March 7, 2016

Melancarkan Ketrampilan Menulis

Filed under: Uncategorized — rani @ 1:38 pm

Setelah sekian lama tidak melatih diri, baru kali ini mencoba untuk menulis mengeluarkan pikiran dan pengalaman yang dialami dan dilihat. Ini mungkin tulisan pertama setelah tulisan “turun gunung” dimuat di blog ini beberapa waktu yang lalu. Rupanya masih ada kekakuan dalam menulis, karena selama ini lebih banyak menulis di WA atas SMS di HP yang cukup satu dua kata, atau paling banyak satu alinea saja. Nah, ketika untuk menulis di blog yang cukup panjang terasa sekali kebingungannya, kira-kira apa yang mau ditulis. Paling tidak kaidah penulisan jurnalistik harus diikuti supaya “enak dibaca dan perlu”.

Selama ini, waktu dihabiskan untuk melakukan kegiatan pendokumentasian dalam bentuk audio visual. ada beda sekali menulis (shooting) gambar yang bersuara dan bergerak dengan tulisan dengan kata-kata. Seperti kata pepatah, gambar itu merupakan seribu kata, maka gambar bergerak bisa dianggap mencakup sejuta kata. Persiapannya juga berbeda. Dalam menulis gambar yang bersuara dan bergerak (Shooting video) harus memperhatikan pencahayaan, posisi sudut pengambilan dan suara yang akan direkam. ini rumit sekali. Misalnya saja apakah perlu wawancara khusus dengan narasumber yang bicara dalam acara tersebut. ataukah siapa saja yang harus diwawancarai untuk melengkapi dokumentasi itu. dan lain sebagainya. Tapi kalau sudah biasa sih, urusan yang serumit itu bisa mudah dilaksanakan.

Berbeda dengan membuat tulisan, dimana persiapannya tidak serumit “menulis gambar suara yang bergerak”. Tetapi memang harus ditetapkan dahulu ketika akan menulis itu apa yang akan dijadikan satu topik tulisan, kelengkapan apa yang bisa memperkaya tulisan, bagaimana penggunaan bahasa yang dipakai,bahasa ilmiah, subyektif, jurnalistik, atau sekedar menuangkan apa saja yang ada dalam pikiran. Dari sini akan dapat diketahui pola tulisan apa yang akan dibuat, berita singkat, feature, atau lainnya. Inilah barangkali pokok-pokok pikiran yang saya tangkap seketika dalam mempersiapkan suatu tulisan dan melancarkan ketrampilan menulis.(070316)

Pangsiunan

Filed under: Uncategorized — rani @ 1:09 pm

Sejak tanggal 3 Maret hingga 5 Maret 2016, mengikuti program Pra Purnabakti Pegawai Tenaga Kependidikan (tendik) Universitas Indonesia yang diikuti 38 pegawai tendik di lingkungan Pusat Administrasi Universitas (PAU). Kegiatan berlangsung di Bandung.

Keberangkatan rombongan dilepas Warek IV UI Dr. Hamid Chalid, SH., LLM di halaman gedung PAU, didampingi Direktur SDM UI Riani Rahmawati, Ph.D. Dalam sambutannya, Hamid mengatakan, dulu pegawai itu dianggap dan diperlakukan sebagai buruh. Tetapi dengan perkembangan waktu, tumbuh kesadaran untuk lebih memanusiawikannya. maka dibuatlah berbagai kegiatan untuk lebih “memanusiakan” para buruh/pegawai. kegiatan Pra Purnabakti ini merupakan salah satu perhatian pimpinan UI terhadap pegawai UI.

Kegiatan diisi dengan mendengarkan ceramah dari para wirausaha yang telah berhasil, dan menawarkannya, barangkali ada peserta ada yang berminat untuk berwirausaha dan menjadi mitra usaha. selain ceramah, juga dilakukan peninjauan langsung ke lapangan, seperti mengunjungi tempat pembuatan kue kering, melihat dari dekat pabrik bandrek dan budidaya lele Sangkuriang. Peninjauan diakhiri mengunjungi Kebun Rizal di Maribaya Bandung. Pada hari ketiga berkesempatan untuk menikmati suasana di Farm House Lembang Bandung.

Apa yang bisa ditarik manfaat dari kegiatan ini? Paling tidak, bisa mengakrabkan sesama anggota Pra Purnabakti, memperluas wawasan mengenai bidang usaha yang akan dijalani setelah pensiun. Dan yang paling utama adalah melupakan sejenak kejenuhan bekerja dan urusan di kantor. (070316)

October 1, 2015

Turun Gunung

Filed under: Uncategorized — rani @ 10:17 pm

Setelah sekian lama tidak mengisi blog staf, kali ini mencoba kembali untuk menulis mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan keadaan sekeliling kampus. Tujuannya selain untuk meramaikan blog staf juga untuk “menumpahkan” berbagai pengalaman selama 35 tahun bergelut dan berkarya di Almamater. juga untuk mencoba mengejar dan meraih satu prestasi dengan banyak menulis.

Tahun ini pula genap 31 tahun berkiprah dalam bidang audio visual di lingkungan UI. boleh dikatakan merintis merekam berbagai kegiatan UI melalui audio visual. Suatu “kebetulan” yang barangkali sudah diatur dari “sononya” harus berkecimpung dalam dunia dokumentasi.

Sangat sedikit sekali para staf UI (baik dosen maupun tenaga kependidikan) yang mau untuk berbagi pengalamannya serta menuangkan dalam bentuk tulisan di blog staff ini. Inilah barangkali salah satu tujuan sampingan lainnya untuk mendorong dan menuangkan pengalaman para warga Ui dalam bentuk tulisan untuk saling berbagi dan menimba pengalaman.

Semoga saja tulisan-tulisan yang saya tuangkan di blog ini dapat menginspirasi warga UI lainnya untuk membuat tulisan. (011015)

December 9, 2014

Doni Munardo yang saya kenal

Filed under: Uncategorized,Warna Warni — rani @ 5:16 pm

Komandan Jenderal Kopassus Mayor Jenderal (TNI) Doni Munardo, terlambat datang pada acara penanaman pohon di Kampus UI Depok yang berlangsung hari Minggu (07/12). Acara penanaman pohon pun akhirnya diwakili Wadanjen Kopassus Brigjen (TNI) M. Herindra. Dari UI diwakili Wakil Rektor Prof.Dr. Bambang wibawarta MA. Setelah acara penanaman usai selang beberapa waktu kemudian barulah Doni Munardo tiba dan langsung menanam pohon Cerme yang telah disediakan. Cara menanam pohon pun unik. Tanah untuk menimbuni akar pohon ditaburkan memakai telapak tangan telanjang. Setelah dirasa cukup, diteruskan penimbunan dengan memakai cangkul. Ini mengingatkan kepada adanya zat-zat tertentu pada telapak tangan yang dapat menyuburkan tanah, seperti juga kalau kita makan dengan tangan menambah kelezatan pada makanan.

Perkenalan dengan Doni Munardi terjadi beberapa tahun lalu, ketika Kopassus melakukan penanaman pohon di hutan Wales Barat di dekat asrama mahasiswa di Kampus Depok. Waktu itu masih menjabat sebagai Wadanjen Kopassus. Karena ada keperluan yang mendesak penanaman pohon dimajukan mendahului penanaman pohon yang dilakukan Danjen Kopassus beberapa hari kemudian. Hal ini menunjukkan komitmen yang kuat terhadap penghijauan. Bahkan menurut anak buahnya, Doni Munardo tidak segan-segan belajar dan memperdalam tentang seluk beluk dan karakteristik berbagai pohon langka di nagri jiran.

Tidak lama setelah melakukan penanaman pohon di kampus UI Depok, Doni Munardo ditugaskan sebagai Komandan Pasukan Pengawal Presiden (Paspampres). Pada masa ini, penulis bertemu lagi dalam satu acara peresmian pembukaan lembaga nirlaba internasional Latif Jamil Poverty Action Lab (J-PAL) cabang Indonesia yang bekerja sama dengan LPEM-FEUI di Hotel Indonesia. Acara yang diresmikan Presiden SBY dikawal oleh Paspampres.Pada acara itu Doni Munardo kelihatan akrab dengan para reporter. Bahkan sempat tukar-tukaran nomor telepon. Pada kesempatan itu penulis sempat memberikan rekaman video kegiatan mahasiswa UI yang melakukan demonstrasi pada awal reformasi 1998. Tak lupa menitipkan juga satu keping dvd untuk Presiden SBY dan memohon bantuannya minta waktu untuk wawancara dengan presiden seputar peristiwa reformasi. Waktu itu SBY menjabat Kepala Asisten Teritorial ABRI yang bertanggung jawab terhadap keamanan di ibukota. Selang beberapa hari kemudian ada kiriman sms dari Doni Munardo, yang menyatakan terima kasih atas kiriman dvdnya, sambil menyatakan sebaiknya permintaan untuk wawancara dengan Presiden SBY bisa menulis surat ke Sekretariat Negara.

Usai penanaman pohon di kampus UI depok, Doni Munardo masih sempat bincang-bincang dengan Pimpinan UI yang mengusulkan supaya di Kampus Depok disediakan lahan khusus untuk penanaman pohon-pohon langka khas Betawi. Misalnya buah kemang, gandaria, manggis, dan lain-lain. Setelah cukup lama, tiba tiba muncul seorang reporter yang meminta Doni Munardo untuk melakukan rekayasa ulang penanaman pohon. Dalam hati membatin, pasti ditolak, kurang ajar sekali menyuruh komandan jenderal Kopassus sesuai perintah sang reporter. Tidak disangka Doni Munardo menurut apa yang diperintahkan reporter. Bahkan tidak segan-segan Doni Munardo memberi usulan wawancara dilakukan di dekat pohon Mahoni, yang dua tahun lalu ditanam Kopassus. (091214)

September 29, 2014

Pandangan YIM tentang Pilkada

Filed under: Uncategorized — rani @ 10:19 am

PANDANGAN PROF. YUSRIL IHZA MAHENDRA MENGENAI PILKADA LANGSUNG ATAU MELALUI DPRD.

Rezim pemilu di dalam UUD 45 Pasal 22E ayat 2 hanya ada 4 jenis pemilu. Pertama adalah pemilu untuk memilih anggota DPR, pemilu untuk memilih anggota DPD, pemilu untuk memilih anggota DPRD, dan pemilu untuk memilih presiden dan wakil presiden. Pilkada menurut Undang-Undang Dasar 1945 tidak termasuk rezim pemilihan umum.

Kalau otonomi itu diberikan kepada Propinsi, maka pemilihan bupati dan walikota memang bisa diserahkan kepada DPRD. Kalau kita merujuk pasal 18 UUD 45, dikatakan, Gubernur-Wakil gubernur, Bupati-Wakil Bupati, Walikota itu dipilih dengan cara demokratis. Demokratis itu bisa langsung bisa tidak langsung. jadi itu hanya soal pilihan.

Kalau saya lihat manfaat – Mudaratnya sekarang, bagi saya lebih banyak manfaatnya kalau di pilih oleh DPRD kembali. sebab sistem yang kita bangun, pilihan langsung seperti sekarang itu membuka peluang untuk terjadinya korupsi besar-besaran. karena biaya kandidat untuk kampanye itu besar sekali! dan itu sebagian besar digunakan untuk memberi uang kepada para pemilih. darimana mereka uang-uangnya? yah memberi lisensi Izin tambang, izin kebun dan segala macam. akhirnya korupsi terjadi dimana-mana. jadi Korupsi menurut saya hal sistem. Korupsi itu masalah sistem juga. jadi sifat yang kontradiksi.

kita anti korupsi tapi kita buka Pilkada-pilkada seperti itu yang membuka peluang terjadinya korupsi. jadi harus kita habisi korupsi itu dengan sistem, bukan dengan nangkapin orang. Tangkapin orang setiap hari, mau 1000 KPK, mau bikin 1000 penjara tidak akan selesai permasalahannya selama sistem tidak kita benahi.

Begini, Kita semua mengatakan kita ini anti korupsi mau berantas Korupsi, salah satu contoh kita laksanakan Pilkada-pilkada langsung seperti sekarang ini. bukankah Pilkada-Pilkada itu membuka peluang lebar-lebar untuk terjadinya Korupsi? jadikan kita kontradiksi! itu contohnya

Pada waktu mengamandemen UUD 45 tahun 1999 itu, saya tidak terlibat terlalu banyak dalam amandemen itu. saya jadi anggota DPR cuma 23 hari pada waktu tahun 1999. mulanya saya duduk didalam Panitia adhoc MPR tentang perubahan UUD 45, tapi karena saya dilantik menjadi menteri kehakiman maka tugas saya digantikan oleh saudara Hamdan Zoelva yang sekarang ini Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi (Sekarang Ketua MK) Hamdan lah yang meneruskan, menggantikan saya membahas perubahan UUD 45 itu. bunyi UUD tegas, Pasangan calon presiden dan wakil presiden dicalonkan oleh Partai Politik peserta pemilihan Umum. pada waktu itu yang ada dikepala kita para anggota DPR dan MPR, yang dimaksud dengan Pemilihan umum itu ialah Pemilihan umum Legislatif yang 5 tahun sekali yang sudah dilaksanakan sejak tahun 1971 dibawah pemerintahan orde baru dulu. tidak pernah kita membayangkan adanya Pemilihan Presiden di sebut sebagai Pemilihan Umum, tidak pernah terbayangkan dalam pikiran kita Pemilihan Kepala Daerah disebut dengan Pemilu kepala Daerah.

Sekarang ini sudah berganti, dulu disebut Pilkada, Pemilihan Kepala Daerah. Sekarang disebut Pemilu Kada, Pemilu Kepala Daerah. jadi resminya misalnya di kendari Pemilu walikota dan wakil walikota Kendari, Pemilihan umum Gubernur dan Wakil Gubernur propinsi Sulawesi Tenggara.

Jadi yang ada dalam pikiran kita waktu itu Pemilihan umum itu adalah Pemilihan umum legislatif 5 tahun sekali yang dilaksanakan lebih 30 tahun dimasa Pemerintahan Orde Baru nya Pak Harto. jadi ketika dikatakan pasangan Presiden dan wakil Presiden dicalonkan oleh partai Politik Peserta Pemilihan Umum, yang kita bayangkan itu adalah Peserta pemilihan umum Legislatif. dan hanya itulah partai Politik itu. partai tidak ikut dalam pemilihan DPD, Partai tidak ikut dalam Pemilihan daerah, partai tidak ikut dalam pemilihan kepala desa, karena yang bertarung adalah Individu bukan partai. tapi yang bertarung dalam Pemilihan umum dimana Partai secara langsung terlibat hanya dalam pemilu legislatif.

Terkait dengan pemilihan kepala daerah, pemilihan kepala daerah ini amandemen pasal 18. pasal 18 itu hanya mengatakan Gubernur, Bupati dan walikota dipilih melalui cara-cara yang DEMOKRATIS. cara-cara yang demokratis bisa multitafsir, tergantung bagaimana UU menterjemahkannya. mula mula pemilihan oleh DPRD, belakangan Pemilihan langsung.

Saya dari awal sudah tidak setuju dengan pemilihan langsung, tapi sudahlah jalan terus aja. akhirnya diadakan Pemilihan langsung Gubernur, Bupati dan walikota. itu yang terjadi sekarang. Dan ketika diadakan Pemilihan langsung, maka SENGKETA terjadi dimana-mana.

Apakah tidak bisa UU pemilihan Kepala daerah itu mengubah pemilihan cukup oleh DPRD? tidak melanggar UUD, karena UUD mengatakan dipilih secara DEMOKRATIS. Demokratis bisa LANGSUNG bisa TIDAK LANGSUNG !

Jadi kita mengamati apa yang terjadi sejak Pemilukada (Pemilu Kepala daerah) langsung ini, rakyat kelihatannya belum begitu siap menghadapi ini karena kabupaten dan kota itu kecil wilayahnya. orang saling kenal satu sama lain. kalau kabupaten atau kota itu kecil. orang saling kenal satu sama lain, kalau ini dukung si A, dukung si B dukung si C. orang itu tiap hari ketemu juaan dipasar, ketemu diwarung kopi- minum kopi dan itu menimbulkan satu ketegangan antara rakyat sesama rakyat pada level bawah. rakyat belum terlalu dewasa untuk beda politik secara pribadi tidak masalah. perbedaan politik bisa masuk ke wilayah Pribadi, wilayah keluarga, wilayah kampung. calon itu dari kampung ini asalnya,didukung. ternyata menang dari kampung lain, itu bisa jadi masalah antar 2 kampung.

Lalu kemudian merebak apa yang disebut dengan Money Politik. karena untuk membiayai pemilu, Pemilukada itu sangat besar! kadang-kadang untuk pemilihan bupati orang harus menyediakan 30-35 milyar. untuk biaya kampanye, biaya saksi, biaya segala macam termasuk kadang-kadang team sukses, saksi di TPS, korlap, segala macam sampai memberi uang kepada rakyat beli sembako beli segala macam. sebegitu besar biaya habis untuk pelaksanaan pilkada. Gaji bupati berapa? 6 Juta sebulan! kapan bupati itu akan mengembalikan modal untuk menjadi bupati itu? segala macam cara. akhirnya bupati yang kaya sumber daya alam dia akan beri izin-izin tambang, yang punya luas tanah dia akan beri izin-izin kebun kelapa sawit, kebun karet dan segala macam dikasihkan untuk biaya Pilkada kalau dia sebagai incumbent.

2 tahun menjelang Pemilukada gubernur Incumbent memberikan izin kepada penambangan timah dilaut, kasih izin nikel, kasih izin ini itu. kadang-kadang 1 lahan ada 10 macam izin dikeluarkan oleh bupati, walikota Incumbent. Negara rusak gara-gara Pilkada-pilkada ini.

lalu Pilkada itu kalau sengketa diserahkan kepada pengadilan tinggi, entah bagaimana setelah amandemen UU 32 2004 dengan UU 8 2008 kalau ngak salah, maka itu diserahkan ke Mahkamah Konstitusi. saya sendiri yang mendraft UU MK itu tidak bisa mikir bahwa MK itu akan diberikan kewenangan untuk mengadili sengketa Pemilu kada. Hakim MK itu cuma 9 orang. Memang MK dinyatakan salah satu tugasnya adalah mengadili persengketaan Pemilihan Umum, sengketa Pemilu. Pemilu yang dimaksud disitu, Pemilu 5 tahun sekali. tetapi ketika Pilkada diubah menjadi Pemilukada, itu dianggap sebagai area dari Konstitusi maka dikasih ke MK.

Di MK itu hanya 9 Hakim harus memeriksa begitu banyak perkara Pilkada. tahun 2013 terdapat 178 Pemilukada diseluruh tanah air. 90% dibawa ke MK, berarti ada sekitar 160 perkara Pilkada yang dibawa ke MK, diputus oleh MK, kalau setahun ada 360 hari dipotong-potong hari kerja hari libur dan lain-lain kira-kira ada 300 hari, maka 2 hari sekali MK harus memutuskan 1 Perkara Pilkada. bagaimana bisa diharapkan pemeriksaan itu berjalan secara objektif, jujur, adil, tenang pertimbanganpun tidak mendalam. sidang 3 kali langsung diputus. dan akhirnya banyak sekali godaan-godaan, biaya sangat tinggi.

Bayangkan pemilukada kabupaten marauke, Pemilukada kabupaten Diae pecahan kabupaten jaya wijaya di papua, orang yang kalah pilkada itu harus membawa 30 saksi ke jakarta, membawa dokumen segala macam. berapa ongkosnya membawa orang 30 dari kabupaten Diae ke jakarta mereka jadi saksi menginap 1 minggu dijakarta. biaya besar sekali. lalu timbulah macam-macam kritik, saya di tanya sebagai advokat apa anda senang MK tangani Pilkada? ya senang! banyak rejeki.

Bolehkan kita kembalikan lagi pemilihan itu kepada DPRD? sah dari segi konstitusi tidak salah asal UU 32 2004 dan UU 8 tahun 2008 itu diamandemen. kalau terjadi sengketa siapa yang selesaikan saya sudah berikan masukan bahwa baiknya itu dikembalikan kepada Pengadilan tinggi tata usaha negara bukan pengadilan negeri. Pengadilan tinggi biasa-Pengadilan TUN,lebih relevan pengadilan TUN. karena itu keputusan pejabat tata usaha negara. tapi pengadilan tinggi TUN harus mengadili dalam sidang terbuka, bukan baca berkas kayak perkara banding tau-tau sudah ada putusan.

Pengalaman ketika membela Partai dalam sidang pengadilan tinggi tata usaha jakarta melawan KPU, terbuka sidang, fair, saksi dihadirkan. alat bukti dibuka disidang semua, akhirnya KPU dikalahkan. jadi dia selesai di pengadilan tinggi. kalau di sulawesi selatan ada 14 kabupaten, maka itu akan diputus oleh pengadilan tinggi TUN Makassar. selesai sampai disitu. jadi tidak usah dibawa kemana mana lagi. berpekara dekat dan mereka diawasi sama KY. MK malah tidak ada yang mengawasi, karena UU nya dibatalkan oleh MK sendiri.

Jadi kita kembalikan Pilkada itu pada DPRD lebih mudah kita mengawasi. misalnya kabupaten Konawe, Anggota DPR nya 30 orang, Kabupaten Kendari cuma 35 orang. lebih mudah kita awasi yang 35 orang itu daripada mengawasi rakyat sekabupaten. kalau mereka disuap tinggal di tangkap saja, daripada mengawasi orang ribuan. dan mungkin dengan cara itu juga maka akan ditemukan juga calon bupati dan walikota yang lebih berkualitas.

Sekarang ini siapa saja asal punya uang. Banyak Preman jadi bupati. Karena memang Pemilu itu memakan biaya besar dan rakyat baru mau datang Nyoblos itu umumnya kalau dikasih uang. kadang kadang mereka betul juga, saya bicara sama Nelayan, Pak minggu depan ada Pilkada, bapak bagaimana? Pak yusril dia bilang, saya kalau tidak melaut satu hari saya tidak makan. jadi saya tidak pergi melaut 1 hari siapa yang bisa ganti saya pergi melaut? itu barang 100 ribu 200 ribu baru saya tidak melaut, kalau tidak saya pergi melaut saya jadi golput.

Akhirnya Pilkada seperti itu, siapa banyak uang walau tidak semua, umumnya akan menang.

Kalau ditanya kepada saya, bagaimana ya? serahkan lagi kepada Pemilihan langsung? saya pikir silahkan. kalau kemudian ada sengketa, bawalah ke pengadilan tinggi TUN, Gubernur bawa aja ke Mahkamah Agung. tapi pemilihan umum yang 5 tahun sekali itu dan pemilihan Presiden biarlah itu menjadi area Mahkamah Konstitusi. dengan begitu Mahkamah konstitusi tidak terlalu sibuk dengan 9 hakim itu. biar dia fokus pada pengujian UU, putuskan sengketa kewenangan antar lembaga negara, kemudian juga Pemilu. sekarang kalau anda pergi ke gedung MK, Gedung MK itu sudah kayak pasar. ada sengketa Pilkada masing-masing bawa pendukung. hari itu ada 3 sengketa Pilkada di adili, 1 pasangan bawa 100 ada 6 pasangan sudah 600 orang yang ada di Gedung MK. mau jalan saja sudah susah di gedung MK, karena sesak dimana-mana. Itulah yang terjadi… (logikaisme/pahamilah)

April 8, 2013

Cerita Gatotkaca Arahan Kasino

Filed under: Uncategorized — rani @ 9:37 am

Ini cerita lain tentang Gatotkaca, suatu pengalaman yang terjadi pada waktu mengikuti OSPEK (Orientasi Studi Pengenalan Kampus) ketika menjadi mahasiswa baru Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial UI 33 tahun lalu. Masa menjadi mahasiswa baru, masa yang paling indah dan romantik, walaupun penuh dengan penderitaan ( memodifikasi salah satu syair lagu Koes Plus). Walaupun namanya secara berkala berubah-ubah, tetapi yang namanya perpeloncoan atau penggonjlokan dari mahasiswa senior terhadap mahasiswa junior, tetap saja berjalan baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Tetapi disitulah letak romantikanya. Selama kurang lebih dua minggu “sehidup semati” atau istilah waktu itu dinamakan “wan-wan sib” (kawan-kawan senasib) kita menjadi akrab dengan sesama teman seangkatan dan para mahasiswa senior. Bahkan dikemudian hari ada mahaiswa junior yang mendapatkan jodoh dengan mahasiswi senior.

Waktu itu menjadi mahasiswa FIS UI sangat beruntung, karena disela-sela penggojlokan yang dilakukan mahasiswa senior, para mahasiswa baru “dihibur” oleh ulah dua orang alumni yang tergabung dalam grup lawak Warkop DKI. Biasanya menjelang malam hari ketika acara Ospek mau berkahir Warkop DKI hadir menghibur para mahasiswa baru dengan banyolan-banyolannya. Terkadang melibatkan mahasiswa baru untuk turut serta dalam acara banyolan tersebut. Atau dihibur dengan acara dangdutan oleh grup dangdut PSP (Pancaran Sinar Petromak) dimana para personilnya alumni dan para mahasiswa senior FIS UI.

Di lain kesempatan, panitia membuat acara selamatan ulang tahun. Kepada para mahasiswa baru yang berulang tahun diminta ke depan dan diberi kueh agar-agar, dengan catatan. Kue agar harus dimakan dan ditelan tidak boleh dimuntahkan. Tanpa rasa curiga, teman-teman yang berulang tahun memakan agar tersebut.Tetapi kemudian ekspresi wajahnya berubah kecut. Selidik punya selidik, ternyata kue agar itu tak ada rasa manis, karena sudah dicampur dengan bubuk akar tumbuhan brotowali, yang paitnya minta ampun.

Satu kali Kasino membuat acara permainan drama, pemainnya para mahasiswa baru. Mengambil episode tentang Gatotkaca yang ingin mempunyai istri. Para mahasiswa hanya bertugas memerankan tokoh-tokoh tertentu seperti wayang dan mengucapkan apa yang dikatakan Kasino. Singkat cerita, maka Gatotkaca pun mengajukan keinginannya kepada Bima. Terjadilah dialog antara anak dan Bapak. Akhirnya Bima bertanya kepada Gatotkaca, “Apakah kamu sudah kepengen, Gatottt?” Mendengar dialog yang menimbulkan asosiatif berbau nakal ini, membuat para mahasiswa baru tertawa terpingkal-pingkal. Sementara pemeran Bima dan Gatotkaca, malu tersipu-sipu. Itulah yang diingat dan masih terkenang dalam ingatan kepada almarhum Kasino, alumni FIS UI. (080413)

April 7, 2013

Gatotkaca Lair, Sebuah Interpretasi

Filed under: Uncategorized — rani @ 6:37 pm

Boleh setuju boleh tidak. Namanya juga interpretasi. Pengalaman dan pengamatan tiap orang terhadap fenomena yang terjadi dan fakta yang ada bisa menghasilkan interpretasi yang berbeda. Tetapi yang pasti, setiap kali terjadi peristiwa selalu diiringi dengan peristiwa lainnya. Rentetan peristiwa ini dinamakan peristiwa komunikasi, karena mengandung unsur interaksi. yaitu adanya transaksi simbol diantara orang-orang yang terlibat dalam peristiwa tersebut. Menghubungkan dan memaknai simbol-simbol yang terjadi dalam peristiwa itulah yang dinamakan interpretasi.

Pada hari Jum’at (05/04) di Kampus UI Depok pada siang hari diselenggarakan kegiatan pergelaran wayang ruwatan dengan lakon “Murwakala”. Sementara pada malam harinya mulai pukul 21.00 dilaksanakan pergelaran wayang kulit purwa, menampilkan lakon “Gatotkaca lair” dalangnya yaitu Ki Purbo Asmoro, S.Kar.,M.Hum. Kegiatan pergelaran ini bagian dari acara “Wayang Goes to Campus” yang mempunyai tema ‘Bersihkan hati Untuk Kejayaan UI’.

Lakon Gatotkaca Lair, menceritakan tentang kelahiran Gatotkaca putra Bima salah satu Satria Pandawa Lima. Pada saat masih bayi, diminta dewa untuk bertarung dengan seorang raksasa yang mengamuk di Kahyangan. Ketika lahir, tali ari bayi tak bisa putus dan hanya bisa dipotong dengan senjata konta pemberian para Dewa. Itupun hanya berupa sarangka/sarungnya saja, karena isinya dikuasai Adipati Karna. Ajaibnya senjata untuk memutus tali ari masuk ke dalam tubuh Gatotkaca. Singkat cerita Bayi Gatotkaca dibawa ke Kahyangan untuk melawan raksasa. Hanya dengan sekali banting, bayi Gatotkaca sudah tidak bernyawa. Atas kesaktian para Dewa, mayat bayi tersebut dimasukkan ke kawah Candradimuka, setelah air kawah diberi campuran berbagai macam senjata para Dewa. Setelah keluar dari Kawah Candradimuka, bayi berubah bentuk menjadi seorang satria dewasa yang gagah perkasa dinamakan Gatotkaca. Dengan mudahnya Gatotkaca dapat menaklukan raksasa yang mengamuk di Kahyangan.

Bukan satu kebetulan kalau pergelaran wayang kulit di kampus UI ini mengambil lakon Gatotkaca lair. Ada kesamaan kawah candradimuka dengan kampus UI, yang menjadi tempat “menggodok” generasi muda calon pemimpin bangsa. Dan bukan satu kebetulan pula kalau sebelum pergelaran wayang purwa dilakukan terlebih dahulu pergelaran wayang ruwatan, yang berisikan suatu upacara untuk menolak bala. Kaitannya dengan UI, untuk membersihkan kampus dan hati para warganya dalam menyongsong pemilihan rektor UI yang baru. Dan bukan suatu kebetulan pula acara pergelaran wayang ini didukung secara moril dan materil oleh pihak Ditjen Dikti Kemendikbud, dimana Direkturnya merangkap menjabat sebagai Rektor UI. Atas prakarsa Rektor UI pula dapat “menggaet” tim kesenian dari Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, untuk melakukan pergelaran wayang Kulit di kampus UI. Bahkan Rektor ISI sendiri menjadi salah seorang pembicara dalam sarasehan wayang dan ketahanan budaya.

Dengan pergelaran ruwatan dan wayang purwa ini, diharapkan dalam proses pemilihan Rektor UI berjalan lancar. Interpretasi penulis, Pjs. Rektor UI saat ini kerepotan juga menangani UI. Karena tadinya berpikir hanya memegang jabatan rektor (sementara) sampai Bulan Oktober tahun lalu. Rupanya untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, proses pemilihan rektor UI berjalan molor hingga waktu yang tidak bisa ditentukan. Bahkan sudah ada pendapat dari kalangan akar rumput, mempertanyakan kapan UI akan dipimpin orang UI sendiri. Tapi dengan sarasehan kemarin yang bertemakan ketahanan budaya dan ruwatan yang telah dilakukan, mudah-mudahan semua warga UI bisa bertahan dan bersabar menunggu proses pemilihan rektor UI.(070413)

April 4, 2013

Mau Bersaing Tingkat Dunia? Buat Film Wayang

Filed under: Uncategorized — rani @ 4:18 pm

Diantara nara sumber yang bicara pada sarasehan Wayang dan Ketahanan Budaya yang berlangsung Kamis (04/04) di Balairung Kampus UI Depok, pembicara terakhir yang menarik perhatian, yaitu Presiden Direktur Jababeka Setyono Djuandi Darmono. Dia membacakan makalah sambil menayangkan secuplik wayang dalam bentuk film dengan tata suara dolby stereo.

Dia bercerita tentang perkembangan cerita Superman yang tadinya dalam bentuk komik, kemudian difilmkan (1978). Maka mulailah era pembuatan film dari cerita-cerita komik. Hanya dalam jangka waktu 30 tahun, keuntungan dari pembuatan film jenis ini mencapai Rp 50 Trilyun. Andaikan saja cerita-cerita wayang dipindahmediakan ke dalam bentuk film, setelah diadakan perubahan disana sini (misalnya durasinya diperpendek menjadi 30, 60 higga 90 menit), bukan tidak mungkin akan menarik minat para penonton di berbagai negara. Tetapi perlu bantuan dari berbagai pihak dan berbagai kalangan. Diperkirakan dalam jangka 5 – 7 tahun, film wayang ini akan dapat direalisir. Saat ini, di lahan Jababeka telah berdiri movieland seluas 37 hektar. Bahkan telah mendatangkan dan menggaji khusus orang Swedia yang memang ahli dalam hal perfilman.

April 3, 2013

Strategi Kebudayaan Memasyarakatkan Wayang

Filed under: Uncategorized — rani @ 12:10 pm

Selasa siang kemarin (02/04) UI menyelenggarakan konferensi pers, sehubungan akan dilakukan sarasehan ketahanan budaya, pergelaran wayang (potehi, betawi, tavip, kulit), pergelaran tari pameran dan bazaar, dengan tema “Wayang Goes to Campus” , berlangsung Kamis dan Jumat (04-05/04) di Balairung Kampus UI Depok. Dalam kesempatan itu hadir pelaksana harian Rektor UI Prof. M. Anis, Ketua Komunitas Wayang UI Sarlito Wirawan Sarwono, Ketua Panitia Dwi Woro Retno Mastuti, Wakil Ketua Panitia Darmoko dan Pengarah Margaretha K.

Para pembicara pada sarasehan antara lain Gubernur Lemhanas, Dirjen Dikti Kemendikbud, Rektor ISI Solo, Ketua Senawangi, Sekjen Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, Dekan Fakultas Ekonomi. Tujuan kegiatan ini antara lain meningkatkan peran serta fungsi wayang dalam rangka mendukung ketahanan budaya, meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap seni pertunjukkan wayang sebagai warisan budaya dunia serta menjalin keakraban warga UI dengan ILUNI UI. Kegiatan ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya.

Ketika masyarakat dininabobokan oleh media dengan kesenian pop dengan grup musik dari luar dan seni Gangnam style, tiba-tiba saja “menyeruak” pergelaran wayang dan sarasehan tentang wayang dari lingkungan akademik, dalam rangka mendidik dan menanamkan nilai-nilai yang terkandung dalam seni wayang kepada masyarakat yang dahulu kala telah menjadi budaya masyarakat Indonesia, bahkan telah diakui UNESCO (salah satu badan PBB) sebagai warisan budaya dunia. Namun hal ini tidaklah mudah, seperti diakui panitia penyelenggara. Komunitas Wayang UI yang telah berdiri 13 tahun lalu, baru empat kali dapat menyelenggarakan pergelaran wayang di kampus. Keterbatasan dana menjadi kendala utama. Berbeda dengan pertunjukkan budaya pop semacam OVJ, dimana sponsor berbondong-bondong antri. Pergelaran wayang ini sepi sponsor. Bahkan sponsor rokok pun enggan untuk “meliriknya”.

Seorang reporter muda dari satu media bertanya pada Sarlito Wirawan Sarwono, faktor apa yang menyebabkan generasi muda tidak suka terhadap seni wayang. Apa tidak ada inovasi supaya generasi muda menyukai. Diakui Sarlito seni wayang banyak pakem-pakemnya yang tidak bisa dimengerti orang kebanyakan. Masih ada orang tua jaman dulu yang sangat memegang teguh pakem dan “mengharamkan” adanya inovatif. UI mencoba “menengahi” tarik menarik antara yang memegang teguh terhadap pakem yang ada pada pertunjukkan wayang kulit dan yang ingin melakukan inovasi. Karena itu dalam pergelaran nanti, tidak saja mempertontonkan wayang kulit semalam suntuk, tetapi juga ada seni pertunjukkan wayang yang lebih singkat serta pertunjukkan kesenian yang dimainan para mahasiswa FIB UI dengan mengambil seting cerita dalam kehidupan pewayangan.

Bagaimana hasil dari sarasehan dan pertunjukan seni dan pergelaran wayang kulit? Mari kita lihat bersama, apakah banyak dikunjungi penonton, dari kalangan mana saja penontonnya, generasi muda, generasi tua ataukah kalangan intelektual.(030413)

April 2, 2013

UI Mewisuda Mahasiswa?

Filed under: Uncategorized — rani @ 5:29 pm

Judul di atas mengambil sepenggal dari kepala berita utama yang termuat di UI Update edisi 1/Thn V/2013. Mungkin ini baru pertama kalinya di seluruh perguruan tinggi di Indonesia ada mahasiswa yang diwisuda. (Judul asli berita ‘UI mewisuda empatribu mahasiswa’).Oh…ternyata itu salah, kata orang yang mengerti hukum, mahasiswa yang telah lulus ujian dan memenuhi syarat yang telah ditentukan berhak untuk diwisuda atau dinyatakan sebagai lulusan. Jadi tidak mungkin seorang mahasiswa dapat diwisuda sebelum melalui suatu proses yang telah disebutkan tadi. Berarti judul berita itu keliru dan menyesatkan.

Bicara soal keliru atau kekeliruan, banyak hal yang terjadi di UI keliru atau dikelirukan dan dibiarkan keliru terus menerus, kemudian dianggapnya sebagai sesuatu hal yang biasa dan menjadi suatu kebenaran, sehingga tidak perlu dipermasalahkan. Padahal suatu kata atau beberapa kata menjadi suatu kalimat yang mempunyai suatu makna bisa ditafsirkan beragam tanpa adanya satu pedoman/arahan. Kekeliruan bisa terjadi karena yang melontarkan kata kata tersebut tidak memahami dengan benar atau sama sekali tidak tahu tentang pengertian suatu kata.

Suatu ketika UI meraih prestasi yang membanggakan di bidang akademik di tingkat nasional dan internasional. Ini suatu pencapaian luar biasa yang belum pernah dicapai UI sebelumnya. Karena itu perlu diwartakan kepada khalayak umum dan dibuatkan ucapan terima kasih kepada seluruh jajaran UI yang telah membuat kesuksesan itu. Maka dibuatlah poster dan spanduk besar-besaran sebagai ucapan terima kasih kepada berbagai pihak. Tapi sebelum disebar dan dipasang penulis sempat membaca dan menemukan kekeliruan tersebut kepada si pembuat spanduk. Rupanya dia tidak percaya dan meminta bukti dimana letak kekeliruannya. Kemudian penulis memperlihatkan buku AD/ART UI. Disitu tercantum apa yang dimaksud dengan sivitas akademika UI dan apa yang dimaksud dengan warga UI. Akhirnya spanduk dan poster dicetak ulang.

Tapi kita tampaknya tidak mau belajar dari kesalahan masa lalu dan tetap membuat kekeliruan sejenis dan hal itu dibiarkan saja. Kalau pada hari-hari ini kita lihat ada salah satu spanduk besar yang terpasang diseberang stasiun UI akan terlihat satu kekeliruan yang fatal. Apakah betul keberhasilan dan apa yang telah dicapai UI saat ini hanya karena kerja keras staf pengajar dan mahasiswa saja? (020413)