April 12, 2019

Danau Kenanga masa lalu dan masa kini

Filed under: Warna Warni — rani @ 10:16 am

April 11, 2019

Biaya Operasional Pendidikan Berkeadilan

Filed under: Warna Warni — rani @ 8:58 am

April 5, 2019

Selamatdatangvideo baru

Filed under: Warna Warni — rani @ 2:56 pm

April 4, 2019

Kerjasama UI – Gojek

Filed under: Warna Warni — rani @ 9:00 am

April 1, 2019

Pisah sambut MWA UI

Filed under: Warna Warni — rani @ 10:21 am

Mapres UI 2019

Filed under: Warna Warni — rani @ 10:20 am

December 9, 2014

Doni Munardo yang saya kenal

Filed under: Uncategorized,Warna Warni — rani @ 5:16 pm

Komandan Jenderal Kopassus Mayor Jenderal (TNI) Doni Munardo, terlambat datang pada acara penanaman pohon di Kampus UI Depok yang berlangsung hari Minggu (07/12). Acara penanaman pohon pun akhirnya diwakili Wadanjen Kopassus Brigjen (TNI) M. Herindra. Dari UI diwakili Wakil Rektor Prof.Dr. Bambang wibawarta MA. Setelah acara penanaman usai selang beberapa waktu kemudian barulah Doni Munardo tiba dan langsung menanam pohon Cerme yang telah disediakan. Cara menanam pohon pun unik. Tanah untuk menimbuni akar pohon ditaburkan memakai telapak tangan telanjang. Setelah dirasa cukup, diteruskan penimbunan dengan memakai cangkul. Ini mengingatkan kepada adanya zat-zat tertentu pada telapak tangan yang dapat menyuburkan tanah, seperti juga kalau kita makan dengan tangan menambah kelezatan pada makanan.

Perkenalan dengan Doni Munardi terjadi beberapa tahun lalu, ketika Kopassus melakukan penanaman pohon di hutan Wales Barat di dekat asrama mahasiswa di Kampus Depok. Waktu itu masih menjabat sebagai Wadanjen Kopassus. Karena ada keperluan yang mendesak penanaman pohon dimajukan mendahului penanaman pohon yang dilakukan Danjen Kopassus beberapa hari kemudian. Hal ini menunjukkan komitmen yang kuat terhadap penghijauan. Bahkan menurut anak buahnya, Doni Munardo tidak segan-segan belajar dan memperdalam tentang seluk beluk dan karakteristik berbagai pohon langka di nagri jiran.

Tidak lama setelah melakukan penanaman pohon di kampus UI Depok, Doni Munardo ditugaskan sebagai Komandan Pasukan Pengawal Presiden (Paspampres). Pada masa ini, penulis bertemu lagi dalam satu acara peresmian pembukaan lembaga nirlaba internasional Latif Jamil Poverty Action Lab (J-PAL) cabang Indonesia yang bekerja sama dengan LPEM-FEUI di Hotel Indonesia. Acara yang diresmikan Presiden SBY dikawal oleh Paspampres.Pada acara itu Doni Munardo kelihatan akrab dengan para reporter. Bahkan sempat tukar-tukaran nomor telepon. Pada kesempatan itu penulis sempat memberikan rekaman video kegiatan mahasiswa UI yang melakukan demonstrasi pada awal reformasi 1998. Tak lupa menitipkan juga satu keping dvd untuk Presiden SBY dan memohon bantuannya minta waktu untuk wawancara dengan presiden seputar peristiwa reformasi. Waktu itu SBY menjabat Kepala Asisten Teritorial ABRI yang bertanggung jawab terhadap keamanan di ibukota. Selang beberapa hari kemudian ada kiriman sms dari Doni Munardo, yang menyatakan terima kasih atas kiriman dvdnya, sambil menyatakan sebaiknya permintaan untuk wawancara dengan Presiden SBY bisa menulis surat ke Sekretariat Negara.

Usai penanaman pohon di kampus UI depok, Doni Munardo masih sempat bincang-bincang dengan Pimpinan UI yang mengusulkan supaya di Kampus Depok disediakan lahan khusus untuk penanaman pohon-pohon langka khas Betawi. Misalnya buah kemang, gandaria, manggis, dan lain-lain. Setelah cukup lama, tiba tiba muncul seorang reporter yang meminta Doni Munardo untuk melakukan rekayasa ulang penanaman pohon. Dalam hati membatin, pasti ditolak, kurang ajar sekali menyuruh komandan jenderal Kopassus sesuai perintah sang reporter. Tidak disangka Doni Munardo menurut apa yang diperintahkan reporter. Bahkan tidak segan-segan Doni Munardo memberi usulan wawancara dilakukan di dekat pohon Mahoni, yang dua tahun lalu ditanam Kopassus. (091214)

February 10, 2014

Pelukan Bahagia

Filed under: Warna Warni — rani @ 6:36 pm

Bagaimana rasanya berpelukan dengan seseorang yang mendapatkan kebahagiaan yang tiada terhingga karena keinginan yang diangan-angankan tercapai? Karena saking gembiranya sampai tidak bisa menguasai diri, dia peluk siapa saja yang ada didekatnya sambil bercelotah betapa bahagianya karena keinginan sang cucu kuliah di UI tercapai. Ini periistiwa nyata yang dialami salah seorang mantan dekan salah satu fakultas di UI pada tahun 1980 an. Diceritakan kepada penulis pada hari Minggu (09/02) dengan disaksikan wakil Rektor UI Dr. Adi Zakaria.

Seperti juga orang lain pada umumnya, sebagai seorang yang pernah mengenyam pendidikan tinggi di UI, mengharapkan anak-anaknya juga dapat melanjutkan studi di universitas yang menyandang nama bangsa dan Negara. Kebetulan sang istri pun lulusan UI juga. Jadi kloplah kalau memang suami dan istri alumni UI anaknya pun alumni UI pula. Tidak sampai disitu, ternyata Oom dan tantenya pun lulusan UI juga. Persoalan timbul ketika sang cucu pun ingin masuk UI pula. Dan mengancam kalau tidak diterima di UI tidak mau kuliah di perguruan tinggi manapun. Kalau perlu istirahat dulu setahun, baru tahun berikutnya ikut tes masuk UI lagi. Sang Cucu ini lulusan SMAN 28 tahun 2013.

Sang kakek rupanya merasa khawatir juga kalau sang cucu tidak masuk UI. Tetapi tidak tahu harus berbuat apa, karena sudah lama tidak mengenal perkembangan yang terjadi di UI. Lagipula generasi pimpinan UI saat ini sudah tidak dikenal lagi, karena dari usia juga sudah terpaut jauh. Hal yang bisa dilakukan hanya berdoa, semoga sang cucu berhasil masuk UI.

Ketika berita pengumuman tiba, ternyata sang cucu diterima menjadi mahasiswa UI. Betapa bahagianya sang kakek. Segera saja dia pergi menemui sang cucu. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 tetapi sang kakek tidak peduli, sang cucu harus segera diberitahu sesegera mungkin. Dengan ditemani sang nenek, menuju rumah sang cucu. Pintu rumah setengah digedorkeras-keras. Begitu pintu dibuka, segera saja dia memeluk erat-erat orang yang membuka pintu, sambil mengucapkan rasa syukur yang tiada terhingga. Setelah agak lama memeluk ternyata yang dipeluk diam saja, sang kakek segera melepaskan pelukan dan mengamati siapa gerangan yang dipeluknya. Ternyata pembantu rumah tangga. Sang kakek dan Nenek tertawa terpingkal-pingkal, ternyata salah memeluk orang. (100214)

April 17, 2013

Mesjid Arif Rahman Hakim, Riwayatmu Dulu

Filed under: Warna Warni — rani @ 11:01 am

Cakav Podcast.Kali ini dokumentasi multimedia web UI menayangkan suasana mesjid Arif Rahman Hakim Kampus Salemba Jakarta. Bagi para mahasiswa UI yang beragama Islam, tentu tidak akan lupa dengan Mesjid Arif Rahman Hakim (ARH) yang terletak di Kampus Salemba Jakarta. Pada jaman dulu (1970 an hingga 1980 an) mesjid ini menjadi salah satu pusat kegiatan dan tempat berkumpulnya para aktivis mahasiswa seperti juga mesjid Salman di ITB Bandung. Bahkan beberapa orang tokoh Islam kerapkali memberikan pernyataan-pernyataan yang bernada mengeritik kebijakan pemerintahan Orde Baru dari mesjid ini. Sehingga sempat terjadi, gerak gerik para mahasiswa di lingkungan mesjid diawasi pihak intelijen. Salah seorang tokoh aktivis mahasiswa mesjid ARH, pada kabinet reformasi ada yang menjabat sebagai menteri.

Kemarin secara tidak sengaja ketika melihat-lihat dokumentasi kegiatan UI menemukan cuplikan rekaman video suasana mesjid ARH jaman dahulu. Kalau tidak silap rekaman itu dilakukan tahun 1986. Karena dalam rekaman itu juga ada cuplikan kegiatan pembuatan mimbar untuk khutbah Idul Fitri. Khutbah pada shalat Idul Fitri disampaikan Ibrahim Hasan, Kepala Bulog yang kemudian menjabat sebagai Gubernur Provinsi D.I. Aceh. (Sebetulnya ada rekaman khutbah Idul Fitrinya, tetapi lupa di kaset Betamax yang mana, sehingga belum sempat ditransfer ke format DVD).

Rekaman tentang mesjdi ARH hanya sekilas saja, berdurasi 3 menit 49 detik. Gambar pertama memperlihatkan tempat wudlu di bagian luar, diambil dari lantai 3 Gedung Rektorat. Gambar kemudian diambil dari bawah dekat tempat wudlu wanita. Kemudian beralih menampilkan pohon yang terletak di depan mesjid yang hingga kini setelah renovasi tetap tidak berubah, masuk ke dalam mesjid melalui tempat penyimpanan sepatu/sandal yang dijaga seorang penjaga, lalu menyusuri ruangan utama mesjid dimana para jamaah sedang melaksanakan shalat. Tidak lupa mengambil suasana di ruangan tempat wanita shalat. Sempat meng close up seorang jamaah mesjid, yang ternyata seorang aktivis mesjid ARH (kini menjadi dosen di FKM UI). Bagian akhir merekam suasana kesibukan membuat mimbar untuk khutbah Idul Fitri di halaman depan rektorat.

Kalau membandingkan dengan suasana mesjid ARH sekarang, jauh berbeda sekali. Perbedaan ini mungkin salah satu faktornya karena pengaruh ‘semangat jaman’. Dahulu para mahasiswa UI seperti juga para mahasiswa lainnya di berbagai kampus di Indonesia, dipenuhi dengan ‘semangat berontak’ terhadap kemapanan yang bersumber dari inspirasi kemenangan Ayatullah Rohullah Khomeini yang berhasil menggulingkan pemerintahan Iran pimpinan Syah Reza Pahlevi yang didukung Amerika Serikat. Selain itu, faktor di dalam negeri juga berpengaruh besar, terutama ketika pemerintahan Orde Baru dirasakan sangat menekan dan mencurigai terhadap segala kegiatan keislaman. Ini hanya pendapat pribadi, yang mungkin saja keliru. Tetapi demikianlah yang dapat penulis amati pada waktu itu.(170413)

April 16, 2013

Puncak Kemelut

Filed under: Warna Warni — rani @ 8:45 am

Pada tulisan CAKAV (Catatan Kaki Audio Visual) Podcast kali ini, ingin memberikan informasi tentang puncak kemelut yang terjadi di UI. Peristiwanya terjadi pada tanggal 14 Agustus 2012, ketika berlangsung serah terima jabatan Rektor UI yang berlangsung di Kantor Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Depdikbud Senayan Jakarta. Waktu itu secara resmi jabatan Rektor UI diserahterimakan dari Prof.Dr.der.Sos. Gumilar kepada Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) UI. Kemudian MWA UI mengangkat Prof.Dr. Ir.Joko Santoso, MSc (Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Depdikbud) sebagai Pejabat sementara (Pjs) Rektor UI hingga bulan Oktober, yang diperkirakan sudah akan terpilih Rektor UI yang baru.

Ketua MWA UI Prof.Dr.Said Agil Siradj, dalam pidato sambutannya menyatakan perasaannya mewakili anggota masyarakat dalam MWA UI terhadap kemelut yang terjadi di UI. Dia menyatakan ‘syahwat’/gairahnya untuk berpartisipasi membangun UI langsung turun begitu masuk dalam ‘perdebatan’ para anggota MWA UI yang tiada habis-habisnya. Dalam podcast juga ditayangkan pidato mantan Rektor UI dan Pjs. Rektor UI.

Acara ‘pisah sambut’ ini dihadiri para pimpinan UI dan para anggota Senat Universitas dan anggota MWA UI unsur masyarakat ini, cukup meriah walaupun tidak bisa dipungkiri ada rasa ketegangan diantara para undangan yang hadir. Usai acara, di luar ruangan ada beberapa mahasiswa UI yang berjaket kuning membawa beberapa poster. Kemudian mereka bertemu dan mengadakan dialog dengan Pjs. Rektor UI di ruangan tertutup. Para mahasiswa itu menyerahkan pernyataan sikap sehubungan dengan kegiatan proses pemilihan rektor UI yang tengah berlangsung. http://Podcast.ui.ac.id (160413)