March 16, 2009

Berita Seputar Kampus

Filed under: Mahasiswa Menggugat — rani @ 4:02 pm

AKSI MOGOK KULIAH DI FH-UI TIDAK LANCAR

Mm. 16-3-1978.

Hari Sabtu, 4 Maret lalu, Ketua Koordiantor SM di lingkungan UI, Seto Mulyadi, telah membacakan pernyataan Mogok Kuliah mahasiswa UI. Pernyataan itu dibacakan di depan sekitar 3 ribu mahasiswa UI adalah hasil keputusan para Ketua SM di lingkungan UI” Aksi mogok kuliah tersebut berlangsung dari tanggal 6 sampa.i 26 Maret 1978.

Secara. efektif aksi mogok kuliah mahasiswaa UI itu mulai tanggal 6 Maret 1978 berjalan dengan lancar. Sejak hari iru semua pintu gerbang di kampus Salemba ditutup rapat. Kecuali pintu gerbang dekat Posko UI. Setiap orang yang hendak memasuki UI melalui gerbang ini harus memperlihatkan kartu pengenal. Penja.gaan di pintu gerbang dekat Posko itu masih berlangsung terus setiap hari satu kali dua puluh empat jam.

Para mahasiswa dari 5 Fakultas yang berada. di Kampus UI Salanba. (FK, FT, FE, FKG dan FIPIA) tidak bersedia mengikuti kuliah, meskipun mereka berada di kampus tiap hari. Di kafetaria-kafetaria dah taman FE Salemba selalu diramaikan mahasiswa. Di antara merekaa. ada yang kelihatan berdiskusi serius sedangkan yang lainnya asyik membaca dan bercanda, Kecuali Extention FE-UI, para mahasiswanya terus mengikuti kuliah setiap hari, tanpa menghiraukan pernyataan mogok kuliah mahasiswa UI, Entah kenapa, tidak begitu jelas alasan mereka untuk tidak menghiraukan pernyataan mogok kulia mahasiswa UI.

Di Kampus UI Rawamangun, terlihat setiap hari mahasiswa berkumpul di sekitar taman FS-UI. Mahasiswa. FS-UI, FIS-UI dan FPsy-UI tidak ada yang.mengikuti kuliah di Fakultas mereka masing-masing. Kecuali FH-UI.. Aksi mogok kuliah di FH-UI .tidak berjalan lancar. Karena ada beberapa mahasiswa mengttuti kuliah-kuliah setiap hari. Para pengajar FH-UI nampak selalu hadir dan masuk ruang kuliah setiap hari, sekalipun kuliah-kuliah hanya diikuti segelintir mahasiswa. Pihak dosen yang mengajar tentunya. tidak dapat kita salahkan. Tapi yang disayangkan adalah kehadiran beberapa rekan mahasiswa di ruangan kuliah. Bukankah semua anggotaIKM-UI telah sepakat untuk mogok kuliah ?

Sementara itu didengar pula berita, setiap hari Pudek Bidang Akademis FH-UI ditelepon Laksus yang menanyakan : adakah mahasiswa yang kuliah? Kenapa ruangan nomor sekian tertutup ? Kenapa dosen anu tidak masuk ruangan kuliah ?

Pokoknya hampir setiap aktivitas yang terjadi di FH-UI diikuti oleh intel melayu yang setiap saat beroperasi di Kampus UI Rawamangun.

*****

DIALOG SENAT-SENAT MAHASISWA DI MASING-MASING FAKULTAS DI LINGKUNGAN UI

Mm. 16-3-1978

Hari ini Kamis tanggal 16 Maret, jam 9.00 WIB, khabarnya akan berlangsung dialog antara mahasiswa di masing-masing Fakutas dengan para fungsionaris Senat-Senat Mahasiswa di lingkungan UI.

Menurut informasi dari mulut ke mulut yang beredar di kalangan mahasiswa FH-UI Rawamangun, pertemuan tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan input dari kalangan mahasiswa di masing-masing fakultas dan sekaligus mereka akan memberikan penjelasan-penjelasan tertentu.

Kita harapkan juga dialog semacam ini akan dilakukan juga para fungsionaris Senat-Senat Mahasiswa itu dengan badan-badan otonom kemahasiswaan di lingkungan UI. Toh untuk konsolidasi antar mahasiswa di lingkungan UI tak ada salahnya hal tersebut dilakukan.

*****

SK KAMPUS UNIKA ATMAJAYA TETAP BERJAYA

Mm. 16-3-1978

Di luar dugaan kita, ternyata di Jakarta masih terdapat sebuah suratkabar mahasiswa yang tetap berjaya. alias tetap diijinkan hidup oleh, penguasa. Namanya adalah ATMAJAYA, SK Kampus Universitas Katolik Atmajaya. Anehnya terbitan mereka yang terakhir No. 21/Th II, Januari 1978 baru beredar awal Maret 1978.

Isinya tentu anda semua sudah maklum, pokoknya tidak mengutik-utik penguasa. Misalnya cerita tentang Posma, kegiatan perpustakaan dan lain sebagainya. Salah satu artikelnya yang agak menarik perhatian ditulis oleh Max Boli Sabon berjudul “Demokrasi atau Otokrasi ?” Kami perhatikan tiga alinea dari artikel tersebut.

“DM dan SM se Jakarta, melakukan serangkaian aksi mulai dari masalah kenaikan tarif bis kota, masalah kelaparan menimpa masyarakat Karawang dan akhir-akhir ini malah seluruh DM dan SM di Indonesia bertekat bulat menghendaki terwujudnya suatu pemerintahan yang dari dan untuk kepentingan rakyat seutuhnya. DM dan SM tidak sampai hati melihat penghidupan rakyat semakin sulit, betapapun dikatakan pembangunan Indonesia sudah berhasil dengan adanya kenaikan GNP.”

Senada dengan itu, ABRI juga tidak sampai hati membiarkan rakya serupa itu. ABRI tetap mengabdi untuk rakyat, karena ia lahir dan dibesarkan oleh rakyat. “ABRI tidak rela, bahkan merasa berkhianat apabila kepentingan rakyat terganggu dan terancam”, demikian Menhankam/Bangab, Jenderal TNI M. Panggabean (Suara Rakyat, Senin 23 Januari 1978).

Mahasiswa dan ABRI sependapat, sayang sekali satu pihak dituduk memaksakan kehendaknya dengan tanpa mengindahkan tata-krama, sehingga dengan berat hati, terpaksa pihak yang lain menjatuhkan vonis “Kegiatan Dewan Mahasiswa dibekukan”, demi keamanan dan ketertiban. Bersamaan-dengan itu, tujuh surarkabar telah dilarang beredar, karena, mengekspous berita-berita yang berkenaan dengan aksi-aksi tersebut. Karena itu, seharusnya Dewan Mahasiswa musti minta maaf’ kepada semua. suratkabar itu, karena perbuatannya merekapun ikut jadi beku.” Demikian kutipan dari surat kabar Kampus UNIKA ATMAJAYA, yang masih diberi kesempatan berjaya oleh penguasa. Semoga menjadi catatan kita bersama.

*******

PEMERIKSAAN IDENTITAS MASUK KAMPUS UI SALEMBA BERJALAN LANCAR

Mm. 16-3-1978

Dua kampus Universitas Indonesia, Salemba dan Rawamangun sejak terjadi penggerebekan Student Center UI tanggal 20 Januari 1977 lalu, mendapat penjagaan ketat oleh para mahasiswa UI. Hal itu dimaksudkan untuk menjaga kemungkinan-kemungkinan negatif yang akan dilakukan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Berlainan dengan keadaan sebelum mahasiswa UI menyatakan mogok kuliah, penjagaan di kampus UI Salemba kini lebih di tingkatkan lagi. Kepada setiap orang yang ingin memasuki kampus UI Salemba harus menunjukkan identitas untuk ditahan sementara seperti KTP, Surat Izin Mengemudi, Kartu Mahasiswa atau Surat Keterangan lainnya.

Aksi pengamanan kampus ini dilakukan selama 24 jam. Sedangkan di kampus Rawamangun penjagaan hanya dilakukan pada malam hari saja, tidak seperti di kampus Salemba yang juga memeriksa. identitas.

Menurut Handy Yohandi Komandan Posko UI, pemeriksaan dan penjagaan di Salemba selama ini cukup berjalan lancar. Tapi cara penahanan kartu identitas untuk sementara kurang efektif. Sehingga ketika mengembalikan kartu identitas itu agak lama. Mulai hari ini, kepada setiap orang yang ditahan kartu identitasnya akan diberikan semacam tanda terima bernomor. Selama ini setiap harinya tidak kurang dari 60 kartu identitas yang di tahan, mereka masuk kampus Salemba antara lain ingin melakukan sembahyang di mesjid ARH-UI, mengambil mayat, ke Lembaga Kriminologi UI. Menurut Handy, petugas Laksusda Jaya memuji tindakan peagaman kampus semacam ini.

“Selama ini, kami baru sekali “kecolongan”, ketika 15 orang bersenjata lengkap Senin malam memasuki kampus Salemba (Mm. 14-3-1978) , tiba-tiba mereka telah berada di belakang kami (tempat penjagaan – red), rupanya mereka. masuk dengan meloncati pagar di FK-UI”, dernikian Handy Yohandi mengakhiri keterangammya kepada “Mm” kemarin petang di depan kantor pos Salemba UI .

 

*******

MAHASISWA KKN-UI KEMBALI DARI PANDEGLANG

Mm. 16-3-1978

48 orang mahasiswa UI yang melakukan KKN di Pandeglang Jawa Barat, setelah berkumpul dengan masyarakat setempat selama 3 bulan, sore ini kembali ke Jakarta. Hari Jum’at besok, seluruh mahasiswa peserta KKN UI, juga yang di Jakarta akan menghadiri malam penutup, bertempat di Ruang Konperensi GEMA Kuningan. Mulai jam 18.30.

Kepeda peserta KKN akan diberikan sertifikat. Juga akan hadir pada acara tersebut antara lain Rektor UI, para Dekan dan staf pengajar Universitas Indonesia.

 

*******

 

PAK SLAMET DATANG LAGI

Mm, 16. 3 -1978

Pak Slamet yang namanya di sebut-sebut didalam pemberitaan Mm No. 1 tanggal 13 Maret 1978, ternyata berpangkat Mayor Lengkapnya, Mayor Slamet Singgih. Beliau ini, pada tanggal 14 Maret 1978, Jam 1.00. malam telah menghubungi Posko UI di kampus UI Salemba, sehubungan dengan SK Rektor tentang jumlah mahasiswa Pengamanan Kampus yang katanya masing-masing fakultas maksimal 10 orang.

Ketika Paban Rektor UI., Kapten Donald Siregar dihubungi reporter Mm untuk menanyakan tentang SK Rektor UI tersebut, ternyata ia belum mendapat tembusan SK itu secara resmi. Namun Paban Rektor UI itu mengakui, bahwa ia sudah mengetahui memang ada Surat Pemberi tahuan Rektor UI kepada para Dekan Fakultas dilingkungan UI. Surat pemberitahuan Rektor UI tersebut bernomor : 217/Sek/UI/1978. tertanggal : Jakarta, 9 Maret 1978 – dan di tanda-tangani oleh Rektor UI Prof. Mahar Mardjono. Anehnya, menurut Paban Rektor UI Kapten Donald, secara resmi tidak ada tembusan yang di tujukan kepada Paban Rektor UI dan Posko UI yang selama ini diberi wewenang untuk menjaga keamanan kampus. Tegasnya, tembusan surat pemberitahuan itu hanya ditujukan kepada : Pembantu Rektor III, Para Pembantu Dekan III, dan Para Ex Ketua Senat Mahasiswa, serta Arsip.

*****

STOP PRESS !!!!!

Mm. 16 -3 -1978

Dari sumber yang layak dipercaya, khabarnya para mahasiswa di beberapa Perguruan Tinggi akan bergerak lagi melakukan aksi poster pada hari Jum’at tanggal 17 Maret 1978, Tentu saja sebagai sesama mahasiswa yang punya idealisme untuk menegakkan kebenaran dan kaadilan, setiap gerakan mahasiswa yang didorong oleh motivasi yang sama, pasti akan kita dukung seratus persen.

Sayangnya, seringkali kita lihat gerakan-gerakan mahasiswa itu dilakukan pada hari Jum’at, yang merupakan hari untuk ummat Islam berkumpul melaksanakan ibadah. Hal semacam ini jika dibiarkan berlarut-larut, akan memberi efek politis tertentu kepada ummat Islam umumnya, dan para mahasiswa beragama Islam yang akan melaksanakan ibadah Jum’at pada khsususnya.

Perjuangan menegakan kebenaran dan keadilan, serta perjuangan menentang setiap kebathilan di muka bumi ini, adalah kewajiban bagi setiap pemeluk Islam.

Tetapi, melaksanakan ibadah Jum’at dengen tertib tanpa diganggu oleh hal-hal yang sebenarnya bisa dilaksanakan pada hari dan kesempatan lainnya, juga adalah mutlak. Hukumnya Wajib.

(Sumber: Mahasiswa Menggugat Nomor 2/TH I, 16 Maret 1978)

*****

Komentar Tentang Pengunduran Diri Wapres Hamengkubuwono

Filed under: Mahasiswa Menggugat — rani @ 3:25 pm

Tersirat suatu makna dari “Kata-kata perpisahan” Wakil Presiden Hamengkubuwono pada Sidang Paripurna “Kabinet tanggal 11 Maret 1978 yang lalu. : Bahwa sebenarnya Pengunduran diri beliau itu dari pencalonannya sebagai Wakil Presiden RI untuk periode 1978 -1983, tersirat bukanlah alasan “pertimbangan kesehatan” semata-mata. Kesimpulan ini dapat dibuktikan dengan melihat adanya kontradiksi antara alasan kesehatan beliau yang menurun, dengan kata akhir beliau yang tersurat : “Setelah mengambil keputusan ini saya merasa masih cukup mampu dan karena itu tetap bersedia apabila dikehendaki, untuk membantu dalam melanjutkan usaha pembangunan  nasional dinegara kita.”

Kalau kita menengok sejarah masa lalu, langkah yang diambil oleh keturunan Raja Mataram ini, tak ubahnya seperti ketika Bung Hatta mengundurkan diri dari jabatan Wakil Presiden RI pada  tanggal 1 Desember 1956, di zaman pemerintahan Presiden RI pertama Soekarno.

Hamengkubuwono dengan tulus ikhlas, tanpa pengaruh dari siapapun juga, telah memutuskan untuk tidak lagi menerima pencalonan dirinya menjadi Wakil Presiden RI. Meskipun Golkar telah mencalonkan beliau lagi, dan dukungan pun berdatangan dari berbagai pelosok tanah air. Demikan juga halnya tatkala Bung Hatta megundurkan diri dari jabatannya sebagai Wakil Presiden dulu, beliau sudah merasa tidak sanggup lagi mendampingi rekannya Soekarno yang dianggapnya telah menyimpang dari Panca Sila dan UUD 1945. Keputusan tersebut diambi1 oleh Bapak Demokrasi Indonesia itu ketika beliau antara lain mensinyalir, bahwa Soekarno “sudah terlalu dekat dengan PKI.” Kekhawatiran Bung Hatta terserbut kemudian terbukti dengan meledaknya malapetaka G.30.S. 1965 yang sangat keji itu.

Sehubungan dengan kasus Pengunduran diri Wakil Presiden RI kedua ini, timbul pertanyaan : Bukankah ketidaksediaan Sri Sultan untuk dicalonkan sebagai Wakil Presiden RI periode 1978 -1983 itu merupakan peringatan untuk Presiden Soeharto?

Dan kalau saja Pak Harto dapat menangkap apa yang tersirat dari kata-kata perpisahan Sri Sultan tersebut, sudah seharusnya beliau memikirkan alternatif’ lain. Masalahnya sekarang bukanlah lagi “secara matematis menurut suara mayoritas” Soeharto pasti terpi1ih lagi, melainkan masalah yang lebih mendasar lagi  ialah : Calon presiden kita itu harus yang paling baik dari yang terbaik. Sehingga kelak, janganlah kita menciptakan sejarah yang keliru bagi generasi mendatang,  pada saat ini tidak ada lagi manusia Indonesia lainnya yang mampu untuk memangku jabatan Presiden kecuali Soeharto.

(Sumber: Mahasiswa Menggugat Nomor2/TH I, 16 Maret 1978)

Kata Perpisahan Wapres Hamengkubuwono

Filed under: Mahasiswa Menggugat — rani @ 2:51 pm

Bapak Presiden dan Saudara-saudara sekalian yang terhormat;

Seperti Bapak Presiden maka saya pun ingin menggunakan kesempatan pada Sidang Kabinet Paripurna ini untuk mengucapkan beberapa kata perpisahan.

Pada tanggal 23 Maret yang akan datang nanti akan berakhirlah masa jabatan saya, sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia.

Pada kesempatan ini saya ingin mengucapkan penghargaan serta terima kasih saya kepada Bapak Presiden Suharto yang selama ini mengizinkan saya mengadakan hubungan kerja secara bebas dengan beliau dan dengan para Menteri beserta para pejabat tinggi lain dalam Pemerintahan di pusat dan di daerah-daerah.

Dengan hati yang jujur saya menyatakan disini bahwa saya bangga dapat ikut serta, meskipun sering dengan cara yang tidak langsung saja, menciptakan hasil-hasil positif yang dicapai oleh Kabinet Pembanngunan ini. Terbentuknya stabilitas politik dan tersusunnya sistim ekonomi nasional yang mampu untuk berkembang terus merupakan hasil Kabinet ini yang diakui oleh rakyat Indonesia dan oleh Bangsa-bangsa bersahabat seluruh dunia.

Disamping itu seperti juga Bapak Presiden, saya senantiasa mendengarkan pula dan meresapkan di hati saya suara-suara rakyat yang menginginkan keadilan sosial yang lebih memuaskan dan lebih mantap menjamin kehidupan rakyat yang bahagia dan sejahtera tanpa tekanan lahir maupun bhatin.

Adalah menjadi keyakinan saya pula, bahwa perjuangan kita untuk membangun masyarakat yang kita cita-citakan masih harus kita teruskan dan tingkatkan. Perjuangan Orde Baru untuk melaksanakan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 serta melaksanakan pembangunan harus dilasanakan dengan penuh kesungguhan.

Dewasa ini MPR menilai laporan dan pertanggunganjawaban Presiden selaku Mandataris. Disamping itu MPR juga akan memilih Presiden dan Wakil Presiden.

Dalam hal terakhir ini saya dengan tulus ikhlas dan tanpa pengaruh dari siapapun juga memutuskan untuk tidak lagi menerima pencalonan menjadi Wakil Presiden.

Keputusan ini saya ambil dimalam hari dengan menggunakan pertimbangan mengenai kesehatan saya pada dewasa ini.

Pertimbangan lain setelah saya renungkan dengan dalam-dalam, ialah adanya rasa tanggung jawab dimana tumbuhlah suatu keinginan didalam jiwa saya untuk memberikan bhakti yang lebih besar dan lebih efektif kepada negara dan bangsa. Hal ini hanya dapat saya laksanakan apabila saya melepaskan diri dari hambatan resmi yang melekat pada kedudukan Wakil Presiden.

Setelah mengambil keputusan ini saya merasa masih cukup mampu dan karena itu tetap bersedia, apabila dikehendaki, untuk membantu dalam kelanjutan usaha pembangunan nasional di negara kita.

Akhirulkata saya mengucapkan banyak terima kasih kepada para Menteri dan para pejabat tinggi lainnya atas bantuan dan kerjasama yang saya terima selama saya memegang jabatan Wakil Presiden.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa melindungi dan membimbing Bapak Presiden dan Saudara-saudara sekalian dalam menunaikan tugas negara masing-masing.

HAMENGKUBUWONO

 

AKSI TEMPEL STIKER MAHASISWA UI

Filed under: Mahasiswa Menggugat — rani @ 2:06 pm

Mm. 16-3-1978

Para mahasiswa FE-UI dan Posko UI yang menjaga gerbang Kampus UI Salemba, hari Rabu 15-3-1978 kemarin, melakukan aksi penempelan sticker. Sticker yang di tempelkan para mahasiswa UI itu, berasal dari KM-ITB. Aksi tersebut mereka laksanakan terhadap setiap kendaraan yang keluar-masuk Kampus UI Salemba.

Ada empat jenis sticker KM-ITB yang ditempelkan para mahasiswa UI itu. Masing-masing bergambar dan bertuliskan :

  1.      Bergambar. gajah dengan tanda palang dikeningnya, dan bertuliskan: “Oh Ibu, Republik kita cintai ini memerlukan pomerintahan yang bersih.”

  2.      Bergambar mulut menganga dengan tangan memegang sebuah wadah, bertuliskan: “Di dalam SU MPR tidak diperlukan pejabat ABS.”

3.      Sticker bergambar tangan terkepal dengan jari telunjuk dan jari tengah melambangkan huruf V. Jari telunjuk berbentuk pistol dengan topi baja diujungnya, sedangkan jari tengah berbentuk sangkur terhunus.

4.      Gambar tiga orang mengelilingi meja bundar, dengan tulisan: “Selamat Bersidang, beri kami kemerdekaan lahir bathin!”

Aksi tempel sticker ini tampaknya bersamaan dengan awal pertemuan antara para pimpinan Keluarga. Mahasiswa UI, KM-ITB, UNPAD dan Trisakti, yang.berlangsung di Gedung FT-UI sepanjang hari Rabu, 15-3-1978 itu. Belum diketahui, apakah hasil dan kelanjutan dari pertemuan wakil-wakil mahasiswa berbagai universitas tersebut.

(Sumber: Buletin Mahasiswa Menggugat/MM – 1978)

TRAGEDI DI KAMPUS IAIN JAKARTA

Filed under: Mahasiswa Menggugat — rani @ 12:18 pm

Mm, 16-3-1978

Sementara Presiden Soeharto sedang membacakan pidato pertanggungan jawabnya di depan Sidang Umum MPR tanggal 11 Maret 1978 lalu, beberapa pasukan TNI –AD bersenjata memasuki dan mengobrak-abrik banyak Sekolah lanjutan Atas dan Kampus IAIN Jakarta.

Sekitar pukul 11.00 Wib, beberapa truk tentara dengan senjata- terhunus dan ditunjang panser-panser menyergap Kampus IAIN Syarif Hidayatullah, untuk mencabut poster-poster yang dipasang para mahasiswa IAIN sejak pagi harinya.

Setelah kampus tersebut dikuasai, korbanpun berjatuhan. Para mahasiswa dan dosen dihantam dengan popor senjata dan bayonet. Akibatnya l4 orang luka parah (kini masih dirawat di RS Fatmawati dan RS Pertamina) , dan 40 orang luka-luka ringan. Sementara itu, 24 orang mahahasiswa IAIN di bawa pihak Laksusda Jaya.

Kecuali korban di atas, terdapat pula kerusakan-kerusakan sarana belajar, hancurnya peralatan di Lembaga Bahasa, rusaknya pintu-pintu serta kaca-kaca pecah. Sebuah lemari besi di ruang rektor yang berisi uang kas IAIN sejumlah Rp. 250.000,- (dua ratus lima puluh ribu rupiah), menurut sumber Keluarga Mahasiswa IAIN, telah dibongkar dan isinya dikuras habis oleh pihak penyerbu..

Sumber tersebut juga mengatakan, bahwa beberapa mahasiswi IAIN hampir saja menjadi korban perkosaan dari oknum-oknum tentara yang menyerbu itu. Walaupun mereka sempat lolos dari malapetaka, namun tak urung mereka sempat dipeluk. serta diciumi secara kasar. Perlakuan yang tidak pantas juga menimpa Rektor IAIN, Dr. Harun Nasution. Beliau dipaksa naik ke atas truk bersama para mahasiswa, lalu dibawa ke markas tentara .

Sampai hari ini, kampus IAIN yang berlokasi di Ciputat Jakarta-Selatan itu, masih dijaga ketat oleh pasukan bersenjata. Sedangkan para mahasiswa IAIN dilarang masuk ke Kampusnya. Kuliah diistirahatkan sampai tanggal 26 Maret 1978.

(Sumber: Buletin Mahasiswa Menggugat/MM – 1978)

****

March 15, 2009

“Pintu Gerbang” Kampus UI Salemba Masih Ditutup

Filed under: Mahasiswa Menggugat — rani @ 8:32 pm

Kampus Universitas Indonesia sejak kemelut melanda universitas ini akibat gerakan kemahasiswaan di awal Januari menjadi sorotan pihak keamanan daerah, dalam hal ini Laksusda Jakarta. Pihak keamanan telah berusaha keras menjaga keamanan kampus dan sekaligus melakukan tindak drastis terhadap langkah yang dilakukan mahasiswa. Usaha pengamanan tersebut lebih diperketat bukan hanya untuk lingkungan kampus tetapi seluruh wilayah Jakarta. Ini dilakukan mengingat akan diadakannya SU MPR bulan Maret 1978 (yang lewat) yang kita tahu telah melantik Presiden dan wakil presiden.

Demi menjaga kemungkinan tidak diijinkan maka Presidium KMUI menyatakan mogok kuliah yang dilakukan tanggal 6 sampai dengan 26 Maret 1978. Dengan ini praktis Kampus. “ditutup” (?). Ditutupnya kampus untuk sementara mengakibatkan pintu gerbang di tutup pula. Pintu gerbang yang ada di kampus UI Salemba ini terdiri dari dua sayap. Satu boleh dikatakan sayap kanan menuju fakultas kedokteran dan satu lagi sayap kiri menuju rektorat tepatnya di depan Mesjid Arief Rahman Hakim.

Sekarang mogok kuliah telah selesai dan mahasiswa telah “Back to Campus” meminjam istilah kembalinya Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo ke UI (pojok Sinar Harapan – Vivere voricoloso -). Dengan ini berarti pintu gerbang dibuka kembali. Dan memang pintu telah dibuka tetapi hanya yang sebelah kanan (sayap kanan) sedangkan pintu gerbang sayap kiri, masih ditutup. Mungkin penjaga pintu malas membuka atau pak Rektor melarang, kita “enggak” tahu yang jelas pintu sayap kiri masih dikunci. (SNW) (Sumber: Buletin Mahasiswa Menggugat/MM)

March 13, 2009

Kampus UI Salemba Dimasuki Tentara

Filed under: Mahasiswa Menggugat — rani @ 5:46 pm

Dengan dalih mereka mengejar beberapa orang  berjaket kuning yang disinyalir akan membikin kekacauan di Kampus UI Salemba, sekitar pukul 22.00 WIB tadi malam (13-03-1978) 15 tentara bersenjata lengkap memasuki Kampus UI Salemba. Para mahasiswa UI yang berjaga-jaga di gerbang di depan Posko UI sambil menonton televisi, rupanya tidak mengetahui kapan dan dari mana tentara tersebut masuk ke kampus. Secara tiba-tiba saja kelima belas orang tentara itu telah berkumpul di depan kantor Senat FIPIA/MIPA UI di Posko UI.

Menurut tim keamanan masing-masing fakultas di kampus UI Salemba, tidak ada orang-orang yang dicurigai oleh tentara tersebut. Setelah komandan regu yang memimpin pasukan itu mendengar penjelasan ini, dengan gaya demonstratif ia mengadakan hubungan radio dengan induk pasukannya yang berada entah dimana. Antara lain sang Komandan berkata:”…tidak diketemukan apa yang disinyalir…. dan kalau melihat orang-orang tersebut segera tembak di tempat, tanggung jawab ada di tangan saya…ganti”.

Para mahasiswa dari FE-UI, FIPIF-UI, FK-UI dan FKG-UI beserta staf Posko UI dan staf redaksi “Salemba” yang berkumpul di sekitar regu tentara tadi, pada tersenyum simpul mendengar dialog antara sang komandan dengan induk pasukannya. “Ah…cari-cari alasaan untuk mengontrol suasana kampus saja, dasar!” gerutu salah seorang mahasiswa.

Tak lama kemudian, regu tentara itu meninggalkan kampus melalui jalan gerbang yang dijaga para mahasiswa. Lima menit kemudian, sang komandan yang konon mengaku bernama Slamet (entah apa pula pangkat beliau) datang lagi untuk berbicara dengan ketua tim keamanan masing-masing fakultas di kampus UI Salemba. Perbincangan itu dilaksanakan di gedung FT UI. Pak Slamet antara lain mengeluarkan isi hatinya, ”masing-masing diantara kita berbeda pendapat dan prinsip, tapi tujuannya sama. Oleh karena itu, saya minta kepada teman-teman agar masing-masing melaksanakan tugasnya, sesuai dengan bidang masing-masing.” Ditambahkan oleh Pak Slamet, bahwa ia dapat memahami apa yang diperjuangkan para mahasiswa saat ini, ”tetapi sayang, saya cuma melaksanakan tugas dari atasan saya”. Kemudian Pak Slamet menambahkan ,” Kalau tidak percaya, ketika tanggal 3 Maret ada aksi poster di Rawamangun dan Salemba, sebenarnya sejak sejak jam 08.00 WIB saya sudah mengetahuinya. Tetapi poster teman-teman baru dicopot jam 10.00 WIB, setelah saya mendapat tegoran dari Panglima Kodam V Jaya”.

Sementara itu, suasana di beberapa tempat di ibukota cukup membuat keder bagi orang yang sakit jantung. Sekitar Jam 22.00 WIB , salah seorang reporter MM yang hobinya putar-putar kota di malam hari, melaporkan di setiap pos Polantas sepanjang Jalan Thamrin sampai Sudirman, diduduki oleh tentara bersenjata lengkap plus radio dipunggungnya. Di sekitar CSW dan Pasar Blok M, terdapat berpuluh-puluh mobil lapis baja, siap-siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi di Republik kita ini.

(MAHASISWA MENGGUGAT)

Demonstrasi Pelajar

Filed under: Mahasiswa Menggugat — rani @ 5:21 pm

Senin siang tanggal 13 Maet 1978, sejumlah pelajar SMA/STM telah ditangkapi oleh pasukan Gabungan Siaga IV di terminal buskota Blok M dan Lapangan Banteng. Sementara itu, SMA Negeri VI diduduki oleh Pasukan Siaga IV dengan menempatkan 5 buah panser berlapis baja.

Sekitar pukul 10.00 WIB pelajar STM/SMA di sekitar lapangan Banteng telah menempel poster-poster yang berisi kecaman keras terhadap pemerintah. Tak lama kemudian beberapa truk Pasukan Siaga IV telah mengepung rapat-rapat massa yang berkumpul di terminal lapangan Banteng. Pasukan itu segera merampas poster-poster yang masih berada pada para pelajar tersebut, dan mencopoti poster-poster yang telah tertempel di dinding-dinding bangunan terminal lapangan Banteng.

Sementara perang rebut-rebutan poster, para pelajar meneriakkan yel-yel “Hidup Bang Ali”, “Hidup Bang Ali”; pasukan penjaga ketertiban segera menghamtamkan popor senapannya ke muka para pelajar yang berdemonstrasi itu. Pagar betis dari  pasukan Siaga IV semakin diperketat, dan korban yang kena pukulan popor senapan semakin banyak. Sementara itu beberapa pesawat helikopter berputar-putar di atas para pelajar yang berdemonstrasi itu. Seluruh jalan yang menuju ke lapangan Banteng diblokade, sehingga kemacetan lalu-lintas menambah keruh suasana. Toko-toko di sepanjang jalan Pasar Baru praktis tak ada yang buka, demikian juga sebagian toko di Proyek Senen.

Ketika SMA VI diserbu oleh Pasukan Siaga IV, beberapa pelajar yang melancarkan aksi poster telah melarikan diri ke arah pasar Blok M dan terminal bis kotanya. Mereka langsung dikejar, sementara itu pasukan yang sudah berjaga-jaga di tempat itu langsung menyergapnya. Sebagian lagi pelajar menyelinap ke dalam pasar, dan mereka dicari-cari beramai-ramai untuk kemudian ditangkap dan diangkut dengan colt pick up. Pengejaran terhadap pelajar tersebut, ibarat mengejar maling yang cukup berat kesalahannya, terbukti dua truk pasukan Siaga IV turun ke pasar dan satu truk tentara lagi menguasai halaman pasar.

Para penumpang bis yang baru tiba, atau yang akan berangkat kembali turun dan memenuhi terminal blok M. Tetapi anehnya bis-bis tampak jarang di terminal tersebut. Para penumpang segera dibubarkan oleh tentara, dan tentara tersebut segera meninggalkan blok M dengan masih meninggalkan satu peleton tentara untuk berjaga-jaga.

Pengamanan pada setiap jalan yang menuju ke arah Gedung MPR telah dijaga ketat. Sedangkan jalan Gatot Subroto telah ditutup untuk umum, sehingga kendaraan yang hendak melalui jalan tersebut terpaksa memutar jalan ke jalan lain. Pada setiap perempatan dan bundaran jalan yang diperkirakan akan macet, ditempatkan pasukan dalam jumlah cukup besar. Pasukan terbanyak ditempatkan di bundaran Tugu Angkatan Udara di Pancoran, di muka Markas Besar AU. Di beberapa tempat massa berkerumum akibat kekurangan bis kota, mereka didatangi beberapa truk tentara, lalu dikepung dan segera dibubarkan.

Pada setiap SLTP dan SLTA didrop beberapa  orang anggota ABRI, dengan alasan untuk pengamanan. Sementara itu palajar SMP dan SMA di Jakarta Selatan telah melancarkan aksi poster di sekolah masing-masing, tetapi segera ditertibkan oleh pasukan Siaga.

Untuk mencegah timbulnya huru-hara (istilah pemerintah/penguasa), maka disetiap Kodim (Komando Distri Militer) di Jakarta ditempatkan 5 buah panser, 2 truk pasukan bersenjata lengkap, dan sebuah mobil pemadam kebakaran. (A2D)- MAHASISWA MENGGUGAT

MAHASISWA MENGGUGAT

Filed under: Mahasiswa Menggugat — rani @ 4:52 pm

Semakin tidak menentunya situasi saat ini, mendorong kami untuk menerbitkan buletin ini. Ia kami beri nama ”MAHASISWA MENGGUGAT”. Tujuannya tak lain untuk menggugah hati nurani semua pihak agar selalu ”mawas diri” dalam setiap gerak-langkah yang mengatasnamakan ”demi kepentingan rakyat”.

Semua kita telah sama maklum, bahwa dalam setiap kebijaksanaan, dalam setiap keputusan politis, seringkali pemerintah memakai dalih ”demi kepentingan seluruh rakyat Indonesia untuk mencapai masyarakat adil dan makmur”. Kita pun tidak tahu pasti, mungkin saja di benak para prajurit dengan bayonet terhunus menghantam para mahasiswa akhir-akhir ini, juga tertanam semacam dalih ”demi kepentingan rakyat.”

Para mahasiswa di pelbagai kampus yang memprotes ketidak beresan jalannya pemerintahan, acap kali mempergunakan istilah ”suara hati nurani rakyat”. Seperti memorandum Ikatan Keluarga Mahasiswa Universitas Indonesia tanggal 4 Maret 1978 lalu, antara lain berisi : ”Pancatura””. Atau lima tuntutan rakyat.

Siapakah yang benar-benar mengatasnamakan rakyat, dan siapakah yang mengatas-namakan rakyat itu sekedar dalih untuk mencapai sasaran lain? Jawaban yang tepat saat ini:”Sejarahlah yang akan membuktikan”. Sebab nilai dari segala sesuatu tindakan dan perbuatan manusia, ditentukan oleh niatnya. Dalam istilah sedikit keren dapat dikatakan, bahwa yang mendorong tingkah laku dan perbuatan manusia adalah motivasinya. Suatu tindakan yang sama dilakukan sekelompok orang atau masyarakat, belum tentu niat atau motivasi dari masing-masing pelaku itu sama.

Namun demikian, terlepas dari apa motivasi atau niatnya, dapat dipastikan hampir semua mahasiswa yang punya idealisme saat ini merasa resah.Resah terhadap ketidak konsistenan pemerintahnya terhadap UUD 1945 dan Pancasila. Resah karena mereka menyadari bahwa dengan ketidak beresan jalannya pemerintahan sekarag ini, justru nantinya akan menjerumuskan nasib bangsa dan negara Republik Indonesia ini ke lembah kenistaan di mata bangsa-bangsa dunia.

(Pengantar pada buletin Mahasiswa Menggugat No.1 tanggal 13 Maret 1978)

August 13, 2008

Mahasiswa Menggugat

Filed under: Mahasiswa Menggugat — rani @ 3:16 pm