Archive for July, 2009

Catatan Perjalanan Family Gathering Teknik Elektro UI Anyer, Pantai Barat Jawa, 9-11 Juli 2009

July 12th, 2009 -- Posted in Catatan Pribadi | No Comments »

Depok (Sepulang dari Anyer), Minggu 12 Juli 2009

Apakah artinya kebahagiaan? Bahagia sore itu bisa diartikan dengan Matahari jingga yang cantik di sisi panorama Karang Bolong (yang namanya pertama kali saya kenal ketika bermain monopoli), keluarga yang lengkap dan anak-anak yang membuat gunung dari pasir putih pantai Pesona Krakatau Anyer, pantai yang Ā penuh dengan para rekan Maha Guru Ā (dan 1/3 dosen Teknik Elektro UIĀ  adalah profesor). Family gathering tahunan, adalah kesempatan untuk menarik nafas, berhenti sejenak untuk mengamati, dari seluruh kegiatan yang detik demi detiknya cepat sekali berlalu.

Kita bisa belajar lagi dari alam. Ketika lamunan ombak sore hari dipantai pasir putih itu membawa saya ketengah, ban yang besar membuat gerakan tangan tidak berarti apa-apa untuk kembali ketepi. Tidak ada kemajuan. Pantai yang tenang ketika kaki dapat dijejakkan kepasir, seketika menjadi begitu jauh ketika usaha kita sia-sia untuk maju. Gerakan ombak, adalah gerakan alam yang bisa membawa kita ketepi dan ketengah lagi. Lalu kita harus memperlihatkan kekuatan dan ketegaran untuk kembali ke tepi yang benar.

Anak-anak (Almira, Naufalia dan Laura) begitu bergembiranya bisa 3 hari menikmati pantai pasir putih itu. Pengalaman yang tidak akan terlupakan ketika mereka menemukan bahwa kastil dari gundukan pasir yang mereka buat akan lebih terselamatkan dari ombak jika disekelilingnya didirikan parit perlindungan. Kehidupan demikian ajaib. Kita dapat menemukan sendiri jawaban-jawaban untuk tetap bertahan. Semakin banyak soal yang kita selesaikan, makin banyak ilham yang datang. Melihat mereka tumbuh dan berkembang membuat kita bisa merasakan kekuatan luar biasa itu, kekuatan dari Ilahi.

Sore itu saya baru menyelesaikan membaca sebuah nove dari Paul Coelho berjudul ā€œThe witch from portabelloā€. Matahari makin berlari pasti ke peraduannya dalam hitungan menit, ketika saya memikirkan kembali sebuah bagian dari novel itu. ā€œApakah artinya belajar? Mengumpulkan pengetahuan atau mengubah kehidupanmu? Apakah belajar hanya berarti menumpuk buku-buku dilemari, ataukah itu berarti membuang apa saja yang tidak berguna, dan kemudian melanjutkan perjalanan dengan lebih ringanā€.

Buku-buku adalah kepribadian, pendidikan, dan guru-guru yang sesungguhnya. Pengalaman dalam hidup akan membuat kita lebih kuat, lebih matang, dan menyadari kekuatan-kekuatan yang muncul dari setiap individu yang kita temukan untuk dipelajari. Kedipan-kedipan pengalaman masa lalu sejenak muncul keingatan saya. Betapa pengalaman panjang menghadapi ribuan tes yang berlalu, belajar dari para peneliti dunia di CERN dan berbagai konferensi, belajar dengan teman-teman yang punya semangat baja diantara dingin salju yang mengilukan, berada dilingkungan yang secara konstan memberi celah untuk mengisi ruang kosong untuk menemukan pencapaian-demi pencapaian, belajar dari pengalaman orang lain yang saya baca diribuan buku dan halaman-halaman pribadi di web, belajar dari pertemuan dengan para pemimpin yang sesungguhnya yang menimbulkan motivasi untuk berbuat yang terbaik. Hingga akhirnya selembar surat yang ditandatangani Prof. Bambang Sudibyo (Mendiknas) datang siang 6 Juli itu. Suatu surat pengakuan dan harapan kedepan bagi saya untuk bergerak ke milestone berikutnya ā€“ menjadi seorang Guru Besar. Sebuah hadiah ulang tahun paling berharga untuk hari ulang tahun ke-39.

Saya berdoa bagi generasi-generasi penerus ditepi pantai itu (dan juga tentu untuk murid-murid saya, dan seluruh siswa di nusantara), semoga mereka menemukan sendiri pengalaman hidup yang berharga. Belajar dari para guru yang mengajarkan dasa darma pramuka (yang sampai sekarang selalu saya pertanyakan ā€“ mengapa mereka bisa mendefinisikan dasa dharma kesepuluh adalah ā€œsuci dalam pikiran, perkataan, perbuatanā€), belajar wisdom dari professor enterprenuer dari Duisburg diudara dan di kapal selam,Ā  peneliti jaringan kompuer Fortaleza di Brazilia, penjaga istana Alhambra di Granada ā€“ Spanyol, dan atau pemilik resort pegunungan salju di Manza Onzen – Jepang, pemilik pesantrenĀ  Pabelan, pegawai pabrik makananĀ  kotakan bermerek di Crystal Peak – Inggris, atau dari para sufi yang menemukan ketenangan dan inti hidup dari cahaya Ilahi, dan terutama belajar dengan visi global dan memiliki kemahiran komunikasi mutakhir untuk mejadi warga dunia yang bermartabat dan yakin bahwa sepenggal hidup yang mereka alami adalah yang terbaik yang bisa dilalui jika mereka dapat berbagi. Kondisi dalam krisis akan membuat mereka menjadi kuat dan siap menghadapi tantangan, selalu positif dan berdaya.

Perjalanan 3 hari ini adalah perjalanan lengkap keluarga Teknik Elektro UI yang kami lalui. Tiga hari yang paling dinantikan anak-anak dalam setahunnya, karena keluarga yang lengkap dan lingkungan yang terhormat, lingkungan para akademisi yang senantiasa merasa cukup dan bisa mengisi relung kosong dalam jiwa dengan ilmu dan ketaatan pada pencipta. Tidak ada ā€œRat Raceā€. Lingkungan ini hidup untuk generasi masa depan. Suatu kehormatan untuk berada didalamnya.

Tahun demi tahun berlalu. Sejak kembali dari Inggris tahun 2003, kami adalah peserta tetap dari ā€˜trip of the yearā€™ ini. Menonton keindahanan sendratari ramayanan dibalik purnama Candi Prambanan di Jogjakarta (2004), Batu Raden dan Dieng dengan sikecil Laura yang baru satu bulan (2005), Main Angklung di Saung Mang Udjo Bandung (2006), Pangandaran (2007), Kuningan dan Spa serta Linggarjati(2008), Anyer (2009). Semoga ini akan membangun kebanggaan generasi masa depan akan tanah airnya, budayanya, keindahan alamnya, dan sejarah yang dibangun para pemimpin masa lalu yang menjadi dasar masa kini. Terimakasih untuk teman-teman seperjuangan yang telah membentuk lingkungan akademik yang lengkap di Depok ini. Lingkungan kekeluargaan yang membuat sense of belonging akan rumah kita menjadi dasar untuk kita bergerak keluar dengan percaya diri. Terimakasih untuk panitia demi panitia yang telah berinovasi untuk membuat kekuatan kita menjadi kebanggaan dengan inovasi program outbound dan lainnya.

Senin 13 Juli, tahun ajaran baru, segera tiba. Saya teringat pada tahun demi tahun yang telah berlalu ketika dengan excited saya menunggu tahun ajaran baru. Sekarang semuanya harus dilalui anak-anak yang beranjak menjadi remaja itu. Ujian demi ujian yang akan membuat mereka semakin kuat.

Tahun baru, harapan baru. Setelah semua berlalu kita belajar bahwa kalender hanyalah pemicu. Namun kekuatan untuk belajar dari hidup dan pengalaman, untuk kemudian mengajarkan dan membaginya pada orang lain adalah kekuatan yang sesungguhnya. Kita adalah bagian dari alam. Berikut kutipan dari Paul Coelho lagi

ā€žSuatu hari nanti, semua yang kamu miliki akan harus kau berikan. Pepohonan memberi supaya mereka bisa hidup, karena mempertahankan berarti musnah. Dan dimanakan ada kehormatan yang lebih besar daripada yang terdapat dalam keberanian dan keyakinan diriā€œ.

Para guru yang senantiasa memberi adalah agen dari perubahan. Semoga kekuatan untuk mendidik generasi masa depan yang penuh keberanian dan keyakinan diri denganĀ  keyakinan pada Allah yang memberi hidup yang lengkap, akan terus muncul, dan bahwa kita bisa berdiri sejajar atau bahkan didepan, di percaturan global, mengejar China dan India.