Seorang Bu Boen Di Mataku

Dr. Boen Sri Oemarjati, S.MIA.
Dr. Boen Sri Oemarjati, S.MIA.

Aku ingin mengenang seorang guruku yang hebat yang telah memberikan ilmu dan menorehkan kenangan dalam sepenggal perjalanan hidupku: Ibu Dr. Boen Sri Oemarjati, S. MIA

Belajar bahasa Indonesia di kelas Bu Boen sangat fun, enjoy dan banyak mendapat hal baru. Rasanya bekal ilmu bahasa Indonesiaku sejak SD hingga SMA masih cetek sekali saat mengikuti kelasnya. Bahkan untuk mengerjakan latihan membubuhi tanda baca dan ejaan dalam sebuah narasi pun, nilaiku dan teman-teman jeblok semua. Waktu Bu Boen menerangkan bagaimana seharusnya, maka terdengar koor panjang “ooooo” atau suara tawa kami menertawakan kesalahan kami. Judul narasi yang sangat fenomenal itu: “Ice Juice”.

Bu Boen mengajari kami bagaimana menulis karya ilmiah, baik berupa laporan praktikum, usulan penelitian, naskah skripsi, maupun publikasi dalam bentuk jurnal. Bagaimana membuat kalimat yang efektif, lalu kalimat-kalimat dalam sebuah paragraf haruslah nyambung, istilah keren ibu: KOHEREN. Itu yang sampai sekarang melekat di otakku. Koherensi. Tetapi betapa sulit mempraktekkannya. Kalau dalam tulisan bergaya populer dan bebas seperti ini yang penting adalah alur tulisan runut dan dapat dimengerti. Akan tetapi untuk sebuah tulisan ilmiah yang harus memadukan tulisan hasil pemikiran kita ditunjang dengan acuan yang kita kutip dari orang lain, kita tidak bisa hanya sekadar “copas” (baca: kopas) istilah mahasiswa jaman sekarang yang artinya “copy and paste”. Memang saat memeriksa skripsi mahasiswa yang kemampuan menulisnya kurang baik, membaca satu halaman saja rasanya pusing dan tidak menemukan benang merahnya. Terlebih jika mereka mengutip dari tulisan berbahasa inggris. Sudahlah sistemnya copas, lalu diterjemahkan menggunakan “google translate” atau perangkat translator lain….rasanya ingin melempar naskah itu sejauh-jauhnya….

Kalau sudah seperti itu, aku dan beberapa teman di Biologi selalu teringat almarhum Bu Boen. Seandainya Ibu masih ada, pasti mahasiswa kami dapat menulis lebih baik. Memang berdasarkan kurikulum baru, mahasiswa Biologi UI angkatan 2004 adalah angkatan terakhir yang merasakan diajar langsung oleh Bu Boen. Di angkatan selanjutnya mata kuliah bahasa Indonesia dilebur dengan mata kuliah dasar universitas yaitu MPKT A.

Tidak hanya mata kuliah bahasa Indonesia yang kami dapat dari Bu Boen. Beliau juga mengajar mata kuliah Taksonomi Avertebrata, karena beliau bergabung sebagai pengajar di lab Taksonomi Hewan. Pengabdian beliau sebagai pengajar sangat mengagumkan, contoh yang sangat jelas terlihat meskipun beliau sudah sepuh, beliau tetap ikut mendampingi mahasiswa praktikum lapangan, terutama jika ke laut. Beliau ikut naik kapal untuk mengambil sampel air laut lalu bersama mahasiswa, mengidentifikasi mahluk avertebrata apa saja yang ada di dalamnya. Aku teringat saat bersama-sama dengan Ibu Nining B. Prihantini membawa mahasiswa peserta kuliah praktikum Taksonomi Tumbuhan Non Vaskular ke Pulau Pramuka, saat itu Bu Boen ikut serta. Beliau terkenal sangat rapi, cermat, teliti dan terorganisasi dalam hal mengatur kuliah, terlebih praktikum. Dalam acara briefing sebelum berangkat ke Pulau, beliau menekankan kepada mahasiswa agar memfotokopi KTP, melaminating dan mengalungkannya di leher saat nanti harus mengambil sampel di laut menaiki perahu. Tujuannya…agar jika terjadi sesuatu pada diri kami (mahasiswa maupun aku sebagai pengajar) ada identitas yang melekat di tubuh. Satu persiapan yang sama sekali tak terpikir olehku.

Pengalamanku ‘bersentuhan dan bergaul’ dengan Bu Boen, tidak hanya sebagai mahasiswa tetapi juga saat statusku sebagai dosen di Biologi. Aku ingat sekali bagaimana Bu Boen dengan sabar mengajari dan mendampingiku menyusun, memberi nomor mata kuliah baru dalam sebuah kerangka kurikulum. Bu Boen sangat tahu betapa berat tugasku saat itu yang baru ditunjuk sebagai Koordinator Pendidikan langsung kebagian tugas “merapikan” sebuah Kurikulum baru untuk mahasiswa biologi. Bu Boen tidak saja mengikuti rapat-rapat dan diskusi panjang dengan dosen-dosen inti panitia revisi kurikulum, tetapi juga masih membantuku berkutat di depan komputer membereskan hasil rapat hingga jadilah sebuah buku panduan kurikulum departemen kami. Terima kasih ya Bu…

Berita bahwa Bu Boen mengidap sakit kanker paru-paru sangat mengagetkanku, pasti juga bagi teman-teman lain. Apalagi tak sampai 6 bulan sejak didiagnosis kanker, beliau harus pergi meninggalkan kami pada tanggal 11 Oktober 2011….

Beruntung aku diberi kesempatan menjenguk Ibu bersama dua orang temanku. Sungguh aku tak tega melihat kondisi beliau yang sudah sangat lemah. Informasi yang kudapat bahwa beliau terpaksa disuntik morfin untuk menghilangkan rasa sakit, membuatku merinding. Kami sempat menunggu di luar kamar karena Ibu sedang ke bagian lain untuk diterapi sinar. Subhaanalaahu… terapi apalagi kah itu ?

“Pasti sakit sekali ya Bu…..sabar ya Bu….” Hanya itu yang dapat kubisikkan dalam hati saat aku berada di kamar tempat Ibu di rawat di RS Persahabatan. Kami tak tahu apakah beliau masih mengenali kami saat kami hanya boleh berdiri di ujung ranjangnya; beliau hanya melirik ke arah kami. Pihak keluarga menyediakan buku tamu yang bisa kami tulisi apa saja, nanti saat ibu sadar, biasanya dibacakan oleh pembantu setianya.

Di malam menjelang penguburan jenazahnya, aku baru tahu bahwa beliau punya Blackberry. Malam itu aku chating dengan temanku Pak Yasman, yang kebetulan satu lab dengan Bu Boen. Aku dikirimi foto Bu Boen saat beliau ulang tahun. Aku juga dikirimi Display Picture Bu Boen yang terakhir. Aku sangat menyesal tidak sempat tahu beliau punya BB.

DP BB Ibu saat beliau berulang tahun yang ke-70
DP BB Ibu saat beliau berulang tahun  ke-70

Tapi aku senang sekali karena di satu masa, saat aku sedang banyak berinteraksi dengan Ibu karena membantu Ibu dalam kuliah bahasa Indonesia, 2 kali ulang tahunku, beliau mengirim ucapan selamat ulang tahun melalui sms. Dia menyebutku “Cah Ayu” …sebutan yang akrab, ungkapan seorang ibu kepada anaknya. Jujur aku memang lebih senang dianggap sebagai anak dibanding  sebagai teman kerja oleh beliau. Tidak hanya ucapan lewat sms, beliau memberiku kado kerajinan tradisional. Di tahun 2004 beliau memberiku kipas tangan terbuat dari kombinasi rotan dan batik, dan di tahun berikutnya 2 helai lukisan batik bergaya Jawa. Lukisan itu lalu kubingkai dan kugantung di dinding ruang tamuku….hingga kini…mungkin hingga kumati dan akan kuwariskan pada anak-cucuku. Akan kuceritakan pada mereka, bahwa lukisan itu adalah pemberian dari seseorang yang sangat kuhormati sepanjang hidupku……

  3 comments for “Seorang Bu Boen Di Mataku

  1. November 9, 2016 at 3:57 am

    luar biasa bu… smg umurnya bu boen berkah

  2. Fifi Ilyas
    August 8, 2017 at 2:18 am

    Nana, semua yg pernah diajar oleh Bu Boen pasti ‘terpana’ karena gaya nyentriknya. Buatku Bu Boen itu kayak ilmuwan genius yg ada di film2 sci-fi, ilmunya tinggi bgt tapi cara menyampaikannya sangat mudah dipahami dan sangat menghibur. Jujur deh, siapa sih yg suka belajar Bhs Ind, dari SD, SMP, SMA udah belajar Bhs Ind, sehari2 pake Bhs Ind, jadi pasti kita udah menganggap enteng ilmu itu dan nggak belajar kalo ulangan/ujian. Tapi beda dgn kuliah Bhs Ind yg di MIPA UI angkatan kita dulu Na, aku selalu nunggu mata kuliah itu setiap minggunya, pengen liat Bu Boen …..
    Waktu itu ada rekan pengajar beliau, Ibu Maria Yosefina Mantik yang cantik, tapi Bu Boen nggak kalah populer di mata mahasiswa ……. dgn gaya ‘koboi’nya …….
    Trus yg aku ingat, beliau itu kalo lagi bawa mahasiswa ke pulau, tidurnya musti menghadap ke barat, kalo nggak gitu beliau nggak bisa tidur katanya ……
    Miss you Buuuuuu …….
    (Fifi – Bio’86)

  3. August 18, 2017 at 11:50 am

    Semoga Panjang Umur Bu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *