April 9, 2013

Bau Bangkai

Filed under: Lain-lain — rani @ 5:40 pm

Kalau saat ini Gedung Pusat Administrasi Universitas “diduduki” binatang kampret dengan bau tahinya yang menyebar hampir ke seluruh ruangan, dahulu kala (tahun 1990 an sebelum reformasi), pernah terjadi tercium bau bangkai yang menyengat. Tetapi bau ini hanya terbatas di lantai tertentu saja. Beberapa orang saksi mata sampai saat ini masih ada yang bisa menceritakan peristiwa tersebut.

Waktu itu seorang pimpinan kepala Biro administrasi (Direktur) UI baru saja menghadiri acara wisuda di Balairung, karena anaknya telah lulus dari salah satu fakultas di lingkungan UI. Ketika dia masuk ruang kerjanya di salah satu lantai di gedung Rektorat mencium bau yang tidak sedap. Dia berpikir mungkin ada bangkai tikus di kolong meja. Tetapi setelah dicari-cari tidak ketemu. Lalu dia meminta tolong kepada staf nya barangkali ada bangkai tikus di atas ruangan/langit-langit. Tidak ketemu juga. Akhirnya pencarian sumber bau dihentikan, karena kebetulan pula hari sabtu itu libur.

Keesokan harinya terbetik kabar, sang kepala biro itu meninggal dunia Sabtu malam terkena serangan jantung . Orang-orang yang mendengar kabar tersebut tidak percaya. Waktu hari Sabtu ketika ribut perkara bau bangkai di kantornya masih kelihatan segar bugar.

Jadi, bau di kantor itu bangkai apakah gerangan? (090413)

April 8, 2013

Kampret !

Filed under: Lain-lain — rani @ 5:25 pm

Kata ini mempunyai arti ganda tergantung intonasi yang membacakannya. Bisa berarti umpatan, seperti sialan! Atau bisa pula menunjuk kepada satu jenis binatang yang biasa berkeliaran pada malam hari atau biasa yang kita kenal binatang kelelawar. Kali ini yang akan dibicarakan bukan kampret sembarang kampret. Kampret yang bisa “menguasai” gedung tertinggi di Kampus UI Depok.

Kalau kita melihat gedung Pusat Administrasi Universitas (d/h gedung Rektorat), tampak kelihatan indah sekali apalagi kalau kita memotretnya dari sisi mesjid UI sehingga terlihat latar depannya warna air danau Kenanga yang hijau. Menyejukkan bagi yang memandangnya. Atapnya yang berbentuk kerucut meruncing ke atas, bagaikan moncong roket yang siap meluncur ke angkasa. Mungkin itu suatu simbol yang sudah direncanakan oleh si perancang bangunan, bahwa UI siap terbang “go global”, menjadi universitas riset kelas dunia. Dan memang hal ini terbukti, dengan prestasi-prestasi yang telah diraihnya dalam berbagai bidang baik di tingkat nasional maupun internasional. Suatu prestasi karena kerja keras semua lapisan warga UI. Suatu hal yang tidak pernah tercapai ketika rektorat masih berada di kampus Salemba.

Suatu saat, genteng yang ada di atap yang runcing itu pecah, sehingga perlu diganti. Timbul masalah, karena cukup curam tidak sembarangan orang bisa memperbaikinya. Tukang bangunan pun tidak ada yang berani. Untuk memperbaiki genteng yang pecah itu akhirnya minta bantuan kepada mahasiswa Mapala UI. Untungnya ada yang mau. Tapi meminta bayaran cukup tinggi dan dihitung berdasarkan berapa genteng pecah yang harus diganti.

Salah satu ruangan di bawah atap runcing itu adalah Ruang Senat, atau kalau di lift diberi tanda RS, bukan nomor seperti lantai lainnya. Sebagian pegawai UI, biasa memlesetkan RS dengan rumah sakit, aslinya ruangan ini berada di lantai 9 gedung rektorat. Biasa dipakai untuk acara rapat. Sesuai dengan namanya ruangan yang berkapasitas seratusan orang ini, biasanya dipakai kalau Senat UI atau Guru Besar mengadakan rapat-rapat penting. Begitu juga ruangan ini kerap dipakai kalau MWA UI mengadakan rapat. Tetapi belakangan ruang ini dipakai juga untuk rapat biasa atau menerima tamu-tamu dari luar, kalau ruangan rapat lainnya di gedung rektorat padat dipakai. Bahkan dahulu kala (tahun 2002 dan 2007), ruangan ini menjadi tempat para calon rektor mempresentasikan buah pikirannya dihadapan anggota senat dan atau Guru Besar UI. Kemudian direkam dan dipancarkan ke lantai 1 (ruang Balai Kirti) , dimana para warga UI dapat melihat secara langsung presentasi para calon rektor.

Entah kebetulan ataukah memang ada kaitannya, ketika UI dipegang oleh Pjs. Rektor, ruangan ini tidak pernah lagi dipakai untuk acara rapat. Karena di dalam ruangan tercium bau tidak sedap. Kerapkali bau ini sampai juga keluar ruangan lain di gedung Rektorat. Padahal lantai paling atas ini tertutup rapat. Selidik punya selidik, ternyata bau tak sedap ini berasal dari kotaran binatang kampret yang bercokol di atap gedung. Lama kelamaan kotoran semakin bertambah banyak. Tak bisa dikeluarkan dari atap karena posisi atap yang sangat tinggi. Rupanya perencana gedung tidak sampai berpikir kalau suatu saat atap ini akan menjadi hunian kampret. Begitu juga pihak pengelola gedung belum terlihat tanda-tanda untuk menanggulangi bau tahi kelelawar.

Maka ketika tercium bau tahi kelelawar, para pegawai di lingkungan rektorat hanya bisa mengumpat, ”Kampret! Dasar kelelawar tidak tahu diri.”(080513)

Cerita Gatotkaca Arahan Kasino

Filed under: Uncategorized — rani @ 9:37 am

Ini cerita lain tentang Gatotkaca, suatu pengalaman yang terjadi pada waktu mengikuti OSPEK (Orientasi Studi Pengenalan Kampus) ketika menjadi mahasiswa baru Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial UI 33 tahun lalu. Masa menjadi mahasiswa baru, masa yang paling indah dan romantik, walaupun penuh dengan penderitaan ( memodifikasi salah satu syair lagu Koes Plus). Walaupun namanya secara berkala berubah-ubah, tetapi yang namanya perpeloncoan atau penggonjlokan dari mahasiswa senior terhadap mahasiswa junior, tetap saja berjalan baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Tetapi disitulah letak romantikanya. Selama kurang lebih dua minggu “sehidup semati” atau istilah waktu itu dinamakan “wan-wan sib” (kawan-kawan senasib) kita menjadi akrab dengan sesama teman seangkatan dan para mahasiswa senior. Bahkan dikemudian hari ada mahaiswa junior yang mendapatkan jodoh dengan mahasiswi senior.

Waktu itu menjadi mahasiswa FIS UI sangat beruntung, karena disela-sela penggojlokan yang dilakukan mahasiswa senior, para mahasiswa baru “dihibur” oleh ulah dua orang alumni yang tergabung dalam grup lawak Warkop DKI. Biasanya menjelang malam hari ketika acara Ospek mau berkahir Warkop DKI hadir menghibur para mahasiswa baru dengan banyolan-banyolannya. Terkadang melibatkan mahasiswa baru untuk turut serta dalam acara banyolan tersebut. Atau dihibur dengan acara dangdutan oleh grup dangdut PSP (Pancaran Sinar Petromak) dimana para personilnya alumni dan para mahasiswa senior FIS UI.

Di lain kesempatan, panitia membuat acara selamatan ulang tahun. Kepada para mahasiswa baru yang berulang tahun diminta ke depan dan diberi kueh agar-agar, dengan catatan. Kue agar harus dimakan dan ditelan tidak boleh dimuntahkan. Tanpa rasa curiga, teman-teman yang berulang tahun memakan agar tersebut.Tetapi kemudian ekspresi wajahnya berubah kecut. Selidik punya selidik, ternyata kue agar itu tak ada rasa manis, karena sudah dicampur dengan bubuk akar tumbuhan brotowali, yang paitnya minta ampun.

Satu kali Kasino membuat acara permainan drama, pemainnya para mahasiswa baru. Mengambil episode tentang Gatotkaca yang ingin mempunyai istri. Para mahasiswa hanya bertugas memerankan tokoh-tokoh tertentu seperti wayang dan mengucapkan apa yang dikatakan Kasino. Singkat cerita, maka Gatotkaca pun mengajukan keinginannya kepada Bima. Terjadilah dialog antara anak dan Bapak. Akhirnya Bima bertanya kepada Gatotkaca, “Apakah kamu sudah kepengen, Gatottt?” Mendengar dialog yang menimbulkan asosiatif berbau nakal ini, membuat para mahasiswa baru tertawa terpingkal-pingkal. Sementara pemeran Bima dan Gatotkaca, malu tersipu-sipu. Itulah yang diingat dan masih terkenang dalam ingatan kepada almarhum Kasino, alumni FIS UI. (080413)

April 7, 2013

Gatotkaca Lair, Sebuah Interpretasi

Filed under: Uncategorized — rani @ 6:37 pm

Boleh setuju boleh tidak. Namanya juga interpretasi. Pengalaman dan pengamatan tiap orang terhadap fenomena yang terjadi dan fakta yang ada bisa menghasilkan interpretasi yang berbeda. Tetapi yang pasti, setiap kali terjadi peristiwa selalu diiringi dengan peristiwa lainnya. Rentetan peristiwa ini dinamakan peristiwa komunikasi, karena mengandung unsur interaksi. yaitu adanya transaksi simbol diantara orang-orang yang terlibat dalam peristiwa tersebut. Menghubungkan dan memaknai simbol-simbol yang terjadi dalam peristiwa itulah yang dinamakan interpretasi.

Pada hari Jum’at (05/04) di Kampus UI Depok pada siang hari diselenggarakan kegiatan pergelaran wayang ruwatan dengan lakon “Murwakala”. Sementara pada malam harinya mulai pukul 21.00 dilaksanakan pergelaran wayang kulit purwa, menampilkan lakon “Gatotkaca lair” dalangnya yaitu Ki Purbo Asmoro, S.Kar.,M.Hum. Kegiatan pergelaran ini bagian dari acara “Wayang Goes to Campus” yang mempunyai tema ‘Bersihkan hati Untuk Kejayaan UI’.

Lakon Gatotkaca Lair, menceritakan tentang kelahiran Gatotkaca putra Bima salah satu Satria Pandawa Lima. Pada saat masih bayi, diminta dewa untuk bertarung dengan seorang raksasa yang mengamuk di Kahyangan. Ketika lahir, tali ari bayi tak bisa putus dan hanya bisa dipotong dengan senjata konta pemberian para Dewa. Itupun hanya berupa sarangka/sarungnya saja, karena isinya dikuasai Adipati Karna. Ajaibnya senjata untuk memutus tali ari masuk ke dalam tubuh Gatotkaca. Singkat cerita Bayi Gatotkaca dibawa ke Kahyangan untuk melawan raksasa. Hanya dengan sekali banting, bayi Gatotkaca sudah tidak bernyawa. Atas kesaktian para Dewa, mayat bayi tersebut dimasukkan ke kawah Candradimuka, setelah air kawah diberi campuran berbagai macam senjata para Dewa. Setelah keluar dari Kawah Candradimuka, bayi berubah bentuk menjadi seorang satria dewasa yang gagah perkasa dinamakan Gatotkaca. Dengan mudahnya Gatotkaca dapat menaklukan raksasa yang mengamuk di Kahyangan.

Bukan satu kebetulan kalau pergelaran wayang kulit di kampus UI ini mengambil lakon Gatotkaca lair. Ada kesamaan kawah candradimuka dengan kampus UI, yang menjadi tempat “menggodok” generasi muda calon pemimpin bangsa. Dan bukan satu kebetulan pula kalau sebelum pergelaran wayang purwa dilakukan terlebih dahulu pergelaran wayang ruwatan, yang berisikan suatu upacara untuk menolak bala. Kaitannya dengan UI, untuk membersihkan kampus dan hati para warganya dalam menyongsong pemilihan rektor UI yang baru. Dan bukan suatu kebetulan pula acara pergelaran wayang ini didukung secara moril dan materil oleh pihak Ditjen Dikti Kemendikbud, dimana Direkturnya merangkap menjabat sebagai Rektor UI. Atas prakarsa Rektor UI pula dapat “menggaet” tim kesenian dari Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, untuk melakukan pergelaran wayang Kulit di kampus UI. Bahkan Rektor ISI sendiri menjadi salah seorang pembicara dalam sarasehan wayang dan ketahanan budaya.

Dengan pergelaran ruwatan dan wayang purwa ini, diharapkan dalam proses pemilihan Rektor UI berjalan lancar. Interpretasi penulis, Pjs. Rektor UI saat ini kerepotan juga menangani UI. Karena tadinya berpikir hanya memegang jabatan rektor (sementara) sampai Bulan Oktober tahun lalu. Rupanya untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, proses pemilihan rektor UI berjalan molor hingga waktu yang tidak bisa ditentukan. Bahkan sudah ada pendapat dari kalangan akar rumput, mempertanyakan kapan UI akan dipimpin orang UI sendiri. Tapi dengan sarasehan kemarin yang bertemakan ketahanan budaya dan ruwatan yang telah dilakukan, mudah-mudahan semua warga UI bisa bertahan dan bersabar menunggu proses pemilihan rektor UI.(070413)

April 5, 2013

Satu Tantangan Mengemas Tontonan yang Berisi Tuntunan

Filed under: Kampusiana — rani @ 6:02 pm

Satu pekerjaan besar tengah digelar di Kampus UI Depok pada 4 – 5 April 2013. Ada Kegiatan Wayang Goes to Campus “Pergelaran Wayang dan Ruwatan: Bersihkan Hati untuk Kejayaan UI. Acara yang digelar Komunitas Wayang UI Bekerja sama dengan ILUNI UI ini, bertujuan selain memasyarakatkan wayang kepada generasi muda juga menjadi ajang silaturahmi antar para alumni UI. Sehari sebelum ruwatan dan pergelaran wayang dilaksanakan, berlangsung sarasehan wayang dan ketahanan Budaya, dimana para pembicaranya tidak saja dari lingkungan yang berkaitan dengan dunia akademik dan kesenian, pemerintah DKI Jakarta tetapi juga Lemhanas dan Kementerian Pertahanan, juga Industri Film.

Ketua Lemhanas dalam makalahnya memasukkan konsep wayang dalam perspektif Geopolitik dan Ketahanan Budaya. Wayang menjadi representasi Nilai dan Jati Diri Bangsa. Sementara pembicara dari Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia Senawangi tengah menyusun dan membuat buku tentang filsafat wayang. Bahkan filsafat wayang ini telah menjadi bidang studi yang diajarkan pada mahasiswa S1, S2 dan S3 Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada.

Sejak tahun 2003 UNESCO telah memproklamirkan wayang sebagi karya agung seni budaya dunia, a Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity. Namun menurut Dekan FIB UI Bambang Wibawarta tak ada tanda-tanda upaya yang signifikan dari pemerintah bagaimana memelihara dan melestarikan nilai-nilai falsafah yang terkandung dalam cerita wayang, Kecenderungannya sekarang direduksi menjadi kesenian seperti yang diajarkan di sekolah dasar dan menengah dan kerapkali dipertunjukkan di luar negeri dalam sebuah rombongan kesenian. Padahal, sejatinya dalam cerita wayang diajarkan tentang etika, moral dan memelihara lingkungan. Kalau menurut Dirjen Dikti Kemendikbud, ada nilai positif yang terkandung dalam cerita wayang. Begawan Dorna yang selalu diasosiasikan tokoh yang berperilaku negatif, tetapi dialah tokoh wayang satu-satunya yang mengakui dan menghargai keunggulan murid-muridnya dalam hal memanah. Bukankah nilai ini bisa diterapkan di dunia pendidikan, dimana guru dalam memberikan ilmu harus dapat mencetak murid yang kepintarannya melebihi dari gurunya?

Kalau memang diyakini wayang mempunyai aspek positif bagi pembangunan bangsa, bagaimana cara menanamkan nilai-nilai yang ada pada cerita wayang kepada penontonnya?

April 4, 2013

Mau Bersaing Tingkat Dunia? Buat Film Wayang

Filed under: Uncategorized — rani @ 4:18 pm

Diantara nara sumber yang bicara pada sarasehan Wayang dan Ketahanan Budaya yang berlangsung Kamis (04/04) di Balairung Kampus UI Depok, pembicara terakhir yang menarik perhatian, yaitu Presiden Direktur Jababeka Setyono Djuandi Darmono. Dia membacakan makalah sambil menayangkan secuplik wayang dalam bentuk film dengan tata suara dolby stereo.

Dia bercerita tentang perkembangan cerita Superman yang tadinya dalam bentuk komik, kemudian difilmkan (1978). Maka mulailah era pembuatan film dari cerita-cerita komik. Hanya dalam jangka waktu 30 tahun, keuntungan dari pembuatan film jenis ini mencapai Rp 50 Trilyun. Andaikan saja cerita-cerita wayang dipindahmediakan ke dalam bentuk film, setelah diadakan perubahan disana sini (misalnya durasinya diperpendek menjadi 30, 60 higga 90 menit), bukan tidak mungkin akan menarik minat para penonton di berbagai negara. Tetapi perlu bantuan dari berbagai pihak dan berbagai kalangan. Diperkirakan dalam jangka 5 – 7 tahun, film wayang ini akan dapat direalisir. Saat ini, di lahan Jababeka telah berdiri movieland seluas 37 hektar. Bahkan telah mendatangkan dan menggaji khusus orang Swedia yang memang ahli dalam hal perfilman.

April 3, 2013

Strategi Kebudayaan Memasyarakatkan Wayang

Filed under: Uncategorized — rani @ 12:10 pm

Selasa siang kemarin (02/04) UI menyelenggarakan konferensi pers, sehubungan akan dilakukan sarasehan ketahanan budaya, pergelaran wayang (potehi, betawi, tavip, kulit), pergelaran tari pameran dan bazaar, dengan tema “Wayang Goes to Campus” , berlangsung Kamis dan Jumat (04-05/04) di Balairung Kampus UI Depok. Dalam kesempatan itu hadir pelaksana harian Rektor UI Prof. M. Anis, Ketua Komunitas Wayang UI Sarlito Wirawan Sarwono, Ketua Panitia Dwi Woro Retno Mastuti, Wakil Ketua Panitia Darmoko dan Pengarah Margaretha K.

Para pembicara pada sarasehan antara lain Gubernur Lemhanas, Dirjen Dikti Kemendikbud, Rektor ISI Solo, Ketua Senawangi, Sekjen Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, Dekan Fakultas Ekonomi. Tujuan kegiatan ini antara lain meningkatkan peran serta fungsi wayang dalam rangka mendukung ketahanan budaya, meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap seni pertunjukkan wayang sebagai warisan budaya dunia serta menjalin keakraban warga UI dengan ILUNI UI. Kegiatan ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya.

Ketika masyarakat dininabobokan oleh media dengan kesenian pop dengan grup musik dari luar dan seni Gangnam style, tiba-tiba saja “menyeruak” pergelaran wayang dan sarasehan tentang wayang dari lingkungan akademik, dalam rangka mendidik dan menanamkan nilai-nilai yang terkandung dalam seni wayang kepada masyarakat yang dahulu kala telah menjadi budaya masyarakat Indonesia, bahkan telah diakui UNESCO (salah satu badan PBB) sebagai warisan budaya dunia. Namun hal ini tidaklah mudah, seperti diakui panitia penyelenggara. Komunitas Wayang UI yang telah berdiri 13 tahun lalu, baru empat kali dapat menyelenggarakan pergelaran wayang di kampus. Keterbatasan dana menjadi kendala utama. Berbeda dengan pertunjukkan budaya pop semacam OVJ, dimana sponsor berbondong-bondong antri. Pergelaran wayang ini sepi sponsor. Bahkan sponsor rokok pun enggan untuk “meliriknya”.

Seorang reporter muda dari satu media bertanya pada Sarlito Wirawan Sarwono, faktor apa yang menyebabkan generasi muda tidak suka terhadap seni wayang. Apa tidak ada inovasi supaya generasi muda menyukai. Diakui Sarlito seni wayang banyak pakem-pakemnya yang tidak bisa dimengerti orang kebanyakan. Masih ada orang tua jaman dulu yang sangat memegang teguh pakem dan “mengharamkan” adanya inovatif. UI mencoba “menengahi” tarik menarik antara yang memegang teguh terhadap pakem yang ada pada pertunjukkan wayang kulit dan yang ingin melakukan inovasi. Karena itu dalam pergelaran nanti, tidak saja mempertontonkan wayang kulit semalam suntuk, tetapi juga ada seni pertunjukkan wayang yang lebih singkat serta pertunjukkan kesenian yang dimainan para mahasiswa FIB UI dengan mengambil seting cerita dalam kehidupan pewayangan.

Bagaimana hasil dari sarasehan dan pertunjukan seni dan pergelaran wayang kulit? Mari kita lihat bersama, apakah banyak dikunjungi penonton, dari kalangan mana saja penontonnya, generasi muda, generasi tua ataukah kalangan intelektual.(030413)

April 2, 2013

UI Mewisuda Mahasiswa?

Filed under: Uncategorized — rani @ 5:29 pm

Judul di atas mengambil sepenggal dari kepala berita utama yang termuat di UI Update edisi 1/Thn V/2013. Mungkin ini baru pertama kalinya di seluruh perguruan tinggi di Indonesia ada mahasiswa yang diwisuda. (Judul asli berita ‘UI mewisuda empatribu mahasiswa’).Oh…ternyata itu salah, kata orang yang mengerti hukum, mahasiswa yang telah lulus ujian dan memenuhi syarat yang telah ditentukan berhak untuk diwisuda atau dinyatakan sebagai lulusan. Jadi tidak mungkin seorang mahasiswa dapat diwisuda sebelum melalui suatu proses yang telah disebutkan tadi. Berarti judul berita itu keliru dan menyesatkan.

Bicara soal keliru atau kekeliruan, banyak hal yang terjadi di UI keliru atau dikelirukan dan dibiarkan keliru terus menerus, kemudian dianggapnya sebagai sesuatu hal yang biasa dan menjadi suatu kebenaran, sehingga tidak perlu dipermasalahkan. Padahal suatu kata atau beberapa kata menjadi suatu kalimat yang mempunyai suatu makna bisa ditafsirkan beragam tanpa adanya satu pedoman/arahan. Kekeliruan bisa terjadi karena yang melontarkan kata kata tersebut tidak memahami dengan benar atau sama sekali tidak tahu tentang pengertian suatu kata.

Suatu ketika UI meraih prestasi yang membanggakan di bidang akademik di tingkat nasional dan internasional. Ini suatu pencapaian luar biasa yang belum pernah dicapai UI sebelumnya. Karena itu perlu diwartakan kepada khalayak umum dan dibuatkan ucapan terima kasih kepada seluruh jajaran UI yang telah membuat kesuksesan itu. Maka dibuatlah poster dan spanduk besar-besaran sebagai ucapan terima kasih kepada berbagai pihak. Tapi sebelum disebar dan dipasang penulis sempat membaca dan menemukan kekeliruan tersebut kepada si pembuat spanduk. Rupanya dia tidak percaya dan meminta bukti dimana letak kekeliruannya. Kemudian penulis memperlihatkan buku AD/ART UI. Disitu tercantum apa yang dimaksud dengan sivitas akademika UI dan apa yang dimaksud dengan warga UI. Akhirnya spanduk dan poster dicetak ulang.

Tapi kita tampaknya tidak mau belajar dari kesalahan masa lalu dan tetap membuat kekeliruan sejenis dan hal itu dibiarkan saja. Kalau pada hari-hari ini kita lihat ada salah satu spanduk besar yang terpasang diseberang stasiun UI akan terlihat satu kekeliruan yang fatal. Apakah betul keberhasilan dan apa yang telah dicapai UI saat ini hanya karena kerja keras staf pengajar dan mahasiswa saja? (020413)

Sulitnya Mengurus Aset-aset UI

Filed under: Uncategorized — rani @ 3:05 pm

Beberapa hari lalu bertemu dengan seorang pegawai UI yang bertugas dan menjaga tanah milik UI yang sekarang dipakai Puskesmas Serpong Tangerang. Dia menanyakan kapan mau berkunjung ke Serpong. Memang suatu kali pernah bicara dengannya , ada rencana ke Serpong sambil mewawancarai Prof. Does Sampurno (Guru Besar FKM UI), yang mengetahui banyak tentang asset UI di Serpong. Terakhir mendapat informasi, lahan UI di Serpong seluas 5000 meter persegi, semakin berkurang karena terpakai untuk pelebaran jalan raya. Tapi menurut salah satu sumber, asset UI di Serpong ini sudah ada kejelasan secara hukum.

Ketika sedang membereskan dokumen audio visual, tak sengaja melihat DVD yang berisikan wawancara dengan Pak Slamet Iman Santoso, tertanggal 30 Desember 1997. Wawancara dilakukan di Rumah beliau jalan Cimandiri Cikini Jakarta Pusat. Ada Kepala Biro Umum, Kepala Bagian Umum UI yang berurusan dengan aset-aset UI. Pimpinan UI yang akan habis masa jabatannya Januari 1998, tengah mendata aset UI, salah satu diantaranya aset dalam bentuk tanah dan bangunan di kampus Salemba dan Pegangsaan Timur.

Berdasarkan cerita Pak Slamet, waktu pengakuan Kedaulatan dari pemerintah Hindai Belanda terhadap NKRI Desember 1949, maka segala aset yang dimiliki pemerintah Hindia Belanda, diantaranya gedung dan lahan Universiteit van Indonesie, otomatis berpindah tangan pula kepemilikannya. Sebetulnya pada bulan Desember itu pula Pak Slamet mengusulkan membentuk tim untuk mendata aset-aset UI, tapi tidak disetujui. Baru pada tanggal 6 Januari 1950 Pak Slamet dipanggil Presiden (Rektor) UI untuk menangani aset-aset UI. Waktu pemindahan aset itu di dalam kampus UI ada bengkel yang dimiliki orang Belanda (van Neiss). Bagaimana orang Belanda itu bisa sampai ada disitu, tidak ada yang tahu. Belakangan hal ini menjadi masalah, karena ternyata hingga tahun 1980 an pada lahan bengkel itu didirikan universitas swasta dan kemudian tahun 1990 an berdiri bangunan bertingkat yang dipakai universitas tersebut. Waktu pembangunan gedung tersebut sempat ‘ramai’ juga, sampai dijaga aparat TNI.

Ada kasus lain yang ‘agak’ merepotkan pihak UI juga. Yaitu Asrama Pegangsaan Timur (PGT) yang kini di lahan tersebut berdiri bangunan hotel berbintang empat. “Gangguan” datang dari pihak Universitas Bung Karno (UBK) yang persis bersebelahan dengan lahan bekas asrama PGT tersebut. Dulunya lahan yang dipakai UBK itu bekas kantor Pendidikan Luar Sekolah dan Olahraga Depdikbud. Pada jaman Presiden Megawati menjadi kampus Universitas Bung Karno. Selain di Jalan Pegangsaan UBK juga punya kampus di Jalan Kimia. Bulan Februari lalu Ketua Senat Fakultas Hukum UBK memprotes terhadap pembangunan hotel, karena sangat mengganggu perkuliahan di UBK. Mereka meminta ganti rugi/kompensasi kepada pihak pengembang. Padahal pembangunan hotel sudah mencapai 80 %. Tidak hanya itu, konon kabarnya pihak UBK juga sudah melayangkan sepucuk surat resmi, meminta sebagian lahan PGT untuk akses jalan dari Kampus UBK di Jalan Pegangsaan menuju kampus UBK di Jalan Kimia. walah ada-ada saja, maksa hayang lahan tanah bakal jalan.(020413)

Kepercayaan

Filed under: Uncategorized — rani @ 1:58 pm

Tulisan kali ini pastilah tidak mengenakan pihak tertentu. Bukan bermaksud untuk meramaikan “april mop”. Tetapi sejatinya untuk menceritakan realita yang terjadi sekitar kita, dengan harapan mendapatkan respon yang positif untuk membina komunikasi dan saling pengertian diantara kita. Karena itu, mohon maaf jika pada tulisan ini ada hal yang tidak berkenan.

Kemarin pagi (01/04) ketika masuk kantor, mampir dulu ke gedung PPMT (Pusat Pelayanan Mahasiswa Terpadu) ada satu keperluan. Waktu itu belum jam 09.00. Bertemu dengan seorang dosen satu fakultas di lingkungan kampus Depok. Kelihatan sudah gelisah, mondar-mandir di depan ruang layanan “hotline”. Waktu disapa, katanya dia ada keperluan berhubungan dengan hotline, karena akan segera kirim kabar via email kepada seseorang yang telah menunggu. Sementara pada saat yang sama dia juga harus memberikan kuliah. Di sudut lain tampak juga beberapa mahasiswa sambil membawa lap top menunggu mendapat layanan dari hotline. Di ruangan hotline, belum terlihat satu orang pun petugas.

Tampaknya sang dosen yang kita bicarakan, begitu percaya akan teknologi informasi sebagai suatu wahana untuk mengirimkan informasi dengan cepat dan tepat pada sasaran, ketimbang memanfaatkan media lain. Sehingga dia mau berlama-lama menunggu petugas untuk bisa membantu permasalahan yang dia hadapi. Penulis pun cepat-cepat permisi, mencoba membantunya untuk mencari petugas hotline di kantin atau di lantai dasar gedung PAU tempat para pegawai melakukan absensi.

Baru siang ini (02/04) mendapatkan jawaban dari seorang teman, hotline mulai melakukan layanan pada jam 09.00. Begitulah menurut SOP yang sudah dilaksanakan bertahun-tahun. Ketika ditanyakan kenapa jam layanan tidak disamakan dengan masuknya jam kerja saja (08.00) dia tidak bisa jawab. Mungkin harus ditanyakan kepada rumput yang bergoyang.(020413).