The Sadako Sasaki story

Sore itu tanggal 5 Desember 2010 kami, aku dan sahabatku Bu Nunung sampai di areal Hiroshima Peace Memorial Park yang luas dan asri. Di bagian depan taman tampak oleh kami sebuah bangunan berbentuk unik. Dan setelah berjalan beberapa meter dari tugu tersebut kulihat berderet booth-booth membentuk setengah lingkaran seperti etalase toko, yang unik adalah apa yang ada di dalamnya….ribuan mungkin ratusan ribu origami berwarna warni, kebanyakan berbentuk burung atau segitiga. Ada pula kartu ucapan yang ditulis tangan, tampaknya berasal dari berbagai belahan dunia. Lagi terbengong-bengong begitu, Bu Nunung memanggilku dan memperlihatkan kepadaku sebuah plat besar berisi tulisan. Barulah aku paham bangunan apa sebenarnya yang sedang kami datangi itu.

Sadako Sasaki korban radiasi bom atom Hiroshima

Inilah kisahnya:

Sadako Sasaki lahir 7 Januari 1943; hidupnya yang singkat berakhir pada 25 Oktober  1955.  Ketika ia berusia dua tahun, sebuah bom atom dijatuhkan oleh Amerika Serikat di Hiroshima, Jepang.  Sadako tinggal dekat Misasa Bridge di Hiroshima tempat bom dijatuhkan pada tanggal 6 Agustus 1945.  Saat itu dia tak tahu bahwa dirinya telah menjadi korban radiasi pasca pemboman.

Sadako sedang berada di rumah saat terjadi ledakan, kira-kira 1 mil dari Ground Zero. Pada bulan November 1954 (9 tahun setelah tragedi bom)  ia terserang cacar air yang bermula dari leher dan di belakang telinganya. Bulan Januari 1955, muncul bintik berwarna ungu di kakinya. Sadako adalah seorang anak yang cerdas, ceria, sangat energik, mungkin istilah yang tepat adalah “pecicilan”, hingga orang tuanya selalu mengingatkan agar ia duduk manis barang sejenak. Sadako sangat suka berlari-larian. Ia sangat menikmati menjadi bagian dari “tim lari estafet” di sekolahnya.  Hingga dia tak memberitahu siapapun bahwa dia mulai merasakan pusing saat berlari. Satu saat, ia terjatuh di depan para guru, hingga dipanggillah orang tuanya datang ke sekolah. Tanggal 21 Februari 1955, Sadako mulai masuk rumah sakit. Sadako didiagnosa terjangkit leukemia sebagai dampak bom atom. Ibunya menyebut sebagai “penyakit bom atom”  (an atomic bomb disease).

Sadako bersama tim lari estafet sekolah

Diperkirakan ia hanya akan bertahan tak lebih dari setahun. Pada tanggal 3 Agustus 1955, sahabat karib Sadako, Chizuko Hamamoto mengunjunginya ke rumah sakit, menggunting selembar kertas emas berbentuk bujur sangkar dan membuat sebuah origami berupa burung bangau kertas (paper crane). Chizuko menceritakan sebuah legenda bangau kertas dan kepercayaan nenek moyang bangsa Jepang bahwa jika seseorang dapat melipat 1000 bangau, maka semua permintaannya akan terkabul.

origami burung bangau

Sejak saat itu Sadako mulai membuat paper crane untuk meminta kesembuhan bagi dirinya. Untaian bangau kertas digantung di atas tempat tidurnya dengan seutas benang. Meskipun Sadako punya banyak waktu di rumah sakit untuk melipat bangau, ia kehabisan kertas. Dia pun menggunakan medicine wrappings  dan apa saja yang bisa ia pungut. Ia berkunjung ke kamar pasien lain untuk meminta kertas bekas bungkus bingkisan pengunjung yang datang mengunjungi pasien. Chizuko juga membawakan kertas untuknya. Sadako berkeinginan melipat 1000 bangau, tetapi sayang, ia hanya sanggup melipat 644 sebelum ajal menjemputnya.

Kondisi Sadako memburuk secara drastis, membuat kedua orang tua dan saudara-saudaranya sedih melihatnya sekarat. Ibunya membuatkan sebuah kimono bercorak bunga sakura supaya dapat dipakainya sebelum ia meninggal.  Saat itu Sadako merasa kondisinya membaik sehingga ia dibolehkan pulang selama beberapa hari. Sadako berteman dengan seorang anak laki-laki bernama Kenji, seorang anak yatim, yang juga menderita leukemia tetapi sudah dalam stadium lanjut. Kenji sudah terkena dampak radiasi sejak ia dalam kandungan ibunya.  Sadako mencoba memberi Kenji harapan dengan kisah bangau emas (The golden crane story), tetapi Kenji sadar akan kenyataan bahwa waktunya sudah dekat. Ibunya sudah lebih dulu meninggal, dan ia sudah belajar  bagaimana cara membaca diagram darahnya (blood charts) dan sudah tahu bahwa ia sudah dalam kondisi sekarat. Saat di rumah Saat di rumah sakit, Sadako menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri kematian Kenji, dan dia sangat terpukul. Sadako tahu bahwa gilirannya pun akan segera tiba.

Sekitar pertengahan Oktober kaki kirinya membengkak dan lebam berwarna keunguan. Di pagi hari 25 Oktober 1955 Sadako meninggal dunia di usia 12 tahun. Teman-temannya menyelesaikan pembuatan bangau kertas sisanya hingga genap terkumpul 1000 bangau dan menguburkannya bersama jasad Sadako.

Rangkaian paper crane

Sepeninggal Sadako, teman-temannya menerbitkan suatu koleksi surat-surat untuk menggalang dana yang akan digunakan untuk membangun sebuah monumen peringatan bagi Sadako dan semua anak yang meninggal akibat efek bom atom. Pada tahun 1958 sebuah patung Sadako memegang bangau emas berdiri di Hiroshima Peace Memorial Park, bangsa Jepang menyebutnya dengan nama Genbaku Dome. Di kaki patung terdapat sebuah prasasti bertuliskan:

This is our cry. This is our prayer. Peace on Earth.”

Di Seattle Peace Park juga terdapat patung Sadako. Sadako telah menjadi simbol dampak perang nuklir, mengingatkan betapa berbahayanya perang nuklir.  Sadako juga menjadi pahlawan untuk gadis-gadis di Jepang. Kisah hidupnya diceritakan di sekolah-sekolah Jepang saat memperingati pemboman Hiroshima.  Sebagai dedikasi untuknya, penduduk Jepang merayakan 6 Agustus sebagai National Peace Day.

Sadako memegang paper crane

Kisah Sadako menjadi terkenal pula di kalangan murid sekolah di luar Jepang karena ditulis menjadi sebuah novel. The Day of the Bomb ditulis seorang penulis berkebangsaan Austria Karl Bruckner.  Sadako and the Thousand Paper Cranes pertama kali diterbitkan pada tahun  1977 ditulis oleh  Eleanor Coerr.  Robert Jungk juga menulis Children of the Ashes, di dalamnya ditulis pula kisah Sadako.  Setiap tahun, ribuan paper crane dikirim oleh anak-anak dan orang dewasa dari seluruh penjuru dunia ke Hiroshima Peace Memorial Park. Burung bangau merupakan simbol harapan untuk masa depan yang lebih baik yaitu perdamaian tanpa penderitaan.

Kisah Sadako dapat menjadi pengingat bagi kita apa yang terjadi akibat perang terlebih jika suatu negara memilih untuk menggunakan senjata nuklir.

Burung bangau di Jepang merupakan salah satu mahluk mistis atau suci (selain naga dan kura-kura) yang dipercaya dapat hidup ribuan tahun. Thousand Origami Cranes (千羽鶴, Senbazuru) yaitu sebuah untaian seribu origami bangau kertas yang disatukan dengan benang. Ada sebuah legenda kuno Jepang yang konon menjanjikan bahwa siapapun yang dapat melipat seribu bangau origami akan dihadiahi “WISH” oleh sang bangau, seperti umur panjang, sembuh dari sakit.  Maka Senbazuru menjadi wedding gift yang populer untuk keluarga dan teman spesial.  Si pemberi berharap pengantin mendapat seribu tahun kebahagiaan dan kesejahteraan.  Dapat juga sebagai kado untuk bayi yang baru lahir agar berumur panjang dan mendapat keberuntungan.  Menggantung Senbazuru di rumah dianggap membawa keberuntungan. Ada pula yang menggunakan sebagai matchmaking charm untuk gadis-gadis Jepang saat berusia 16 tahun. Sang gadis akan membuat 1000 bangau untuk diberikan kepada sang jaka yang dikaguminya.

(Dirangkum dari berbagai sumber)

  12 comments for “The Sadako Sasaki story

  1. Maro
    August 20, 2011 at 6:07 am

    kisah yg mengharukan…T__T

  2. hetaloid love it
    September 9, 2011 at 7:18 am

    kok tentang legenda sadako si hantu sumur tua itu kok ga ditayangin sich

  3. anita
    July 20, 2012 at 5:06 pm

    salah sendiri jepang hobinya jajah2…. yah gak heranlah… peace on earth apanya.. cuih

  4. anita
    July 20, 2012 at 5:07 pm

    salah sndiri jepang hobinya jajah2 negara orang…peace on earth apanya… negara yg dijajah jepang uda ratusan orang yg mati gak dipringati… kentut cuih

  5. susi
    November 8, 2012 at 2:32 am

    @anita <- kamu tuh seperti anak kecil, di semua bangsa ada orang baik dan ada orang jahat, kamu pikir semua tentara japang berharap ingin jadi tentara dan berperang? banyak juga dari mereka yang masih jadi pelajar ketika dipaksa jadi tentara dan jadi gila ketika harus bertahan hidup dihutan hutan, apakah karena pemimpin yang lalim terus kita harus menjudge semua rakyatnya lalim ? apakah karena nenek-kakek kamu seorang penjahat lantas kamu harus dicap jadi seorang penjahat pula? coba berpikir dewasa. dia hanya seorang gadis kecil yang tidak mengerti kenapa harus terkena dampak korban perang.

  6. setiawan hadi
    March 1, 2013 at 6:43 am

    Sungguh kisah yg mengharukan, semoga cerita sodako menjadi pelajaran bagi pemimpin-pemimpin dunia dan menjadi inspirasi untuk menciptakan perdamaian dunia
    , biar tidak ada lagi sodako-sodako yang lain, dan anak-anak yang menjadi korban perang,amin

  7. Tyara VaLentino
    July 30, 2013 at 5:03 am

    Tadinyaa sebeLum baca kisah ini, aku beRpikiR sadako itu mengeRikan . . .

    tRnyata, tRhaRu jugaa jadinyaa . .
    dia betuL.betuL gadis yg kuat !

    waLau udah sekaRat, tapi masi bisa bRkReasi . .
    dia mninggaLkan sebuah peLajaRan dengan kisahnya !

    semoga apa kata mas setiawan hadi itu bisa d’wujudkan oLeh ana.anak Indonesia ! 🙂

  8. Veronica07
    December 4, 2014 at 6:35 am

    Mengharukan banget………….
    Dia seorang gadis yang sangat kuat………….
    Dia melakukan apa saja, aslalkan dunia bisa menjadi elbih baik………….
    Dan doa ini sudah tercapai…………
    Thanks for Sadako Sasaki………..

  9. Veronica07
    December 4, 2014 at 6:36 am

    Mengharukan banget………….
    Dia seorang gadis yang sangat kuat………….
    Dia melakukan apa saja, asalkan dunia bisa menjadi lebih baik………….
    Dan doa ini sudah tercapai…………
    Thanks for Sadako Sasaki………..

  10. muhammad diantoro
    December 7, 2014 at 2:18 pm

    jepang itu benar2 negara yang hebat aqu sangat kagum dan salut dengan negara jepang bayangkan saja kedua kota negara jepang hiroshima nagasaki hancur porak-porandak akibat dijatuhkan dua bom atom oleh amerika serikat pada masa era perang dunia ke 2. ribuan bangunan hancur ratah dengan tanah korban yang tewas pun mencapai lebih dari 500000 orang, namun nyatanya tidak dalam kurun waktu 20 tahun jepang dapat bangkit kembali dan menjadi negara No 1 di kawasan benua asia. pada hari Jumat 11 maret 2011 yang lalu jepang kembali jatuh kembali karna gempa bumi yang lantas memicunya gelombang Tsunami korban yang tewas akibat musibah itu mencapai hampir 19000 orang dan korban luka2 mencapai 30000 dampak kerugian harta benda akibat musibah itu kerugian ditaksir mencapai ratusan trilun, belum lagi dampak radiasi nuklir yang mengancam, namun nyatanya jepang dapat bangkit kembali.

  11. December 29, 2014 at 6:55 am

    Mengharukann

  12. September 12, 2017 at 5:11 am

    Mother Teresa sempat pergi ke Biara Loreto di Rathfarnham, Irlandia untuk mempelajari bahasa inggris, bahasa yang dipergunakan oleh Kesusteran Loreto untuk mengajar anak-anak sekolahan di India.

    Mother Teresa memulai pelatihan (novisiat) di Darjeeling, dekat pegunungan Himalaya pada tahun 1929. Tempat itu merupakan tempat ia belajar bahasa Bengali.

Leave a Reply to anita Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *