11 Januari

Kalau ada kalimat bijak yang mengatakan bahwa suami adalah pakaian isteri dan isteri adalah pakaian suami, baru saat ini kurasakan ungkapan itu sangat benar. Suami istri memang harus bekerja sama, saling bantu, dan saling menutupi kekurangan pasangannya. Ada tugas yang hanya bisa dikerjakan oleh istri tapi tidak ada tugas suami yang tidak bisa dikerjakan oleh istri, itu pendapatku. Aku berpendapat seperti itu bukan bermaksud jumawa menyombongkan diri bahwa perempuan lebih perkasa dari laki-laki, tapi pengalaman dan pengamatan pribadiku yang menunjukkannya.

Aku melihat role model wanita perkasa adalah Ibuku sendiri. Beliau benar-benar all-round. Mendidik anak sudah tidak diragukan lagi, urusan memasak ….sambil merem pun masakannya tetap enak (duh lebay nian anakmu Bu), menjahit baju ? Sejak TK aku selalu memakai baju lebaran yang dijahit oleh Ibuku sendiri. Dan kami, aku dan adik perempuanku sangat bangga jika teman-teman Ibuku memuji: aduh bajunya cantik, pasti Ibu ya yang jahit ? Dengan bangga kami menjawab : Iya Tante… Ibu juga kujuluki sebagai pemilik green thumb, karena tanaman apapun yang ditanam, diperbanyak, distek, dicangkok oleh Ibu, pasti tumbuh. Lalu jika Ibu memberiku satu pot tanaman karena koleksi Ibu sudah terlalu banyak, dan kupelihara di rumahku, seringkali terlihat seperti kerakap tumbuh di batu, hidup segan, mati tak mau. “Wah dosen biologi kok nanem aja musti diajarin tho…” begitu kata Ibuku.

Aku cuma senyam senyum. Yaaa soalnya pas pelajaran cara menanam tanaman Ana pas gak masuk Bu… hihihii….ngeles aje deh.. Yah begitulah, yang jelas tak ada urusan di rumah yang tidak bisa dikerjakan oleh Ibu. Bahkan membuat sambungan kabel dan urusan perlistrikan dengan fasih dan tanpa canggung Ibu kerjakan sendiri. Aku ingat sepulang sekolah, kutemukan Ibu sedang mengecat tembok di satu bidang dinding yang dijadikan sebagai taman dalam rumah. Subhanallaah Ibuku benar-benar Super Woman atau Super Mom !!

Tinggal lah aku sebagai anaknya yang malu tidak bisa meniru keserbabisaan Ibuku. Memasak, aku standar-standar saja, menjahit ya sekadar bisa, menyetir bisa, tapi urusan perlistrikan…nyerah deh. Kalau tiba-tiba ada sekring di rumah putus dan harus diganti atau tiba-tiba kabel setrikaan meleleh karena kena badan setrikaan (hihihi..pengalaman pribadi bo’) atau aki mobil tiba-tiba ngadat sehingga mobil tidak bisa dipakai, aku tidak akan bisa mengerjakan itu semua. Pasti aku akan memanggil orang dan membayarnya untuk mengerjakan pekerjaan itu. Tapi kalau Ibuku yang mengalami, kujamin pasti beliau bisa. Itu yang kukatakan tidak ada pekerja an laki-laki yang tidak bisa dikerjakan oleh perempuan. Sementara ada satu pekerjaan perempuan yang tidak bisa dikerjakan laki-laki, kecuali Arnold Schwarzenegger di film Junior!! ^_^

Memang mengandung dan melahirkan buah hati tercinta hanya aku yang bisa menunaikan tugas ini, tapi setelah anak kami lahir, menurutku, suamiku mengerjakan tugas sebagai ayah melebihi tugasku sebagai ibu. Bagaimana bisa ?

Sampai sekarang aku masih kagum pada Mas. Sejak anak pertamaku lahir, Mas selalu teliti mempersiapkan kebutuhan Akmal jika akan kami bawa bepergian, meskipun kami hanya pergi dari rumah kami di Depok ke rumah orang tuaku di Jakarta yang ‘hanya’ berjarak 25 km, dan ‘hanya’ memakan waktu 1 jam. Biasanya Mas yang menyiapkan baju dan celana ganti, pampers, minyak kayu putih, tas plastic, obat-obatan terutama obat penurun panas. Sedangkan aku menyiapkan Akmal, menyuapi, memberinya minum, menyiapkan bekal makan dan minumnya. Sebelum berangkat Mas pasti mengecek apakah Akmal sudah dipancing untuk buang air kecil, sudah diolesi minyak kayu putih di perut dan punggungnya.

Kebiasaan itu berlanjut hingga sekarang Akmal sudah menjadi bujang dan ada Arik adiknya yang sudah 11 tahun. Kalau mereka akan pergi renang bertiga, walaupun aku sudah menyiapkan keperluan mereka, Mas akan mengeceknya lagi, apakah sudah ada handuk, baju ganti, sabun, shampoo, minyak kayu putih, sandal, kantung plastik, kaca mata renang.

Pernah suatu kali karena terburu-buru dan Mas tidak sempat mengecek, ternyata aku lupa tidak memasukkan celana dalam si adek. Anakku protes sesampainya di rumah…Mama siih lupa, aku jadi gak pake celana nih…Duh…maap ya Dek.

Rasa kagum, bersalah, dan kasihan bergantian muncul waktu aku tiba di rumah kembali setelah 4 bulan kutinggalkan Mas dan anak-anak ke Jepang. Di pintu dapur, juga di pintu penghubung garasi dengan ruang tengah kulihat ada kertas HVS menempel bertuliskan macam-macam instruksi yang Mas tuliskan sebagai reminder untuk Akmal dan Arik. SEBELUM PERGI CEK KRAN AIR, GAS, LAMPU, DAN KUNCI SEMUA PINTU. SEBELUM MAKAN NYALAKAN MAGIC JAR. Kuduga itu pasti waktu pembantu kami pulang kampung.

Yah…awal bulan November aku kaget sekali waktu Mas mengirim email yang mengabarkan bahwa pembantu kami akan menikah, dan setelah itu tidak akan kerja lagi. Masya Allah, kenapa tiba-tiba ? Sebelum berangkat aku sudah berpesan, “Sop, titip anak-anak ya, kalau nggak terpaksa sekali, jangan pulang kampung dulu ya, nanti sepulangnya saya, kamu boleh pulang”. Dia bilang “Iya”. Eeee la dalah…kok malah mau berhenti kerja. Perkembangan berikutnya, entah bagaimana tawar menawar Mas dengan si Sop, akhirnya dia pulang kampung 10 hari untuk menikah, lalu kembali lagi sampai aku pulang, barulah dia berhenti kerja.

Sepuluh hari di awal bulan Desember kemarin mungkin merupakan pengalaman terberat mengurus rumah tangga buat Mas. Di hari pertama Sop tidak ada, Mas harus bangun jam 4 pagi, menyiapkan sarapan pagi, sekaligus memasak nasi, menggoreng ayam, nugget atau sosis untuk makan siang mereka. Mas juga mengajari Akmal dan Arik menyalakan kompor, magic jar. Arik yang pulang lebih dulu dibawakan kunci rumah, dan Mas berpesan kalau sudah di rumah, pagar digembok lagi, pintu rumah dikunci lagi, hp selalu ON sehingga setiap saat Mas bisa memonitor.

Kerepotan bertambah saat Arik harus les bahasa Inggris dan Kumon. Syukurlah Akmal sudah punya SIM mobil dan motor, jadi sepulang sekolah kebagian tugas menjemput adiknya. Setiap malam sepulang dari kantor, Mas mencuci dan menjemur pakaian. Mas tidak ingin mengganggu waktu belajar Akmal waktu kusarankan supaya Mas minta tolong Akmal membantu mencuci.

Semua kondisi itu Mas ceritakan via email setiap pagi sesampainya Mas di kantor. Setiap kali aku membacanya air mataku selalu mengalir deras…ya Allah, ampuni hambaMu, itu semua tugasku, lalu aku di mana ? Apa yang kucari di tempat yang amat sangat jauh dari mereka, hingga mereka semua mengalami kondisi yang sangat berat dan tidak nyaman…? Maafkan aku Mas, maafkan Mama Kak, Dek.

Kalau sudah begitu aku langsung lari ke rumah kaca dan mengerjakan apa saja di rumah kaca sampai sembap di mataku hilang, barulah aku kembali ke lab. Meskipun orang-orang di lab pasti tidak ambil peduli melihat mataku yang memerah. Mas juga cerita setiap sabtu belanja mingguan ke hypermarket. Mas sampai hafal harga-harga barang yang selalu kami beli.

Setiap awal bulan Mas harus menyelesaikan berbagai macam due date, yang hampir semua adanya antara tanggal 1 – 10. SPP dan catering makan siang anak-anak, antar jemput Arik, uang les Kumon, uang arisanku, uang ronda, tagihan listrik, air, telpon, internet, credit card. Aku kagum dengan semua yang sudah Mas lakukan untukku, untuk anak-anak. Mas melakukannya lebih baik dari aku, lebih sistematis. Anak-anak pun mengakui nasi goreng buatan Papa lebih enak dari pada buatan Mama. Anak-anak pun mengakui cukuran Papa paling ok dibanding dengan cukur di salon, dan yang penting gratiiiis hehehe. Ya, setiap tiga minggu sekali Mas pasti mencukur rambut anak-anak sejak mereka kecil hingga sekarang, kecuali kalau 3x sabtu-minggu berturut-turut kami harus pergi ke luar, sehingga tidak ada waktu untuk Mas ‘buka lapak’. Aku sering meledek, “Wah untuk bekal pensiun udah ada nih Mas, kita bikin usaha cukur rambut keliling yuk…belum ada kan ?”

Terima kasih ya Alloh, Kau anugerahi aku seorang Ibu yang hebat, dan suami yang oke. Mereka kunobatkan sebagai sebagai sosok yang serba bisa. Satu-satunya pekerjaan yang tidak bisa Mas lakukan adalah menyetrika, sedangkan Ibu ….hmmm apa ya ? Setir mobil dulu pernah bisa tapi setelah anak-anaknya semua bisa setir mobil, Ibu lebih senang duduk di kursi penumpang.

Mas pernah berkata padaku, tugas saya hampir selesai waktu Arik akhirnya bisa renang dan naik sepeda. Mas berpegang pada hadits Rasulullah, “Ajari anak-anakmu renang, berkuda dan memanah”. Mas sudah berhasil mengajari anak-anak renang, naik sepeda, bahkan sepeda motor dan mobilpun si Kakak sudah bisa. Lalu memanah kapan? Mas sebenarnya ingin Akmal dan Arik belajar bela diri kalau makna memanah adalah semacam bela diri. Tapi masuk akal juga jika memanah filosofinya adalah membidik sasaran dalam hidup ini. Bahwa hidup harus mempunyai sasaran yang jelas dan untuk mencapainya harus dengan usaha menggunakan keteguhan raga, kekuatan hati seraya mampu menyesuaikan dengan perkembangan dunia yang semakin aneh ini.

Tak terasa, sampai di 11 Januari lagi (Thanks for the great song by GIGI)

Dear Mas, Selamat hari lahir,

Semoga Alloh selalu melimpahkan berkah dan kasih sayangNYA untkmu,

Semoga Alloh masih memberimu kesempatan untuk senantiasa beribadah dunia dan akhirat hanya mengharap ridloNYA

Tetaplah menjadi pakaianku, pelindungku, temanku, kekasihku, penyeimbangku, penyelamatku,

Tetaplah menjadi teman, sahabat, pelindung, dan pendidik untuk anak-anak,

Tetaplah menjadi teman dan sahabat untuk kakak dan adikmu, Tetaplah menjadi anak yang berbakti untuk Bapak dan Ibu

Thanks dear, I love u

Depok, 11.1.11

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *