Ketika ba’da shubuh tidak tidur lagi

Hari pertama shaum Ramadhan terbangun benar-benar oleh alarm hp. Kelopak mata masih lengket, rasanya berat meninggalkan tempat tidur. Mungkin selain kondisi badanku yang sedang nggreges-nggreges dengan skor 1-2 vs virus, juga perang melawan syaiton-syaiton yang menduduki semua inchi badanku agar rasa enggan itu membenanmkan tubuhku kembali kepembaringan yang nyaman.

Kalau hanya memikirkan diriku sendiri mungkin aku akan memilih minum teh manis saja sebagai sahur… tetapi ada 3 orang yang menjadi tanggung jawabku dalam pemenuhan hajat hidupnya sebagai bekal puasa 12 jam ke depan. Bismillaahirrahmaanirrahiim….ayo…semangat.

Cuci muka, mengosongkan kandung kemih, lalu menyiapkan makan sahur.

Karena imsak pukul 04.35, kalau kutarik maju satu jam, berarti jam 03.30 paling tidak semua sudah harus bangun.

Alhamdulillah makanan sudah selesai kumasak. Kubangunkan si Kakak dan si Adek…mendengar ‘kegaduhan’ mereka, si Mas ikut terbangun sebelum aku membangunkannya. Ritual ‘pembangunan’ sahurku belum selesai sampai di situ, si dua kakak beradik plus papanya berjalan terseok-seok dari kamar …nggak langsung cuci muka, cuci tangan dan duduk di meja makan…tapi nggeletak lagi di kasur dan di sofa di depan TV (haduh bahasa Indonesianya gimana ya ni banyak amat ‘di’ nya).

(sumber: Yahoo)

Judulnya berarti cuma pindah tidur….itu gunanya kubangunkan sejam sebelum imsak. Kubiarkan 10 menit mereka masih geletakan baru kubangunkan lagi…tapi dengan ‘ancaman’ …hayo udah mau imsak tuh..nanti nggak sempat minum banyak…kalau sudah begitu barulah mereka mulai makan.

Biasanya kami makan sahur ditemani sinetron Para Pencari Tuhan yang sayangnya hanya tayang saat Ramadhan. Selesai sahur menunggu waktu shubuh anak-anak kularang tidur lagi, karena pasti aku akan sulit lagi membangunkan mereka. Mengakhirkan waktu sahur memang lebih baik karena tidak perlu terlalu lama menunggu adzan shubuh.

Setelah shubuh, karena si Adek libur dua hari (hari pertama dan kedua puasa),sedang si Kakak juga sedang jadi pengangguran berat (libur sejak lulus-lulusan SMA Juni lalu sampai pertengahan Agustus besok), maka kusuruh mereka tidur lagi. Mereka menolak ketika kusuruh tidur di kamar, katanya mau nonton TV…tapi yang kulihat mereka nonton TV dengan kelopak mata alias tidur. Pas TV kumatiin malah terbangun. Cuma si Mas yang tetap semangat dan harus berangkat pagi karena senin bo’……harus pagi kalau nggak mau kena macet.

Rasa kantuk pun juga mulai menyerangku, mungkin karena katanyaaaa mulai terjadi proses pencernaan di sistem pencernaan. Aku rebahan di kasur sambil melihat kehebohan suamiku berkemas siap-siap ke kantor.

“Kok pada enak-enak ya…pada tidur lagi…”

“Hehe iya dong…”

“Emang kamu nggak masuk ?”

“Masuk lah..tapi nanti ah…kan masih ada kereta yang akan lewat…” jawabku sambil meluk guling. si Mas makin keki ngeliat aku masih sempat tidur sebelum berangkat.

Setelah kuantar si Mas sampai depan rumah, aku tidur lagi…..nikmatnyaaaa….

Aku lupa pasang alarm lagi.

Aku terbangun, entah oleh apa…langsung kulihat jam…Alhamdulillaah….baru jam 7 kurang 10 menit. Berarti yang tadi itu mimpi, ….aku mimpi terbangun jam 5 sore, lalu aku mikir yaaah udah jam 5 sore ngapain juga ke kampus nun jauh di Bogor sana.

Hmmm ternyata emang nggak bagus ya tidur habis shubuh. Badan rasanya makin lemes walaupun kantuk hilang, dan kok malah rasanya makin males dibanding bangun sahur tadi. Mana hidung meler, tenggorokan gateeel….bangeeett. Batuk itu – jujur – penyakit yang paling nyebelin (hehe ngomongnya gitu, ntar kalau sakit gigi, bilangnya sakit gigi lebih sakit dari pada sakit hati…hihihi…mana ada seh penyakit yang enak ?)

Di hari kedua puasa…ritme biologi tubuh sudah mulai adaptasi. Aku terbangun lebih awal dibanding hari pertama, bahkan tanpa bantuan alarm. Sepertinya aku ‘diingatkan’ untuk sholat tahajjud. Setelah itu masak untuk sahur, lalu sahur bareng, lalu sholat shubuh bareng, lalu nyapu, ngepel, nyetrika (udah 3 hari itu cucian kering menggunung nggak ada yang mau ngerjain …haduh berasa sauna di pagi hari niih). Lalu mandi dan berangkaaaat ke Bogor.

Heee ? Aku kaget aja,lumayan juga nih kalau nggak tidur lagi setelah shubuh, banyak yang bisa diselesaikan. Badan juga jadi nggak lemes seperti kemarin. Tapi tubuhku teteeeeep minta jatah…..selama di kereta, di angkot aku tiduuuuur terus. Baru melek pas turun di ‘berlin’ istilah untuk pintu masuk kecil yang hanya bisa dilalui orang sebagai akses masuk ke kampus. Alhamdulillaaah….nikmatnya Ramadhan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *