October 27, 2011

Separatisme

Filed under: Uncategorized — rani @ 8:38 am

Dalam suatu kesempatan makan siang disela-sela pertemuan akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) di Sanur Denpasar Bali, pertengahan Oktober lalu, duduklah para pakar di satu meja Bundar. Ada ahli ekonomi, ahli pangan, ahli pendidikan, ahli bioteknologi, ahli astronomi, dan ahli kebudayaan. Diantara para ahli itu duduk menyempil seorang “anak bawang” (penulis).

Duduk satu meja dengan para ahli, memang suatu “kecelakaan” yang tidak disengaja. Gara-garanya, pakar ahli astronomi mengajak duduk di sebelahnya. Untuk menghormati ajakannya maka duduklah penulis disebelahnya. Pada mulanya meja itu sepi-sepi saja. Tetapi tiba-tiba seorang ahli ekonomi terkenal mengambil tempat duduk di depan penulis. Tidak lama kemudian, para ahli lain ikut nimbrung duduk dan mulailah obrolan meluncur dengan topik pembicaraan kesana kemari. Tidak terfokus. Mulai dari membicarakan Kantor Balai Pustaka di Jalan Wahidin yang sudah diambil Departemen Keuangan, sampai membicarakan buku-buku terbitannya hingga buku-buku karya Pramudya Anata Toer.

Ketika topik sampai kepada tata kelola pemerintahan sekarang, pembicaraan sampai juga kepada masalah separatisme yang akhir-akhir ini hangat menghiasi pemberitaan media massa. Salah seorang ahli yang duduk di meja menyatakan kekagetannya, ada satu daerah yang ingin memisahkan diri dari NKRI. Sebelumnya ahli ini tidak pernah mendengar kabar atau berita daerah tersebut ingin mendirikan negara baru. Keheranan ahli ini juga didasarkan pada keadaan alam daerah tersebut yang tergolong miskin dan tidak tersedia infrastruktur yang memadai yang dapat meningkatkan roda perekonomian untuk menyejahterakan rakyat. Ahli ini tidak memasalahkan tentang keinginan untuk memisahkan diri, tetapi yang dikhawatirkan kalau memang terjadi, maka akan menambah jumlah negara-negara miskin di Dunia. Ahli ini kemudian menceritakan bagaimana PBB telah melakukan kesalahan membantu proses kemerdekaan Timor Leste. Setelah merdeka sekian puluh tahun ternyata kehidupan dan kesejahteraan masyarakatnya, tidak lebih baik daripada ketika berada dalam kesatuan NKRI. Sumberdaya alamnya tidak bisa diekplorasi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Dan saat ini negara tersebut masuk dalam kategori negara sangat miskin di dunia.

Lain lagi cerita seorang teman yang pernah bekerja di BPK Provinsi NAD. Bagaimana susahnya mengaudit keuangan pemerintah daerah Aceh. Banyak temuan di dapat, salah dalam hal tata kelola keuangan. Karena ternyata para tokoh GAM yang kini menjadi pejabat pemerintah daerah gaya hidupnya tergolong mewah sementara rakyatnya tetap saja menderita dan miskin.

Contoh yang dikemukakan di atas, menunjukkan betapa tidak mudahnya mengelola tata pemerintahan yang baik untuk menyejahterakan rakyat. Tidak semudah melakukan demo-demo, melontarkan kritik dan ancaman melakukan separatis. (271011)

October 26, 2011

Kalau Orang Bali Berwisata ke Jawa

Filed under: Uncategorized — rani @ 2:21 pm

Ketika ada di Bali untuk mengikuti kegiatan akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) di Sanur Bali pertengahan oktober lalu, Setiap pagi menjelang shalat subuh, kerap terlihat berbis-bis rombongan wisata dari Jawa mampir ke mesjid melakukan di dekat tempat hotel menginap. Beberapa orang yang ditanyai, mereka para siswa berasal dari Blitar, Malang dan daerah Jawa Timur lainnya. Mereka berangkat sore hari dan tiba di Bali menjelang waktu subuh dan tempat yang pertama kali dituju yaitu Pantai Sanur. Setelah itu barulah menuju tempat wisata lainnya, seperti ke Tanah Lot, Pantai Kuta dan lainnya.

Siang ini (26/10), sehabis pulang dari Departemen Perindustrian di jalan Gatot Subroto Jakarta, menyaksikan penandatangnan kerjasama UI dengan BPPT nya Korea Selatan, terlihat puluhan bis diparkir dekat gedung Balaisidang UI Kampus Depok. Nomor plat mobilnya ternyata DK. Ternyata ada 300 an siswa dengan puluhan Guru pembimbing dari SMAN 7 Denpasar, melakukan kunjungan wisata ke Kampus Depok. Mereka mendapatkan penjelasan tentang seluk beluk yang berkaitan dengan pendidikan di UI, disampaikan staf Humas UI Bagian Eksternal. Sayangnya karena waktunya terbatas, mereka tidak sempat melihat lebih jauh keadaan kampus Depok. Konon katanya, setelah dari UI akan menuju ke Bogor. Bukan untuk melihat istana Bogor, melihat Kebun raya Bogor atau mencicipi asinan Bogor. Ternyata akan menuju satu pura yang cukup besar di kaki Gunung Salak.

Rombongan dari Bali ini datang kemarin. Sudah mengunjungi ITC Cempaka Mas dan Taman Mini Indonesia Indah. Setelah dari Bogor akan langsung menuju Bandung. Di Bandung tempat yang akan dituju yaitu ITB dan studio Trans TV. Usai menikmati suasana kota Bandung, rombongan akan menuju Yogyakarta. Setelah itu barulah pulang kembali menuju Bali. (“kembalikan Baliku Padaku”). Perjalanan memakan waktu seminggu. Kata seorang siswa peserta wisata, setiap peserta dipungut bayaran sebesar Rp 1,6 juta.

Rupanya perguruan tinggi, khususnya UI ternyata menjadi salah satu tujuan wisata para siswa. Tidak hanya dari Jawa, tetapi juga dari luar Jawa. Ditambah lagi dengan adanya “promosi” gonjang ganjing di UI, diduga semakin menambah daya tarik orang untuk berkunjung ke UI. Paling tidak ingin melihat perpustakaan yang katanya terluas di dunia dan pohon Baobab yang hanya ada di Kampus Depok. Tetapi sayangnya hal ini ternata belum dilirik para wira usahawan mahasiswa. Misalnya dengan membuat cendera mata yang dapat dibawa para wisatawan, atau memberikan jasa memandu keliling kampus Depok.(261011)

October 25, 2011

Menemukan Dokumen Lama

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:48 am

Kamis minggu lalu (20/10) ketika mencari berkas-berkas lama di lemari yang nyaris hampir dibuang, ditemukan bahan dokumentasi penting. Yaitu Buku tipis Sejarah universitas Indonesia yang diterbitkan Humas UI tahun 1967 dan kliping berita pengadilan mahasiswa UI yang terlibat malapetaka 15 Januari 1974 (MALARI). Tempo hari pernah juga menemukan buku lulusan UI dari tahun 1950 hingga 1975. Beberapa bagian dari isi buku lulusan itu sempat ditulis ulang dan dimuat di milis ini. Sebagai orang yang berkecimpung di bidang informasi, buku-buku tersebut sangat berharga sekali. Paling tidak bisa diinformasikan kepada generasi yang kemudian.

Beberapa waktu lalu sempat juga menemukan satu album foto hitam putih, kegiatan peringatan 10 tahun Arif Rahman Hakim gugur. Acara yang diselenggarakan di Student center kampus Salemba itu, menghadirkan pembicara A.H. Nasution. Waktu itu yang menjadi ketua Dewan Mahasiswa(DM) UI Dipo Alam. Beberapa aktivis mahasiswa UI lainnya juga tampak dalam album tersebut. Bahkan kalau tidak salah A.H. Nasution sempat melakukan pengguntingan pita sebagai tanda peresmian ruang kantin (kalau tidak salah) yang letaknya di bawah gedung student center. Beberapa waktu lalu saat ada acara halal bihalal alumni FMIPA, sempat bertemu dengan Dipo Alam dan menanyakan tentang kepemimpinan dia selama menjadi ketua DM UI. Seingatnya, menjabat Ketua DM UI dari tahun 1975 hingga 1976. Tahun 1977 sudah lulus dan sudah bekerja. Berarti Dipo Alam, menggantikan kepemimpinan Hariman Siregar yang ditahan karena terlibat peristiwa Malari. Tadina ingin bertanya lebih jauh tentang situasi dunia kemahasiswaan setelah peristiwa Malari. Tetapi tidak ada waktu. Namun dia menjanjikan untuk menceritakan pengalaman selama menjadi Ketua DM UI.

Pada saat soft launching Perpustakaan Pusat juga sempat ketemu Dipo Alam dan juga ketua DM UI IPB Mustafa Abubakar, menteri BUMN. Malahan secara khusus menyinggungnya dalam pidato yang disampaikan di depan umum dan menyatakan pertemuan waktu itu sebagai suatu reuni, mengingatkan kembali masa-masa masih aktif dalam dunia kemahasiswaan.Menarik juga ternyata beberapa menteri dalam satu kabinet dulunya, sama-sama aktivis.

Hari minggu kemarin (23/10), seorang teman bercerita bagaimana dia sempat dekat dengan mantan aktivis mahasiswa UI akhir tahun 1970 an dan menjadi salah seorang mantan penghuni asrama kampus kuning (tahanan Nirbaya?) di Bekasi. Bagaimana para aktivis kampus kuning itu setelah keluar tahanan banyak dibantu oleh Kolonel Eddy Nalapraya, (waktu itu) komandan Garnizun yang kemudian menjabat Pangdam Jaya dan dahulu menahan (melindungi?) para aktivis mahasiswa. Bahkan beberapa diantaranya dicarikan pekerjaan oleh Eddy Nalapraya. Hari senin kemarin(24/10) bertemu dengan seorang suami (mantan aktivis mahasiswa UI) yang beristrikan Guru Besar Fakultas Teknik UI. Dia bercerita bagaimana sepak terjang seorang menteri (yang kemudian dilengserkan) mantan aktivis mahasiswa satu perguruan tinggi negeri. Dari dulu memang dia sudah punya karakter begitu, katanya. Waktu teman-temannya ditahan, dia malahan bebas di luar dan jalan-jalan pergi keluar negeri. Jadi sebetulnya karakter orang, bisa dilihat sejak dia menjadi mahasiswa. Ketika dia menjadi pejabat atau pemimpin suatu lembaga/institusi, karakternya tidak akan banyak berubah. Jadi, kalau mau melihat kepemimpinan seseorang, telusuri kehidupannya sewaktu menjadi mahasiswa.(251011)

October 19, 2011

Merekam Gempa di Bali

Filed under: Uncategorized — rani @ 3:24 pm

Tidak pernah terpikirkan sebelumnya akan mendokumentasikan kegiatan gempa di Bali yang terjadi pada tanggal 13 Oktober lalu. Mungkin itulah satu-satunya video yang merekam kepanikan dari para peserta pertemuan organisasi kelanjutusiaan (ageing) se Asia Pasifik yang berlangsung di salah satu hotel Kawasan Sanur Bali.

Hari Jum’at siang (07/10) mendapat perintah harus ke Bali ada acara UI yang harus diliput. Sebetulnya masih banyak tugas yang harus diselesaikan di Kampus. Karena itu, kesempatan ini ditawarkan kepada orang lain barangkali ada yang berminat. Ternyata sampai hari Senin tidak ada yang mau. Maka dengan terpaksa penulis menyanggupi meliput acara tersebut. Pada senin siang itu juga harus segera memberikan nama sesuai KTP untuk dipesankan tiket yang akan berangkat hari Selasa.

Pada tanggal 11 hingga 13 Oktober sebetulnya ada dua kegiatan berlangsung yang berurutan. Kebetulan topiknya sama. Pertama kegiatan akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) yang berlangsung 11 – 12 Oktober dan kedua kegiatan pertemuan organisasi Usia lanjut (ageing) se Asia Pasifik. Karena keduanya membahas topik yang sama, maka kegiatannya pun dilakukan di tempat yang sama. Dihadiri para tamu yang agak sama juga. Misalnya saja ada Syamsuhidayat, Emil Salim, Taufik Abdullah, Bambang Hidayat, Sangkot Mardjuki, Edi Sedyawati, Mayling Oey, Mely G. Tan, Tribudi Rahardjo, suami istri Martha Tilaar, Sediono M. P. Tjondronegoro, Bunyamin, Eko Budihardjo dan lain-ain. Pada hari ketiga kegiatan kebetulan hadir Wakil Mendiknas Fasli Djalal.

Tanggal 11 Oktober purnama penuh di langit Bali. Menjelang magrib masyarakat Bali yang beragama Hindu melaksanakan upacara adat di pura-pura. Seperti juga di Jakarta kalau ada pengajian di salah satu mesjid dengan menghadirkan ustadz yang dikenal masyarakat, jalanan menjadi Macet. Demikian juga di Bali. Pura-pura yang terletak di pinggir jalan menjadi macet, lalu lintas jalan agak terganggu karena adanya konsentrasi massa yang membawa kendaraan untuk melaksanakan ibadah.Dalam beberapa hari ini udara Bali sangat panas. Konon katanya belum pernah turun hujan.

Tanggal 13 Oktober, udara pagi Bali terasa panas, matahari begitu cerah dan suasana jalanan di depan hotel tempat menginap sangat ramai di kawasan Denpasar Selatan ini. Akhir-akhir ini memang jalan-jalan di Denpasar sangat macet. Karena selain banyak orang yang mau berangkat kerja, turis-turis lokal dan mancanegara mulai hilir mudik. Setiap pagi menjelang shalat subuh, di depan hotel tempat menginap selalu saja ada dua hingga lima bis yang parkir, rombongan para pelajar dari Jawa yang baru sampai ke Bali dan akan melaksanakan shalat subuh. Kebetulan di sebelah hotel ada mesjid “Al Ikhlas” yang cukup besar di kawasan pantai Sanur.

Kegiatan pertemuan berlangsung tidak sesuai rencana. Agak terganggu sedikit karena, Fasli Jalal yang seharusnya memberikan sambutan mewakili Menteri Pendidikan, terlambat datang. Sehingga acara dimajukan. Ketika acara berlangsung, Fasli Jalal datang. Terpaksa acara dihentikan, memberikan kesempatan Wakil Mendiknas untuk berbicara. Usai Fasli jalal berbicara, acara dilanjutkan lagi dengan pembicara yang sebelumnya sudah bicara.

Pada saat itulah mulai terasa getaran. Lampu di atas ruangan mulai bergoyang. Tadinya pelan kemudian kencang disertasi dengan suara gemuruh seperti suara kapal yang terbang rendah. Getaran yang cukup kencang hanya berlangsung 30 detik saja. Tetapi membuat panik para peserta pertemuan. Mereka pergi berhamburan keluar ruangan gedung. Tribudi Rahardjo (Ketua pantia pelaksana pertemuan) dan Fasli Jalal (Wakil Mendiknas) yang duduk satu meja segera jongkok dan berlindung di bawah meja. Sementara pembawa acara tetap berdiri di dekat meja dimana Fasli Jalal dan Tribudi Rahardjo berlindung. Ketika yang lain berhamburan keluar, di salah satu meja (bundar) di pojok kanan sebelah depan ruangan pertemuan, masih berlindung dua orang Jepang. Setelah agak lama, ketika orang mulai masuk ruang pertemuan, barulah dua orang tersebut keluar dari bawah meja, sambil tetap melihat ke atas ruangan, untuk meyakinkan diri, bahwa gempa telah telah berakhir dan atap ruangan aman, tidak akan runtuh. Amin.

Itulah pengalaman yang tak akan terlupakan, tanpa sengaja telah merekam suasana kepanikan orang-orang saat terjadi gempa di Bali dengan kekuatan gempa mencapai 6,8 pada skala Richter pada pukul 11.20 WIT. Hanya dengan 30 detik saja. Jangan melihat besar dan kecilnya gempa serta kerusakan yang terjadi. Tetapi bagaimana suatu peristiwa yang tidak terduga dapat didokumentasikan. Itulah kebahagiaan sejati sebagai seorang dokumentator. Rekaman gempa selama 5 menit dapat di lihat di podcast web UI.(191011)

October 6, 2011

Ono Bom, Joko Solo Ojo Loyo

Filed under: Uncategorized — rani @ 4:22 pm

Judul tulisan mengadaptasi dari satu artikel di Majalah Tempo puluhan tahun lalu “loko Solo Kok Loyo”. Joko Solo adalah sebutan untuk Walikota Solo untuk membedakan dengan Djoko Suyanto Menteri Polhukam atau Joko Santoso, mantan Rektor ITB kini Dirjen Dikti Kemendiknas. Atau Djoko Hartanto, mantan Ketua Senat Akademik UI.

Perkenalan dengan Joko Widodo atau lebih akrab dengan panggilan Jokowi bermula pada waktu peresmian pendirian Local Governance Watch (Logowa) Departemen Ilmu Administrasi FISIP UI pertengahan tahun ini. Saat itu Jokowi diundang untuk menceritakan pengalamannya menata kota Solo. Setelah itu penulis juga melihat penampilannya di televisi dalam salah satu acara yang dipandu Tanri Abeng. Dalam dua kesempatan itu Djokowi bercerita bagaimana dia melakukan pendekatan dan berkomunikasi dengan masyarakat bawah. Tidak kurang dari limapuluh dua kali melakukan makan bersama dengan tigartusan pedagang kaki lima, sebelum akhirnya menyatakan maksud sebenarnya memindahkan para pedagang di jantung kota ke luar kota Solo. Dan ternyata sambutannya luar biasa. Para pedagang dengan sukarela mau pindah, bahkan dengan arak-arakan seperti mengantarakan penganten sunat. Di lain kesempatan walikota juga membuat gebrakan, dengan memberikan kartu jaminan kesehatan kepada warga masyarakat, untuk mendapatkan layanan kesehatan gratis di puskesmas dan rumah sakit, mempermudah dan mempersingkat prosedur perijinan usaha, pembuatan KTP selesai satu hari dengan harga Rp 5.000 dan lain-lain. Hasilnya? Jokowi terpilih kembali sebagai walikota Solo untuk kedua kalinya dengan jumlah suara mencapai 98 %, tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Padahal ketika dia mengikuti pemilihan walikota untuk pertama kalinya harus mengeluarkan uang sampai Rp 13 Milyar. Jokowi pula yang berani menentang keinginan gubernur Jawa Tengah yang memberikan ijin kepada salah satu pengusaha untuk membuka supermarket di Solo. Karena dianggapnya justru akan melumpuhkan para pedagang kecil.

Kota Solo yang apik dan resik mulai dikenal masyarakat. Sehingga mulai dilirik dan menjadi salah satu tujuan wisata para pelancong dari dalam negeri dan bahkan para investor dari luar negeri. Kesuksesan menyelengarakan kongres PSSI untuk memilih ketua umum dengan aman dan lancar, menjadi salah satu bukti Solo memang pantas menjadi tempat penyelenggaraan kegiatan seminar atau konferensi tingkat nasional maupun internasional.

Peristiwa bom bunuh diri di Solo (25/09), pastilah sangat mengagetkan semua orang Indonesia bahkan menarik perhatian kalangan internasional. Hal ini sangat merugikan bagi promosi kota solo sebagai tujuan wisata. Seperti juga kasus Bom Bali yang sempat menyurutkan kunjungan wisatawan, “goro-goro bom Solo” maka tidak pelak lagi perisitwa itu membuat orang jadi loyo untuk berwisata ke solo. Apakah Joko pun ikut loyo? Jangan karena “ono bom, Joko Solo loyo.” Maju terus Solo!

September 28, 2011

Ketemu Dipo Alam Ingat IKOSIS

Filed under: Uncategorized — rani @ 4:30 pm

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UI pada hari Sabtu (24/09) menyelenggarakan acara halal bihalal bagi seluruh alumni FMIPA di ruang terapung Perpustakaan Pusat Kampus Depok. Dua orang alumninya yang menjadi menteri hadir dalam acara tersebut. Yaitu Menteri Riset dan Teknologi Suhana Surapranata dan Menteri Sekretaris Kabinet Dipo Alam. Ini adalah pertemuan penulis yang ketiga kalinya dengan Dipo Alam. Dua pertemuan sebelumnya yaitu waktu Soft launching perpustakaan pusat (13/05) dan acara halal bihalal FMIPA UI Januari tahun lalu di Hotel Sahid Jakarta. Penulis jadi teringat kembali peristiwa 35 tahun lalu.

Tahun 1976 kerap terjadi perkelahian antar pelajar di Jakarta. Bukan saja antar sesama pelajar STM, tetapi juga antar pelajar STM dan SMA. Perkelahian dipicu dari hal-hal sepele, misalnya saling lihat-lihatan di bis kota. Persoalan personal antar pelajar diangkat menjadi persoalan sekolah, yang akhirnya secara berombongan menyerbu ke sekolah. Waktu itu sekolah yang selalu menjadi biang perkelahian dan dikenal sangat garang yaitu para siswa STM Poncol di Jalan Jenderal Suprapto (dekat stasiun Senen) dan STMN I di Jalan Budi Utomo.

Untuk mengatasi perkelahian, Kantor Wilayah Pendidikan DKI Jakarta mengumpulkan para pengurus OSIS SLA se DKI melakukan berbagai kegiatan bersama di wisma Arga Mulya Tugu Puncak Bogor. Dalam kegiatan tersebut dilakukan ceramah dan pembekalan yang disampaikan oleh pelatih pramuka. Waktu itu baru kenal dengan kak Idik Sulaeman dan Bunda Bunakim. Keduanya biasa melatih para peserta pasukan pengibar Bendera Pusaka tingkat nasional. Usai kegiatan di Puncak, para pengurus OSIS mendapat tugas baru, menyelenggarakan kegiatan bersama yang melibatkan seluruh siswa SLA se DKI Jakarta. Akhirnya diputuskan melakukan kegiatan lomba gerak jalan. Star dimulai dari Silang Monas sampai bunderan senayan. Lalu kembali lagi finis di Silang Monas. Pemberian hadiah gerak jalan sekaligus peresmian pendirian Ikatan Keluarga Organisasi Siswa Intra Sekolah (IKOSIS) dilakukan di Jakarta Theatre. Dan yang meresmikan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Foto bersama pengurus IKOSIS dengan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin sempat dimuat di halaman pertama harian Kompas.

Satu saat IKOSIS diundang ikut seminar dan dialog dengan pengurus Dewan Mahasiswa (DM) UI di Student Center Kampus Salemba. Waktu itu ketua DMUI UI dijabat Dipo Alam (1975-1976). Penulis sangat terkesan dengan kegiatan tersebut, terutama dengan suasana kehidupan kampus. Perkembangan berikutnya, para pengurus IKOSIS “dirangkul” Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) yang baru berdiri, ketuanya David Napitupulu. Waktu itu suasana mulai “panas” karena mendekati Pemilu 1977. Karena tidak setuju dengan kedekatan IKOSIS ke KNPI, penulis tidak terlalu aktif lagi di IKOSIS. Akhir tahun 1980 an bertemu lagi dengan teman yang dulu aktif di IKOSIS, sudah menjadi dosen di FIB UI. Ternyata mendapatkan jodoh aktivis KNPI yang dulu selalu membimbing IKOSIS.

Juli lalu, penulis sempat menghadiri peringatan 35 tahun IKOSIS di Cipete Jakarta Selatan. Sempat bertemu dengan Ketua IKOSIS angkatan pertama (1976) dan juga dosen FIB bersama suaminya. Penulis masih ada kenangan tertentu dengan IKOSIS khususnya dengan dosen FIB. Karena tanggal kelahirannya sama persis dengan penulis, hanya beda tahunnya saja. Jadi pertemuan dengan Dipo Alam dan peringatan 35 tahun IKOSIS tahun ini, menjadi satu kenangan tersendiri. (280911)

September 27, 2011

Trik Mengundang Petinggi Negara Masuk Kampus

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:07 pm

Hari ini (27/09) di kampus UI Depok dilakukan pembukaan kegiatan Olimpaide Sains Nasional (OSN) yang ke-4 dengan sponsor utama Pertamina. Acara dibuka Dirjen Dikti Prof.Dr. Djoko Santoso, dari pihak pertamina diwakili Direktur SDM Rukmi Hadihartini dan Rektor UI Prof.Dr.derSoz. Gumilar Rusliwa Somantri. OSN kali ini diikuti 16.478 mahasiswa perguruan tinggi negeri dan swasta seluruh Indonesia. Temanya yaitu ‘mencetak generasi berprestasi sebagai energy negeri.

Ketua panitia UI Dr.rer.nat. Harris merasa masygul, karena tadinya mengharapkan yang membuka OSN Menteri Pendidikan Nasional. Namun Rupanya Menteri berhalangan hadir. Padahal sehari sebelumnya (26/09) Menteri Pendidikan Nasional sempat datang ke kampus Depok, membuka pameran dan kuliah tentang perubahan Iklim yang dihadiri Menteri Lingkungan Norwegia. Entah benar entah tidak, rupanya di kalangan petinggi Negara ada aturan tidak tertulis, tidak bisa menghadiri suatu acara di kampus dua hari berturut-turut. Biasanya Menteri akan menugaskan kepada bawahannya. Karena itu Ketua panitia Harris bertekad untuk mengundang wapres membuka acara OSN tahun depan. Sehingga kalau Wapres berhalangan akan menugaskan bawahannya, paling tidak setingkat menteri. Dengan demikian Menteri Pendidikan tidak akan bisa “ngeles”.

Perkara mengundang petinggi Negara ke kampus, memang gampang-gampang susah. Tergantung siapa yang mengundang dan topik apa yang akan dibahas. Bagi lembaga kemahasiswaan atau institusi kampus, menjadi suatu kebanggaan tersendiri bila acaranya dihadiri petinggi Negara. Selain akan menjadi liputan berbagai media, juga dapat berdialog dan mengetahui secara langsung tentang suatu kebijakan di level Negara. Dan petinggi yang kerapkali datang ke Kampus Depok yaitu Yusuf Kalla. Dari Catatan penulis, sewaktu Yusuf Kalla menjadi Wapres sempat meninjau lab IHVCB di Kampus Salemba. Hadir dalam suatu acara yang diselenggarakan FISIP UI. Setelah tidak jadi Wapres, sempat memenuhi undangan BEM Fakultas Hukum UI sebagai Ketua PMI dan juga menjadi pembicara pada acara mahasiswa Fakultas Ekonomi UI tentang proses pembuatan kebijakan pemasyarakatan pemakaian kompor gas bagi rumah tangga. Suatu saat satu kelompok mahasiswa UI mengundang seorang menteri untuk menjadi narasumber satu seminar di dalam kampus. Menteri yang diundang sudah setuju untuk datang dan menjadi pembicara. Sehari sebelum acara, staf menteri menanyakan kepada petinggi fakultas bersangkutan tentang seminar yang akan diadakan esok hari. Jawaban dari petinggi fakultas menyatakan, tidak ada laporan atau undangan ke pihak fakultas mengenai acara seminar. Langsung saja sang menteri memerintahkan staf bawahannya untuk mewakili menjadi pembicara pada acara seminar tersebut.

Tetapi yang terjadi pada tbulan Oktober tahun 1980 lain lagi. Para mahasiswa yang sedang menggelar satu acara di Student center kampus Salemba sempat panik. Karena yang datang ke kampus bukan petinggi Negara, melainkan bawahannya. Bukan mau menjadi pembicara, tetapi mau membubarkan acara seminar dengan memakai popor senjata. (270911)

September 23, 2011

Gumilar Pernah Bercita-cita Jadi Dokter

Filed under: Uncategorized — rani @ 10:54 pm

Tidak semua orang tahu kalau Prof.Dr. Der Soz Gumilar Rusliwa Somantri pernah bercita-cita menjadi dokter, seperti halnya pamannya (alm) Prof.dr. Udin Syamsudin, yang sempat menjabat Wakil Dekan Bidang Administrasi dan Keuangangan fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).

Tahun 2007 para mantan penghuni asrama mahasiswa Daksinapati Rawamangun mengadakan acara halal bihalal. Tempatnya di lantai dasar Gedung Pusat Administrasi Universitas Kampus Depok. Kegiatan yang rutin dilakukan setiap tahun ini biasanya dihadiri para mantan penghuni lintas angkatan dan lintas fakultas. Jadi tidak memandang lagi mahasiswa UI angkatan tahun berapa. Ada pola komunikasi khas, yang justru dapat mempersatukan para mantan penghuni asrama daksinapati. Kalau seseorang menyapa dengan perkataan “Biisaaa!” kemudian yang disapanya menjawab dengan perkataan yang sama, maka dapat dipastikan keduanya adalah berasal dari kesatuan Korps asrama Daksinapati. Entahlah, apakah ada sapaan yang menjadi ciri khas dari penghuni asrama UI di Pegangsaan Timur dan Asrama Wismarini di Jatinegara.

Pada acara halal bihalal tahun 2007, Rektor UI berkesempatan hadir. kebetulan Rektor baru UI baru saja dilantik pada bulan Agustus 2007.Salah seorang mantan penghuni asrama Daksinapati yang cukup senior yaitu Nursyid Wonoprwiro, SH. Jabatan terakir sebelum pensiun (1988) sebagai Kepala Bagian Umum UI bercerita banyak tentang Rektor UI yang baru. Nursyid yang tinggal di Perumahan Dosen UI Ciputat, menjabat cukup lama sebagai Ketua RT di Kompleks itu. Dia mengetahui banyak tentang keluarga di lingungan Perumahan UI CIputat. Salah seorang diantaranya Prof.dr. Udin Syamsudin.

Menurut Nursyid, selepas lulus SMA dari wilayah Tasikmalaya, Gumilar mencoba peruntungan menjadi mahasiswa baru UI. Untuk itu, dia melakukan persiapan dengan mengikuti Bimbingan Tes yang dikelola Drs. (Med) Siky Mulyono di Jalan A.M. Sangaji Jakarta Pusat. Waktu itu bimbingan tes ini sangat dikenal di masyarakat Jakarta, salah satu bimbingan tes yang para siswanya banyak diterima di perguruan tinggi negeri terkenal di Indonesia. Ketika mengikuti Sipenmaru (Sistem Penerimaan Calon mahasiswa Baru), ternyata tidak berhasil masuk FKUI. Tahun berikutnya ikut lagi, gagal juga. Untunglah dia diterima di FISIP UI. Akhirnya dia berkarir di FISIP UI.

Kalau saja diterima di FKUI, Gumilar akan menjadi adik kelas (angkatan) Dekan FKUI sekarang ini (Dr.dr. Ratna Sitompul, Sp,M). Seperti diketahui hirarkis senioritas di FKUI sangat kental dan ketat sekali. Sehingga seseorang dalam usia muda, tidak mudah untuk menjadi orang nomor satu di FKUI apalagi di UI, walaupun otaknya cemerlang atau menonjol dalam bidang keahliannya. Untunglah memilih disiplin Ilmu Sosial, satu bidang ilmu yang sangat luas dan masih memerlukan banyak ahli. Tetapi yang jelas, Jika Gumilar berkutat di bidang ilmu kedokteran, dapat dipastikan tidak akan bisa menjadi Rektor UI. Itulah barangkali suratan nasib. Gagal di satu bidang terbuka kemungkinan peluang keberhasilan di bidang lain. (230911)

Amalnya Lebih Baik

Filed under: Uncategorized — rani @ 8:37 am

Sekitar dua minggu lalu, ke rumah kedatangan seorang tamu dengan mengendarai sepeda motor. Berpakaian lusuh dengan muka kusut dan jalan dengan tertatih tatih. Kalau bertemu dengan orang ini, hati selalu dipenuhi dengan perasaan mendongkol dan berprasangka negatif. Tetapi karena masih dalam suasana lebaran, untuk menjaga silaturahim, sedapat-dapatnya memendam perasaan itu.

Puluhan tahun lalu, ketika masih berstatus mahasiswa, penulis mengenal seorang anak kecil yang biasa jualan majalah dan Koran di sekitar mesjid Arif Rahman Hakim (ARH) Kampus Salemba UI Jakarta. Dari jualan itulah dia banyak kenal dengan para aktifis mahasiswa dari berbagai fakultas. Perkenalan ini dia jalin terus sampai para aktifis mahasiswa yang biasa suka ke mesjid ARH, lulus dan membina karir di berbagai bidang baik di sektor swasta, pemerintahan maupun staf pengajar di UI.

Konon katanya, anak pengecer Koran/majalah ini orangtuanya asli Padang, tinggal di rumah kontrakan di bilangan Salemba Bluntas. Jiwa wiraswastanya menurun dari kedua orangtuanya. Seperti pada umumnya tabiat orang sebrang, terkesang songong, tidak mengenal anggah-ungguh adat orang Jawa/Sunda, orang yang baru mengenalnya akan menilai bertabiat sombong dan percaya diri yang begitu kuat. Raut mukanya selalu “kusut” seperti orang yang belum mandi. Sempat mengecap pendidikan tinggi di salah satu perguruan tinggi swasta, tetapi tidak selesai (DO).

Satu saat di akhir tahun 1980 an, dia ditawari untuk menjual buku alumni UI oleh salah seorang mantan aktivis kampus. Buku yang berisi daftar nama alumni UI dari berbagai fakultas sejak tahun 1970 an itu, terbilang cukup lengkap. Disitu dicantumkan alamat rumah dan kantor para alumni. Dari berjualan buku alumni inilah kehidupan dia sejahtera. Sempat mempunyai empat rumah di Jakarta, Bekasi dan Cikarang. Kemudian mempunyai istri. Mulailah malapetaka menimpa. Jualan buku alumninya tidak selaris dahulu, penghasilan semakin surut. Atas saran istrinya, rumah yang di Bekasi dan cikarang satu demi satu dijual untuk menutupi kebutuhan kehidupan sehari-hari.

Akhirnya dia berwiraswasta secara serabutan, menjuala buku-buku Islam, menjual pakaian/kaos dan lain-lain. Untuk mendapatkan modal, dia meminta bantuan kepada para alumni UI yang dia kenal sewaktu masih berjualan Koran/majalah di Kampus Salemba. Terkadang meminta bantuan untuk membeli obat ibunya yang sakit. Atau suatu waktu dia minta bantuan untuk membayar listrik yang sudah menunggak beberapa bulan. Satu kali minta bantuan untuk membayar cicilan motor, modal untuk mengojek. Bukan uangnya yang jadi masalah, tetapi cara memintanya yang memaksa serta selalu minta sesuai dengan jumlah yang dia kehendaki, yang membuat orang kesal. Hal ini juga yang dikeluhkan oleh teman-teman yang pernah membantunya. Karena cara-cara pemaksaan seperti itulah, teman-teman yang dulu suka membantunya, selalu menghindar kalau kedatangan dia ke kantor atau ke rumah. Satu saat dia pernah ditawari satu pekerjaan oleh salah seorang alumni UI. Tetapi karena gajinya dibawah upah minimum, dia menolaknya.

Suatu kali dia pernah bercerita, di Kampung istrinya di daerah Jawa Tengah, dengan bantuan modal sekedarnya, dia berhasil menggerakkan masyarakat untuk membangun sebuah mesjid, yang belum pernah ada sebelumnya. Kalau menilik secara lahiriah, pada dirinya tidak terlihat sebagai seorang muslim yang saleh. Tidak pernah terlihat pakai sarungan, memakai baju koko dan kopiah haji. Bahkan di jidatnya tidak terlihat titik atau benjolan hitam sebagai tanda orang sering bersujud shalat. Tetapi dia mampu menggerakkan masyarakat untuk membangun sebuah mesjid. Satu hal yang luar biasa. Penulis sendiri yang cukup berpendidikan, banyak bergaul dengan kalangan yang mengerti agama, banyak mempelajari tentang keislaman serta sering menghadiri ceramah agama belum tentu bisa membangun mesjid. Tetapi penulis yakin, kedekatan dia dengan komunitas mesjid kampus sewaktu kecil, banyak menginspirasi dia untuk beramal.

Orang yang paling baik di sisi Allah, adalah orang yang lebih banyak amalannya. Amalan inilah yang menenentukan seseorang di akhirat kelak kemudian hari, termasuk golongan manusia manakah kita ini. Di hari penghitungan nanti, manusia akan dinilai , apakah amalan baiknya lebih banyak daripada amalan tidak baiknya. Maka jika kita bertemu dengan orang lain, paling tidak inilah yang harus menjadi salah satu kriteria untuk melihat kualitas keimanan seseorang.(230911)

September 22, 2011

Gumilar Bicara “Ikan Sepat Ikan Lele”

Filed under: Uncategorized — rani @ 12:47 pm

Banyak hal menarik dalam kegiatan Wisuda UI yang berlangsung Jumat dan Sabtu (16/17-09) kemarin di Balairung Kampus UI Depok. Setiap kali wisuda semester gasal yang digabung dengan penyambutan mahasiswa baru Balairung senantiasa penuh sesak, karena dipadati para orangtua wisudawan, para mahasiswa baru dan tentunya para wisudawan yang jumlahnya selalu lebih besar dibandingkan dengan lulusan yang diwisuda pada semester genap setiap bulan Januari/Februari.

Wisudawan semua jenjang pada bulan September tahun ini berjumlah 7.458 orang. Terdiri dari lulusan S1 reguler dan kelas internasional berjumlah 2641 orang. Mereka di wisuda pada hari Jumat siang (16/09). Sementara untuk upacara wisuda Sabtu pagi (17/09) diperuntukkan bagi lulusan profesi (543 orang), Program Spesialis (219orang), Program Magister (2.114 orang) dan Program Doktoral (107 orang). Sedangkan pada Sabtu siang (17/09), berlangsung upacara wisuda untuk 831 lulusan program vokasi/diploma dan 1002 wisudawan program sarjana ekstensi. Ini jumlah yang spektakuler, karena belum pernah terjadi pada wisuda sebelumnya jumlah sebanyak itu.

Wisuda kali ini, dihadiri tamu beberapa universitas dari luar negeri seperti Jepang, Korea, Taiwan, Hongkong, Malaysia, Thailand, Singapura yang menghadiri kegiatan The 8th Conference of Asian Universiy President di Jakarta. kebetulan tahun ini UI menjadi tuan rumah acara tersebut. Para tamu tersebut ikut dalam prosesi upacara, bergabung dengan para anggota Guru Besar dan anggota Senat Universitas, berada di atas panggung. Mereka membawa atribut/kebesaran perguruan tinggi masing-masing.

Rektor UI Prof.Dr.der Soz. Gumilar Rusliwa Somantri yang memberikan pidato pada ketiga upacara wisuda tersebut sangat tenang, tidak berapi-api seperti wisuda yang berlangsung Januari lalu. kalau wisuda lalu Gumilar membacakan pidato dalam bahasa Inggris, pidato kali ini hanya sesekali saja mengucapkan beberapa patah kata bahasa Inggris. Apakah hal ini disebabkan karena ada “gonjang ganjing” yang mengeritik mengenai kebijakan tata kelola UI? entahlah, tetapi seorang teman mengatakan, Gumilar kali ini dalam pidato wisudanya “ikan sepat ikan lele” lebih cepat tidak bertele-tele.(220911)