Sebenar-benar tamu Allah

Adalah benar, seseorang hanya bisa menjadi tamu jika sudah diizinkan oleh tuan rumah. Menjadi sangat benar, seorang jama’ah haji yang menginjakkan kaki di tanah suci dikatakan sebagai tamu Allah. Dan Alloh punya hak penuh dalam memilih tamu yang diizinkan berkunjung ke Baitullah, ke rumahNYA yang agung; Allah tidak mendasarkan pemilihan atas pangkat, kecantikan/ketampanan, ataupun harta milik hambaNYA. Kita manusia termasuk aku, sejujurnya tidak juga tau kriteria apa yang Allah tetapkan untuk memanggil hambaNYA ke tanah suci.

Diambil dari www.google.com

“Nanti panggil saya ya dari Mekkah, supaya saya bisa berangkat haji juga”. Itu adalah pesan yang biasa terdengar sebagai titipan doa untuk teman atau kerabat yang akan berangkat menunaikan ibadah haji. Ada yang dengan sungguh-sungguh menitipkan doa tersebut karena memang yang bersangkutan sudah mendaftar tetapi belum ada kepastian kapan akan berangkat. Ada juga yang minta didoakan sesuai hajatnya.

Bagi seorang muslim, menunaikan ibadah haji adalah impian, cita-cita, panggilan, dan kewajiban (bagi yang mampu). Seperti ibadah-ibadah lainnya haji juga diawali dengan niat. Niat seseorang untuk mengawali sesuatu tentu bermacam-macam, pun dalam melaksanakan ibadah haji. Saat manasik haji, ustadz pembimbing haji kami selalu mengingatkan agar meluruskan niat. “Apakah di antara bapak-ibu ada yang naik haji demi mendapat sapaan “Pak Haji”, “Bu Haji” ? Atau ada yang supaya memuluskan jalan untuk pencalonan diri sebagai lurah, camat, atau walikota ? Atau supaya menaikkan gengsi di depan calon besan ?” pertanyaan pak Ustadz persis seperti pertanyaan guru TK kepada murid-muridnya.

Niat sudah ada, biaya tidak (belum) ada, belum tentu tidak bisa berangkat. Pasti sudah Allah catat niat itu, dan jika Allah menghendaki, lewat jalan apapun pasti akan sampai di Mekkah. Sebaliknya, biaya sudah ada, tetapi niat baru sekadar ucapan di bibir, bukan dari hati, mendaftarpun belum, yaaa kapan-kapan deh berangkatnya.

Di sekelilingku, aku bisa melihat, baik teman, saudara, ataupun tetangga yang sudah sangat mampu dari segi harta, tetapi mereka belum juga tergerak untuk berhaji; alasan yang sering terungkap belum siap karena sholatnya masih belum khusyu, karena belum tega meninggalkan anak, karena masih sibuk dengan pekerjaan dan banyak karena karena lainnya. Jujur semua itu pernah menjadi alasanku. Tetapi saat niat sudah terikrar dengan kuat (niat kuat = azzam), disertai banyak berdoa, berbaik sangka (ber-khusnuzon) kepada Allah, Insya Allah proses menuju keberangkatan lancar.

Dulu, sewaktu bapak dan ibuku berangkat haji tahun 1987 semua terlihat mudah. Daftar, ikut manasik, membeli perlengkapan haji, lalu berangkat. Belum lagi jika membandingkan ongkosnya. Kalau dalam USD mungkin tahun 1987 dengan 2011 tidak berbeda jauh. Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) tahun 2011/1432 Hijriah ditetapkan USD 3.533 (Rp 30.737.100). Sementara sebelum krismon tahun 1998, ada yang ingat nggak, 1 USD = Rp 2500. Nah kalau 3.533 x 2500 = Rp 8.832.500; aku masih ingat dulu ONH (Ongkos Naik Haji) bapak-ibuku sekitar Rp 7 juta. Masya Allah, betapa tak berharganya rupiah kita dibanding dengan dollar.

Dulu istilah kuota mungkin belum biasa terdengar, apalagi istilah waiting list. Mendaftar tahun itu, berangkat pun di tahun yang sama. Sekarang ? Subhanallaah..mengutip di salah satu media online: Menteri Agama menyatakan masih ada lebih dari 1 juta orang yang menunggu giliran berangkat ke tanah suci. Untuk tahun 2011, kuota yang tersedia bagi jamaah asal Indonesia adalah 211 ribu jamaah. Sebanyak 194 ribu kursi untuk jamaah haji reguler dan 17 ribu kursi untuk haji khusus. Akibat belum adanya kuota tambahan haji, maka jatah haji hingga 2019 mendatang telah penuh. Alhasil bagi umat muslim asal Indonesia yang hendak haji harus bersabar hingga 4-5 tahun mendatang.

Masuk dalam waiting list apalagi yang masih berjarak 4-5 tahun lagi dari saat pendaftaran, mungkin adalah ujian pertama mata pelajaran yang berjudul SABAR. Masih banyak ujian keSABARan berikutnya baik saat persiapan, pelaksanaan hingga kepulangan seorang jama’ah haji.

Proses dan masa penantian yang dirasakan oleh masing-masing calon haji tidaklah sama. “Tergantung amal ibadah” begitu lah pembenaran yang sering kudengar. Wallaahu alam bishowab, mungkin bagi Allah SWT memang begitulah kriteria Allah menentukan prioritas siapa yang bakal menjadi tamuNYA.

Beberapa tahun yang lalu guru senamku (wahaha ketahuan deh udah lama gak pernah senam) benar-benar diuji kesabarannya. Keberangkatannya sudah 99% pasti. Koper sudah tinggal angkat. Sudah juga mengadakan Walimatussafar yaitu selamatan meminta doa restu dari teman dan kerabat sebelum berangkat haji. Beliau juga sudah pamit untuk meliburkan kami para ibu-ibu untuk berhenti senam selama beliau di tanah suci. Yang terjadi kemudian ? Tiga hari sebelum tanggal berangkat beliau mendapat kabar dari travel tempat beliau bergabung bahwa kemungkinan keberangkatan diundur sampai waktu yang belum jelas. Seminggu sudah lewat dari tanggal semula tiba-tiba ada pemberitahuan bahwa malam itu juga harus berangkat. Jangankan beliau yang mengalami, kami saja yang mendengar, ikutan mules.

Cerita seperti itu banyak sudah kudengar dengan bermacam variasi. Tetapi umumnya yang mengalami adalah jamaah yang berangkat dengan jalur khusus melalui jasa tour & travel. Ada yang sudah sampai di bandara (masih di Indonesia) tetapi batal berangkat. Bahkan yang paling tragis, ada yang sudah sampai di Jeddah, dipulangkan (dideportasi) oleh pihak imigrasi Kerajaan Saudi. Musibah ini juga menimpa Tanteku. Rencananya beliau berangkat 5 hari setelah keberangkatanku. Dua hari sebelum aku berangkat aku sengaja menelponnya untuk pamitan. Sampai saat itu beliau yakin akan berangkat, bahkan kami sama-sama berdoa mudah-mudahan bisa bertemu di tanah suci. Tapi kabar sangat mengagetkan kuterima dari adikku saat aku sudah di Madinah, bahwa Tanteku itu tidak jadi berangkat !! Inna lillaahi wa inna ilaihi rojiun.

Setelah kami sampai di tanah air barulah kami tahu penyebabnya: visa haji belum berhasil diperoleh !! Tetapi pihak travel begitu yakin dan beraninya menetapkan tanggal keberangkatan. Banyaknya jamaah haji yang gagal berangkat, salah satunya ternyata disebabkan adanya travel haji yang nakal. Biasanya travel-travel kecil, travel baru yang mungkin belum berpengalaman, belum terakreditasi oleh Kementrian Agama, sehingga mendapat kuota sedikit tetapi berharap menangguk keuntungan dari jamaah sehingga berani merekrut banyak calon jamaah. Sudah meminta setoran dana penuh dan menjanjikan pasti berangkat. Belum lagi masalah kelengkapan dokumen lain terutama visa. Masalah visa mutlak wewenang Kerajaan Saudi, mereka berhak mendeportasi jamaah haji tanpa visa yang bisa dikategorikan sebagai jamaah haji ilegal.

Pada akhirnya jika dikembalikan lagi kepada Allah, maka kita pasti setuju bahwa itulah yang dinamakan takdir Allah, ketentuan Allah. Tidak ada satu kejadian pun di dunia ini yang terjadi tanpa rencana Allah. Yang sudah pasti akan berangkat bisa saja “ditukar” dengan yang lain yang tadinya baru akan berangkat tahun depan, karena ada tambahan kuota bisa berangkat tahun ini. Allah benar-benar selektif memilih calon tamuNYA.

Berikut adalah link yang Insya Allah bermanfaat http://cara-muhammad.com/tag/azzam/

  9 comments for “Sebenar-benar tamu Allah

  1. December 16, 2011 at 7:39 am

    Postingan berita yang mantabs,jadi kangen KA’BAH.
    (dosen narotama)
    http://narotama.ac.id

  2. GSM Semarang
    March 28, 2012 at 3:07 am

    smoga bermanfaat,,,thanks postingannya

  3. January 21, 2013 at 3:00 pm

    This article was well written and easy to follow. Two things I like about the post, one it is straight forward and two it does not attempt to promote anyone’s position particularly. Thank you for the article Ratna.

  4. May 5, 2014 at 8:28 am

    terima kasih buat informasinya

  5. May 19, 2014 at 2:43 am

    terima kasih atas yang bermanfaat ini dan sukses selalu

  6. July 17, 2014 at 5:42 am

    Terima kasih informasinya dan sukses selalu.

  7. June 19, 2018 at 5:45 am

    sebuah jurnal perjalanan yang luar biasa dan sangat mengesankan.
    terima kasih inspirasinya.

  8. June 9, 2020 at 9:15 am

    Aamiin yaa Rabb

  9. June 9, 2020 at 9:19 am

    semoga kami segera menyusul ke baitullah.

Leave a Reply to grosir gamis murah Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *