Untuk Cinta

 

Untuk Cinta

—————-

By: Ummu AlNaLa (20072014)..

 

Hari ini di kesenduan Takbir dan Tahmid Idul Fitri ke 18 sejak kita bersatu dalam payung keluarga.

Aku bersyukur akan cinta yang Mas berikan yang menjadikan hidup penuh makna.

Ada hari-hari putih beku salju di konferensi internasional pertamaku di Eropa ditemani cinta.

Ada Menara Eifell yang mewujud dari mimpi bulan madu di Paris.

 

Ada hari-hari indah penuh perjuangan di Jakarta, Solo, Sheffield, dan Leeds.

Ada 2 gadis kecil yang lahir di kesunyian program S3 di Yorkshire di awal masa

perjuangan kita bersama.

 

Ada hari-hari derai air mata yang kita lalui bersama: bayi tak kunjung datang, badai

salju, korsleting, beton di lab bahan yang bertumpuk, program komputer yang rumit, dan viva S3.

 

Ada hari-hari indah di Mesir: Luxor, Kairo, di Spanyol: Sevilla, Cordoba, Granada, di Turkey: Bodrum dan Istanbul.

Ada 2 PhD yang kita raih bersama, karena tahun-tahun itu malam dan siang bagi kita sama saja.

Mas lebih ingat tentang hidupku dari pada ingatanku sendiri.

Karena sejak kita bersatu, aku jarang menulis lembar-lembar diary itu, karena semua diceritakan dimalam-malam kebersamaan kita.

 

Lalu kita kembali ke tanah air tercinta.

Mengabdi pada nusa dan bangsa yang membuat kita merasa penuh didada.

Perjalanan setiap minggu antara Jakarta dan Solo, Mas lalui tanpa mengeluh.

Hidup kita seperti kilatan film yang berpindah dari satu lokasi ke lokasi berikutnya.

Lalu lahirlah di bungsu Laura di negeri dan kota kebanggaan kita.

Hidup begitu cepatnya bergerak.

 

Ada perjalanan berenam dengan mama ke Kota Singa, Phuket, Hongkong, Tokyo, Mekkah,  Madinah dan Dubai.

Perjalanan pendidikan bagi generasi warga dunia.

 

Ada perjalanan menikmati keindahan nusantara dengan keluarga besar kita di tempat kerja Jakarta dan Solo..

Kota Jogja, Bandung, Pangandaran, Bali, Malang, Bromo dan puluhan tempat cantik

 

Bulan dan tahun berderet lenyap dari waktu ke waktu..

Banyak kota-kota di Indonesia yang Mas Kunjungi untuk kerja.

Banyak hari-hari yang kulalui membawa nama Indonesia ke negeri manca.

 

Malam itu, ketika pesan singkat dari Mas aku terima dari Solo bahwa tubuh terasa sesak.

Aku hanya bisa berusaha menghubungi teman-teman jauh disana dan berdoa.

Esoknya, pesan dokter terdengar seperti petir, dan hari-hari selanjutnya membuat aku berubah melihat dunia.

 

Tubuh kita hanyalah titipan.

Seluruh pencapaian kita hanyalah catatan.

Seluruh hidup kita hanyalah cara untuk mengabdi pada Sang Pencipta.

 

Mas.. Karena cinta kita bisa bertahan.

Karena ketiga gadis kecil itu kita bisa melalui ribuan mil samudra dan angkasa.

Karena doa ayah bunda dan para tetua hidup kita bermakna meneruskan tradisi dan mewujudkan kebanggaan.

 

Musik yang indah di malam fitri ini adalah pengiring bakti kita pada Allah.

Bayi yang dulu kecil berceloteh kecil di dekapan kita, kini tumbuh kuat dan menjadi akar masa depan.

Doa orang tua, kerabat dan teman mengiringi langkah kita..

 

Dia lauhul mahfuz semua sudah tertuliskan..

Teruslah berdoa..

Teruslah hidup dalam keteraturan… Teruslah berupaya agar hari-hari kita bermakna

dalam cinta yang disebar untuk semua…

Teruskan cahaya cinta Allah Sang Maha Mulia ..

 

 

 

September 04 2014 01:42 pm | Catatan Pribadi

2 Responses to “Untuk Cinta”

  1. lasealwin Says:

    Yes. Hidup adalah perjalanan panjang yang membosankan apabila tidak ada kebaikan yang mengiringinya. Kebaikan hatilah yang membuat kita lebih hidup. Terimakasih

  2. Benjamin Franklin Says:

    Semua yang dimulai dengan rasa marah, akan berakhir dengan rasa malu
    (Benjamin Franklin)

Leave a Reply