September 23, 2011

Amalnya Lebih Baik

Filed under: Uncategorized — rani @ 8:37 am

Sekitar dua minggu lalu, ke rumah kedatangan seorang tamu dengan mengendarai sepeda motor. Berpakaian lusuh dengan muka kusut dan jalan dengan tertatih tatih. Kalau bertemu dengan orang ini, hati selalu dipenuhi dengan perasaan mendongkol dan berprasangka negatif. Tetapi karena masih dalam suasana lebaran, untuk menjaga silaturahim, sedapat-dapatnya memendam perasaan itu.

Puluhan tahun lalu, ketika masih berstatus mahasiswa, penulis mengenal seorang anak kecil yang biasa jualan majalah dan Koran di sekitar mesjid Arif Rahman Hakim (ARH) Kampus Salemba UI Jakarta. Dari jualan itulah dia banyak kenal dengan para aktifis mahasiswa dari berbagai fakultas. Perkenalan ini dia jalin terus sampai para aktifis mahasiswa yang biasa suka ke mesjid ARH, lulus dan membina karir di berbagai bidang baik di sektor swasta, pemerintahan maupun staf pengajar di UI.

Konon katanya, anak pengecer Koran/majalah ini orangtuanya asli Padang, tinggal di rumah kontrakan di bilangan Salemba Bluntas. Jiwa wiraswastanya menurun dari kedua orangtuanya. Seperti pada umumnya tabiat orang sebrang, terkesang songong, tidak mengenal anggah-ungguh adat orang Jawa/Sunda, orang yang baru mengenalnya akan menilai bertabiat sombong dan percaya diri yang begitu kuat. Raut mukanya selalu “kusut” seperti orang yang belum mandi. Sempat mengecap pendidikan tinggi di salah satu perguruan tinggi swasta, tetapi tidak selesai (DO).

Satu saat di akhir tahun 1980 an, dia ditawari untuk menjual buku alumni UI oleh salah seorang mantan aktivis kampus. Buku yang berisi daftar nama alumni UI dari berbagai fakultas sejak tahun 1970 an itu, terbilang cukup lengkap. Disitu dicantumkan alamat rumah dan kantor para alumni. Dari berjualan buku alumni inilah kehidupan dia sejahtera. Sempat mempunyai empat rumah di Jakarta, Bekasi dan Cikarang. Kemudian mempunyai istri. Mulailah malapetaka menimpa. Jualan buku alumninya tidak selaris dahulu, penghasilan semakin surut. Atas saran istrinya, rumah yang di Bekasi dan cikarang satu demi satu dijual untuk menutupi kebutuhan kehidupan sehari-hari.

Akhirnya dia berwiraswasta secara serabutan, menjuala buku-buku Islam, menjual pakaian/kaos dan lain-lain. Untuk mendapatkan modal, dia meminta bantuan kepada para alumni UI yang dia kenal sewaktu masih berjualan Koran/majalah di Kampus Salemba. Terkadang meminta bantuan untuk membeli obat ibunya yang sakit. Atau suatu waktu dia minta bantuan untuk membayar listrik yang sudah menunggak beberapa bulan. Satu kali minta bantuan untuk membayar cicilan motor, modal untuk mengojek. Bukan uangnya yang jadi masalah, tetapi cara memintanya yang memaksa serta selalu minta sesuai dengan jumlah yang dia kehendaki, yang membuat orang kesal. Hal ini juga yang dikeluhkan oleh teman-teman yang pernah membantunya. Karena cara-cara pemaksaan seperti itulah, teman-teman yang dulu suka membantunya, selalu menghindar kalau kedatangan dia ke kantor atau ke rumah. Satu saat dia pernah ditawari satu pekerjaan oleh salah seorang alumni UI. Tetapi karena gajinya dibawah upah minimum, dia menolaknya.

Suatu kali dia pernah bercerita, di Kampung istrinya di daerah Jawa Tengah, dengan bantuan modal sekedarnya, dia berhasil menggerakkan masyarakat untuk membangun sebuah mesjid, yang belum pernah ada sebelumnya. Kalau menilik secara lahiriah, pada dirinya tidak terlihat sebagai seorang muslim yang saleh. Tidak pernah terlihat pakai sarungan, memakai baju koko dan kopiah haji. Bahkan di jidatnya tidak terlihat titik atau benjolan hitam sebagai tanda orang sering bersujud shalat. Tetapi dia mampu menggerakkan masyarakat untuk membangun sebuah mesjid. Satu hal yang luar biasa. Penulis sendiri yang cukup berpendidikan, banyak bergaul dengan kalangan yang mengerti agama, banyak mempelajari tentang keislaman serta sering menghadiri ceramah agama belum tentu bisa membangun mesjid. Tetapi penulis yakin, kedekatan dia dengan komunitas mesjid kampus sewaktu kecil, banyak menginspirasi dia untuk beramal.

Orang yang paling baik di sisi Allah, adalah orang yang lebih banyak amalannya. Amalan inilah yang menenentukan seseorang di akhirat kelak kemudian hari, termasuk golongan manusia manakah kita ini. Di hari penghitungan nanti, manusia akan dinilai , apakah amalan baiknya lebih banyak daripada amalan tidak baiknya. Maka jika kita bertemu dengan orang lain, paling tidak inilah yang harus menjadi salah satu kriteria untuk melihat kualitas keimanan seseorang.(230911)

September 22, 2011

Gumilar Bicara “Ikan Sepat Ikan Lele”

Filed under: Uncategorized — rani @ 12:47 pm

Banyak hal menarik dalam kegiatan Wisuda UI yang berlangsung Jumat dan Sabtu (16/17-09) kemarin di Balairung Kampus UI Depok. Setiap kali wisuda semester gasal yang digabung dengan penyambutan mahasiswa baru Balairung senantiasa penuh sesak, karena dipadati para orangtua wisudawan, para mahasiswa baru dan tentunya para wisudawan yang jumlahnya selalu lebih besar dibandingkan dengan lulusan yang diwisuda pada semester genap setiap bulan Januari/Februari.

Wisudawan semua jenjang pada bulan September tahun ini berjumlah 7.458 orang. Terdiri dari lulusan S1 reguler dan kelas internasional berjumlah 2641 orang. Mereka di wisuda pada hari Jumat siang (16/09). Sementara untuk upacara wisuda Sabtu pagi (17/09) diperuntukkan bagi lulusan profesi (543 orang), Program Spesialis (219orang), Program Magister (2.114 orang) dan Program Doktoral (107 orang). Sedangkan pada Sabtu siang (17/09), berlangsung upacara wisuda untuk 831 lulusan program vokasi/diploma dan 1002 wisudawan program sarjana ekstensi. Ini jumlah yang spektakuler, karena belum pernah terjadi pada wisuda sebelumnya jumlah sebanyak itu.

Wisuda kali ini, dihadiri tamu beberapa universitas dari luar negeri seperti Jepang, Korea, Taiwan, Hongkong, Malaysia, Thailand, Singapura yang menghadiri kegiatan The 8th Conference of Asian Universiy President di Jakarta. kebetulan tahun ini UI menjadi tuan rumah acara tersebut. Para tamu tersebut ikut dalam prosesi upacara, bergabung dengan para anggota Guru Besar dan anggota Senat Universitas, berada di atas panggung. Mereka membawa atribut/kebesaran perguruan tinggi masing-masing.

Rektor UI Prof.Dr.der Soz. Gumilar Rusliwa Somantri yang memberikan pidato pada ketiga upacara wisuda tersebut sangat tenang, tidak berapi-api seperti wisuda yang berlangsung Januari lalu. kalau wisuda lalu Gumilar membacakan pidato dalam bahasa Inggris, pidato kali ini hanya sesekali saja mengucapkan beberapa patah kata bahasa Inggris. Apakah hal ini disebabkan karena ada “gonjang ganjing” yang mengeritik mengenai kebijakan tata kelola UI? entahlah, tetapi seorang teman mengatakan, Gumilar kali ini dalam pidato wisudanya “ikan sepat ikan lele” lebih cepat tidak bertele-tele.(220911)

September 16, 2011

Wisuda Tempo Dulu

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:08 am

Skripsi yang kujuduli Tarumanagara: Pertemuan Dua Kebudayaan itu, sudah selesai kususun sekitar bulan Juni 1964. Dengan demikian, kami – aku dan lima orang lain yang harus ujian – sudah siap diuji sekitar bulan Juli 1964 dan dapat mengikuti upacara wisuda di akhir September. Jurusan sudah menentukan tanggal ujian, kami semua sudah bersiap-siap menempuh ujian. Tetapi dua hari menjelang waktunya, kami diberi tahu, ujian terpaksa diundurkan. Semua penguji, bersama dengan hampir seluruh dosen Jurusan Sejarah dan Purbakala harus menghadiri sidang-sidang Panitia Pengisian Diorama Monumen Nasional. Akhirnya ujian dilangsungkan pada bulan Desember 1964.

Sarjana Arkeologi angkatanku mungkin patut dicatat dalam hal keanehan atau keunikannya. Setelah kami semua siap dengan skripsi dan berdasarkan firasat akan lulus ujian, nama kami dimasukkan dalam daftar lulusan tahun 1964 itu. Walaupun diundur, kami masih yakin bahwa ujian akan dapat berlangsung setelah kami pulang dari penggalian di Gilimanuk dan sebelum hari wisuda di akhir bulan September. Karena itu ketika, ketika Benny (Benny H. Hoed, sekarang guru besar emeritus) dari panitia wisuda meminta nama calon sarjana dari Jurusan Arkeologi, aku sampaikan saja nama keenam orang itu. Namun aku berpesan kepadanya, harap diperiksa lagi apakah kami benar-benar sudah ujian sebelum wisuda itu. Rupanya karena kesibukannya, Benny tidak sempat (atau lupa?) melaksanakan yang kuminta itu. Hasilnya, nama kami muncul sebagai sarjana di tahun 1964 itu. Padahal kami baru berhak mengikuti wisuda di tahun berikutnya yang dilangsungkan di Ciputat karena kami baru sampai ke Jakarta bertepatan dengan saat wisuda berlangsung. Nama kami pun terdaftar lagi sebagai wisudawan tahun 1965 sehingga kami muncul sebagai lulusan dua tahun berturut-turut.

Untuk menerima ijazah secara simbolis, sudah diputuskan dua orang lulusan. Lulusan Perempuan Pujiastuti Suratno yang kemudian lebih terkenal sebagai Tuti Indra Malaon dari Sastra Inggris, sedangkan lulusan laki-lakinya sahabat karibku yang bernama Munadi Patmadiwiria alias Mang Alit dari Sastra Indonesia. Namun, menjelang acara penyampaian ijazah itu berlangsung, Tuti mengajukan keberatan kepadaku. Katanya, masa “jodohnya” orang yang tinggi badannya tidak sampai sepundaknya. Lalu ia berkata, sebaiknya aku saja yang menjadi wakil sarjana laki-lakinya. Akhirnya, ketika wakil FSUI diminta maju untuk menerima tabung ijazah dan selempang sarjana dari Pak Kun (Kuncaraningrat.pen) sebagai dekan, kami berdualah yang maju. Maaf ya, Mang Alit. Ini permintaan Si Nenek (julukan kami untuk Tuti setelah ia bermain sebagai seorang nenek dalam sebuah pementasan).

Sampai saat itu, kesarjanaan belum ditandai dengan pemakaian toga seperti yang berlaku kemudian. Para sarjana hanya berpakaian sopan, boleh pakai jas, boleh berbaju batik, tapi harus bersepatu. Lalu dekan tiap fakultas memanggil para wakil lulusan fakultasnya untuk menerima tabung ijazah dan selempang kuning yang secara langsung dikenakan oleh dekan ke bahu wakil lulusan. Itu saja. (160911) (Mengutip dari buku memoar Ayatrohaedi, “65=67 Catatan Acak-acakan dan Cacatan Apa Adanya” penerbit Pustaka Jaya, 2011)

Janji Wisudawan

Filed under: Uncategorized — rani @ 8:42 am

Janji Wisudawan

Kami para wisudawan Universitas Indonesia berjanji:

  1. Akan menjunjung tinggi norma-norma ilmiah dalam lapangan keahlian kami masing-masing.

  2. Akan senantiasa setia dan berbakti pada almamater yang kami cintai dan agungkan universitas Indonesia.

  3. Akan mengabdikan diri kepada rakyat, bangsa serta Negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

September 15, 2011

Wisuda UI dari Waktu ke Waktu

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:44 pm

Salah satu kegiatan akademik yang rutin dilakukan setiap tahun adalah upacara wisuda. Dalam tulisan terdahulu yang mengutip dari buku memoar Ayatrohaedi, 28 September 1961 untuk pertama kalinya UI melakukan upacara wisuda, sehingga tanggal tersebut dinobatkan sebagai Hari Sarjana. Tetapi karena kegiatan wisuda tidak selalu tepat dilakukan setiap tanggal 28 September, akhirnya Hari Sarjana itu tidak berlaku lagi. Hari Jum’at siang (16/09) wisuda program Sarjana (S1) dan Sabtu pagi dan siang (17/09) melaksanakan wisuda Program Program Diploma dan Program Pascasarjana/spesialis/doktor.

Penulis mulai terlibat dalam kegiatan wisuda sejak tahun 1984, Waktu itu dilaksanakan di Gedung Balai Sidang (Convention Hall) Senayan. Dahulu bentuk bangunan masih bulat, tidak seperti sekarang. Prosesi upacara pada dasarnya sama seperti sekarang ini, ada dua wakil wisudawan dari masing-masing fakultas yang maju ke depan lalu diberikan ijazah oleh rektor, kemudian bersalaman dengan rektor dan Dekan. Ada anggota paduan suara dan orkes yang mengiringi saat prosesi upacara, ada pidato wakil wisudawan dan pidato Rektor, juga ada acara penyerahan kendi ilmu dari wisukurang dari dua jam acara bisa terlaksana. Bandingkan dengan acara wisuda yang dilakukan oleh perguruan tinggi lain (waktu itu). Semua wisudawan maju ke depan, rektor memindahkan kuncir pada topi yang dipakai wisudawan dari kiri ke kanan, lalu bersalaman dengan rektor dan dekan. Konon katanya, acara prosesi seperti ini bisa memakan waktu berjam-jam.

Wisuda pertama kali di Kampus Depok, berlangsung tanggal 7 September 1987, dua hari setelah peresmian Kampus Depok oleh Presiden Suharto. Waktu itu karena wisudawan masih sedikit (dibawah 2000 orang), para lulusan program Diploma, Sarjana serta pascasarjana digabung menjadi satu. Ketika produktivitas lulusan makin meningkat dan bertambah banyak, sementara kapasitas ruangan Balairung tidak berubah, mulailah acara wisuda dilakukan beberapa kali. Mula-mula dua kali kemudian berubah menjadi tiga kali. Pertama-tama dilakukan pada hari Sabtu, kemudian duakali berturut-turut setiap hari sabtu dan akhirnya dilaksanakan hari jumat (satu kali) dan hari sabtu (dua kali).

Dalam hal pakaian (toga) yang dipakai para wisudawan pun mengalami perubahan. Kalau dahulu cukup dengan memakai pakaian/jubah hitam dengan memakai warna tertentu yang melingkar di leher para wisudawan, sesuai dengan warna fakultas, maka kini di lengan baju sebelah kanan melingkar warna tertentu. Lengan baju yang tidak ada apa-apa berarti wisudawan program diploma. Di lengan ada satu lingkaran, itu adalah wisudawan program sarjana. Dua lingkaran untuk pasca sarjana dan tiga lingkaran berarti wisudawan program doktor.

Pada masa kepemimpinan Rektor UI Prof.Dr.dr. Asman Boedisantoso Ranakusuma (1997-2002), mulai diterapkan tradisi baru, mengumumkan wisudawan yang lulus tepat waktu dengan IPK kumulatif di atas 3,5 dinyatakan lulus dengan nilai cum laude dan diberikan penghargaan selain sertifikat juga uang senilai SPP satu semester. Tradisi lulusan cum laude ini sampai saat ini terus berlangsung, tetapi tidak lagi mendapat hadiah uang. Pada waktu Kepemimpinan Rektor UI Prof.dr. Usman Chatib Warsa, Sp.MK., Ph.D (2002-2007) ada tradisi baru. Ketua MWA dan Ketua ILUNI UI ikut prosesi upacara dan duduk di sebelah Rektor. Juga ada tradisi, para wisudawan yang sudah menjadi alumni UI itu menyumbangkan sejumlah uang kepada UI yang diserahkan Ketua ILUNI UI kepada Pimpinan UI, yang akan dijadikan dana abadi UI. Uang ini diambil dari paket pembelian toga, undangan dan konsumsi wisudawan. Pada kepemimpinan Rektor Prof.Dr. Gumilar Rusliwa Somantri ada tradisi baru dengan mengundang Rektor/pimpinan perguruan tinggi lain baik di tingkat nasional maupun dari luar negeri, untuk ikut dalam acara wisuda UI.

Untuk memeriahkan suasana wisuda, pada upacara wisuda disajikan lagu-lagu yang dinyanyikan paduan suara mahasiswa dan penyanyi pop/seriosa yang memang sengaja diundang khusus. Inilah salah satu atraksi yang menarik para wisudawan dan undangan. Untuk paduan suara mahasiswa ini pernah memecahkan rekor MURI (2005), karena anggota paduan suara yang menyanyi mencapai 4000 mahasiswa. Sementara untuk penyanyi, pernah mengundang seorang penyanyi cilik berusia 9 tahun dan menyanyikan lagu berirama jazz.

Pada Agustus lalu, penulis baru mendapatkan informasi, kalau konsep janji wisudawan yang setiap kali dibacakan pada saat acara wisuda dibuat Prof.Dr.Sri-Edi Swasono, pada waktu menjabat sebagai Pembantu Rektor III UI pada masa kepemimipinan Rektor Prof.Dr. Mahar Mardjono (1973-1982). Janji wisudawan itu sengaja dibuat, untuk menanamkan nilai-nilai kepada para lulusan, ketika sudah keluar dari UI supaya ingat dan mencamkan terhadap apa yang diucapkannya pada waktu diwisuda.(150911)

September 14, 2011

Kampus Depok dan Demo-demo-an

Filed under: Uncategorized — rani @ 5:33 pm

Kalau saja kampus Depok bisa bicara, pasti dia akan cerita panjang lebar apa saja yang terjadi sejak diresmikan pada 5 September 1987. Sayangnya dia hanya menjadi saksi bisu atas peristiwa yang terjadi selama ini. Seperti juga mayat korban salah satu tindakan kriminal, dia tidak akan bisa bicara apa-apa, jika tidak ada ahli forensik yang menelaah keadaan korban yang kemudian disimpulkan dalam visum et refertum. Mungkin demikian pula, perlu ada orang yang bisa menceritakan tentang peristiwa apa saja yang terjadi di dalam kampus.

Sudah amat kerap terjadi berbagai peristiwa demonstrasi yang dilakukan para mahasiswa dalam menanggapi berbagai peristiwa. Baik peristiwa yang menyangkut kehidupan di kampus, maupun menyikapi peristiwa yang terjadi di luar lingkungan kampus. Tetapi demo-demo itu hanya terbatas menarik perhatian warga kampus saja. Berbeda kalau demo itu dilakukan di Kampus Salemba. Biasanya menarik warga luar kampus untuk melihat, karena dekat dengan jalanan umum. Sehingga tidak tertutup kemungkinan warga luar kampus ikut kegiatan demo dan melakukan kegiatan-kegiatan yang tidak bisa dikendalikan. Konon katanya, itulah salah satu alasan kampus UI pindah ke Depok. Kalau melakukan aksi-aksi demonstrasi tidak akan menarik perhatian warga di luar kampus, sehingga aksi demo pun bisa dikendalikan dan tidak terjadi tindakan destruktif.

Tetapi pernah terjadi ada demonstrasi yang bisa melibatkan masa cukup banyak dan melibatkan semua lapisan warga kampus, baik dosen, mahasiswa maupun karyawan. Yaitu demonstrasi menjelang kejatuhan rezim Orde Baru dan munculnya Orde Reformasi (1998). Semua komponen bersama-sama melakukan demonstasi (dalam kampus Depok). Ada satu demonstrasi, dimana orasi-orasi berlangsung disampaikan oleh pendemo. Seorang Pendi (pegawai FISIP UI) bisa berdampingan melakukan orasi bersama Guru Besar Fakultas Ekonomi Prof.Dr. Sri-Edi Swasono. Kalau dalam kehidupan normal sehari-hari mana mungkin seorang pegawai bisa sejajar bicara dengan seorang profesor dalam suatu forum.

Masih dalam suasana demonstrasi reformasi. Sautu kali rombongan mahasiswa digiring menuju ke garbatama, wilayah kampus yang berbatasan dengan jalanan umum. Di situ, di luar pagar kuning UI sudah siap siaga polisi anti huru hara lengkap dengan tameng dan pentungan serta helm pelindung. Para demonstran diperintahkan untuk duduk di jalanan. Antara para demonstran dengan polisi hanya dipisahkan pagar kuning. Cukup lama juga suasana tegang terjadi di garbatama tersebut. Alhamdulillah, tidak terjadi insiden yang membuat kedua kelompok bentrok. Diantara para mahasiswa yang melakukan demonstrasi tersebut terlihat seseorang yang juga sibuk mengawasi jalannya kegiatan demo. Dia itu adalah Hikmahanto, dosen muda Fakultas Hukum UI. Kini sudah Profesor, salah seorang pakar hubungan internasional.

Dalam kesempatan lain demonstrasi Reformasi di dalam kampus Depok, berlangsung orasi di luar gedung Balairung mengambil tempat di halaman parkir yang dekat ke jalan. Ada panggung sederhana di atas bangunan tempat menyimpan diesel cadangan untuk menyumplai listrik ke Balairung. Pada kesempatan itu, Amin Rais melakukan orasinya dengan didampingi Faisal Basri (dosen FEUI). Dari orasi di mimbar inilah nama Faisal Basri mulai dikenal masyarakat umum, bahkan kemudian diajak bergabung oleh Amin Rais merintis medirikan Partai Amanat Nasional (PAN) walaupun akhirnya Faisal Basri mengundurkan diri keluar dari PAN.

Siang ini (14/09) di Aula Fakultas Ekonomi Majelis Wali Amanat (MWA) UI mengundang komponen warga UI untuk mendengarkan hasil pertemuan Mendiknas dengan MWA UI, pimpinan UI, para Dekan yang berlangsung Selasa malam (13/09) berkaitan dengan kekisruhan yang terjadi di UI. Pada kesempatan itu juga Prof. Hikmahanto akan memaparkan beberapa aspek yang berkaitan dengan hukum. Sementara Faisal Basri akan melakukan orasi. Ini adalah babak baru perkembangan yang terjadi di UI.(140911)

Melihat Kembali Peresmian Kampus Depok

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:32 am

Sudah lama ingin melihat saat kampus UI diresmikan Presiden 5 September 1987. Baru pagi ini mempunyai kesempatan. Ada beberapa hal menarik yang barangkali tidak diketahui orang banyak. Beruntung waktu itu bisa merekam dalam bentuk video, tetapi karena sudah terlalu lama, beberapa bagian pidato dan gambar ada yang tidak jelas. Tetapi pada umumnya masih bisa melihat gambar orang-orang yang hadir pada saat acara tersebut.

Dalam pidatonya, Rektor UI Prof.Dr. Sujudi menyatakan hingga thun 1984, UI menempati kampus yang luasnya 15 hektar, terletak di Salemba, Pegangsaan Timur dan Rawamangun. Waktu itu sudah ada 12 Fakultas dengan 48 program studi dan 7 program diploma. Luas kampus Depok 312 hektar sebagian wilayah kampus berada di wilayah Jakarta (75 hektar). Bangunan untuk gedung-gedung berada di wilayah Depok. Untuk mencitrakan identitas Keindonesiaan, bentuk bangunan tiap-tiap fakultas disesuaikan dengan arsitektur rumah-rumah di seluruh Nusantara, seperti rumah penduduk asli Kalimantan, Baduy/Kanekes, Jawa Barat, Jawa tengah dan lain-lain. Lahan kampus seluas 138 hektar diperuntukkan hutan kota untuk penghijauan dan penghasil udara yang bersih. Gubernur Jawa Barat Yogie S. Memet yang juga mewakili Gubernur DKI Jakarta dalam pidatonya menyatakan Daerah Botabek di Jawa Barat dipersiapkan untuk menjadi penyangga perkembangan pembangunan yang terjadi di Ibukota, termasuk pembangunan kampus baru UI di Depok. Untuk mengantisipasinya telah ada kerjasama antara pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan Provinsi DKI Jakarta. Sementara Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Fuad Hassan mewakili warga UI menyatakan terima kasih secara khusus kepada Presiden RI dengan peresmian Kampus baru UI Depok. Kampus Baru ini akan mendorong peningkatan tugas Tridharma Perguruan tinggi dan kualitas pendidikan.

Dalam amanatnya, Presiden RI Soeharto merasa berbahagia dengan adanya kampus baru UI. Dengan adanya kampus baru ini diharapkan UI dapat meningkatkan dharma baktinya bagai bangsa dan negara, mendorong peningkatan pengembangan ilmu dan teknologi untuk pembangunan. Pemerintah menyadari akan amanat yang tertuang pada Pembukaan UUD 1945 (mencerdaskan kehidupan bangsa). Diharapkan UI dapat meningkatkan produk lulusannya dan ambil bgian salam pembangunan yang adil, makmur dan lestari. Setelah selesai pidato dengan didampingi Mendikbud, Rektor UI, Gubernur Jawa Barat dan DKI Jakarta menekan tombol, terdengar bunyi sirine, lalu layar yang menutupi dinding di bagian panggung sedikit-demi sedikit terbuka, terlihatlah lambang makara UI yang berwarna kuning keemasan. Kemudian Presiden membubuhkan tanda tangannya pada prasasti (yang kemudian akan diletakkand di ruang Balai Kirti, Lantai 1 gedung Rektorat).

Acara selanjutnya ramah tamah. Tamu para undangan mengadakan resepsi di lantai dua, sementara rombongan presiden dan tamu VIP menuju ke lantai 9 (Ruang Senat) untuk ramah tamah dan rehat sejenak. Pada saat rehat itu, Rektor UI menyerahkan pin berbentuk makara UI yang terbuat dari emas untuk presiden dan Ibu negara. Itulah untuk pertama kalinya pin makara diberikan kepada seseorang yang sangat berjasa kepada UI. Sementara Rektor UI sendiri pun belum mendapatkan pin emas makara tersebut. (Selang beberapa waktu kemudian, konon menurut kabar yang belum dikonfirmasikan, UI ingin memberikan gelar doctor honoris causa dalam bidang ilmu politik kepada Presiden Suharto, tapi ditolaknya dengan halus).

Setelah rehat, Presiden beserta Nyonya melakukan peninjauan keliling kampus Depok yang hanya ditemani beberapa orang saja. Sempat juga melihat-lihat rumah kos-kosan mahasiswa di wilayah sekitar desa Kukusan. Rumah kos-kosan itu namanya Rumah Pondokan Tumbuh (RPT) yang dibangun oleh Yayasan Supersemar, salah satu yayasan dimana Presiden Suharto duduk sebagai ketua Dewan penyantun. Yayasan ini pula yang memberikan beasiswa bagi para siswa/mahasiswa di seluruh Indonesia.

Pada acara peresmian kampus ini pula, berkumpul beberapa mantan rektor dan istri rektor, yaitu Nyonya Soemantri Brodjonegoro, Nyonya Nugrohon Notosusanto, Prof. dr. Syarif Thayeb, Prof.Dr. Mahar Mardjono. Ada juga aktris film yang hadir, yaitu Christine Hakim. Para hadirin yang berada di Balairung, usai acara peresmian dihibur para artis dan penyanyi alumni UI , antara lain yaitu Kasino (FISIP), Pepeng (FPsi), Tety Manurung (FKG), Tika Bisono. Ada hal yang menarik juga yang mungkin perlu diketahui generasi sekarang ini, pada saat hadirin menyanyikan lagu Indonesia Raya dan para mahasiswa baru UI menyanyikan lagu generang UI, yang bertindak sebagai dirigen adalah Drs. Max Rukmarata. Inilah sebenar-benarnya dirigen UI yang memimpin pada setiap acara resmi di UI (waktu itu).

Atas inisiatif sendiri, penulis mengajukan usul supaya acara persemian ada dokumentasi video. Waktu orang-orang masih terfokus untuk melakukan dokumentasi foto atau reporter tulis. Dengan modal kamera video JVC pinjaman dari seorang paman, akhirnya penulis dimasukkan dalam kepanitiaan humas UI. Sementara teman-teman penulis lainnya turun meliput atas nama Surat Kabar Kampus (SKK) Warta UI. Ada Satrio Arismunandar, Riza Primadi, dr. Sony Wreksono. Terlihat juga Fotografer majalah Tempo Tegus Suryanto Jamal, wartawan Tempo alumni FISIP, Bunga C. Kedjora.

Percaya tidak percaya, ada isu yang beredar di kalangan kecil staf pengajar UI, usai peresmian Kampus Depok, beberapa orang menduduki jabatan lebih tinggi dari jabatan sebelumnya. Sebutlah ketua Lemtek UI (Konsultan yang mengawasi dan bertanggung jawab terhadap pembangunan kampus Depok) Ir. Todung Barita Lumban Radja, M.Sc, selang bebarapa waktu kemudian menjadi Dekan Fakultas Teknik UI. Gubernur Jawa Barat menjadi Menteri Dalam Negeri, Orang PU yang bertanggung jawab dengan pembangunan Kampus Depok, Radinal Mochtar menjadi Menteri Pekerjaan Umum. Rektor UI menjadi Menteri Kesehatan. Tukang dokumentasi video? Alhamdulillah yah, dari status mahasiswa bisa selesai juga jadi sarjana.(1409110)

September 13, 2011

Kampus Depok Tempo Dulu

Filed under: Uncategorized — rani @ 10:11 am

5 September 1987, peresmian kampus UI di Depok, atau waktu itu disebut Kampus Baru UI. Baru tujuh fakultas yang secara resmi mengadakan perkuliahan di Depok, yaitu Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Fakultas Teknik (FT), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Fakultas Psikologi (FPsi), Fakultas Sastra (FS) dan Fakultas Hukum (FH). Sedangkan fakultas lainnya yang masih mengadakan kegiatan perkuliahan di Kampus Salemba yaitu Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Ekonomi dan Fakultas Kedokteran Gigi, Program Pascasarjana UI serta Fakultas Kedokteran, dan di Kampus Pegangsaan Timur (Ilmu Kedokteran Komunitas dan Mikrobiologi).

Waktu itu, bulan September masih belum ada hujan, Tanah seputar kampus terlihat merah, rumput dan pepohonan masih belum tumbuh. Danau Kenanga yang dikelilingi bangunan mesjid, balairung dan gedung rektorat boleh dikatakan kering, airnya menyusut sampai ke dalam, sehingga bentuk danau seperti cekungan seperti bekas penggalian pasir di daerah Tanggerang tahun 1980 an. Supaya tidak terlihat kering kerontang, konon katanya panitia peresmian pembangunan kampus Depok sampai mengangkut bertruk-truk air untuk mengurangi cekungan danau. Padahal dahulu sebelum menjadi kampus UI, danau ini tidak pernah kekurangan air. Seputar danau ditumbuhi rerumputan dan pepohonan liar yang tingginya mencapai dua meter. Inilah surga bagi burung belibis dan blekok dan menjadi tempat mangkal serta sumber pencaraian makanan unggas tersebut.

Pintu masuk utama ke kampus masih melalui pintu gerbang garbatama yang dekat gedung sekolah, belum ada jembatan layang (karena masih ada satu rumah yang masih tetap bertahan, yang meminta ganti rugi sebesar 1 milyar, sehingga dikenal “gubuk satu milyar”). Kendaraan dari arah depok yang akan menuju ke arah Pasar Minggu harus melintasi rel kereta apa di dekat jalan utama ke kampus Depok. Begitu pula bis kuning (bikun) belum ada. Sarana transportasi dari pintu gerbang utama ke dalam kampus masih dilayani angkot Daihatsu/Suzuki yang berwarna merah dan harus membayar satu kali jalan Rp 50. Stasiun UI sudah berfungsi, walaupun masih sangat sederhana. Begitu pula stasiun pondok Cina, yang memang sudah ada sejak sebelum UI ada di Depok. Bahkan jalan stasiun pondok Cina inilah sebenar-benarnya jalan utama penduduk yang menghubungkan lalu lintas dari margonda raya menuju Kukusan. Jalan ini juga uratnadi lalu lintas para mahasiswa/dosen/karyawan Politeknik Negeri Jakarta yang telah mendiami kampus Depok sejak tahun 1982. Sebetulnya ada penanda khusus jalan ini, di dekat gedung biru sekarang ini tumbuh pohon waru yang batang pohonnya miring sehingga agak menghalangi jalan. Tetapi itulah ciri khas dari jalan stasiun pondok cina ini.

Sepanjang danau mahoni dan puspa yang memanjang mulai dari belakang gedung pusgiwa hingga dekat belakang pusat studi Jepang/belakang Fakultas ekonomi, dulunya berupa lembah persawahan yang dikelola penduduk setempat yang dulu tinggal di kawasan kampus Depok. Ada juga persawahan di dekat hutan Fakultas Teknik, yang terletak di lembah juga. Sehingga pada waktu itu, lengkaplah sudah sarana yang ada di kampus Depok, mulai dari sarana pendidikan, ada danau, ada hutan, ada sawah hingga sarana untuk berisitrahat selama-lamanya (pekuburan).

Pada waktu peresmian kampus Depok oleh Presiden Soeharto di Balairung dihadiri banyak menteri dan pejabat penting di republik ini. Bahkan dihadiri juga para duta besar negara sahabat. Seperti biasanya kalau suatu acara dihadiri RI 1 penjagaan superketat, berbagai kemungkinan dikemukakan. Pihak keamanan presiden sampai bertanya kepada panitia, bagaimana persiapan yang dilakukan, kalau atap balairung roboh. Mereka berpikir sampai ke sana karena melihat di atas gedung berseliweran besi-besi melintang yang beratnya puluhan ton. Ada insiden kecil terjadi di pintu gerbang utama dekat stasiun UI. Seperti biasanya pihak protokoler dan keamanan kampus memeriksa undangan yang dibawa para tamu. Kendaraan pejabat yang ditumpangi Panglima ABRI Jenderal Benny Moerdani pun tidak terkecuali diperiksa juga. Setelah pemeriksaan selesai ternyata mobil balik arah ke Jakarta. Apa yang terjadi? Ternyata ajudannya lupa membawa undangan, ketika ditanyakan pihak panitia tidak bisa menunjukkan undangan tersebut. Panitia sebetulnya mempersilahkan mobil terus menuju Balairung, tetapi Benny Moerdani bersikeras untuk pulang saja. (120911)

September 12, 2011

Makilah eh…Makalah

Filed under: Uncategorized — rani @ 8:05 am

Beberapa orang mahasiswa FSUI telah kukenal sebelum aku menjadi mahasiswa. Perkenalan itu terjadi karena kegiatanku sebagai pengarang. Kami sudah agak sering bertemu dalam kegiatan-kegiatan kepengarangan. Salah seorang yang sudah agak kukenal itu adalah Nugroho Notosusanto. Melalui perkenalan itu aku menyapanya “Mas Nug”. Kebiasaan itu berlanjut ketika kami bertemu lagi di FSUI. Bahkan terus berlanjut ketika ia sudah menjadi dosen dan aku termasuk mahasiswa yang mengikuti mata kuliahnya.

Setelah lulus (1961) Nugroho memperdalam pengetahuannya mengenai sejarah ke Inggris. Sepulang dari sana, ia mengajarkan mata kuliah baru yang sebelumnya tidak pernah diajarkan: Teori dan Metod Sejarah, dan Filsafat Sejarah. Alasannya mengapa kedua mata kuliah itu tidak diajarkan, dapat ditebak, tidak atau belum ada tenaga pengajarnya. Maka, agar dapat mengajarkan kedua mata kuliah itu, Mas Nug dikirim ke Inggris segera setelah lulus sarjana. Banyak yang mengira bahwa Mas Nug mahasiswa Jurusan Sejarah. Padahal bukan. Ia bukan mahasiswa sejarah, karena ketika ia pertama kali mendaftarkan diri sebagai mahasiswa, Jurusan Sejarah belum dibuka. Jika ia mengambil sejumlah mata kuliah sejarah, hal itu lebih merupakan jalan keluar terbaik yang dipilihnya.

Pada masa awal kegiatan akademis di Fakultet Sastra dan Filsafar, hanya ada empat jurusan yang tersedia. Jurusan-jurusan itu adalah Sastra Indonesia, Ilmu Purbakala dan Sejarah Kuna Indonesia, Sastra Inggris dan Sastra Cina. Ketika Mas Nug mendaftarkan diri, ia mendaftar sebagai mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia. Pada masa awal itu, mata kuliah di jurusan itu, lebih cenderung mendidik mahasiswa menjadi ahli filologi. Karena filologi berkaitan erat dengan bahasa, baik yang modern maupun yang kuna, mahasiswa Sastra Indonesia wajib mengikuti mata kuliah bahasa-bahasa itu. Ada bahasa Arab, Bahasa Jawa Kuna, bahasa Sansekerta, bahasa Melayu, dan juga bahasa Jawa. Bahasa Sunda pun dijadikan mata kuliah pilihan. Dosennya mula-mula M.A. Salmun, pengarang gogoda ka nu Ngarora ‘Godaan untuk kaum Muda’ (1951) yang dimaksudkannya sebagai “lanjutan” Baruang ka nu Ngarora ‘Racun untuk Kaum Muda’ karya D.K. Ardiwinata (1914). Setelah berhenti, ia digantikan oleh Rusman Sutiasumarga. Tidak ada pilihan, karena pada masa itu yang berlaku adalah kurikulum tunggal. Jika tidak lulus dalam satu mata kuliah, mahasiswa dinyatakan tidak naik tingkat dan harus mengulang mata kuliah yang tidak lulus itu pada tahun berikutnya. Masih lebih baik, karena di beberapa tempat mahasiswa yang tidak naik tingkat itu diwajibkan mengulang semua mata kuliah di tingkat yang sama.

Rupanya Mas Nug termasuk mahasiswa yang tidak siap menerima semua mata kuliah bahasa itu sama baiknya. Kata teman-teman seangkatan dan teman-teman dekatnya, selalu ada saja mata kuliah yang diujikan tidak memperoleh angka minimal untuk dinyatakan lulus, dan itu mengakibatkan ia harus mengulang di tingkat yang sama. Walaupun yang tidak lulus mungkin hanya satu atau dua mata kuliah, tetap saja tahun berikutnya mahasiswa demikian itu akan terdaftar untuk tingkat yang sama.

Mas Nug terdaftar sebagai mahasiswa FSUI tahun 1952. Di lingkungan kampus Mas Nug tercatat sebagai penggiat di bidang kesusasteraan. Apalagi setelah kemudian terpilih sebagai ketua Senat Mahasiswa (SM). Salah satu kegiatan tahunan yang terlaksanakan setiap tahun semasa Mas Nug menjadi mahasiswa adalah simposium sastera. Dalam simposium yang lingkupnya nasional itu, banyak tampil para budayawan dan seniman sebagai pembicara. Isitlahnya pada masa itu adalah referator karena mereka membawakan referat. Sekarang para pembicara dalam pertemuan ilmiah dikatakan membentangkan kertas atau kerta kerja. Kemudian dikenal istilah makalah.

Sejak tahun 1973, aku mulai menggunakan istilah makalah (diambil dari kebiasaan yang dipakai di kalangan kampus di Malaysia, yang hampir dapat dipastikan diserap dari bahasa Arab) untuk setiap tulisan yang kuhasilkan, baik itu untuk bahan bincangan maupun sekedar tulisan populer untuk surat kabar atau majalah. Artinya aku mengunakan istilah makalah itu pada mulanya untuk mengganti istilah artikel yang masih digunakan secara meluas dan merata. Cukup lama hal itu berlangsung, sampai setelah terlalu sering muncul istilah itu, bukan hanya dalam tulisanku, melainkan dari mereka yang memiliki kewenangan resmi di bidang kebahasaan. Akhirnya istilah makalah pun diterima sebagai pengganti referat, paper, atau working paper. (120911) (mengutip dari buku memoar Ayatrohaedi,”65=67 Catatan Acak-acakan dan cacatan Apa Adanya” terbitan Pustaka Jaya, 2011)

September 9, 2011

“Biang Kerok”

Filed under: Uncategorized — rani @ 8:54 am

Bukan hanya Mas Nug (Nugroho Notosusanto, pen) yang bermasalah. Sejumlah mahasiswa lain yang setelah lulus dikenal sebagai tokoh terkenal baik nasional maupun internasional di bidangnya masing-masing mengalami hal yang sama. Umar Yunus misalnya. Ia terakhir menjabat sebagai guru besar di UM (University of Malaya), juga pernah di Universiti Brunei Darussalam, dan merupakan salah seorang kritikus sastera yang sangat terkenal. Semua orang (yang mendalami sastera) mengakui kepandaian dan kepakarannya untuk bidang kesusasteraan. Mahasiswa bermasalah yang lain di antaranya adalah Harsoyo yang setelah lulus menjadi dosen di IKIP Bandung. Ia juga menjadi salah seorang pendiri dan Pembina FS Unpad di Bandung. Terakhir (sebelum meninggal) menjabat koordinator staf ahli menteri pertahanan dan keamanan. Masih ada Marbangun Hardjowirogo, wartawan yang setelah lulus bekerja di markas Unesco. Paris; Daryanto yang menjadi dosen baik di FS Unpad maupun IKIP Bandung (bersama Harsoyo); dan Husein Wijayakusumah, karyawan LBK yang setelah lulus lalu pindah menjadi dosen di FS Unpad.

Untuk “menolong” mereka, FS menyediakan atau membuka jurusan yang unik: Jurusan Bebas. Mereka yang bermasalah dengan kurikulum tunggal itu, ditampung sebagai mahasiswa Jurusan Bebas. Kebanyakan diantara mereka mengambil mata kuliah widyajana (=antropologi) yang waktu itu belum menjadi jurusan. Mas Nug mengambil widyakala (=sejarah) yang sebagai jurusan baru diresmikan dalam tahun 1956. Tapi karena sebelumnya terdaftar sebagai mahasiswa Sastra Indonesia, ia tidak dapat pindah menjadi mahasiswa Jurusan Sejarah. Demikian juga yang lainnya, kecuali kalau mereka bersedia mengulang sejak awal, tercatat sebagai mahasiswa baru. Agar tidak mengulang, mereka beramai-ramai menjadi mahasiswa Jurusan Bebas itu. Dengan mata kuliah pilihan yang berlainan. Ada yang memilih widyajana, ada yang memilih widyakala. Ada juga yang memilih widyabasa atau widyasastra. Hasilnya mereka semua lulus sebagai sarjana, dan mengukir nama di bidang barunya masing-masing.

Sekembalinya dari Inggris, karir Mas Nug dengan cepat “melesat”. Ia diangkat sebagai pembantu rektor bidang kemahasiswaan dan alumni UI. Ketika Angkatan Bersenjata RI membentuk lembaga yang profesional di bidang kesejarahan, Mas Nug memperoleh kepercayaan untuk mengepalai dan mengembangkan lembaga yang disebut Pusat Sejarah Abri itu. Sehubungan dengan jabatan barunya itu, Mas Nug memperoleh pangkat tituler atau kehormatan sebagai kolonel, , bahkan kemudian menjadi brigadir jenderal. Jabatan pembantu rektor dilepaskan dan hampir seluruh waktunya tercurah di Pusat Sejarah Abri. Menjelang akhir masa tugasnya sebagai kepala Pusat Sejarah Abri, Mas Nug dicalonkan untuk menjadi rektor UI, dan berkat campur tangan para penentu kekuasaan di tingkat pusat, Mas Nug pun menjadi rektor, menyisihkan Prof.Dr. Suyudi yang didukung oleh umumnya orang dalam UI. Prof.Dr. Nugroho Notosusanto menggantikan Prof.Dr. Mahar Mardjono, tokoh yang dalam masa krisis itu berhasil membawa UI melalui celah celah penuh onak, terjal, dan sempit, melaluinya dengan selamat. Pak Mahar yang menjadi rektor selama dua masa jabatan (1973-82) meninggal dalam usia lanjut karena sakit (2001). Aku merasa sangat beruntung karena dapat menyelesaikan disertasi dan melakukan promosi ketika Pak Mahar menjadi rektor.

Dalam masa jabatan Mas Nug sebagai rektor itulah Jurusan Antropologi yang semula berada di lingkungan FSUI dipaksa pindah ke Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), tahun 1983. Kepindahan yang dipaksakan itu sebenarnya bukan sepenuhnya kehendak rektor, karena pejabat itu hanya melaksanakan keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1978-83), Dr. Daud Yusuf, yang menganggap bahwa Jurusan Antropologi di Fakultas Sastra mana pun di Indonesia, lebih bersifat ilmu sosial dan karenanya harus berada di FISIP. Namun anehnya, FS UGM (yang sekarang menjadi Fakultas Ilmu Budaya) tetap mempertahankan Jurusan Antropologi berada di lingkungannya. Seperti juga halnya dengan Fakultas Sastra Universitas Udayana (Unud), Denpasar. Di UGM alasannya karena para dosen tetap bersikukuh menganggap FS adalah rumah mereka yang tepat. Dalam pada itu di Unud alasannya adalah karena universitas itu tidak punya FISIP( di tempat lain singkatannya Fisipol).

Di UI kisahnya lain lagi. Ketika itu pemilihan rektor masih sepenuhnya menjadi wewenang Senat Guru Besar dengan meminta pertimbangan dan saran dari para dekan Fakultas. Karena sebagian guru besar UI berada di FKUI, sangat wajar jika suara terbanyak mencalonkan Prof.Dr. Suyudi dari FKUI untuk menjadi rektor. Kang Suyudi ketika itu menjabat sebagai pembantu rektor bidang akademis setelah sebelumnya menjadi ketua Lembaga Penelitian UI. Peraturan yang ada mengharuskan calon yang diajukan sekurang-kurangnya dua orang, agar ada peluang bagi pengangkatnya di Pusat untuk menentukan pilihan. Maka ketika Senat Guru Besar memilih dua calon itu, muncul dua nama, Prof.Dr. Suyudi dari FKUI, dan Prof.Dr. Harsya W. Bakhtiar dari FSUI. Karena penentu tertinggi sangat menginginkan Prof.Dr. Nugroho Notosusanto menjadi rektor, hasil itu dikembalikan dan harus diulang. Dengan syarat: Prof. Nugroho Notosusanto harus masuk yang dicalonkan. Karena Prof. Nugroho juga dari FSUI, Prof. Harsya kemudian menyatakan mundur dari pencalonan sehingga pilihan hanya tinggal kedua guru besar itu. Hasilnya dapat ditebak: calon dari FKUI meraih perolehan suara terbanyak, antara lain karena juga didukung oleh Dekan FSUI waktu itu, Gondomono, yang sejak awal mencalonkan Prof.Suyudi. Karena penentu tertinggi sudah punya pilihan sejak awal pula, tentu saja yang diangkat menjadi rektor adalah calon unggulannya, Prof. Nugroho. Mas Nug akhirnya tahu juga bahwa dekannya sendiri tidak mendukungnya, sehingga ada kesan sejak diangkat sebagai rektor perhatiannya terhadap FSUI justru sangat kurang. Bahkan dengan mendasarkan kebijaksanaannya pada keputusan Menteri Daud Yusuf itu, ia “mengancam” akan menutup Jurusan Antropologi jika tidak bersedia pindah ke FISIP pada tahun akademis 1983. Maka demikianlah yang terjadi. Sejak tahun akademis 1983 itu FSUI kehilangan salah satu “biang kerok” yang dalam berbagai kesempatan selama berada di bawah satu atap, selalu menjadi saingan atau musuh kabuyutan Jurusan Arkeologi yang sudah kembali menjadi jurusan, bukan lagi sebagai program studi seperti pada masa kepemimpinan Pak Harsya sebelumnya. Ketika Kabinet Pembangunan IV diumumkan, Mas Nug menduduki pos Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, menggantikan Dr. Daud Yusuf yang menurut berbagai kabar yang beredar dianggap tidak pernah sekali juga berbicara mengenai Pancasila. Namun, jabatannya sebagai Rektor UI tidak dilepaskannya karena sisa waktu masa Jabatannya tinggal satu tahun. Sebagai rektor, Mas Nug mengangkat Prof.Dr.W.A.F.J. Tumbelaka, dari FKUI sebagai pembantu rektor bidang akademis sebagai Pelaksana Harian Rektor, dan setelah Mas Nug meninggal, Pak Tumbel – demikian panggilannya – menjadi Pejabat Rektor UI. (090911)

(Mengutip dari Buku memoar Ayatrohaedi “65=67 Catatan Acak-acakan dan Cacatan Apa Adanya” Penerbit Pustaka jaya, 2011)