Dua cinta dari dua wanita

Semenjak aku lahir aku hanya mengenal seorang wanita yang penyayang, penyabar, pemberi nasehat yang selalu menjadi solusi tiap saat aku mempunyai masalah. Dari tangannya pun lahir masakan-masakan yang istimewa buat keluarga kami. Buatku, rendang buatan ibuku tak ada tandingannya, meskipun  kubandingkan dengan rendang yang kubeli di rumah makan padang. Dari kebisaan ibuku menjahit baju pun aku akhirnya bisa menjahit meskipun hanya standar-standar saja. Yang tak bisa kuikuti darinya, kesukaan beliau akan olahraga, tennis, volley, dan senam pernafasan Mahatma. Olah ragaku hanya jalan kaki dan naik sepeda ^_^

Oya satu lagi, duluuu sekali beliau bisa mengendarai motor jenis vespa…sedangkan aku, hingga hari ini tidak bisa mengendarai sepeda motor. Dialah Ibu Suwartini atau Bu Tien atau Bu Noer,  ibu yang melahirkan, membesarkan, mendidik hingga mengantarkanku ke gerbang pernikahan.

Lalu, semenjak terucap ijab kabul dari lisan suamiku, aku mendapat seorang wanita lagi yang juga kupanggil ibu, bernama Ibu Masrifah atau Bu Muchsin. Dari ibuku ini aku mendapat kasih sayang, nasehat, dan perhatian yang tidak kalah besarnya dengan Ibuku sendiri. Dari tangan Ibu Masrifah, aku selalu menikmati bumbu pecel madiun (beliau asli Madiun dan tinggal di Madiun) dan abon sapi yang ngangeni.

Ada satu yang lucu, sewaktu Ibu Muchsin ke Jakarta dan menginap di rumahku, beliau mengajariku memasak gudeg…..satu-satunya masakan yang tidak pernah Ibu kandungku buat  padahal Ibuku itu asli dari Jogjakarta. Beli matengpun Ibu belum pernah, karena rasanya yang manis ibu kurang menyukai. Selera masakan Ibuku “terseret” ke masakan Minang semenjak menikah dengan Bapak. Tempe dan tahu bacem yang manis  juga jarang terhidang di meja makan kami. Waktu aku cerita ke beliau: “Bu, Ana kemarin diajarin masak gudeg lho sama Bu Muchsin”. Oya ? Wah sekarang kamu bisa masak gudeg dong, Ibu sampai sekarang nggak bisa masak gudeg”.

Aku ingat kira-kira sebulan setelah  menikah, aku membereskan semua dokumen milikku dan milik Mas seperti akte kelahiran, ijazah, transkrip nilai, buku nikah hingga KK (kartu keluarga). Aku merasa perlu mengetahui nama lengkap dan tanggal lahir semua anggota keluarga baruku, karena beda dengan keluargaku yang beranggotakan 6 orang, keluarga Mas beranggotakan 10 orang. Aku harus mengetahui nama lengkap 7 saudara iparku. Di KK itulah kutemukan hal menarik: ternyata tanggal, bulan dan tahun kelahiran Bu Muchsin persis sama dengan Ibu Tien, sementara tanggal dan bulan lahir Pak Muchsin, sama dengan Pak Noer ayahku, hanya beda tahun. Subhaanallaah….

Hari ini, 11 Juli adalah hari lahir kedua Ibuku yang sangat kuhormati dan cintai dengan sepenuh jiwa, sepenuh ragaku.

Di usia 67 tahun beliau berdua masih diberi kesehatan oleh Allah SWT, dan kami anak-anaknya masih diberi kesempatan untuk berbakti, menyayangi, melindungi, menemani, membuat mereka tersenyum dengan tingkah polah cucu-cucu yang kami persembahkan untuk mereka. Ibu Tien mendapat 9 cucu dari 4 orang anaknya, sedangkan Ibu Muchsin mendapat 16 cucu dari 8 anaknya. Itulah kekayaan dan kebanggaan beliau. Saat berkumpul – dengan formasi lengkap – saat itulah aku melihat betapa Ibu tersenyum bahagia melihat semua masakan yang dimasaknya dengan penuh cinta, oleh tangan renta yang masih kuat – habis, licin tandas disantap “rombongan sirkus” beranggotakan anak-anak dan cucu-cucunya. Masakan Ibu masih saja enak. Keahlian yang sulit ditiru oleh anak-mantunya…hiks

Siapapun mungkin hafal betul dengan pepatah, ’kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah’. Sebenarnya tanpa kita sadari pepatah ini sering terjadi di dalam kehidupan kita.

Seberapa kerasnya usaha kami untuk membalas budi baik dan jasa Ibu yang tanpa pamrih untuk kami, sampai mati pun tak akan bisa terbayar. Hanya bakti kepada beliau dan doa yang kami panjatkan kepada-Nya lah yang   menjadi pembayarnya.

Ya Allah, ya Rabb kami….

Berikanlah ibu hidup yang nyaman sebagai ganti atas kepayahan beliau selama sembilan bulan kami nyaman dalam kandungannya…

Berikanlah beliau khusnul khotimah kelak, saat beliau harus pergi menemui panggilan-Mu sebagai ganti saat beliau harus meregang nyawa untuk melahirkan kami….

Sehatkanlah beliau dan berikanlah beliau waktu dan kekuatan untuk beribadah sebanyak-banyaknya, sebagai ganti saat beliau tak dapat beribadah karena nifas setelah melahirkan kami…

Berikanlah beliau rizki dan berkahMu agar beliau menikmati makanan dan minuman apapun yang disukainya sebagai ganti air susunya yang telah beliau berikan untuk kami hingga kami disapihnya dengan susah payah….

Berikanlah beliau tidur yang nyenyak sebagai ganti saat beliau harus terjaga menunggui dan merawat saat kami sakit….

Berikanlah ampunan bagi beliau saat beliau marah dan kesal karena nakalnya kami dulu…

Terimalah semua amal ibadah beliau sebagai pemberat timbangan kebaikannya di hari akhir nanti…

Berikanlah kehidupan yang baik bagi beliau di dunia dan akhirat karena beliau telah memberikan seluruh hidupnya untuk kami ya Allah….

Berikanlah kami kekuatan agar kami dapat meneladani beliau sebagai Ibu yang baik bagi anak-anak kami…

آمِـــيّنْ … يَ رَ بَّلْ عَلَمِــــــيّنْ

Oh bunda ada dan tiada dirimu

Kan selalu ada di dalam hatiku ….

We love you Mom…♡♥♡ ♥♥♡

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *