Beliau pergi di saat kami pergi

Tidak sampai 30 hari lagi, tahun 2011akan berakhir. Waktu seperti berlari, begitu banyak kejadian, pengalaman dan pelajaran yang kualami dan rasakan. Banyak yang menyenangkan, tak kurang juga yang memilukan. Yang paling menyenangkan dan membahagiakan buatku adalah anakku berhasil masuk ke perguruan tinggi idamannya melalui perjuangan yang tidak gampang. Dan yang kedua adalah tuntasnya perjalananku bersama suamiku  ke Tanah suci. Alhamdulillaah.

Mungkin buat orang lain itu hal biasa, tapi buatku, merupakan anugrah berbaur dengan kerja keras yang diridloi oleh Sang Maha Penentu, Allah Subhaanahu wa ta’ala

Tahun 2011 buatku juga menjadi tahun Dzikrul Maut. Betapa tidak. Sejak awal tahun, pertengahan, terus hingga yang baru saja dua pekan lalu, aku terhenyak mendapat tujuh berita duka, dan membawaku takziah mengantar mendiang ke pembaringan terakhir mereka.

Aku seakan terus menerus diingatkan bahwa manusia hidup, hakikatnya hanya menunggu giliran untuk menghadapNYA. Kapan giliran itu datang, tak ada yang tau.

Guruku yang sangat kusegani karena pribadinya,  ilmunya, dedikasinya pada pekerjaan, dipanggil Allah setelah melewati sakit. Ibu DR. Boen Sri Oemarjati – Guru Besar Bahasa Indonesia yang sangat cinta Biologi – kepergiannya setelah 4 bulan berjuang melawan sel-sel kanker yang sudah menyebar bermula dari paru-parunya.

Dr. Boen Sri Oemarjati

Dzikrul maut lain sudah terjadi di awal tahun, saat Ibunda sahabatku mendahului kami. Almarhumah pergi setelah berjuang hidup dengan ginjal yang berfungsi tidak optimal, bahasa kedokterannya gagal ginjal. Mendampingi sang Mama menjalani hemodialisa 2x seminggu selama 2 tahun (kalau tdk salah ingat) menjadi kegiatan rutin sahabatku itu.

Berita mengejutkan juga masuk melalui BB Group Biologi angkatanku, saat aku sedang tanah suci. Fadhilah, salah seorang adik kelasku dikabarkan wafat karena kanker hati yang ternyata sudah lama diidapnya. Inna lillaahi wa inna ilaihi rojiun…

Bagi keluarga yang ditinggalkan, kepergian melewati tahapan sakit merupakan persiapan mental, keluarga sudah merasa ikhlas dan ‘puas’ merawat.

Yang sangat berat adalah kepergian mendadak, tanpa didahului sakit.

Kepergian mendadak yang  membuat kami sekeluarga shock adalah kepergian Bulik Nur, tante dari suamiku pertengahan Maret lalu. Beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir setelah mengalami luka parah karena ditabrak seorang pengendara motor yang ceroboh di depan rumahnya di Magetan. Beliau tertabrak saat sedang belanja sayur. Siapa menduga pagi itu adalah bakti terakhirnya memasak untuk suami tercinta…

Allah kembali mengambil orang-orang tersayang di keluarga kami tahun ini.

Pagi itu di penginapan kami di Madinah tanggal 28 Oktober, aku terbangun oleh suara sms. Sontak ku terbangun, kulihat jam di ponselku yang masih menunjukkan jam di Indonesia jam 7.35. Ternyata pesan dari suamiku yang berada di kamar sebelah. Kami memang menempati kamar berbeda. Pesan yang terbaca : Pak Muniri meninggal dunia (beliau adalah adik ibu mertuaku).

Ruang kamar yang gelap memaksaku untuk membacanya berulang-ulang, siapa tau aku salah baca. Untuk lebih meyakinkan, kubuka BB ku, siapa tau ada pesan lain yang masuk. Benar saja, di BB Grup kakak beradik keluarga suamiku sudah ada berita sejam sebelumnya yang mengabarkan bahwa Paklik Muniri wafat. Saat berita itu masuk tidak terdengar karena BB memang ku setting tanpa suara.

Terbayang olehku – seminggu sebelumnya –  jumat siang tanggal 21 oktober, sebelum berangkat ke bandara kami berpamitan pada Paklik dan Bulik yang satu komplek perumahan dengan rumah ayah ibuku di Jakarta. Seingatku, Paklik sehat, dan tampak  ceria. Beliau memang dikenal selalu welcome dengan siapa pun yang bertandang kerumahnya. selama ini setau kami beliau tidak mengidap sakit apa pun. Menurut informasi sehari sebelumnya beliau hanya terserang flu, lalu shubuh hari jumat itu beliau menghembuskan nafas di pangkuan isteri tercinta. Insya Allah khusnul khotimah..

Suamiku begitu terpukul oleh kepergian Paklik, beliau sudah seperti ayah kandung bagi Mas. Jika tidak tinggal di rumah Paklik setamat kuliah dulu, mungkin aku tak akan bertemu dan menikah dengan Mas. Mungkin jodoh kami ditentukan melalui Paklik dan Bulik Muniri. Bapak Ibu, aku dan adik-adikku  sudah mengenal beliau sekeluarga jauh lebih dulu sebelum kami mengenal Mas, karena kami satu komplek, sholat di masjid yang sama saat tarawih, sholat di lapangan tenis yang sama saat Iedul Fitri dan Idul Adha.

Paklik dan Bulik

Seharian itu Mas lebih banyak diam, beruntung Mas sekamar dengan bapak-bapak yang selalu becanda jadi agak terhibur. Di sela-sela kegiatan meraih sunnah Arbain (sholat 40 waktu) berjamaah di Masjid Nabawi, kami mendapat update berita yang terus dilaporkan via BBG oleh kakak dan adik kami di tanah air mengenai prosesi pengurusan jenazah Paklik. Alhamdulillah ba’da sholat Jumat pemakaman Paklik sudah selesai. Alhamdulillah.

Sepekan setelah kami kembali di tanah air, kami berziarah ke makam beliau di TPU Karet yang jaraknya tak jauh dari komplek perumahan orang tuaku dan Paklik Muniri. Kami diantar oleh salah satu putranya. Kiki bercerita, tidak ada pesan atau firasat apapun sebelumnya. Yang dia ingat, kira-kira sebulan sebelumnya, sepulang dari pemakamam salah seorang temannya, Paklik yang kala itu berjalan bersama Iqbal anak bungsunya, secara sepintas menunjuk satu area di TPU tersebut dan mengatakan, “Kapling ini yang paling mahal Bal..”

Dan siapa menyangka, di dekat tempat itulah kini jasad Paklik – salah satu orang terbaik yang pernah kukenal – berbaring dengan damai.

Beliau pergi saat kami pergi memenuhi panggilan menjadi tamu Allah, saat kami tak ada di dekatnya. Setiap selesai shalat wajib di Masjid Nabawi, hampir pasti kami sholat jenazah…. sayang kami tak bisa sholat jenazah di barisan shaf saudara-saudara kami di rumah duka untuk mengantar kepergian almarhum….maafkan kami Paklik…hanya doa yang dapat kami kirim untukmu…

Ya Allah, Ampunilah dia maafkanlah dia dan tempatkanlah dia di tempat yang mulia, di surgaMu, luaskan kuburnya, mandikan dia dengan air salju dan air es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya di dunia, berilah keluarga di Surga yang lebih baik daripada keluarganya di dunia, dan masukkan dia ke Surga, jagalah dia dari siksa kubur dan neraka

 Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin

  6 comments for “Beliau pergi di saat kami pergi

  1. January 23, 2013 at 3:09 pm

    Thank you for this blog. It has a lot of great information and some great contributors. Ratna I hope you keep writing more blogs like this one. Another good post Ratna.

  2. July 10, 2013 at 4:29 pm

    Semoga mereka semua berpulang dalam keadaan khusnul khotimah, diterima segala amal baiknya, diampuni segala kesalahannya, dan mendapat tempat terbaik disisi-Nya … Amin.

  3. August 25, 2017 at 9:55 am

    sedih, semoga keluarga ya ditinggalkan diberikan ketabahan aamiin

  4. December 14, 2017 at 12:26 pm

    yang tabah ya mbak, yang penting kita harus melanjtkan cita cita beliau

  5. April 18, 2018 at 5:08 pm

    yang sabar dan tabah ya bu

  6. June 9, 2020 at 9:16 am

    innalillahi..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *