July 2, 2019

Sambutan “duo rektor” pada acara HBH PP UI

Filed under: Lain-lain — rani @ 11:10 pm

Rektor UI Prof.M. Anis dan mantan Rektor Prof. Usman Chatib Warsa memberikan sambutan pada acara HBH Perkumpulan pensiunan UI yang berlangsung selasa pagi (02/07) di Hotel Savero Depok.

May 6, 2019

Suasana Hari Pertama Puasa

Filed under: Lain-lain — rani @ 11:25 pm

Suasana di lantai dasar perpustakaan pusat hari pertama puasa ramadhan.

April 21, 2019

Kegiatan pemilu di salah satu TPS di Depok

Filed under: Lain-lain — rani @ 10:15 pm

April 11, 2019

Cuplikan Ceramah Agus Martowardoyo

Filed under: Lain-lain — rani @ 10:53 am

Kerjasama Peguruan Tinggi ASEAN dan Uni Eropa bidang Enterpreneur

Filed under: Lain-lain — rani @ 9:09 am

April 6, 2019

Filed under: Lain-lain — rani @ 10:06 pm

March 21, 2014

147 Milyar Rupiah Tukin untuk 7 PTN Badan Hukum?

Filed under: Lain-lain — rani @ 11:32 am

Dalam dialog antara Rektor UI Prof.Dr.Ir. M Anis, M.Met dengan para pegawai tenaga kependidikan UI di Gedung Pusat Administrasi universitas (PAU) Jumat pagi ini (21/03), Kementerian Pendidikan Kebudayaan mempunyai sisa anggaran sebesar Rp 147 Milyar, yang bisa dimanfaatkan untuk tunjangan kinerja (tukin) Juli – Desember 2013 bagi para pegawai tenaga kependidikan pada 7 perguruan tinggi negeri berbadan Hukum. Untuk pencairan dana tersebut, menurut Prof. M. Anis menunggu kebijakan dari Kemendikbud dan Menteri Keuangan.

Rektor UI telah menandatangani surat permohonan serta didukung data-data yang diperlukan untuk pencairan dana tukin Juli – Desember 2013 kepada pihak Kemendikbud.Masalahnya siapa dapat berapa serta sesuaikah dengan 17 tingkatan kriteria yang telah ditentukan, masih harus ditentukan para atasan yang membawahi beberapa pegawai di lingkungan kerjanya, untuk tukin 2014. Mengenai apakah UI bisa menalangi terlebih dahulu tukin tahun 2013, dari dana yang ada, Prof. M. Anis bisa saja membuat usulan kepada MWA. Tetapi khawatir dianggap menyalahi aturan oleh BPK, yang akan mengakibatkan harus berhadapan dengan KPK, karena tukin ini menyangkut uang milyaran rupiah. Ketika ditanya kapan waktunya pencairan dana tukin, Rektor UI menyatakan tidak bisa menentukan, karena kebijakan itu ada di pihak Mendikbud dan Menteri Keuangan.

Dari beberapa sumber di dapat informasi, uang Rp147 milyar itu adalah sisa anggaran tunjangan kinerja (tukin) pegawai Kemendikbud. Apakah dana tersebut bisa otomatis dialokasikan untuk tukin para pegawai 7 PTN BH, masih harus mendapat persetujuan dari Menteri Keuangan. (210314)

March 20, 2014

In Memoriam Pudjianto

Filed under: Lain-lain — rani @ 5:19 pm

In Memoriam Pudjianto Bagi sebagian pegawai tenaga kependidikan UI, nama Pudjianto (59) barangkali hanya sebuah nama saja pensiunan pegawai arsip UI. Meninggal 18 Maret 2014 pukul 14.40 WIB karena kadar gula darahnya menurun. Dikebumikan tanggal 19 Maret pukul 10.00 WIB di Kampung Blimbing dekat salah satu kompleks perumahan elite (Grand Depok City) di kawasan Depok.

Tetapi bagi bagi sebagian kecil pegawai, orang akan mengingat Pudjianto sebagai seorang sopir yang setia (karena ada juga sopir pegawai Universitas Indonesia yang meninggalkan mobil yang dikendarainya di tengah jalan dimana di dalamnya ada pimpinan UI) menemani Rektor UI (alm) Prof.Dr.dr. Sujudi dalam melaksanakan tugas sebagai orang nomor satu di Universitas Indonesia, sampai akhirnya Prof. Sujudi diangkat sebagai Menteri Kesehatan RI.

Sebagai seorang mantan reporter suratkabar kampus, naluri untuk mengetahui lebih jauh pengalaman seseorang menggoda untuk mengetahui lebih jauh pengalaman-pengalamannya dalam berinteraksi dengan orang nomor satu UI. Dari dia penulis mengetahui beberapa hal tentang Prof. Sujudi. Misalnya saja, satu saat Prof. Sujudi karena kesibukan pekerjaannya sampai melupakan shalat jum’at. Entah kebetulan atau memang “satu peringatan” dari yang Maha Kuasa mengalami kecelakaan mobil yang cukup parah. Sejak saat itu, Prof. Sujudi tidak pernah lagi alpa untuk shalat Jum’at. Jadwal acaranya selalu disesuaikan dengan kegiatan shalat Jum’at. Satu saat, usai dilantik menjadi Menteri Kesehatan, Prof. Sujudi sengaja mengajak Menteri Agama dr. Tarmizi Taher dan mendaulatnya menjadi khatib shalat Jumat di Mesjid UI Kampus Depok.

Ada lagi satu cerita tentan almarhum Pudjianto. Atas inisiatifnya sendiri, dia mengumpulkan beberapa teman tenaga kependidikan yang membutuhkan rumah tinggal. Setelah terkumpul, dia lalu mencari pengembang perumahan yang bisa membangun rumah yang dapat dicicil oleh pegawai UI. Merasa dekat dengan pimpinan UI, lalu dia melapor kepada Prof. Sujudi tentang gagasan untuk membeli rumah bagi pegawai UI secara kredit. Waktu itu belum ramai ada koperasi pegawai atau lembaga yang memberikan cicilan rumah bagi pegawai kecil. Tetapi ternyata gagasan yang “cemerlang” ini justru tidak disetujui oleh Pimpinan UI. Sebagai seorang pegawai biasa dianggapnya terlalu jauh melampaui tugas dan wewenangnya. (190314)

December 10, 2013

Jejak Kudeta

Filed under: Lain-lain — rani @ 2:09 pm

Tulisan saya (12 Mei 2011) di blog staf UI berjudul “!3 tahun Reformasi Jadi tukang dokumentasi” bercerita bagaimana demo reformasi yang berlangsung di UI yang terekam dalam bentuk video, ketika mahasiswa UI melakukan demonstrasi di halaman depan Kampus FKUI jalan Salemba 6 Jakarta. Kemudian berlanjut dengan dialog antara wakil pimpinan mahasiswa UI dengan Fraksi ABRI di MPR. Karena berbagai kesibukan pekerjaan, tulisan di blog terhenti.

Kali ini (desember 2013) ingin “menyambung” kembali tulisan tersebut dengan pengalaman yang saya alami pada awal Januari 2013. Secara tak sengaja saya melakukan dokumentasi kegiatan acara promosi doktor di FISIP UI. Suami sang promovenda itu ternyata mantan pejabat petinggi ABRI jaman Orde Baru. Singkat kata berkenalanlah dengan sang suami promovenda. Dia meminta bantuan untuk mendokumentasikan suatu acara yang akan digelar di suatu hotel di bilangan Jakarta.

Pada acara itu, sang mantan pejabat petinggi ABRI itu menggelar acara peluncuran buku biografi dia pada saat menjelang timbulnya demo reformasi. Pada kesempatan itu, ada kesaksian dari beberapa orang yang dulu turut dalam demo-demo reformasi. Salah seorang diantaranya saya kenal karena kerap bertemu dalam acara demo di Kampus Salemba Jakarta tempo hari.

Konon katanya, menjelang pecahnya reformasi yang menumbangkan rezim Orde Baru, sang pejabat ini didatangi oleh seseorang yang menceritakan di NKRI akan terjadi berbagai peristiwa yang akan mengubah keadaan Negara. Secara rinci perubahan itu dijelaskan apa saja yang akan terjadi. Sebagai pejabat tinggi Negara, dia mencermati apa yang dikatakan orang tersebut. Dan setelah rezim Orde Baru tumbang, banyak terjadi perubahan persis seperti yang dikatakan orang tersebut.

Yang justru mengagetkan, pejabat tersebut mengatakan secara pribadi kepada saya, bahwa dia diajak untuk melakukan kudeta terhadap pemerintahan NKRI yang sah. Orang yang mengajak kudeta itu adalah seorang alumni UI (kini sudah meninggal). Walaupun tidak terjadi kudeta, tetapi “jejak-jejaknya” masih bisa dilacak karena masih ada saksi mata yang bisa bercerita tentang hal tersebut. (101213)

May 15, 2013

Hikmah Kasus KPK bagi Kasus UI

Filed under: Lain-lain — rani @ 1:57 pm

(Bukan) suatu kebetulan pada tanggal 17 Mei besok Majelis Wali Amanat (MWA) UI akan melantik dan melakukan serah terima jabatan Rektor UI dari Pjs. Rektor UI Prof.Dr. Djoko Santoso, M.Sc kepada Pj. Rektor UI Prof. Dr. Ir. Muhammad Anis, M.Met pada Jumat siang. Pada tanggal itu pula KPK akan mengumumkan secara resmi tersangka kasus penyediaan IT di Perpustakaan Pusat UI. (diduga KPK akan mengumumkannya pada Jumat sore atau malam hari).

MWA UI berketatapan hati (tentunya setelah ada usulan dari Senat Akademik UI) mengangkat Prof. M. Anis yang sebelumnya menjabat Wakil Rektor Bidang Akademik dan kemahasiswaan dan kemudian menjadi Pelaksana Harian Rektor UI, ketika MWA UI mengangkat Dirjen Dikti sebagai Pjs. Rektor UI. Konon katanya walaupun hanya setingkat Pj (pejabat) tetapi mempunyai kewenangan penuh sebagai Rektor. Kalau Rektor UI definitif persyaratannya harus melalui proses seleksi dan mengajukan lamaran, kemduian dilakukan pemilihan di tingkat Senat Akademik Universitas, kemudian dilakukan pemilihan yang dilakukan oleh para anggota MWA.

Kasus KPK ada kesamaan dengan kasus di UI, dimana pimpinanna tersangkut masalah korupsi dan akan dibuktikan salah benarnya di pengadilan. Para pihak di UI barangkali harus kooperatif dengan KPK supaya proses penyelidikan dan penyidikan cepat. Tidak harus pasang spanduk atau menggembosi ban mobil pimpinan. Apalagi berkilah itu urusan pribadi bukan urusan lembaga. Sebagai lembaga akademis semestinya menjadi contoh bagi yang lain, tidak harus mempermasalahkan surat-surat atau prosedural dalam pemeriksaan dan penyitaan barang, apalagi memperkarakan petugas. Tidak usah pula saling tuduh menuduh, beradu argumen. Biarlah itu urusannya jaksa dan pembela di pengadilan.

Kampus sudah terlalu lama berada dalam ketidakpastian hukum dan kebijakan serta arah universitas karena tidak ada pimpinan yang definitif yang menentukan kebijakan. Kasus PTUN yang dialami UI juga, jika sekiranya memang kontra produktif, tidak usah harus diperpanjang. Cara jalan yang terbaik. Karena gejalanya sekarang, sudah duakali Mendikbud, Dirjen Dikti dan Rektor UI dikalahkan dalam sidang pengadilan PTUN, karena kelalaian dari penasihat ahli hukum Mendikbud yang tidak bisa melihat mencari jalan terbaik untuk mengakhiri kemelut yang terjadi di UI.

UI masih ditunggu masyarakat sumbangan pemikiran untuk memecahkan persoalan bangsa. Kalau energi dan waktu dihabiskan untuk berkonflik sesama sivitas akademika berlalrut-larut, rasanya tidak sehat dan tidak mendidik. Cukup sekali saja peristiwa ini dialami UI.(140513)