Pengalamanku bersama askar

Di antara ribuan jama’ah perempuan di Masjid Nabawi yang juga banyak berbusana serba hitam, keberadaannya tetap sangat terlihat khas. Berjubah hitam, bercadar, berkaus tangan dan berkaus kaki, sehingga hanya meninggalkan sepasang mata yang awas, menyelidik, siap menyapu sekeliling masjid. Askar. Kucari artinya adalah tentara, pengawal. Memang untuk menertibkan ribuan jama’ah dari berbagai negara dengan macam-macam karakter, kebiasaan dan ‘kebandelan’, diperlukan petugas yang tegas, waspada kalau perlu cerewet, agar suasana dan kondisi sholat berjama’ah di masjid nan agung itu berlangsung khidmat, khusyu dan tertib.

Diambil dari www.google.com

Tugas utama askar adalah memastikan jama’ah masuk mesjid bersih (nanti kujelaskan maksudnya), dan mengatur supaya shaf rapi tidak bolong-bolong, karena keutamaan sholat berjama’ah adalah shaf yang rapat dan lurus. Imam masjid Nabawi dan Masjidil Haram selalu mengingatkan tepat sebelum melakukan Takbiratul ihram:

Sawuu sufuufakum fainna taswiyatu sfuufi min tamaami sholaah..

Perkataan di atas merupakan sebuah hadits yang artinya : “Luruskanlah shaf kalian, karena meluruskan shaf termasuk kesempurnaan sholat.” (HR Ibnu Majah)

Jadi di dalam masjid bisa dilihat para askar berjalan hilir mudik di antara shaf-shaf jama’ah. Instruksinya dalam bahasa Arab, bahasa Inggris, atau Melayu terdengar lantang dan galak. Aku kagum akan refleks mereka mengenali ras kami para jama’ah. Para askar itu akan langsung berbahasa melayu jika berhadapan dengan kami warga Indonesia atau Malaysia: “Ibu….ibu….ke sana…ke sana…!! Sambil telunjuknya menunjuk ke sisi masjid yang masih menyisakan banyak tempat kosong. Saat berhadapan dengan jama’ah dari Turki, Mesir, Mongolia, atau Uzbekistan mereka berbahasa Inggris.

Ketika waktu mulai shalat hampir mendekati (antara adzan dan qomat) makin banyak jama’ah yang berdatangan, kusebut mereka last minute man. Memang bukan hak kita untuk menghakimi mereka kenapa baru masuk masjid di saat yang mepet. Hampir pasti di pintu masuk mereka sudah dihalau oleh askar tidak boleh masuk, karena sudah tidak ada tempat lagi yang tersisa di dalam. Tapi seribu cara askar menghalau, seribu satu cara jama’ah bisa nemu jalan masuk. Bukan mau membanggakan jama’ah Indonesia, tapi dari pengamatanku, umumnya jama’ah dari Sudan, India kadang Turki yang langganan jadi pendatang mutakhir (bhs arab: muta akhir = terlambat), walaupun satu dua ada juga jama’ah Indonesia. Yang jadi bikin nggak nyaman adalah kalau tiba-tiba mereka nyelip, nyempil di antara aku dan teman di sebelahku. Yaaa mending kalau badannya kurus, kecil jadi shaf kami rapat…kejadiannya si shohib yang nyempil ini ukurannya agak besar jadi malah aku yang ‘tergusur’. Beberapa kali kualami hal ini, ada yang masih sopan permisi dulu dengan bahasanya, tapi ada juga yang langsung “brug” duduk ajah menggelar sajadahnya. Kalau sudah begitu tak ada lain yang bisa kulakukan selain beristighfar, berusaha ikhlas dan sabar. Kami sesama tamu Alloh, bertamu ke masjid Rasulullah SAW…kami punya hak yang sama.

Sebelum bisa masuk masjid, jamaah harus bersih, siapa saja tak akan lolos dari pemeriksaan sang askar. Mereka akan mengobok-obok tas, mengenali isinya dengan memegang, jika ada yang dicurigai sebagai ponsel maka serta merta sang jama’ah ditahan tidak boleh masuk; alternatifnya adalah sholat di pelataran luar masjid. Memang sudah menjadi peraturan dilarang membawa kamera dan ponsel yang berkamera, ponsel yang tidak berkamera boleh dibawa masuk.

Sebelum berangkat ke tanah suci, aku sempat bertemu dengan salah seorang teman yang sudah berangkat haji dan umroh. Dia memberikan aku tips tentang A-Z termasuk bagaimana bisa lolos membawa ponsel ke dalam masjid.

“Ngeri ah Mbak kalau kena razia gimana ? Mendingan gak usah bawa deh.”

“Eh Na, masjid Nabawi itu pintu masuk perempuan dan laki terpisah jauh. Kalau nggak bawa ponsel gimana kamu janjian ketemu suamimu pas pulang? Udah nih dengerin kata gue, bawa kantung kain bekas kalo beli sepatu tuh yang hitam, nah masukin sandal dan ponsel ke situ, dijamin aman. Askar paling meriksa tas sama ngeraba-raba badan doang”.

Nah, di sholat pertamaku di masjid Nabawi aku belum berani bawa ponsel. Aku akan lihat situasi dulu. Aku bersama 5 orang teman satu kelompok, antri memasuki masjid, aku berdiri paling belakang. Ternyata, plastik tempat sandal justru yang pertama kali diperiksa, setelah itu baru tas, lalu badan. Yaaahhh…mesti cari cara lain nih. Selesai sholat isya dan mengaji, kulihat salah seorang temanku sedang asyik memegang dan mengetik di BB nya.

“Eh kok bisa lolos Teh ?”

“Kumasukin ke dalam kaos kaki”

Sejak itu kupraktekkan cara si Teteh Riska itu, dan Alhamdulillah aman. Waktu kuceritakan caraku itu ke suamiku dia malah terheran-heran. “Sampe segitu amat. Saya bawa BB dan kamera lolos-lolos aja tuh, malah sempat motret di Raudhah”.

Ternyata memang begitu, askar perempuan lebih saklek dibanding askar laki-laki. Fakta lainnya adalah, dibanding askar di masjid Nabawi, askar di masjidil Haram lebih loose. Di Masjidil Haram, dua kali tasku diperiksa, tapi sepertinya hanya formalitas saja. Tangan si askar hanya sekadar masuk ke tas tapi beberapa detik kemudian aku sudah disuruhnya masuk. Mungkin yang membuat berbeda adalah, pintu masuk khusus wanita di masjidil Haram hanya beberapa. Sisanya pintu masuk tidak bertanda, jadi sepasang suami istri bisa masuk dari pintu yang sama. Mungkin karena itu askar wanita hanya berjaga di pintu tertentu, itupun tidak tepat di mulut pintu. Sepertinya mereka memeriksa secara random.

Ada satu lagi pengalamanku saat aku dan suamiku selesai melaksanakan thawaf wada’ – yaitu thawaf perpisahan yang harus dilakukan jamaah sebelum meninggalkan Masjidil Haram – disunnahkan untuk sholat sunnah 2 rakaat. Pada thawaf-tahawaf sebelumnya, kami selalu tidak mendapat tempat di pelataran di depan Ka’bah, biasanya selalu dapat tempat di areal masjid yang beratap. Sekali itu aku bersyukur mendapat tempat tak jauh dari Ka’bah. Sebelum sampai di tempat yang sudah kami incar dari jauh dan baru akan menghamparkan sajadah, ada seorang jama’ah pria sepertinya dari Turki berbicara dalam bahasanya yang tidak kumenegrti, tapi aku tau pasti dia berbicara padaku. Karena aku tidak mengerti, aku cuek saja sambil introspeksi dan berpikir apa ada yang salah ya dengan tindakanku, cara berpakaian atau …ah.. waktu sangat berharga saat bisa sangat dekat dengan Ka’bah. Kami pun sholat sunnah thawaf, lalu dilanjutkan dengan sholat tahajjud, karena saat itu jam setengah 4 dini hari. Mungkin sebegitu khusyunya aku sholat (Subhanallaah….aura Ka’bah memang bisa membuat siapa saja yang sholat di dekatnya khusyu), dan baru setelah salam menoleh ke kanan, ke kiri, lalu baru melihat ke depan… tiba-tiba saja di depanku sudah ada sesosok tubuh bergamis putih, baru saja aku akan menengadahkan muka untuk melihat siapa dia, ku dengar suara: “hajjah…ke belakang…ke belakang….” Saat itu lah aku baru melihat pemilik suara yang rupanya askar laki-laki yang bergamis putih dan berkafiyeh merah putih. Suamiku dengan cepat menggamitku sambil berbisik, ayo kita masuk ke dalam. Ooh tahulah aku yang dimaksud bapak-bapak Turki tadi bahwa barisan itu adalah barisan khusus untuk jama’ah pria. Tapi saat aku berjalan ke belakang sempat kulihat shaf persis di belakangku duduk 4 ibu-ibu berkulit hitam, tetap bisa duduk di situ tanpa diusir. Sangka baikku…hmm mungkin aku duduk di border, jadi mulai shaf di belakangku bisa ditempati jama’ah perempuan. Bagaimana pun aku masih bersyukur, meskipun aku diusir dari tempat yang bukan hakku, dan itu karena kesalahan kami, askar pria itu melakukannya dengan sopan. Yang sering kulihat juga, askar-askar wanita agak lunak jika menghadapi jama’ah melayu mungkin karena kami warga Indonesia dan Malaysia patuh dan tidak bandel. Kalau disuruh keluar ya keluar, disuruh pindah ya pindah. Lain halnya jika berhadapan dengan jama’ah Asia dan Afrika, bahkan yang berasal dari jazirah Arab askar-askar itu sangat galak dan keras. Karena sang jama’ah sering ngeyel malah bebantah-bantahan. Di larang masuk karena sudah tak ada tempat, malah ngotot sholat di jalan tempat lalu lalang.

Pengalaman cukup mengesankan adalah saat aku di masjid Nabawi. Waktu itu qomat sudah dikumandangkan, jama’ah sudah berdiri. Dari arah depan seorang askar berjalan lurus ke arahku, padahal aku mendapat tempat di tengah-tengah. Dia berjalan menyelip-nyelip di antara jamaah di depanku, entah kenapa aku merasa dia mau mendatangiku. Aku sempat ndredeg…apakah ada yang salah denganku ? Belum sempat berpikir lebih jauh, imam sudah bertakbiratul ihram. Ternyata, sang askar hanya ingin sholat berjama’ah juga, dan dia melihat di sebelahku ada tersisa space yang tidak terlalu lebar tapi tidak juga rapat. Aku hanya cukup bergeser ke kiri sedikit, dan kami pun sholat. Sepanjang sholat tercium aroma parfum sang askar, dan aku sukaaa sekali baunya. Alhamdulillah…

 

 

  15 comments for “Pengalamanku bersama askar

  1. December 15, 2011 at 3:28 am

    nice story, mudh2n sy juga bs segera dipercaya menjadi tamuNya. amin.

  2. June 19, 2012 at 6:57 am

    Assalamu’alaikum Wr.Wb. Saudara2ku kaum muslimin /muslimat artikel tersebut sekarang sudah berubah. 180 derajat. Waktu saya berhaji pd th. 2009 hal tersebut mmg benar,bahwa larangan membawa camera sangat ketat bhkan Hp pun dicurigai. Yg namanya Askar kalo tau kilatan lampu blitz waaah kayak meliat barang haram, mereka akanberusahan mencari arah lampu kilat tsb. Namun pada waktu saya umroh ditahun 2012 ini semua kamera jenis apapun bisa bebas masuk ke Nabawi maupun ke masjidil Haram. Gak percaya? silahkan bukak You Tube dan douwload yg berjudul ” itok dimasjid nabawi”. Wassalam.

  3. December 17, 2013 at 8:16 pm

    iya bener skrg hp udah tidak masalah dibawa masuk ke dalam 2 masjid suci, kelonggoran untuk alasan komunikasi org yg banyak tersesat kali ya,,

  4. inggar
    March 24, 2015 at 4:49 am

    iya benar, apa yg dikatakan oleh Sdr. isnyoto dan Fanan. skrg bawa Hp berkamera gpp koq tp klo bw kamera digital apalagi SLR yg masi dilarang (ini mw shalat apa mw ngapain) hehe. bahkan askarnya aj hp nya hp terkini bgt koq.

  5. rere
    September 1, 2016 at 3:47 am

    sangat membantu..

  6. November 9, 2016 at 5:09 am

    ibu,,ibu,,Dhuduk dhuduk,,,,,,kangen dgn teriakan mereka “LABAIK ALLAHUMMA LABAIK”

  7. YM
    May 27, 2017 at 4:12 am

    Saat sang Askar mengucapkan “umroh mabruroh…” ku ajak salaman dan ku cium pipinya yang tertutup cadar..terdengar tawa renyahnya.. Barokallahu fiik.. #Masjidil Haram 18 Mei 2017

  8. August 23, 2017 at 8:42 am

    nice story, di tunggu next postnya bu

  9. September 26, 2017 at 10:11 am

    Nabawi today; 26 sept 2017.
    Para mbak/ibu askar (muro aqobah) juga pegang hape berkamera. Mereka juga aktif main wa. Tentunya diluar “menit kritis” yaitu jelang adzan.
    Di masjid haram makkah ada yg mau diajak berfoto bersama (tanpa buka biqop/burkah nya, tanpa buka penutup matanya).

    Di nabawi pemeriksaan sebelum masuk masjid sepertinya hanya sekedarnya saja. Tak ada periksa badan.hanya buka tas dan sekedar sentuh isi tas, khalas……

    Mereka akan suka klo kita ajak bersalaman dan sekedar salam dgn sedikit sapa.
    Di nabawi jumlah mbak muro aqobah ini sekitar 500 an yg bertugas bergantian.
    Saya penasaran berapa gaji Muro Aqobah ini.
    Ada yg berani bertanya ke ybs langsung?
    🙂

  10. June 19, 2018 at 4:27 am

    Mencerahkan banget artikelnya.
    Terima kasih sudah mengingatkan.

    Thank

  11. Ww
    September 9, 2018 at 3:05 am

    Ibu ibu ke sana… ke luar… full!! dengan nada lantang dan tegas. Walau ditutup dengan cadar…keliatan kalau merek gusar. Soalnya banyak yang nekat juga pingin masuk masjid walau sudah full. Abisnya kapasitas dalam masjid buat cewek terbatas dibanding yang cowok apalagi musim haji kaya gini pasti gampang full.

    Pemeriksaannya juga ga ribet hp kamera bole masuk kok cuma kalau ada yang cuek nyelonong masuk ga mau diperiksa langsung diteriakin.

    Saya tanya suami…ga segitunya di tempat cowok. Kalau tas besar baru diperiksa. Dan bagian cowok itu jauh lebih luas jadi waktu datang mepet juga tetep dapet barisan di dalam masjid. Kalau tas kecil suruh masuk aja.

    Hmmm…emang dimana2 wanita selalu begitu.

  12. August 6, 2019 at 2:31 pm

    Aku pernah berdoa untuk kesana, tp belum dikabulkan kali ini, inginku sih ke Yerusalem baru ke Makkah 😄

  13. Sila
    October 23, 2019 at 5:37 pm

    Aq kangen suara mereka ” Ibuk,,,, Ibuk,,,, Ibuk,,, “

    • Yumi
      November 27, 2019 at 3:02 pm

      Bener, ibu duduk
      Bangun bangun ini jalan 😄

  14. June 9, 2020 at 9:28 am

    semoga sekarang tidak perlu seperti itu yaa.. aamiin.

Leave a Reply to Ainiya Faida Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *