswa-mahasiswanya.

Dalam 20 tahun terakhir ini perkembangan pendidikan telah banyak diwarnai oleh cepatnya perkembangan teknologi dan semakin banyaknya mode komunikasi yang memungkinkan informasi sampai dan dapat diolah. Teknologi informasi dan komunikasi telah mewarnai munculnya generasi Internet yang menuju kepada Demokrasi 2.0, dimana diharapkan muncul partisipasi warganegara untuk mewujudkan cita-cita bersama dalam bernegara dan bermasyarakat yang mampu berkontribusi di lataran global.

Akhirnya perjalanan hidup yang memberi inspirasi dan kelak mungkin menjadi legenda itu berakhir juga. Minggu siang 8 Deember itu, dengan hikmat sivitas akademika UI dan kalangan pendidikan di Indonesia mengantarkan Prof Fuad ke Taman Makam Pahlawan kalibata. Selamat beristirahat dengan tenang Pak Fuad. Doa panjang untuk Sang Maha Guru. Semoga semangat dan integritasnya dapat dilanjutkan oleh generasi selanjutnya di negri ini.

Catatan: Tulisan ini dimuat di Koran ‚ÄĚSeputar Indonesia‚ÄĚ, Selasa, 11 September 2007.