February 10, 2014

Pelukan Bahagia

Filed under: Warna Warni — rani @ 6:36 pm

Bagaimana rasanya berpelukan dengan seseorang yang mendapatkan kebahagiaan yang tiada terhingga karena keinginan yang diangan-angankan tercapai? Karena saking gembiranya sampai tidak bisa menguasai diri, dia peluk siapa saja yang ada didekatnya sambil bercelotah betapa bahagianya karena keinginan sang cucu kuliah di UI tercapai. Ini periistiwa nyata yang dialami salah seorang mantan dekan salah satu fakultas di UI pada tahun 1980 an. Diceritakan kepada penulis pada hari Minggu (09/02) dengan disaksikan wakil Rektor UI Dr. Adi Zakaria.

Seperti juga orang lain pada umumnya, sebagai seorang yang pernah mengenyam pendidikan tinggi di UI, mengharapkan anak-anaknya juga dapat melanjutkan studi di universitas yang menyandang nama bangsa dan Negara. Kebetulan sang istri pun lulusan UI juga. Jadi kloplah kalau memang suami dan istri alumni UI anaknya pun alumni UI pula. Tidak sampai disitu, ternyata Oom dan tantenya pun lulusan UI juga. Persoalan timbul ketika sang cucu pun ingin masuk UI pula. Dan mengancam kalau tidak diterima di UI tidak mau kuliah di perguruan tinggi manapun. Kalau perlu istirahat dulu setahun, baru tahun berikutnya ikut tes masuk UI lagi. Sang Cucu ini lulusan SMAN 28 tahun 2013.

Sang kakek rupanya merasa khawatir juga kalau sang cucu tidak masuk UI. Tetapi tidak tahu harus berbuat apa, karena sudah lama tidak mengenal perkembangan yang terjadi di UI. Lagipula generasi pimpinan UI saat ini sudah tidak dikenal lagi, karena dari usia juga sudah terpaut jauh. Hal yang bisa dilakukan hanya berdoa, semoga sang cucu berhasil masuk UI.

Ketika berita pengumuman tiba, ternyata sang cucu diterima menjadi mahasiswa UI. Betapa bahagianya sang kakek. Segera saja dia pergi menemui sang cucu. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 tetapi sang kakek tidak peduli, sang cucu harus segera diberitahu sesegera mungkin. Dengan ditemani sang nenek, menuju rumah sang cucu. Pintu rumah setengah digedorkeras-keras. Begitu pintu dibuka, segera saja dia memeluk erat-erat orang yang membuka pintu, sambil mengucapkan rasa syukur yang tiada terhingga. Setelah agak lama memeluk ternyata yang dipeluk diam saja, sang kakek segera melepaskan pelukan dan mengamati siapa gerangan yang dipeluknya. Ternyata pembantu rumah tangga. Sang kakek dan Nenek tertawa terpingkal-pingkal, ternyata salah memeluk orang. (100214)

Perintah sang ‘Jenderal’

Filed under: Kampusiana — rani @ 1:55 pm

Kegiatan Wisuda di UI memang penuh dengan aneka cerita beragam. Jika kita mencermatinya dengan seksama semua peristiwa yang terjadi sekeliling kita , maka bisa muncul ide-ide untuk tulisan yang menarik, di bawah ini adalah salah satu contohnya, yang masih berkaitan dengan tulisan “pertemuan dua jenderal”.

Wisudawan dan atau tamu kehormatan setelah selesai mengikuti upacara wisuda, biasanya diundang ke tempat resepsi untuk beramah tamah dengan pimpinan UI . Salah seorang wisudawan kehormatan yang diundang khusus adalah Jenderal Moeldoko, wisudawan program doktor yng mengikuti kegiatan wisuda pagi hari (08/02). Dengan ditemani Dekan FISIP UI Dr. Ari Setaibudi Soesilo, Panglima TNI mencicipi makanan yang tersedia.

Mungkin karena merasa sesama Jenderal, tanpa sungkan atau ragu penulis mendekati Doktor Moeldoko dan menanyakan kesannya tentang kuliah di UI. Setelah itu akhirnya para wartawan pun berebutan untuk mewawancarai Panglima TNI. Waktu ditanya kepada ajudannya, apakah sudah berfoto bersama Rektor UI, dijawab belum katanya.

Akhirnya penulis pun mencari Rektor UI. Ternyata Prof. M. Anis sudah menanggalkan pakaian toga dan atribut rektornya. Penulis memohon kepada Rektor UI untuk memakai toga dan atribut rektornya kembali karena akan diabadikan dengan Panglima TNI di studio mini foto yang tersedia di tempat resepsi.

Ketika kembali ke meja dimana Panglima TNI berada ternyata masih diwawancarai para repoter media. Penulis pun memohon kepada jenderal Moeldoko untuk segera mengakhiri wawancara karena Rektor UI sudah menunggu untuk berfoto bersama. Penulis juga menghubungi ajudan untuk memberitahu keluarga Panglima TNI untuk bersiap-siap di tempat studio foto. Usai foto bersama, akhirnya banyak permintaan minta foto bersama dengan Jenderal Moeldoko, diantaranya mantan Rektor Prof. Gumilar. (100214)

Pertemuan Dua Jenderal

Filed under: Kampusiana — rani @ 8:20 am

Kalau dua jenderal bertemu dalam suatu acara wisuda apa yang akan terjadi? Di bawah ini adalah suasana ‘kebatinan’ pertemuan tersebut.

Pada bulan Januari 2014 tepatnya tanggal 15 di FISIP UI telah berlangsung upacara promosi doktor dengan promovendus Moeldoko, Panglima TNI, yang mengajukan disertasi berjudul “Kebijakan dan Scenario Planning Pengelolaan kawasan Perbatasan di Indonesia”. Bertindak sebagai promotor Prof. Dr. Eko Prasojo, Mag.rer.publ., dan ko-promotor Prof. Dr. Azhar Kasim. Inilah barangkali, yang pertama kali seorang Panglima TNI berhasil meraih gelar Doktor dalam bidang Ilmu Administrasi di UI.

Pada acara wisuda pascasarjana yang berlangsung Sabtu 8 Februari 2014, salah seorang yang menjadi wisudawan adalah Moeldoko. Duduk di belakang dari barisan wisudawan dan menerima ijazah dari Rektor UI di panggung juga mendapat giliran paling akhir. Satu sikap terpuji, tidak mau diistimewakan. Setelah acara wisuda usai, Moeldoko beserta keluarga menghadiri resepsi yang diadakan di lantai dasar gedung pusat administrasi universitas. Kesempatan yang langka ini dimanfaatkan oleh para “penggila foto” untuk berfoto bersama panglima TNI, termasuk penulis. Pada kesempatan itu penulis melaporkan KKN mahasiswa UI di wilayah terluar RI yang berbatasan dengan Negara lain, kerjasama dengan TNI. Disitulah terjadi interaksi antara para mahasiswa UI dengan prajurit dan perwira TNI. Satu hal yang sangat bermanfaat dan memberikan wawasan bagi mahasiswa UI untuk mengenal lebih jauh wilayah NKRI. Kebetulan penulis juga tahun 2009 selama sebulan sempat mendokumentasikan kegiatan KKN UI di Pulau Miangas daerah NKRI paling utara yang berbatasan dengan Negara Filipina. Jadi bisa merasakan bagaimana semangat pengabdian mahasiswa UI dan memahami pula tugas berat TNI dalam menjaga keutuhan NKRI di wilayah perbatasan.

Penulis juga menanyakan kepada Pangliman TNI, hal menarik apa yang dirasakan selama studi di UI. Setelah merenung sejenak, Jenderal Moeldoko menyatakan ada hal yang berbeda jiika dibandingkan sewaktu studi di akademi militer maupun kursus di Lemhanas. Di UI para dosennya betul-betul memberikan kebebasan dan wawasan kepada mahasiswa. Suasana perkuliahan mendorong semangat untuk mempelajari satu bidang lebih mendalam dari berbagai perspektif, hangat dan menyenangkan.

Siapakah jenderal yang satu lagi? ‘Jenderal’ ini bukan sembarang jenderal. Dia memimpin pasukan sebanyak 200-an orang yang ‘berpangkat’ mahasiswa baru FISUI (sekarang FISIP) angkatan tahun 1980. Walaupun jabatan jenderal hanya berlaku selama dua minggu saja, yaitu selama kegiatan Ospek (orientasi pengenalan kampus) berlangsung, tetapi telah memberikan kesan mendalam, sehingga sampai sekarang di FISIP UI. Hingga kini mahasiswa FISIP angkatan 1980 menjadi angkatan yang paling solid dan akrab, secara berkala mengadakan pertemuan setiap dua bulan sekali. Itulah dia ‘jenderal’ yang satu lagi adalah penulis sendiri.

Narsis nih ye..! Lebay!!! (100214)