Archive for March, 2008

Wise Words – Today

March 10th, 2008 -- Posted in Catatan Pribadi | No Comments »
"When the tide of life turns against you and the current upsets your boat,
 don't waste your tears on what might have been, just turn on your back and
 float." -Anonymous


Word of the day dari Marie Curie

March 10th, 2008 -- Posted in Catatan Pribadi | 2 Comments »

“Nothing in life is to be feared. It is only to be understood.”
Marie Curie

Kata-kata diatas muncul di layar webmail UI hari ini.
Kata-kata yang sangat bermakna ketika kekuatan untuk membentuk sinergi menjadi sangat diperlukan untuk berbuat lebih baik, dengan berbagai tools yang ada dan kesempatan yang terbuka untuk mencari informasi di dunia maya yang tidak terbatas.

Marie Curie, Wanita kebanggaan jutaan perempuan dunia, yang membuka mata dunia atas kemampuannya menguak tabir ilmu pengetahuan – hingga meraih penghargaan Nobel.
Jatuh bangun kehidupannya banyak di ulas dalam berbagai buku. Namun kekaguman pada ibu dari dua orang anak yang juga punya nama besar, istri dari peraih nobel juga – Pierre Curie, ternyata masih banyak di kutip hingga saat ini. Dapat ditebak bahwa beliau bukan hanya pemikir bidang fisika dan kimia saja, namun juga dari segi filsafatnya.

“Nothing in life is to be feared. It is only to be understood.”
Dalam konteks ke Indonesiaan, saatnya untuk menjadi kuat dengan kata-kata itu. “Tidak ada sesuatu didunia ini yang perlu ditakutkan, Ia hanya perlu untuk dimengerti”.
Bencana alam, gonjang-ganjing ekonomi dunia, resesi, ketakutan pada dunia yang semakin terbuka dan kompetitif padahal amunisi kita terbatas… tidak perlu ditakutkan. Ada kekuatan yang lebih dari semua itu, yang akhirnya akan membuat kita mengerti… Bahwa kehidupan adalah berusaha menikmati proses dan tantangan. Dan diujung jalan itu ada saatnya untuk sedetik atau maksimal seminggu untuk menikmatinya..
Dan setelahnya ada lagi tantangan yang akan membuat kita punya semangat hidup.

Hari ini.. hari Marie Curie.
Senang melihat kata-katanya lagi dari computer randomly generated statements ini.

2 Februari lalu, Saya mendapat kehormatan berbicara panjang dalam wisuda UI dengan Dr. KRAT Moerdiyati Soedibyo, pendiri Mustika Ratu, dan Wakil Ketua MPR dari DPD.
Di 80 tahun usianya, terpancar kebanggaan dan kecerdasan wanita jawa enterprenuer yang berhasil. Sejarah panjang yang dimulai dari bisnis usia 46 tahun beliau, patut dikagumi orang yang mengenalnya.
Beliau cucu Pakubuwana 3, dan masih terhitung keluarga dengan Raden Ajeng Kartini. Dan kini ketrampilannya untuk mengerti dunia dan bertindak, disalurkan beliau di rumah wakil rakyat Indonesia.

16 Februari ini, ibu Dr. Pratiwi Sudharmono, calon astronot Indonesia ditahun 1980-an, mantan Direktur DRPM UI, akan dikukuhkan menjadi Guru Besar di UI. Beliau juga pasti telah memberi inspirasi banyak wanita Indonesia untuk berkarya diberbagai bidang.

Terimakasih untuk words of the day hari ini untuk sistem di web mail UI.
Semoga kata-kata yang bermakna, semakin membuat kita merenung untuk selalu bangkit lagi dan terinspirasi untuk mencapai sepenggal demi sepenggal harapan yang semoga akan menjadikan ekosistem kita menjadi lebih baik.

Riri Fitri Sari
Lantai 7 Rektorat UI Depok diantara pemandangan Jakarta yang sedang murung dan danau UI yang tanpa pemancing ikan dihari terang.

Sang Ibu dari Timur – Benazir Bhutto

March 10th, 2008 -- Posted in Catatan Pribadi, In Memorian | No Comments »

Hari ibu baru baru sebulan berlalu. Sebuah berita amat besar di lembar pertama surat kabar mendebarkan hati sore itu. Berita hitam kelam kepergian Benazir Bhutto, seorang ibu dari timur yang dimasa keemasannya terlihat cemerlang kemilau karena kecantikan dan kecerdasannya, telah menjelang maut dalam merah darah. Politik dan kekuasaan sangat sulit untuk dimengerti, hingga seorang ibu luar biasa itu juga diakhiri dengan cara mengerikan. Lambang moderenitas timur, gabungan beauty, brain, dan kemampuan berkomunikasi itu telah melalui 54 tahun hidupnya yang singkat dalam rollercoaster kehidupan. Karena dia telah memilih diantara pilihan yang sulit dengan resiko tak terperi. Lulusan Harvard dan Oxford itu adalah ibu, istri, putri, dan panutan pengikutnya.
Baru 10 tahun lalu Lady day mengejutkan dunia dengan kepergiannya dalam sepi di Paris. Dua legenda barat dan timur ini telah mencatatkan ratusan ribu, jika tidak jutaan tulisan tentang hidup para wanita luar biasa dan mewarnai kehidupan didunia. Mereka hidup dalam time line sejak televisi hingga YouTube (media video gratis Internet) digunakan Ratu Inggris untuk mengucap selamat tahun baru. Teknologi telah menyatukan dunia, namun naluri manusia untuk berkelahi dan menikmati menonton perkelahian masih bercokol dihati.
Februari 9 tahun lalu, taksi Karachi itu meluncur perlahan didepan sebuah rumah yang tidak terlalu luar biasa, dibanding rumah mewah yang dibangun para pedagang Tanah Abang di Bukit Tinggi. Saya beruntung ditunjuki sopir taki itu, memuaskan mimpi melengkapi cerita tentang Perdana Mentri wanita Pakistan itu. ‘Are you her friend?’ tanya sopir taxi itu. Dalam senyum saya bercerita bahwa saya hanyalah mahasiswa biasa yang sama-sama punya latar belakang pernah menimba ilmu belajar di Britania Raya, mencoba pulang ketanah air dengan tiket murah Pakistan Air, yang tanpa suguhan softdrink, hanya semata air putih biasa. Hari ini saya ingin mengulang lagi menjawab pertanyaan itu dengan afirmasi. Kekaguman yang tumbuh dari cerita sepotong-sepotong dari kejauhan mungkin lebih baik dari mengenal semuanya. Kami berkawan dalam mimpi tentang kehidupan damai didunia, berkawan dalam memiliki satu bumi yang kini berubah iklimnya, berkawan dalam keyakinan bahwa menjadi seorang ibu dan istri sepenuhnya tidak mengeleminasi mimpi berkontribusi dalam hidup bermasyarakat. Saya adalah salah seorang pengamat hidupnya yang kehilangan, karena akhir cerita yang terlalu menyedihkan, ulah naluri kejam manusia.
Sebuah kata mutiara yang saya kutip dari SMS Prof Mutamia Lauder dari Fakultas Ilmu Budaya UI dihari ibu lalu yang saya terima menggambarkan bahwa ibu melihat dengan hati, merasa dengan mata, tempat segala keluh keluarga, penyebar kehangatan dan perekat keluarga dari generasi ke generasi. Seorang ibu diberi kekuatan untuk menjadi tempat penenang dan tambatan hati keluarga. Benazir, ibu itu, tentu bercita jadi penyatu bukan pemicu kekerasan di negaranya, atau di Asia. Sebagai seorang ibu dia telah berhasil membesarkan putranya Bilawal yang berdiri tegar menggantikannya menjadi ketua Partai Rakyat Pakistan (PPP). Kasih sayang seorang ibu akan selalui dikenang oleh anak-anaknya dan orang-orang yang berada disekelilingnya. Benazir Bhutto yang dilahirkan di Karachi sebagai anak seorang politikus harus mengulang kembali berbagai cerita dinasti politik. Walaupun pernah belajar di dunia modern seperti Oxford di Inggris dan Amerika, Bhutto yang tetap punya harapan untuk menjadi pemimpin dan akhirnya menjadi martir demokrasi dinegerinya sendiri.
Di musim semi 2007, setelah bertahun-tahun tinggal di London dan Dubai, sambil tetap berusaha merestorasi demokrasi di negaranya, Benazir memutuskan untuk kembali ketanah airnya. Walaupun di terima dengan hangat oleh masyarakat Pakistan pada saat kedatangannya, berbagai ancaman dan kejadian bom bunuh diri, tidak menjadikannya surut. Namun ternyata inilah akhir dari kehidupan seorang Ibu perkasa yang punya kepemimpinan yang kuat walau berakar dari nama besar keluarga. Selamat jalan Benazir Bhutto.

Bisnis Komputer Dunia Bergairah

March 10th, 2008 -- Posted in Catatan Pribadi, Publikasi | No Comments »

Selama 7 tahun terakhir kita menyaksikan bagaimana dunia bisnis dan dunia akademis telah bersama-sama menciptakan keteraturan dan sistem yang mengarah menjadi satu dengan munculnya Internet. Booming perkembangan teknologi perangkat lunak mendorong lahirnya generasi baru.

Sistem informasi yang inovatif telah bermunculan dan bermuara pada lautan informasi yang bisa diakses oleh siapa saja dengan cuma-cuma. Generasi ini adalah generasi yang bisa melihat nilai ekonomi dan nilai tambah yang dibuat untuk mengubah sistem manual menjadi dibantu oleh teknologi informasi yang semakin murah, efisien dan terhubung satu sama lain, sehingga batas batas jarak, waktu dan perbedaan tidak terlihat lagi, begitu tujuan adalah sama. Fokus pada penyelesaian masalah, memperhatikan hal-hal mayor dibanding minor (dalam artian tinggalkan pikiran tentang masalah remeh temeh) telah dapat menyatukan orang-orang yang berpikir dan bertindak cepat dinduia. Booming itu telah berakhir, kestabilan sudah mulai tercipta dan yang akan muncul adalah kesetaraan untuk memberikan kontribusi dan buah pikir yang brillian dimana saja.

Itulah yang terjadi di India. Banyak yang skeptis bahwa India hanyalah tempat yang kaya dengan benak cemerlang yang bertugas mendukung industri software mapan dari negara maju, namun bukan ide-ide baru. Akan tetapi, tidak dapat disangkal bahwa benih-benih inovasi dan kewirausahaan telah muncul disana. Usaha ini bermula di Bangalore diakhir tahun 70an ketika, R. K. Baliga, Direktur Perusahaan Pengembangan Elektronika negara bagian Karnataka dengan sungguh-sungguh mengusahakan lahan murah bagi konsentrasi industri teknologi informasi dan mengumpulkan ribuan sumber daya manusia yang cemerlang untuk menjadi bagian dari Software Technology Park yang disebut dengan electronic city, Bangalore. Usahanya kini terlihat hasilnya dengan 335 hektar lahan menjadi satu tempat dimana lebih dari 250 perusahaan elektronika dan informasi berbasis multinasional dan lokal berproduksi, seperti Tata consulting group, infosys, dan Wipro. Disatu tempat yang sama, customer memiliki banyak pilihan. Saya jadi diingatkan pepatah bahwa jika kita menyediakan layanan/produk yang sama ditempat yang berdekatan, yang terjadi adalah kemajuan bersama dan bukan kekalahan oleh persaingan.

Waktu terus berjalan, teknologi Web 2.0 telah menjadikan hubungan dan layanan antara aplikasi semakin mudah, dan Intenet muncul menjadi jaringan untuk membentuk sinergi dan kohesi. Demikian juga dengan industri-industri TIK yang tersebar diseluruh dunia. Dalam lima tahun terakhir peta pusat kekuatan teknologi informasi dan komunikasi dunia kini berpusat di Redmond- USA, Silicon Valley California – USA, Shenzen -China, dan Bangalore- India.

Bertambahnya fasilitas telekomunikasi yang kapasitasnya makin besar dan makin terjangkau, membuat berada disudut dunia mana saja kini bukan menjadi masalah yang signifikan lagi dalam menentukan kontribusi pada nilai tambah layanan dan produk yang diberikan.

Tahun ini sehubungan dengan tugas diawal bulan Desember 2007 untuk mempresentasi hasil penelitian makalah di konferensi E-Science dan Grid Computing, saya berkesempatan untuk mengunjungi Bangalore, kota hi tech-nya India. Bangalore berada di selatan India, 920 meter dari permukaan laut, dan merupakan kota ke 7 terbesar di India, ibukota propinsi Karnakata.

Bermula dengan kerjasama antara wirausahawan lokal dan Texas Instrument (industri perangkat keras IT) yang melihat potensi lokal untuk industri TIK di Bangalore tahun 1980an, Bangalore telah melalui masa booming teknologi. Saat ini lebih dari 250 perusahaan berteknologi tinggi, termasuk raksasa lokal seperti Wipro, Infosys and HCL bermarkas disana, membentuk lembah silikon india dan daerah yang disebut electronic city.

Airport yang sangat semrawut, lalulintas macet karena pembangunan kereta bawah tanah, jalan yang ribut penuh suara klakson, Bajaj (autorikshaw) sebagai kendaraan utama di dalam kota Bangalore, bukanlah cermin dari perubahan yang sedang terjadi dipinggiran kota Bangalore yang terbagi menjadi 2 kluster utama: Electronics City yang meliputi 335 hektar dan Whitefield yang menjadi tempat International Technology Park Bangalore, yang merupakan hasil ventura dari India dan Singapur ditahun 1991. Tahun depan ketika jalan tol dari Bangalore selesai, airport baru yang cemerlang dan bersih mulai beroperasi, standar gaji India semakin meningkat, maka keteraturan akan semakin tercipta.

Tidak hanya itu, di dekat airport (Challaghatta) juga terdapat perkantoran TI yang merupakan rumah dari perusahan perusahaan besar seperti Microsoft, IBM, Yahoo, NetApps, McAfee, Bearing Point, Fidelity, ANZ, LG, Covansys, Synergy, PSI Data, Target, Dendrite, Sasken, BPL Sanyo, OpenSilicon and Lenovo.

Sangat mengagumkan untuk melihat etos kerja, fasilitas, dan kemampuan untuk terus maju dari generasi muda di India. Seperti juga di China dan pekerja TI dinegara lainnya, sebagian besar pekerja berusia antara 20-38 tahun. Fasilitas yang baik, baru dan futuristik, yang mungkin lebih baik dari pada fasilitas di Microsoft Research di Redmond, membuat para pekerja betah untuk berkarya, dan terkoneksi dengan seluruh dunia dengan sambungan Internet berkecepatan tinggi. Dari seluruh dunia, jarak kita sekarang hanyalah maksimum 200 milidetik yang merupakan delay di Internet karena jarak.

Sebuah lagu yang kemungkinan adalah doa untuk memuja Ganesha, Dewa Ilmu pengetahuan dinyanyikan oleh dua orang perempuan India dalam pembukaan Konferensi E-Science “Jaya guru Ganesha.. namo-namo, Ohm shi. Ganesha.”, memperlihatkan kebudayaan India yang asli ditengah kancah standar pergaulan internasional. Dari pusat konferensi E-Science yang membicarakan tentang kontribusi para ilmuwan komputasi grid dan aplikasinya di sebuah hotel ditengah kota Bangalore yang merupakan perpaduan India tradisional dan modern, suasana kerjasama internasional sangat terasa. Para peneliti yang sudah banyak kenal satu sama lainnya, karena beberapa kali bertemu dalam konferensi yang diadakan diberbagai sudut dunia, sangat terasa suasana saling berbagi saling menghormati karena kontribusi pada ilmu pengetahuan dan pada masalah-masalah dunia yang membutuhkan solusi komputasi kongkrit seperti perubahan iklim. Sebagai pendukung dengan cermat kami juga menyaksikan video presentasi Al Gore yang mendapat Nobel tahun 2007 ini untuk kontribusinya pada perhatian pada masalah perubahan iklim didunia dan keputusan-keputusan yang diambil di Konferensi Perubahan Iklim yang diadakan di negeri kita – di Bali. E-Science, grid 2.0, dan web 2.0 akan semata-mata bermanfaat jika umat manusia menjadi satu untuk menyadari bahwa hanya ada satu dunia, dan berbagai usaha untuk mewariskan bumi yang mendukung kehidupan generasi selanjutnya sangat dibutuhkan. E-Science yang dimunculkan oleh para ilmuwan berfokus pada realisasi visi terwujudnya komputasi berkecepatan tinggi yang efisien. Produktivitas, kinerja, konstruksi aplikasi, ketersediaan, biaya dan keamanan, adalah hal-hal penting yang perlu disediakan. Pemerintah India melalui Center for Development of Advance Computing (CDAC) dibawah Departemen Komunikasi dan Teknologi Informasi dunia, yang merupakan pelaksana konferensi kami, melalui program Grid India yang diberi nama Garuda, juga memperhatikan berbagai efek perubahan iklim, naiknya temperatur bumi, perubahan komposisi atmosfir, melelehnya es di kutub, dan sebagainya.

Visi berdirinya inisiatif komputasi grid pada awalnya adalah menyediakan Grid sebagai layanan utilitas kelima bagi manusia dalam penyediaan sumber daya komputasi, setelah listrik, air, telepon, dan gas. Sumber daya komputasi, peralatan, bandwidth, diharapkan tersedia kapan saja ketika dibutuhkan yang bermuara pada percepatan transformasi masyarakat dan pembangunan masyarakat dunia. Inisiatif ini dapat dikatakan berhasil jika heroisme para ilmuwan untuk menghasilkan infrastruktur komputasi yang heroik dapat berganti dengan ilmuwan biasa yang mengerjakan tugasnya pada infrastruktur yang biasa, namun berhasil memecahkan berbagai masalah umat manusia. Terbukti bahwa ilmuwan dan pendidikan tinggi senantiasa menjadi katalisator dan penggerak munculnya jenius-jenius baru yang bisa menciptakan teknologi yang memungkinkan kita mengakses informasi tentang seseorang ketika baru berkenalan, dan langsung menanyakan pertanyaan yang tepat untuk ditanyakan pada orang itu, pada saat itu juga.

Seorang pegawai perusahaan software nomor 3 di India, Wipro, yang membawa saya berkeliling kampus Wipro, yang menyediakan berbagai solusi teknologi informasi dan komunikasi, di Elektronik City, mengingatkan saya pada generasi muda Indonesia yang juga punya bersemangat dan punya harapan besar pada dunia yang semakin datar ini. Kalau populasi kini bukan lagi beban, namun adalah kekuatan, maka tidak lain setelah ini kita akan bangun dan menjadi kekuatan besar ke empat, setelah China, India, dan Amerika Serikat. Tapal batas negara kini tidak ada lagi. Bandung dan Bundong di Korea (rumahnya Samsung Electronics) hanyalah nama, Bangalore dan Depok hanya terpisah oleh antusiasme dan etos kerja. Bekerja jarak jauh ditepi pantai Senggigi di Lombok yang indah tidak seberapa berbeda dengan duduk di kampus Microsoft di Redmond Seattle. Dari mimpi, dari hari ke hari kita bergerak mengikuti perubahan dunia dan menyiapkan strategi untuk ikut berbagi, menjadi sejahtera dan menjadi bagian terhormat dari umat manusia. Usaha bersama yang tidak kenal lelah dengan semangat baru setiap kita membuka lembaran baru di setiap pagi, akan mengantarkan kita pada pencapaian visi untuk menjadi bangsa yang produktif dan bermartabat.

Dimuat di Harian Monitor Depok, 18 Januari 2008

Prof. Fuad Hassan dalam Kenangan: Antara Wordstar dan GDLN

March 10th, 2008 -- Posted in In Memorian, Publikasi | 1 Comment »

Lebih dari 20 tahun lalu, disebuah SMA di kota Mataram, Lombok, seorang Mentri Pendidikan mengunjungi laboratorium Komputer. Saat itu komputer pribadi masih baru, Bill Gates pun belum lama mendirikan Microsoft dan baru mulai meluncurkan produknya yang pertama. Saya adalah salah seorang siswi yang sedang membuat puisi dengan menggunakan program wordstar di komputer di tengah ruangan. Prof. Fuad Hassan yang datang tiba-tiba duduk disebelah saya dan meneruskan puisi itu. Walau saya tak ingat bagian yang saya tulis, tapi saya ingat paragraf yang dilanjutkan beliau. ”….Manakala sang mentari tenggelam, sang peminta merenungi nasibnya, berita apa yang akan tiba, bersama mentari esok pagi…”.

Sosok dan wibawa beliau yang dibaca dikoran-koran oleh anak-anak sekolah di negeri ini, termasuk saya, membawa semangat untuk menekuni ilmu pengetahuan dan teknologi. Dimasa itu cita-cita para remaja adalah menjadi pintar seperti Pak Habibie, dan tokoh-tokoh nasional pembangunan seperti Pak Fuad. Begitu berbeda dengan generasi sekarang yang terkagum pada para selebritis.
Waktu terus berlalu. Saya terus membaca berita tentang beliau dari waktu kewaktu. Beberapa bulan setelah kunjugan dan pertemuan beliau dengan Wordstar disebuah SMA di Lombok, beliau dikabarkan banyak menggunakan komputer dalam pekerjaannya. Saat itu komputer mulai banyak digunakan di Indonesia sebagai pengganti mesin ketik, hingga akhirrnya web mulai menyatukan seluruh informasi di di dunia di tahun 1992an ketika Netscape mulai muncul berbasis antarmuka yang menarik. Saya ikut menyaksikan hiruk pikuk perubahan dari teks menjadi sistem berbasis browser itu dari sebuah meja di laboratorium di UI, tempat bermulanya Internet di Indonesia.
Ketika kuliah di UI, saya kagum pada torehan kata-kata beliau di prasasti peresmian Kampus UI Depok. ”Panji-panji ilmu dan seni berkibar tinggi di almamater ini”. Begitu dalam, bermakna, dan membanggakan kata-kata itu, yang membuat saya akhirnya bertekad untuk ikut mengabdi di UI untuk turut menegakkan panji-panji itu. Dari jauh beberapa kali saya melihat beliau diantara prosesi guru besar memasuki ruang wisuda di Balairung. Pujian ’vivat profesores’ dalam lagu pujian ”Gaudeamus Igitur’ itu terasa makin tepat karena kehadiran beliau di acara prosesi yang berwibawa itu.

Bulan Juli 2006 lalu, saya berkesempatan untuk menemui beliau diruang kerja professor di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, diantarkan ibu Dr. Meithy Djiwatampu (almarhum) Wakil Dekan fakultas itu. Kali ini dalam posisi saya sebagai Direktur Pengembangan dan Pelayanan Sistem Informasi di Universitas Indonesia, untuk mengundang beliau menjadi pembicara kuliah umum pertama yang dipancarkan lewat Telekonferensi di fasilitas Global Development Learning Network (GDLN) UI ke Unud, Unhas, dan Unri. Kuliah jarak jauh dengan teknologi e-learning terkini itu dengan semangat diikuti oleh sivitas akademika 4 perguruan tinggi tersebut. Dengan bersemangat beliau berbicara tentang konsep Teknokrasi. Beliau juga mengulas filsafat acara prosesi akademik seperti wisuda, yang katanya diharapkan betul-betul hikmat sampai selesainya rombongan guru besar kembali ke Rektorat. Saat itu beliau sangat ingin berbicara bebas berpindah-pindah tempat menguasai ruangan kelas kedap suara dan berkomputer 40 itu, sedang kamera tidak terlalu fleksibel untuk mengantisipasi hal tersebut. Berbagai referensi dan buku terkait dibawa dan diperlihatkan beliau pada para hadirin. Saya yakin dari kuliah yang menarik hari itu dan pertemuan dengan beliu, banyak yang terinspirasi untuk menekuni ilmu pengetahuan dan sudut –sudutnya yang menantang.

Beberapa bulan lalu saya mendengar kesehatan beliau sudah semakin menurun dengan penyakit yang diderita. Kegemaran beliau untuk membaca sedikit terhalangi dengan berkurangnya kemampuan mata. Diantara kesibukan mengurus fasilitas teknologi informasi di UI yang perkembangannya diharuskan sangat cepat, saya sudah berjanji dengan Dr. Meutia, yang sekarang menjabat sebagai Wakil Dekan di Fakultas Psikologi untuk bersama menjenguk beliau yang sakit dan ’pay a tribute’. Namun sayang niat itu tidak kesampaian. Jumat sore kemarin dalam rapat evaluasi web UI yang baru, kabar itu tiba. Sang Guru Besar telah dipanggil oleh khalik-Nya. Tokoh pendidik yang kata-katanya penuh makna dan penuh wisdom itu akhirnya mendahului kita. Ribuan murid-muridnya pasti punya kenangan tentang beliau. Semangatnya tentang konsep-konsep ilmu pengetahuan terpatri dibenak pembaca tulisan beliau. Kecintaannya pada konsep berbagi dibidang pendidikan, terbukti dengan banyak yang sering melihat beliu duduk berdiskusi panjang dengan mahasiswa dibawah pohon-pohon rindang ditengah Kampus UI Salemba.
Bagi saya Prof. Fuad tetap terpatri sebagai sosok Mentri pendidikan yang datang kesekolah-sekolah diseluruh nusantara dan memberi semangat bagi generasi penerus untuk terus belajar dan mampu berkompetisi di dunia yang ternyata menjadi semakin datar dengan teknologi informasi. Berwibawa dan sangat memperhatikan perkembangan kualitas pendidikan. Walau tak sengaja, persimpangan hidup saya dan Prof Fuad terjadi lewat momentum-momentum penggunaan teknologi baru yang tepat untuk pendidikan. Sebagai Guru besar berlatar belakang filsafat, beliau begitu memperhatikan perkembangan teknologi baru, dan senantiasa memancarkan motivasi bagi mahasiswa-mahasiswanya.

Dalam 20 tahun terakhir ini perkembangan pendidikan telah banyak diwarnai oleh cepatnya perkembangan teknologi dan semakin banyaknya mode komunikasi yang memungkinkan informasi sampai dan dapat diolah. Teknologi informasi dan komunikasi telah mewarnai munculnya generasi Internet yang menuju kepada Demokrasi 2.0, dimana diharapkan muncul partisipasi warganegara untuk mewujudkan cita-cita bersama dalam bernegara dan bermasyarakat yang mampu berkontribusi di lataran global.

Akhirnya perjalanan hidup yang memberi inspirasi dan kelak mungkin menjadi legenda itu berakhir juga. Minggu siang 8 Deember itu, dengan hikmat sivitas akademika UI dan kalangan pendidikan di Indonesia mengantarkan Prof Fuad ke Taman Makam Pahlawan kalibata. Selamat beristirahat dengan tenang Pak Fuad. Doa panjang untuk Sang Maha Guru. Semoga semangat dan integritasnya dapat dilanjutkan oleh generasi selanjutnya di negri ini.

Catatan: Tulisan ini dimuat di Koran ”Seputar Indonesia”, Selasa, 11 September 2007.

Next »