Musim Berganti, Iman Kami Kian Terasah

Pengantar: Tulisan ini dipersembahkan bagi staff pengajar UI dan mahasiswa yang bercita-cita untuk menimba ilmu dan mengasah diri di kawah candradimuka ilmu pengetahuan di negeri lain agar tidak imbreeding. May it moved you to pursue your dream ..(Pernah di muat di Majalah Percikan Iman Bandung, Juni 2009.)

“Masa belajar – Masa terindah yang menjadi kenangan”
Masa-masa menempuh studi S2 dan S3 di negeri Ratu Elizabeth lebih dari 12 tahun yang lalu adalah masa yang paling meninggalkan kenangan. Kebetulan saat itu saya mendapat beasiswa British Council Chevening Award untuk mengambil program Master in Sofware Systems and Parallel Processing di University of Sheffield, dan suami saya (Kusno Adi Sambowo) juga mendapat beasiswa Depdiknas untuk mengambil program PhD di bidang Civil Engineering di University of Sheffield.

Kami berangkat dalam tawadu, berharap akan limpahan cahaya dari Allah untuk berjuang mencapai menaklukkan satu demi satu catatan pencapaian yang harus diraih untuk kelak bisa memberi kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan., doa tulus seluruh keluarga dan handai taulan mengiringi impian kami untuk dapat kembali dengan 2 gelar PhD dan 2 orang gadis kecil buah hati kami. Alhamdulillah doa itu kelak dikabulkan Allah. Mahasuci Sang Pemilik segala pengetahuan.

Ingatan saya melayang ke perjalanan pertama dengan bis dari Machester airport ke kota tempat kami menimba ilmu, Sheffield. Ketika melewati Peak District, daerah puncak yang amat indah, jalan berliku, danau yang damai ditengahnya, begitu sunyi. Saat itu belum terbayang lingkungan masyarakat mana yang akan kami masuki. Kesunyian yang bergema kosong dari pemandangan yang cantik di Peak District, kesadaran bahwa kekuatan kami menghadapi perubahan kultur, kebiasaan, musim yang berganti, kadang menghadirkan kerinduan pada Indonesia.

Kota Sheffield ternyata kota yang cukup hidup. Selama tinggal berpindah-pindah rumah di Sheffield, hampir seluruh pemilik rumah yang kami kontrak adalah Muslim yang berasal dari Pakistan. Secara ekonomi mereka cukup survive setelah tinggal beberapa generasi di kota itu. Kebanyakan warga muslim tinggal di daerah Darnall dan Tinsley. Disinilah juga banyak mahasiswa dari Indonesia dan Malaysia tinggal karena kemudahan membeli makanan seperti daging halal, kebab, pizza yang halal dan punya cita rasa yang dekat ke lidah kita, selain makan Fish and Chips yang merupakan khas makanan Inggris.

Kami banyak mengikuti pengajian Indonesia. Diawal-awal pengajian kami cukup banyak bertemu Muslimah dari Sheffield Central Mosque. Ada beberapa Muallaf asli Inggris yang menikah dengan keturunan Pakistan disana. Bahkan seingat saya ada seorang Muslimah berkulit putih yang setiap hari menjadi Supir Bis Route 52 yang melewati University of Sheffield ke Darnall. Menggunakan Hijab tidak menimbulkan pertanyaan dari masyarakat sekeliling karena mereka terbiasa pakaian khas wanita keturunan Pakistan. Kenangan shalat bersama di bulan Ramadan mengingatkan saya pada ayat-ayat panjang yang dibacakan imam, karena setiap malam dalam shalat tharawih harus dihabiskan 1 juz.

Pengajian Mahasiswa Indonesia ternyata menjadi tempat pelepas rindu kami pada kampung halaman. Ada berbagai makanan Indonesia yang selalu menyertai setiap pertemuan kami dalam memperdalam ilmu agama. Ada masa berbagi informasi sehingga kami dapat melalui masa-masa sulit dengan saling mendukung bersama. Ada rasa persaudaraan yang tulus yang hubungannya tetap berlanjut. Ada suatu masyarakat yang memperhatikan kami, ketika waktu waktu penting seperti kelahiran, ulang-tahun, mencapai gelar MSc, ujian PhD dan sebagainya. Demikian juga ketika saya melanjutkan studi S3 di kota yang berbeda yaitu di School of Computing, University of Leeds yang ditempuh 1.5 jam dengan bis atau mengendarai mobil dari Sheffield.

Masa-masa belajar di luar negeri memberi kenangan khusus, karena kami dapat menyaksikan kedatangan warga Indonesia baru dari tanah air atau yang lahir disana selama masa-masa belajar menempuh S2 dan S3. Dikota itu 2 putri kami: Almira dan Naufalia lahir, dengan dukungan layanan kesehatan masyarakat Inggris yang sangat baik dan efisien. Kelahiran dengan operasi caesar dan perawat yang datang tiap hari kerumah selama 3 minggu pertama setelah kelahiran semuanya gratis. Bunga Mawar dan kartu terimakasih saja yang perlu kami berikan kepada para perawat yang melakukan tugas-tugasnya dengan hati itu.

Pengajian-pengajian yang kami hadiri merupakan media saling mengingatkan dan memperkuat ukhuwah. Kadang banyak pembicara-pembicara yang datang dari tanah air seperti Prof. Nurhkolis Madjid, Ustad Hidayat Nurwahid, Bapak Mochtar Naim, yang memberi siraman semangat. Juga Duta Besar Indonesia di Inggris saat itu Bapak Nana Sutresna dan Bapak Djamtomo Rahardjo yang kerap hadir menghadiri acara Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) disertai oleh atase Pendidikan yang sangat memperhatikan pelajar Indonesia.

Pengajian Indonesia yang diadakan dari rumah kerumah juga kadang-kadang di seling dengan pengajian ditaman-taman luas yang terdapat di Shefield di musim Semi. Kadang juga ditepi danau Rother Valley. Keindahan alam, udara yang bersih segar, kemajuan-kemajuan di studi kami, anak-anak yang sehat yang berlarian dalam kegembiraan senantiasa membawa kami untuk bersyukur pada Allah SWT. Pengajian KIBAR (Keluarga Islam Britania Raya) juga kadang sering diadakan untuk pertemuan dengan keluarga-keluarga lain dari berbagai kota di Inggris. Pengajian besar yang diikuti ratusan orang itu misalnya pernah diadakan di Markfield, yang merupakan Islamic center terbesar di Inggris, yang memiliki tempat penginapan yang baik, ruang-ruang pertemuan, tempat makan bersama, dan juga perpustakaan yang cukup besar. Saya jadi teringat pada sebuah lagu yang kami dendangkan bersama saat itu ditengah kabut pagi kota Markfield. “Dengarlah kicau burung-burung bernyanyi, menyambut mentari pagi, indah dan berseri. Sebagai tanda syukur pada yang Kuasa, atas nikmat alam raya, untuk kita semua”. Semua yang dilalui menjadi dasar pengalaman untuk membangun generasi baru yang patuh pada Rabbnya dan menjadikan kerja keras sebagai kesukaan dan ibadah menuju terbangunnya peradaban negeri kita yang lebih baik.
&&& Depok, 15 Maret 2009 &&&

September 06 2012 11:07 am | Catatan Pribadi

One Response to “Musim Berganti, Iman Kami Kian Terasah”

  1. Adit Says:

    tulisannya sangat mengharukan bu. btw salam kenal dari mahasiswa hukum ya

Leave a Reply