Archive for March, 2009

SIMAK UI: Bukti Kemahiran Siswa Nusantara BerInternet

March 6th, 2009 -- Posted in Paper Opini | 1 Comment »

(Artikel Ini dimuat di Koran Jakarta, 26 Februari 2009 dengan judul Generasi Internet Telah Lahir).

Si Fika membuka http://penerimaan.ui.ac.id dari sebuah Warnet di Jalan
Pejanggik, Mataram, Lombok. Ia punya cita-cita masuk UI dan kini waktunya
untuk mendaftar. Cara baru, semua proses dilakukan lewat Internet.
Baru Desember lalu Universitas Indonesia memutuskan untuk melakukan
Pendaftaran Ujian Masuk terpadu S1 Reguler, Non Reguler, Vokasi, S2, S3
secara online. Akhirnya diluncurkanlah program Seleksi Masuk UI (SIMAK)
sejak 19 Januari-19 Februari 2009. Tidak ada satu lembar kertaspun yang
melayang diantara para calon mahasiswa dengan Universitas, termasuk data
diri, pilihan program studi, pemilihan tempat di 36 Kota di tanah air,
foto, dan pembayaran. Semua dilakukan melalui jaringan Internet.
Pendaftaran melalui SIMAK ini merupakan komponen terbesar dari jalur masuk
UI yang melalui SIMAK, UMB, SNMPTN, jalur atlit, seni dan olimpiade, PMDK,
Kerjasama daerah dan Industri, dan lainnya.
Seleksi mahasiswa baru Indonesia telah mengalami metamorfosa yang krusial
dalam 2 tahun terakhir ini. Berbagai upaya untuk menjadikan satu sistem
menjadi efisien senantiasa mengikuti perubahan yang terjadi dimasyarakat
dan pemerintah. Dalam kerangka ini UI berusaha mendekati siswa hingga ke
daerah-dearah, dan memberi kesempatan untuk seleksi masuk hingga ke 8
program studi dalam sekali ujian.
Ini adalah hal yang luar biasa dan baru pertama kali terjadi di Indonesia,
dan mungkin didunia dalam skala yang besar. Sistem yang dibangun adalah
sistem yang dibuat sendiri oleh putra bangsa yang mampu menampung
pendaftaran hampir 80000 (delapan puluh ribu) calon mahasiswa dan
menampung pembayaran host-to-host online. Mahasiswa mendaftar sendiri
online, mendapat nomor, datang ke ATM 7 bank yang sudah bekerjasama dengan
UI, dan langsung mentransfer pembayaran, dan pada saat itu juga di server
di UI diketahui bahwa siswa dan SMA ini telah membayar, sudah mencetak
sendiri kartu ujiannya secara online, dan siap datang ke ruang ujian ke
kota terdekat. Berbagai macam statistik dan analisa dapat dilakukan secara
online.
Betapa kita menjadi terkaget-kaget dengan transfer uang online yang
terjadi dua jam lebih dahulu dari Papua. Betapa kita dapat berbangga bahwa
para siswa ternyata mampu mendaftar dari ruang kelasnya lewat koneksi
telpon genggam dengan koneksi GPRS. Dari pelosok desa di Tapanuli Tengah
hingga ke Mataram, semua tanggap mengisi data dalam 1 bulan pendaftaran
online ini. Diantara gempita Pemilu yang segera menjelang ternyata
siswa-siswa kita adalah generasi yang sudah mumpuni dan tidak resah dengan
perubahan dan menjadi bagian dari efisiensi yang dibantu dengan adanya
Internet.
Ini adalah bukti bahwa Teknologi telah diterima dan membuat sistem menjadi
sangat efisien. UI tidak perlu membuat tim dengan banyak orang untuk
mendistribusikan penempatan ruang ujian, menempel  foto di kartu ujian,
dan mendistribusikan kartu itu ke penjuru nusantara. Internet, sistem
terbuka yang diinisiasi Tim Berners Lee di Laboratorium Partikel Fisika
Eropa di Jenewa tahun 1989, kini telah menjadi pemungkin pemilihan
putra-putri terbaik bangsa untuk menjadi ‘cream the la cream’ calon
mahasiswa yang masuk UI. Masih satu minggu lagi pendaftaran, tapi
pendaftar calon mahasiswa Fakultas Kedokteran UI saja sudah 10000 orang,
yang berarti mahasiswa yang masuk adalah 0.1% dari jumlah pendaftar. Ini
adalah mega seleksi yang luar biasa.
Baru dua tahun lalu perubahan mendasar dan Integrasi layanan akademik dari
pendaftaran hingga pendaftaran wisuda terbukti bisa dilaksanakan secara
terintegrasi dari Server di Data Center UI. Saat itu masih banyak yang
mempertanyakan apakah semua dosen dapat memasukkan sendiri nilai dari
tangannya ke Sistem Informasi Akademik UI, mahasiswa dapat melakukan
perwalian online dengan perbincangan virtual dengan pembimbing
akademiknya, atau batasan waktu pemasukan nilai yang dilakukan sendiri
oleh komputer. Ternyata semuanya sekarang menjadi hal yang biasa. Mesin
virtual itu membuat kehidupan kampus menjadi lebih dinamis, terpadu, dan
rapi. Tidak ada data yang berbeda-beda dari satu komputer ke komputer
lainnya. Semua patuh mengikuti jadual, karena komputer tidak pandang bulu.
Sekarang sudah waktunya kita juga sadar, bahwa sistem online seperti ini
sudah dapat dijalankan oleh para siswa diseluruh Indonesia. Generasi muda
kita adalah generasi yang tak gagap dengan teknologi baru. Satu jari
tangan bisa menghubungkannya dengan seluruh dunia, jaringan sosial (social
network)nya terhubung dalam Buku Muka (Facebook) yang dimilikinya. Kita
akan terheran-heran dengan begitu cepatnya istilah baru chatting di
facebook dan kebiasaan yang jadi berubah 180 derajat. Dari buku harian
yang terkunci dalam tiga tahapan hingga menjadi ‘hai dunia ketahuilah apa
yang kualami dan kupikirkan hari ini’. Generasi  ‘empire of the mind’ yang
bekerja dan berkolaborasi di dunia maya.
Jika 10 tahun lalu saya terheran-heran melihat para insinyur pembuat
protokol Internet berbaris dengan laptopnya ingin bertanya pada pembicara
di sesi Internet Engineering Task Force (IETF) di London, dan satu ruangan
bergumam ‘hmm’ untuk menyatakan kesepakatan pada satu ide, hal itu sudah
menjadi hal yang biasa ditiap lorong-lorong kampus besar di Indonesia.
Para mahasiswa berebut ‘tiang’ tempat mendapatkan sumber energi listrik
bagi komputer, pengganti pena pada masa lalu. Hal ini telah menjadi hal
umum yang terjadi di universitas-universitas besar di Indonesia, sama
dengan situasi yang terjadi di Universitas lainnya dinegara-negara maju.
Di UI saja saat ini telah terdaftar 26000 laptop, dengan 1000 koneksi
bersamaan pada satu waktu. Harus dimunculkan aturan-aturan baru seperti
pada tahapan mana mahasiswa tidak boleh memperhatikan laptop dimejanya
saat kuliah dikelas, dan benar-benar memperhatikan arahan informasi apa
yang harus dicari dan dikuasainya dalam tahapan waktu tertentu.
Melihat kegigihan para siswa yang berada diwaktu penyaringannya untuk
lulus ke tahapan kemajuan selanjutnya kita patut berbangga. Dengan usaha
dan doa mereka akan menjadi global workforce yang akan menjadi kontributor
dalam kerjasama mensejahterakan dunia bersama teman lainnya dari berbagai
belahan bumi. Saya menjadi teringat pada sebuah artikel yang saya baca
tahun lalu, bagaimana ujian akhir untuk masuk ke Universitas di Seoul
menjadi waktu yang sangat penting bagi seluruh siswa dan masyarakat Korea.
Lalulintas dan penerbangan dijadualkan agar tidak mengganggu ujian.
Seluruh pemangku kepentingan ikut prihatin dan tahu apa artinya suatu
ujian. Strategi untuk mengikuti setiap pertandingan harus diikuti dengan
kerja keras dan determinasi untuk mewujudkan masa depan. Optimisme untuk
tetap survive di era global economy dalam skala bangsa kita dapatkan dari
siswa-siswa SMA penerus harapan bangsa kelak. Generasi muda kita memiliki
kemampuan yang handal untuk tetap beradaptasi menggunakan teknologi
sebagai tools untuk masuk kemasa depan. Mereka semua siap menjadi harapan
masa depan.
Ingatan akan persiapan yang harus dilakukan pada ribuan ujian yang saya
hadapi dimasa lalu, keprihatinan, usaha dan doa agar dapat berpikir
cemerlang membuat saya ingin memberikan dukungan kepada seluruh siswa
Sekolah Menengah Indonesia agar dapat mempersiapkan diri dengan baik dan
menjadi yakin dengan kemampuannya. Semoga persiapan mereka akan berbuah
hasil yang manis dengan munculnya pemikir-pemikir cemerlang yang dapat
menghasilkan karya-karya kreatif yang menjadi permata hasil karya anak
bangsa kelak. Selamat berjuang para pahlawan masa depan… Keprihatinan
dan kerja keras akan menjadi bekal yang berbuah manis kelak..