Belajar Membidik Harapan

Jakarta, Lemhannas RI, 13 Juni 2012.

Siang ini aku termangu, mengenang kembali puisi Chairil Anwar, ‚Äú… menjaga Bung Karno, Menjaga Bung Hatta, Menjaga Bung Syahrir‚ÄĚ. Penelusuranku membawa pada pengertian tentang para founding fathers bangsa. Para tokoh itu¬† ternyata begitu terlihat kenegarawanannya, percara dirinya, dan kebanggaannya pada bangsa Indonesia. Foto-foto dan video pidato berapi-api itu, serta beratus¬† foto dan video dari masa lalu telah menjadi catatan kehidupan berbangsa dan bernegara di negeri ini.
Di sore yang mencerahkan di sekolah ini, sebuah National Leadership Training Center,¬† aku baru berusaha mulai mengerti apakah yang dimaksud dengan kenegarawan (statemanship). Pelatihan yang cukup¬† menantang, penuh kedisiplinan, dan diskusi-diskusi segar berharga dan menjadi informasi baru dengan pengalaman real seluruh anggota tim di lapangan, negeri nusantara ini. Pelatihan yang telah diikuti 3 bulan ini semakin membuatku mengerti bahwa beban itu semakin banyak dan semakin berat. Ideologi, wawasan nusantara, ketahanan nasional, kewaspadaan nasional, sistem manajemen nasional, dan kepemimpinan. Buku ‚ÄėThe Dancing Leaders‚ÄĚ [2012] dari Gramedia membuatku semakin mengerti bagaimana harapan yang ditujukan bagi pemimpin bangsa yang terdiri dari 240 juta penduduk sekarang ini. Permasalahan yang kompleks dan harus dipikirkan dari berbagai sudut pandang yang holistik dan integratif.
Tim yang terbentuk saat outbound ke Lido di pembukaan pelatihan On-Campus Lemhannas, mengingatkanku bahwa kerjasama dan kepemimpinan memerlukan latihan terus-menerus, serta disiplin yang tak pernah padam. Bahwa kita dapat memainkan peran. Ketika drum dan bambun panjang terlalu berat untuk dipindahkan, masih banyak hal yang bisa dilakukan, yang bisa dicatat sebagai kerja bersama. Misalnya dengan tetap  menyimpan semua sampah yang ada, dan menempatkannya ditempat yang tepat ketika ada, yang ternyata menjadi catatan. Ini semua ternyata menjadi kepercayaan yang harapannya akan dapat diikuti dan disebarkan.
Tempat penginapan Bung Karno, Kamar tidur dan bekas radionya dari tahun 1950an  yang menjadi tempat ganti pakaian para ibu peserta Lemhannas di tepi Danau Lido, menjadi awal penelusuran pada masa lalu itu. Kesegaran yang menyenangka usai mandi, setelah berkelompok membuat rakit dari drum dan bambu, mendayung bersama, mengambil logistik menyeberang Danau Lido menuju Pulau Biola.
Tembakan keras yang kurasakan hentakannya ketika pelatuk Revolver 36¬† di Lapangan Tembak SPN Lido itu ku tarik perlahan. Menembak tepat yang pertama, menjadi pengalaman yang sangat menantang. Ketika kubidik tujuan harapan itu, diantara pejera yang seimbang, sebias doa kupanjatkan ‚Äėsatu bidikan tepat‚Äô saja ya Tuhan, dan sasaran merah peluru tajam itupun tumbang.
Aku berteriak gembira, namun lupa bahwa senjata harus segera dibawa turun, dan kegembiraan tidak boleh diperlihatkan dalam keadaan bersenjata. Ketenangan dalam kegembiraan seorang pemimpin harus tidak terlalu diperlihatkan.  Di pelatihan ini aku mulai merasa mengerti bahwa senyuman seorang pemimpin, sapaannya, tetap diperlukan, walaupun berada dalam tekanan.
Terimakasih Tuhan, untuk pendidikan yang senantiasa kuikuti ketika aku akan masuk memasuki tahapan hidup berikutnya. Ketika aku perlu belajar tentang menjadi ‚Äėbijaksana‚Äô namun ‚Äėgembira‚Äô, aku rasakan dukungan semesta untuk mencapai titik-titik itu.¬† Dukungan semua teman dalam tim, ketika kami mengikuti ekspedisi darat sepanjang 8 kilometer melintasi bukit, gunung, dan sawah menuju desa terakhir di tepian sungai Cisadane, ke dusun Ciwaluh yang indah. Disitu rakyat yang menunggu, anak-anak kecil yang cerdas yang pantas menjadi insinyur masa depan dengan mainan mesin kecil pembentuk kinciran angin mainan, ibu-ibu perkasa yang menceritakan perjuangannya untuk bekerja dan bekeluarga di tepian sungai, jalan setapak yang licin dimana-mana, membuatku semakin tersadar, begitu banyak yang diharapkan rakyat pada pemimimpinnya.

Lembar-lembar kompendium sejarah bangsa yang kulihat sore ini, dengan berbagai media yang terkoneksi dengan mudah oleh teknologi, dan waktu luang yang aku miliki untuk dapat mengumpulkan kata-kata pembuat semangat itu. Jika dulu mereka terasa jauh, maka kinilah waktunya untuk belajar dari kepemimpinan masa lalu itu.  Begitu banyak kebanggaan masa lalu yang perlu di bawa menjadi optimisme masa depan bagi bangsa ini agar percaya diri. Visualisasi pemimpin-pemimpin yang tangguh dan di terima di dunia internasional dengan penghargaan yang baik menjadi penyemangat. Begitu tajam ingatan sebuah foto yang memperlihatkan Bung Karno diterima  dengan sukacita oleh rakyat di luar negeri.
Aku teringat pada cuplikan pidato Prof. Usman Chatib Warsa, mantan Rektor UI yang mengutip Prof. Soepomo, mantan Rektor UI tahun 1951-1953. ‚ÄúAkan ada suatu masa, dimana akan muncul cahaya dari Universitas Indonesia, yang akan bersinar keseluruh dunia, membawa peradaban di seluruh dunia‚ÄĚ. Entah bila masanya tiba, namun ini memang harus diwujudkan oleh generasi kini dan generasi masa datang.
Sepotong  kalimat yang kutemukan  ini menjadi representasi yang tepat dari apa yang kurasakan sekarang ini. “Saat aku lelah menulis dan membaca di atas buku-buku kuletakkan kepala dan saat pipiku menyentuh sampulnya hatiku tersengat kewajibanku masih banyak, bagaimana mungkin aku bisa beristirahat? [Imam An Nawawi]-“.  Tak sabar rasanya menunggu untuk berbagi semangat pada mahasiswa baru di kelasku. Masih ada 2 bulan sebelum masa kuliah tiba lagi, dan ada mahasiswa baru di kelasku yang dapat kuwarnai tentang nasionalisme dan kerja keras untuk mencapai cita-cita tujuan nasional Indonesia yang indah itu di Pembukaan UUD 1945.
Hari-hari yang berlalu dengan  tugas merangkum 18 buku   modul, 6 essay  yang harus dikerjakan, dan sekarang Kertas Kerja Acuan yang harus dibuat,  setelah perjalanan panjang ekspedisi kelompok yang waktunya sangat terbatas, menjadi pemicu munculnya semangat baru itu. Bahwa semua orang-orang kuat itu, teman-teman itu,  memiliki kedisiplinan yang sama dalam menjalankan tugas-tugasnya. Disini aku belajar tentang kebijaksanaan para ksatria seperti Kumbakarna, Sri Sumantri dan Adipati Karno di dunia pewayangan perlu untuk diikuti atas kesetiaannya pada bangsa dan negara. Semoga ini akan menjadi pertanda, akan munculnya masa baru dimana profesionalisme dan kesungguhan akan mendapat penghargaan di negeri ini. Bahwa kepercayaan diri bangsa akan menempatkan bangsa ini menjadi bagian terhormat dalam pergaulan bangsa-bangsa [RFS13-62012].

June 13 2012 05:14 pm | Catatan Pribadi

Leave a Reply