Archive for February, 2010

Perpustakaan UI: Gedung Batu Megah itu..

February 8th, 2010 -- Posted in Paper Opini | 2 Comments »

Awan berarak menggantung diatas langit Depok. Burung-burung Camar beterbangan diatas Danau UI. Ranting dan daun dari pohon-pohon cantik di sekitar danau itu bergoyang. Di Ujung danau itu saya menyaksikan sebuah superstruktur tumbuh sejak bulan Juni 2009. Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia tahap 2 ini akan segera menjadi pusat Integrasi kehidupan kampus di Kampus Hutan Raya Universitas Indonesia yang asri.

Hari itu, di jam-jam terakhir dipenghujung tahun 2009, rasa sepi itu saya rasakan lagi. Hari itu telah berpulang keharibaan Allah, Presiden Indonesia ke-4, Gus Dur. Berita kepulangan ke negeri keabadian dan setiap ada pengumuman bendera kuning didepan pintu UI selalu mengingatkan saya pada akhir suatu sejarah hidup seorang manusia.

Tidak ada yang abadi. Yang relatif lebih abadi dan lebih panjang hanyalah kenangan akan seseorang yang terpatri dihati orang-orang yang pernah mengenalnya atau hasil karya dan pemikirannya yang tersimpan dalam di tablet tanah liat, papyrus, lembar-lembar kertas, atau prasasti batu yang semuanya rentan oleh waktu. Ilmu Pengetahuan hanya akan relatif abadi karena dia hidup di pemikiran satu generasi ke generasi. Bukti fisiknya terkumpul disuatu tempat yang bernama ‚ÄėPerpustakaan‚Äô.

Setiap hari, saat memandang lewat jendela di ruang kerja saya di lantai 7 Rektorat UI, saya menjadi saksi bagaimana bangunan pusat ilmu itu menjadi makin mirip dengan gambar yang divisikan arsitek pengarangnya. Akankan bangunan itu benar-benar menjadi ‚Äėthe largest library structure in the world?‚ÄĚ.¬† Pertanyaan itu juga pernah dikonfirmasikan seorang teman Spanyol saya yang rajin membuat ranking Universitas, Lembaga Penelitian, Sekolah Bisnis dan Rumah Sakit di Dunia. Dengan cita-citanya untuk membuat artikel ilmiah ia dapat membuat efek sampingan yang tidak dianggapnya penting, yaitu membuat semua Rektor di dunia terjaga setiap enam bulanan karena peringkat yang dibuatnya. Saat ditanya saya hanya berusaha menjelaskan bahwa, kalau membandingkan diri dengan Library of Congress Amerika yang berdiri diatas 3 bangunan dengan 21 Juta buku yang tersimpan di lemari sepanjang 785 Kilometer dengan 118 juta item, mungkin saja tidak tepat. Namun keinginan untuk menjadi yang terbesar dalam satu parameter indikator adalah salah satu target yang ingin dicapai. Bangunan perpustakaan luasnya 30000 meter persegi dan lebih besar dibanding perpustakaan nasional Singapura yang luasnya 11300 meter persegi.

Bangunan berwarna batu yang indah dan bertumbuh dan kian menjulang itu akankan jadi simbol dan menjadi jiwa berkembangnya ilmu pengetahuan di kepulauan Nusantara ini. Dapatkan ia bertahan dan berbekas seperti bangunan-bangunan bukti peradaban yang saya temukan di Luxor, Cordoba, Granada atau di Istambul?.  Akankan superstruktur itu menjadi tempat yang menjadi tujuan dan membuat jiwa-jiwa yang lapar akan ilmu pengetahuan betah untuk menghabiskan jam demi jamnya demi menjadi setetes pemikiran yang bermuara ke laut hasil pemikiran umat manusia?.

Perpustakaan adalah tempat kecintaan saya. Perpustakaan menjadi tempat yang selalu mengobarkan semangat berpikir di kota manapun saya berada. Saya terbayang pada perjalanan saya dimasa mahasiswa dulu, ketika Internet belum ada. Saya berkesempatan berburu artikel-artikel ilmiah dan mewujudkan impian saya merasakan suasana perpustakaan di Universitas Ivy League Amerika ‚Äď Stanford, ¬†Berkeley, Columbia, USC California, Yale, Princeton, MIT, di perpustakaan Markas Besar PBB atau di Inggris ‚Äď Cambridge dan Oxford dan di universitas tempat saya melanjutkan S2 dan S3 – Sheffield dan Leeds. Saya pernah dengan bangga mengoleksi kartu berbayar untuk menggunakan mesin fotocopy dari perpustakaan-perpustakaan pusat pemikiran dunia abad ini.

Saya sering teringat pada wajah-wajah pustakawan yang penuh senyum di tempat di mana kita akan selalu diterima, walau kita tidak punya status, kedudukan dan hak untuk menggunakan ruang. Ditempat itulah saya dapat menyerap kekuatan dari teman-teman lain yang sedang bergulat berusaha memahami ilmu pengetahuan, dan mempersiapkan diri menghadapi ujian. Kekuatan dari keinginan untuk setara dalam berusaha dengan melihat contoh usaha teman lain menyerap ilmu terbukti ampuh dan memberikan ketenangan. Diranah ilmu pengetahuan semua orang setara dan aman.

Ribuan tablet dari tanah liat di Nineveh di tepi sungat Tigris di Mesopotamia sekitar 1000 tahun sebelum masehi menjadi bukti terkumpulnya ilmu pengetahuan. Perpustakaan dimasa keemasan Persia, Yunani, dan Roma, China hingga Perpustakaan dimasa kejayaan Islam dan Kristen menjadi tempat dimana secara turun temurun nilai-nilai dan pemikiran dapat di teruskan. Sejarah mencatat kebengisan Alexander yang Agung, yang membakar ribuan buku-buku dibidang astronomi, filosofi, kedokteran, kimia di perpustakan raksasa di Persepolis (yang kini terletak Iran).  Kalau saja bukti-bukti tulisan dialog Plato tidak tersimpan diperpustakaan, maka saya tidak akan pernah tahu bahwa ada sebuah negeri yang entah nyata atau fiksional yang disebutnya Atlantis (yang konon mungkin ada di posisi Nusantara sekarang). Stimulasi pemikiran rasional  dan menyalakan ide-ide kemanusian, moral dan peradaban telah ada di abad Sebelum Masehi sejak jaman Socrates di Athena.

Sebuah cerita menarik tentang berharganya perpustakaan adalah ketika Mark Anthony memberikan seluruh koleksi Perpustakaan Pergamon (di Anatolia, Turki sekarang) sebagai mahar perkawinan untuk kekasihnya Cleopatra di Alexandria, Mesir pada awal abad Masehi. Seluruh lemari perpustakaan Pergamon dikosongkan dan dipindahkan ke Perpustakaan Alexandria yang saat itu menjadi salah satu pusat peradaban dunia. Sebuah cerita historis dari sebuah hidup yang berakhir sangat singkat namun meninggalkan banyak cerita heroik. Seperti juga cerita bagaimana  Thomas Jefferson menjual 6478 buku di perpustakaan pribadinya tahun 1815 ke Library of Congress di Capitol Hill Amerika setelah koleksi asli perpustakaan itu terbakar tahun 1812. Ternyata diperlukan masa hampir 200 tahun untuk mencapai koleksi 21 Juta buku.

Masa-masa kejayaan abad pertengahan masih terlihat hingga saat ini seperti di Perpustakaan Pusat Astan Quds Razavi tempat makam Imam Reza di Iran, yang masih ada sejak berdirinya di tahun 1471. Sejarah mencatat bahwa banyak perpustakaan Islam yang pernah menjadi sumber ilmu pengetahuan yang diterjemahkan oleh para pendeta dan muncul sebagai ilmu yang dibukukan di perpustakaan-perpustakaan Eropa moderen.

Saya pernah membayangkan bahwa masa-masa kejayaan Istambul dan Granada akan muncul lagi dalam bentuk lain di pusat dunia baru seperti di Dubai. Pusat kebudayaan dunia senantiasa berpindah. Manusia-manusia yang mengisinya terus berganti dan melakukan sesuatu dalam jangka waktu hidupnya  yang terbatas.

Buku dan koleksi berbentuk kertas memiliki masa keusangan fisikal dari material. Catatan dalam bentuk buku dapat menjadi rusak jika dipegang terus menerus dan akibat keausan yang disebabkan oleh asam pada serat pada kertas. Dokumen dapat berubah warna atau rusak karena waktu.   

Ketika abad elektronik datang, manusia berpikir bahwa semua dapat diabadikan dalam bentuk elektronik. Namun hingga saat ini tidak ada satu media digitalpun yang dapat menyimpan informasi elektronik dengan format yang dapat terbaca lebih dari 30 tahun. Umat manusia diabad komputer ini masih terus berusaha menemukan cara menyimpan informasi digital yang lebih kokoh dan harus terus memigrasikan bentuk informasi elektronik yang dimiliki  ke format standar baru karena  perubahan perangkat keras dan perangkat lunak.

Saat ini pencapaian kebudayaan dan ilmu pengetahuan umat manusia terlihat dari peninggalan tertulis, dan peninggalan berupa benda-benda yang dapat selamat (survive) dari masa lalu, contohnya Candi atau Waruga berupa batu di Sulawesi Utara yang berusia lebih dari 1200 thaun. Sumber-sumber penting tentang peradaban kita harus dapat terselamatkan apabila terjadi bencana besar atau hal-hal alami yang dapat menghilangkan bentuk pengabadian pencapaian tangible and intangible heritage yang sudah dicapai sebelumnya.

Selain perlu dijaga kelestarian bentuk aslinya, sistem berbasis digital juga perlu disiapkan. Seluruh bukti  perkembangan peradaban harus dapat diindeks dengan baik dan tersimpan dalam bentuk digital yang memiliki mirror.  Kelak diperlukan sebuah usaha dimana bentuk digital itu disimpan ditempat yang terlindungi, terselubung, agar dapat terselamatkan ke masa depan. Tempat penyimpanan digital itu perlu disimpan bersama dengan alat pembacanya agar dapat diakses kembali dimasa depan.

Perpustakan dalam bentuk tradisionalnya menyimpan buku. Diabad 21 ini perpustakaan luas digital kini sudah exist dan informasinya terdistribusi di World Wide Web. Untuk mengabadikannya Snapshot (foto) sesaat perkembangan web dunia perlu kita buat. Selama ini ¬†bentuk floppy disk 5 ¬ľ¬† Inch, disk drive, Zip Drive, CD, DVD, USB telah menjadi bukti revolusi yang berjalan cepat dimasa kehidupan kita. Saat ini informasi digital yang ada di perpustakaan dunia sudah hampir mencapai satuan Zettabytes (1021 bytes ), yang artinya lebih kurang 18 Juta kali informasi yang ada disemua buku yang pernah ditulis manusia.

Untuk itu diperlukan berbagai usaha bersama agar revolusi digital dapat membantu preservasi informasi tentang Peradaban manusia. Generasi masa depan akan melihatnya seperti perkembangan tablet tanah liat, papirus, kertas, dan lain-lain dari masa lalu, menuju kebentuk yang lebih moderen.

World Digital Library (www.america.gov) adalah contoh produk yang menawarkan harta karun digital seperti hasil karya kaligrafi dari Arab, Persia, China dan Jepang dari berbagai pelosok dunia, dan berbagai abad. Inisiatif ini adalah salah satu contoh hasil kerjasama 20 perpustakaan digital terbesar didunia. World Digital Library ini dimulai sejak 21 April 2009 di Kantor Pusat Unesco di Paris setelah diinisiasi 4 tahun sebelumnya oleh kepala US Library of Congress. Tujuan proyek itu untuk menciptakannya satu kesatuan web akan menampilkan seluruh sejarah yang menarik dan penting dari kebudayaan dunia yang berbeda-beda akan menjadi warisan sejarah penting bagi generasi masa depan.

Pusat peradaban yang bernama perpustakaan tradisional dan juga perpustakaan digital dunia dapat diharapkan menjadi tempat hiburan masyarakat masa depan. Untuk itu berbagai usaha untuk mensosialisasikan perpustakaan, misalnya dengan mengadakan perpustakaan di mall-mall adalah salah satu upaya yang perlu digalang bersama.

Hidup kita adalah warisan dari masa lalu, dan pinjaman dari masa depan.  Semoga Bangsa Indonesia ditahun baru 2010 ini akan semakin disibukkan dengan pencapaian-pencapaian yang dapat dituliskan dan menjadi literatur dalam khazanah perpustakaan bangsa. Semoga semakin bersemi niat anak bangsa memajukan perpustakaan-perpustakaan tempat terstimulasinya generasi masa depan untuk untuk belajar dan berkarya menjadi yang terdepan dalam menegakkan peradaban dunia baru yang lebih teratur, aman dan adil.

Depok, 31 January 2010