April 15, 2013

Usulan kalangan Akademisi Soal Pengurangan Subsidi BBM

Filed under: Warna Warni — rani @ 3:45 pm

Lingkungan Akademik tidak tinggal diam dalam mengatasi masalah subsidi BBM. Fakultas Teknik UI mempunyai solusi mengatasi masalah ini. Beberapa sumbangan pemikiran telah diberikan kepada instansi terkait. Dekan Fakultas Teknik UI Prof.Dr. Ir. Bambang Sugiarto, M.Eng membeberkan usulan-usulannya. Kalau saja usulan ini bisa direalisir, pemerintah akan bisa menghemat subsidi BBM sampai 60 %.

Dasar pemikiran solusi ini adalah memakai teknologi yang sudah diterapkan untuk kartu elektronik masuk jalan tol. Dengan bantuan data-data mobil dan pemiliknya yang ada di pihak kepolisian dapat dijadikan acuan untuk menentukan mobil mana yang dapat subsidi dan mana yang tidak. Asumsinya mobil-mobil yang beredar di jalanan 80 % keluaran tahun 2000 an, dimana harus sudah menggunakan bbm beroktan 98 (Pertamax). Dengan memasang peralatan tertentu di setiap pom bensin, maka jika ada kendaraan akan mengisi bbm, sudah bisa diarahkan, apakah diisi bbm bersubsidi atau tidak. Selanjutnya dapat dilihat di podcast UI ada di dokumentasi Audio visual kegiatan UI/www.ui.ac.id.(150413)

June 10, 2010

Profesor dan Sopirnya

Filed under: Warna Warni — rani @ 4:44 pm

Ada seorang profesor yang sangat terkenal karena menguasai satu bidang ilmu dengan sangat mendalam, sehingga sering diundang ke berbagai tempat untuk berbicara dalam forum ilmiah. Dalam melakukan kegiatannya tersebut profesor ditemani seorang sopir yang selalu setia mengantar ke berbagai pertemuan ilmiah. Selain sebagai sopir, juga merangkap membantu menyiapkan bahan-bahan untuk presentasi profesor. Ketika profesor berbicara, sopir ini pula yang menayangkan materi  presentasi. Boleh dikatakan,  antara Profesor dengan sopirnya ini sudah menjadi satu jiwa.

Suatu saat, Profesor  sakit keras sehingga harus beristirahat untuk beberapa lamanya. Tetapi undangan untuk berbicara dalam berbagai forum ilmiah mengalir terus tidak henti-hentinya. Rupanya profesor ini tidak sampai hati untuk menolak berbagai  undangan tersebut. Tetapi kondisi fisiknya tidak memungkinkan untuk bisa hadir. Setelah berpikir keras, akhirnya menemukan cara untuk mengatasi masalah tersebut. Setelah memberikan berbagai dorongan dan pengarahan serta bimbingan, akhirnya profesor mengutus sopir untuk hadir dalam pertemuan ilmiah. Di dalam forum tersebut sopir tadi mengaku sebagai ‘profesor’. Dan ternyata sambutan para hadirin dalam forum ilmiah tersebut sangat luar biasa dan merasa puas dengan presentasi yang disampaikan ‘profesor’.

Mendengar cerita sopir tersebut profesor merasa bersyukur, karena ternyata telah menemukan pengganti yang tepat kalau suatu saat ada undangan pertemuan ilmiah. Tetapi rupanya profesor merasa perlu untuk terus mengawasi dan melihat perkembangan yang terjadi saat sopir melakukan presentasi. Karena itu, profesor selalu ikut dalam pertemuan ilmiah yang dihadiri sopir. Untuk supaya tidak mencurigakan, maka profesor berganti profesi menjadi sopir dan menyiapkan segala kebutuhan sopir dalam melakukan presentasi. Dengan cara seperti ini, nama ‘profesor’ semakin dikenal dan semakin banyak saja undangan untuk menghadiri pertemuan ilmiah.

Dalam suatu kesempatan pertemuan ilmiah, banyak pertanyaan datang bertubi-tubi diajukan kepada ‘profesor’. Ada yang bisa dijawab dan ada pula yang tidak bisa dijawab. Untuk tidak mengecewakan peserta pertemuan ilmiah, maka profesor pun berkata,”Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi, baiklah saya akan meminta bantuan sopir saya untuk menjawabnya.”

June 8, 2010

Super Rektor

Filed under: Warna Warni — rani @ 7:49 am

Sehabis  shalat jumat di mesjid UI beberapa waktu lalu, bertemu dengan seseorang yang dahulu terlibat dalam pembangunan kampus Depok  dan aktif di  dalam wadah Lembaga Teknologi Fakultas Teknik  (Lemtek)  FTUI konsultan perencana pembangunan kampus. Sambil jalan menuju rektorat, berbagai pembangunan baru di lingkungan kampus   dikritiknya. Tapi kemudian secara tidak terduga bertemu dengan orang nomor satu di UI. Diantara kerumunan orang yang lalu lalang dia menyapa “Apa kabar Bos?” Walah, susah juga, super bos kok merendahkan diri dihadapan orang banyak. Lalu dia seperti mengerti keheranan yang ada dalam benak, dia memberikan penjelasan lebih lanjut, katanya takut nanti dimarahin Bang Rodji Besila, orang beken yang paling dikenal di Asrama daksinapati karena paling lama tinggal di asrama Daksinapati dari akhir tahun 1960 an hingga akhir tahun 1980 an. Suatu prestasi tersendiri, karena dia kuliah di FE Ekstension yang  tidak terikat dengan masa studi. Istilah bos ini memang diberikan teman-teman dekat di asrama, mungkin supaya cepat akrab atau memang hanya untuk berkelakar saja. Tapi yang paling diingat, pertama kali kata “bos” itu diucapkan oleh teman sekamar di asrama yaitu (Pak De) Eko Handojo. Akhirnya istilah itu menyebar dan dipakai oleh teman-teman dekat di asrama hingga kini.

 

Bicara tentang super bos ini, dahulu kala, di UI ada orang-orang tertentu yang sangat disegani dan atau juga sangat ditakuti karena kekuasaannya. Pernah dalam suatu masa, baik dosen ataupun karyawan sangat takut pada “super rektor” yang satu ini, walaupun dia tidak mempunyai jabatan  formal dalam jenjang struktural di lingkungan UI. Kalau sudah marah terhadap siapapun (dosen atau karyawan), dia akan memarahi habis-habisan tidak mengenal waktu dan tempat bahkan di depan orang banyak sekalipun, sehingga membuat orang menjadi malu. Tetapi sangat perhatian terhadap mahasiswa (baru) UI. Misalnya saja pada waktu mahasiswa baru melaksanakan kegiatan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) pola 60 jam yang kemudian menjadi 120 jam. Anggaran konsumsi untuk setiap mahasiswa baru sebesar Rp 750 (tahun 1983 dan 1984)). Mereka dapat  makanan kecil dan teh manis, makan siang dengan sayur dan ayam goreng serta buah serta minum teh manis dan makanan kecil di sore hari. Dari mana dapat tambahan dananya? Melalui ibu-ibu Dharma wanita yang mengumpulkan uang dari para donatur dan orang tua. Waktu itu makanan yang paling “wah” bagi para mahasiswa ada di gugus Fakultas Kedokteran. Tetapi ketika didengar oleh Dharma Wanita Fakultas lain, segera mereka juga tidak mau kalah, mencari donatur  sehingga konsumsi untuk para mahasiswa di masing-masing fakultas kualitas makanannya relatif sama.

 

Ada lagi satu super rektor yang cukup dikenal orang-orang UI pada masanya. Dia sebetulnya hanya  seorang staf administrasi, tetapi hubungan dengan rektor cukup erat dan akrab. Dimana ada rektor dia senantiasa hadir, kalau rektor pergi atau bertemu dengan tamu asing, dia selalu mendampingi. Bahkan pada saat peresmian kampus baru Depok, dia berperan besar menyediakan berbagai keperluan mebeuler untuk ruang rektor. Orang ini sangat disukai rektor, karena mengerti kehendak rektor sebelum kehendak itu dikatakan. Dalam suatu kesempatan rektor sempat “keceplosan” bicara, kalau yang jadi rektor adalah dia, maka ada lagi di atas rektor yaitu “Super Rektor” sambil menunjuk kepada staf administrasi tersebut. Sejak itu, orang-orang menjadi tahu kalau ada Super Rektor. Kekuasaan super Rektor menjadi bertambah super saja, tatkala dia  menjadi sekretaris penerimaan mahasiswa baru perguruan tinggi negeri se Indonesia. Para Rektor perguruan tinggi lain pun menjadi tahu peran dan kekuasaan super rektor ini. Menurut para stafnya, sehari sebelum meninggal, di ruangan kerja super rektor ini tercium bau bangkai yang menyengat. Maka para stafnya berusaha mencari asal bau bangkai tersebut, dicari sampai ke atap barangkali ada bangkai tikus, tetapi ternyata tidak ditemukan penyebab bau bangkai yang menyengat tersebut. Ketika super rektor ini meninggal, banyak orang yang merasa kehilangan atas kepergiannya. Jasadnya sempat disemayamkan di Gedung Pusat Administrasi (Rektorat) Kampus Depok. Pada saat penguburan di Jati Petamburan para pelayat harus menunggu cukup lama, karena harus dilangsungkan misa requim terlebih dahulu. Seorang anak lelakinya yang juga ada di Jati Petamburan menghibur pelayat dengan mengatakan, “ayah saya kan seorang super rektor, jadi tidak apa-apa dong kalau hadirin harus menunggu lama.” Rektor UI yang ada diantara pelayat hanya senyam senyum saja.Tetapi rupanya manusia tidak sempurna, ada permasalahan kecil yang ditinggalkan almarhum. Dengar informasi dari sana sini, katanya ada sejumlah uang di dalam rekeningnya yang tidak bisa diambil ahli warisnya. Darimana uang itu? Pada saat para mahasiswa UI mendaftar di bank, ada sejumlah uang untuk pembuatan kartu mahasiswa. Ternyata sebagian uang itu masuk ke rekening almarhum dan hal ini tidak pernah diberitahukan kepada keluarganya.

 

Hikmah apa yang bisa diambil dari cerita tersebut di atas? Hidup menjadi orang baik ( di mata manusia dan “dimata” Tuhan) hingga akhir hayat itu susah dan belum tentu semua orang dapat lolos dari berbagai ujian dan cobaan. Karena itulah kita harus banyak belajar  dari kehidupan orang lain.

June 3, 2010

Lelaki Perkasa? Ya, Charles Bronson!

Filed under: Warna Warni — rani @ 4:25 pm

Siang hari ini (03/06) ketika keluar dari pintu lift gedung IASTH Kampus Salemba Jakarta, bertemu dengan Dr. Ade Armando yang akan masuk ke lift menuju ruang Pasca Sarjana FISIP. Ade bertanya, “abis dari mana?” Pertanyaan yang wajar, karena biasanya kalau bertemu di Kampus Depok. Maka dijawab, “dari lantai tiga, ada seminar nasional Pramuka.” Setengah tidak percaya, Ade memberikan komentar, “Apa Pramuka masih ada?.”

Dialog di atas adalah mewakili pandangan sebagian besar masyarakat awam tentang keberadaan pramuka saat ini. Jika saja Ade sempat menghadiri acara seminar Pramuka, tentunya tidak akan mengajukan pertanyaan seperti di atas tadi. Karena itulah maka Program Studi Ketahanan Nasional Program Pasca Sarjana UI, bekerja sama dengan Kementrian Pemuda dan Olahraga menyelenggarakan seminar nasional bertajuk ”Mendorong Gerakan Kepanduan Melalui Percepatan Revitalisasi Gerakan Pramuka.” Narasumber  yang diundang pun bukan orang sembarangan, ada Prof.Dr. Muladi SH (Ketua LEMHANAS) juga ada Ir. Iwan Abdurachman/Abah Iwan (sesepuh WANADRI), Ketua Kwartir Nasional Pramuka Prof.Dr.dr. Azrul Azwar, MPH dan sederet nama lainnya. Namun yang akan diceritakan di bawah ini bukan tentang seminarnya, karena hal itu bisa didapat dari pemberitaan di media massa. Melainkan suasana pembukaan seminar tersebut yang akrab, hangat dan penuh derai tawa.

Ketika Ketua Progam Studi Ketahanan Nasional  UI  Prof.Dr. Tubagus Ronny Rachman Nitibaskara pidato, dia membicarakan tentang kesamaannya  dengan Prof. Muladi yang sama-sama profesor, sama-sama mempunyai anak perempuan. Tapi ada satu hal yang tidak bisa dilupakannya, saat  menyelesaikan doktornya, kalau tidak ada Prof. Muladi, mungkin sudah Drop Out. Prof. Muladi sebagai pembimbingnya sempat berdebat keras dengan pembimbing lainnya. Karena ternyata waktu studi doktoralnya sampai delapan tahun. Tapi Prof. Ronny menambahkan, kelebihannya dibandingkan dengan Prof. Muladi,  masih bisa punya anak perempuan umur 7 tahun, yang hobinya menyanyi jazz.” Berarti saya lelaki Perkasa,” ujarnya yang disambut riuh hadirin.

Saat Rektor UI Prof.Dr. Gumilar Rusliwa Somantri memberikan sambutan, pada awal pidatonya mencoba menimpali sambutan Prof. Ronny. Keduanya mempunyai kesamaan. ”sama-sama ganteng seperti aktor bintang film. Tetapi  juga ada perbedaan, yang satu tidak berkumis dan yang satu berkumis. Seperti bintang Iklan  mandom tahun tujuhpuluhan, siapa ya?” Hadirin menimpali ”Charles Bronson!!! Dari tempat Duduknya Prof. Ronny berdiri dan setengah berteriak, ”Pak Rektor! Mau makan dimana?”

May 31, 2010

Kisah Buah Pepaya

Filed under: Warna Warni — rani @ 3:50 pm

<

p class=”MsoNormal”>“Pada jaman dahulu kala….. ada seorang Raja, kesukaannya sama pepaya mentah. Apalagi pepaya matang……, sangat suka sekali……” Itu adalah penggalan cerita yang  didongengkan Bapak Mertua kepada  dalam suatu kesempatansedang berkumpul bersilaturahmi bersama anak/mantu dan para cucunya.

Kemarin malam (30/05), baru saja menikmati buah pepaya dari pohon pepaya yang tumbuh di depan rumah. Rasanya cukup manis, warna buahnya merah kekuning-kuningan, nikmat sekali rasanya. Inilah untuk pertama kalinya merasakan buah pepaya sejak ditanam tiga tahun lalu. Padahal pohonnya sempat ditebang karena mengganggu tanaman lain yang lebih kecil. Tetapi kemudian dari pangkal tempat ditebang, tumbuh lagi dua pucuk pepaya dan menjadi batang yang tumbuh besar hingga berbuah lebat. Tiga tahun lalu sehabis makan pepaya, bijinya ditebar di halaman depan rumah. Pepaya tersebut didapat sehabis mengadakan pertermuan di Megamendung Puncak.

Tiga tahun lalu bersama beberapa orang teman yang biasa suka kumpul-kumpul pergi ke satu villa punya seorang teman di kawasan Megamendung Puncak Bogor. Kita mengobrol ngalor-ngidul sampai akhirnya membicarakan bagaimana menyiasati seleksi pemilihan calon Rektor UI tahun 2007. Diceritakan bagaimana melakukan trik-trik pendekatan kepada anggota Majelis Wali Amanat (MWA) UI yang berjumlah duapuluh satu orang itu, yang akan memilih calon Rektor UI. Misalnya bagaimana mendekati dua anggota MWA UI juga tokoh NU yang disegani. Kemudian bagaimana pula mendekati Mendiknas untuk mendapatkan kepastian dukungannya, karena suara Mendiknas cukup signifikan besar sebagai wakil pemerintah dalam MWA UI. Lalu bagaimana pula trik-trik untuk mendapatkan suara perorangan dari anggota MWA UI. Kesemuanya mempunyai kiat-kiat khusus yang berbeda-beda. Setelah yakin bisa mendapatkan dukungan yang memadai, barulah mencalonkan diri dengan penuh keyakinan. Pulang dari Megamendung, selain mendapat cerita yang eksklusif juga mendapat buah tangan berupa singkong dan pepaya. Setelah beberapa waktu berselang usai pelantikan rektor, beberapa anggota MWA UI menduduki jabatan eksekutif di lingkungan fakultas dan pusat administrasi universitas.

Persoalannya kemudian, bagaimana nanti harus menceritakan kepada anak cucu tentang pengalaman di atas tadi? Mungkin akan diceritakan seperti ini. ”Pada jaman dahulu ketika UI berstatus BHMN, ada seorang raja ’kecil’ yang kemudian menjadi raja ’besar’. Nah, raja besar itu kemudian memberikan pepaya kepada pegawai ’kecil’ tapi berbadan besar……………”