February 25, 2014

Hotbonar Sinaga Menjawab

Filed under: Kampusiana — rani @ 3:16 pm

Dunia akademik pada bulan Februari tahun ini dihebohkan dengan kasus tulisan seorang pejabat tinggi Kementerian Agama yang juga staf pengajar salah satu perguruan tinggi negeri ternama di Pulau Jawa. Tulisan yanga tidak mencantumkan kutipan atau sumber tulisannya itu, ternyata hampir sebagian besar isinya, tulisan Hotbonar Sinaga beberapa tahun lalu yang dimuat di salah satu media cetak.

Hari Selasa siang (25/02) penulis baru selesai melakukan wawancara dengan Gita Wiryawan yang memberikan ceramah pada acara “3rd Studentpreneurs” dihadapan para mahasiswa. Dari kejauhan tampak seorang staf pengajar menuju ruang perkuliahan. Kebetulan penulis juga akan menuju ke salah satu ruangan kuliah, ada janji dengan seorang staf pengajar. Setelah agak cukup dekat, penulis menyapanya dan memperkenalkan diri. “kita dulu pernah ketemu waktu acara turnamen Golf di Pantai Indah Kapuk memperebutkan piala Presiden.” Waktu itu Hotbonar Sinaga menjabat sebagai Direktur Utama Jamsostek. Obrolan pun akhirnya mencair dan dengan senang hati Hotbonar Sinaga memberikan keterangan seputar tulisannya yang dijiplak itu.Dalam obrolan tersebut Hotbonar berterus terang, sudah beberapa media cetak dan elektronik “mengejar-ngejar”nya untuk melakukan wawancara, tapi ditolaknya.

Penulis memang bermaksud mewawancarai Gita Wiryawan, setelah kemarin berhasil mencegat dan meminta komentar Dino Patti Djalal, mantan Dubes RI di Amerika Serikat, yang juga memberikan ceramah dalam acara yang sama. Tidak terbersit sedikitpun akan bertemu dan mewawancarai Hotbonar Sinaga. Tahu dan kenal dengan mantan direktur Jamsostek tersebut pun karena beberapa tahun lalu sempat meliput acara turnamen Golf ILUNI UI. Itu pun karena penulis ditelpon khusus oleh Direktur Hubungan Alumni UI Ari Setiabudi Soesilo, karena Direktur Jamsostek akan memberikan beasiswa kepada mahasiswa UI.

Memang, dalam tulisan ini tidak ada keterangan atau kutipan pernyataan Hotbonar Sinaga. Semata-mata untuk menggugah pembaca melihat di uichannel2014, dimana disitu ditayangkan pernyataan Hotbonar Sinaga. (250214)

February 13, 2014

Lihatlah Pameran Foto di Perpustakaan

Filed under: Kampusiana — rani @ 8:43 am

Hari Rabu pagi (12/02) Rektor UI Prof.Dr.Ir. Muhammad Anis, M.Met menggunting pita sebagai tanda peresmian pameran foto di perpustakaan Pusat UI Kampus Depok, yang akan berlangsung sampai 16 Februari 2014. Ada bebeapa catatan yang perlu dikemukakan dalam tulisan ini.

Pameran foto yang digagas oleh Dr. Ari Setiabudi Soesilo Direktur Hubungan Alumni UI ini (kini merangkap menjadi dekan FISIP) bekerja sama dengan Iluni UI Pusat, selain dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-64 UI, juga berkaitan dengan acara “Hari Pulang Kampus UI” yang akan berlangsung 16 Februari 2014. Selain foto juga ada beberapa lukisan karya alumni UI.

Foto yang dipamerkan hanya sebagian saja rekaman kegiatan jejak langkah UI. Foto yang disajikan diantaranya kegiatan upacara wisuda yang berlangsung 28 September 1965. Inilah foto paling tua dalam pameran tersebut. Sebelumnya penulis mengira wisuda itu tahun 1964, Karena dalam album foto yang ada di Kantor Komunikasi UI tertulis wisuda tahun 1964. Tetapi ternyata keliru, berdasarkan kesaksian salah satu alumni FKUI lulusan 1965 (Alex Papilaya, mantan Dekan FKM UI). Juga kesaksian dosen Arkeologi (alm) Mang Ayat Rohaedi dalam buku memoarnya “65=67 Cat at an acak-acakan dan cacat an apa adanya”.

Dalam buku memoarnya itu Mang Ayat menyatakan, untuk pertama kalinya UI mengadakan wisuda terpusat pada tanggal 28 September 1961 di Istora Senayan Jakarta. Setiap tahun upacara wisuda berpindah-pindah tempat. Dan tahun 1965 pada tanggal 28 September wisuda diadakan di tepi danau Situ Gintung. Lahan disitu tadinya oleh Presiden Soekarno akan dijadikan Kampus UI. Namun dianggapnya terlalu sempit. Sehingga dijadikan kompleks Perumahan Dosen UI Ciputat. Kampus Rawamangun akhirnya menjadi pilihan. (disitu juga ada asrama UI Daksinapati yang peletakan batu pertamanya dilakukan Presiden Soekarno pula 15 September 1953. Asrama di Kampus Rawamangun dalam prasasti disebutkan “kota mahasiswa Djakarta”).

Jadi…, lihatlah pameran foto di perpustakaan beramai-ramai. Kita bisa melakukan refleksi, (barangkali) melihat diri sendiri, teman, Oom, Tante, kakek, nenek, family, sahabat kerabat, atau tokoh-tokoh nasional/regional yang meraih penghargaan doktor honoris causa dari UI.(130214)

February 11, 2014

Salam Veritas, Probitas, Iustitia

Filed under: Kampusiana — rani @ 3:43 pm

Jika hari sabtu kemarin (08/02) mencermati pidato Rektor UI pada acara wisuda, pasti akan menemukan “sesuatu” yang baru, yang belum pernah diucapkan Rektor UI sebelumnya. Apakah itu? Rektor UI Prof.Dr.Ir Muhammad Anis, M.Met, mengucapkan secara lantang “salam Veritas, Probitas, Iustitia.” ‘Binatang’ macam apakah itu?

Tahun-tahun lalu, setiap barang cetakan brosur yang dikeluarkan kantor Komunikasi UI dibawah logo makara UI selalu tercetak kata-kata “Veritas, Probitas, Iustitia. Est. 1849.” Tetapi sejak tahun 2013 kata ‘est. 1849’ dihilangkan. Beberapa cetakan yang dibuat fakultas masih mencantumkan est.1849. Tahun yang merujuk kepada berdirinya pendidikan sekolah dokter Jawa, dimana diyakini itulah pertama kalinya ada sekolah di Indonesia. Cikal bakal inilah yang dijadikal penanda oleh pimpinan UI sebagai tahun dimulainya pendidikan bagi bangsa pribumi.

Bagaimana bisa muncul kata-kata Veritas (kebenaran), Probitas (kejujuran), Iustitia(keadilan)? Kita harus melihat ke berbagai perguruan tinggi ternama dan tertua di dunia, dimana mereka mempunyai semacam core values semacam nilai dasar yang menjadi rujukan untuk diperkuat, dikembangkan dan dipertahankan sebagai suatu identitas jati diri sebuah perguruan tinggi. Pada tahun 2000an ketika UI menjadi satu Badan Hukum Milik Negara (BHMN), ada pemikiran di kalangan pimpinan UI untuk membuat motto tersebut di atas. Tetapi belum mengerucut pada nilai dasar itu.

Barulah pada tahun 2007 Rektor UI Prof. Gumilar bersama-sama dengan para anggota MWA, Senat UI dan Dewan Gurubesar membicarakan nilai dasar ini. Prof. Somadikarta Gurubesar Biologi dari FMIPA mengusulkan “Veritas, Probitas, Iustitia.” Tiga kata ini disepakati sebagai suatu nilai universal yang relevan untuk diperjuangkan di perguruan tinggi manapun.(110214)

Garuda Sang Pengubah

Filed under: Kampusiana — rani @ 10:28 am

Hari Minggu malam (09/02) penulis bersama istri berkesempatan menghadiri peringatan ulang tahun perkawinan perak Prof. Rhenald Kasali, Ph.D di kawasan Kemang Jakarta Selatan. Undangan disampaikan Rhenald secara lisan kepada penulis pada hari Sabtu (08/02) ketika bertemu dalam acara wisuda UI Program Pascasarjana UI.

Ketika sampai di tempat, acara sudah berlangsung dan banyak dihadiri para tamu dari berbagai kalangan. Karangan bunga ucapan selamat yang berjejer di halaman parkir mobil, menunjukkan luasnya pergaulan sang empunya hajat. Dosen FEUI yang kerap muncul di media dan pernah pula menjadi tuan rumah salah satu acara di stasiun televisi swasta ini, dikenal luas sebagai seorang yang menekuni bidang ilmu manajemen perubahan. Karya-karya bukunya selalu laris manis dan mendapat apresiasi yang luar biasa dari berbagai kalangan. Boleh dikatakan, kalau mendengar sosok Rhenald Kasali identik dengan perubahan.

Rumahnya di kawasan perbatasan DKI Jakarta – Bekasi diberi nama “Rumah Perubahan”. Bersama Elisa istri tercinta, mendirikan sekolah TK dan PAUD bagi masyarakat sekitarnya tanpa dipungut bayaran. Bahkan rumahnya dijadikan sebagai tempat posyandu di lingkungannya. Tidak sampai disitu, Rhenald juga memberdayakan masyarakat sekitarnya untuk mencintai lingkungan dan mengembangkan usaha yang ramah lingkungan.

Satu saat, pimpinan Fakultas mempercayakan memimpin program studi pascasarjana di FEUI. Rhenald melakukan perubahan pola pendidikan secara radikal yang banyak ditentang staf pengajar lainnya. Tetapi akhirnya para teman sejawatnya mengakui kebenaran konsep yang dijalankan Rhenald Kasali. Dari pengalaman ini ada hal menarik tentang perilaku masyarakat. Semakin mahal biaya kuliah di studi pascasarjana, semakin diminati dan diburu masyarakat.

Rhenald Kasali, termasuk tipe staf pengajar yang berjiwa garuda (eagle). Selalu gelisah dengan keadaan yang statis. Dia akan “terbang” manakala situasi dimana dia berada tidak memberikan kesempatan untuk melakukan perubahan. Keyakinan terhadap konsep perubahan inilah tampaknya yang selalu membuat gelisah dirinya. Dia telah melakukan perubahan di lingkungan FEUI, di lingkungan masyarakat dimana dia tinggal. Maka penulis tidak kaget ketika dalam acara peringatan ulang tahun perkawinan peraknya itu mengumumkan, akan menjadi orang nomor satu di Universitas Podomoro, walaupun status dia tetap sebagai salah seorang gurubesar UI. Rupanya pemilik pengembang Podomoro berhasil “menjinakkan” Garuda Sang Pengubah. (110214)

February 10, 2014

Pelukan Bahagia

Filed under: Warna Warni — rani @ 6:36 pm

Bagaimana rasanya berpelukan dengan seseorang yang mendapatkan kebahagiaan yang tiada terhingga karena keinginan yang diangan-angankan tercapai? Karena saking gembiranya sampai tidak bisa menguasai diri, dia peluk siapa saja yang ada didekatnya sambil bercelotah betapa bahagianya karena keinginan sang cucu kuliah di UI tercapai. Ini periistiwa nyata yang dialami salah seorang mantan dekan salah satu fakultas di UI pada tahun 1980 an. Diceritakan kepada penulis pada hari Minggu (09/02) dengan disaksikan wakil Rektor UI Dr. Adi Zakaria.

Seperti juga orang lain pada umumnya, sebagai seorang yang pernah mengenyam pendidikan tinggi di UI, mengharapkan anak-anaknya juga dapat melanjutkan studi di universitas yang menyandang nama bangsa dan Negara. Kebetulan sang istri pun lulusan UI juga. Jadi kloplah kalau memang suami dan istri alumni UI anaknya pun alumni UI pula. Tidak sampai disitu, ternyata Oom dan tantenya pun lulusan UI juga. Persoalan timbul ketika sang cucu pun ingin masuk UI pula. Dan mengancam kalau tidak diterima di UI tidak mau kuliah di perguruan tinggi manapun. Kalau perlu istirahat dulu setahun, baru tahun berikutnya ikut tes masuk UI lagi. Sang Cucu ini lulusan SMAN 28 tahun 2013.

Sang kakek rupanya merasa khawatir juga kalau sang cucu tidak masuk UI. Tetapi tidak tahu harus berbuat apa, karena sudah lama tidak mengenal perkembangan yang terjadi di UI. Lagipula generasi pimpinan UI saat ini sudah tidak dikenal lagi, karena dari usia juga sudah terpaut jauh. Hal yang bisa dilakukan hanya berdoa, semoga sang cucu berhasil masuk UI.

Ketika berita pengumuman tiba, ternyata sang cucu diterima menjadi mahasiswa UI. Betapa bahagianya sang kakek. Segera saja dia pergi menemui sang cucu. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 tetapi sang kakek tidak peduli, sang cucu harus segera diberitahu sesegera mungkin. Dengan ditemani sang nenek, menuju rumah sang cucu. Pintu rumah setengah digedorkeras-keras. Begitu pintu dibuka, segera saja dia memeluk erat-erat orang yang membuka pintu, sambil mengucapkan rasa syukur yang tiada terhingga. Setelah agak lama memeluk ternyata yang dipeluk diam saja, sang kakek segera melepaskan pelukan dan mengamati siapa gerangan yang dipeluknya. Ternyata pembantu rumah tangga. Sang kakek dan Nenek tertawa terpingkal-pingkal, ternyata salah memeluk orang. (100214)

Perintah sang ‘Jenderal’

Filed under: Kampusiana — rani @ 1:55 pm

Kegiatan Wisuda di UI memang penuh dengan aneka cerita beragam. Jika kita mencermatinya dengan seksama semua peristiwa yang terjadi sekeliling kita , maka bisa muncul ide-ide untuk tulisan yang menarik, di bawah ini adalah salah satu contohnya, yang masih berkaitan dengan tulisan “pertemuan dua jenderal”.

Wisudawan dan atau tamu kehormatan setelah selesai mengikuti upacara wisuda, biasanya diundang ke tempat resepsi untuk beramah tamah dengan pimpinan UI . Salah seorang wisudawan kehormatan yang diundang khusus adalah Jenderal Moeldoko, wisudawan program doktor yng mengikuti kegiatan wisuda pagi hari (08/02). Dengan ditemani Dekan FISIP UI Dr. Ari Setaibudi Soesilo, Panglima TNI mencicipi makanan yang tersedia.

Mungkin karena merasa sesama Jenderal, tanpa sungkan atau ragu penulis mendekati Doktor Moeldoko dan menanyakan kesannya tentang kuliah di UI. Setelah itu akhirnya para wartawan pun berebutan untuk mewawancarai Panglima TNI. Waktu ditanya kepada ajudannya, apakah sudah berfoto bersama Rektor UI, dijawab belum katanya.

Akhirnya penulis pun mencari Rektor UI. Ternyata Prof. M. Anis sudah menanggalkan pakaian toga dan atribut rektornya. Penulis memohon kepada Rektor UI untuk memakai toga dan atribut rektornya kembali karena akan diabadikan dengan Panglima TNI di studio mini foto yang tersedia di tempat resepsi.

Ketika kembali ke meja dimana Panglima TNI berada ternyata masih diwawancarai para repoter media. Penulis pun memohon kepada jenderal Moeldoko untuk segera mengakhiri wawancara karena Rektor UI sudah menunggu untuk berfoto bersama. Penulis juga menghubungi ajudan untuk memberitahu keluarga Panglima TNI untuk bersiap-siap di tempat studio foto. Usai foto bersama, akhirnya banyak permintaan minta foto bersama dengan Jenderal Moeldoko, diantaranya mantan Rektor Prof. Gumilar. (100214)

Pertemuan Dua Jenderal

Filed under: Kampusiana — rani @ 8:20 am

Kalau dua jenderal bertemu dalam suatu acara wisuda apa yang akan terjadi? Di bawah ini adalah suasana ‘kebatinan’ pertemuan tersebut.

Pada bulan Januari 2014 tepatnya tanggal 15 di FISIP UI telah berlangsung upacara promosi doktor dengan promovendus Moeldoko, Panglima TNI, yang mengajukan disertasi berjudul “Kebijakan dan Scenario Planning Pengelolaan kawasan Perbatasan di Indonesia”. Bertindak sebagai promotor Prof. Dr. Eko Prasojo, Mag.rer.publ., dan ko-promotor Prof. Dr. Azhar Kasim. Inilah barangkali, yang pertama kali seorang Panglima TNI berhasil meraih gelar Doktor dalam bidang Ilmu Administrasi di UI.

Pada acara wisuda pascasarjana yang berlangsung Sabtu 8 Februari 2014, salah seorang yang menjadi wisudawan adalah Moeldoko. Duduk di belakang dari barisan wisudawan dan menerima ijazah dari Rektor UI di panggung juga mendapat giliran paling akhir. Satu sikap terpuji, tidak mau diistimewakan. Setelah acara wisuda usai, Moeldoko beserta keluarga menghadiri resepsi yang diadakan di lantai dasar gedung pusat administrasi universitas. Kesempatan yang langka ini dimanfaatkan oleh para “penggila foto” untuk berfoto bersama panglima TNI, termasuk penulis. Pada kesempatan itu penulis melaporkan KKN mahasiswa UI di wilayah terluar RI yang berbatasan dengan Negara lain, kerjasama dengan TNI. Disitulah terjadi interaksi antara para mahasiswa UI dengan prajurit dan perwira TNI. Satu hal yang sangat bermanfaat dan memberikan wawasan bagi mahasiswa UI untuk mengenal lebih jauh wilayah NKRI. Kebetulan penulis juga tahun 2009 selama sebulan sempat mendokumentasikan kegiatan KKN UI di Pulau Miangas daerah NKRI paling utara yang berbatasan dengan Negara Filipina. Jadi bisa merasakan bagaimana semangat pengabdian mahasiswa UI dan memahami pula tugas berat TNI dalam menjaga keutuhan NKRI di wilayah perbatasan.

Penulis juga menanyakan kepada Pangliman TNI, hal menarik apa yang dirasakan selama studi di UI. Setelah merenung sejenak, Jenderal Moeldoko menyatakan ada hal yang berbeda jiika dibandingkan sewaktu studi di akademi militer maupun kursus di Lemhanas. Di UI para dosennya betul-betul memberikan kebebasan dan wawasan kepada mahasiswa. Suasana perkuliahan mendorong semangat untuk mempelajari satu bidang lebih mendalam dari berbagai perspektif, hangat dan menyenangkan.

Siapakah jenderal yang satu lagi? ‘Jenderal’ ini bukan sembarang jenderal. Dia memimpin pasukan sebanyak 200-an orang yang ‘berpangkat’ mahasiswa baru FISUI (sekarang FISIP) angkatan tahun 1980. Walaupun jabatan jenderal hanya berlaku selama dua minggu saja, yaitu selama kegiatan Ospek (orientasi pengenalan kampus) berlangsung, tetapi telah memberikan kesan mendalam, sehingga sampai sekarang di FISIP UI. Hingga kini mahasiswa FISIP angkatan 1980 menjadi angkatan yang paling solid dan akrab, secara berkala mengadakan pertemuan setiap dua bulan sekali. Itulah dia ‘jenderal’ yang satu lagi adalah penulis sendiri.

Narsis nih ye..! Lebay!!! (100214)